DOWNLOAD LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH KASUS HIPOGLIMIA

 

LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

PADA NY. S KASUS HIPOGLIMIA

 

A.    Konsep Teoritis:

1.      Definisi

Hipoglikemi adalah kondisi ketidaknormalan kadar glokosa scrum yang rendah. Keadaan ini dapat didefinisikan sebagai kadar glukosa dibawah 40 mg/dl. setelah kelahiran berlaku untuk seluruh bayi baru lahir. atau pembacaan strip reagen oxidasi glukosa darah. Hanya 20% hipoglikemia bersifat simptomatik, yaitu hipoglikemia yang disertai gejala neurologis dan gejala tersebut akan hilang setelah pemberian glukosa, tetapi kerusakan otak masih mungkin terjadi dan gejala akan terlihat kemudian. Pada hipoglikemia berat gejala menyarupai asfiksia. Pada bai baru lahir dengan kejang atau jitteriness hendaknya dilakukan pemeriksaan Dextrostix berulang. (Della Vira Afriana, 2019)

 

Hipoglikemia atau penurunan kadar gula darah merupakan keadaan dimana kadar glukosa darah berada di bawah normal, yang dapat terjadi karena ketidakseimbangan antara makanan yang dimakan, aktivitas fisik dan obat-obatan yang digunakan. Sindrom hipoglikemia ditandai dengan gejala klinis antara lain penderita merasa pusing, lemas, gemetar, pandangan menjadi kabur dan gelap, berkeringat dingin, detak jantung meningkat dan terkadang sampai hilang kesadaran (syok hipoglikemia) (Della Vira Afriana, 2019)

 

Nilai kadar glukosa darah/plasma atau serum untuk diagnosis hipoglekemia pada berbaga ikelompok umur anak (Della Vira Afriana, 2012).

 

Kelompok umur

Glueosa<mg/di

Darah plasma/serum

Bayi/anak

<40 mg/100ml

<45 mg/100ml

Neonates

<20 mg/100ml

<25 mg/100ml

BBLR

<20 mg/100ml

<25 mg/100ml

BCB

<30 mg/100ml

<35 mg/100ml

0-3 hari

<40 mg/100ml

<45 mg/100ml

3 hari

<40 mg/100ml

<45 mg/100ml

 

a.       Untuk setiap nconatus manapun, kadar glukosa <40-45 mg/dl dianggap tidak normal

b.      Menurut WHO hipoglikemia adalah bila kadar glukosa/gula darah <47 mg/dl

c.       Gejala sering tidak jelas/asimptomatik, semua tenaga kesehatan perlu mewaspadai kemungkinan adanya hipoglikemi.

d.      Diagnosis dini dan pengobatan yang tepat dapat mencegah konsekuensi yang serius.

 

 

2.      Etiologi

Hipoglikemia bisa disebabkan olch (Carlson, A., et al. 2021):

a.       Pelepasan insulin yang berlebihan oleh pancreas

b.      Dosis insulin atau obat lainnya yang terlalu tinggi, yang diberikan kepada penderita diabetes untuk menurunkan kadar gula darahnya

c.       Kelainan pada kelenjar hipofisa atau kelenjar adrenal

d.      Kelainan pada penyimpanan karbohidrat atau pembentukan glukosa di hati.

 

Adapun penyebab Hipoglikemia yaitu:

a.       Dosis suntikan insulin terlalu banyak. Saat menyuntikan obat insulin. anda harus tahu dan paham dosis obat yang anda suntik sesuai dengan kondisi gula darah saat itu. Celakanya, terkadang pasien tidak dapat memantau kadar gula darahnya sebelum disuntik, sehingga dosis yang disuntikan tidak sesuai dengan kadar gula darah saat itu. Memang sebaiknya bila menggunakan insulin suntik, pasien harus memiliki monitor atau alat pemeriksa gula darah sendiri.

b.      Lupa makan atau makan terlalu sedikit. Penderita diabetes sebaiknya mengkonsumsi obat insulin dengan kerja lambat dua kali sehari dan obat yang kerja cepat sesaat sebelum makan. Kadar insulin dalam darah harus seimbang dengan makanan yang dikonsumsi. Jika makanan yang anda konsumsi kurang maka keseimbangan ini terganggu dan terjadilah hipoglikemia.

c.       Aktifitas terlalu berat. Olah raga atau aktifitas berat laintıya efek yang mirip dengan insulin. Saat anda berolah raga, anda akan menggunakan glukosa darah yang banyak sehingga kadar glukosa darah akan menurun. Maka dari itu, olah raga merupakan cara terbaik untuk menurunkan kadar glukosa darah tanpa menggunakan insulin.

d.      Minum alkohol tanpa disertai makan. Alkohol menganggu pengeluaran glukosa dari hati schingga kadar glukosa darah akan menurun.

e.       Menggunakan tipe insulin yang salah pada malam hari. Pengobatan diabetes yang intensif terkadang mengharuskan anda mengkonsumsi obat diabetes pada malam hari terutama yang bekerja secara lambat. Jika anda. salah mengkonsumsi obat misalnya anda meminum obat insulin kerja cepat di malam hari maka saat bangun pagi, anda akan mengalami hipoglikemia.

f.        Penebulan di lokasi suntikan. Dianjurkan bagi mereka yang menggunakan suntikan insulin agar merubah lokasi suntikan setiap beberapa hari. Menyuntikan obat dalam waktu lama pada lokasi yang sama akan menyebabkan penebalan jaringan. Penebalan ini akan menyebabkan penyerapan insulin menjadi lambat.

g.      Kesalahan waktu pemberian obat dan makanan. Tiap tiap obat insulin sebaiknya dikonsumsi menurut waktu yang dianjurkan. Anda harus mengetahui dan mempelajari dengan baik kapan obat sebaiknya disuntik atau diminum sehingga kadar glukosa darah menjadi seimbang.

h.      Penyakit yang menyebabkan gangguan penyerapan glukosa. Beberapa penyakit seperti celiac disease dapat menurunkan penyerapan glukosa olch usus. Hal ini menyebabkan insulin lebih dulu ada di aliran darah dibandingan dengan glukosa. Insulin yang kadung beredar ini akan menyebabkan kadar glukosa darah menurun sebelum glukosa yang baru menggantikannya.

i.        Gangguan hormonal. Orang dengan diabetes terkadang mengalami gangguan hormon glukagon. Hormon ini berguna untuk meningkatkan kadar gula darah. Tanpa hormon ini maka pengendalian kadar gula darah menjadi terganggu.

 

j.        Pemakaian aspirin dosis tinggi. Aspirin dapat menurunkan kadar gula darah bila dikonsumsi melebihi dosis 80 mg.

k.      Riwayat hipoglikemia sebelumnya. Hipoglikemia yang terjadi sebelumnya mempunyai efek yang masih terasa dalam beberapa waktu. Meskipun saat ini anda sudah merasa baikan tetapi belum menjamin tidak akan mengalami hipoglikemia lagi.

3.      Patofisiologi

Seperti sebagian besar jaringan lainnya, matabolisme otak terutama bergantung pada glukosa untuk digunakan sebagai bahan bakar Saat jumlah glukosa terbatas, otak dapat memperoleh glukosa dari penyimpanan glikogen di astrosit, namun itu dipakai dalam beberapa menit saja. Untuk melakukan kerja yang begitu banyak, otak sangat tergantung pada suplai glukosa secara terus menerus dari darah ke dalam jaringan interstitial dalam system saraf pusat dan saraf-saraf di dalam system saraf tersebut. Olch karena itu, jika jumlah glukosa yang di suplai oleh darah menurun, maka akan mempengaruhi juga kerja otak. Pada kebanyakan kasus, penurunan mental seseorang telah dapat dilihat ketika gula darahnya menurun hingga di bawah 65 mg/dl (3.6 mM). Saat kadar glukosa darah menurun hingga di bawah 10 mg/dl (0.55 mM), sebagian besar neuron menjadi tidak berfungsi

schingga dapat menghasilkan koma. Diabetes ketoasidosis disebabkan olch tidak adanya insulin atau tidak cukupnya jumlah insulin yang nyata. keadaan ini mengakibatkan gangguan pada metabolisme karbohidrat, protein, lemak, ada tiga gambaran klinis yang penting pada diabetes ketoasidosis (Carlson, A., et al. 2021

a.       dehidrasi

b.      kehilangan elektrolit

c.       asidosis

Apabila jumlah insulin berkurang jumlah glukosa yang memasuki sel akan berkurang pula, di samping itu produksi glukosa oleh hati menjadi tidak terkendali, kedua factor ini akan menimbulkan hipoglikemia. Dalam upaya untuk menghilangkan glukosa yang berlebihan dalam tubuh, ginjal akan mengekskresikan glukosa bersama-sama air dan elektrolit (seperti natrium dan kalium). Diuresis osmotic yang di tandai oleh urinaria berlebihan (poliuria) ini akan menyebabkan dehidrasi dan kehilangan elektrolit. penderita ketoasidosis diabetic yang berat dapat kehilangan kira-kira 6,5 liter air dan sampai 400 hingga mEq natrium, kalium serta klorida selama periode waktu 24 jam. Akibat defisiensi insulin yang lain adalah pemecahan lemak (liposis) menjadi asam-asam lemak bebas dan gliseral.asam lemak bebas akan di ubah menjadi badan keton oleh hati, pada keton asidosis diabetic terjadi produksi badan keton yang berlebihan sebagai akibat dari kekurangan insulin yang secara normal akan mencegah timbulnya keadaan tersebut, badan keton bersifat asam, dan bila bertumpuk dalam sirkulasi darah, badan keton akan menimbulkan asidosis metabolic. (Carlson, A., et al. 2021)

Hipoglikemia ringan ketika kadar glukosa darah menurun, sistem saraf simpatik akan terangsang Pelimpahan adrenalin ke dalam darah menyebabkan gejala seperti perspirasi, tremor, takikardi, palpitasi, kegelisahan dan rasa lapar. Pada hipoglikemia sedang, penurunan kadar glukosa darah menyebabkan sel-sel otak tidak memperoleh cukup bahan bakar untuk bekerja dengan baik. Tanda-tanda gangguan fungsi pada sistem. saraf pusat mencakup ketidak mampuan berkonsentrasi, sakit kepala, vertigo, konfusi, penurunan daya ingat, pati rasa di daerah bibir serta lidah, bicara pelo, gerakan tidak terkoordinasi, perubahan emosional, perilaku yang tidak rasional, penglihatan ganda dan perasaan ingin pingsan. Kombinasi dari gejala ini (di samping gejala adrenergik) dapat terjadi pada hipoglikemia sedang. Pada hipoglikemia berat fungsi sistem saraf pusat mengalami gangguan yang sangat berat, sehingga pasien memerlukan pertolongan orang lain untuk mengatasi hipoglikemia yang di deritanya. Gejalanya dapat mencakup perilaku yang mengalami disorientasi, serangan kejang, sulit di bangunkan dari tidur atau bahkan kehilangan kesadaran (Smeltzer. 2018).

4.      Klasifikasi

Type hipoglikemi digolongkan menjadi beberapa jenis yakni (Carlson, A.,et al. 2021):

a.       Transisi dini nconatus (carly transitional nconatal): ukuran bayi yang besar ataupun normal yang mengalami kerusakan sistem produksi pankreas schingga terjadi hiperinsulin.

b.      Hipoglikemi klasik sementara (Classic transient neonatal): tarjadi jika bayi mengalami malnutrisi sehingga mengalami kekurangan cadangan lemak dan glikogen.

c.       Sekunder (Scondary): sebagai suatu respon stress dari neonatus sehingga terjadi peningkatan metabolisme yang memerlukan banyak cadangan glikogen.

d.      Berulang (Recurrent) disebabkan oleh adanya kerusakan enzimatis, atau metabolisme insulin terganggu.

5.      Manifestasi Klinis

Tanda dan gejala dari hipoglikemi terdiri dari dua fase antara lain:

a.       Jitteriness

b.      Sianosis

c.       Kejang atau tremor

d.      Letargi dan menyusui yang buruk

e.       Apnca

f.        Tangisan yang lemah atau bernada tinggi

g.      Hipotermia

h.      RDS

i.        Refleks hisap bayi kurang

j.        Gerakan mata berputar/nystagmus

k.      Keringat dingin.

l.        Pucat

m.    Muntah

n.       Apatis

7. Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan kadar gula darah

b. Tes fungsi ginjjail, hati diam kelenjar adiremlin

c. Jika dicurigai berasal darii tumor pankreas CT Scam

MIRI

8. Pemeriksaan Diagnostic

a. Guila darah puasa Diperiksa untuk mengetahui kadar gula darah pusa (sebelum dilberi glukosa 75 gram oral) dan millai normalnya antara 70-110 mg/dl.

h. Gula darah 2 jam post prandial Diperiksa 2 jjam setellah diberi glukosa dengan millai normal < 140 mg/dl/2 jam

c. HB.Alc Pemeriksaan dengan menggunakan bahan diarah untuk memperoleh kadar gulla durah yang sesungguhnya karema pasiem tidlaik dapat mengontrol hasil tes dallam waktu 2-3 bullam. HBAle menunjukkan kadar hemoglobin terglikosillasi yang padla orang nommal antara 4-6% Semakin tinggi maka alkan menunjukkan bahwa orang tersebut menderita DM dan beresiko terjadinya komplikasi

d. Ellektrolit, tejadi peningkatan creatinin jika fungsi ginjalnya telah tenganggu

c. Leukosit, terjadi peningkatan jika sampai terjadi infeksi. (Alsalhli M. Gerich JE. J Clin Med. 20118)

9. Penatalaksanaan

a. Hipoglikemia Ringan-Sedang

Pemberiam karbohidratt sebanyak 15 gram dalam bentuk tubilet atau larutan glukosa maupun sukrosa diperlukan sebagai pertolongan pertama hipoglikemisa ringan hingga sedang pada orang dewasa. Terapi awal imi cukup untuk memicu kenaikan glukosa darah hingga 38 mg/dL dallam 20 menit dam perbaikan gejalla padla sebagian besar individu dengan hipoglikemia mingam-sedang. Pililham rejjumem terapi arowall kaimmyca seperti susu dam jus jjeruik katang cepat dakam memanikkam kadar glukorsza daraih dan memperbaiki gejalla. pasien memiliki riwayat DM, pengukuran kadar glukosa dilakukan dalam 15 menit sejak pemberian terapi glukosa awal. Jika kadar glukosa darah masih di bawah 70 mg/dL, pemberian 15 gram glukosa atau sukrosa dapat diulang. Apabila tablet glukosa tidak tersedia, sediaan karbohidrat 15 gram oral lainnya yang ekivalen adalah 15 mL gula pasir yang dilarutkan dalam air, 5 kubus kecil gula, dan 15 mL madu.


 

b.    Hipoglikemia Berat

Apabila pasien mengalami hipoglikemia berat namun masih sadar penuh dan memiliki riwayat diabetes, pemberian karbohidrat oral 20 gram dilakukan dalam bentuk glukosa tablet dan sediaan lain yang ekivalen. kadar glukosa darah kemudian diperiksa dalam kurun waktu 15 menit setelah pemberian terapi glukosa awal. Pemberian glukosa 15 gram dapat diulang apabila kadar glukosa darah masih <70 md/dL.. Jika pasien mengalami hipoglikemia berat dan tidak sadarkan diri, pemberian 10-25 gram glukosa atau 20-50 mL dekstrosa 50% dalam air (D50W) dapat diberikan secara intravena selama 1-3 menit apabila pasien memiliki akses intravena. Jika pasien tidak memiliki akses intravena, 1 mg glukagon dapat diberikan secara subkutan atau intramuskular. Pedoman klinis di Amerika Serikat dan Kanada menyarankan agar pasien dengan DM dan keluarga yang merawat memiliki sediaan glukagon serta mampu memberikan obat tersebut sesuai indikasi. Namun, sediaan glukagon saat ini belum tersedia di Indonesia dan bahkan di negara maju harganya masih sangat mahal.

c.       Jika Hipoglikemia telah Teratasi

Apabila hipoglikemia telah teratasi, pasien harus mendapatkan makanan atau kudapan yang semestinya dia dapatkan sesuai jadwal makan harian guna mencegah hipoglikemia berulang. Apabila jadwal makan lebih dari 1 jam sejak kejadian hipoglikemia, kudapan (termasuk karbohidrat 15 gram dan protein) perlu diberikan bagi pasien. (Alsahli M. Gerich JE. J Clin Med. 2018)

10.  Komplikasi

a. Pusing dan hilang keseimbangan sehingga beresiko mengalami kecelakaan

b. Kejang

c. Penurunan kesadaran

d. Cacat otak permanen

e. Kematian (Alsahli M, Gerich JE. J Clin Med. 2018)

B. Asuhan Keperawatan

1. Data dasar yang perlu dikaji adalah:

a. Keluhan utama sering tidak jelas tetapi bisanya simptomatis, dan lebih sering hipoglikemi merupakan diagnose sekunder yang menyertai keluhan lain sebelumnya seperti asfiksia, kejang, sepsis.

b. Riwayat:

ANC

Perinatal

Post nata

Imunisasi

Diabetes melitus pada orang tua/ keluarg

Pemakaian parenteral nutrition

Sepsis

Enteral feeding

Pemakaian Corticosteroid therapi

Ibu yang memakai atau ketergantungan narkotika

c. Data fokus

Data Subyektif:

Sering masuk dengan keluhan yang tidak jelas

Keluarga mengeluh bayinya keluar banyaj keringat dingin

Rasa lapar (bayi sering nangis)

Nyeri kepala

Sering menguap

Irritabel

Data obyektif:

Parestisia pada bibir dan jari, gelisah, gugup, tremor, kejang, kaku,

Hight-pitched cry, lemas, apatis, bingung, cyanosis, apnea, nafas cepat irreguler, keringat dingin, mata berputar-putar, menolak makan dan koma

Plasma glukosa < 50 gr/dl

d. Pengkajian head to toe

Data subyektif:

Riwayat penyakit dahulu

Riwayat penyakit sekarang.

Status metabolik intake makanan yang melebihi kebutuhan kalori,infeksi atau penyakit-penyakit akut lain, stress yang berhubungandengan faktorfaktor psikologis dan social, obat-obatan atau terapi lainyang mempengaruhi glikosa darah, penghentian insulin atau obat antihiperglikemik oral.

Data Obyektif

Aktivitas/Istirahat

Gejala Lemah, letih, sulit bergerak/berjalan, kram otot, tonus ototmenurun, gangguan istrahat/tidur Tanda Takikardia dan takipnca pada keadaan istrahat atau aktifitasLctargi/disorientasi, koma

Sirkulasi

Gejala Adanya riwayat hipertensi, IM akut, klaudikasi, kebas dankesemutan pada ekstremitas, ulkus pada kaki, penyembuhan yanglama, takikardia. Tanda Perubahan tekanan darah postural, hipertensi, nadi yangmenurun/tidak ada, disritmia, krekels, distensi vena jugularis, kulit panas, kering, dan kemerahan, bola mata cekung

Integritas/Ego

Gejala: Stress, tergantung pada orang lain, masalah finansial yang berhubungan dengan kondisi Tanda: Ansietas, peka rangsang

Eliminasi

Gejala Perubahan pola berkemih (poliuria), nokturia, rasanyeri/terbakar, kesulitan berkemih (infeksi), ISK baru/berulang. nyeritekan abdomen, diare.Tanda Urine encer, pucat, kuning. poliuri (dapat berkembangmenjadi oliguria/anuria, jika terjadi hipovolemia berat), urin berkabut, bau busuk (infeksi), abdomen keras, adanya asites, bising usus lemahdan menurun, hiperaktif (diare)

Nutrisi/Cairan

Gejala: Hilang nafsu makan, mual/muntah, tidak mematuhi diet, peningkatan masukan glukosa/karbohidrat, penurunan berat badanlebih dari beberapa hari/minggu, haus, penggunaan diuretik (Thiazid) Tanda : Kulit kering/bers isik, turgor jelek, kekakuan/distensiabdomen, muntah. pembesaran tiroid (peningkatan kebutuhanmetabolik dengan peningkatan gula darah), bau halisitosis/manis, bau buah (napas aseton)

Neurosensori

Gejala: Pusing/pening, sakit kepala, kesemutan, kebas, kelemahan pada otot, parestesi, gangguan penglihatan Tanda Disorientasi, mengantuk, alergi, stupor/koma (tahap lanjut), gangguan memori (baru, masa lalu), kacau mental, refleks tendondalam menurun (koma), aktifitas kejang (tahap lanjut dari DKA).

Nyeri/kenyamanan

Gejala Abdomen yang tegang/nyeri (sedang/berat) Tanda: Wajah meringis dengan palpitasi, tampak sangat berhati-hati

Pernapasan

Gejala Merasa kekurangan oksigen, batuk dengan/tanpa sputum purulen (tergantung adanya infeksi/tidak)Tanda Lapar udara, batuk dengan/tanpa sputum purulen, frekuensi pernapasan

meningkat

Keamanan

Gejala Kulit kering, gatal, ulkus kulit Tanda Demam. diaphoresis, kulit rusak, lesi/ulserasi, menurunnyakekuatan umum/rentang gerak, parestesia/paralisis otot termasuk otot-otot pernapasan (jika kadar kalium menurun dengan cukup tajam)

Seksualitas

Gejala Rabas vagina (cenderung infeksi)Masalah impoten pada pria, kesulitan orgasme pada Wanita

Penyuluhan/pembelajaran

Gejala Faktor resiko keluarga DM, jantung, stroke, hipertensi Penyembuhan yang lambat, penggunaan obat sepertii steroid, diuretik (thiazid), dilantin dan fenobarbital (dapat meningkatkan kadar glukosa darah). Mungkin atau tidak memerlukan obat diabetik sesuai pesanan. Rencana pemulangan: Mungkin memerlukan bantuan dalam pengaturan diit, pengobatan,

perawatan diri, pemantauan terhadapglukosa dara

2. Diagnosa (Nanda Nic Noc, 2021-2023)

a. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencodera fisiologis.

b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan

c. Ketidakseimbangan nutrisi berhubungan dengan faktor fisiologis

3. intervensi

Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologi

Rencana Keperawatan

Diagnosa Keperawatan/ Masalah Kolaborasi

Tujuan Dan Kriterial Hasil

Intervensi

Rasional

Nyeri akut

 

Berhubungan dengan:agen pencedera

 

DS :

 

·         Fisiologis(mis.inflamasi, iskemia, neoplasma)

 

·         Agen pencedera kimiawi (mis.Terbakar, bahan kimia iritan)

 

·         Agen pencedera fisik mis. Abses, amputasi. terbakar, terpotong, mengangkat berat, prosedur operasi, trauma, latihan fisik berlebihan)

 

DO:

 

·         Mengeluh nyeri

·         Tampak meringis

·         Bersikap protektif (mis. Waspada, posisi menghindari nyeri)

·         Gelisah

·         Frekuensi nadi meningkat

·         Subttidur

·         Tekanan darah meningkat

·         Pola napas berubah

·         Nafsu makan berubah

·         Proses berpikir

·         terganggu

·         Menarik din

·         Bertokus pada diri sendiri

·         Diaforesis

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam tidak mengalami infeksi dengan kriteria hasil:

·         Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi

·         Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi

·         Jumkh leukosit dalam batas normal

·         Menunjukkan perilaku hidup schat

·         Status gastrointestinal. imun. genitourinaria dalam batas normal

Manajemen nyeri

 

·         Berikan terapi non farmakologis (inhalasi aroma terapi, relaksasi, terapi musik, dll)

·         Latihan pernapasan

·         Kontrol lingkungan yang dapat memperberat nyeri

·         Kompres hangat dingin

·         Pengaturan posisi

·         Edukasi proses penyakit

·         pemicu nyeri

·         Kolaborasi analgetik

·         pemberian

·         Mengetahui cara manajemen nyeri

·         Memberikan terapi non farmakologis (inhalasi aroma terapi terapi relaksasi, terapi musik, dll)

·         melatih pernapasan

·         Kontrol lingkungan yang dapat memperberat nyeri

·         Kompres hangat dingin

·         Pengaturan posisi

·         Edukasi proses penyakit

·         pemicu nyeri

·         Kolaborasi

pemberian

analgeti

 

b. intolerasi aktivitas berhubungan dengan kelelahan

Intoleransi Aktivitas

 

Berhubungan dengan:

 

·         Tirah haring atau imobilisasi

·         Kelemahan umum

·         Ketidakseimbangan antara uplai dan kebutuhan oksigen

·         Imobilitas

·         Gaya hidup monoton

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam tidak mengalami kelelahan dengan kriteria hasil:

·         Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa disertai peningkatan tekanan darah, nadi dan RR

·         Mampu melakukan aktivitas sehari-hari (ADLS) secara mandiri

·         Tanda-tanda vital norma

·         Status respirasi:

Pertukaran gas dan ventilasi adekuat

Aktivitas terapi

 

·         Kolaborasikan dengan

·         tenaga rehabilitasi medik dalam merencanakan

·         Mampu berpindah: dengan atau tanpa bantuan alat

·         Status kardipulmonari adekuat

·          Sirkulasi status baik

·         Mampu berpindah: dengan atau tanpa bantuan alat

·         Status kardipulmonari adekuat

·         Sirkulasi status baik

·         mengembangkan motivasi

·         diri dan penguatan

·         Monitor respon fisik, emosi, sosial dan spiritual

 

·         Kolaborasikan dengan tenaga rehabilitasi medik dalam merencanakan

·         Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan

·         Bantu untuk memilih aktivitas konsisten yang sesuai dengan kemampuan fisik, psikologi dan sosial

·         Bantu untuk mengidentifikasi aktivitas yang disukai

·         Bantu klien untuk membuat latihandiwaktu luang

·         Bantu klien/keluarga untuk mengidentifikasi kekurangan dalam beraktivitas

·         Bantu pasien unutk mengembangkan motivasi

 DOWNLOAD FILENYA DISINI

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOWNLOAD CONTOH SURAT LAMARAN DAPUR MBG

Download Undangan Tonjokan: Solusi Praktis dan Efisien untuk Pernikahan (Format MS. Word)

LAPORAN PENDAHULUAN DIARE