UNDUH LAPORAN PENDAHULUAN DENGAN KASUS KEBUTUHAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT
LAPORAN
PENDAHULUAN DENGAN KASUS
KEBUTUHAN CAIRAN DAN
ELEKTROLIT
A.
Definisi Cairan dan Elektrolit.
Cairan adalah volume air bisa berupa kekurangan atau
kelebihan air. Air tubuh lebih banyak meningkat tonisitus adalah
terminologi guna perbandingan osmolalitas dari salah satu cairan tubuh yang
normal. Cairan tubuh terdiri dari cairan eksternal dan cairan internal. Sedangkan Elektrolit adalah substansi yang menyebabkan ion
kation (+) dan anion (-).
B.
Fisiologi Atau Fungsi Cairan
1.
Mempertahankan panas tubuh dan pengaturan temperature tubuh.
2.
Transport nutrient ke sel
3.
Transport hasil sisa metabolism
4.
Transport hormone
5.
Pelumas antar organ
6.
Memperthanakan tekanan hidrostatik dalam system kardiovaskuler.
C.
Keseimbangan Cairan dan Etiologi
Keseimbangan cairan ditentukan oleh intake dan output
cairan. Intake cairan berasal dari minuman dan makanan. Kebutuhan cairan setiap
hari antara 1.800 – 2.500 ml/hari. Sekitar 1.200ml berasal dari minuman dan
1.000 ml dari makanan. Sedangkan pengeluaran cairan
melalui ginjal dalambentuk urine 1.200-1.500 ml/hari, paru-paru 300-500 ml, dan
kulit 600-800 ml
2.1
Kehilangan Cairan Secara Berlebihan
Kondisi yang menyebabkan tubuh kehilangan cairan dan elektrolit secara cepat:
1. Diare atau muntah hebat
2. Demam tinggi (meningkatkan penguapan cairan)
3. Keringat berlebih (misalnya karena olahraga berat,
suhu lingkungan tinggi)
4. Luka bakar luas (kehilangan cairan melalui jaringan
yang rusak)
5. Pendarahan hebat (kehilangan volume darah dan
elektrolit)
2. Asupan Cairan atau Elektrolit yang Tidak Adekuat
Kondisi di mana individu tidak mampu atau tidak cukup
mengonsumsi cairan/elektrolit:
1.
Puasa atau malnutrisi
2.
Kesulitan menelan (disfagia)
3.
Gangguan mental atau penurunan kesadaran
4.
Tidak ada akses ke air atau makanan
5.
Mual atau anoreksia (tidak nafsu makan)
3. Gangguan Fungsi Organ
Organ yang
tidak bekerja dengan baik dapat mengganggu keseimbangan cairan dan elektrolit:
1.Gagal ginjal (retensi cairan dan elektrolit)
2.Gagal jantung (retensi natrium dan air)
3.Gangguan endokrin:
·
Diabetes insipidus (kehilangan air berlebih)
·
Diabetes melitus (hiperglikemia → diuresis osmotik)
·
Gangguan adrenal (misalnya Addison → kehilangan natrium)
4. Gangguan
Elektrolit Spesifik
1.
Hiponatremia, hipernatremia
2.
Hipokalemia, hiperkalemia
3.
Hipokalsemia, hiperkalsemia
4.
Hipomagnesemia,hipermagnesemia
(Kondisi ini bisa menjadi penyebab atau akibat dari gangguan keseimbangan
cairan)
D. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keseimbangan Cairan
Dan Elektrolit
Beberapa
faktor yang mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit, diantaranya adalah
usia, temperatur lingkungan, diet, stres, dan sakit.
1.
Usia
Variasi usia berkaitan dengan luas perkembangan
tubuh, metabolism yang diperlukan dan berat badan.
2.
Temperatur Lingkungan
Panas yang berlebihan menyebabkan berkeringat. Seseorang dapat kehilangan
NaCl melalui keringat sebanyak 15-30 g/hari.
3.
Diet
Pada saat tubuh kekurangan niutrisi, tubuh akan memecah cadangan energi,
proses ini menimbulkan pergerakan carian dari interstitial ke intraseluler.
4.
Stres
Stres dapat menimbulkan paningkatan metabolism sel, konsentrasi darah dan
glikolisis otot, mekanisme ini dapat menimbulkan retensi sodium dan air. Proses
ini dapat meningkatkan produksi ADH dan menurunkan produksi urine.
5.
Sakit
Keadaan pembedahan, trauma jaringan, kelainan ginjaldan jantung, gangguan
hormon akan mengganggu keseimbangan cairan.
(Tarwoto
& Wartonah,
2010)
E.
Kebutuhan Cairan Menurut Usia dan Berat Badan
|
No. |
Umur |
BB (Kg) |
Cairan (ml/24jam) |
|
1 |
3 hari |
3,0 |
250 ─ 300 |
|
2 |
1 tahun |
9,5 |
1150 ─
3000 |
|
3 |
2 tahun |
11,8 |
1350 ─
1500 |
|
4 |
6 tahun |
20 |
1800 ─
2000 |
|
5 |
10 tahun |
28,7 |
2000 ─
2500 |
|
6 |
14 tahun |
45 |
2200 ─
2700 |
|
7 |
16 tahun
(adult) |
54 |
2200 ─
2700 |
F. Masalah keseimbangan cairan
·
Hipovolemik
Adalah kondisi
akibat kekurangan volume Cairan Ekstraseluler (CES), dan dapat terjadi karena
kehilangan melalui kulit, ginjal, gastrointestinal, pendarahan sehingga
menimbulkan syok hipovolemik. Mekanisme kompensasi pada hipovolemik adalah
peningkatan rangsangan saraf simpatis (peningkatan frekuensi jantung, kontraksi
jantung, dan tekanan vaskuler), rassa haus, pelepasan hormone ADH dan
adosteron. Hipovolemik yang berlangsung lama dapat menimbulkan gagal ginjal
akut.
Gejala : pusing,
lemah, letih, anoreksia, mual, muntah, rasa haus, gangguan mental, konstipasi
dan oliguri, penurunan tekanan darah, HR meningkat, suhu meningkat, turgor
kulit menurun, lidah kering dan kasar, mukosa mulut kering. Tanda – tanda
penurunan berat badan akut , mata cekung pengosongan vena jugularis. Pada bayi
dan anak – anak adanya penurunana jumlah air mata.
·
Hipervolemia
Adalah
penambahan/kelebihan volume cairan CES dapat terjadi pada saat :
a.
Stimulasi kronis ginjal untuk menahan natrium dan air
b.
Fungsi ginjal abnormal, dengan penurunan ekskresi natrium dan air
c.
Kelebihan pemberian cairan
d.
Perpindahan CIT ke plasma.
Gejala : sesak nafas, peningkatan dan penurunan
tekanan darah, nadi kuat, asites, edema, adanya ronchi, kulit lembab, distensi
vena leher dan irama gallop. (Tarwoto & Wartonah, 2010)
G.
Cara Pengeluaran Cairan
Pengeluaran cairan terjadi melalui organ ginjal, kulit, paru-paru, dan
gastrointestinal :
A.
Ginjal
a.
Merupakan pengatur utama keseimbangan cairan yang menerima 170 liter darah untuk disaring setiap hari.
b.
Produksi urine untuk semua usia 1 ml/kg/jam
c.
Pada orang dewaasa produksi urine sekitar 1,5 liter/hari.
d.
Jumlah urine yang dipprosuksi oleh ADH dan Aldosteron.
B.
Kulit
a.
Hilangnya cairan melalui kulit diatur oleh saraf simpatis yang menerima
rangsang aktivitas kelenjar keringat
b.
Rangsangan kelenjar keringat dapat dihasilkan dari aktivitas otot,
temperatur lingkungan yang meningkat dan demam.
c.
Disebut Insimsible Water Loss (IWL) sekitar 15 – 20 ml/24 jam.
C.
Paru – paru
a.
Menghasilkan IWL sekitar 400 ml/hari
b.
Meningkatkan cairan yang hilang sebagai respon terhadap perubahan kecepatan
dan kedalaman nafas akibat pergerakan atau demam.
D.
Gastrointestinal
a.
Dalam kondisi normal cairan yang hilang dari gastrointestinal setiap hari
sekitar 100 – 200 ml.
b.
Perhitungan IWL secara keseluruhan adalah 10 – 15 cc/kg BB/24 jam, dengan
kenaikan 10 % dari IWL pada setiap kenaikan suhu 1O
(Tarwoto &
Wartonah, 2010)
H. Pengaturan Elektrolit
Macam-macam elektrolit diantaranya yaitu natrium (sodium), kalium
(potassium), kalsium, magnesium, chlorida, bikarbonat, dan fosfat:
a.
Natrium (sodium)
1)
Merupakan kation paling banyak yang terdapat pada Cairan Ekstrasel (CES)
2)
Na+ mempengaruhi keseimbangan air, hantaran implus saraf dan kontraksi otot.
3)
Sodium diatur oleh intake garam aldosteron, dan pengeluaran urine.
Normalnya sekitar 135-148 mEq/lt.
b.
Kalium (potassium)
1)
Merupakan kation utama dalam CIS
Berfungsi sebagai excitability neuromuskuler dan kontraksi otot.
2)
Diperlukan untuk pembentukan glikogen, sintesa protein, pengaturan
keseibangan asam basa, karena ion K+ dapat diubah menjadi ion
H+. Nilai normalnya sekitar 3,5-5,5 mEq/lt.
c.
Kalsium
1)
Berguna untuk integritas kulit dan struktur sel, konduksi jantung,
pembekuan darah, serta pembentukan tulang dan gigi.
2)
Kalsium dalam cairan ekstrasel diatur oleh kelenjar paratiroid dan tiroid.
3)
Hormon paratiroid mengarbsopsi kalsium melalui gastrointestinal, sekresi
melalui ginjal.
4)
Hormon thirocaltitonin menghambat penyerapan Ca+ tulang.
d.
Magnesium
Merupakan kation terbanyak kedua pada cairan intrasel. Sangat penting untuk aktivitas enzim, neurochemia, dan muscular excibility.
Nilai normalnya sekitar 1,5-2,5 mEq/lt.
e.
Chlorida
Terdapat pada CES dan CIS, normalnya sekitar 95-105 mEqlt.
f.
Bikarbonat
1)
HCO3 adalh buffer kimia utama dalam tubuh dan terdapat pada
cairan CES dan CIS.
2)
Bikarbonat diatur oleh ginjal.
g.
Fosfat
1)
Merupakan anion buffer dalam CIS dan CES
2)
Berfungsi untuk meningkatkan kegiatan neuromuskuler, metabolism
karbohidrat, dan pengaturan asam basa.
3)
Pengaturan oleh hormone parathyroid. (Tarwoto &
Wartonah, 2010)
I. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium Darah
·
Elektrolit serum (Na⁺, K⁺, Ca²⁺, Mg²⁺)
·
BUN dan kreatinin (fungsi ginjal)
·
Osmolalitas serum
·
Gas darah (pH, HCO₃⁻)
2. Pemeriksaan Urin
·
Volume urin (output)
·
Berat jenis urin
·
Elektrolit urin (Na⁺, K⁺)
·
Osmolalitas urin
3. Pemeriksaan Penunjang Lain
·
EKG (deteksi gangguan jantung akibat elektrolit)
·
Foto rontgen dada (untuk edema paru)
·
USG (evaluasi cairan dan organ)
·
Monitor tekanan vena sentral (CVP) pada pasien kritis
J.
Pathway Cairan Dan Elektrolit
Cairan
dan elektrolit Difusi,filtrasi,transport
aktif MK: resiko ketidakseimbangan
elektrolit

![]()

![]()
BAB II
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
2.1
Konsep Asuhan Keperawatan
1.
Pengkajian Fokus
a.
Riwayat keperawatan
·
Pemasukan dan pengeluaran cairan dan makanan (oral, parenteral)
·
Tanda umum masalah elektrolit
·
Tanda kekurangan dan kelebihan cairan
·
Proses penyakit yang menyebabkan gangguan homeostatis cairan dan elektrolit
·
Pengobatan tertentu yang sedang dijalani dapat mengganggu minus status
cairan
·
Status perkembangan seperti usia atau status social
·
Faktor psikologis seperti perilaku emosional yang mengganggu pengobatan
b.
Pengukuran klinik
·
Berat badan
Kehilangan/bertambahnya berat badan menunjukkan adanya masalah keseimbangan
cairan.
·
± 2% : Ringan
·
± 5% : Sedang
·
± 10% : Berat
Pengukuran berat badan dilakukan
setiap hari pada waktu yang sama.
c.
Keadaan Umum
Pengukuran tanda vital seperti suhu, tekanan darah, nadi, pernafasan, dan
tingkat kesadaran.
2.
Pengukuran pemasukan cairan
1)
Cairan oral : NGT dan oral
2)
Cairan parenteral termasuk obat-obatan IV
3)
Makanan yang cenderung mengandung air
4)
Irigasi kateter atau NGT
3.
Pengukuran pengeluaran cairan
1)
Urine : volume, kejernihan/kepekatan
2)
Feses: jumlah dan konsentrasi
3)
Muntah
4)
Tube drainase
5)
IWL
4.
Ukur keseimbangan cairan dengan akurat : normalnya sekitar ± 200cc.
a.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik pada kebutuhan cairan dan elektrolit difokuskan pada:
1)
Integumen : keadaan turgor kulit, edema, kelelahan, kelemahan otot, tetani,
dan sensasi rasa.
2)
Kardiovaskuler : detensi vena jugularis, tekanan darah, hemoglobin, dan
bunyi jantung.
3)
Mata : cekung, air mata kering
4)
Neurologi : reflek, gangguan motorik dan sensorik, tingkat kesadaran.
5)
Gastrointestinal : keadaan mukosa mulut, mulut dan lidah, muntah-muntah,
dan bising usus.
b.
Pemeriksaan Laboratorium
1)
Pemeriksaan darah lengkap : pemeriksaan ini meliputi jumlah sel darah,
hemoglobin (Hb), dan hematokrit (Ht).
2)
Pemeriksaan elektrolit serum : pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui
kadar natrium, kalium, klorida, ion bikarbonat.
3)
pH dan berat jenis urin : berat jenis menunjukkan kemampuan ginjal untuk
mengatur konsentrasi urine, normalnya pH urine adalah 4,5-8 dan berat jenisnya
1,003-1,030.
4)
Analisa gas darah : biasanya yang biasa diperiksa adalah pH, PO, HCO, PCO,
dan saturasi O2.
a)
PCO2 normal : 35-40 mmHg
b)
PO2 normal : 80-100 Hg
c)
HCO3 normal : 25-29 mEq/l
d)
Saturasi O2 adalah perbandingan oksigen dalam darah dengan
jumlah oksigen yang dapat dibawa oleh darah, normalnya di arteri (95%-98%) dan
vena (60%-85%) (Tarwoto & Wartonah,
2010)
2.2
Diagnosa Keperawatan
Aktual/resiko defisit volume cairan
Definisi: Kondisi dimana pasien mengalami resiko kekurangan cairan pada
ekstraseluler dan vaskuler.
Kemungkinan berhubungan dengan:
1)
Kehilangan cairan secara berlebihan
2)
Berkeringat secara berlebihan
3)
Menurunnya intake oral
4)
Penggunaan deuretik
5)
Pendarahan
Kemungkinan data yang ditemukan:
1)
Hipotensi
2)
Takhikardia
3)
Pucat
4)
Kelemahan
5)
Konsentrasi urin pekat
Kondisi klinis kemungkinan terjadi pada:
1)
Penyakit Addison
2)
Koma
3)
Ketoasidosis pada diabetik
4)
Pendarahan gastrointestinal
5)
Muntah, diare
6)
Intake cairan tidak adekuat
1)
Hipervolemia D.0022
|
Hipervolemia |
D.0022 |
|
Definisi |
peningkatan volume cairan
intravaskular, interstitial, dan/atau intraselular. |
|
Factor
resiko |
1.
Gangguan mekanisme regulasi 2.
Kelebihan asupan cairan 3.
Kelebihan asupan natrium 4.
Gangguan aliran balik vena 5.
Efek agen farmakologis (mis:
kortikosteroid, chlorpropamide, tolbutamide, vincristine, tryptilinescarbamazepine) |
|
Tanda dan
gejala |
Mayor : Subjektif : 1.
Ortopnea 2.
Dispnea 3.
Paroxysmal nocturnal dyspnea
(PND) Objektif : 1.
Edema anasarca dan/atau
edema perifer 2.
Berat badan meningkat dalam
waktu singkat 3.
Jugular venous pressure
(JVP) dan/atau central venous pressure (CVP) meningkat 4.
Refleks hepatojugular
positif Monir : Subjektif
: (tidak
tersedia ) Objektif : 1.
Distensi vena jugularis 2.
Terdengar suara napas
tambahan 3.
Hepatomegaly 4.
Kadar Hb/Ht turun 5.
Oliguria 6.
Intek lebih banyak dari
output (balans cairan positif) 7.
Kongestif paru |
|
Kondisi
klinis terkait |
1.
penyakit ginjal: gagal ginjal akut/kronis,
sindrom nefrotik 2.
Hipoalbuminemia 3.
Gagal jantung kongestif 4.
Kelainan hormon 5.
Penyakit hati (mis. sirosis, asites, kanker
hati) 6.
Penyakit vena perifer (mis, varises vena,
trombus vena, plebitis) 7.
imobilitas |
|
|
|
2)
hipovolemia D.0023
|
Hipovolemia
|
D.0023 |
|
definisi |
penurunan volume cairan
intravaskular, interstitial, dan/atau intraselular. |
|
Factor
resiko |
1.
Kehilangan cairan aktif 2.
Kegagalan mekanisme regulasi 3.
Peningkatan permeabilitas
kapiler 4.
Kekurangan intake cairan 5.
Evaporasi |
|
Tanda dan
gejala |
Mayor: Subjektif
: (tidak
tersedia) Objektif : 1. Frekuensi nadi meningkat 2. Nadi teraba lemah 3. Tekanan darah menurun 4. Tekanan nadi menyempit 5. Turgor kulit menurun 6. Membran mukosa kering 7. Volume urin menurun 8.
Hematokrit meningkat Minor: Subjektif
: 1.merasa
lemah 2.mengeluh
haus Objektif : 1.
Pengisian vena menurun 2. Status
mental berubah 3. Suhu
tubuh meningkat 4.
Konsentrasi urin meningkat 5. Berat badan turun tiba-tiba |
|
Kondisi
klinis terkait |
1. Penyakit Addison 2. Trauma / perdarahan 3. Luka bakar 4. AIDS 5. Penyakit Crohn 6. Muntah 7. Diare 8. Kolitis ulseratif 9.
Hipoalbuminemia |
|
|
|
3)
Resiko ketidakseimbangan cairan elektrolit D.0037
|
Resiko
ketidakseimbangan cairan elektrolit |
D.0037 |
|
Defisi |
berisiko mengalami perubahan kadar serum elektrolit. |
|
Factor
resiko |
1. Ketidakseimbangan cairan
(mis. dehidrasi dan intoksikasi air) 2. Kelebihan volume cairan 3. Gangguan mekanisme
regulasi (mis. diabetes) 4. Efek samping prosedur
(mis. pembedahan) 5. Diare 6. Muntah 7. Disfungsi ginjal 8. Disfungsi regulasi
endokrin |
|
Tanda dan
gejala |
|
|
Kondisi
klinis terkait |
1. Gagal ginjal 2. Anoreksia nervosa 3. Diabetes melitus 4. Penyakit Chron 5. Gastroenteritis 6. Pankreatitis 7. Cedera kepala 8. Kanker 9. Trauma multipel 10. Luka bakar 11. Anemia sel sabit |
|
|
|
|
NO |
SDKI |
SLKI |
SIKI |
|
|
Hipervolemia |
L.03020
keseimbangan cairan 1.
Membran mukosa lembap 2.
Asupan makanan 3.
Edema 4.
Dehidrasi 5.
Asites 6.
Konfusi 7.
Intake cairan 8.
Output urine 9.
Tekanan darah 10.
Frekuensi nadi 11.
Kekuatan nadi 12.
Tekanan arteri rata-rata 13.
Mata cekung 14.
Turgor kulit 15.
Berat badan |
Manajemen Hipervolemia (I.03114) Observasi ·
Periksa
tanda dan gejala hypervolemia (mis: ortopnea, dispnea, edema, JVP/CVP
meningkat, refleks hepatojugular positif, suara napas tambahan) ·
Identifikasi
penyebab hypervolemia ·
Monitor
status hemodinamik (mis: frekuensi jantung, tekanan darah, MAP, CVP, PAP,
PCWP, CO, CI) jika tersedia ·
Monitor
intake dan output cairan ·
Monitor
tanda hemokonsentrasi (mis: kadar natrium, BUN, hematokrit, berat jenis
urine) ·
Monitor
tanda peningkatan tekanan onkotik plasma (mis: kadar protein dan albumin
meningkat) ·
Monitor
kecepatan infus secara ketat ·
Monitor
efek samping diuretic (mis: hipotensi ortostatik, hypovolemia, hipokalemia,
hiponatremia) Terapeutik ·
Timbang
berat badan setiap hari pada waktu yang sama ·
Batasi
asupan cairan dan garam ·
Tinggikan
kepala tempat tidur 30 – 40 derajat Edukasi ·
Anjurkan
melapor jika haluaran urin < 0,5 mL/kg/jam dalam 6 jam ·
Anjurkan
melapor jika BB bertambah > 1 kg dalam sehari ·
Ajarkan
cara membatasi cairan Kolaborasi ·
Kolaborasi
pemberian diuretic ·
Kolaborasi
penggantian kehilangan kalium akibat diuretic ·
Kolaborasi
pemberian continuous renal replacement therapy (CRRT) jika perlu |
|
|
Hipovolemia
|
L.03028
Status cairan 1.
2.
Kekuatan nadi 3.
Output urine 4.
Membran mukosa lembap 5.
Pengisian vena 6.
Ortopnea 7.
Dispnea 8.
Paroxysmal nocturnal dyspnea
(PND) 9.
Edema anasarca 10.
Edema perifer 11.
Berat badan 12.
Distensi vena jugularis 13.
Suara napas tambahan 14.
Kongesti paru 15.
Perasaan lemah 16.
Rasa haus 17.
Konsentrasi urine 18.
Frekuensi nadi 19.
Tekanan darah 20.
Tekanan nadi 21.
Turgor kulit 22.
Jugular Venous Pressure
(JVP) 23.
Hemoglobin 24.
Hematokrit 25.
Cental Venous Pressure 26.
Refluks hepatojugular 27.
Berat badan 28.
Hepatomegali 29.
Oliguria 30.
Intake cairan 31.
Status mental 32.
Suhu tubuh |
Manajemen
Hipovolemia (I.03116) Observasi ·
Periksa
tanda dan gejala hipovolemia (mis: frekuensi nadi meningkat, nadi teraba
lemah, tekanan darah menurun, tekanan nadi menyempit, turgor kulit menurun,
membran mukosa kering, volume urin menurun, hematokrit meningkat, haus,
lemah) ·
Monitor
intake dan output cairan Terapeutik ·
Hitung
kebutuhan cairan ·
Berikan
posisi modified Trendelenburg ·
Berikan
asupan cairan oral Edukasi ·
Anjurkan
memperbanyak asupan cairan oral ·
Anjurkan
menghindari perubahan posisi mendadak Kolaborasi ·
Kolaborasi
pemberian cairan IV isotonis (mis: NaCL, RL) ·
Kolaborasi
pemberian cairan IV hipotonis (mis: glukosa 2,5%, NaCl 0,4%) ·
Kolaborasi
pemberian cairan koloid (albumin, plasmanate) ·
Kolaborasi
pemberian produk darah |
|
|
Resiko
ketidakseimbangan elektrolit |
L.03021-Keseimbangan Elektrolit ·
Serum natrium ·
Serum kalium ·
Serum klorida ·
Serum kalsium ·
Serum magnesium ·
Serum fosfor |
Pemantauan
Elektrolit (I.03122) Observasi ·
Monitor
kemungkinan penyebab ketidakseimbangan elektrolit ·
Monitor
kadar elektrolit serum ·
Monitor
mual, muntah, diare ·
Monitor kehilangan
cairan, jika perlu ·
Monitor
tanda dan gejala hipokalemia (mis: kelemahan otot, interval QT memanjang,
gelombang T datar atau terbalik, depresi segmen ST, gelombang U, kelelahan,
parestesia, penurunan refleks, anoreksia, konstipasi, motilitas usus menurun,
pusing, depresi pernapasan) ·
Monitor
tanda dan gejala hiperkalemia (mis: peka rangsang, gelisah, mual, muntah,
takikardia mengarah ke bradikardia, fibrilasi/takikardia ventrikel, gelombang
T tinggi, gelombang P datar, kompleks QRS tumpul, blok jantung mengarah
asistol) ·
Monitor
tanda dan gejala hiponatremia (mis: disorientasi, otot berkedut, sakit
kepala, membrane mukosa kering, hipotensi postural, kejang, letargi,
penurunan kesadaran) ·
Monitor
tanda dan gejala hipernatremia (mis: haus, demam, mual, muntah, gelisah, peka
rangsang, membrane mukosa kering, takikardia, hipotensi, letargi, konfusi,
kejang) ·
Monitor
tanda dan gejala hipokalsemia (mis: peka rangsang, tanda Chvostek [spasme
otot wajah] dan tanda Trousseau [spasme karpal], kram otot, interval QT
memanjang) ·
Monitor
tanda dan gejala hiperkalsemia (mis: nyeri tulang, haus, anoreksia, letargi,
kelemahan otot, segmen QT memendek, gelombang T lebar, komplek QRS lebar,
interval PR memanjang) ·
Monitor
tanda dan gejala hypomagnesemia (mis: depresi pernapasan, apatis, tanda
Chvostek, tanda Trousseau, konfusi, disritmia) ·
Monitor
tanda gan gejala hypermagnesemia (mis: kelemahan otot, hiporefleks,
bradikardia, depresi SSP, letargi, koma, depresi) Terapeutik ·
Atur
interval waktu pemantauan sesuai dengan kondisi pasien ·
Dokumentasikan
hasil pemantauan Edukasi ·
jelaskan
tujuan dan prosedur pemantauan ·
Informasikan
hasil pemantauan, jika perlu |
2.3 Implementasi keperawatan
Implementasi keperawatan adalah pelaksanaan dan
pengelolaan rencana keperawatan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu
klien mencapai status kesehatan yang optimal, yang mencakup tindakan perawatan
langsung dan tidak langsung. Tujuannya adalah mewujudkan rencana keperawatan
melalui berbagai jenis tindakan (kognitif, interpersonal, teknis) secara
mandiri atau kolaborasi, dengan fokus pada kebutuhan klien dan
pemantauan responnya.
Tujuan Implementasi Keperawatan Mewujudkan rencana
keperawatan: yang telah disusun untuk mengatasi masalah kesehatan klien.
Membantu klien mencapai tujuan kesehatan: yang diharapkan melalui tindakan yang
spesifik. Menunjukkan tindakan perawatan langsung dan tidak langsung: yang
dilakukan oleh perawat. Memfasilitasi peningkatan, pencegahan, dan pemulihan
kesehatan: klien.
2.4 Evaluasi keperawatan
Evaluasi keperawatan adalah tahap akhir dalam proses
keperawatan yang bertujuan untuk menilai apakah tujuan asuhan keperawatan telah
tercapai dan apakah tindakan yang diberikan efektif dengan cara membandingkan
respon klien terhadap intervensi keperawatan dengan tujuan dan kriteria hasil
yang telah ditetapkan sebelumnya. Proses ini dilakukan secara sistematis,
berkelanjutan, dan melibatkan klien serta tenaga kesehatan lainnya untuk
menentukan kelanjutan atau modifikasi rencana perawatan selanjutnya.
Tujuan Evaluasi Keperawatan
Menentukan pencapaian tujuan: Menilai apakah tujuan dan kriteria hasil yang
dirumuskan dalam rencana keperawatan sudah tercapai. Menilai efektivitas
intervensi: Mengukur keberhasilan tindakan keperawatan yang telah diberikan
untuk memenuhi kebutuhan klien. Membantu keputusan lanjutan: Menentukan apakah
rencana keperawatan dapat dilanjutkan, dimodifikasi, atau dihentikan
berdasarkan
hasil evaluasi. Mengidentifikasi perubahan status kesehatan: Melihat apakah
ada perubahan status kesehatan klien sebagai dampak dari asuhan keperawatan.
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Kebutuhan cairan dan elektrolit penting untuk menjaga
keseimbangan homeostasis tubuh, mendukung fungsi sel, jaringan, dan organ
vital. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit dapat disebabkan oleh berbagai
faktor seperti kehilangan cairan (diare, muntah, keringat berlebih), gangguan
fungsi organ (ginjal, jantung), dan perubahan asupan. Manifestasi klinis
meliputi gejala dehidrasi (mulut kering, penurunan tekanan darah), edema,
gangguan irama jantung, dan gangguan kesadaran.
Patofisiologi
melibatkan gangguan volume cairan ekstraseluler, osmoregulasi, dan transport
elektrolit yang menyebabkan disfungsi seluler dan organ. Penatalaksanaan mencakup identifikasi
penyebab, terapi cairan dan elektrolit yang tepat, serta pemantauan ketat untuk
menghindari komplikasi. Pemeriksaan penunjang seperti elektrolit serum, BUN,
kreatinin, osmolalitas, urin output, dan EKG sangat penting untuk diagnosis dan
evaluasi terapi.
DAFTAR PUSTAKA
Kozier, dkk. 2010. Buku ajar
fundamental keperawatan: konsep, proses, dan
praktik
Volume 2, Edisi 7. Jakarta : EGC.
Tarwoto & Wartonah. 2010. Kebutuhan Dasar Manusia Dan Proses
Keperawatan Edisi 4. Salemba Medika: Jakarta
Repository USU. BAB 2 PENGELOLAAN KASUS. http://repository.usu.ac.id/
bitstream/123456789/45296/4/Chapter%20II.pdf (Diunduh tanggal 19 Mei
2017)
Wilkinson, J. M. 2007. Buku Saku Diagnosa Keperawatan dengan
Kriteria Hasil
(NOC ) dan Intervensi (NIC). EGC: Jakarta
Komentar
Posting Komentar