DOWNLOAD LAPORAN PENDAHULUAN BERSIHAN JALAN NAFAS TIDAK EFEKTIF
![]()
LAPORAN PENDAHULUAN
BERSIHAN JALAN NAFAS TIDAK EFEKTIF
![]()
![]()
A.
Pengertian
Bersihan
jalan nafas tidak efektif adalah ketidakmampuan membersihkan sekret atau
obstruksi jalan napas untuk mempertahankan jalan napas yang paten (PPNI, 2017).
Ketidakefektifan
bersihan jalan napas adalah ketidakmampuan membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran napas untuk
mempertahankan jalan napas (NANDA, 2018).
Bersihan
jalan nafas tidak efektif merupakan suatu keadaan ketika seorang individu
mengalami suatu ancaman yang nyata atau potensial pada status pernafasan sehubungan dengan ketidakmampuan untuk batuk secara efektif (Capenito, 2013).
Kesimpulannya
bersihan jalan napas tidak efektif adalah suatu keadaan seserang mengalami
ketidakmampuan membersihkan secret atau obstruksi jalan napas untuk
mempertahankan jalan napas yang paten.
Effusi
pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat penumpukan cairan dalam rongga pleura berupa transudate dan eksudat yang
diakibatkan
terjadinya ketidakseimbangan antara produksi dan absorbs dikapiler dan pleura
viseralis (Muttaqin, 2014).
Efusi
pleura merupakan suatu keadaan dimana terjadi akumulasi cairan pleura yang abnormal
dalam rongga pleura akibat transudasi atau eksudasi yang berlebihan (Medical
Science, Nusantara Medical Science Jurnal, 2018).
Efusi
pleura adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang terletak antara
permukaan visceral dan parietal, proses penyakit primer jarang terjadi tetapi
biasanya merupakan penyakit sekunder terhadap penyakit lain (Huda, 2015).
Kesimpulan.effusi
pleura adalah keadaan dimana terdapat penumpukan cairan dalam rongga pleura
baik berupa transudate atau eksudat.
B.
Batasan Karakteristik
1.
Gejala dan Tanda Mayor
a. Subjektif:
-
b. Objektif:
1)
Batuk tidak efektif
2)
Tidak mampu batuk
3)
Sputum berlebih
4)
Mengi, wheezing,
dan atau ronkhi kering
5)
Mekonium di jalan napas (pada neonataus)
2.
![]()
Gejala dan Tanda Minor
a.
Subjektif
1)
Dispnea
2)
Sulit bicara
3)
Ortopnea
b.
Objektif
1)
Gelisah
2)
Sianosis
3)
Bunyi napas menurun
4)
Frekuensi napas berubah
5)
Pola napas berubah
3.
Tanda dan Gejala
1)
Dada sakit
2)
Kesulitan bernafas (dyspnea)
3)
Turunnya suara pernafasan pada auskultasi
4)
Demam karena infeksi
5)
Denyut jantung
dan respirasi berubah; tekanan
darah turun
6)
Saturasi oksigen
rendah (Mary DiGiolio,
2014).
C.
Faktor yang berhubungan
1.
Fisiologis
a.
Spasme jalan napas
b.
Hipersekresi jalan napas
c.
Disfungsi neuromuskuler
d.
Benda asing dalam jalan napas
e.
Adanya jalan napas buatan
f.
Sekresi yang tertahan
g.
Hiperplasia dinding jalan napas
h.
Proses infeksi
i.
Respom alergi
j.
Efek agen farmakologis (mis.anastesi)
2.
Situasional
a.
Merokok aktif
b.
Merokok pasif
c.
Terpajan polutan
Effusi pleura adalah akumulasi
cairan pleura akibat peningkatan kecepatan produksi cairan, penurunan kecepatan pengeluaran cairan atau keduanya, ini disebabkan oleh satu dari lima mekanisme
berikut, (Morton, 2012) :![]()
![]()
1.
Peningkatan tekanan
pada kapiler subpleura atau limfatik
2.
Peningkatan permeabilitas kapiler
3.
Penurunan tekanan
osmotic koloid darah
4.
Peningkatan tekanan
negative intrapleura
5.
Kerusakan drainase
limfatik ruang pleura Penyebab effusi pleura secara umum :
1)
Infeksi
a.
Tuberculosis
b.
Pneumonitis
c.
Abses paru
d.
Periorasi esophagus
e.
Abses sufrenik
2)
Non infeksi
a.
Karsinoma paru
b.
Karsinoma pleura;primer, sekunder
c.
Karsinoma mediastinum
d.
Tumor ovarium
e.
Bendungan jantunng;gagal jantung, pericarditis konstriktiva
f.
Gagal
hati
g.
Gagal ginjal
h.
Hipotiroidisme
i.
Emboli paru
D.
Patofisiologi
Didalam rongga pleura terdapat
kurang lebih 5 ML cairan yang cukup untuk membasahi seluruh permukaan pleura
viseralis dan parietalis. Cairan ini dihasilkan oleh kapiler pleura parietalis
karena adanya tekanan hidrostatik, tekanan koloid dan daya tarik elastis.
Sebagian cairan ini diserap kembali oleh kapiler paru dan pleura viseralis,
sebagian kecil lainnya (1020%)
mengalir kedalam pembuluh limfe sehingga posisi cairan disini mencapai 1 L
sehari.
Terkumpulnya cairan di rongga
pleura di sebut efusi pleura, ini terjadi bila keseimbangan antar produksi dan
abrsorbsi terganggu misalnya pada hyperemia akibat inflamasi, perubahan tekanan
osmotik, peningkatan tekanan vena (gagal jantung). Berdasarkan kejadiannya
efusi di bedakan menjadi transudat dan eksudat pleura. Transudat biasanya
terjadi pada gagal jantung karena bendungan vena disertai peningkatan tekanan
hidrostatik
dan sirosis hepatik karena tekanan osmotik koloid yang menurun. Eksudat dapat di sebabkan oleh keganasan atau infeksi. Cairan
keluar langsung dari kapiler sehingga
kaya akan protein dan berat jenisnya tinggi. Cairan ini juga mengandung banyak
sel darah putih. Sebaliknya transudat kadar proteinnya rendah sekali atau nihil
sehingga berat jenisnya rendah (Smeltzr & Bare, 2012. Hal. 199).
E.
![]()
Pathway

F.
Fokus Pengkajian
1.
Riwayat Penyakit
sekarang:
2.
Riwayat Penyakit
dahulu
3.
Riwayat penyakit keluarga
4.
Pola bernafas
5.
Pola makan dan minum
6.
Pola bekerja
7.
Pemeriksaan fisik: mulut, hidung,
dada, leher, ekstremitas, perut
8.
Pemeriksaan penunjang : pemeriksaan lab, rontgen, PA
![]()
![]()
G.
Fokus Intervensi Keperawatan
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan
bersihan jalan napas (L.01001) meningkat dengan kriteria hasil:
1.
Batuk efektif
2.
Mengi
3.
Wheezing
4.
Dyspnea
5.
Sianosis
6.
Frekuensi napas
7.
Pola napas Intervensi Keperawatan:
Manajemen jalan
napas (I.01011)
1)
Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas)
Rasional: untuk mengetahui keefektifan napas
2)
Monitor bunyi napas
Rasional: untuk mengetahui adanya suara nafas tambahan atau tidak
3)
Monitor sputum
Rasional: mengetahui jumlah, warna, aroma
4)
Posisikan semi-fowler atau fowler
Rasional: membuka/melebarkan jalan nafas
5)
Beri minum hangat
Rasional: untuk membantu
mencairkan sekret
6)
Lakukan fisioterapi dada, jika perlu
Rasional: membantu mengeluarkan secret yang tertahan
7)
Berikan osigen,
jika perlu
Rasional: menambah oksigen
yang masuk dalam tubuh
8)
Lakukan penghisapan
lender kurang dari 15 detik
Rasional: membersihkan jalan napas
9)
Ajarkan tehnik batuk efektif
Rasional: batuk efektif dapat
membantu mengeluarkan sekret
10)
Kolaborasi pemberian
bronkodilator, ekspektoran, mukolitik, jika diperlukan
Rasional: untuk bekerjasama dengan tenaga kesehatan
lain.
![]()
Daftar Pustaka
Amin,
Huda. (2015).Konsep Teori Efusi Pleura.
Universitas Airlangga : Surabaya.
Carpenito,
L. J. (2013). Buku Saku Diagnosis
keperawatan. Edisi l3. Jakarta : EGC
Medical
Science Journal. Identification Of Micobacterium Tuberculosis By Polimarase
Chain Reaction (PCR) Terst and Its Relationship to MGG Staining Of Pleural
Fluid in Patient With Suspected Tuberculosis Pleural Effusion. Nusantara
Medical Science. 2018 : 21
Muttaqin,
A. (2014). Buku Ajar Keperawatan Dengan
Gangguan Sistem Pernafasan.Jakarta:Salemba Medika.
NANDA. (2018). Diagnosis Keperawatan Definisi & Klasifikasi 20l8-2020 Edisi ll editor T Heather Herdman, Shigemi Kamitsuru. Jakarta: EGC.
PPNI.(2017).Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator
Diagnostik,
Edisi l, Cetakan III.Jakarta: DPP PPNI.
PPNI.(2018).Standar Interνensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan
Keperawatan,
Edisi l, Cetakan II. Jakarta: DPP PPNI.
PPNI.(2019).Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan, Edisi l, Cetakan II. Jakarta: DPP PPNI.
Smetlzher, C. Suzanne. (2012). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 12.
Jakarta: EGC
Komentar
Posting Komentar