UNDUH LAPORAN PENDAHULUAN KEBUTUHAN DASAR MANUSIA (KEBUTUHAN AKTIVITAS MOBILITAS)

 

LAPORAN PENDAHULUAN KEBUTUHAN DASAR MANUSIA

(KEBUTUHAN AKTIVITAS MOBILITAS)

 

A. Pengertian

Mobilitas atau mobilisasi merupakan kemampuan individu untuk bergerak dan melakukan kegiatan secara mudah, bebas dan teratur guna memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, baik secara mandiri, dengan bantuan orang lain, maupun hanya dengan bantuan alat (Wulandari, 2018).

Gangguan mobilitas atau imobilitas merupakan keadaan di mana seseorang tidak dapat bergerak secara bebas karena kondisi yang mengganggu pergerakan (aktivitas), misalnya trauma tulang belakang, cedera otak berat disertai fraktur pada ekstremitas, dan sebagainya (Wulandari, 2018). Menurut Nurarif dan Kusuma (2015), gangguan mobilitas adalah keterbatasan fisik tubuh atau satu atau lebih ekstremitas secara mandiri dan terarah.

1. Jenis Mobilitas

Kemampuan mobilitas secara umum dibedakan menjadi dua, mobilitas penuh dan mobilitas sebagian. Mobilitas penuh merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak atau beraktivitas secara bebas tidak terbatas, sehingga dapat melakukan interaksi sosial dan menjalankan peran sehari-hari. Mobilitas penuh ini merupakan fungsi dari saraf motorik volunter dan sensorik untuk dapat mengontrol seluruh area tubuh seseorang.

Sedangkan mobilitas sebagian merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak dengan batasan jelas dan tidak mampu bergerak secara bebas karena adanya gangguan pada saraf motorik dan sensorik di satu atau lebih ekstremitas tubuhnya. Mobilitas sebagian ini di bagi menjadi dua jenis yaitu:

1) Mobilitas sebagian temporer

Kemampuan individu untuk bergerak dengan batasan yang sifatnya sementara. Hal tersebut dapat disebabkan oleh trauma reversibel pada sistem muskuloskeletal, contohnya adalah adanya dislokasi sendi dan tulang.

2) Mobilitas sebagian permanen

Kemampuan individu untuk bergerak dengan batasan yang sifatnya menetap. Hal tersebut disebabkan oleh rusaknya sistem saraf yang reversibel, contohnya terjadi hemiplegia karena stroke, parapelgia karena cedera tulang belakang, poliomielitis karena terganggunya sistem saraf motorik dan sensorik (Widuri, 2010).

2. Jenis Imobilitas

1) Imobilitas Fisik, merupakan pembatasan untuk bergerak secara fisik dengan tujuan mencegah terjadinya gangguan komplikasi pergerakan, seperti pada pasien dengan hemiplegia yang tidak mampu mempertahankan tekanan di daerah paralisis sehingga tidak dapat mengubah posisi tubuhnya untuk mengurangi tekanan.

2) Imobilitas Intelektual, merupakan keadaan ketika seseorang mengalami keterbatasan daya pikir, seperti pada pasien yang mengalami kerusakan otak akibat suatu penyakit.

3) Imobilitas Emosional, keadan ketika seseorang mengalami pembatasan secara emosional karena adanya perubahan secara tiba-tiba dalam menyesuaikan diri. Sebagai contoh, keadaan stres berat dapat disebabkan karena bedah amputasi ketika seseorang mengalami kehilangan bagian anggota tubuh atau kehilangan sesuatu yang paling dicintai.

4) Imobilitas Sosial, keadaan individu yang mengalami hambatan dalam melakukan interaksi sosial karena keadaan penyakit sehingga dapat memengaruhi perannya dalam kehidupan sosial (Widuri, 2010).

B. Etiologi

Menurut Tim Pokja DPP PPNI (2017), faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan mobilitas fisik, adalah sebagai berikut:

1) Penurunan kendali otot

2) Penurunan kekuatan otot

3) Kekakuan sendi

4) Kontraktur

5) Gangguan muskoloskeletal

6) Gangguan neuromuskular

7) Keengganan melakukan pergerakan

C. Manifestasi Klinis

Respon fisiologis dari perubahan mobilisasi yang mungkin muncul, diantaranya:

1) Muskuloskeletal sepeeti kehilangan daya tahan, penurunan massa otot, atropi dan abnormalnya sendi (kontraktur) dan gangguan metabolisme kalsium

2) Kardiovaskuler seperti hipotensi ortostatik, peningkatan beban kerja jantung, dan pembentukan thrombus.

3) Pernafasan seperti atelektasis dan pneumonia hipostatik, dispnea setelah beraktifitas.

4) Metabolisme dan nutrisi antara lain laju metabolic; metabolisme karbohidrat, lemak dan

5) protein; ketidakseimbangan cairan dan elektrolit; ketidakseimbangan kalsium; dan gangguan pencernaan (seperti konstipasi).

6) Eliminasi urin seperti stasis urin meningkatkan risiko infeksi saluran perkemihan dan batu ginjal.

7) Integument seperti ulkus dekubitus adalah akibat iskhemia dan anoksia jaringan.

8) Neurosensori: sensori deprivation (Wulandari, 2018).

D. Patofisiologi

Menurut (Hidayat, 2014) proses terjadinya gangguan aktivitas tergantung dari penyebab gangguan yang terjadi. Ada tiga hal yang dapat menyebabkan gangguan tersebut, diantaranya adalah:

1. Kerusakan Otot

Kerusakan otot ini meliputi kerusakan anatomis maupun fisiologis otot. Otot berperan sebagai sumber daya dan tenaga dalam proses pergerakan jika terjadi kerusakan pada otot, maka tidak akan terjadi pergerakan jika otot terganggu. Otot dapat rusak oleh beberapa hal sepertrauma langsung oleh benda tajam yang merusak kontinuitas otot. Kerusakan tendon atau ligament, radang dan lainnya.

2. Gangguan pada skelet

Rangka yang menjadi penopang sekaligus poros pergerakan dapat terganggu pada kondisi tertentu hingga mengganggu pergerakan atau mobilisasi. Beberapa penyakit dapat mengganggu bentuk, ukuran maupun fungsi dari sistem rangka diantaranya adalah fraktur, radang sendi, kekakuan sendi dan lain sebagainya.

3. Gangguan pada sistem persyarafan

Syaraf berperan penting dalam menyampaikan impuls dari dank e otak. Impuls tersebut merupakan perintah dan koordinasi antara otak dan anggota gerak. Jadi, jika syaraf terganggu maka akan terjadi gangguan penyampaian impuls dari dank e organ target. Dengan tidak sampainya impuls maka akan mengakibatkan gangguan mobilisasi.

F. Penatalaksanaan

Menurut Saputra (2013) dalam Adha (2017), ada beberapa penatalaksanaan gangguan mobilisasi secara umum diantaranya, yaitu:

1) Pengaturan Posisi Tubuh sesuai Kebutuhan Pasien

Pengaturan posisi dalam mengatasi masalah kebutuhan mobilitas dapat disesuaikan dengan tingkat gangguan, seperti posisi fowler, sim, trendelenburg, dorsal recumbent, lithotomi, dan genu pectoral.

 

a. Posisi Fowler

Posisi fowler adalah posisi setengah duduk atau duduk, di mana bagian kepala tempat tidur lebih tinggi atau dinaikkan. Posisi ini dilakukan untuk mempertahankan kenyamanan dan memfasilitasi fungsi pernapasan pasien.

b. Posisi Sim

Posisi sim adalah posisi miring ke kanan atau ke kiri. Posisi ini dilakukan untuk memberi kenyamanan dan memberikan obat per anus (supositoria).

c. Posisi Trendelenburg

Pada posisi ini pasien berbaring di tempat tidur dengan bagian kepala lebih rendah daripada bagian kaki. Posisi ini dilakukan untuk melancarkan peredaran darah ke otak

d. Posisi Dorsal Recumbent

Pada posisi ini pasien berbaring telentang dengan kedua lutut fleksi (ditarik atau direnggangkan) di atas tempat tidur. Posisi ini dilakukan untuk merawat dan memeriksa genitalia serta pada proses persalinan.

e. Posisi Lithotomi

Pada posisi ini pasien berbaring telentang dengan mengangkat kedua kaki dan menariknya ke atas bagian perut. Posisi ini dilakukan untuk memeriksa genitalia pada proses persalinan, dan memasang alat kontrasepsi

L. Posisi Genu Pectoral

Pada posisi ini pasien menungging dengan kedua kaki ditekuk dan dada menempel pada bagian alas tempat tidur. Posisi ini dilakukan untuk memeriksa daerah rektum dan sigmoid.

2) Latihan ROM Pasif dan Aktif

Pasien yang mobilitas sendinya terbatas karena penyakit, diabilitas, atau trauma memerlukan latihan sendi untuk mengurangi bahaya imobilitas. Menurut Junaidi (2011) dalam Adha (2017) setelah keadaan pasien membaik dan kondisinya telah stabil baru diperbolehkan dilakukannya mobilisasi.

Berikut beberapa gerakan latihan ROM yang dilakukan untuk memelihara dan mempertahankan kekuatan otot serta memelihara mobilitas persendian:

a. Fleksi dan Ekstensi Pergelangan Tangan

b. Fleksi dan Ekstensi Siku

c. Pronasi dan Supinasi Lengan

d. Pronasi Fleksi Bahu

e. Abduksi dan Adduksi

f. Rotasi Bahu

g. Fleksi dan Ekstensi Jari-jari

h. Infersi dan Efersi Kaki

i. Fleksi dan Ekstensi Pergelangan Kaki

j. Fleksi dan Ekstensi Lutut

k. Rotasi Pangkal Paha

1. Abduksi dan Adduksi Pangkal Paha

3) Latihan Ambulasi

a. Duduk diatas tempat tidur

b. Turun dari tempat tidur, berdiri, kemudian duduk di kursi roda

c. Membantu berjalan.

G. Diagnosa Keperawatan

Diagnosis keperawatan yang mungkin muncul untuk klien dengan gangguan sistem muskuloskeletal adalah (Tim Pokja SDKI DPP PPNI 2017):

1) Gangguan mobilitas fisik

2) Defisit perawatan diri


 

H. Rencana Keperawatan

No. Dx

Diagnosa Keperawatan

Tujuan Keperawatan Dan Kriterial Hasil

Rencana Tindakan

1.

gangguan mobilitas fisik

subjektif:

a.        mengeluh menggerakan sulit ektremitas nyeri saat bergerak merasa cemas saat bergerak enggan melakukan pergerakan

Obyektif:

a.        kekuatan otot menurun

b.       rentang gerak (ROM) menuru

c.        sendi kaku

d.       gerakan tidak kordinasi

e.        gerakan terbatas

f.        fisik lemah

Setelah asuhan keperawatan selama 3x24 jam dilakukan mobilitas fisik membaik dengan kriteria hasil:

a.        pergerakan ekstremitas meningkat

b.       kekuatan otot meningkat

c.        nyeri menurun

d.       kecemasan menurun

Dukungan ambulasi

a.        identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya

b.       identifikasi toleransi fisik melakukan ambulasi

c.        monitor frekuensi jantung dan tekanan darah sebelum melalui abulasi

d.       monitor kondisi umum selama melakukan ambulasi

e.        fasilitasi aktifitas ambulasi dengan alat bantu (tongkat,kruk,ds)

f.        fasilitasi melakukan mobilisasi fisik jika perlu

g.       libatkan keluarga

 

 

 

untuk membantu pasien dalam meningkatkan ambulasi

h.    jelaskan tujuan dan prosedur ambulasi-anjurkan mobilisasi dini

i.      Ajarkan ambulasi sederhana vang harus di lakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari

2.

Defisit perawatan diri

Subjektif:

a.        Menolak melakukan perawatan diri

objektif:

a.        tidak mampu mandi/mengenakan pakaian/makan/ketoilet /berhias secara mandiri

b.       minat melakukan perawatan diri kurang

Setelah dilakukan asuhan keperawatan perawatan selama 3x24 jam diri membaik dengan kriteria hasil:

a.        kemampuan mandi meningkat

b.       kemampuan menggunakan pakaian meningkat

c.        kemampuan makan meningkat

d.       kemampuan ketoilet(BAB.BAK) meningkat

e.        ferbalisasi Keinginan Melakukan perawatan diri

f.        mempertahankan kebersihan mulut terapeutik

Dukungan perawatan diri::

a.        identifikasi kebiasaan aktifitas perawatan diri sesuai usia

b.       monitor tingkat kemandirian

c.        identifikasi kebutuhan alat bantu kebersihan diri berpakaian.ber hias, dan makan.

d.       Sediakan lingkungan yang

e.        Siapkan keperluan pribadi

f.        Dampingi dalam melakukan perawatan diri sampai mandiri

g.       Fasilitasi untuk menerima keadaan ketergantungan

h.       Jadwalkan rutinitas perawatan diri

i.         Anjurkan Melakukan perawatan diri secara konsisten sesuai kemampuan

3.

Resiko cidera

Faktor risiko tidak amanan transportasi

a.        kegagalan pertahanan tubuh

b.       mekanisme

c.        perubahan psikomotor fungsi

d.       perubahan fungsi kognitif

Setelah Dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam termogulasi dengan

kriteria hasil:

a.        Kejadian Cidera menurun

b.       luka/lecet menurun

c.        Pendarahan menurun

d.       Fraktur menurun

Pencegahan cidera

a.        identifikasi obat yang menyebabkan cidera

b.       identifikasi kesesuaian alas kaki pada ekstremitas bawah

c.        sediakan pencahayaan yang memadai

d.       sosialisasikan pasien dan keluarga dengan lingkugan rawat inap

e.        sediakan alas kaki anti slip

f.        sediakan urinal untuk eliminasi di dekat tempat tidur

g.       pastikan barang pribadi mudah di jangkau

h.       tingkatkan frekuensi observasi dan pengawasan pasien sesuai kebutuhan

i.         jelaskan alasan intervensi pencegahan jatuh

j.         anjurkan berganti posisi perlahan dan duduk beberapa menit sebelum berdiri

 

 

 


DAFTAR PUSTAKA

Adha, S.A. (2017). Asuhan Keperawatan Gangguan Mobilitas Fisik Pada Pasien Stroke Non Hemoragik Di IRNA C RSSN Bukittinggi. Karya Tulis Ilmiah. Politeknik Kesehatan Kemenkes Padang.

Basuki, L. penerapan ROM (Range of Motion) Pada Asuhan Keperawatan Pasien Stroke Dengan Gangguan Mobilitas Fisik Di RSUD Wates Kulon Progo. Karya Tulis Ilmiah. Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Yogyakarta.

Nurarif, A.H. dan Kusuma, H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC_NOC. Yogyakarta; MediAction.

Purwanto, H. (2016). Modul Bahan Ajar Cetak Keperawatan: Keperawatan Medikal Bedah II. Jakarta Selatan; Pusdik SDM Kesehatan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik. Jakarta; Dewan Pengurus Pusat PPNI.

Tim Pokja SIKI DPP PPNI (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperaatan. Jakarta; Dewan Pengurus Pusat PPNI

Tim Pokja SLKI DPP PPNL (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definis dan Kriteria Hasil Keperawatan. Jakarta: Dewan Pengurus Pusat PPNI

Widuri, H. (2010). Kebutuhan Dasar Manusia (Aspek Mobilitas dan Istirahat Tidur). (Riyadi, S, Ed.) Yogyakarta; Gosyen Publishing.

Wulandari, N.K.V. gambaran Asuhan Keperawatan Pada Pasien Pasca Stroke Non Hemoragik Dengan Gangguan Pemenuhan Mobilitas Fisik (Di Wilayah Keja UPT Kesmas Sukawati I) Tahun 2018. Karya Tulis Ilmiah. Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Denpasar.


DOWNLOAD DISINI

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOWNLOAD CONTOH SURAT LAMARAN DAPUR MBG

Download Undangan Tonjokan: Solusi Praktis dan Efisien untuk Pernikahan (Format MS. Word)

LAPORAN PENDAHULUAN DIARE