DOWNLOAD LAPORAN PENDAHULUAN KEBUTUHAN DASAR MANUSIA (GANGGUAN OKSIGENASI)
LAPORAN PENDAHULUAN KEBUTUHAN DASAR MANUSIA
(GANGGUAN OKSIGENASI) PADA KASUS ASMA
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.9 Konsep
Asuhan Keperawatan5
LAPORAN
PENDAHULUAN
1.1. Definisi
Oksigenasi merupakan proses penambahan oksigen (02) ke
dalam sistem tubuh baik itu bersifat kimia atau fisika. Oksigen ditambahkan
kedalam tubuh secara alami dengan cara bernapas. Pernapasan atau respirasi
merupakan proses pertukaran gas antara individu dengan lingkungan yang dilakukan
dengan cara menghirup udara untuk mendapatkan oksigen dari lingkungan dan
kemudian udara dihembuskan untuk mengeluarkan karbon dioksida ke lingkungan
(Saputra, 2013).
Oksigenasi adalah pemenuhan akan kebutuhan oksigen (02).
Kebutuhan fisiologis oksigenasi merupakan kebutuhan dasar manusia yang
digunakan untuk kelangsungan metabolisme sel tubuh, untuk mempertahankan
hidupnya, dan untuk aktivitas berbagai organ atau sel. Apabila lebih dari 4
menit orang tidak mendapatkan oksigen maka akan berakibat pada kerusakan otak
yang tidak dapat diperbaiki dan biasanya pasien akan meninggal. Kebutuhan
oksigenasi merupakan kebutuhan. dasar manusia yang di gunakan untuk
kelangsungan metabolisme sel tubuh mempertahankan hidup dan aktivitas berbagai
organ atau sel. Dalam keadaan biasa manusia membutuhkan sekitar 300 cc oksigen
setiap hari (24 jam) atau sekitar 0,5 cc tiap menit. Respirasi berperan dalam
mempertahakan kelangsungan metabolisme sel. Sehingga di perlukan fungsi
respirasi yang adekuat. Respirasi juga berarti gabungan aktifitas mekanisme
yang berperan dalam proses suplai O ke seluruh tubuh dan pembuangan CO² (hasil
pembakaran sel). Terapi oksigen merupakan salah satu terapi pernafasan dalam
mempertahankan oksigenasi (Tarwonto & Wartonah, 2006).
1.2. Etiologi
Kebutuhan tubuh terhadap oksigen tidak tetap, dalam waktu
tertentu membutuhkan oksigen dalam jumlah banyak karena suatu sebab.
Faktorfaktor yang mempengaruhi kebutuhan oksigen dalam tubuh antara lain
lingkungan, latihan fisik, emosi, gaya hidup, dan status kesehatan.
a.
Lingkungan
Saat
berada dilingkungan yang panas, tubuh akan merespon dan mengakibatkan
terjadinya vasodilatasi pembuluh darah perifer, akibatnya darah banyak mengalir
ke kulit. keadaan tersebut mengakibatkan panas banyak dikeluarkan melalui pori—pori
kulit. Respon tersebut mengakibatkan curah jantung meningkat dan kebutuhan
oksigen juga meningkat. Sebaliknya pada lingkungan dingin pembuluh darah
mengalami kontraksi dan terjadi penurunan tekanan darah sehingga menurunkan
kerja jantung dan kebutuhan oksigen juga menurun. Selain itu, tempat yang
tinggi juga mempengaruhi kebutuhan oksigen. Semakin tinggi tempat, maka semakin
sedikit kandunngan oksigennya.
b.
Latihan
Fisik
Latihan
fisik atau peningkatan aktivitas dapat meningkatkan denyut jantung dan respirasi
rate sehingga kebutuhan terhadap oksigen semakain tinggi.
c.
Emosi
Emosi
merupakan gejolak dalam jiwa yang biasanya diluapkan melalui bentuk perbuatan
yang tidak terkendali. Saat seseorang mengalami emosi, misalnya timbul rasa
takut, cemas dan marah, akan mempercepat denyut jantung sehingga kebutuhan
oksigen meningkat.
d.
Gaya
Hidup
Gaya
hidup mempengaruhi status oksigenasi, misalnya pada seseorang perokok dapat
memperburuk penyakit arteri koroner dan pembuluh darah arteri. Nikotin yang
terkandung dalam rokok dapat menyebabkan vasokontraksi pembuluh darah perifer
dan pembuluh darah koroner. Akibatnya suplai darah kejaringan menurun.
e.
Status
Kesehatan
Pada
orang yang mempunyai penyakit jantung ataupun penyakit pernafasan, dapat
mengalami kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan oksigen manunisa. Sebaliknya,
pada orang sehat, sistem kardiovaskuler dan sistem pernafasan berfungsi dengan
baik sehingga dapat memenuhi kebutuhan oksigen tubuh secara adekuat.
f.
Usia
Faktor
perkembangan merupakan pengaruh yang sangat pening dalam fungsi pernafasan.
Perubahan yang terjadi karena penuaan yang mempengaruhi sistem pernafasan
menjadi sangat penting jika sistem mengalami gangguan akibat perubahan seperti
infeksi, stress fisik, atau emosional, pembedahan, anastesi atau prosedur lain.
g.
Stress
Apabila
stress dan stressor dihadapi, baik respons psikologis maupun fisiologis dapat
mempengaruhi oksigenasi. Beberapa orang dapat mengalami hiperventilasi sebagai
respon terhadap stress. Apabila ini terjadi, PO2 arteri meningkat dan PCO2
menurun. Akibatnya, orang mengalami kunang-kunag, kesemutan pada jari tangan,
jari kaki, dan sekitar mulut.
1.3. Patofisiologi
Proses pertukaran gas
dipengaruhi oleh ventilasi, difusi dan trasportasi. Proses ventilasi (proses
penghantaran jumlah oksigen yang masuk dan keluar dari dan ke paru-paru),
apabila pada proses ini terdapat obstruksi maka oksigen tidak dapat tersalur
dengan baik dan sumbatan tersebut akan direspon jalan nafas sebagai benda asing
yang menimbulkan pengeluaran mukus. Proses difusi (penyaluran oksigen dari
alveoli ke jaringan) yang terganggu akan menyebabkan ketidakefektifan
pertukaran gas. Selain kerusakan pada proses ventilasi, difusi, maka kerusakan
pada transportasi seperti perubahan volume sekuncup, afterload, preload, dan kontraktilitas
miokard juga dapat mempengaruhi pertukaran gas (Brunner & Suddarth, 2002).
1.4.Manifestasi Klinis
Adanya penurunan tekanan inspirasi/
ekspirasi menjadi tanda gangguan oksigenasi. Penurunan ventilasi permenit,
penggunaaan otot nafas tambahan untuk bernafas, pernafasan nafas faring (nafas
cuping hidung), dispnea, ortopnea, penyimpangan dada, nafas pendek, nafas
dengan mulut, ekspirasi memanjang, peningkatan diameter anteriorposterior,
frekuensi nafas kurang, penurunan kapasitas vital menjadi tanda dan gejala
adanya pola nafas yang tidak efektif sehingga menjadi gangguan oksigenasi
Beberapa tanda dan gejala kerusakan pertukaran gas yaitu:
1. Suara napas tidak normal
2. Perubahan jumlah pernapasan
3. Batuk disertai dahak.
4. Penggunaan otot tambahan pernapasan.
5. Dispnea.
6. Penurunan haluaran urin.
7. Penurunan ekspansi paru
8. Takipnea.
1.5.Komplikasi
1. Hipoksia Merupakan
kondisi tidak tercukupinya pemenuhan kebutuhan oksigen dalam tubuh akibat
defisiensi oksigen.
2. Perubahan Pola Nafas
a. Takipnea, merupakan
pernafasan dengan frekuensi lebih dari 24x/ menit karena paru-paru terjadi
emboli.
b. Bradipnea, merupakan
pola nafas yang lambat abnormal, ± 10x/ menit.
c. Hiperventilasi,
merupakan cara tubuh mengompensasi metabolisme yang terlalu tinggi dengan
pernafasan lebih cepat dan dalam sehingga terjadi jumlah peningkatan 02 dalam
paru-paru.
d. Kussmaul, merupakan
pola pernafasan cepat dan dangkal
e. Hipoventilasi
merupakan upaya tubuh untuk mengeluarkan CO2 dengan cukup, serta tidak cukupnya
jumlah udara yang memasuki alveoli dalam penggunaan
f.
Dispnea, merupakan sesak dan berat saat
pernafasan.
g. Ortopnea, merupakan
kesulitan bernafas kecuali dalam posisi duduk atau berdiri
h. Stridor merupakan
pernafasan bising yang terjadi karena penyempitan pada saluran nafas
3. Obstruksi Jalan Nafas
Merupakan suatu kondisi pada individu
dengan pernafasan yang mengalami ancaman, terkait dengan ketidakmampuan batuk
secara efektif. Hal ini dapat disebabkan oleh sekret yang kental atau
berlebihan akibat infeksi, imobilisasi, serta batuk tidak efektif karena
penyakit persarafan.
4. Pertukaran Gas
Merupakan kondisi pada individu yang mengalami penurunan gas baik 02 maupun CO2
antara alveoli paru-paru dan sistem vaskular..
1.6.Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Medis
1. Pemantauan
Hemodinamika
2. Pengobatan
bronkodilator
3. Melakukan tindakan
delegatif dalam pemberian medikasi oleh dokter, misal: nebulizer, kanula nasal,
masker untuk membantu pemberian oksigen jika diperlukan.
4. Penggunaan ventilator
mekanik
5. Fisoterapi dada
Penatalaksanaan
Keperawatan
1. Bersihan jalan nafas
tidak efektif: Pembersihan jalan nafas, latihan batuk efektif, pengisapan
lendir, jalan nafas buatan
2. Pola nafas tidak
efektif: atur posisi pasien (semi fowler), pemberian oksigen, teknik bernafas
dan relaksasi
3. Defisit Pengetahuan :
ketidaktahuan mengenai penyakit.
1.7.Pemeriksaan
Diagnostik
1.8. Konsep Asuhan keperawatan
Oksigenasi
1.
Pengumpulan Data
1.
Identitas Klien
Identitas klien meliputi nama, umur, jenis
kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam
masuk rumah sakit, nomor register, diagnosis medis.
2.
Keluhan utama
Keluhan utama yang sering menjadi alasan
klien untuk meminta pertolongan kesehatan tergantung dari seberapa jauh dampak
trauma kepala disertai penurunan tingkat kesadaran, salah satunya nyeri
(Muttaqin, 2011).
3.
Riwayat Penyakit Sekarang
Adanya riwayat trauma yang mengenai kepala
akibat dari kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian, dan trauma langsung
ke kepala. Pengkajian yang didapat meliputi tingkat kesadaran menurun (GCS <
15), konklusi, muntah, takipnea/dispnea, sakit kepala, wajah simetris/tidak,
lemah, luka di kepala, paralisis, akumulasi sekret pada saluran pernapasan,
adanya liquor dari hidung dan telinga, serta kejang (Muttaqin, 2011).
4.
Riwayat Penyakit Dahulu
Berisi pengalaman penyakit sebelumnya, apakah memberi
pengaruh pada penyakit yang diderita sekarang, riwayat cedera kepala
sebelumnya, diabetes melitus, penyakit jantung, anemia, penggunaan obat-obatan
antikoagulan, aspirin, vasodilator, obat-obat adiktif, konsumsi alkohol
berlebihan (Muttaqin, 2011).
5.
Riwayat kesehatan keluarga
Perlu diketahui apakah ada anggota
keluarga lainnya yang menderita sakit yang sama seperti klien, dikaji pula
mengenai adanya penyakit keturunan yang menular dalam keluarga (Muttaqin,
2011).
6.
Pemeriksaan fisik
Dilakukan dengan cara inspeksi, palpasi,
perkusi, dan auskultasi terhadap berbagai sistem tubuh. Untuk mendapatkan
informasi tentang masalah kesehatan yang potensial.
Keadaan umum:
Keadaan umum meliputi penampilan umum,
postur tubuh, gaya bicara, mimik wajah.
Tanda-tanda vital:
Bertujuan untuk mengetahui keadaan tekanan
darah, nadi, pernafasan, suhu tubuh.
a) Kulit
Kaji keadaan kulit mengenai tekstur,
kelembaban, turgor, warna dan fungsi perabaan, pruritus, perubahan warna lain,
jerawat, erupsi, kering berlebih, selain itu perlu dikaji apakah ada sianosis.
b) Kepala
Kaji cedera lain seperti memar pada
kepala, periksa kebersihan dan keutuhan rambut.
c) Mata
Periksa mata untuk mengetahui ada tidaknya
nyeri tekan, kaji reflek cahaya, edema kelopak mata.
d) Hidung
Perdarahan hidung (epitaksis), kaji cairan
yang keluar dari hidung,ada tidaknya sumbatan.
e) Telinga
Kaji ada tidaknya sakit telinga, rabas,
bukti kehilangan pendengaran.
f) Mulut
Pernafasan mulut, perdarahan gusi, kaedaan
gigi, jumlah gigi, kaji kelembaban mukosa, warna mukosa bibir.
g) Tenggorokan
Sakit tenggorokan, kaji adanya kemerahan atau edema,
kaji ada tidaknya kesulitan dalam menelan, tersedak, serak atau
ketidakteraturan suara lain.
h) Leher
Kaji nyeri, keterbatasan gerak, kekakuan,
kesulitan menahan kepala lurus,
pembesaran tiroid, pembesaran nodus atau massa lain.
i) Dada
Kaji kesimetrisan bentuk dada, pembesaran
payudara, pembesaran nodus remaja, tanyakan tentang pemeriksaan payudara.
j) Inspeksi dada
Pada Pemeriksaan ini pemeriksa melihat
gerakan dinding dada, bandingkan kesimetrisan dinding dada kiri dan kanan.
Lihat adanya bekas luka, bekas operasi, atau adanya lesi. Perhatikan warna
kulit daerah dada.
Kaji pola pernafasan pasien, perhatikan
adanya retraksi interkosta, dan penggunaan otot bantu nafas.
i) Palpasi dada
Pada Pemeriksaan ini yang pertama
dilakukan oleh pemeriksa yaitu, meletakan tangan di atas kedua dinding dada.
Rasakankesimetrisan pengembangan dinding dada saat inspirasi dan ekspirasi.
Selanjutnya, rasakan adanya massa dan krepitasi (jika terjadi fraktur). Setelah
itu, lakukan Pemeriksaan taktil fremitus dengan cara letakan tangan diatas
dada, lalu minta pasien mengatakan “tujuh tujuh” atau “Sembilan Sembilan”.
Lakukan Pemeriksaan disemua lapang paru. Prinsip Pemeriksaan adalah getaran
suara akan merambat melalui udara yang ada dalam paru—paru (vibrasi) dan saat
bicara, getaran ini akan terasa dari luar dinding dada.
ii) Perkusi paru
Suara perkusi normal adalah suara perkusi
sonor, yaitu suara seperti bunyi “dug-dug”. Pemeriksaan ini dilakukan dengan
mengetuk pada seluruh lapang paru pada ruang interkosta (dilakukan di antara
dua kosta atau ICS ). Pada area jantungakan menghasilkan bunyi peka (ICS 3—5,
sebelah kiri. Hasil perkusi juga akan terdengar pekak pada daerah hepar dan
daerah payudara.
iii) Auskultasi
Auskultasi dilakukan dengan cara sebagai
berikut:
·
Anjurkan pasien untuk bernafas normal.
Setelah beberapa saat, letakan stetoskop pada ICS 2 kanan, minta pasien bernafas
panjang;
·
Bandingkan suara yang terdengar di lapang
paru kiri dan kanan; dan
·
Dengar apakah ada suara nafas tambahan di
semua lapang paru.
·
Suara nafas normal sebagai berikut :
1.
Vasikuler: suara ini terdengar halus.
Biasa didengar di lapang paru. Suara ini dihasilkan oleh perputaran udara dalam
alveoli (inspirasi > ekspirasi);
2.
Bronkovasikuler: suara ini biasa didengar
di ICS 1 dan 2 kiri dan kanan. Suara ini dihasilkan dari perputaran udara dari
saluran yang besar menuju saluran yang lebih kecil (inspirasi= ekspirasi); dan
3.
Bronkhial: suaranya terdengar kerasa dan
karas. suara ini dihasilkan dari perputaran udara melalui trakea (ekspirasi
> inspirasi).
k) Kardiovaskuler
Kaji warna konjungtiva, ada tidaknya
sianosis, warna bibir, adanya peningkatan tekanan vena jugularis, kaji bunyi
jantung pada dada, pengukuran tekanan darah, dan frekuensi nadi.
l) Adbomen
Kaji bentuk adbomen, keadaan luka, kaji
tanda-tanda infeksi, perkusi area abdomen.
m) Punggung dan bokong
Kaji bentuk punggung dan bokong, kaji
ekstremitas: CRT, turgor kulit, kekuatan otot, refleks bisep, trisep, refleks
patela, dan achiles.
n) Genitalia
Kaji kebersihan genitalia, kebiasaan BAK
o) Anus
Kaji BAB dan keadaan di area anus.
p) Sistem persyarafan
Kaji adanya penurunan sensasi sensori,
nyeri penurunan refleks, nyeri kepala, fungsi syaraf kranial dan fungsi
serebral, kejang, tremor.
q) Riwayat nutrisi
Untuk mendapatkan informasi tentang
keadekuatan masukan diet dan pola makan.
Pola aktivitas sehari-hari
Mengungkapkan pola aktivitas pasien
sebelum sakit dan sesudah sakit. Yang meliputi nutrisi, eliminasi, personal
hygene, istirahat tidur, aktivitas dan gaya hidup.
1) Data psikologis
Kemungkinan klien memperlihatkan kecemasan
terhadap penyakitnya, hal ini diakibatkan karena proses penyakit
yang lama dan kurangnya
pengetahuan tentang prosedur tindakan yang akan dilakukan. Kaji ungkapan pasien
tentang ketidakmampuan
koping, perasaan negatif tentang tubuh serta konsep diri klien
2) Data sosial
Perlu dikaji tentang keyakinan pasien
tentang kesembuhannya dihubungkan dengan agama yang dianut pasien dan bagaimana
persepsi pasien terhadap penyakitnya, bagaiman aktifitas pasien selama
menjalani perawatan di rumah sakit dan siapa yang menjadi pendorong atau
pemberi motivasi untuk kesembuhan.
3) Riwayat seksual
Untuk mendapatkan informasi tentang
masalah dan atau aktivitas orang muda dan adanya data yang berhubungan dengan
aktivitas seksual.
4) Data spiritual
Perlu dikaji tentang persepsi pasien
terhadap dirinya sehubungan dengan kondisi sekitarnya, hubungan pasien dengan
perawat, dokter dan tim kesehatan lainnya. Biasanya pasien akan ikut serta
dalam aktifitas sosial atau menarik diri dari interaksi sosial terutama jika
sudah terjadi komplikasi fisik seperti anemia, ulkus, gangren dan gangguan
penglihatan.
5) Data penunjang
a. Laboratorium
Dengan pemeriksaan darah akan diketahui
apakah infeksi muncul atau tidak.
b. Terapi
Dengan terapi dapat diketahui pemberian
terapi yang akan diberikan.
4.
Analisa Data
Analisa data dalah kemampuan mengkaitkan
data dan menghubungkan data tersebut dengan konsep, teori dan prinsip yang
relevan untuk membuat kesimpulan dalam memnentukan masalah kesehatan dan
keperawatan klien.
5.
Diagnosis Keperawatan
1. bersihan jalan napas
tidak efektif berhubungan dengan :
2. Pola nafas tidak
efektif berhubungan dengan :
3. Gangguan pertukaran
gas
4. Intoleransi aktivitas
6.
Perencanaan
Rencana perawatan adalah hubungan antara
menentukan kebutuhan klien dan memberikan perawatan. Oleh karena itu,
perencanaan perawatan merupakan petunjuk tertulis yang menguraikan secara
akurat rencana tindakan yang akan dilakukan pada klien berdasarkan diagnosis keperawatan
sesuai dengan kebutuhan klien. Melalui keterlibatan klien yang optimal, rencana
perawatan dikembangkan dan perawatan dilaksanakan, sehingga tercipta kolaborasi
yang saling mendukung dalam memenuhi kebutuhan klien dan mencapai tujuan
perawatan. Rencana asuhan pada diagnosis keperawatan diatas adalah sebagai
berikut
|
NO |
DIAGNOSA KEPERAWATAN (SDKI) |
TUJUAN DAN KRITERIA HASIL (SLKI) |
INTERVENSI KEPERAWATAN (SIKI) |
|
1 |
Bersihan jalan napas
tidak efektif Definisi: Ketidakmampuan membersihkan secret atau obstruksi
jalan napas untuk mempertahankan jalan napas teta paten. Penyebab Fisiologis 1. Spasme jalan napas 2.
Hipersekresi jalan
napas 3.
Disfungsi neuromuskuler 4.
Benda asing
dalam jalan napas. 5.
Adanya jalan napas buatan 6.
Sekresi yang tertahan 7.
Hyperplasia
dinding jalan napas 8.
Proses
infeksi 9.
Respon
alergi 10. Efek agen farmakologis (mis. Anastesi) Situasional 11. Merokok aktif 12. Merokok pasif 13. Terpajan polutan |
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam diharapkan klien menunjukkan jalan
napas bersih dengan Kriteria Hasil: Bersihan
Jalan napas (L. 01001) 1.
Batuk efektif menurun 2.
Produksi sputum meningkat 3.
Mengi menurun 4.
Wheezing menurun 5.
Meconium menurun 6.
Sianosis menurun 7.
Gelisah mrnurun 8.
Frekuensi napas membaik 9.
Pola napas membaik |
Observasi 1.
Mengidentifikasi kemampuan batuk 2.
Memonitor adanya retensi sputum 3.
Memonitor tanda dan gejala infeksi
saluran napas 4.
Memonitor input dan output cairan Terapeutik 1.
Mengatur posisi semi fowler atau
fowler 2.
Memasang perlak dan bengkok di
pangkulan pasien 3.
Membuang secret pada tempat sampah Edukasi 1.
Menjelaskan tujuan dan prosedur batuk
efektif 2.
Menganjurkan tarik napas melalui
hidung selama 4 detik,ditahan selama 2 detik,kemudian keluarkan dari mulut
dengan bibir mecucu(dibulatkan) selama 8 detik 3.
Menganjurkan mengulangi tarik napas
dalam hingga 3 kali 4.
Menganjurkan batuk dengan kuat
langsung setelah tarik napas dalam yang ke 3 Kolaborasi 1.
Kolaborasi pemberian mukolitik atau
ekspektoran |
|
2 |
Pola
napas tidak efektif 1. Kelelahan
otot pernapasan 2. Penurunan
energi 3. Adanya
obstruksi jalan napas 4. Nyeri
saat bernapas 5. Gangguan
dinding dada atau diafragma 6. Kecemasan |
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan 3 × 24 jam diharapkan klien menunjukkan pola
napas efektif dengan Kriteria Hasil: Pola Napas (L. 02001) 1. Irama
napas teratur 2. Frekuensi
napas dalam batas normal 3. Penggunaan
otot bantu pernapasan menurun 4. Dispnea
berkurang 5. Ekspansi
dada simetris 6. Gelisah
menurun |
Observasi 1. Monitor
frekuensi, irama, kedalaman napas 2. Monitor
penggunaan otot bantu napas 3. Monitor
adanya dispnea atau sesak Terapeutik 1. Atur
posisi semi Fowler atau Fowler tinggi 2. Anjurkan
teknik pernapasan diafragma dan bibir mengerucut 3. Kolaborasi
pemberian oksigen bila perlu Edukasi 1. Ajarkan
teknik relaksasi untuk mengurangi cemas 2. Edukasi
cara mengontrol pola napas dengan benar |
|
3 |
Gangguan
pertukaran gas 1. Ketidakseimbangan
ventilasi dan perfusi 2. Penurunan
luas permukaan alveoli 3. Penumpukan
cairan pada alveoli (edema paru, pneumonia) 4. Atelektasis 5. Emboli
paru |
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan 3 × 24 jam diharapkan klien menunjukkan
pertukaran gas adekuat dengan Kriteria Hasil: Pertukaran Gas (L. 03001) 1. Saturasi
oksigen membaik (SpO₂ > 95% atau sesuai target) 2. Tidak
ada sianosis 3. Frekuensi
napas dalam batas normal 4. Bunyi
napas tambahan menurun 5. Tanda
vital stabil 6. Gelisah
berkurang |
Observasi 1. Monitor
tanda-tanda hipoksia (SpO₂, sianosis, gelisah) 2. Monitor
analisa gas darah bila tersedia 3. Monitor
pola napas dan bunyi napas Terapeutik 1. Posisikan
pasien semi Fowler atau Fowler tinggi 2. Kolaborasi
pemberian oksigen sesuai indikasi 3. Lakukan
fisioterapi dada bila perlu 4. Bantu
latihan batuk efektif dan napas dalam Edukasi 1. Edukasi
pentingnya menjaga jalan napas terbuka 2. Ajarkan
teknik napas dalam untuk meningkatkan oksigenasi |
7.
Implementasi
Pada tahap ini
melibatkan penerapan dan rencana asuhan perawatan yang ditetapkan yang
bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pasien secara optimal. Implementasi mengacu
pada pengelolaan dan implementasi rencana perawatan yang dibuat selama tahap
perencanaan (Muttaqin, 2015).
8.
Evaluasi
Tahap ini merupakan langkah terakhir dalam proses
keperawatan. Evaluasi adalah aktivitas terencana dan berkelanjutan yang
melibatkan klien, pengasuh, dan anggota tim lainnya. Hal ini memerlukan
pengetahuan tentang kesehatan, patofisiologi, dan strategi penilaian. Tujuan
evaluasi adalah untuk menilai apakah tujuan rencana perawatan telah tercapai
atau tidak (Muttaqin, 2015)
DAFTAR PUSTAKA
Adam, R. D., &
Victor, M. (2014). Prinsip Neurologi Klinis. Jakarta: EGC.Ambarwati, A.
(2014). Keperawatan
Dasar: Konsep dan Aplikasi. Yogyakarta: Nuha Medika.
Ariani, D. (2014). Asuhan Keperawatan pada
Pasien Stroke. Jakarta: Salemba Medika.
Atoilah, D. (2019). Konsep Mobilitas Fisik dan
Imobilitas. Bandung: Refika Aditama.
Esther, M. (2014). Patofisiologi Stroke
Iskemik.
Surabaya: Airlangga University Press.
Muttaqin, A. (2015). Buku Ajar Keperawatan
Medikal Bedah: Gangguan Sistem Saraf. Jakarta: Salemba Medika. Padila. (2015). Buku Ajar Keperawatan
Medikal Bedah. Yogyakarta: Nuha Medika.
SDKI. (2017). Standar Diagnosis
Keperawatan Indonesia. Jakarta: PPNI.
Tarwoto, & Wartonah.
(2013). Keperawatan
Medikal Bedah: Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta: Salemba Medika.
Tarwoto, & Wartonah.
(2015). Keperawatan
Medikal Bedah: Gangguan Sistem Saraf. Jakarta: Salemba Medika.
Wulandari, S. (2018). Manifestasi Klinis
Gangguan Mobilitas Fisik. Malang: Universitas Brawijaya Press.
Komentar
Posting Komentar