DOWNLOAD LAPORAN PENDAHULUAN KEBUTUHAN DASAR MANUSIA (GANGGUAN ELIMINASI) PADA KASUS BPH

 

LAPORAN PENDAHULUAN KEBUTUHAN DASAR MANUSIA

(GANGGUAN ELIMINASI) PADA KASUS BPH

 

BAB I

TINJAUAN PUSTAKA

 

A.    Defenisi

Eliminasi merupakan proses pembuangan sisa-sisa metabolisme tubuh. Pembuangan ini dapat melalui urine ataupun bowel (Wartonah, 2012). bergantung pada fungsi- fungsi organ eliminasi urine seperti ginjal, ureter, bladder, dan uretra (Wartonah, 2014).

Gangguan eliminasi merupakan keadaan ketika individu mengalami atau berisiko mengalami disfungsi eliminasi (Carpenito, 2013).

1. Gangguan Eliminasi Urin

Gangguan eliminasi urin adalah keadaan dimana seorang individu mengalami atau berisiko mengalami disfungsi eliminasi urine. Biasanya orang yang mengalami gangguan eliminasi urin akan dilakukan kateterisasi urine, yaitu tindakan memasukan selang kateter ke dalam kandung kemih melalui uretra dengan tujuan mengeluarkanurine.

2. Gangguan Eliminasi Fekal

Gangguan eliminasi fekal adalah keadaan dimana seorang individu mengalami atau berisiko tinggi mengalami statis pada usus besar, mengakibatkan jarang buang air besar, keras, feses kering. Untuk mengatasi gangguan eliminasi fekal biasanya dilakukan huknah, baik huknah tinggi maupun huknah rendah. Memasukkan cairan hangat melalui anus sampai ke kolon desenden dengan menggunakan kanulrekti.

Masalah-masalah pada Gangguan Eliminasi

a.       Retensi

Adanya penumpukan urine didalam kandung kemih dan ketidak sanggupan kandung kemih untuk mengosongkandiri.

b.      Inkontinensi urine

Ketidaksanggupan sementara atau permanen otot sfingter eksterna untuk mengontrol keluarnya urine dari kandung kemih.

c.       Enuresis

Sering terjadi pada anak-anak, umumnya terjadi pada malam hari (nocturnal enuresis), dapat terjadi satu kali atau lebih dalam semam.

d.      Urgency adalah perasaan seseorang untuk berkemih.

e.       Dysuria adanya rasa sakit atau kesulitan dalamberkemih.

f.        Polyuria

Produksi urine abnormal dalam jumlah besar oleh ginjal, seperti 2.500 ml/hari, tanpa adanya peningkatan intakecairan.

g.      Urinari suppresi

Berhenti mendadak produksi urine Masalah eliminasi fekal yang sering ditemukan yaitu:

h.      Konstipasi

merupakan gejala, bukan penyakit yaitu menurunnya frekuensi BAB disertai dengan pengeluaran feses yang sulit, keras, dan mengejan. BAB yang keras dapat menyebabkan nyeri rektum. Kondisi ini terjadi karena feses berada di intestinal lebih lama, sehingga banyak airdiserap.

i.        Impaction

merupakan akibat konstipasi yang tidak teratur, sehingga tumpakan feses yang keras di rektum tidak bisa dikeluarkan. Impaction berat, tumpukan feses sampai pada kolonsigmoid.

j.        Diare

merupakan BAB sering dengan cairan dan feses yang tidak berbentuk. Isi intestinal melewati usus halus dan kolon sangat cepat. Iritasi di dalam kolon merupakan faktor tambahan yang menyebabkan meningkatkan sekresi mukosa. Akibatnya feses menjadi encer sehingga pasien tidak dapat mengontrol dan menahanBAB.

k.      Inkontinensia fecal

Suatu keadaan tidak mampu mengontrol BAB dan udara dari anus, BAB encer dan jumlahnya banyak. Umumnya disertai dengan gangguan fungsi spingter anal, penyakit neuromuskuler, trauma spinal cord dan tumor spingter anal eksternal. Pada situasi tertentu secara mental pasien sadar akan kebutuhan BAB tapi tidak sadar secara fisik. Kebutuhan dasar pasien tergantung pada perawat.

l.        Flatulens

Menumpuknya gas pada lumen intestinal, dinding usus meregang dan distended, merasa penuh, nyeri dan kram. Biasanya gas keluar melalui mulut (sendawa) atau anus (flatus). Hal-hal yang menyebabkan peningkatan gas di usus adalah pemecahan makanan oleh pakteri yang menghasilkan gas metan, pembusukan di usus yang menghasilkan CO2.

B.     Etiologi

1. Gangguan Eliminasi Urin

a.       Intake cairan  

Jumlah dan type makanan merupakan faktor utama yang mempengaruhi output urine atau defekasi. Seperti protein dan sodium mempengaruhi jumlah urine yang keluar, kopi meningkatkan pembentukan urine intake cairan dari kebutuhan, akibatnya output urine lebihbanyak.

b.       Aktivitas

Aktifitas sangat dibutuhkan untuk mempertahankan tonus otot. Eliminasi urine membutuhkan tonus otot kandung kemih yang baik untuk tonus sfingter internal dan eksternal. Hilangnya tonus otot kandung kemih terjadi pada masyarakat yang menggunakan kateter untuk periode waktu yang lama. Karena urine secara terus menerus dialirkan keluar kandung kemih, otot-otot itu tidak pernah merenggang dan dapat menjadi tidak berfungsi. Aktifitas yang lebih berat akan mempengaruhi jumlah urine yang diproduksi, hal ini disebabkan karena lebih besar metabolisme tubuh.

c.       Obstruksi; batu ginjal, pertumbuhan jaringan abnormal, striktururethra

d.      Infeksi

e.       Kehamilan

f.        Penyakit; pembesaran kelenjar ptostat

g.      Trauma sumsum tulang belakang

h.      Operasi pada daerah abdomen bawah, pelviks, kandung kemih, urethra.

i.        Umur

j.        Penggunaan obat-obatan

k.      Gangguan Eliminasi Fekal

a. Pola diet tidak adekuat/tidaksempurna:

Makanan adalah faktor utama yang mempengaruhi eliminasi feses.

Cukupnya selulosa, serat pada makanan, penting untuk memperbesar volume feses. Makanantertentu pada beberapa orang sulit atau tidak bisa dicerna. Ketidakmampuan ini berdampak pada gangguan pencernaan, di beberapa bagian jalur dari pengairan feses. Makan yang teratur mempengaruhi defekasi. Makan yang tidak teratur dapat mengganggu keteraturan pola defekasi. Individu yang makan pada waktu yang sama setiap hari mempunyai suatu keteraturan waktu, respon fisiologi pada pemasukan makanan dan keteraturan pola aktivitas peristaltik dicolon.

b. Cairan

Pemasukan cairan juga mempengaruhi eliminasi feses. Ketika pemasukan cairan yang adekuat ataupun pengeluaran (cth: urine, muntah) yang berlebihan untuk beberapa alasan, tubuh melanjutkan untuk mereabsorbsi air dari chyme ketika ia lewat di sepanjang colon. Dampaknya chyme menjadi lebih kering dari normal, menghasilkan feses yang keras. Ditambah lagi berkurangnya pemasukan cairan memperlambat perjalanan chyme di sepanjang intestinal, sehingga meningkatkan reabsorbsi cairan dari chyme

c. Meningkatnya stress psikologi

Dapat dilihat bahwa stres dapat mempengaruhi defekasi. Penyakit- penyakit tertentu termasuk diare kronik, seperti ulcus pada collitis, bisa jadi mempunyai komponen psikologi. Diketahui juga bahwa beberapa orang yang cemas atau marah dapat meningkatkan aktivitas peristaltik dan frekuensi diare. Ditambah lagi orang yang depresi bisa memperlambat motilitas intestinal, yang berdampak pada konstipasi

d. Kurang aktifitas, kurang berolahraga, berbaringlama.

Pada pasien immobilisasi atau bedrest akan terjadi penurunan gerak peristaltic dan dapat menyebabkan melambatnya feses menuju rectum dalam waktu lama dan terjadi reabsorpsi cairan feses sehingga feses mengeras

e. Obat-obatan

Beberapa obat memiliki efek samping yang dapat berpengeruh terhadap eliminasi yang normal. Beberapa menyebabkan diare; yang lain seperti dosis yang besar dari tranquilizer tertentu dan diikuti dengan prosedur pemberian morphin dan codein, menyebabkan konstipasi.

f. Usia

Umur tidak hanya mempengaruhi karakteristik feses, tapi juga pengontrolannya. Anak-anak tidak mampu mengontrol eliminasinya sampai sistem neuromuskular berkembang, biasanya antara umur 2 3 tahun. Orang dewasajuga mengalami perubahan pengalaman yang dapat mempengaruhi proses pengosongan lambung. Di antaranya adalah atony (berkurangnya tonus otot yang normal) dari otot-otot polos colon yang dapat berakibat pada melambatnya peristaltik dan mengerasnya (mengering) feses, dan menurunnya tonus dari otot-otot perut yagn juga menurunkan tekanan selama proses pengosongan lambung.

g. Penyakit-penyakit seperti obstruksi usus, paralitik ileus, kecelakaan pada spinal cord dantumor.

Cedera pada sumsum tulang belakan dan kepala dapat menurunkan stimulus sensori untuk defekasi. Gangguan mobilitas bisa membatasi kemampuan klien untuk merespon terhadap keinginan defekasi ketika dia tidak dapat menemukan toilet atau mendapat bantuan. Akibatnya, klien bisa mengalami konstipasi. Atau seorang klien bisa mengalami fecal inkontinentia karena sangat berkurangnya fungsi dari spinkterani

Faktor predisposisi/Faktorpencetus

Respon keinginan awal untuk berkemih ataudefekasi.

1.      Beberapa masyarakat mempunyai kebiasaan mengabaikan respon awal untuk berkemih atau defekasi. Akibatnya urine banyak tertahan di kandung kemih. Begitu pula dengan feses menjadi mengeras karena terlalu lama di rectum dan terjadi reabsorbsi cairan.

2.      Gayahidup.

3.      Banyak segi gaya hidup mempengaruhi seseorang dalam hal eliminasi urine dan defekasi. Tersedianya fasilitas toilet atau kamar mandi dapat mempengaruhi frekuensi eliminasi dan defekasi. Praktek eliminasi keluarga dapat mempengaruhi tingkah laku.

4.      Stress psikologi

5.      Meningkatnya stress seseorang dapat mengakibatkan meningkatnya frekuensi keinginan berkemih, hal ini karena meningkatnya sensitif untuk keinginan berkemih dan atau meningkatkan jumlah urine yang di reproduksi.

6.      Tingkat perkembangan.

7.      Tingkat perkembangan juga akan mempengaruhi pola berkemih. Pada wanita hamil kapasitas kandung kemihnya menurun karena adanya tekanan dari fetus atau adanya lebih sering berkemih. Pada usia tua terjadi penurunan tonus otot kandung kemih dan penurunan gerakan peristaltik intestinal.

8.      Kondisi Patologis.

9.      Demam dapat menurunkan produksi urine (jumlah & karakter).

10.  Obat-obatan, diuretiik dapat meningkatkan output urine. Analgetik dapat terjadi retensiurine.

C.    Manifestasi Klinis

1. Tanda gangguan eliminasi urine

a. Retensi Urin

Ø  Ketidak nyamanan daerah pubis.

Ø  Distensi dan ketidaksanggupan untuk berkemih.

Ø  Urine yang keluar dengan intake tidak seimbang.

Ø  Meningkatnya keinginan berkemih dan resah

Ø  Ketidaksanggupan untuk berkemih

b. Inkontinensiaurin

Ø  pasien tidak dapat menahan keinginan BAK sebelum sampai di W

Ø   pasien sering mengompol.

Ø  Tanda Gangguan Eliminasi Fekal

a. Konstipas

1. Menurunnya frekuensi BAB

2. Pengeluaran fese, yang sulit, keras, dan mengejan

3. Nyeri rectum

b. Impaction

1. Tidak BAB

2. Anoreksia

3. Kembung/Kram

4. Nyeri rectum

c. Diare

1). BAB sering dengan cairan dan feses yang tidak berbentuk

2). Isi intestinal melewati usus halus dan kolon sangat cepat

3). Iritasi di dalam kolon merupakan faktor tambahan yang menyebabkan meningkatkan sekresi mukosa.

4). Feses menjadi encer sehingga pasien tidak dapat mengontrol dan menahan BAB.

d. Inkontinensia Fekal

1. Tidak mampu mengontrol BAB dan udara dari anus,

2. BAB encer dan jumlahnya banyak

3. Gangguan fungsi spingter anal, penyakit neuromuskuler, trauma spinal cord dan tumor spingter anal eksternal

e. Flatulens

1. Menumpanya gas pada lumen intestinal,

2. Dinding usus meregang dan distended, merasa penuh, nyeri dan kram.

3. Biasanya gas keluar melalui mulut (sendawa) atau anus(flatus)

f. Hemoroid

1. pembengkakan vena pada dindingrectum perdarahan jika dinding pembuluh darah vena meregang

2. merasa panas dan gatal jika terjadi inflamasi

3. Nyeri

D.    fisiologi

1. Ginjal

Ginjal merupakan organ retroperitoneal yang berperan sebagai pengatur komposisi dan volume cairan dalam tubuh serta penyaring darah untuk dibuang dalam bentuk urine sebagai zat sisa yang tidak diperlukan oleh tubuh dan menahannya agar tidak bercampur dengan zat zat yang tidak diperlukan oleh tubuh. Pada bagian ginjal terdapat nefron yang merupakan unit dari struktur ginjal dan melalui nefron ini urine disalurkan ke dalam bagian pelvis ginjal, kemudian disalurkan melalui ureter ke kandung kemih.

2. Kandung kemih

Kandung kemih merupakan kantong yang terdiri atas otot halus yang berfungsi menampung urine. Dalam kandung kemih terdapat lapisan Jaringan otot yang paling dalam disebut dekstrusor, berfungsi mengeluarkan urine hila terjadi kontraksi. Dalam kandung kemih juga terdapat lapisan tengah jaringan otot berbentuk lingkaran bagian dalam yang disebut otot lingkar yang berfungsi menjaga saluran antara kandung kemih dengan uretra, sehingga uretra dapat menyalurkan urien dari kandung kemih ke luar tubuh

3. Uretre

Uretra merupakan oragan yang berfungsi menyalurkan urine ke bagian luar Fungsi uretra pada wanita berbeda dengan fungsi uretra pada pria. Pada pria uretra digunakan sebagai tempat pengaliran urine dan sistem reproduksi, berukuran panjang 13,7 16,2 cm, dan terdiri atas tiga bagian, yaitu prostat, selaput (membran) dan bagian yang berongga (ruang) Pada wanita, uretra memiliki panjang 3,7-6,2 cm dan hanya berfungsi sebagai tempat menyalurkan urine ke bagian luar nubuh. Berkemih adalah proses pengosongan vesika urinaria kandung kemih). Proses ini dimulai dengan terkumpulnya urine dalam vesika urinaria yang merangsang saraf-saraf sensorik dalam dinding vesika urinaria (bagian reseptor). Mekanisme berkemih terjadi karena vesika urinaria berisi urine yang dapat menimbulkan rangsangan, melalui medula spinalis dihantarkan ke pusat pengontrol berkemih yang terdapat di korteks serebral, kemudian otak memberikan impuls / rangsangan melalui medulla spinalis ke neuromotoris di daerah sakral, serta terjadi koneksasi otot detrusor dan relaksasi otot sfingter internal Komposist urine

1)      Air (96%)

2)      Lanitan (4%)

3)      Larutan organik Urea, ammonia, kreatin, dan urine acid.

4)      Lanitan anorganik Natrium (sodium), klorida, kallum (potastum), sulfat, magnesium dan fosfor. Natrium klorida merupakan garam anorganik yang paling banyak.

E.     Patofisiologi

1. Gangguan eliminasi urine

Gangguan pada eliminasi sangat beragam seperti yang telah dijelaskan di atas. Masing-masing gangguan tersebut disebabkan oleh etiologi yang berbeda. Pada pasien dengan usia tua, trauma yang menyebabkan cedera medulla spinal, akan menyebabkan gangguan dalam mengkontrol urin/ inkontinensia urin. Gangguan traumatik pada tulang belakang bisa mengakibatkan kerusakan pada medulla spinalis. Lesi traumatik pada medulla spinalis tidak selalu terjadi bersama-sama dengan adanya fraktur atau dislokasi. Tanpa kerusakan yang nyata pada tulang belakang, efek traumatiknya bisa mengakibatkan efek yang nyata di medulla spinallis. Cedera medulla spinalis (CMS) merupakan salah satu penyebab gangguan fungsi saraf termasuk pada persyarafan berkemih dandefekasi.

Komplikasi cedera spinal dapat menyebabkan syok neurogenik dikaitkan dengan cedera medulla spinalis yang umumnya dikaitkan sebagai syok spinal. Syok spinal merupakan depresi tiba-tiba aktivitas reflex pada medulla spinalis (areflexia) di bawah tingkat cedera. Dalam kondisi ini, otot- otot yang dipersyarafi oleh bagian segmen medulla yang ada di bawah tingkat lesi menjadi paralisis komplet dan fleksid, dan refleks-refleksnya tidak ada. Hal ini mempengaruhi refleks yang merangsang fungsi berkemih dan defekasi. Distensi usus dan ileus paralitik disebabkan oleh depresi refleks yang dapat diatasi dengan dekompresi usus (Brunner & Suddarth, 2002). Hal senada disampaikan Sjamsuhidajat (2004), pada komplikasi syok spinal terdapat tanda gangguan fungsi autonom berupa kulit kering karena tidak berkeringat dan hipotensi ortostatik serta gangguan fungsi kandung kemih dan gangguan defekasi.

Proses berkemih melibatkan 2 proses yang berbeda yaitu pengisian dan penyimpanan urine dan pengosongan kandung kemih. Hal ini saling berlawanan dan bergantian secara normal. Aktivitas otot-otot kandung kemih dalam hal penyimpanan dan pengeluaran urin dikontrol oleh sistem saraf otonom dan somatik. Selama fase pengisian, pengaruh sistem saraf simpatis terhadap kandung kemih menjadi bertekanan rendah dengan meningkatkan resistensi saluran kemih. Penyimpanan urin dikoordinasikan oleh hambatan sistem simpatis dari aktivitas kontraktil otot detrusor yang dikaitkan dengan peningkatan tekanan otot dari leher kandung kemih dan proksimal uretra.

Pengeluaran urine secara normal timbul akibat dari kontraksi yang simultan otot detrusor dan relaksasi saluran kemih. Hal ini dipengaruhi oleh sistem saraf parasimpatis yang mempunyai neurotransmiter utama yaitu asetilkholin, suatu agen kolinergik. Selama fase pengisian, impuls afferen ditransmisikan ke saraf sensoris pada ujung ganglion dorsal spinal sakral segmen 2-4 dan informasikan ke batang otak. Impuls saraf dari batang otak menghambat aliran parasimpatis dari pusat kemih sakral spinal. Selama fase pengosongan kandung kemih. hambatan pada aliran parasimpatis sakral dihentikan dan timbul kontraksi otot detrusor.

Hambatan aliran simpatis pada kandung kemih menimbulkan relaksasi pada otot uretra trigonal dan proksimal. Impuls berjalan sepanjang nervus pudendus untuk merelaksasikan otot halus dan skelet dari sphincter eksterna. Hasilnya keluarnya urine dengan resistensi saluran yang minimal. Pasien post operasi dan post partum merupakan bagian yang terbanyak menyebabkan retensi urine akut. Fenomena i terjadi akibat dari trauma kandung kemih dan edema sekunder akibat tindakan pembedahan atau obstetri, epidural anestesi, obat-obat narkotik, peregangan atau trauma saraf pelvik, hematoma pelvik, nyeri insisi episiotomi atau abdominal, khususnya pada pasien yang mengosongkan kandung kemihnya dengan manuver Valsalva. Retensi urine pos operasi biasanya membaik sejalan dengan waktu dan drainase kandung kemih yang adekuat.

1)     Gangguan Eliminasi Fekal

Defekasi adalah pengeluaran feses dari anus dan rektum. Hal ini juga disebut bowel movement. Frekwensi defekasi pada setiap orang sangat bervariasi dari beberapa kali perhari sampai 2 atau 3 kali perminggu. Banyaknya feses juga bervariasi setiap orang. Ketika gelombang peristaltik mendorong feses kedalam kolon sigmoid dan rektum, saraf sensoris dalam rektum dirangsang dan individu menjadi sadar terhadap kebutuhan untuk defekasi.

Defekasi biasanya dimulai oleh dua refleks defekasi yaitu refleks defekasi instrinsik. Ketika feses masuk kedalam rektum, pengembangan dinding rektum memberi suatu signal yang menyebar melalui pleksus mesentrikus untuk memulai gelombang peristaltik pada kolon desenden, kolon sigmoid, dan didalam rektum. Gelombang ini menekan feses kearah anus. Begitu gelombang peristaltik mendekati anus, spingter anal interna tidak menutup dan bila spingter eksternal tenang maka feses keluar.

Refleks defekasi kedua yaitu parasimpatis. Ketika serat saraf dalam rektum dirangsang, signal diteruskan ke spinal cord (sakral 24) dan kemudian kembali ke kolon desenden, kolon sigmoid dan rektum. Sinyal - sinyal parasimpatis ini meningkatkan gelombang peristaltik, melemaskan spingter anus internal dan meningkatkan refleks defekasi instrinsik. Spingter anus individu duduk ditoilet atau bedpan, spingter anus eksternal tenang dengan sendirinya.

Pengeluaran feses dibantu oleh kontraksi otot-otot perut dan diaphragma yang akan meningkatkan tekanan abdominal dan oleh kontraksi muskulus levator ani pada dasar panggul yang menggerakkan feses melalui saluran anus. Defekasi normal dipermudah dengan refleksi paha yang meningkatkan tekanan di dalam perut dan posisi duduk yang meningkatkan tekanan kebawah kearah rektum. Jika refleks defekasi diabaikan atau jika defekasi dihambat secara sengaja dengan mengkontraksikan muskulus spingter eksternal, maka rasa terdesak untuk defekasi secara berulang dapat menghasilkan rektum meluas untuk menampung kumpulan feses. Cairan feses di absorpsi sehingga feses menjadi keras dan terjadi konstipasi.

F.     Klasifikasi

Pada kebutuhan eliminasi urine, masalah yang ada diantaranya

1.      Retensi Urine

Retensi urine merupakan penumpukan urine dalam kandung kemih alobat ketidakmampuan kandung kemih untuk mengosongkan isinya, sehingga menyebabkan distensi dari vesika urinaria.

2.      Inkontinensia Dorongan

Inkontinensia dorongan merupakan keadaan dimana seseorang mengalami pengeluaran urine tanpa sadar, terjadi segera setelah merasa dorongan yang kuat untuk berkemih.

3.      Inkontinensia Total

Inkontinensia total merupakan keadaan dimana seseorang mengalami pengeluaran urine yang terus menerus dan tidak dapat diperkirakan

4.      Inkontinensia Stress

Inkontinensis stress merupakan keadaan seseorang yang mengalami kehilangan urine kurang dari 50 ml, terjadi dengan peningkatan tekanan abdomen.

5.      Inkontinensia Refleks

Inkontinensia refleks merupakan keadaan dimana seseorang mengalami pengeluaran urine yang tidak dirasakan, terjadi pada interval yang dapat diperkirakan bila volume kandung kemih mencapai jumlah tertentu.

6.      Enuresis

Enuresis merupakan ketidaksanggupan menahan kemih (mengompol) yang diakibatkan tidak mampu mengontrol sfingter eksterna. Ini banyak terjadi pada anak atau orang jompo, umumnya pada malam hari.

G.    Penatalaksanaan

A. Penatalaksanaan Klinis

1.      Monitor atau observasi perubahan faktor, tanda gejala terhadap masalah

perubahan eliminasi urine dan inkontinensia

2.      Monitor terus perubahan retensi urine

3.      Lakukan kateterisasi urine

4.      Kurangi faktor yang memengaruhi/ penyebab masalah

B. Penatalaksanaan medis

1.      Monitor atau observasi perubahan faktor, tanda gejala terhadap masalah perubahan eliminasi urine dan inkontinensia

2.      Monitor terus perubahan retensi urine

3.      Lakukan kateterisasi urine

4.      Kurangi faktor yang memengaruhi/ penyebab masalah

C. Penatalaksanaan Klinis

    Kebutuhan eliminasi urine

a.       Pengumpulan Unine untuk Bahan Pemeriksaan Cara pengambilan urine antara lain: pengambilan urine biasa, pengambilan urine steril, dan pengumpulan selama 24 jam.

1)      Pengambilan urine biasa

2)      Pengambilan urine steril

3)      Pengambilan urine selama 24 jam

b.      Menggunakan Urinal Untuk Berkemih

c.       Melakukan Katetensasi

d.      Memasang Kondom Kateter

e.       Pembedahan (Aziz Alimul Hidayat)

H.    Komplikasi

Gangguan eliminasi dapat terjadi pada eliminasi fekal maupun eliminasi urin. Pada gangguan eliminasi fekal, komplikasi yang dapat terjadi antara lain konstipasi, impaksi fekal, hemoroid, fisura ani, serta gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit pada kondisi diare. Konstipasi dapat menyebabkan feses menjadi keras dan sulit dikeluarkan serta dapat disertai distensi dan nyeri abdomen. Jika berlangsung lama, feses dapat mengalami penumpukan dan menyebabkan impaksi fekal (Ernstmeyer & Christman, 2024).

Pada gangguan eliminasi urin, komplikasi dapat berupa distensi kandung kemih, sisa urin (residual urine), infeksi saluran kemih, serta gangguan integritas kulit. Retensi urin menyebabkan kandung kemih tidak dapat dikosongkan secara sempurna dan dapat ditandai dengan rasa penuh pada kandung kemih, berkemih dalam jumlah sedikit, frekuensi berkemih meningkat, serta urin yang menetes. Sementara itu, inkontinensia urin dapat menyebabkan kulit sering terpapar urin sehingga meningkatkan risiko iritasi dan kerusakan kulit (Ernstmeyer & Christman, 2024).

I.       Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan IVP (Intravenous pyelogram)

    Dengan membatasi jumlah asupan dapat memengaruhi produksi urine

2. Pemeriksaan urine (urinalisis)

·         Warna (N: jernih kekuningan)

·         Penampilan (N: jernih)

·         Bau (N: beraroma)

·         Berat jenis (N: 1,005-1.030)

·         Glukosa (N: negatif)

·         Keton (N: negatif)

3. Kultur urine (N: kuman patogen negatif)

·         Pemeriksaan Penunjang

·         Pemeriksaan USG

·         Pemeriksaan fotorontgen

·         Pemeriksaan laboratorium urin danfeses

J.      Faktor Yang Mempengaruhi

1.      Diet dan Asupan (intake)

Jumlah dan tipe makanan merupakan faktor utama yang mempengaruhi output urine (jumlah urine). Protein dapat menentukan jumlah urine yang dibentuk.Selain itu, juga dapat meningkatkan pembentukan urine.

2.      Respon Keinginan Awal untuk Berkemih

Kebiasaan mengabaikan keinginan awal untuk berkemih dapat menyebabkan urine banyak tertahan di dalam urinaria sehingga memengaruhi ukuran vesika urinaria dan jumlah urine.

3.      Gaya Hidup

Perubahan gaya hidup dapat mempengaruhi pemenuhan kebutuhan eliminasi dalam kaitannya terhadap tersedianya fasilitas toilet.

4.      Stress Psikologis

Meningkatnya stres dapat mengakibatkan meningkatnya frekuensi keinginan berkemih. Hal ini karena meningkatnya sensitifitas untuk keinginan berkemih dan jumlah urine yangdiproduksi.

5.      Tingkat Aktivitas

Eliminasi urine membutuhkan tonus otot vesika urinaria yang bik untuk fungsi sfingter.Hilangnya tonus otot vesika urinaria menyebabkan kemampuan pengontrolan berkemih menurun dan kemampuan tonus otot didapatkan dengan beraktivitas.

6.      Tingkat Perkembangan

Tingkat pertumbuhan dan perkembangan juga dapat memengaruhi pola berkemih. Hal tersebut dapat ditemukan pada anak, yang lebih memiliki mengalami kesulitan untukmengontrol buang air kecil. Namun dengan usia yang semakin bertambah kemampuan dalam mengontrol buang airkecil semakin baik.

7.      Kondisi Penyakit

Kondisi penyakit dapat mempengaruhi produksi urine, seperti diabetes melitus.

8.      Sosiokultural Budaya

Dapat mempengaruhi pemenuhan kebutuhan eliminasi urine, sepertiadanya kulturpada masyarakat tertentu yang melarang untuk buang air kecil di tempat tertentu.

9.      Kebiasaan Seseorang

Seseorang yang memiliki berkemih mengalami kesulitan untuk berkemih dengan melaluiurineal/pot urine bila dalam keadaan sakit.

10.  Tonus otot

Tonus otot yang memiliki peran penting dalam membantu proses berkemih adalah ototkandung kemih, otot abdomen dan pelvis. Ketiganya sangat berperan dalam kontraksi pengontrolan pengeluaran urine.

11.  Pengobatan Pemberian

Tindakan pengobatan dapat berdampak pada terjadinya peningkatan atau penurunan proses perkemihan. Misalnya pemberian diuretik dapat meningkatkan jumlah urine, sedangkan pemberian obat antikolinergik dan antihipertensi dapat menyebabkan retensi urine.

12.  Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan diagnostik ini juga dapat mempengaruhi kebutuhan eliminasi urine, khususnya prosedur-prosedur yang berhubungan dengan tindakan pemeriksaan saluran kemih, yang dapat membatasi jumlah asupan sehingga mengurangi produksi urine. Selain itu tindakan sistoskopi dapat menimbulkan edema lokal pada uretra yang dapat mengganggu pengeluaranurine. (Alimul,2006)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1.      Pengkajian keperawatan

a.       Biodata

Identitas klien: nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, suku/ bangsa, pendidikan, pekerjaan, alamat dan nomorregister.

b.      Riwayat kesehatan

1)      Keluhan utama

2)      Riwayat kesehatan dulu

3)      Riwayat kesehatan sekarang

Menurut pola fungsi Gordon 1982, terdapat 11 pengkajian pola fungsikesehatan:

1.      Pola Persepsi dan Pemeliharaan Kesehatan

Pola akan menjadi fokus pengkajian, pada pola persepsi dan bedah yang pemeliharaan kesehatan kaji pasien mengenai:

1)      Apakah pasien pernah menjalani tindakandapat mengganggu pola berkemihnya?

2)      Apakah pasien pernah menderita penyakit yang mempengaruhi sistem urogenetalnya?

2.      Bola nutrisi

Pola ini akan menjadi fokus pengkajian, dalam pola nutrisi kajipasien mengenai:

1)      Pola makan

a.       Bagaimana nafsu makan pasien selama sakit?

b.      Apakah klien bergantung pada obat- obatan yang dapat mempengaruhi pola berkemihnya?

2)      Pola minum

a.       Berapakah frekuensi minum pasien selama sakit?

b.      Apakah minuman yang biasa dikonsumsi pasien?

c.       Adakah pantangan minuman selama pasien sakit?

d.      Jika ada, apa pengaruhnya bagi kesehatan pasien?

3.      Pola eliminasi

Pola ini akan menjadi fokus pengkajian, dalam pola eliminasi kajipasien mengenai:

1)      Pola berkemih

a.       Berapakah frekuensi urine pasien dalam sekali berkemih?,Kemudian berapakah frekuensi urin dalam 24 jam?

b.      Kapan saja pasien berkih dalam 24 jam?

c.       Bagaimana keluarnya saat berkemih?

d.      Apakah lancar atau tersedat-sedat?

e.       Bagaimana warna urin saat pasien berkemih?

f.        Apakah keruh atau kuning bening?

4.      Aktivitas dan Latihan

Pola ini akan menjadi fokus pengkajian, dalam pola aktivitas dan latihan kaji pasien mengenai

1)      Aktivitas sehari-hari

Apakah kegiatan yang paling sering lakukan dalam kesehariannya? Jika pasien sudah bekerja, jenis pekerjaan apakah itu? Apakah pasien bekerja didalam atau diluar ruangan?

2)      Plahraga

1)     Pola tidur

Bagaimanakah pola tidur pasien selama sakit? Yang digambarkan dengan pukul berapa pasien mulai tidur dan sampai pukul berapa pasien tidur saat malam han? Apakah pasien terbangun di malam hari karena keinginan berkemih?

2)     Frekuensi tidur

Bagaimana frekuensi tidur pasien selama sakit? Yang digambarkan dengan berapa lama pasien tidur malam?

3)     Intensitas tidur

4)     Sensori, Presepsi dan Kognitif Pola ini akan menjadi fokus pasien mengenai:

1) Apakah pasien mengalami nyeri saat berkemih? Jika iya, apakah nyeri yang dirasakar pasien mempengaruhi pola berkemih?

Jika iya, lakukan pengkajian dengan menggunakan:

P (provoking atau pemacu)

Q (quality atau kualitas)

factor yang memperparah atau meringankan nyen kualitas nyeri (misalnya, tumpul, tajam, merobek)

R (region atau daerah): daerah penjalaran nyeri

S (severity atau keganasan)

intensitasnya serangan, lamanya, frekuensi dan sebab

T (time atau waktu)

Konsep diri

Pola ini tidak menjadi focus pengkajian, dalam pola ini kaji pasien

mengenai:

1) Body image/gambaran diri

2) Rleperan

3) Identity identitas din

4) Self esteem/harga diri

5) Self ideals ideal diri (tidak menjadi focus pengkajian)

8. Seksual dan Repruduksi

Pola ini tidak menjadi focus pengkajian

9. Pola Peran Hubungan

Pola ini tidak menjadi focus pengkajian, pola peran hubungan pasien mengenar

1) Apakah pekerjaan pasien?

2) Bagaimanakah kualitas pekerjaan pasien?

3) Bagaimanakah pasien berhubungan dengan orang lain?

10. Manajemen Koping Setress

Pora ini akan menjadi fokus pengkajian, dalam pola ini kaji pasienmengenai

1) Apakah pasien mengalami stress yang berkepanjangan atau singkat?

2) Tetapkan stress apa yang dialami pasien serta bagaimana pasien menerimanya?

3) Koping apa yang pasien gunakan dalam menghadapi stress?

4) Bagaimana respon pasien terhadap stress? Positif atau negatif?

11. Sistem Nilai Dan Keyakinan Pola ini tidak menjadi focus pengkajian, pola ini menggambarkan bagaimana keyakinan serta spiritual klien terhadap penyakitnya

K.Diagnosa Keperawatan

Ø  Gangguan eliminasi urine

Ø  Risiko infeksi

Ø  Nyeri akut

Intervensi

No

Diagnosa

Tujuan dan kriteria hasil

Intervensi

1.

Gangguan Eliminasi Urine

Setelah dilakukan Tindakan keperawatan gangguan eliminasi urine dapat membaik dengan kriteria hasil :

Ø  Sensasi berkemih meningkat

Ø  Desakan kandung kemih menurun

Ø  Distensi kandung kemih menurun

Ø  Berkemih tidak tuntas menurun

Ø  Dysurian menurun

Manajemen Eliminasi Urine

Observasi

Ø  Identifikasi tanda dan gejala atau inkontensia urine

Ø  Identifikasi factor yang menyebabkan retensi atau inkontenesia urine

Ø  Monitor eliminasi urine (mis.frekuensi,konsistensi,aroma,volume, dan warna)

Terapeutik

Ø  Catat waktu dan haluran berkemih

Ø  Ambil sampel urine Tengah (midstream) atau kultur

Edukasi

Ø  Ajarkan tanda dan gejala infeksi saluran kemih

Kolaborasi

Ø  Kolaborasi pemberian obat supositoria uretra, jika perlu

2.

Risiko infeksi

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam, maka tingkat infeksi menurun, dengan kriteria hasil:

Ø  Demam menurun

Ø  Nyeri menurun

Ø  Bengkak menurun

Ø  Kadar sel darah putih membaik

Pencegahan Infeksi (I.14539)

Observasi

  • Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik

Terapeutik

  • Batasi jumlah pengunjung
  • Berikan perawatan kulit pada area edema
  • Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungan pasien
  • Pertahankan teknik aseptic pada pasien berisiko tinggi

Edukasi

  • Ajarkan cara mencuci tangan dengan benar
  • Ajarkan etika batuk
  • Ajarkan cara memeriksa kondisi luka atau luka operasi
  • Anjurkan meningkatkan asupan cairan

Kolaborasi

  • Kolaborasi pemberian imunisasi, jika perlu

 

3.

Nyeri akut

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam, maka tingkat nyeri menurun, dengan kriteria hasil:

Ø  Keluhan nyeri menurun

Ø  Meringis menurun

Ø  Gelisah menurun

Ø  Frekuensi nadi membaik

Manajemen Nyeri (I.08238)

Observasi

  • Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri
  • Identifikasi skala nyeri
  • Idenfitikasi respon nyeri non verbal
  • Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup
  • Monitor efek samping penggunaan analgetik

Terapeutik

  • Berikan Teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri (mis: TENS, hypnosis, akupresur, terapi music, biofeedback, terapi pijat, aromaterapi, Teknik imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin, terapi bermain)
  • Fasilitasi istirahat dan tidur

Edukasi

  • Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri
  • Jelaskan strategi meredakan nyeri
  • Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri

Kolaborasi

  • Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

Daftar pustaka

Ernstmeyer, K., & Christman, E. (Eds.). (2024). Nursing Fundamentals (2nd ed.). Open Resources for Nursing, Chippewa Valley Technical College. NCBI Bookshelf.

Costa, J. N. da, Botelho, M. L., Duran, E. C. M., Carmona, E. V., & Oliveira-Kumakura, A. R. de S. (2019). Conceptual and operational definitions for the nursing diagnosis “Urinary Retention.” International Journal of Nursing Knowledge, 30(1), 49–54. https://doi.org/10.1111/2047-3095.12196

Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik. Jakarta: DPP PPNI.

Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Eliminasi. Terdapat pada :http://911medical.blogspot.com/2007/06/asuhan-keperawatan-klien-dengan-masalah.html

Brunner & Suddarth2002. Keperawatan Medikal Bedah Vol 3. Enerbit Kedokteran EGC: Jakarta.

Hamawatiaj. 2010. Konsep Dasar Pemenuhan Kebutuhan Eliminasi Fekal

Terdapat pada: http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/03/14/konsep-dasar- pemenuhan-kebutuhan-climinasi-fecal

Septiawan, Catur E. 2008. Perubahan Pada Pola Urinarius. Terdapat pada: www.kiva.org

Supratman. 2000. askep Klien Dengan Sistem Perkemihan Andi Visi Kartika Retensi Urin Pospartum  Http.//www.jevuska.com 2007.04.19 rétensi-urine-post-partum

Siregar, c. Trisa, 2004, Kebutuhan Dasar Manusia Eliminasi BAB, Program Studi Ilmu Keprawatan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Johnson M., Meridean, M., Moorhead, 2000. NANDA, NIC, NOC. PENERBIT: MOSBY

PPNI (2018).Standar Intervensi Keperawatan Indonesia Definisi dan Tindakan Keperawatan, Edisi 1.Jakarta:DPP PPNI Keperawatan, Edisi 1.Jakarta:DPP PPNI

PPNI (2018).Standar Luaran Keperawatan Indonesia:Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan, Edisi 1.Jakarta:DPP PPNI

PPNI (2016). Standar Diagnostik Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik, Edisi 1.Jakarta: DPP PPNI https://studylibid.com/doc/4295865/lp-eliminasi



DOWNLOAD FILE

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOWNLOAD CONTOH SURAT LAMARAN DAPUR MBG

Download Undangan Tonjokan: Solusi Praktis dan Efisien untuk Pernikahan (Format MS. Word)

LAPORAN PENDAHULUAN DIARE