UNDUH LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA KASUS STRUMA (DOC)
LAPORAN
PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN
PADA KASUS STRUMA
BAB I
LAPORAN PENDAHULUAN STRUMA
1.1
Definisi
Penyakit Struma Nodusa Non Toksik
bukanlah penyakit yang jarang terjadi terutama di daerah yang kekurangan yodium
yang dapat dicegah dengan konsumsi garam yang mengandung yodium. Jika ada, itu
harus diikuti kecuali menyebabkan gejala atau komplikasi. Pengecualian
keganasan merupakan masalah penting, dan setiap nodul yang mencurigakan
mengamanatkan biopsi jaringan (Alkabban, 2020). Struma adalah pembesaran
kelenjar tiroid. Struma Nodusa Non Toksik adalah pembesaran kelenjar tiroid
tanpa gangguan fungsi tiroid. Ini bukan karena peradangan atau neoplasia struma
mungkin menyebar atau pertumbuhan lokal. Jika struma besar, dapat meluas ke
ruang retrosternal. Karena ruang terbatas di mediastinum, struma dapat
menyebabkan kompresi trakea atas, saraf laring, dan kerongkongan ( Alkabban,
2020). Abnormalitas pasokan atau metabolisme yodium selalu menyebabkan struma
non toksik. Kelenjar tiroid biasanya memiliki berat sekitar 25 gram. Ini adalah
kelenjar berbentuk kupu-kupu yang terletak di segitiga anterior leher tepat di
depan laring dan trakea. Ini terdiri dari lobus kanan dan kiri dengan tanah
genting penghubung. Isthmus terletak pada cincin trakea kedua dan ketiga dengan
lobus memanjang di kedua sisi, dari kartilago tiroid di superior ke cincin
trakea keempat di inferior. Kelenjar tiroid mengeluarkan hormon 2 tiroid
(Tiroksin/T4 dan triiodotironin/T3) sebagai respons terhadap hormon tirotropik (TSH) dari stimulasi
kelenjar hipofisis. Mereka penting untuk metabolisme sel-sel tubuh. Ini juga
mengeluarkan hormon kalsitonin yang memiliki peran penting dalam metabolisme
kalsium ( Alkabban, 2020). WHO (2020) mengatakan bahwa 1,6 miliar orang di
seluruh dunia berisiko mengalami ganguan tiroid di seluruh dunia , dan dari jumlah
tersebut, sekitar 17 juta telah di diagnosis menderita struma , salah satunya
adalah Struma Nodusa yang non toksik, yang 27%
di antaranya ditemukan di Asia Tenggara.
90% kasus struma bersifat jinak (benigna)
dan 10 %bersifat ganas (maligna). Berdasarkanriset Kesehatan Dasar 2019,
prevalensi penyakit struma termasuk dalam 10 penyakit tidak menular di
Indonesia, dan struma menempati urutan ketujuh setelah asma,kanker, stroke,
diabetes, penyakit jantung, dan hipertensi, struma. Di Amerika, lebih dari 250.000
kasus pasien di diagnosis menderita
struma pada tahun 2019. Menurut
WHO,
Indonesia merupakan
negara yang di kategorikan endemis
kejadian struma , dengan kurang
dari
12.000.000 penduduk
dengan kasus struma
nodusa non toksik
di seluruh Indonesia
(Riskesdas, 2019). Menurut data SIRS 2015 jumlah kasus Ganguan tiroid di
rumah sakit Indonesia di Provinsi Jawa barat sekitar 1.100 kasus, Berdasarkan
data yang di peroleh di ruang Rekam Medik RSUD Dr SLAMET GARUT periode bulan Januari – Desember 2022 terdapat kasus Struma Nodusa
Non Toksik dengan jumlah
436 kasus. Di salah satu ruangan di RSUD Dr. Slemet Garut yaitu ruang Ruby Atas di temukan kasus Struma
Nodusa Non Toksik dengan angka kejadian sebagai berikut : Presentase kasus
tertinggi di Ruang Ruby Atas Tahun 2022 NO Jenis penyakit Jumlah
1. Appendisitis 153
2. Cholelitiasis 58 kasus
3. Struma nodusa non toksik 57
4. Illieus obstruktif 47 kasus (Sumber
data:Rekam Medis RSUD dr Slamet
Garut 2022).
Pola hidup masyarakat pada saat ini yang sering
mengkonsumsi makanan atau kebiasaan makan yang tidak sehat tanpa disadari dapat
mempengaruhi kesehatan mereka. Keadaan ini dapat memicu berbagai jenis penyakit
yang dapat diderita masyarakat, salah satunya pembengkakan leher atau struma
nodosa atau lebih sering di sebut struma endemik. Sekitar 10 juta orang di seluruh
dunia mengalami gangguan tiroid, baik kanker tiroid, struma nodusa toksik,
maupun struma nodusa toksik Menurut
(Cintia,2022) . Penyebab dari struma adalah kekurangan iodium iodium,diet
(goitrogenik),ganguan sintesis hormon karena kelainan enzim,obat-obatan,
tiroiditis, kegasan dan lain sebagainya (Azamris,2020).Tindakan pembedahan
isthmolobektomi adalah tindakan pengangkatan kelenjar tiroid pada salah satu
lobus serta pengangkatan isthmusnya atau kelenjar tiroid pada bagian tengah
diantara lobus kanan dan lobus kiri (Azamris, 2020). Menurut Prapyatiningsih
(2017) proses pembedahan struma paling umum dilakukan tindakan operasi
isthmolobektomi dengan angka 57,58% (95 kasus) dengan nodul padat sebesar
89,70%, dan 10,30% nodul kistik paling sedikit, serta
di dapatkan nodul 4terbanyak dengan
ukuran kurang dari 5
cm dibanding dengan nodul yang lebih dari 5 cm. Dampak yang akan terjadi jika
dilakukakannya pembedahan pada pasien struma kemungkinan akan muncul berbagai
masalah keperawatan kebutuhan dasar manusia salah satunya
seperti ganguan nyeri (nyeri akut ) karena nyeri merupakan pengalaman sensori
emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan ( Haswita &
Sulistyowati,2017). Dalam situasi ini pekerjaan perawat sebagai perawat dapat
memberikan asuhan keperawatan untuk meningkatkan kualitas kesehatan pada pasien
setelah operasi agar tidak menimbulkan berbagai komplikasi yang mungkin bisa
terjadi. Komplikasi yang dapat dialami pasien post operasi ishmolobektomi.
Pengangkatan kelenjar tiroid dapat menimbulkan komplikasi diantaranya adalah
pendarahan,resiko infeksi dan lain sebagainya (Azamris,2020). Penatalaksanaan
post operasi pada pasien dengan ishmolobektomi merupakan praktik keperawatan
mandiri yang dapat meminimalkan terjadinya komplikasi dan membantu mempercepat
pemulihan pasien. Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk membuat
laporan akhir yang berjudul “Asuhan Keperawatan Post Operasi Pasien Struma
Nodusa Non Toksik dengan Prosedur Tindakan Ismolobektomi di Ruang Rubby Atas
RSUD Dr Slamet Garut Tahun 2023” Berdasarkan latar belakang diatas penulis
mengambil rumusan masalah sebagai berikut Bagaimana “Asuhan Keperawatan Post
operasi Pada Pasien Struma Nodusa Non Toxic Dengan Tindakan Ishmolobektomi Di
Ruang Ruby Atas Post Operasi Di Rumah Sakit Dr Slamet Garut Tahun 2023“
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Konsep Dasar Penyakit
1.
Pengertian Struma didefinisikan
sebagai pembesaran kelenjar tiroid. Struma dapat meluas keruang retro sternal,
dengan atau tanpa pembesaran substansial. Karena hubungan anatomi kelenjar tiroid ke trakea, laring, saraf
laring, superior, inferior, dan esophagus. Pertumbuhan abnormal dapat
menyebabkan berbagai sindrom komperhensif (Tampatty, dkk 2019). Struma nodusa non toksik adalah
pembesaran kelenjar tiroid tanpa gangguan
fungsi tiroid. Ini bukan karena peradangan atau neoplasia struma
mungkin menyebar atau pertumbuhan lokal. Jika struma besar, dapat meluas ke
ruang retrosternal. Karena ruang terbatas di mediastinum, struma dapat
menyebabkan kompresi trakea atas, saraf laring, dan kerongkongan ( Alkabban,
2020) Dari pernyataan di atas maka dapat di simpulkan bahwa struma nodusa non
toksik adalah pembsaran kelenjar tiroid tanpa ganguan tiroid,penyebabnya bukan
karena peradangan atau (neoplasia), yaitu kondisi sel yang terdapat pada
jaringan yang dapat memperbanyak diri sehingga jumlahnya dari satu sel menjadi miliaran sel,membentuk
jaringan dan organ dengan fungsi yang berbeda beda,dan jika struma membesar
atau abnormal dapat menyebar ke ruang belakang tulang dada dan gejala
komprehensif seperti kompresi trakea atas,saraf laring,dan kerongkongan.
1.2
Etiologi
Penyebab Struma Nodusa Non Toksik dapat di bagi menjadi beberapa
klasifikasi diantaranya :
a. Endemik : dengan penyebab spesifik
defisiensi iodium yang terkandung dalam air, diet goitrogenik(brokoli,kembang
kol,kangkung,beriberian,singkong,teh hijau.
b. Obat –obatan: iodida,
amiodarone, litium,sulfonyuria, thiocarbamide.
c. Tiroiditis :sub akut ,kronik (Hashimoto).
d. Familial : ganguan
sistesis hormon karena ganguan enzim.
e. Keganasan :adenoma,karsinoma.
f. Resistensi hormon tiroid
penyebab spesifiknya belum
di ketahui(Azamris,2020)
1.3 Manifestasi Klinis
Sebagian besar pasien dengan struma nodusa non toksik asimptomatik namun teraba
pembesaran tiroid pada salah satu lobus yang bisa membuat
adanya sensasi penekanan atau kompresi trakea ukuran struma menimbulkan gejala
seperti dispneu (sesak) dan dispagia (sulit menelan). Sewaktu menelan trakea
naik untuk menutup laring dan epiglotis sehingga terasa berat karena terfiksasi
pada trakea pasien juga akan mengeluh sering membersihkan tenggorokan, deviasi
trakea, rasa berat di leher, (Azamris,2020).
1.4 ANATOMI DAN FISIOLOGI
Anatomi
a.
Anatomi kelenjar tiroid 11 Kelenjar
tiroid terletak di bagian bawah leher, kelenjar ini memiliki dua bagian lobus yang dihubungkan
oleh isthmus yang masing-masing berbentuk
lonjong berukuran panjang 2,5-5 cm, lebar 1,5 cm, tebal 1-1,5 cm dan berkisar
10-20 gram. Kelenjar tiroid sangat
penting untuk mengatur metabolisme dan bertanggung jawab atas normalnya kerja
setiap sel tubuh. Kelenjar inimemproduksi hormon tiroksin (T4) dan
triiodotironin (T3) dan menyalurkan hormon tersebut ke dalam aliran darah.
Terdapat 4 atom yodium di setiap molekul T4 dan 3 atom yodium pada setiap
molekul T3. Hormon tersebut dikendalikan oleh kadar hormon perangsang tiroid
TSH (thyroid stimulating hormone) yang dihasilkan oleh lobus anterior kelenjar
hipofisis. Yodium adalah bahan dasar pembentukan hormon T3 dan T4 yang
diperoleh dari makanan dan minuman yang mengandung yodium (Maulinda,2022).
Sistem endokrin terdiri atas badan-badan jaringan kelenjar, seperti tiroid
tetapi juga terdiri atas kelenjar yang ada di dalam suatu organ tertentu,
seperti testis, ovarium, dan jantung. Sistem
endokrin menggunakan hormon untuk mengendalikan dan mengatur fungsi
tubuh sama seperti sistem saraf menggunakan sinyal listrik kecil. Kedua sistem
berintegrasi di otak dan saling melengkapi, tetapi keduanya cenderung bekerja
dengan kecepatan yang berbeda. Saraf bereaksi dalam hitungan detik tetapi
tindakan mereka tidak lama kemudian hilang, beberapa hormon memiliki efek yang
lebih lama dan bekerja 12 dalam hitungan jam, minggu bahkan tahun. Hormon
mengatur proses seperti pemecahan substansi kimia dalam metabolisme,
keseimbangan cairan dan produksi urin, pertumbuhan dan perkembangan tubuh, serta reproduksi seksual. Hasil kerja hormon dari suatu kelenjar
dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk kadar zat dalam darah dan
masukan dari sistem saraf. Karna hormon mengalir dalam darah, setiap hormon
dapat mencapai setiap bagian tubuh. Meskipun demikian bentuk molekul khusus
dari setiap hormon hanya bisa masuk ke dalam reseptor (penerima) pada jaringan
atau organ sasarannya saja ( Maulinda, 2022)
b.
Fisiologi
kelenjar tiroid Hormon tiroid memiliki
efek pada pertumbuhan sel, perkembangan dan metabolisme energi. Selain itu
hormon tiroid mempengaruhi pertumbuhan pematangan jaringan tubuh dan energi,
mengatur kecepatan metabolisme tubuh dan reaksi metabolik, menambah sintesis
asam ribonukleat (RNA), menambah produksi panas, absorpsi intestinal terhadap glukosa, merangsang
pertumbuhan somatis dan berperan dalam perkembangan normal sistem saraf pusat.
Tidak adanya hormon-hormon ini, membuat retardasi mental dan kematangan
neurologik timbul pada saat lahir dan bayi. (Maulinda, 2022). Kelenjar tiroid
mengeluarkan hormon triodotironin (T3) dan tiroksin (T4) yang memiliki fungsi
dalam mengatur metabolisme tubuh, mengatur sensitivitas tubuh terhadap hormon
lain, memiliki peran penting dalam mengontrol perkembangan embrio/fetus, otak,
jantung, dan paru-paru. Hormon-hormon tersebut juga memiliki peran aktif yang
sangat penting dalam mekanisme pencernaan, termoregulasi, pertumbuhan, fungsi
otot dan daya tahan tubuh ( Maulinda, 2022)
C.
Patofisiologi
Yodium merupakan komponen utama yang
dibutuhkan oleh tubuh manusia untuk pembentukan hormon tiroid. Defisiensi
yodium ,konsumsi zat kardiogenik,kelainan metabolik,obat obatan,temperatur,umur
dan lain sebaginya faktor ini dapat menyebakan kapasitas kelenjar tiroid untuk
mensekresi hormon tiroid terganggu sehingga produksi T3 T4 dan tirotokalsinonin
dan dapat menghambat atau menekan sekresi hormon sehingga sekeresi hormon tidak
adekuat ,kadar hormn tiroid dalam darah menurun mekanisme feed back negatif
terhadap kelenjar tiroid dan produksi TSH oleh kelenjar hipopise yang akan
meningkatkan aktivitas kelenjar
tiroid untuk enskeresi
hormon yang akan menyebakan hipertropi
folikel-folikel kelenjar yang dapat mempengaruhi organ sekitarnya dan terjadi
distensi pada trakea menyebakan obstruksi jalan nafas sehingga jalan nafas
tidak paten akhirnya kesulitan bernafas dan ganguan pola nafas tidak efektif.
Dari hiperrtropi folikel folikel ini bisa berakhir dengan proses tindakan
operasi yang akan menimbulkan luka insisi
yang bisa terpapar kuman patogen dari luar dan reaksi jaringan terhadap
infiltrasi kuman patogen sehngga dapat terjadi resiko infeksi. Dari luka insisi tersebut menyebabkan terputusnya kontunuitas jaringan yang akan
melepaskan mediator kimia(bradikinin,prostagladin,histamine ) merangsang reseptor
nyeri yang akan di
teruskan ke hipothalmus dan kortek serebri akhirnya nyeri di presepsikan
timbulah nyeri akut.Dari hipertropi folikel juga dapat menyebakan kompresi
berlebihan pada leher sehingga menyebabkan ganguan proses menelan intake pun
menjadi tidak adekuat dan akhirnya mengalami defisite nutrisi. Dari kompresi
berlebihan pada leher daoat menyebabkan suara serak dan perah dan akhirnya
ganguan komunikasi verbal.Pembentukan benjolan yang akan bertambah besar menyebabkan perubahan bentuk pada leher dan
akhirnya ganguan citra tubuh.Pembentukan benjola yang kan bertambah besar akan
menyebkan perubahan status kesehatan indikasi pembedahan yang akan menyebabkan
ansietas

![]()
Patway




1.5 Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan yang dapat
dilakukan pada struma antara lain:
a.
Palpasi, dilakukan palpasi
pada tiroid dan KGB
b.
Uji tangkap tiroid untuk menentukan serta membedakan
berbagai penyakit hipertiroid dan menentukan dosis iodium radio aktif untuk pengobatan
hipertiroid
c.
Pemeriksaan laboratorium T3, T4,
FT4, TSH dilakukan untuk mengetahui hiperfungsi atau hipofungsi dari kelenjar
tiroid.
d.
Pemeriksaan ultrasonografi (USG),
pemeriksaan untuk mengetahui kondisi nodul kelenjar tiroid misalnya dalam
kondisi padat atau (solid) cair, adanya kistik (kista), dan papilari intra kistik.
e.
FNA (FINE NEEDLE
ASPIRATION BIOPSY ) atau aspirasi
jarum halus (bajah), yaitu dengan melakukan aspirasi
menggunakan jarum suntik halus untuk mengetahui struma uni nodusa dengan
insiden keganasan sebesar 20 % struma multinodusa yang di curigai
ganas.kejadian keganasan sebesar
60-70% sehingga tidak rutin di kerjakan pada struma multi nodusa.struma retrosternal dengan kejadian keganasan
sebesar 60-70%sehingga tetap
di lakukan FNA meski struma multi nodusa. Sensitivitas FNA lebih dari 90% dan spesivitas lebeh
dari 80%dan 0,4% false
negatif
f.
Foto toraks dilakukan untuk
mendiagnosis ,untuk struma retrostrenal,untuk persiapan praoperatif,untuk
melihat kondisi jantung dan paru (penyakit komorbid).
g.
Tiroid scan untuk melihat nodul
yang fungsional , untuk mencari sisa jaringan tiroid postoperasi.
(Ardiansyah,2016).
2.
Indikasi Pembedahan
Indikasikasi
pembedahan pada kelenjar
tirod :
a.
Struma yang membesar/multinoduler.
b.
Kecurigaan keganasan.
c.
Penekanan organ sekitar.
d.
Tirotoksikosis residitif setelah
penghentian obat/non responsif
e. Kosmetik. (Azamris,2020).
3.
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada pasien
struma bisa dilakukan
tindakan antara lain (Ardiasyah,2016):
a.
Tirostatika (OAT=Obat Anti Tiroid )
Cara kerja :menghambat proses organifikasi dan eaksi
autoimun.PTU juga memiliki cara kerja yang lain dengan menghambat kompersi T4menjadi T3 di
perifer dengan macam obat Proplitiourasil(PTU):400mg,metimazol(MMI):30mg,karbimazol
(CBZ) :30 mg.
b.
Radio aktif iodium
Pemberian yodium radioaktif ini merupakan pemberian
sinar radiasi dengan dosis yang tinggi pada kelenjar tiroid sehingga
menghasilkan ablasi jaringan. Pemberian yodium radiaktif ini diberikan pada pasien yang sudsh dalam kondisi eutiroid. Tindakan inj dapat
mengurangi 50% penyakit gondok atau struma. Pada terapi yodium tidak memberikan
dampak lebih besar seperti risiko kanker, leukemia, dan atau gangguan genetik
yang lain. Biasanya yodium diberikan secara oral dan akan mengakibatkan
penurunan aktivitas kelenjar tiroid selama
2-3 bulan. Terapi
ini tidak disarankan diberikan selama kehamilan karena kelenjar tiroid pada janin
dapat mengkonsentrasi isotopnua
c. Pembedahan
1)
Tiroidektomi :pengangkatan kelenjar
tiroid.
2) Isthmolobektomi
:pengangkatan satu lobus kelenjar tiroid beserta isthmusnya.
3) Lobektomi :pegakatan satu lobus kelenjar tiroid.
4) Subtotal
tiroidektomi :pengangkatan sebagian besar tiroid kedua lobus (kiri-
kanan)dengan meyisakan jaringan tiroid masing –masing 2-4 gram.
5) Near total tiroidektomi :pengangkatan seluruh kelenjar tiroid (Azamris,2020).
4.
Komplikasi
a.
Dalam setiap pembedahan komplikasi bisa terjadi. Komplikasi
pembedahan bisa terjadi namun tidak selalu terjadi, diantaranya :
1) Pendarahan
2) Paralisise
n. Laringeus Rekuren.komplikasi yang terjadi yang bisa bersifat sementara.resiko
ini bila terdapat tiroiditis ektensi retrosternal ,keganasan atau riwayat operasi sebelumnya
.mekanisme cedera dapat berupa laserasi,regangan tekanan
iskemia ,cedera akaibat suction.gejala klinis yang muncul suara serak,bicara
pelan,stridor,obtruksi jalan nafas.
3) Paralise
n. Laringeus superior.mekanisme cedera akibat regangan,gejala klinis jika
terkena cabang intrna berupa batuk saat minum dan tersedak .Tidak bisa suata
tinggi.
4) Kelemahan trakea
(trakeomalasia )
5) Infeksi.
6) Tetani
hipokalsemia.komplikasi metabolik akibat hipoparatiroidisme.klinis berupa baal
ujung jari gelisah,spasme,
7) Krisis
tiroid yang di picu oleh trauma atau stress pembedahan.gejala klinis berupa
demam,derilium ,kejang,diare muntah takikardi,gagal jantung
akut,berkeringat (Azamris,2020).
b.
Komplikasi struma yang membesar dapat
meneyababkan :
1) Hipertiroidisme
2) Kompresi trakea
1.
Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan merupakan suatu penilaian klinis
mengenai respon klien terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang
dialaminya baik yang berlangsung actual maupun potensial. Diagnosa keperawatan
bertujuan mengidentifikasi respon individu, keluarga, dan komunitas terhadap
situasi yang berkaitan dengan kesehatan (Tim Pokja
SDKI PPNI, 2017).
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul
pada klien dengan
post operasi ishmolobektomi :
1) Nyeri akut berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan
2) Resiko di tandai dengan
dengan terputusnya kontunuitas jaringan
3) Defisit nutrisi
berhubungan dengan anoreksia
4) Defisit pegetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi
5) Ganguan pola nafas tidak efektif berhungan dengan ganguan neuromuskuler.
6) Ganguan komuniakasi verbal berhungan dengan
hambatan fisik
7) Ganguan citra
tubuh berhubungan dengan
efek tindakan invasif
8) Ansitas berhubungan dengan kurang terpapar
informasi
2. Intervensi keperawatan
Intervensi keperawatan adalah segala treatment yang
dikerjakan oleh perawat yang didasarkan pada pengetahuan dan penilaian klinis
untuk mencapai luaran (outcome) yang diharapkan.Tindakan keperawatan adalah perilaku atau
aktivitas spesifik yang dikerjakan oleh perawat untuk mengimplementasikan
intervensi keperawatan.Standar asuhan keperawatan memiliki tiga komponen utama,
yaitu diagnosis keperawatan, intervensi keperawatan, dan luaran (outcome)
keperawatan. Sebelum menentukan rencana keperawatan, perawat terlebih dahulu
menetapkan luaran (outcome) keperawatan (PPNI, 2019). Perencanaan yang mungkin
muncul pada klien post operasi menurut SIKI (2018),adalah sebagai berikut:
Tabel 2. 2 Intervensi
keperawatan
|
No |
Diagnosa Keperawatan |
Tujuan Dan Kriteria Hasil |
Intervensi |
|
1 |
Nyeri akut Gejala dan Tanda Mayor Subjektif 1)
Mengeluh nyeri 2)
Merasa depresi (tertekan) Objektif 1)
Tampak meringis 2)
Gelisah 3) Tidak mampu menuntaskan aktivitas Gejala dan Tanda Minor Subjektif Merasa takut mengalami cedera berulang Objektif 1)
Bersikap protektif (mis. Posisi menghindar nyeri) 2)
Waspada 3)
Pola tidur berubah 4)
Anoreksia 5)
Fokus menyempit 6)
Berfokus pada diri sendiri |
Setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama 3x kunjungan, maka diharapkan tingkat
nyeri menurun dan kontrol nyeri meningkat dengan kriteria hasil : 1)
Tidak mengeluh
nyeri 2)
Tidak meringis 3)
Tidak gelisah 4)
Tekanan darahmembaik 5)
Melaporkanny eri terkontrol 6)
Kemampuan mengenali penyebab nyeri meningkat 7)
Kemampuan teknik non-farmakologis |
Intervensi utama
Manajemen
nyeri Observasi 1)
Identifikasi lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi, intensitas nyeri 2)
Identifikasi skala nyeri 3)
Identifikasi factor yang
memperberat dan memperingan nyeri 4)
Identifikasi pengetahuan
kenyakinan tentang nyeri Terapeutik 1)
Berikan teknik non-farmakologis untuk menguangi rasa nyeri 2) Kontrol lingkungan yang
memperberat rasa nyeri |
|
|
|
|
3) Pertimbangkan jenis dan sumber
nyeri dalam pemilihan
strategi meredakan nyeri Edukasi 1)
Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri 2)
Jelaskan strategi
merendahkan nyeri 3)
Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri 4)
Anjurkan tehnik
non-farmakologi untuk mengurangi rasa nyeri Kolaborasi 1)
Pemberian analgesik |
|
2 |
Resiko infeksi DS: DO: |
Setealah di lakukan tindakan keperawatan
selama 3× 24 jam status nutrisis terpenuhi degan
kriteria hasil: 1)
Demam menurun 2)
Kemerahan menurun 3)
Nyeri menurun 4)
Bengkak menurun 5)
Kadar sel darah putih membaik |
Pencegahan infeksi
Observasi 1)
Monitor tanda dan gejala
infeksi lokal dan sistematik Terapeutik 1)
Batasi jumlah pengunjung 2) Berikan perawatan
kulit pada area edema 3)
Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan
pasien dan lingkungan pasien 4)
Pertahankan teknik aseptik
pada pasien beresiko
tinggi Edukasi 1)
Jelaskan tanda dan gejala
infeksi 2)
Ajarkan cara mencuci tangan dengan benar |
|
|
|
|
3)
Ajarkan etika batuk 4)
Ajarkan cara memeriksa kondisi luka dan luka
operasi 5) Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi 6) Anjurkan meningkatkan asupan cairan Kolaborasi 1)
Kolaborasi pemberian
imunisasi, jika perlu |
|
3 |
Defisite nutrisi Gejala dan tanda mayor Subjectif Objectif 1)
Berat badan menurun minimal 10 % di bawah
rentang ideal Gejala dan tanda minor subjectif 1)
Cepat kenyang setelah makan 2)
Kram nyeri abdomen 3)
Nafsu mkan menurun Objektif 1) Bising usus
hiperaktif 2)
Otot mengunyah lemah 3)
Otot menelan lemah 4)
Membrane mukosa pucat 5)
Sariawan 6)
Serum albumin turun 7)
Rambut ronok berlebihan 8)
Diare |
Setealah di lakukan tindakan keperawatan
selama 3× 24 jam status nutrisis terpenuhi degan
kriteria hasil : 1) Porsi makan yang di hasbiskan
meingkat 2) Berat badan atau IMT meningkat 3) Frekuensi makan meningkat 4)
Nafsu makan memingkat 5) Perasaan cepat kenyang
menurun |
Manajemen nutrisi Observasi 1)
Identifikai status nutrisi 2)
Identifikasi alergi dan intoleransi
makanan 3)
Identifikasi erlunya tindakan pemaangan selang NGT 4)
Monitor asupan
mkanan 5)
Monitor berat badan Teurapeutik 1)
Lakukan personal hygine
sebelum makan jik perlu 2)
Sajikan makanan yang menarik dan
suhu yang sesuai 3)
Hentikan pemberian
maksnsn melalui selang NGT jika
asupan orl dapat di toleransi Edukasi 1)
Anjurkan posisi duduk jika
mampu 2) Ajarkan diet yang di |
|
|
|
|
programkan Kolaborasi 1)
Kolaborasi dengan ahli
gizi untuk menentukan jumlah dan jenis
nutrien yang di butuhkan Promosi berat badan Observasi 1)
Identifikasi kemungkinan bb kurang 2)
Monitor adanya
mual muntah Teurapeutik 1)
Sediakan makanan yang tepat
sesuai kondisi pasien 2)
Berikan pujian
kepada pasien atas peningkatan
yang di capai Edukasi 1)
Jelaskan makanan yang
bergizi tinggi terjangkau |
Sumber :
Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (PPNI, 2018)
dan StandarLuaran Kepeawatan Indonesia (PPNI, 2019)
Evaluasi
Evaluasi adalah penilaian dengan cara membandingkan perubahan
keadaan pasien (hasil yang dia amati ) dengan tujuan dan kriteria hasil yang di
buat pada tahap perencanaan.evaluasi mengacu pada penilaian,tahapan dan
perbaikan.dalam evaluasi,perawaat menilai reaksi klien terhadap intervensi yang
di berikan dalam menetapkan apa yang menjadi sasaran dari rencana keperawaatan
diterima (Hadinata,2022).
DAFTAR PUSTAKA
Ardhiansyah, A. O. (2016).
Kanker Tiroid : Surgery Mapping.
Airlangga University
Press.Armerinayanti, N. W. (2)
Azamris. 2020. Buku Ajar Kelainan Tiroid .yogjakarta : Deepublish.
CINTIA, A. (2022). Asuhan Keperawatan
Perioperatif Pada Pasien Struma Nodusa Non Toksik Dengan Tindakan Ismolobektomi
Di ruang Operasi Rumah Sakit Bhayangkara Polda Lampung Tahun 2022 (Doctoral
dissertation, Poltekkes Tanjungkarang).
Alkabban; M. Fadi Bhupendra C. Patel. 2020. “Nontoxic Goiter.” National
LibraryMedicine.diakses16juni2023padahttps://www.ncbi.nlm.nih.g ov/books/NBK48224/
Farich, A., & Nurmalasari, Y. (2015).
Hubungan Umur, Pengetahuan dan Perilaku Konsumsi Yodium
dengan Kejadian Goiter
pada Wanita di Wilayah Kerja Puskesmas Gedung Meneg
Kabupaten Tulang Bawang Tahun 2015.MedikaMalahayati,2(3).
Hadinata
Dian . A . J . A , 2022 . Metodologi Keperawatan . Bandung : Widina Bhakti Persada
Bandung .
Hartoyo, M., Musiana, N., Handayani, R. S.,
& Kep, M. (2022). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah S1 Keperawatan Jilid
II. Mahakarya Citra Utama Group.
Haswita, & Reni Sulistyowati. (2017). Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta Jakarta: Mediaction
James R Maulinda. MsD., FACP (2018). MedScape. Goiter. https://emedicine.Medscape.com/article/120034-overview#a6-diakses pada 16 juni,2023.
Prapyatiningsih, Y., Ardika Nuaba, I. G.,
& Sucipta, I. W. (2017). Karakteristik penderita nodul tiroid yang
mendapatkan tindakan operatif di RSUP Sanglah Denpasar periode 2011-2013.
Medicina Journal,48(1),72. https://doi.org/10.15562/medicina.v48i1.3
Rekam Medik
dan Profil Penyakit Tidak Menular Tahun 2016.jakarta:Kementrian Kesehatan RI,2007 ISBN :978-602-416-176-7.
Rekam Medik Rsud Data Penyakit Dr Slamet Garut tahun 2022
Riskesdas. (2019). Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar Indonesia: Departemen KesehatanIndonesia.
Komentar
Posting Komentar