UNDUH DOKUMEN LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN KEBUTUHAN NUTRISI
LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN
PASIEN DENGAN KEBUTUHAN NUTRISI PADA KASUS HEMATEMISIS
A.
PENGERTIAN
Nutrisi berasal dari kata nutrients
artinya bahan gizi. Nutrisi adalah proses tersedianya energi dan bahan kimia dari makanan yang penting untuk pembentukan, pemeliharaan dan penggantian sel tubuh (Rahayu,S dan Harnanto, A, 2016). Nutrisi
adalah zat gizi yang
berhubungan dengan kesehatan dan penyakit, termasuk keseluruhan proses dalam tubuh manusia
untuk menerima makanan
atau bahan dari lingkungan hidupnya
yang digunakan untuk
aktivitas penting dalam tubuh serta mengeluarkan sisanya (Tarwoto dan Wartonah,
2019).
Sistem yang berperan
dalam pemenuhan kebutuhan
nutrisi adalah sistem pencernaan
yang terdiri. atas saluran pencernaan dan organ asesoris. Saluran pencernaan dimulai dari mulut sampai usus halus
bagian distal, sedangkan organ asesoris terdiri atas hati, kantong empedu,
dan pankreas.
B.
ETIOLOGI
Menurut Perry & Potter
(2017) factor yang mempengaruhi status gizi seseorang adalah :
1. Perubahan gastrointestinal terkait usia
yang memengaruhi pencernaan makanan dan pemeliharaan
nutrisi meliputi perubahan gigi dan gusi, berkurang produksi saliva, atrofi sel epitel mukosa mulut,
peningkatan rasa ambang batas, penurunan sensasi haus, penurunan refleks
muntah, dan penurunan
peristaltik esofagus dan kolon.
2. Adanya penyakit kronis (misalnya
diabetes melitus, ginjal stadium akhir penyakit, kanker) sering mempengaruhi asupan nutrisi (CDC, 2015).
3. Nutrisi yang cukup pada orang dewasa
yang lebih tua dipengaruhi oleh beberapa penyebab seperti
kebiasaan makan, budaya,
sosialisasi, pendapatan, tingkat
pendidikan, tingkat fungsional fisik untuk memenuhi kegiatan dailyliving
(ADLs), kehilangan, gigi, dan transportasi.
4. Efek samping obat menyebabkan masalah
seperti anoreksia, perdarahan gastrointestinal, xerostomia, rasa kenyang dini, dan gangguan
penciuman dan rasa persepsi (Burcham dan Rosenthal, 2016).
5. Gangguan kognitif seperti delirium,
demensia, dan pengaruh
depresi kemampuan untuk
mendapatkan, menyiapkan, dan makan makanan sehat
C.
KLASIFIKASI
Karakteristik status
nutrisi ditentukan dengan adanya Body
Mass Index
(BMI) dan Ideal
Body Weight (IBW).
1. Body Mass Index (BMI)
Merupakan ukuran dari gambaran berat
badan seseorang dengan tinggi badan. BMI dihubungkan dengan
total lemak dalam tubuh dan sebagai panduan untuk mengkaji kelebihan berat
badan (over weight) dan obesitas.
Rumus BMI diperhitungkan:
BB (Kg)
BB(pon)x 704,5 TB(inci)2
TB (M) BB(pon)x 704,5 TB(inci)2
2. Ideal Body Weight (IBW)
Merupakan perhitungan berat badan
optimal dalam fungsi tubuh yang sehat. Berat badan ideal adalah jumlah tinggi
dalam sentimeter dikurangi dengan 100 dan dikurangi 10% dari jumlah itu.
Kegiatan yang membutuhkan energi,
antara lain:
a.) Vital kehidupan, pernapasan sirkulasi darah, suhu tubuh,
dan lain-lain.
b.) Kegiatan mekanik
otot.
c.) Aktivitas otot dan saraf.
d.) Energi kimia untuk membangun jaringa, enzim, dan hormon.
e.) Sekresi cairan
pencernaan.
f.) Absorpsi zat-zat
gizi di saluran pencernaan.
g.) Pengeluaran hasil
metabolisme
D.
MASALAH KEBUTUHAN NUTRISI
Alimul, Aziz (2015) menuliskan secara umum, gangguan kebutuhan nutrisi
terdiri atas kekurangan dan kelebihan nutrisi, obesitas, malnutrisi, diabetes
militus, hipertensi, jantung coroner, kanker, dan anoreksia nervosa.
1.
Kekurangan Nutrisi
Kekurangan
nutrisi merupakan keadaan yang dialami seseorang dalam keadaan yang dialami
seseorang dalam keadaan tidak berpuasa (normal) atau risiko penurunan berat
badan akibat ketidakcukupan asupan nutrisi untuk kebutuhan metabolisme.
2.
Kelebihan Nutrisi
Kelebihan
nutrisi merupakan suatu keadaan yang dialami seseorang yang mempunyai risiko
peningkatan berat badan akibat asupan kebutuhan metabolisme secara berlebih.
3.
Obesitas
Obesitas
merupakan masalah peningkatan berat badan yang mencapai lebih dari 20% berat badan normal.Status nutrisinya adalah melebihi
kebutuhan metabolisme karena
kelebihan asupan kalori dan penurunan dalam penggunaan kalori.
4.
Malnutrisi
Malnutrisi
adalah masalah yang berhubungan dengan kekurangan zat gizi pada tingkat seluler
atau dapat dikatakan sebagai masalah asupan zat gizi yang tidak sesuai dengan
kebutuhan tubuh.
5.
Diabetes Melitus
Diabetes mellitus merupakan
gangguan kebutuhan nutrisi yang ditandai dengan adanya gangguan metabolisme
karbohidrat akibat kekurangan insulin atau penggunaan karbohidrat secara
berlebihan.
6.
Hipertensi
Hipertensi
merupakan gangguan nutrisi yang juga disebabkan oleh berbagai masalah pemenuhan
kebutuhan seperti penyebab dari obesitas, serta asupan kalsium, natrium dan
gaya hidup yang berlebihan.
7.
Penyakit Jantung
Koroner
Penyakit jantung
coroner merupakan gangguan
nutrisi yang sering disebabkan oleh adanya peningkatan kolesterol darah
dan merokok. Gangguan ini sering dialami karena adanya perilaku atau gaya hidup
yang tidak sehat, obesitas, dan lain-lain.
8.
Kanker
` Kanker merupakan gangguan kebutuhan
nutrisi yang disebabkan oleh konsumsi lemak secara berlebihan.
9.
Anoreksia Nervosa
Anoreksia
Nervosa merupakan penurunan berat badan secara mendadak
dan berkepanjangan, ditandai
dengan adanya konstipasi, pembengkakan badan, nyeri abdomen, kedinginan,
letargi, dan kelebihan energi.
E.
TANDA DAN GEJALA
Secara umum, gangguan kebutuhan nutrisi terdiri obesitas, malnutrisi,
diabetes melitus, hipertensi, jantung koroner, kanker,
dan anoreksia nervosa
a) Obesitas
Obesitas
merupakan masalah peningkatan berat badan yang mencapai lebih dari 20% berat
badan normal. Status
nutrisinya adalah melebihi
kebutuhan metabolisme karena
kelebihan asupan kalori dan penurunan dalam penggunaan kalori.
Tanda klinis :
a.
Data mayor
-
IMT > 25 kg/m2 (pada dewasa) atau berat dan panjang badan lebih dari presentil 95 (pada anak 2-18 tahun)
b.
Data minor
- Tebal lipatan kulit trisep >25 mm
Kemungkinan penyebab :
1.
Perubahan pola makan
2.
Penurunan fungsi
pengecapan dan penciuman.
b) Malnutrisi
Malnutrisi
merupakan masalah yang berhubungan dengan kekurangan zat gizi pada tingkat
seluler atau dapat dikatakan sebagai
masalah asupan zat gizi yang tidak sesuai
dengan kebutuhan tubuh. Gejala umumnya adalah berat badan rendah dengan
asupan makanan yang cukup atau
asupan kurang dari kebutuhan tubuh, adanya kelemahan otot dan penurunan energi, pucat pada kulit, membran
mukosa, konjungtiva, dan lain- lain.
Tanda klinis :
c.
Data mayor
- Berat badan menurun minimal 10% dibawah rentang ideal
d.
Data minor
- Cepat kenyang setelah
makan
- Kram/nyeri abdomen
- Nafsu makan menurun
- Bising usus hiperaktif
- Otot pengunyah lemah
- Otot menelan lemah
- Membran mukosa pucat
- Sariawan
- Serum albumin turun
- Rambut rontok berlebihan
- Diare
Kemungkinan penyebab:
1.
Meningkatnya kebutuhan kalori
dan kesulitan dalam
mencerna kalori akibat
penyakit infeksi atau kanker.
2.
Disfagia karena
adanya kelainan persarafan
3.
Penurunan absorbsi
nutrisi akibat penyakit crohn atau intoleransi laktosa
4.
Nafsu makan menurun
F.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBUTUHAN NUTRISI
Menurut Alimul (2015) faktor yang mempengaruhi kebutuhan nutrisi adalah
sebagai berikut:
1)
Pengetahuan
Pengetahuan yang kurang tentang manfaat makanan bergizi dapat memengaruhi
pola konsumsi makan.Hal tersebut dapat disebabkan oleh kurangnya informasi
sehingga dapat terjadi kesalahan dalam memahami kebutuhan gizi.
2)
Prasangka
Prasangka buruk terhadap beberapa jenis bahan makanan bergizi tinggi dapat
memengaruhi status gizi seseorang. Misalnya, di beberapa daerah, tempe
merupakan sumber
protein yang paling
murah, tidak dijadikan bahan makanan yang
layak untuk dimakan karena masyarakat menganggap bahwa mengonsumsi makanan
tersebut dapat merendahkan derajat mereka.
3.)
Kebiasaan
Adanya kebiasaan yang merugikan atau pantangan terhadap
makanan tertentu juga dapat memengaruhi status
gizi.Misalnya di beberapa daerah, terdapat larangan makan pisang dan papaya
bagi para gadis remaja.Padahal, makanan tersebut merupakan sumber vitamin yang
sangat baik.Ada pula larangan makan ikan bagi anak-anak karena ikan dianggap
dapat mengakibatkan cacingan, padahal ikan merupakan sumber protein yang sangat
baik bagi anak-anak.
4.)
Kesukaan
Kesukaan yang berlebihan terhadap suatu jenis makanan dapat mengakibatkan
kekurangan variasi makanan, sehingga tubuh tidak memperoleh zat-zat yang
dibutuhkan secara cukup.Kesukaan dapat mengakibatkan merosotnya gizi pada
remaja bila nilai gizinya tidak sesuai dengan yang diharapkan.
5.)
Ekonomi
Status
ekonomi dapat memengaruhi perubahan status gizi karena penyediaan makanan
bergizi membutuhkan pendanaan yang tidak sedikit.Oleh karena itu, masyarakat dengan
kondisi perekonomian yang tinggi biasanya
mampu mencukupi kebutuhan
gizi keluargannya dibandingkan masyarakat dengan kondisi perekonomian rendah.
G.
POHON MASALAH
Faktor yang mempengaruhi Kebutuhan Nutrisi
Adanya penyakit
Usia, kebiasaan makan, budaya,
sosialisasi,
Efek
samping obat
Gangguan kognitif
intestinal kronis pendapatan, pendidikan dan
tingkat fungsional fisik
MK
: D.0026 Kesiapan Peningkatan Nutrisi
Erosi mukosa lambung
↓ Menurunnya tonus dan
peristaltic usus
↓
Refluksi duodenum ke lambung
↓
Mual dan muntah
Kelemahan otot menelan
↓ Gangguan menelan
makanan
↓
Asupan nutrisi tidak terpenuhi
↓ Penurunan berat badan
Kebiasaan mengkonsumsi
makanan yang tidak sehat
↓ Kelebihan zat didalam
tubuh yang tidak dibutuhkan
↓
mpurna MK: D.0018 Berat Badan Lebih
Kebutuhan energy
meningkat
↓ Mudah lapar
↓
Nafsu makan
meningkat
↓ Peningkatan BB
|
|
|
|
||
|
MK : D.0076 Nausea |
|
MK : D.0019 Defisit Nutrisi |
||
|
|
||||
H.
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1.
Pengukuran antropometri dan Body mass index (BMI)
2.
Laboratorium
Tidak ada satu laboratorium atau uji biokimia diagnostik untuk malnutrisi.
Hasil tes perubahan meliputi
keseimbangan cairan, fungsi hati, fungsi ginjal, dan adanya penyakit. Tes laboratorium umum digunakan
untuk mengetahui status nutrisi termasuk ukuran
protein plasma seperti albumin,transferin, prealbumin, protein pengikat
retinol, pengikat besi total
kapasitas, dan hemoglobin. Setelah makan, respon waktu berubah dalam protein ini berkisar dari jam sampai
minggu. Waktu paruh metabolik Kadar albumin 21 hari, transferin 8 hari, prealbumin 2 hari, dan protein pengikat
retinol adalah 12 jam. Gunakan informasi ini untuk
menentukan ukuran protein plasma yang paling
efektif untuk pasien Anda. Faktor yang mempengaruhi kadar albumin serum
termasuk hidrasi; pendarahan; ginjal atau penyakit
hati; sejumlah besar drainase dari luka, saluran
pembuangan, luka bakar, atau saluran GI; pemberian steroid; albumin.
Eksogen, infus; usia; dan trauma, luka bakar, stres,
atau pembedahan. Tingkat
albumin adalah indikator
yang lebih baik untuk penyakit kronis, sedangkan tingkat prealbumin
disukai untuk kondisi akut (Jensen et
al., 2013). Keseimbangan nitrogen penting dalam menentukan status
protein serum.
3. Hemoglobin glikosilat: Hb1C adalah sebuah pengukuran untuk menilai kadar guladarah selama
140 hari terakhir. Angka Hb1C yang melebihi
6,1% menunjukkan diabetes.
4. Tes glukosa darah dengan finger stick,
yaitu jari ditusuk dengan sebuahjarum, sample
darah diletakkan pada sebuah strip yang dimasukkan kedalam celah pada mesin glukometer, pemeriksaan ini digunakan
hanya untuk memantau kadar glukosa yang dapat dilakukan dirumah.
I.
PENATALAKSANAAN
Pelaksanaan (Tindakan) yang dapat dilakukan
pada klien yang mengalami
ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh adalah sebai berikut:
1.
Pemberian Nutrisi Melalui Oral
Pemberian
nutrisi melalui oral merupakan tindakan keperawatan yang
dilakukan pada pasien yang tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi secara sendiri
dengan cara membantu memberikan makan/nutrisi melalui oral (mulut), bertujuan
memenuhi kebutuhan nutrisi pasien dan membangkitkan selera makan pada pasien.
2.
Pemberian Nutrisi Melalui Pipa Penduga/Lambung
Pemberian nutrisi melalui
pipa penduga/lambung merupakan keperawatan yang
dilakukan pada pasien yang tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi secara oral atau
tidak mampu menelan dengan cara memberi makanan melalui pipa lambung atau
pipa penduga. Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pasien.
3.
Pemberian Nutrisi Melalui Parenteral
Pemeberian nutrisi melalui parenteral merupakan pemberian nutrisi berupa
cairan infus yang dimasukkan ke dalam tubuh melalui dara vena, baik secara
sentral (untuk nutrisi parenteral total) ataupun vena perifer ( untuk
nutrisi parenteral parsial). Pemberian nutrisi melalui
parenteral dilakukan pada pasien yang tidak bisa makan melalui oral atau pipa nasogastric dengan tujuan untuk menunjang nutrisi enteral yang
hanya memenuhi sebagian kebutuhan nutrisi harian.
J.
PENGKAJIAN KEPERAWATAN FOKUS
1.
Identitas pasien
Berisikan
data umum dari pasien. Yang terdiri dari nama, tempat dan tanggal lahir, jenis kelamin, status kawin, agama,
pendidikan, pekerjaan, tanggal masuk, alamat,
tanggal pengkajian, dan diagnose
medis.
2.
Identitas penaggung jawab
Berisikan
data umum dari penanggung jawab pasien yang bisa di hubungi selama menjalani masa rawatan di rumah sakit.
3.
Riwayat kesehatan
a)
Riwayat kesehatan sekarang
- Keluhan Utama
Nafsu makan menurun/meningkat, mual muntah, pusing atau mata berkunang- kunang.
b) Riwayat kesehatan dulu
Riwayat kesehatan dulu yang mempengaruhi BB dan penyakit
saat ini
c)
Riwayat kesehatan keluarga
Apakah ada keluarga
yang mengalami penyakit
yang sama dengan
pasien ?
4. Pola nutrisi
·
Riwayat keperawatan dan diet
a)
Anggaran makan, makan kesukaan, waktu makan.
b)
Apakah ada diet yang dilakukan secara
khusus?
c)
Adakah penurunan dan peningkatan berat badan dan berapa lama periode waktunya?
d)
Adakah toleransi
makan/minum tertentu?
·
Faktor yang memengaruhi diet
a.
Status kesehatan.
b.
Kultur dan
kepercayaan.
c.
Status social
ekonomi.
d.
Faktor psikologis.
e.
Informasi yang salah tentang
makanan dan cara berdiet
5. Pola eliminasi
Meliputi frekuensi bak/bab, ada tidaknya
masalah pada bak/bab, karakteristik, infeksi saluran kencing.
6. Pola Latihan
aktivitas
Menggambarkan
pola latihan aktivitas. Pentingnya latihan/gerak dalam keadaan sehat dan sakit.
7. Pola istirahat tidur
Menggambarkan pola tidur, istirahat. Jumlah
tidur, masalah selama tidur, insomnia atau mimpi buruk, penggunaan obat.
8. Pola
persepsi-kognitif
Menanyakan apa yang klien rasakan
terkait dengan penyakit yang dialami. Tanyakan tentang pengetahuan klien
mengenai penyakit yang dialami.
9. Pola persepsi-konsep
diri
Menggambarkan sikap tentang diri sendiri
dab persepsi terhadap kemampuan. Tanyakan apakah klien merasa puas dengan
dirinya, apakah klien merasa ada perubahan pada dirinya semenjak menderita
penyakit tersebut.
10. Pola peran dan
hubungan
Menggambarkan dan mengetahui hubungan
dan peran klien terhadap anggota keluarga dan Masyarakat di tempat tinggal
klien.
11.
Pola seksualitas dan produksi
Menggambarkan kepuasan atau masalah yang dirasakan dengan
seksualitas.
12.
Pola koping dan stress
Menggambarkan kemampuan untuk menangani
stress dan penggunaan sistem pendukung. Menanyakan bagaimana cara klien dalam
mengatasi masalah terkait dengan penyakit yang dialami, apakah klien cemas
dengan penyakit yang dialami.
13.
Pola tata nilai dan kepercayaan
Menggambarkan dan menjelaskan pola nilai
keyakinan termasuk spiritual. Menerangkan sikap dan keyakinan klien dalam
melaksanakan agama yang dipeluk dan konsekuensinya.
14. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan fisik: apatis,
lesu.
2)
Berat badan:
obesitas, kurus (underweight).
3) Otot: flaksia/lemah,
tonus kurang, tenderness, tidak mampu bekerja.
a)
Sistem saraf: bingung, rasa terbakar, paresthesia, reflek
menurun.
b) Fungsi
gastrointestinal: anoreksia, konstipasi, diare, flatulensi, pembesaran liver/lien.
c) Kariovaskuler: denyut nadi lebih dari 100 kali/menit, irama abnormal, tekanan darah rendah/tinggi.
d)
Rambut: kusam, kering, pudar,
kemerahan, tipis, pecah/patah-patah.
e)
Kulit: kering,
pucat, iritasi, petekhie, lemak disubkutan tidak ada.
f)
Bibir: kering,
pecah-pecah, bengkak, lesi, stomatitis, membrane
mukosa pucat.
g)
Gusi: pendarahan, peradangan.
h)
Lidah: edema, hiperemis.
i)
Gigi: karies,
nyeri, kotor
j)
Mata: konjungtiva pucat, kering,
exotalmus, tanda-tanda infeksi.
k)
Kuku: mudah patah.
l)
Pengukuran antropometri:
- Berat badan ideal : (TB-100) ± 10%
- Lingkar pergelangan tangan
- Lingkar lengan atas (MAC):
Nilai normal Wanita : 28,5 cm
Pria : 28,3 cm
.
-
Lipatan kulit pada otot trisep (TSF):
Nilai normal Wanita :
16,5-18 cm
Pria : 12,5-16,5
cm
Atau dapat dilakukan dengan
metode “A, B, C, D” yakni sebagai
berikut:
a.
Anthropometric measurement
Tujuan pengukuran ini adalah mengevaluasi pertumbuhan dan mengkaji status
nutrisi serta ketersediaan energi tubuh.Pengukuran anthopometrik terdiri atas:
1.
Tinggi badan
Pengukuran tinggi
badan pada individu
dewasa dan alita dilakukan dalamposisi berdiri tanpa alas kaki,
sedangkan pada bayi pada posisi
terbaring. Satuan tinggi badan adalah cm atau inchi.
2.
Berat badan
Alat ukur
berat badan yang lazim digunakan adalah timbangan manual, meskipun ada alat
ukur yang mengunakan sistem digital
elektrik. berat badan yang ideal: (TB-100)±
10% atau 0.9 x (tinggi
badan – 100).
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengukur berat
badan:
a)
Alat ukur skala ukur yang digunakan
tetap sama setiap kali menimbang
b)
Menimbang tanpa alas kaki
c) Pakaian diusahakan tidak tebal dan
relatif sama beratnya setiap kali menimbang
d) Waktu
(jam) penimbangan relatif
sama, misalnya sebelum dan sesudah
makan.
3.
Tebal lipatan
kulit
Bertujuan
untuk menentukan presentase lemak pada tubuh, mengkaji kemungkinan malnutrisi,
berat badan normal, atau obesitas. Area yang sering digunakan untuk pengukuran
ini adalah lipatan kulit trisep (trisep skinfold [TSF] skapula, dan
suprailiaka.Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
pengukuran
antara lain:
Anjuran klien unutk membuka baju guna mencegah kesalahan
pada hasil pengukuran.
a)
Perhatikan selalu
privasi dan rasa nyaman klien
b)
Dalam pengukuran TSF, utamakan lengan
klien yang tidak
dominan
c) Pengukuran TSF dilakukan pada titik tengah
lengan atas, antara
akronim dan olekranon
d)
Klien dianjurkan untuk rileks saat pengukuran
e)
Alat ukur yang digunakan
adalah kapiler.
f)
Nilai normal wanita : 16,5-18 cm
Pria : 12,5-16,5cm
g)
Lingkar Tubuh
Umumnya area tubuh
yang digunakan untuk pengukuran ini kepala, dada, dan otot bagian lengan atas
(LILA).
b.
Biochemical data
Pengkajian status nutrisi
klien ditunjang dengan
pemeriksaan laboratorium.
Klien diperiksa darah dan urinnya yang meliputi pemeriksaan hemoglobin, hemaktokrit,
albumin. Albumin berfungsi untuk memelihara kesembangan cairan dan elektrolit
serta untuk transportasi nutrisi dan hormone.
1. Hemoglobin normal Pria : 13-16 g/dl
Wanita : 12-14 g/dl
2.
Hematokrit normal
Pria : 40-48 vol %
Wanita : 37-43 vol%
3.
Albumin normal
Pria dan wanita:
4-5,2 g/dl
c.
Clinical sign of nutrional
status
Klien dengan maslah nutrisi akan memperhatikan tanda-tanda abnormal
tersebut bukan saja pada organ-organ fisiknya tetapi juga fisiologisnya. Tanda-
tanda klinik untuk mengetahui status individu:
|
No |
Bagian Tubuh |
Tanda klinik |
Kemungkinan
kekurangan |
|
1 |
Tanda umum |
Penurunan berat
badan dehidrasi, haus
pertumbuhan terhambat |
Kalori,Air, dan vitamin
A |
|
2 |
Rambut |
Kekuningan kekurangan pigmen,kusut |
Protein |
|
3 |
Kulit |
Deatitis Dermatosis pada bayi Petechial hemorrhages Eksema |
Niasin, riboflavin, biotin Lemak Asam askorbat |
|
4 |
Mata |
Photopobia
Rabun senja |
Riboflavin
Vitamin A |
|
5 |
Mulut |
Stomatitis
Glositis |
Riboflavin Niasin, asam folik, vitamin B12, zat besi |
|
6 |
Gigi |
Karies |
Flour |
|
7 |
Neuromoskuler |
Kejang otot Lemah otot |
Vitamin D |
|
8 |
Tulang |
Riketsia |
Vitamin D |
|
9 |
Gastrointestinal |
Anoreksia Mual dan muntah |
Thiamin, garam dapur, NaCl |
|
10 |
Endokrin |
Gondok |
Iodium |
|
11 |
Kardipovaskuler |
Pendarahan peny,
Jantung, anemia |
Vitamin K, thiamin,
pyridoxine, zat besi |
|
12 |
Sistem saraf |
Kelainan mental dan saraf |
Vitamin B12 |
K.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
a.
Berat Badan Lebih D. 0018
b.
Defisit Nutrisi
D.0019
c.
Kesiapan Peningkatan Nutrisi D.0026
d.
Nausea D.0076
L.
INTERVENSI KEPERAWATAN
|
Diagnosa Keperawatan |
Perencanaan Keperawatan |
||||||
|
Tujuan &
Kriteria Hasil |
Intervensi |
||||||
|
Berat Badan Lebih |
Berat badan |
Konseling nutrisi Observasi: -
Identifikasi kebiasaan makan
dan perilaku makan
yang akan diubah -
Identifikasi kemajuan modifikasi diet secara regular - Monitor intake
dan output cairan, nilai hemoglobin, tekanan
darah, kenaikan berat
badan, dan kebiasaan membeli makanan Terapeutik: -
Bina hubungan teraupetik - Sepakati bersama
waktu pemberian konseling - Tetapkan tujuan
jangka pendek dan jangka panjang
yang realistis - Gunakan standar
nutrisi sesuai program
diet dalam mengevaluasi kecukupan asupan makanan - Pertimbangkan factor-faktor yang mempengaruhi pemenuhan kebutuhan gizi ( mis.
Usia, tahapan pertumbuhan dan perkembangan, penyakit) Edukasi - Informasikan perlunya modifikasi diet (mis.penurunan atau penambahan berat badan, pembatasan natrium atau cairan, pengurangan kolestrol - Jelaskan program gizi dan
persepsi pasien terhadap diet yang diprogramkan Kolaborasi - Rujuk pada ahli gizi jika perlu Manajemen Berat Badan Observasi - Identifikasi kondisi
kesehatan pasien yang
dapat mempengaruhi berat
badan Terapeutik -
Hitung berat badan
ideal pasien -
Hitung persentase lemak
dan otot pasien - Fasilitasi menentukan target berat
badan yang realistis Edukasi - Jelaskan hubungan antara asupan makanan, aktivitas fisik, penambahan berat badan dan penurunan berat badan - Jelaskan factor
risiko berat badan
lebih dan berat
badan kurang -
Anjurkan mencatat berat
badan setiap minggu, jika perlu - Anjurkan melakukan pencatatan asupan makan,
aktivitas fisik dan
perubahan berat badan |
|||||
|
D.0018 |
Tujuan: Setelah
dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam berat
badan membaik |
||||||
|
Pengertian : |
Kriteria Hasil: |
||||||
|
Akumulasi lemak berlebih atau abnormal yang tidak
sesuai dengan usia dan jenis kelamin |
|
Memburuk |
Cukup Memburuk |
Sedang |
Cukup Membaik |
Membaik |
|
|
1 |
Berat badan |
||||||
|
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
||
|
2 |
Tebal lipatan kulit |
||||||
|
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
||
|
3 |
Indeks masa tubuh |
||||||
|
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
||
|
|
|||||||
|
Diagnosa Keperawatan |
Perencanaan Keperawatan |
||||||
|
Tujuan &
Kriteria Hasil |
Intervensi |
||||||
|
Defisit Nutrisi |
Status Nutrisi |
Manajemen Nutrisi Observasi: - Identifikasi status
nutrisi - Identifikasi alergi dan intoleransi makanan - Identifikasi perlunya penggunaan selang nasogastric - Monitor asupan
makanan - Monitor berat badan Terapeutik: - Lakukan oral hygiene sebelum
makan, Jika perlu - Sajikan makanan secara menarik dan
suhu yang sesuai - Hentikan pemberian
makanan melalui selang nasogastric jika asupan oral dapat ditoleransi Edukasi - Anjurkan posisi
duduk, jika mampu - Ajarkan diet yang diprogramkan Kolaborasi - Kolaborasi dengan ahli
gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien yang dibutuhkan Promosi Berat Badan Observasi - Identifikasi kemungkinan penyebab BB kurang - Monitor adanya mual dan muntah Terapeutik - Sediakan makanan
yang tepat sesuai
kondisi pasien - Berikan pujian
kepada pasien untuk
peningkatan yang dicapai Edukasi - Jelaskan jenis
makanan yg bergizi tinggi, terjangkau |
|||||
|
D.0019 |
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam status |
||||||
|
nutrisi terpenuhi. |
|
|
|
||||
|
Pengertian : |
Kriteria Hasil: |
||||||
|
Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi |
|
Menurun |
Cukup Menurun |
Sedang |
Cukup Meningkat |
Meningkat |
|
|
kebutuhan metabolisme. |
1 |
Porsi makanan yang
dihabiskan |
|||||
|
|
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
|
|
|
2 |
Berat Badan atau
IMT |
|||||
|
|
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
|
|
|
3 |
Frekuensi makan |
|||||
|
|
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
|
|
|
4 |
Nafsu makan |
|||||
|
|
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
|
|
|
5 |
Perasaan cepat kenyang |
|||||
|
|
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
|
|
|
|
||||||
|
Diagnosa Keperawatan |
Perencanaan Keperawatan |
||||||
|
Tujuan &
Kriteria Hasil |
Intervensi |
||||||
|
Kesiapan
Peningkatan Nutrisi |
Status Nutrisi |
Edukasi Nutrisi Observasi: - Periksa status gizi, status alergi, program diet, kebutuhan dan kemampuan pemenuhan kebutuhan gizi - Identifikasi kemampuan dan waktu yang
tepat menerima informasi Terapeutik: - Persiapkan materi
dan media seperti jenis-jenis nutrisi, table
makanan penukar, cara mengelola, cara menakar makanan -
Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kepakatan - Berikan kesempatan untuk
bertanya Edukasi - Jelaskan pada pasien
dan keluarga alergi makanan, makanan yang harus dihindari, kebutuhan jumlah
kalori, jenis makanan
yang dibutuhkan pasien -
Demonstrasikan cara membersihkan mulut - Demonstrasikan cara
mengatur posisi saat makan - Ajarkan pasien/keluarga memonitor asupan kalori
dan makanan (mis.menggunkan buku harian) - Ajarkan pasien
dan keluarga memantau kondisi kekurangan nutrisi - Anjurkan
mendemonstrasikan cara memberi makan, menghitung kalori, menyiapkan makanan sesuai program diet. |
|||||
|
D.0026 |
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan
3x24 jam status nutrisi terpenuhi. |
||||||
|
Pengertian : |
Kriteria Hasil: |
||||||
|
Pola asuhan
nutrisi yang cukup
untuk memenuhi kebutuhan metabolieme dan dapat digantikan |
|
Menurun |
Cukup Menurun |
Sedang |
Cukup Meningkat |
Meningkat |
|
|
1 |
Porsi makanan yang
dihabiskan |
||||||
|
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
||
|
2 |
Berat Badan atau IMT |
||||||
|
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
||
|
3 |
Frekuensi makan |
||||||
|
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
||
|
4 |
Nafsu makan |
||||||
|
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
||
|
5 |
Perasaan cepat kenyang |
||||||
|
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
||
|
|
|||||||
|
Diagnosa Keperawatan |
Perencanaan Keperawatan |
||||||
|
Tujuan &
Kriteria Hasil |
Intervensi |
||||||
|
Nausea |
tingkat nausea |
Manajemen Mual
(I.03117) Observasi ·
Identifikasi pengalaman mual ·
Identifikasi isyarat nonverbal ketidaknyamanan (mis:
bayi, anak-anak, dan mereka yang tidak dapat berkomunikasi secara efektif) ·
Identifikasi dampak mual terhadap kualitas hidup
(mis: nafsu makan, aktivitas, kinerja, tanggung jawab peran, dan tidur) ·
Identifikasi faktor penyebab mual (mis: pengobatan
dan prosedur) ·
Identifikasi antiemetik untuk mencegah mual (kecuali mual
pada kehamilan) ·
Monitor mual (mis: frekuensi, durasi, dan tingkat
keparahan) Terapeutik ·
Kendalikan faktor lingkungan penyebab mual (mis: bau
tidak sedap, suara, dan rangsangan visual yang tidak menyenangkan) ·
Kurangi atau hilangkan keadaan penyebab mual (mis:
kecemasan, ketakutan, kelelahan) ·
Berikan makanan dalam jumlah kecil dan menarik ·
Berikan makanan dingin, cairan bening, tidak berbau,
dan tidak berwarna, jika perlu Edukasi ·
Anjurkan istirahat dan tidur yang cukup ·
Anjurkan sering membersihkan mulut, kecuali jika merangsang
mual ·
Anjurkan makanan tinggi karbohidrat, dan rendah lemak ·
Ajarkan penggunaan teknik non farmakologis untuk mengatasi
mual (mis: biofeedback, hipnosis, relaksasi, terapi musik, akupresur) Kolaborasi ·
Kolaborasi pemberian obat antiemetik, jika perlu Manajemen Muntah
(I.03118) Observasi ·
Identifikasi pengalaman muntah ·
Identifikasi isyarat nonverbal ketidaknyamanan (mis:
bayi, anak-anak, dan mereka yang tidak dapat berkomunikasi secara efektif) ·
Identifikasi dampak muntah terhadap kualitas hidup
(mis: nafsu makan, aktivitas, kinerja, tanggung jawab peran, dan tidur) ·
Identifikasi faktor penyebab muntah (mis: pengobatan
dan prosedur) ·
Identifikasi antiemetik untuk mencegah muntah (kecuali
muntah pada kehamilan) ·
Monitor muntah (mis: frekuensi, durasi, dan tingkat
keparahan) Terapeutik ·
Kontrol lingkungan penyebab muntah (mis: bau tidak
sedap, suara, dan stimulasi visual yang tidak menyenangkan) ·
Kurangi atau hilangkan keadaan penyebab muntah (mis:
kecemasan, ketakutan) ·
Atur posisi untuk mencegah aspirasi ·
Pertahankan kepatenan jalan napas ·
Bersihkan mulut dan hidung ·
Berikan dukungan fisik saat muntah (mis: membantu
membungkuk atau menundukkan kepala) ·
Berikan kenyamanan selama muntah (mis: kompres dingin di
dahi, atau sediakan pakaian kering dan bersih) ·
Berikan cairan yang tidak mengandung karbonasi minimal 30
menit setelah muntah Edukasi ·
Anjurkan membawa kantong plastik untuk menampung muntah ·
Anjurkan memperbanyak istirahat ·
Ajarkan penggunaan Teknik non farmakologis untuk mengelola
muntah (mis: biofeedback, hipnosis, relaksasi, terapi musik, akupresur) Kolaborasi ·
Kolaborasi pemberian obat antiemetik, jika perlu |
|||||
|
D.0076 |
Tujuan :Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama
3 x 24 jam, maka tingkat nausea menurun, dengan kriteria hasil: |
||||||
|
Pengertian : |
Kriteria Hasil: |
||||||
|
Nausea merupakan sebagai perasaan tidak nyaman pada bagian belakang
tenggorok atau lambung yang dapat mengakibatkan muntah. |
|
Menurun |
Cukup Menurun |
Sedang |
Cukup Meningkat |
Meningkat |
|
|
1 |
Perasaan ingin
muntah |
||||||
|
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
||
|
|
|
||||||
|
|
|
|
|
|
|
||
|
|
|
||||||
|
|
|
|
|
|
|
||
|
|
|
||||||
|
|
|
|
|
|
|
||
|
|
|
||||||
|
|
|
|
|
|
|
||
|
|
|||||||
DAFTAR PUSTAKA
Perry & Potter.(2017). Fundamentals of Nursing Ninth
Edition. Printed in the United
States of America
Rahayu,S dan Harnanto, A. (2016). Modul Bahan
Ajara Cetak keperawatan Kebutuhan Dasar Manusia
II. Jakarta: Pusdik SDM Kesehatan
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2016). Standar
Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Edisi
1.
Jakarta: Persatuan Perawat Indonesia.
Tim Pokja SIKI
DPP PPNI. (2018), Standar Intervensi
Keperawatan Indonesia (SIKI), Edisi
1. Jakarta: Persatuan Perawat
Indonesia.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2018).
Standart Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), Edisi 1. Jakarta: Persatuan Perawat Indonesia
YANG MAU DOWNLOAD KLIK DISINI
Komentar
Posting Komentar