UNDUH LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KPERAWATAN PADA PASIEN TN.M DENGAN NUTRISI

 

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KPERAWATAN
PADA PASIEN
TN.M DENGAN NUTRISI

 

A.    Konsep Kebutuhan Dasar

1.      Definisi

Nutrisi adalah kebutuhan dasar manusia yang berperan penting dalam proses penyembuhan luka dan pemeliharaan integritas kulit. Kekurangan maupun kelebihan nutrisi dapat menghambat proses regenerasi jaringan, menurunkan imunitas, serta meningkatkan risiko infeksi (Potter & Perry, 2021; Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017). Defisit nutrisi yaitu ketidakcukupan asupan zat gizi untuk memenuhi kebutuhan energi harian karena asupan  makanan  yang  tidak  memadai atau karena gangguan pencernaan dan penyerapan makanan (Ida 2017). Defisit  nutrisi adalah keadaan yang dialami seseorang dalam keadaan tidak berpuasa (normal) atau penurunan berat badan akibat kedidakcukupan asupan nutrisi untuk kebutuhan metabolism (Astuti, 2020).

Berdasarkan pengertian-pengertian diatas, dapat disimpulkan defisit nutrisi adalah suatu keadaan yang diakibatkan oleh adanya gangguan dalam penyerapan makanan sehingga dapat menyebabkan penurunan berat badan.

2.      Etiologi

Adapun faktor-faktor yang menyebabkan klien mengalami defisit nutrisi menurut SDKI (2017) adalah :

a.       Ketidak mampuan menelan makanan

b.      Ketidakmampuan mencerna makanan

c.       Ketikmampuan mengabsorbsi nutrient

d.      Peningkatan kebutuhan metabolism

e.       Factor psikologis (mis, stress, keengganan untuk makan)

 

Menurut Tim Pokja SDKI DPP PPNI (2017), Potter & Perry (2021), dan Saferi Wijaya & Mariza Putri (2019), faktor penyebab gangguan kebutuhan nutrisi antara lain:

1.      Asupan makanan tidak adekuat

                                             a)         Nafsu makan menurun (anoreksia, depresi, mual, muntah).

                                             b)         Pembatasan diet berlebihan.

                                             c)         Keterbatasan akses makanan bergizi (faktor ekonomi/sosial).

2.      Peningkatan kebutuhan metabolik

                                             a)         Infeksi, luka bakar, trauma, pembedahan.

                                             b)         Kondisi hipermetabolik pada penyakit kronis (DM, kanker).

3.      Gangguan pencernaan dan absorbsi

a)      Malabsorbsi (celiac disease, sindrom usus pendek).

b)      Gangguan enzim pencernaan (pankreatitis).

c)      Diare kronis.

4.      Penyakit kronis yang memengaruhi nutrisi

a)      Diabetes melitus (gangguan metabolisme glukosa).

b)      Gagal ginjal kronis (pembatasan protein).

c)      Penyakit hati (gangguan metabolisme protein & lemak).

5.      Faktor usia

                                             a)         Usia lanjut: penurunan fungsi absorbsi, perubahan sensasi rasa, gigi ompong.

                                             b)         Usia anak-anak: kebutuhan energi & protein meningkat untuk pertumbuhan.

6.      Faktor psikologis & perilaku

a)      Gangguan makan (anoreksia nervosa, bulimia).

b)      Stress psikis yang menurunkan nafsu makan.

c)      Kebiasaan makan tidak sehat (fast food, tinggi lemak & gula).

7.      Faktor lingkungan & sosial

                                             a)         Kemiskinan, bencana, keterbatasan akses pangan sehat.

                                             b)         Kurangnya pengetahuan tentang gizi seimbang.

3.      Tanda dan Gejala

Berikut beberapa tanda dan gejala defisit nutrisi didalam tubuh:

Tanda dan Gejala Mayor                      Tanda dan Gejala Minor

Subjektif                                                   Subjektif

(Tidak tersedia)                                        Cepat kenyang setelah makan

Objektif                                                    Keram/nyeri abdomen


Berat  badan  menurun  minimal  10%

dibawah rentang ideal


Nafsu makan menurun

 

Objektif

Bising usus hiperaktif Otot pengunyah lemah Otot menelan lemah Membrane mukosa pucat Sariawan

Serum albumin turun

Rambut rontok berlebihan

Diare

 

Sumber: PPNI. Standar Diagnosis Keperawatan Indoneia

 


 

4.      Patofisiologi

Kebutuhan nutrisi yang kurang terpenuhi dapat mengakibatkan timbulnya BAB berlebih, rasa mual dan muntal, terasa lemas, pucat, dan nafsu makan berkurang, hal ini menyebabkan nutrisi dalam tubuh berkurang. Kondisi fisiologis yang mempengaruhi status nutrisi tingkat aktivitas, keadaan penyakit, kemampuan daya beli dan menyiapkan makanan serta prosedur dan pengobatan yang dilakukan. Bergantung pada tingkat aktivitas maka nutrisi dan kilokalori diperlukan untuk meningkatkan, sehingga aktivitas akan meningkat atau memnurun. Sementara, status penyakit dan prosedru atau pengobatan yang dilakukan mempunyai dampak pada asupan makanan, pencernaan, absorb, metabolisme, dan ekskresi. Beberapa kondisi fisiologis dapat menyebabkan menurunkan kebutuhan protein oleh karena proteindi ekskresi oleh ginjal dapat menurunkan kebutuhan protein oleh karena protein di ekskresi oleh ginjal. Penyakit-penyakit fisik biasanya meningkatkan kebutuhan zat makanan. Biasanya terjadi pada penyakit-penyakit saluran cerna.

Gangguan fisik dapat terjadi disepanjang saluran pencernaan yang menyebabkan menurunnya asupan nutrisi. Gangguan absorb, gangguan transprtasi atau penggunaan yang tidak sepantasnya. Luka pada mulut dapat menyebabkan menurunnya asupan nutrisi akibat nyeri saat makan. Diare dapat menurunkan absorbs nutrisi karena didorong lebih cepat. Terhadap penyakit pada kandung empedu, dimana kandung empedu tidak berfungsi secara wajar, empedu yang berfungsi untuk mencerna lemak menjadi tidak efektif.

5.    Pathway

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

6.    Pemeriksan Penunjang

a.       Pemeriksaan darah lengkap dengan pemeriksaan feses.

b.       USG.

c.       SGOT & SGPT.

d.       Sikologi : Menentukan tingkat keganasan dari sel-sel neoplasma tersebut.

e.       Rontgen : Mengetahui kelemahan yang muncul ada yang dapat menghambat tindakan oprasi.

7.      Penatalaksanaan

a.       Nutrisi oral

Nutrisi oral adalah pemberian nutrien kepada tubuh secara alami lewat mulut. Nutrisi oral merupakan tindakan yang umumnya dilakukan di bawah pengawasan ahli gizi. Namun dengan semakin kompleksnya suplemen gizi yang ada disamping sejumlah suplemen juga hanya dapat diperoleh dengan resp dokter seperti suplemen imunonutrisi, maka nutrisi oral dengan suplemen gizi klinik atau kerjasama yang baik antar dokter dan ahli gizi (Hartono, 2018)

b.      Nutrisi enteral

Nutrisi enteral diindikasikan pada pasien yang tidak bisa makan cukup, tapi memiliki usus yang berfungsi. Penurunan kesadaran, disfagia, obstruksi esofagus, hilangnya gizi akibat fistula atau stoma, semua penyakit berat seperti pasca operasi, sesudah radioterapi atau kemoterapi, luka bakar. Pemberian dapat berupa selang nasogastrik berukiran kecil biasanya dapat ditoleransi dengan baik. Apabila terdapat obstruksi esofagus atau makanan yang harus diberikan dalam waktu yang lama. Selang dapat dimasukkan langsung ke lambung melalui dinsing abdomen (Rubenstein et al, 2020).

c.       Nutrisi parenteral

Nutrisi parental diindikasi bila pemberian makanan melalui usus tidak memungkinkan untuk dilakukan karena penurunan fungsi usus, pasca operasi ileus, atau hilangnya kandungan usus akibat fistula. Pemberian nutris parenteral adapat merupakan tambahan untuk prmberian makanan melalui oral atau enteral atau menjadi satu satunya sumber gizi- nutrisi parental tital (Rubenstein et al, 2017).

B.     Konsep Asuhan Keperawatan Defisit Nutrisi

1.      Pengkajian

a.       Identitas klien

b.      Keluhan utama

Keluhan utama seperti adanya mual, muntah, diare dengan volume yang banyak, suhu badan meningkat, dan nyeri perut, BB menurun, kram oto, gangguan tidur/istirahat, sering haus, pusing-pusing sakit kepala, kesulitas orgasme pada wanita dan masalah impoten pada pria.

c.       Riwayat Kesehatan

Meliputi pengkajian tentang riwayat masalah kesehatan dulu dan sekarang, gaya hidup.

d.      Riwayat penyakit

Adanya riwayat penyakit menahun seperti DM atau penyakit-penyakit lain. Adanya riwayat penyakit jantung, obesitas, maupun arterosklerosis, tindakan medis yang pernah di dapat maupun obat-obatan yang biasa di gunakan oleh penderita.

1)      Alergi

2)      Imunisasi

3)      Kebiasaan pola hidup

4)      Obat yang pernah di gunakan

e.       Pola aktifitas sehari-hari

1)      Nutrisi

Makan menurun karena adanya mulan dan muntah yang disebabkan lambung yang meradang.

2)      Istirahat dan tidur

Mengalami gangguan karena adanya muntah dan diare serta dapat juga disebabkan oleh demam.

3)      Kebersihan

Personal hygiene mengalami gangguan karena seringnya diare dan kurangnya menjaga personal hygiene sehingga terjadi gangguan integritas kulit. Hal ini disebabkan karena feses mengandung alkali yang berisi enzim yang memudahkan iritasi.

4)      Eleminasi

Pada BAB juga mengalami gangguan karena terjadi peningkatan frekuensi, konsistensi lunak hingga cair, dan volume tinja dapat sedikit atau banyak. Buang air kecil mengalami penurunan frekuensidari biasanya.

f.        Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik dilakukan berupa pengukuran tanda-tanda vital dan pemeriksaan head to toe

g.      Pemeriksaan penunjang

1)      Pemeriksaan tinja

Pemeriksaan volume, warna, dan konsistensi feses serta diteliti adanya mukus darah dan leukosit.

2)      Pemeriksaan darah

Pemeriksaan analisis gas darah, elektrolit, ureum, kreatinin, dan berat jenis plasma. Penurunan pH darah karena terjadi penurunan bikarbonas sehingga frekuensi nafas agak cepat. Dilakukan juga pemeriksaan elektrolit terutama kadar natrium, kalium, kalsium, dan fosfor.

2.      Diagnosa Keperawatan

a.       Defisit Nutrisi (D. 0019)

Defisit Nutrisi

D.0019

Definisi

Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolism.

Faktor Resiko

a.       Ketidak mampuan menelan makanan

b.      Ketidakmampuan mencerna makanan

c.       Ketikmampuan mengabsorbsi nutrient

d.      Peningkatan kebutuhan metabolism

e.       Factor psikologis (mis, stress, keengganan untuk makan)

Gejala dan Tanda

Mayor :

Subjektif :

(tidak tersedia)

Objektif :

1.      Berat badan menurun minimal 10% di bawah rentang ideal

Minor :

Subjektif :

1.      Cepat makan setelah kenyang

2.      Kram/nyeri abdomen

3.      Nafsu makan menurun

Objektif :

1.      Bising usus hiperaktif

2.      Otot mengunyah lemah

3.      Otot menelan lemah

4.      Membrane mukosa pucat

5.      Sariawan

6.      Serum albumin turun

7.      Rambut rontok berlebihan

8.      Diare

Kondisi klinis terkait

1.      Stroke

2.      Parkinson

3.      Mobius syndrome

4.      Cerebral palsy

5.      Cleft lip

6.      Cleft palate

7.      Amitropyc lateral screrosis

8.      Kerusakan meuromuskular

9.      Luka bakar

10.  Kanker

11.  Infeksi

12.  AIDS

13.  Penyakit crohn’s

14.  Enterokolitis

15.  Fibrosis kistik

 

b.      Nausea (D.0076)

Nausea

D.0076

Definisi

Perasaan tidak nyaman pada belakang tenggorokan atau lambung yang dapat mengakibatkan muntah.

Penyebab

1.      Gangguan biokimia (mis. Uremia, ketoasidosis diabetik)

2.      Gangguan pada esofagus

3.      Distensi lambung

4.      Iritasi lambung

5.      Gangguan pankreas

6.      Peregangan kapsul limpa

7.      Tumor terlokalisasi (mis. Neuroma akustik, tumor otak primer atau skunder, mestalasis tulang di dasar tengkorak)

8.      Peningkatan tekanan intraabdominal (mis. Keganasan intraabdomen)

9.      Peningkatan tekanan intrakranial

10.  Peningkatan tekanan intraorbital (mis. Glaukoma)

11.  Mabuk perjalana

12.  Kehamilan

13.  Aroma tidak sedap

14.  Rasa makanan/minuman yang tidak enak

15.  Stimulus penglihatan tidak menyenangkan

16.  Faktor psikologis (mis. Kecemasan, ketakutan, stress)

17.  Efek agen farmakologis

18.  Efek toksin

Gejala dan Tanda

Mayor :

Subjektif :

1.      Mengeluh mual

2.      Merasa ingin muntah

3.      Tidak berminat makan

Objektif :

-

Minor :

Subjektif :

1.      Merasa asam dimulut

2.      Sensasi panas/dingin

3.      Sering menelan

Objektif :

1.      saliva meningkat

2.      pucat

3.      diaphoresis

4.      takikardia

5.      pupil dilatasi

Kondisi klinis terkait

1.      meningitis

2.      Labirinitis

3.      Uremia

4.      Ketoasidosis diabetik

5.      Ulkus peptikum

6.      Penyakit esophagus

7.      Tumor intraabdomen

8.      Penyakit Meniere

9.      Neuroma akustik

10.  Tumor otak

11.  Kanker

12.  Glaucoma

 

c.       Keletihan (D.0057).

Keletihan

D.0057

Definisi

Penurunan kepastian kerja fisik dan mental yang tidak pulih dengan istirahat

Penyebab

1.      Gangguan tidur

2.      Gaya hidup monoton

3.      Kondisi fisiologis (mis. Penyakit kronis. Penyakit terminal, anemia, malnutrisi, kehamilan)

4.      Program perawatan / pengobatan jangka panjang

5.      Peristiwa hidup negative

6.      Stress berlebihan

7.      Depresi

Tanda dan gejala

Mayor :

Subjektif :

1.      Merasa energy tidak pulih walauun telah tidur

2.      Merasa kurang tenaga

3.      Mengeluh lelah

Objektif :

1.      Tidak mampu mempertahankan aktivitas rutin

2.      Tampak lesu

Minor :

Subjektif :

1.      Merasa bersalah akibat tidak mampu menjalankan tanggung jawab

2.      Libido menurun

Objektif :

1.      Kebutuhan istirahat meningkat

Kondisi Klinis

1.       Anemia

2.       Kanker

3.       Hipotiroidisme/hipertiroidisme

4.       AIDS

5.       Depresi

6.       menopause

 

 

 

 

 

 

 

3.      Luaran dan Intervensi Keperawatan

 

No

Diagnosa (SDKI)

Kriteria Hasil (SLKI)

Intervensi (SIKI)

1.

Defisit Nutrisi (D. 0019)

SLKI : Status Nutrisi (L.03030)

 

No

Indikator

1

2

3

4

5

1

Porsi makanan yang dihabiskan

1

2

3

4

5

2

Ekuatan otot pengunyah

1

2

3

4

5

3

Kekuatan otot menelan

1

2

3

4

5

4

Perasaan cepat kenyang

1

2

3

4

5

5

Berat baddan

1

2

3

4

5

 

Keterangan :

1 : Menurun

2 : Cukup menurun

3 : Sedang

4 : Cukup meningkat

5 : Meningkat

 

SIKI : Manajemen Nutrisi (I. 03119)

Observasi:

1.       Identifikasi status nutrisi

2.       Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrient

3.       Indetifikasi perlunya penggunaan selang nasogastric

4.       Monitor asupan makanan

5.       Monitor berat badan

6.       Monitor berat badan

7.       Monitor hasil pemeriksaan laboratorium

Terapeutik:

1.       Lakukan oral hygiene sebelum makan, jika perlu

2.       Sajikan makanan tinggi serat secara menarik dan suhu yang sesuai

3.       Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein

4.       Berikan suplemen makanan, jika perlu

5.       Hentikan pemberian makan melalui selang nasogatrik jika asupan dapat ditoleransi

Edukasi:

1.       Ajurkan posisi duduk, jika mampu

2.       Ajarkan diet yang di programkan

Kolaborasi:

1.       Kolaborasi pemberian madikasi sebelum makan (mis. Pereda nyeri, antiemetic), jika perlu

2.       Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenos nutrient yang dibutuhkan, jika perlu

2.

Nausea (D. 0076)

 

SLKI : Tingkat nausea (L.08065)

No

Indikator

1

2

3

4

5

1

Nafsu makan

 

 

 

 

 

2

Keluhan mual

 

 

 

 

 

3

Perasaan ingin muntah

 

 

 

 

 

4

Pucat

 

 

 

 

 

 

Keterangan :

1 : Menurun

2 : Cukup menurun

3 : Sedang

4 : Cukup meningkat

5 : Meningkat

 

SIKI: Manajemen Mual (I. 03117)

Observasi

1.      Identifikasi pengalaman mual

2.      Identifikasi dampak mual terhadap kualitas hidup (mis. Nafsu makan, aktivitas, kinerja, tanggung jawab peran, dan tidur)

3.      Identifikasi fajtor penyebab mual (mis. Pengobatan dan prosedur)

4.      Monitor mual (mis. Frekuensi, durasi, dan tingkat keparahan

5.      Monitor asupan nutrisi dan kalori

Terapiutik

6.      Kendalikan faktor lingkungan penyebab mual (mis. Bau tak sedap, suara, dan rangsangan visual yang tidak menyenangkan)

7.      Berikan makanan dalam jumlah kecil dan menarik

8.      Berikan makanan dingin, cairan bening, tidak berbau dan tidak berwarna, jika perlu

Edukasi

9.      Anjurkan istirahat dan tidur yang cukup

10.  Anjurkan sering membersihkan mulut, kecuali jika merangsang mual

11.  Anjurkan makanan tinggi karbohidrat dan rendah lemak

Kolaborasi

12.  Kolaborasi pemberian antlemetik, jika perlu

3.

Keletihan (D. 0057)

SLKI:  Tingkat Keletihan (L. 05046)

No

Indikator

1

2

3

4

5

1

Verbalisasi kepulihan energi

1

2

3

4

5

2

Tenaga

1

2

3

4

5

3

Kemampuan melakukan aktivitas rutin

1

2

3

4

5

4

Verbalisasi lelah

1

2

3

4

5

5

lesu

 

 

 

 

 

6

Selera makan

 

 

 

 

 

 

Keterangan :

1 : Menurun

2 : Cukup menurun

3 : Sedang

4 : Cukup meningkat

5 : Meningkat

 

SIKI: Manajemen Energi (I. 12362)

Observasi :

1.       Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan

2.       Monitor pola dan jam tidur

3.       Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas

Terapeutik :

1.       Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus (mis. Cahaya, suara, kunjungan)

2.       Lakukan rentang gerak pasif/aktif

3.       Berikan aktivitas distraksi yang menyenangkan

4.       Fasilitasi duduk disisi tempat tidur, jika tidak dapat berpindah atau berjalan

Edukasi :

1.       Anjurkan tirah baring

2.       Annjurkan melakukan aktivitas secara bertahap

3.       Anjurkan menghubungi perawat jika tanda dan gejala kelelahan tidak berkurang

4.       Anjarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan

Kolaborasi

1.       Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan

 

4.      Implementasi

Implementasi keperawatan adalah kategori dari perilaku keperawatan, dimana perawat melakukan tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan dan hasil yang diperkirakan dari asuhan keperawatan (Perry & Porter, 1997). Menurut Tarwoto & Wartonah, (2023) Implementasi merupakan tindakan yang sudah direncanakan dalam melakukan rencana perawatan.Tindakan keperawatan meliputi tindakan mandiri dan tindakan kolaboratif. Tindakan mandiri adalah aktivitas yang disasarkan pada kesimpulan atau keputusan sendiri dan bukan merupakan petunjuk atau perintah dari petugas kesehatan yang lainnya. Tindakan kolaboratif merupakan tindakan yang didasarkan atas hasil keputusan Bersama.

Tahap pelaksanaan terdiri atas tindakan mandiri dan kolaborasi yang mencangkup peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan, dan memfasilitasi koping. Agar kondisi pasien cepat membaik diharapkan bekerjasama dengan keluarga pasien dalam melakukan pelaksanaan agar tercapainya tujuan dan kriteria hasil yang sudah dibuat dalam intervensi (Nursalam, 2016)

5.      Evaluasi

Evaluasi adalah membandingkan perubahan keadaan pasien (hasil yang diamati) dengan tujuan dan kriteria hasil yang sudah ditentukan (Perry & Porter, 1997).Evaluasi keperawatan adalah tahap kelima dari proses keperawatan. Pada tahap evaluasi perawat membandingkan hasil tindakan yang telah dilakukan dengan kriteria hasil yang sudah ditetapkan dan menilai apakah masalah yang terjadi sudah teratasi sepenuhnya, hanya teratasi sebagian, atau bahkan belum teratasi seluruhnya (Oda, 2021).


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Nursalam. (2016). Proses dan dokumentasi keperawatan: Konsep dan praktik. Jakarta: Salemba Medika.

Oda, M. (2021). Evaluasi keperawatan: Prinsip dan penerapan klinis. Jakarta: EGC.

Potter, P. A., & Perry, A. G. (2021). Fundamentals of nursing (10th ed.). St. Louis, MO: Elsevier.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar diagnosis keperawatan Indonesia: Definisi dan indikator diagnostik. Jakarta: Dewan Pengurus Pusat PPNI.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar intervensi keperawatan Indonesia: Definisi dan tindakan keperawatan. Jakarta: Dewan Pengurus Pusat PPNI.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2019). Standar luaran keperawatan Indonesia: Definisi dan kriteria hasil keperawatan. Jakarta: Dewan Pengurus Pusat PPNI.

Saferi, W., & Putri, M. (2019). Asuhan keperawatan luka diabetik. Jakarta: Salemba Medika.

Sari, D. P., & Wahyuni, S. (2022). Hubungan status gizi dengan proses penyembuhan luka pada pasien diabetes melitus. Jurnal Kesehatan Indonesia, 13(2), 145–152. Retrieved from http://jurnal.stikeskendal.ac.id/index.php/JKI/article/view/xxx

Tarwoto, & Wartonah. (2023). Proses keperawatan: Konsep dan aplikasi dalam praktik. Jakarta: Salemba Medika.

Wulandari, A., & Hidayat, N. (2021). Asupan protein dan vitamin C terhadap percepatan penyembuhan luka bedah. Jurnal Keperawatan Muhammadiyah, 6(1), 33–41. Retrieved from http://journal.um-surabaya.ac.id/index.php/JKM/article/view/xxx

 DOWNLOAD FILENYA

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOWNLOAD CONTOH SURAT LAMARAN DAPUR MBG

Download Undangan Tonjokan: Solusi Praktis dan Efisien untuk Pernikahan (Format MS. Word)

LAPORAN PENDAHULUAN DIARE