DOWNLOAD LAPORAN PENDAHULUAN KENYAMANAN DENGAN DIAGNOSA HIPERTERMIA
LAPORAN PENDAHULUAN KENYAMANAN DENGAN DIAGNOSA HIPERTERMIA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kenyamanan
merupakan suatu keadaan seseorang merasa sejahtera atau nyaman baik secara
mental, fisik maupun sosial. Gangguan rasa nyaman adalah perasaan kurang
senang, lega, dan sempurna dalam dimensi fisik, psikospiritual, lingkungan, dan
sosial (SDKI, 2016). Gangguan rasa nyaman menyebabkan pasien merasakan gelisah,
gangguan pola tidur dan merupakan alasan utama pasien datang memeriksakan
kesehatannya ke pelayanan kesehatan (Hidayat, 2020).
Demam merupakan keluhan yang sangat sering dijumpai di berbagai tingkat
pelayanan kesehatan, baik di Puskesmas maupun Rumah Sakit, dan dapat terjadi
pada semua kelompok usia (Alodokter, 2025). Secara klinis, demam menimbulkan
berbagai perubahan pada pasien berupa rasa panas, menggigil, nyeri kepala,
pegal linu, lemas, gangguan tidur, serta penurunan nafsu makan dan asupan
cairan. Keseluruhan perubahan tersebut secara langsung menimbulkan
ketidaknyamanan, sehingga masalah keperawatan yang paling utama muncul pada
pasien demam adalah Gangguan Rasa Nyaman (Nurachmah & Gayatri, 2020).
Apabila demam tidak ditangani dengan tepat dan berlanjut dalam waktu
lama, dapat terjadi peningkatan laju metabolisme tubuh, peningkatan kebutuhan
oksigen, dehidrasi, serta gangguan keseimbangan elektrolit yang memperberat
rasa tidak nyaman pasien dan berisiko menimbulkan komplikasi (Nurarif &
Kusuma, 2015). Oleh karena itu, penanganan demam tidak hanya berfokus pada
penurunan angka suhu tubuh, melainkan juga pada pemenuhan kenyamanan pasien
melalui pendekatan asuhan keperawatan yang sistematis dan komprehensif.
Berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan pada Ny. X yang dirawat dengan
keluhan utama badan terasa panas dan tidak nyaman, maka laporan ini disusun
untuk menguraikan asuhan keperawatan pada pasien dengan masalah Gangguan Rasa
Nyaman: Demam.
Perawat
meggunakan berbagai intervensi untuk dapat menurunkan demam tersebut dan mengembalikan
kenyamanan klien. Perawat tidak dapat melihat dan merasakan demam yang dialami oleh klien
karena demam
bersifat subjektif. Demam dapat diekspresikan melalui peningkatan suhu tubuh, tanda
fisik yang tampak, keluhan subjektif pasien, perubahan tanda-tanda vital membuat perawat harus mampu
dalam memberikan asuhan keperawatan secara holistic dan menanganinya.
B.
Tujuan
1. Mengetahui pengertian
kebutuhan dasar
2. Mengetahui klasifikasi
demam
3. Mengetahui etiologi
demam
4. Mengetahui
manifestasi klinis demam
5. Mengetahui patofisiologi
demam
6. Mengetahui
penatalaksaan nyeri
7. Mengetahui
pemeriksaan penunjang demam
8. Menjelaskan
konsep dasar demam, etiologi, serta patofisiologi yang terjadi pada tubuh
pasien (Potter & Perry, 2021).
9. Menguraikan
manifestasi klinis, fase demam, serta pola perubahan suhu yang muncul dan
berkaitan dengan gangguan rasa nyaman pasien (Setiati dkk., 2019).
10. Menjelaskan
hubungan antara peningkatan suhu tubuh dengan munculnya masalah Gangguan Rasa
Nyaman pada pasien (Nurachmah & Gayatri, 2020).
11. Memberikan
gambaran penatalaksanaan umum dan tindakan keperawatan yang dapat diberikan
untuk menurunkan suhu serta meningkatkan rasa nyaman pasien (Kementerian
Kesehatan RI, 2020).
BAB II TINJAUAN
TEORI
A.
Konsep Pemenuhan Kebutuhan Dasar
1.
Pengertian Kebutuhan dasar
Nyaman adalah keadaan ketika individu mengalami sensasi yang
tidak menyenangkan dalam merespons terhadap sesuatu rangsangan yang berbahaya. Nyeri merupakan kondisi
berupa perasaan yang tidak menyenangkan, bersifat sangat subjektif. Perasaan
nyeri pada setiap orang berbeda dalam hal skala ataupun tingkatannya, dan hanya
orang tersebutlah yang dapat menjelaskan atau mengevaluasi rasa nyeri yang
dialaminya. (Tetty, 2015).
Demam adalah peningkatan suhu tubuh inti di atas batas normal
akibat adanya pergeseran titik kendali pengaturan suhu di hipotalamus yang
dipicu oleh zat pirogen (toksin bakteri/virus, produk peradangan), bukan akibat
kerusakan mekanisme pengaturan suhu itu sendiri (Potter & Perry, 2021).
Suhu tubuh manusia normal pada pengukuran aksila berkisar antara 36,5°C–37,5°C,
sehingga demam ditegakkan apabila suhu tubuh menunjukkan angka lebih dari
37,5°C pada pengukuran aksila atau lebih dari 37,8°C apabila diukur melalui
rongga mulut (Kementerian Kesehatan RI, 2020).
Demam bukan merupakan suatu penyakit tersendiri,
melainkan sebuah tanda atau respons pertahanan tubuh terhadap adanya proses
patologis yang sedang berlangsung di dalam tubuh, baik yang disebabkan oleh
infeksi mikroorganisme maupun penyebab non-infeksius (Setiati dkk., 2019).
Peningkatan suhu tubuh ini justru memiliki manfaat bagi tubuh, yaitu menghambat
pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroorganisme penyebab penyakit serta
meningkatkan aktivitas sistem kekebalan tubuh dalam melawan agen penyebab
penyakit tersebut (Dinarello & Gelfand, 2005).
Secara umum, demam berlangsung melalui tiga fase
berurutan, yaitu fase kenaikan suhu yang ditandai dengan rasa dingin dan
menggigil, fase puncak di mana suhu tubuh berada pada tingkat tertinggi dan
pasien merasa sangat panas, serta fase penurunan suhu yang ditandai dengan
berkeringat banyak hingga suhu kembali mendekati normal (Nurarif & Kusuma,
2015). Seluruh proses perubahan suhu tersebut menimbulkan berbagai keluhan
seperti rasa tidak nyaman, lemas, nyeri kepala, pegal linu, haus, serta
gangguan tidur dan nafsu makan, sehingga masalah utama yang muncul pada pasien
demam adalah Gangguan Rasa Nyaman (Nurachmah & Gayatri, 2020).
Berdasarkan tingkatannya, demam secara umum dapat
dikelompokkan menjadi: demam ringan (37,5°C–38,0°C), demam sedang
(38,1°C–39,0°C), demam berat (39,1°C–40,0°C), dan hiperpireksia apabila suhu
tubuh mencapai di atas 40,0°C yang merupakan keadaan darurat medis dan
memerlukan penanganan segera (Potter & Perry, 2021). Penanganan demam
secara umum bertujuan untuk menurunkan suhu tubuh, mencegah terjadinya
komplikasi seperti dehidrasi dan kejang, serta memulihkan rasa nyaman pasien
melalui tindakan non-farmakologis dan farmakologis (WHO, 2021).
2. Klasifikasi Demam
Menurut Walter et al., 2016 klasifikasi demam dapat dibedakan
berdasarkan derajat peningkatan suhu tubuh.
a.
Demam derajat rendah (low-grade fever) berada pada rentang
suhu 38,1–39°C,
b.
demam derajat sedang (moderate-grade fever) berada pada
rentang 39,1–40°C,
c.
sedangkan demam derajat tinggi (high-grade fever) berada
pada rentang 40,1–41°C.
d.
Suhu tubuh lebih dari 41°C disebut hiperpireksia dan dapat
berhubungan dengan kondisi yang serius sehingga memerlukan evaluasi dan
penanganan segera.
3.
Etiologi
Menurut Balli et al., 2023 demam dapat
disebabkan oleh berbagai kondisi, baik infeksi maupun noninfeksi. Secara umum,
etiologi demam meliputi:
a. Infeksi –
merupakan penyebab demam yang paling sering, seperti infeksi bakteri, virus,
jamur, dan parasit. Infeksi akan merangsang respons imun dan pelepasan sitokin
pirogenik yang meningkatkan set point hipotalamus sehingga suhu tubuh
meningkat
b. Penyakit
inflamasi atau autoimun – proses peradangan pada tubuh dapat menyebabkan
pelepasan mediator inflamasi seperti IL-1, IL-6, dan TNF-α yang berperan dalam
terjadinya demam.
c. Keganasan –
beberapa penyakit kanker, terutama leukemia dan limfoma, dapat menyebabkan
demam melalui respons inflamasi dan pelepasan sitokin oleh sel tumor maupun
sistem imun.
d. Reaksi obat –
penggunaan obat tertentu dapat menyebabkan demam sebagai respons terhadap obat
atau reaksi hipersensitivitas terhadap obat tersebut.
e. Kerusakan
jaringan – trauma, pembedahan, nekrosis jaringan, atau kondisi lain yang
menyebabkan kerusakan sel dapat memicu respons inflamasi dan meningkatkan suhu
tubuh.
f.
Gangguan sistem saraf pusat – gangguan yang
memengaruhi pusat pengaturan suhu, seperti cedera atau perdarahan otak, dapat
menyebabkan peningkatan suhu tubuh.
4.
Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis demam merupakan tanda dan
gejala yang muncul akibat peningkatan suhu tubuh serta respons tubuh terhadap
penyebab demam. Beberapa manifestasi klinis yang dapat ditemukan antara lain (Balli
et al., 2023):
a. Peningkatan
suhu tubuh
Suhu tubuh meningkat di atas batas normal dan merupakan tanda
utama terjadinya demam
b. Menggigil
Pasien dapat mengalami menggigil sebagai respons tubuh untuk meningkatkan
produksi panas ketika set point hipotalamus meningkat
c. Kulit terasa hangat dan
kemerahan
Setelah suhu tubuh mencapai set point baru, vasodilatasi
perifer dapat menyebabkan kulit terasa hangat dan tampak kemerahan.
d. Berkeringat
Keringat dapat muncul ketika tubuh mulai menurunkan suhu
kembali menuju normal. Pengeluaran keringat membantu tubuh melepaskan panas
melalui evaporasi.
e. Takikardia
Peningkatan suhu tubuh dapat disertai peningkatan denyut
jantung karena kebutuhan metabolisme dan sirkulasi tubuh meningkat.
f.
Takipnea
Frekuensi pernapasan dapat meningkat sebagai respons terhadap
peningkatan kebutuhan metabolisme dan produksi panas tubuh.
g. Lemah dan malaise
Pasien dapat mengeluhkan tubuh lemas, tidak nyaman, mudah
lelah, dan mengalami penurunan kemampuan melakukan aktivitas.
h. Sakit kepala
Demam dapat disertai keluhan sakit kepala dan rasa tidak
nyaman secara umum.
i.
Penurunan nafsu makan
Pasien yang mengalami demam sering mengalami penurunan nafsu
makan, terutama apabila demam disertai infeksi.
j.
Dehidrasi
Demam dapat meningkatkan kehilangan cairan melalui keringat
dan peningkatan penguapan sehingga pasien berisiko mengalami kekurangan cairan,
terutama jika asupan cairan tidak mencukupi (WHO, 2024).
k. Perubahan tingkat kesadaran
pada demam berat
Pada peningkatan suhu yang sangat tinggi, pasien dapat
mengalami kebingungan, perubahan kesadaran, kejang, atau gangguan neurologis
dan memerlukan penanganan segera (WHO, 2024).
5.
Patofisiologi
Masuknya agen penyebab
penyakit memicu pelepasan pirogen eksogen yang kemudian merangsang sel fagosit
melepaskan pirogen endogen berupa sitokin (IL-1, IL-6, TNF-α) (Dinarello &
Gelfand, 2005). Sitokin mencapai hipotalamus dan memicu sintesis prostaglandin
E₂ yang mengangkat titik acuan suhu tubuh ke tingkat yang lebih tinggi
(Sherwood, 2012). Karena suhu tubuh dianggap terlalu rendah, tubuh berusaha
menaikkan suhu melalui penyempitan pembuluh darah tepi serta kontraksi otot
rangka atau menggigil guna menghasilkan panas (Guyton & Hall, 2013). Setelah
penyebab mereda, produksi prostaglandin menurun sehingga titik acuan kembali
normal, pembuluh darah melebar, dan pasien berkeringat banyak untuk membuang
panas (Potter & Perry, 2021). Seluruh proses fisiologis ini berlangsung
tidak nyaman bagi pasien, sehingga menimbulkan masalah Gangguan Rasa Nyaman
(Nurachmah & Gayatri, 2020).
6.
Komplikasi
Demam yang tidak ditangani dengan tepat, berlangsung lama,
atau mencapai tingkat yang sangat tinggi dapat menimbulkan berbagai komplikasi
yang memengaruhi fungsi organ dan keseimbangan tubuh pasien. Komplikasi
tersebut muncul akibat peningkatan laju metabolisme tubuh, kehilangan cairan
dan elektrolit berlebih, serta beban kerja organ-organ vital yang meningkat
(Potter & Perry, 2021). Berikut komplikasi yang dapat terjadi:
a. Dehidrasi dan
Ketidakseimbangan Elektrolit
b. Kejang
c. Kelelahan dan penurunan
kesadaran
d. Gangguan sistem
kardiovaskular
e. Gangguan nutrisi dan
pemulihan yang tertunda
f.
Hipertermi
g. Gangguan rasa nyaman
7.
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan demam pada prinsipnya ditujukan untuk mengidentifikasi
dan mengatasi penyebab yang mendasari demam, mempertahankan
keseimbangan cairan, meningkatkan kenyamanan pasien, serta mencegah terjadinya
komplikasi. Demam bukan merupakan indikasi pemberian antibiotik secara langsung
sehingga terapi harus disesuaikan dengan penyebab infeksi atau kondisi medis yang
mendasarinya (WHO, 2013).
a. Identifikasi
dan terapi penyebab demam
Pasien dengan demam perlu dilakukan anamnesis, pemeriksaan
fisik, dan pemeriksaan penunjang sesuai indikasi untuk menentukan penyebab
demam. Setelah penyebab diketahui, terapi diberikan sesuai penyakit yang
mendasari, misalnya antibiotik pada infeksi bakteri yang telah terindikasi,
antimalaria pada malaria, atau terapi spesifik lainnya sesuai diagnosis medis
b. Pemberian
antipiretik
Antipiretik diberikan terutama apabila demam menyebabkan
ketidaknyamanan, bukan semata-mata untuk menormalkan suhu tubuh. Parasetamol
merupakan salah satu antipiretik yang dapat digunakan untuk menurunkan suhu dan
meningkatkan kenyamanan pasien
c. Kompres atau
metode fisik
Metode fisik untuk menurunkan suhu perlu digunakan secara
tepat. Pada kondisi tertentu, mandi atau kompres dengan air hangat/suam-suam
kuku dapat digunakan untuk meningkatkan kenyamanan, sedangkan penggunaan air
yang sangat dingin tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan menggigil dan meningkatkan
produksi panas tubuh.
d. Pemantauan kondisi pasien
Suhu tubuh dan tanda-tanda vital perlu dipantau secara
berkala untuk menilai perkembangan kondisi pasien dan respons terhadap terapi.
Selain suhu, perlu diperhatikan tingkat kesadaran, status hidrasi, frekuensi
nadi dan pernapasan, tekanan darah, jumlah urine, serta munculnya tanda-tanda
perburukan.
e.
Pemberian terapi sesuai kondisi klinis pasien
Pada pasien dengan demam akibat infeksi tertentu, terapi
tidak hanya berfokus pada penurunan suhu, tetapi juga pada pengobatan penyakit
yang mendasarinya. Pada infeksi saluran pernapasan berat, misalnya,
penatalaksanaan dapat mencakup pemantauan, pemeriksaan laboratorium, terapi
oksigen, antimikroba, dan terapi suportif sesuai derajat keparahan penyakit
(WHO, 2022)
8.
Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan darah lengkap
b. Pemeriksaan hitung jenis
leukosit
c. Pemeriksaan CRP (C-Reactive
Protein)
d. Pemeriksaan elektrolit
e. Pemeriksaan mikrobiologi
sesuai dugaan penyakit
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1.
Pengkajian
Pengkajian adalah langkah
awal dari tahapan proses keperawatan, yang harus memperhatikan data dasar dari
pasien untuk mendapatkan informasi yang diharapkan. Pengkajian dilakukan pada
(individu, keluarga, komunitas) terdiri dari data objektif dari pemeriksaan
diagnostic serta sumber lain. Pengkajian individu terdiri dari riwayat
kesehatan (data subyektif) dan pemeriksaan fisik (data objektif). Tahap
pengkajian dari proses keperawatan merupakan proses dinamis yang terorganisasi,
dan meliputi empat aktivitas dasar atau elemen dari pengkajian yaitu
pengumpulan data secara sistematis, memvalidasi data, memilah, dan mengatur
data dan mendokumentasikan data dalam format. Metode utama dalam pengumpulan
data adalah wawancara, observasi, dan pemeriksaan fisik seta diagnostic.
Pegkajian meliputi:
a. Identitas
pasien
Meliputi nama nomor RM
umur jenis kelamin pendidikan alamat pekerjaan asuransi kesehatan agama Suku
bangsa tanggal dan jam masuk rumah sakit nomor registrasi serta diagnosa medis.
b. Keluhan
utama
Keluhan utama pada
gangguan sistem pernapasan penting untuk mengenal tanda serta gejala
c. Riwayat
Keperawatan
1. Riwayat
Penyakit Sekarang
Riwayat kesehatan sekarang Pengkajian
riwayat kesehatan sekarang pada sistem pernapasan seperti menanyakan riwayat
penyakit sejak timbulnya keluhan hingga klien meminta pertolongan misalnya,
Sejak kapan keluhan sesak nafas dirasakan, Berapa lama dan berapa kali keluhan
tersebut terjadi. Setiap keluhan utama harus ditanyakan kepada klien dengan
sedetail-detailnya dan semua diterangkan pada riwayat kesehatan sekarang..
b. Riwayat
Penyakit Dahulu
Riwayat kesehatan dahulu Perawat
menanyakan tentang penyakit yang pernah dialami klien sebelumnya yang dapat
mendukung serta masalah sistem pernapasan misalnya Apakah klien pernah dirawat
sebelumnya dengan sakit apa Apakah pernah mengalami sakit yang berat pengobatan
yang pernah dijalani dan riwayat alergi.
c. Riwayat
Penyakit Keluarga
Pengkajian riwayat kesehatan keluarga
pada sistem pernapasan adalah hal yang mendukung keluhan penderita perlu dicari
riwayat keluarga yang dapat memberikan diposisi keluhan seperti adanya riwayat
sesak napas batuk dalam jangka waktu lama sekutum berlebih dari generasi
terdahulu.
b. Pemeriksaan
Fisik
Pemeriksaan fisik sangat
penting dalam pengumpulan data. Ada empat cara dalam pemeriksaan fisik yaitu
inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi. Untuk dapat informasi tentang
masalah kesehatan yang potensial. Pada pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan
secara sistematis mulai dari kepala sampai kaki atau head to toe.
a) Inspeksi,
pengumpulan data melalui melihat, mengobservasi, mendengar, atau mencium.
Misalnya keadaan luka dapat dilihat adanya kemerahan, adanya granulasi, pus,
luka kering atau lembab, panjang luka, dan kedalaman luka. Pasien dengan asma
dapat terdengar bunyi wheezing walau tanpa menggunakan stetoskop. Perawat dapat
pula mengidentifikasi adanya bau gangrene, bau keton pada pernapasan pasien
dengan ketoasidasis. Adanya pucat, sianosis, warna kulit, pasien sulit
bernapas, adanya pernapasan cuping hidung, atropi bagian tubuh, dan 17
kelainankelainan lain yang dapat dilihat menggunakan teknik pemeriksaan
inspeksi.
b) Auskultasi,
pemeriksaan fisik dengan menggunakan alat untuk mendengar seperti stetoskop.
Misalnya auskultasi bunyi jantung dapat diidentifikasi adanya bunyi bunyi
jantung, I, II, III atau IV, bunyi bising jantung, murmur, gallop. Pemeriksaan
bising usus, paru-paru juga dapat diidentifikasi dengan auskultasi misalnya
bunyi rales, bronkial, vesikuler, dan ronkhi.
c) Palpasi,
teknik ini dapat digunakan untuk mengumpulkan data misalnya, untuk menentukan
adanya kelembutan, tenderness, sensasi, suhu tubuh, massa tumor, edema, dan
nyeri tekan.
d) Perkusi,
yaitu pemeriksaan dengan cara mengetok bagian tubuh yang diperiksa. Teknik ini
dapat mengidentifikasi adanya kelembutan, nyeri ketok, menentukan adanya massa
atau infiltrate, menentukan adanya perubahan bunyi organ, seperti bunyi
timpani, dullness, flat.
Ø Tanda-tanda
Vital
1) Tekanan
darah
2) Nadi
3) Pernafasan
4) Suhu
2. Diagnosa Keperawatan
1.
D.0130 Hipertermia
Berhubungan Dengan Proses Penyakit
2.
D.0005 Pola Nafas
Tidak Efektif Berhubungan Dengan Posisi Tubuh Yang Menghambat Ekspansi Paru
3.
D.0074 Rasa Nyaman
Berhubungan Dengan Hipertermia
4.
D. 0001 Bersihan jalan
nafas tidak efektif berhubungan dengan sekresi yang berlebihan
3. Intervensi
Intervensi keperawatan adalah segala
treatment yang dikerjakan oleh perawat yang didasarkan pada pengetahuan dan
penilaian klinis untuk mencapai luaran atau outcome yang diharapkan (Tim Pokja
SIKI DPP PPNI, 2018). Intervensi keperawatan pada kasus pneumonia berdasarkan
buku standar intervensi keperawatan Indonesia sebagai berikut:
|
No |
Diagnosa |
Tujuan dan Kriteria Hasil |
Intervensi |
|
1 |
Hipertermia (D.0130) |
Tujuan: setelah dilakukan
tindakan keperawatan diharapkan termoregulasi membaik L.14134 Kriteria hasil: L.14134 1)
Takikardi menurun 2)
Takipnea menurun 3)
suhu tubuh membaik 4)
suhu kulit membaik 5)
tekanan darah membaik |
Manajemen Hipertermia
(1.15506) Observasi : ·
Identifikasi
penyebab hipertermia ·
Monitor
suhu tubuh ·
Monitor
kadar elektrolit ·
Monitor
haluaran urine ·
Monitor
komplikasi akibat hipertermia Terapeutik ·
Sediakan
lingkungan yang dingin ·
longgarkan
atau lepaskan pakaian ·
Basahi dan
kipasi permukaan tubuh ·
Berikan cairan
oral ·
Ganti linen
setiap hari atau lebih sering jika mengalami ·
hiperhidrosis
(keringat berlebih) ·
Lakukan
pendinginan eksternal (mis. kompres dingin pada dahi, leher, dada, abdomen,
dan aksilia) ·
Berikan
oksigen, jika perlu Edukasi ·
Anjurkan tirah
baring Kolaborasi ·
Kolaborasi
pemberian cairan dan elektrolit intravena, jika perlu |
|
2 |
Pola Napas Tidak Efektif (D.0005) |
Tujuan : setelah dilakukan
tindakan keperawatan diharapkan pola nafas membaik
Kriteria hasil: L.01004 1) Kapasitas vital meningkat 2) Tekanan ekspirasi
meningkat 3) Tekanan inspirasi
meningkat 4) Dispnea menurun Penggunaan otot bantu nafas menurun 5) Pernafasan cuping hidung
menurun 6) Frekuensi nafas
membaik 7) Kedalaman nafas
membaik 8) Ekskursi dada membaik |
Manajemen jalan nafas 1.01011
Observasi ·
Monitor
pola nafas (frekuensi, kedalaman, usaha nafas) ·
Monitor
bunyi nafas tambahan (misalnya gurgling, mengi, wheezing, ronki) ·
Monitor
sputum (jumlah, warna, aroma) Terapeutik ·
Posisikan
semi-fowler atau fowler ·
Berikan
minum hangat ·
Lakukan
fisioterapi dada, jika perlu ·
Lakukan
penghisapan lendir kurang dari 15 detik ·
Berikan
oksigen, jika perlu Edukasi ·
Anjurkan
asupan cairan 2000 ml/hari, jika tidak kontraindikasi ·
Ajarkan
teknik batuk efektif Kolaborasi ·
Kolaborasi pemberian
bronkodilator, ekspektoran, mukolitik. jika perlu |
|
3 |
Gangguan rasa nyaman D.0074 |
|
|
|
4. |
Bersihan jalan nafas tidak efektif (D.0001) |
Tujuan: setelah dilakukan
tindakan keperawatan diharapkan bersihan jalan nafas meningkat L.01001 Kriteria hasil:
L.01001 1)
Batuk efektif meningkat 2)
Produksi sputum menurun 3)
Mengi menurun 4)
Wheezing menurun 5)
Dispnea menurun 6)
Sianosis menurun 7)
frekuensi nafas membaik 8)
pola nafas membaik |
Latihan batuk efektif
1.01006 Observasi ·
Identifikasi kemampuan batuk ·
Monitor adanya retensi sputum ·
Monitor tanda dan gejala infeksi saluran nafas ·
Monitor input dan output cairan (mis. jumlah dan karakteristik) Terapeutik ·
Atur posisi semi-fowler atau fowler ·
Pasang perlak dan bengkok di pangkuan pasien ·
Buang sekret pada tempat sputum
Edukasi ·
Jelaskan tujuan dan prosedur batuk efektif ·
Anjurkan tarik nafas dalam melalui hidung selama 4 detik, ditahan
selama 2 detik, kemudian keluarkan dari mulut dengan bibir mecucu
(dibulatkan) selam 8 detik ·
Anjurkan tarik nafas dalam hingga 3 kali Anjurkan batuk dengan kuat langsung
setelah tarik nafas dalam yang ke-3 Kolaborasi ·
Kolaborasi pemberian mukolitik atau ekspektoran, jika perlu |
4. Implementasi
Pelaksanaan
keperawatan adalah serangkain kegiatan yang dilakukan oleh perawat untuk
membantu klien dari masalah status kesehatan yang dihadapi, status kesehatan
yang baik yaitu menggambarkan kriteria yang diharapkan. Proses pelaksanaan
implementasi harus berpusat
kepeda kebutuhan klien,
faktor-faktor lain yang mempengaruhi kebutuhan keperawatan
strategi implementasi keperawatan dan kegiatan komunikasi (Mulyanti, 2017).
Implementasi merupakan tahapan dari pelaksanaan
intervensi setelah perencanaan dirumuskan Implementasi yang dapat diberikan
seperti promosi kesehatan, perawatan akut, perawatan restiratif dan
bekelanjutan.
5. Evaluasi
Evaluasi adalah tindakan intelektual
yang melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa
keperawatan, rencana tindakan, dan pelaksanaan sudah berhasil dicapai. Tujuan
evaluasi adalah untuk melihat kemampuan klien dalam mencapai tujuan, evaluasi
yang dilakukan mengacu pada luaran yang telah ditetapkan ditahap perencanaan
(Depkes RI, 2011).
Evaluasi terdiri dari 2 macam yaitu yang
pertama evaluasi formatif yaitu hasil observasi dan analisa perawat terhadap
respon pasien segera pada saat setelah dilakukan tindakan keperawatan dan
ditulis pada catatan perawat, lalu yang kedua yaitu evaluasi sumatif adalah
rekapitulasi dan kesimpulan dari observasi dan analisa status kesehatan sesuai
waktu pada tujuan dan ditulis pada catatan perkembangan dengan pendekatan SOAP.
System penulisan pada tahap evaluasi dengan menggunakan SOAP, yaitu : S : Subjektif,
yaitu data yang diutarakan klien dan pandangannya terhadap data tersebut
(Nursalam, 2015).
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN
Demam merupakan
peningkatan suhu tubuh yang umumnya terjadi sebagai respons tubuh terhadap
infeksi atau proses inflamasi. Demam dapat menimbulkan berbagai manifestasi
klinis seperti tubuh terasa panas, kulit hangat dan kemerahan, berkeringat,
menggigil, peningkatan frekuensi nadi dan pernapasan, lemas, serta
ketidaknyamanan. Oleh karena itu, diperlukan pengkajian secara menyeluruh untuk
mengetahui penyebab, tingkat keparahan, status hidrasi, dan kondisi umum
pasien.
Dalam asuhan
keperawatan, masalah utama yang dapat muncul pada pasien dengan demam adalah hipertermia
(D.0130). Penatalaksanaan keperawatan berfokus pada pemantauan suhu
dan tanda-tanda vital, pemantauan status cairan, pengaturan lingkungan,
pemberian cairan sesuai kondisi pasien, peningkatan kenyamanan, serta
kolaborasi pemberian antipiretik dan terapi medis untuk mengatasi penyebab
demam.
DAFTAR PUSTAKA
Alodokter. (2025). Demam-Penyebab dan Penanganannya.
Diakses September 2026 dari: https://www.alodokter.com
Balli, S., Shumway, K. R.,
& Sharan, S. (2023). Physiology, Fever. StatPearls. Treasure Island (FL):
StatPearls Publishing. NCBI Bookshelf – Physiology, Fever
Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. (2011). Pedoman Pelaksanaan Proses Keperawatan. Jakarta:
Depkes RI.
Dinarello, C. A., &
Gelfand, J. A. (2005). Fever: Pathogenesis and Management. Journal of Clinical
Investigation, 115(5), 1197–1205.
Evans, L., Rhodes, A., Alhazzani, W,. (2021). Surviving Sepsis Campaign:
International guidelines for management of sepsis and septic shock 2021. Intensive
Care Medicine, 47, 1181–1247.
Guyton, A. C., & Hall, J. E. (2013). Buku Ajar Fisiologi
Kedokteran (Edisi ke-13). Jakarta: EGC.
Halodoc. (2026). Tanda Demam:
Cek Ciri-ciri dan Kapan Perlu ke Dokter. Diakses September 2026 dari:
https://www.halodoc.com
Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia. (2020). Pedoman Penatalaksanaan Demam di Pelayanan
Kesehatan Tingkat Pertama. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Nurachmah, E., & Gayatri,
P. J. (2020). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah: Manajemen Klinis Standar
(Edisi Revisi). Jakarta: EGC.
Nurachmah, E., & Gayatri,
P. J. (2020). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah: Manajemen Klinis Standar
(Edisi Revisi). Jakarta: EGC.
Nurarif, A. H., & Kusuma,
H. (2015). Keperawatan Medikal Bedah: Konsep, Proses, dan Praktik Keperawatan.
Jakarta: Salemba Medika.
Nursalam. (2015). Konsep dan
penerapan proses keperawatan (Ed. 5). Jakarta: Salemba Medika.
Potter, P. A., & Perry,
A. G. (2021). Buku Ajar Keperawatan: Konsep, Proses, dan Praktik (Edisi ke-9).
Jakarta: EGC.
Setiati, S., dkk. (2019).
Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam (Edisi ke-6). Jakarta: Interna Publishing.
Sherwood, L. (2012). Fisiologi
Manusia dari Sel ke Sistem (Edisi ke-6). Jakarta: EGC.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI,
(2016), Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Edisi 1, Jakarta, PersatuanPerawat
Indonesia
Tim Pokja SIKI DPP PPNI,
(2018), Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), Edisi 1, Jakarta,
Persatuan Perawat Indonesia
Tim Pokja SLKI DPP PPNI,
(2018), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), Edisi 1, Jakarta, Persatuan
Perawat Indonesia
Walter, E. J., Hanna-Jumma, S., Carraretto, M., & Forni, L. (2016).
The pathogenesis and pathophysiology of fever. Critical Care, 20, 200.
World Health Organization.
(2021). Management of Fever in Under-Fives: A Practical Guide. Geneva:
WHO.
World Health Organization.
(2024). Heatwaves: How to stay cool. WHO. WHO – Heatwaves: How to stay coo
Komentar
Posting Komentar