Mangir (Karya: Pramoedya Ananta Toer)
Mangir
(Karya:
Pramoedya Ananta Toer)
Orientasi:
Di bawah bulan malam ini, tiada setitik pun awan di
langit. Dan bulan telah terbit bersamaan dengan tenggelamnya matari. Dengan
cepat ia naik dari kaki langit, mengunjungi segala dan semua yang tersentuh
cahayanya. Juga hutan, juga laut, juga hewan dan manusia. Langit jernih,
bersih, dan terang. Di atas bumi Jawa lain lagi keadaannya gelisah, resah,
seakan-akan manusia tak membutuhkan ketenteraman lagi.
Bahkan juga laut Jawa di bawah bulan purnama sidhi itu
gelisah. Ombak-ombak besar bergulung-gulung memanjang terputus, menggunung,
melandai, mengejajari pesisir pulau Jawa. Setiap puncak ombak dan riak, bahkan
juga busanya yang bertebaran seperti serakan mutiara–semua–dikuningi oleh
cahaya bulan. Angin meniup tenang. Ombak-ombak makin menggila.
Menuju Konflik atau
Komplikasi:
Sebuah kapal peronda pantai meluncur dengan kecepatan
tinggi dalam cuaca angin damai itu. Badannya yang panjang langsing, dengan
haluan dan buritan meruncing, timbul-tenggelam di antara ombak-ombak purnama
yang menggila. Layar kemudi di haluan menggelembung membikin lunas menerjang
serong gunung-gunung air itu–serong ke barat laut. Barisan dayung pada dinding
kapal berkayuh berirama seperti kaki-kaki pada ular naga. Layarnya yang terbuat
dari pilinan kapas dan benang sutra, mengilat seperti emas, kuning dan
menyilaukan.
Sang Patih berhenti di tengah-tengah pendopo, dekat pada
damarsewu, menegur, “Dingin-dingin begini anakanda datang. Pasti ada sesuatu
keluarbiasaan. Mendekat sini, anakanda.” Dan Patragading berjalan mendekat
dengan lututnya sambil mengangkat sembah, merebahkan diri pada kaki Sang Patih.
“Ampuni patik, membangunkan Paduka pada malam buta begini Kabar duka, Paduka.
Balatentara Demak di bawah Adipati Kudus memasuki Jepara tanpa diduga-duga,
menyalahi aturan perang.”
”Allah Dewa Batara!”
sahut Sang Patih. ”Itu bukan aturan raja-raja! Itu aturan brandal!”
”Balatentara Tuban tak
sempat dikerahkan, Paduka.”
”Bagaimana Bupati
Jepara?”
”Tewas enggan menyerah
Paduka,” Patragading mengangkat sembah. ”Sisa balatentara Tuban mundur ke timur
kota. Jepara penuh dengan bala tentara Demak. Lebih dari tiga ribu orang.”
”Begitulah kata warta,”
Pada meneruskan dengan hati-hati matanya tertuju pada Boris. ”Semua bangunan
batu di atas wilayah Kota, gapura, arca, pagoda, kuil, candi, akan dibongkar.
Setiap batu berukir telah dijatuhi hukuman buang ke laut! Tinggal hanya
pengumumannya.”
”Disambar petirlah dia!”
Boris meraung, seakan batu-batu itu bagian dari dirinya sendiri. ”Dia hendak
cekik semua pernahat dan semua dewa di kahyangan. Dikutuk dia oleh Batara
Kala!” Tiba-tiba suaranya turun mengiba-iba: ”Apa lagi artinya pengabdian? Aku
pergi! Jangan dicari. Tak perlu dicari!” Meraung.
Puncak Konflik atau
Klimaks:
Ia lari keluar ruangan, langsung menuju ke pelataran
depan. Diangkatnya tangga dan dengannya melangkahi pagar papan kayu. Dari balik
pagar orang berseru-seru, ”Lari dari asrama! Lari!”
Mula-mula pertikaian berkisar pada kelakuan Trenggono
yang begitu sampai hati membunuh abangnya sendiri, kemudian diperkuat oleh
sikapnya yang polos terhadap peristiwa Pakuan. Mengapa Sultan tak juga
menyatakan sikap menentang usaha Portugis yang sudah mulai melakukan
perdagangan ke Jawa? Sikap itu semakin ditunggu semakin tak datang. Para musafir
yang sudah tak dapat menahan hati lagi telah bermusyawarah dan membentuk utusan
untuk menghadap Sultan. Mereka ditolak dengan alasan: apa yang terjadi di
Pajajaran tak punya sangkut paut dengan Demak dan musafir.
Resolusi:
Jawaban itu mengecewakan para musafir. Bila demikian,
mereka menganggap, sudah tak ada perlunya lagi para musafir mengagungkan Demak
karena keagungannya memang sudah tak ada lagi. Apa gunanya armada besar
peninggalan Unus, yang telah dua tahun disiapkan kalau bukan untuk mengusir Portugis
dan dengan demikian terjamin dan melindungi Demak sebagai negeri Islam
pertama-tama di Jawa? Masuknya Peranggi ke Jawa berarti ancaman langsung
terhadap Islam. Kalau Trenggono tetap tak punya sikap, jelas dia tak punya
sesuatu urusan dengan Islam.
Koda:
Orang menarik kesimpulan dari perkembangan terakhir:
antara anak dan ibu takkan ada perdamaian lagi. Dan pertanyaan kemudian yang
timbul: Adakah Sultan akan mengambil tindakan terhadap ibunya sendiri
sebagaimana ia telah melakukannya terhadap abang-kandungnya.
Pangeran Seda Lepen? Orang menunggu dan menunggu dengan
perasaan prihatin terhadap keselamatan wanita tua itu. Sultan Trenggono tak
mengambil sesuatu tindakan terhadap ibunya. Ia makin keranjingan membangun
pasukan daratnya. Hampir setiap hari orang dapat melihat ia berada di
tengah-tengah pasukan kuda kebanggaannya, baik dalam latihan, sodor, maupun
ketangkasan berpacu samba memainkan pedang menghajar boneka yang digantungkan
pada sepotong kayu. Ia sendiri ikut dalam latihan-latihan ini.
Dan dalam salah satu kesempatan semacam ini pernah ia
berkata secara terbuka, ”Tak ada yang lebih ampuh daripada pasukan kuda. Lihat,
kawula kami semua!” Dan para perwira pasukan kuda pada berdatangan dan
merubungnya, semua di atas kuda masing-masing.
”Pada suatu kali, kaki kuda Demak akan mengepulkan debu
di seluruh bumi Jawa. Bila debunya jatuh kembali ke bumi, ingat-ingat para
kawula, akan kalian lihat, takkan ada satu tapak kaki orang Peranggi pun
tampak. Juga tapaktapaknya di Blambangan dan Pajajaran akan musnah lenyap
tertutup oleh debu kuda kalian.” Seluruh Tuban kembali dalam ketenangan dan
kedamaian–kota dan pedalaman. Sang Patih Tuban mendiang telah digantikan oleh
Kala Cuwil, pemimpin pasukan gajah. Nama barunya: Wirabumi. Panggilannya yang
lengkap: Gusti Patih Tuban Kala Cuwil Sang Wirabumi. Dan sebagai patih ia masih
tetap memimpin pasukan gajah, maka Kala Cuwil tak juga terhapus dalam sebutan.
Pasar kota dan pasar bandar ramai kembali seperti sediakala. Lalu lintas laut,
kecuali dengan Atas Angin, pulih kembali. Sang Adipati telah menjatuhkan titah:
kapal-kapal Tuban mendapat perkenan untuk berlabuh dan berdagang di Malaka
ataupun Pasai.
Komentar
Posting Komentar