UNDUH LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH PADA KASUS ABSES MANDIBULA
LAPORAN
PENDAHULUAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
PADA
KASUS ABSES MANDIBULA
BAB
I
LAPORAN
PENDAHULUAN
A. KONSEP
PENYAKIT
1.1
DEFINISI
Abses mandibula adalah suatu peradangan yang
disertai pembentukan pus pada daerah mandibula. Keadaan ini merupakan salah
satu infeksi pada rahang. Pada umumnya sumber infeksi pada mandibula berasal
dari proses infeksi dari gigi, dasar mulut, faring, kelenjar limfe
submandibula. Mungkin juga kelanjutan infeksi dari ruang leher dalam lain
(Rizzo, 2020). Abses submandibula adalah kumpulan pus pada ruang submandibula
akibat infeksi jaringan, yang termasuk kelompok deep neck space infection
(DNSI). Infeksi dapat berasal dari gigi mandibula, orofaring, kelenjar saliva,
trauma, atau prosedur di daerah kepala-leher. Karena ruang fasia leher saling
berhubungan, infeksi dapat menyebar ke ruang sublingual, submental,
parapharyngeal, retropharyngeal, bahkan mediastinum dan menimbulkan ancaman
jalan napas. (Aryani et al., 2022; Sheikh et al., 2023).
1.2 ETIOLOGI
Infeksi bakteri dapat menyebabkan
abses. Bakteri penyebab abses tersering adalah Staphylococuus Aureus. Bakteri
menyebabkan abses melalui beberapa cara yang pertama, bakteri masuk ke bawah
kulit akibat luka yang berasal dari tusukan jarum yang tidak steril, kedua
bakteri menyebar dari suatu infeksi dibagian tubuh yang lain, ketiga bakteri
yang dalam keadaan normal hidup di dalam tubuh manusia dan tidak menimbulkan
gangguan kadang bisa menyebabkan terbentuknya abses (Siregar, 2021).
1) Infeksi
odontogenik: karies, pulpitis, periodontitis, abses periapikal, infeksi molar
mandibula, dan komplikasi tindakan gigi.
2) Infeksi
orofaring: tonsilitis, faringitis, infeksi peritonsil.
3) Infeksi
kelenjar saliva/sialadenitis.
4) Trauma
atau prosedur kepala dan leher.
5) Faktor
predisposisi: diabetes mellitus, imunitas menurun, kebersihan mulut buruk,
malnutrisi, dehidrasi, dan keterlambatan pengobatan. Infeksi odontogenik
merupakan sumber penting DNSI. (Bhardwaj et al., 2022).
1.3 PATOFISIOLOGI
Proses terjadinya infeksi pada tubuh
merupakan interaksi dari tiga hal sesuai dengan trias epidemiologi yaitu agent,
host, dan environment. Agent merupakan mikroorganisme yang dapat menyebabkan
penyakit, host adalah tubuh manusia sebagai tempat akumulasi dari
mikroorganisme tersebut. Host pada kasus infeksi mandibula lebih spesifik dapat
juga diarahkan pada area rahang mulut. Environment merupakan kondisi disekitar
host atau faktor eksternal yang mendukung proses terjadinya penyakit. Pada
kondisi sehat terdapat keseimbangan antara ketiga faktor epidemiologi. Gangguan
yang terjadi pada trias epidemiologi dapat menimbulkan penyakit. Contoh
gangguan tersebut adalah environment berubah menjadi tempat yang sangat
kondusif untuk pertumbuhan mikroorganisme, adanya peningkatan jumlah agent atau
mikroorganisme, serta penurunan daya tahan tubuh host (Mardiyantoro, 2020) Jika
bakteri masuk ke dalam jaringan yang sehat, maka akan terjadi suatu infeksi.
Sebagian sel mati dan hancur, meninggalkan rongga yang berisi jaringan dan
sel-sel yang terinfeksi. Sel-sel darah putih yang merupakan pertahanan tubuh
dalam melawan infeksi, bergerak kedalam rongga tersebut, dan setelah menelan
bakteri, sel darah putih akan mati, sel darah putih yang mati inilah yang
membentuk nanah yang mengisi rongga tersebut. Akibat penimbunan nanah ini, maka
jaringan disekitarnya akan terdorong. Jaringan pada akhirnya tumbuh di
sekeliling abses dan menjadi dinding pembatas. Abses hal ini merupakan untuk
tubuh mencegah penyebaran infeksi lebbih lanjut jika suatu abses pecah didalam
tubuh maka infeksi bisa menyebar kedalam tubuh juga dibawah permukaan kulit,
tergantung kepada lokasi (Siregar,2021).
1.4 MANIFESTASI
KLINIS
Tanda dari inflamasi akut ditandai
dengan eksudasi plasma protein dan akumulasi leukosit dominasi neutrofil.
Inflamasi akan memunculkan tanda keradangan akut atau dikenal sebagai cardinal
symptom, yaitu rubor (kemerahan), calor (panas), tumor (pembengkakan) dan
functiolaesa (kehilangan fungsi) (Mardiyantoro, 2022). Gejala dari abses
tergantung pada lokasi dan pengaruhnya terhadap fungsi suatu organ atau saraf. Gejala
nya bisa berupa: nyeri, nyeri tekan, teraba hangat, pembengkakan, kemerahan,
dan demam (Irianto, 2023). Nyeri submandibula/leher, pembengkakan, kemerahan,
nyeri tekan, demam, menggigil, sakit gigi, disfagia, odinofagia, trismus, suara
berubah/muffled voice, hipersalivasi, bau mulut, penurunan asupan oral, dan
limfadenopati. Kondisi berat dapat menyebabkan sesak, stridor, retraksi,
penurunan SpO , atau tanda sepsis. (Sheikh et al., 2023).
1.5 KOMPLIKASI
Obstruksi jalan napas, Ludwig's angina,
aspirasi, sepsis, penyebaran ke ruang parapharyngeal/retropharyngeal,
mediastinitis, trombosis vena jugularis, pneumonia, gangguan nutrisi dan
cairan, serta kematian pada infeksi berat. (Sheikh et al., 2023; Nathani et
al., 2026).
Komplikasi/dampak yang mungkin
terjadi akibat dari abses mandibula menurut (Siregar 2022) adalah :
a. Kehilangan
gigi.
b. Penyebaran
infeksi pada jarigan lunak dapat megakibatkan selulitis wajah disebuah Ludwig
angina.
c. Penyebaran
infeksi pada tulang rahang dapat mengakibatkan osteomielitis mandibula atau
maksila.
d. Penyebaran
infeksi pada daerah tubuh yang lain, menghasilkan abses serebral,
endokarditis,radang paru-paru atau gangguan lainnnya
1.6 PENATALAKSANAAN
Abses luka biasanya tidak membutuhkan
penanganan ditangani dengan intervensi bedah, debridemen, dan kuretase. Hal
yang sangat penting untuk diperhatikan bahwa penanganan hanya dengan
menggunakan antibiotik tanpa drainase pembedahan jarang merupakan tindakan yang
efektif. Hal tersebut terjadi karena antibiotik sering tidak mampu masuk ke
dalam abses, selain bahwa antibiotik tersebut seringkali tidak dapat bekerja
dalam pH yang rendah (Siregar, 2004). Pengobatan berupa evakuasi abses dan
pemberian antibiotik spectrum luas dosis tinggi secara parenteral. Insisi dan
drainase abses dapat dilakukan dengan anastesi lokal apabila terlokalisir dan
dangkal, sedangkan abses yang luas dan dalam insisi dan drainase dilakukan
dengan bius umum (Rahman, 2013). Hal yang paling penting adalah terjaganya
saluran nafas yang adekuat dan drainase abses yang baik. Pemberian antibiotik
berdasarkan hasil biakan kuman tes kepekaan antibiotik terhadap kuman penyebab
infeksi. Biakan kuman membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan hasilnya,
sedangkan 9 pengobatan harus segera diberikan, sebelum hasil kultur kuman dan
uji sensitifitas keluar, diberikan antibiotik kuman aerob dan anaerob secara
empiris (Novialdi, 2010). Apabila menimbulkan risiko tinggi, misalnya pada
area-area yang kritis, tindakan pembedahan dapat ditunda atau dikerjakan
sebagai tindakan terakhir yang perlu dilakukan. Karena sering kali abses
disebabkan oleh bakteri Staphylococcus Aureus, antibioik antistafilokokus
seperti flucloxacillin atau dicloxacillin sering digunakan (Siregar, 2004).
Prioritas pertama adalah penilaian dan pengamanan jalan napas. Terapi meliputi
antibiotik empiris dengan cakupan bakteri aerob dan anaerob, kemudian
penyesuaian berdasarkan kultur bila tersedia; insisi dan drainase abses;
analgesik/antipiretik; cairan intravena bila diperlukan; kontrol sumber infeksi
odontogenik; serta monitoring ketat. Drainase dengan panduan USG dapat
dipertimbangkan pada pasien tertentu. (Alzaid et al., 2024).
1.7 PEMERIKASAAN
DIAGNOSTIK
Hasil pemeriksaan leukosit
menunjukkan peningkatan jumlah sel darah putih. Untuk menentukan ukuran dan
lokasi abses dilakukan pemeriksaan rontgen, USG, CT Scan atau MRI (Magnetic
Resonance Imaging) (Nurarif & Kusuma, 2020).
B.
ASUHAN KEPERAWATAN TEORI
Pengkajian Keperawatan Pengkajian
merupakan tahap awal proses keperawatan dan merupakan suatu proses keperawatan
sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi
status kesehatan klien (Suarni dan Apriyani,2017).
1. Pengkajian
a. Data
biografi
1) Identitas
penderita yaitu nama, umur, jenis kelamin, agama, suku atau bangsa, status
perkawinan, pendidikan, pekerjaan, alamat, tanggal masuk rumah sakit, tanggal
pengkajian.
2) Keluarga
terdekat yang dapat dihubungi yaitu nama, umur, jenis kelamin, pendidikan,
pekerjaan, alamat, dan sumber informasi, beserta nomor telepon.
b. Riwayat
kesehatan atau perawatan
1) Keluhan
utama atau alasan masuk rumah sakit, Biasanya penderita mengeluh nyeri pada
daerah mandibulanya yang tumbuh benjolan terasa susah karena merasa sakit.
2) Riwayat
kesehatan sekarang
a. Penderita
mengatakan nyeri saat menggerak-gerakkan rahang bagian kanan.
b. Penderita
mengatakan sakit dibagian luka post op nya.
c. Penderita
mengatakan terdapat kemerahan di sekitar luka post op nya.
d. Penderita
mengatakan susah untuk istirahat karena terasa nyeri pada bagian luka post op
nya.
3) Riwayat
kesehatan dahulu
Apakah penderita pernah menderita
abses mandibula sebelumnya dan apakah penderita pernah dirawat dirumah sakit
sebelumnya.
4) Riwayat
kesehatan keluarga Mungkin diantara keluarga penderita sebelumnya ada yang
menderita penyakit yang sama dengan penyakit penderita sekarang.
c. Pola
fungsi kesehatan
Pola persepsi dan pemeliharaan
kesehatan, pola nutrisi dan metabolisme, pola eliminasi, pola aktivitas dan
latihan, pola istirahat dan tidur, pola kognitif dan persepsi, konsep diri,
pola peran hubungan, pola seksualitas dan reproduksi, toleransi stress,
keyakinan dan kepercayaan.
d. Pemeriksaan
fisik Pada waktu melakukan inspeksi keadaan umum penderita mengeluh nyeri pada
bagian post op, tampak sedikit merah pada luka nya, skala nyeri 5.
1. Data
dasar pengkajian penderita abses mandibula menurut (Doenges, 2001) sebagai
berikut :
a. Aktifitas/Istirahat
Klien mengatakan saat sakit ada
keterbatasan dalam melakukan kebutuhan aktivitas klien dibantu oleh keluarga
dan perawat, pola tidur berubah dan merasa tidak puas untuk tidur.
b. Sirkulasi
Pola nafas normal 20 kali permenit.
c. Integritas
Ego
Perubahan tingkah laku/kepribadian
kllien tampak dramatis dan cemas.
d. Makanan
dan Cairan
Mengalami perubahan nafsu makan,
asupan cairan oral, minum air putih 3- 4 gelas/hari dengan volume total 1000-
1200 cc/hari.
e. Nyeri
dan Kenyamanan
Nyeri pada bagian post op di rahang,
kemerahan pada luka, wajah meringis, gelisah dan merintih.
f.
Pernafasan
Tidak ada perubahan pola nafas dan
tidak menggunakan alat bantu pernafasan.
2. Diagnosa
Keperawatan Diagnosa keperawatan merupakan suatu penilaian klinis mengenai
respons klien terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang dialaminya
baik yang berlangsung aktual maupun potensial. Diagnosis keperawatan bertujuan
untuk mengidentifikasi respons klien individu keluarga dan komunitas terhadap
situasi yang berkaitan dengan kesehatan (SDKI, 2017).
Diagnosa Keperawatan menurut T.
Healther Herdman, et.al (2007) yaitu :
a. Nyeri
akut Pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan
jaringan aktual atau fungsional, dengan onset mendadak atau lambat dan
berintensitas ringan hingga berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan. Faktor
penyebab: agen pencedera fisik (prosedur operasi). Ditegakan apabila ditemui
data subjektif dan data objektif pada pasien. Pada data subjektif meliputi:
mengeluh nyeri. Pada data objektif meliputi: tampak meringis, gelisah, sulit
tidur, bersikap protektif (mis. waspada, posisi menghindari nyeri).
b. Gangguan
pola tidur Gangguan kualitas dan kuantitas waktu tidur akibat faktor eksternal.
Faktor penyebab: Nyeri post operasi. Ditegakan apabila ditemui data subjektif
dan data objektif pada pasien. Pada data subjektif meliputi: mengeluh sulit
tidur, mengeluh tidak puas tidur. Pada data objektif meliputi: terdapat kantung
mata.
c. Risiko
infeksi Berisiko mengalami peningkatan terserang organisme patogenik. Faktor
penyebab: efek prosedur invasif. Ditegakan apabila ditemui data subjektif dan
data objektif pada pasien. Pada data subjektif meliputi: klien mengatakan
kemerahan pada luka operasi. Pada data objektif meliputi: suhu sekitar luka
panas.
d. Risiko
defisit nutrisi Berisiko mengalami asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi
kebutuhan metabolisme. Faktor penyebab: ketidakmampuan menelan makanan.
Ditegakan apabila dittemui data subjektif dan data objektif pada pasien . Pada
data subjektif meliputi: mengeluh sulit menelan. Pada data objektif meliputi:
nafsu makan menurun, otot menelan lemah, berat badan menurun.
|
No |
Diagnosa Keperawatan |
SLKI |
SIKI |
|
1. |
Nyeri
akut (D.0077) b.d agen pencedera fisik d.d Data
subjektif (ds)
: Klien mengatakan nyeri Data
objektif (do)
: ·
Klien tampak
meringis ·
Klien tampak sulit tidur ·
Bersikap protektif ·
Klien tampak gelisah |
Tingkat
nyeri (L.08066) Setelah dilakukan intervensi 3x24 jam diharapkan tingkat
nyeri menurun dengan kriteria hasil: 1.
Keluhan nyeri (5) 2.
Meringis (5) 3.
Gelisah (5) 4.
Kesulitan tidur (5) Kontrol
nyeri (L.08063) 1.
Mengenali kapan nyeri terjadi (5) 2.Menggambarkan
faktor penyebab (5) 3.
Menggunakan tindakan pencegahan (nyeri) 4.
tanpa analgesik (5) 5.Melaporkan
nyeri yang terkontrol (5) |
Manajemen nyeri
(I.08238) 1. Identifikasi
lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan intensitas nyeri. 2. Identifikasi
skala nyeri 3. Identifikasi
faktor yang memperberat dan memperingan nyeri 4. Berikan
teknik non farmakologi untuk mengurangi rasa nyeri. Pemberian
analgesik (I.08243) 1. Identifikasi
riwayat alergi obat 2.Identifikasi
kesesuaian jenis analgesik dengan tingkat keparahan nyeri 3.Monitor
keefektifan analgesik 4.Pemberian analgesik sesuai indikasi (ketorolac) |
|
2. |
Gangguan
pola tidur (D.0055) b.d hambatan lingkungan d.d Data subjektif (ds)
: -
Klien mengeluh sulit tidur -Klien
mengeluh tidak puas tidur Data objektif (do)
-Terdapat
kantung mata didaerah mata klien |
Pola
tidur (L.05045) Setelah dilakukan intervensi 3x24 jam diharapkan pola tidur
membaik dengan kriteria hasil: -Keluhan
sulit tidur (5) -Keluhan
tidak puas tidur (5) -
Keluhan istirahat cukup (5) |
Pengaturan
posisi (I.01019) 1.
Atur posisi tidur yang disukai, jika tidak kontraindikasi 2.
Imobilisasi dan topang bagian tubuh yang cidera dengan tepat 3.
Tinggikan bagian tubuh yang sakit dengan tepat 4.
Motivasi dalam perubahan posisi, sesuai kebutuhan 5.Hindari
menempatkan pada posisi yang dapat meningkatkan nyeri |
|
3. |
Risiko
infeksi (D.0142) b.d efek prosedur invasif d.d Data subjektif (ds)
-Klien
mengatakan kemerahan pada luka operasi Data
objektif (do) -Tampak
kemerahan pada luka operasi -Suhu
sekitar luka panas |
Integritas kulit dan jaringan (L.14125)
Setelah dilakukan intervensi 3x24 jam diharapkan integritas kulit dan
jaringan meningkat dengan kriteria hasil: 1. Elastisitas (5) 2. Nyeri (5) 3. Kemerahan (5) 4. Suhu tubuh (5) 5. Tekstur (5) |
Perawatan
luka (I.14564) 1. Monitor
karakteristik luka 2. Monitor
tandatanda infeksi 3. Lepaskan
balutan dan plaster secara perlahan 4. Bersihkan
dengan cairan NaCl 5. Pertahankan
teknik steril saat melakukan perawatan luka 6. Kolaborasi
pemberian antibiotik |
|
4. |
Risiko
Defisit Nutrisi (D.0032) b.d ketidakmampuan menelan makanan d.d Data
Subjektif (ds) -Mengeluh
sulit menelan Data
Objektif (do) -Otot
menelan lemah -Nafsu
makan menurun |
Status Nutrisi (L.03030) Setelah
dilakukan intervensi 3x24 jam diharapkan status nutrisi membaik dengan
kriteria hasil : 1. Kekuatan otot mengunyah (5) 2. Kekuatan otot menelan (5) 3. Frekuensi makan (5) 4. Nafsu makan (5) Status Menelan (L.06052) 1. Reflek menelan (5) 2. Kemampan mengunyah (5) 3. Usaha menelan (5) 4. Penerimaan makanan (5) |
Terapi
Menelan (I.03144) 1.
Monitor gerakan lidah saat makan 2.
Monitor tanda kelelahan saat makan, minum, dan menelan 3.
Gunakan alat bantu, jika perlu 4.Hindari
penggunaan sedotan 5.
Posisikan duduk 6.
Berikan perawatan mulut, jika perlu 7.
Anjurkan membuka dan menutup saat memberikan makanan 8.
Anjurkan tidak bicara saat makan 9.
Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain dalam memberikan terapi (mis. terapis
okupasi, ahli patologi bicara, dan ahli gizi) |
e. Implementasi
Implementasi keperawatan adalah
serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu klien dari
masalah satatus kesehatan yang dihadapi ke status kesehatan yang lebih baik
yang menggambarkan krikteria hasil yang diharapkan (Suarni dan Apriyani,2021).
f.
Evaluasi
Tahap evaluasi merupakan perbandingan yang sistematik dan terencana
tentang kesehatan klien dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan
dilakukan,berkesinambung-an dengan melibatkan klien dan tenaga kesehatan
lainnya.Evaluasi dalam keperawatan merupakan kegiatan dalam menilai tindakan
keperawatan yang telah ditentukan,untuk mengetahui pemenuhan kebutuhan klien
secara optimal dan mengukur hasil dari proses keperawatan (Suarni dan
Apriyani,2022).
DAFTAR PUSTAKA
Aryani,
A., Fardani, S. R., Hayuti, T. G., Ginari, A. P. A., & Hartomo, B. T.
(2022). Penegakan Diagnosis dan Penatalaksanaan Abses Submandibula.
Indonesian Journal of Dentistry, 2(1).
Bhardwaj,
R., Makkar, S., Gupta, A., et al. (2022). Deep Neck Space Infections:
Current Trends and Intricacies of Management. Indian Journal of Otolaryngology
and Head & Neck Surgery, 74(Suppl 2), 2344–2349.
Sheikh,
Z., Yu, B., Heywood, E., Quraishi, N., & Quraishi, S. (2023). The
assessment and management of deep neck space infections in adults: A systematic
review and qualitative evidence synthesis. Clinical Otolaryngology, 48(4),
540–562.
Alzaid,
M., Ramadhan, M., Abul, A., et al. (2024). Ultrasonography-guided drainage
versus surgical drainage for deep neck space abscesses: A systematic review and
meta-analysis. The Journal of Laryngology & Otology, 138(9), 906–912.
Asairinachan, et al. (2025). Management of deep neck space infections – an
Australian otolaryngology experience. ANZ Journal of Surgery.
Nathani,
M., William, A., Ryngnga, N., & Saxena, S. (2026). Clinical and
diagnostic perspectives on bacterial deep neck space infections. Medical
Journal Armed Forces India
Komentar
Posting Komentar