DOWNLOAD LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN KEBUTUHAN MOBILISASI

 

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN KEBUTUHAN MOBILISASI

 

 

 

I.            Konsep Dasar

A.    Definisi

Mobilisasi adalah kemampuan seseorang untuk bergerak secara bebas, mudah dan teratur yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehat. Mobilisasi diperlukan untuk meninngkatkan kesehatan, memperlambat proses penyakit khususnya penyakit degeneratif dan untuk aktualisasi (Mubarak, 2012).

Imobilisasi adalah suatu kondisi yang relatif, dimana individu tidak saja kehilangan kemampuan geraknya secara total, tetapi juga mengalami penurunan aktifitas dari kebiasaan normalnya (Mubarak, 2012).

Gangguan mobilitas fisik (immobilisasi) didefinisikan oleh North American Nursing Diagnosis Association (NANDA) sebagai suatu keadaan dimana individu yang mengalami atau beresiko mengalami keterbatasn gerakan fisik. Individu yang mengalami atau beresiko mengalami keterbatasan fisik antara lain : lansia, individu dengan penyakit yang mengalami penurunan kesadaran lebih dari 3 hari atau lebih, individu yang kehilangan fungsi antaomi akibat perubahan isiolohi (kehilangan fungsi motorik, klien dengan stroke, klien pengguna kursi roda), penggunaan alat eksternal (seperti gips atau traksi) dan pembatasan gerakan volunteer (Potter&Perry,2014)

B.     Klasifikasi

1.      Jenis Mobilitas

 

a.       Mobilitas penuh.

Merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak secara penuh dan bebas sehingga dapat melakukan interaksi sosial dan menjalankan peran sehari- hari. Mobilitas penuh ini merupakan saraf motorik volunter dan sensorik untuk dapat mengontrol seluruh area tubuh seseorang.

b.      Mobilitas sebagian.

Merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak dengan batasan jelas dan tidak mampu bergerak secara bebas karena di pengaruhi oleh gangguan saraf motorik dan saraf sensorik pada area tubuhnya. Hal ini dapat dijumpai pada kasus cedera atau patah tulang dengan pemasangan traksi. Pasien paraplegi dapat mengalami mobilitas sebagian pada ekstremitas bawah karena kehilngan kontrol mekanik dan sensorik.

Mobilitas sebagian di bagi menjadi 2 jenis, yaitu :

1)      Mobilitas sebagian temporer, merupakan kemampuan individu untuk bergerak dengan batasan yang sifatnya sementara. Hal tersebut dapat disebabakan oleh trauma reversibel pada sistem muskuloskeletal, contohnya adalah adanya dislokasi sendi dan tulang.

2)      Mobilitas sebagian permanen, merupakan kemampuan individu untuk bergerak dengan batasan yang sifatnya menetap. Hal tersebut disebabkan oleh rusaknya sistem saraf yang refersibel. Contohnya terjadinya hemiplegi karena stroke, paraplegi karena cedera tulang belakang, poliomelitis karena terganggunya sistem saraf motorik dan sensoris.

2.      Rentang Gerak dalam mobilisasi

Dalam mobilisasi terdapat tiga rentang gerak yaitu :

 

a.       Rentang gerak pasif

Rentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga kelenturan otot-otot dan persendian dengan menggerakkan otot orang lain secara pasif misalnya perawat mengangkat dan menggerakkan kaki pasien.

b.      Rentang gerak aktif

Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan cara menggunakan otot-ototnya secara aktif misalnya berbaring pasien menggerakkan kakinya.

c.       Rentang gerak fungsional

Berguna untuk memperkuat otot-otot dan sendi dengan melakukan aktifitas yang diperlukan.

2.       Jenis Immobilitas :

Menurut Mubarak (2012) secara umum ada beberapa macam keadaan imobilitas antara lain :

a.       Imobilitas fisik : kondisi ketika seseorang mengalami keterbatasan fisik yang disebabkan oleh faktor lingkungan maupun kondisi orang tersebut.

b.      Imobilitas intelektual : kondisi ini dapat disebabkan oleh kurangnya pengetahuan untuk dapat berfungsi sebagaimana mestinya, misalnya pada kasus kerusakan otak.

c.       Imobilitas emosional : kondisi ini bisa terjadi akibat proses pembedahan atau kehilangan seseorang yang dicintai.

d.      Imobilitas sosial : kondisi ini bisa menyebabkan perubahan interaksi sosial yang sering terjadi akibat penyakit.

C.    ETIOLOGI

1.      Penyebab

Penyebab utama immobilisasi adalah adanya rasa nyeri, lemah, kekakuan otot, ketidakseimbangan, dan masalah psiokologis.

Penyebab secara umum           :

a.       Kelainan postur

b.      Gangguan perkembangan otot

c.       Kerusakan system saraf pusat

d.      Trauma langsung pada system musculoskeletal dan neuromuscular

e.       Kekakuan otot

 

 

Kondisi – kondisi yang menyebabkan immobilisasi antara lain :

a.       Fall

b.      Fracture

c.       Stroke

d.      Postoperative bed rest

e.       Dmentia and Depression

f.        Instability

g.      Hipnotic medicine

h.      Impairment of vision

i.        Polipharmacy

j.        Fear of fall


2.      Faktor – faktor yang Mempengaruhi Mobilisasi

Faktor – faktor yang Mempengaruhi Mobilisasi menurut (Wedho, M. M. 2013):

a.       Gaya hidup

Gaya hidup sesorang sangat tergantung dari tingkat pendidikannya. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang akan di ikuti oleh perilaku yang dapat meningkatkan kesehatannya. Demikian halnya dengan pengetahuan kesehatan tetang mobilitas seseorang akan senantiasa melakukan mobilisasi dengan cara yang sehat misalnya; seorang ABRI akan berjalan dengan gaya berbeda dengan seorang pramugari atau seorang pemabuk.

b.      Proses penyakit dan injuri

Adanya penyakit tertentu yang di derita seseorang akan mempengaruhi mobilitasnya misalnya; seorang yang patah tulang akan kesulitan untuk mobilisasi secara bebas. Demikian pula orang yang baru menjalani operasi. Karena adanya nyeri mereka cenderung untuk bergerak lebih lamban. Ada kalanya klien harus istirahat di tempat tidurkarena mederita penyakit tertentu misalnya; CVA yang berakibat kelumpuhan, typoid dan penyakit kardiovaskuler.

c.       Kebudayaan

Kebudayaan dapat mempengarumi poa dan sikap dalam melakukan aktifitas misalnya; seorang anak desa yang biasa jalan kaki setiap hari akan berebda mobilitasnya dengan anak kota yang biasa pakai mobil dalam segala keperluannya. Wanita kraton akan berbeda mobilitasnya dibandingkan dengan seorang wanita madura dan sebagainya.

d.      Tingkat energy

Setiap orang mobilisasi jelas memerlukan tenaga atau energi, orang yang lagi sakit akan berbeda mobilitasnya di bandingkan dengan orang sehat apalagi dengan seorang pelari.

e.       Usia dan status perkembangan

Seorang anak akan berbeda tingkat kemampuan mobilitasnya dibandingkan dengan seorang remaja. Anak yang selalu sakit dalam masa pertumbuhannya akan berbeda pula tingkat kelincahannya dibandingkan dengan anak yang sering sakit.


D.    Patofisiologi

Mobilisasi sangat dipengaruhi oleh sistem neuromuskular, meliputi sistem otot, skeletal, sendi, ligament, tendon, kartilago, dan saraf. Otot Skeletal mengatur gerakan tulang karena adanya kemampuan otot berkontraksi dan relaksasi yang bekerja sebagai sistem pengungkit. Ada dua tipe kontraksi otot: isotonik dan isometrik. Pada kontraksi isotonik, peningkatan tekanan otot menyebabkan otot memendek. Kontraksi isometrik menyebabkan peningkatan tekanan otot atau kerja otot tetapi tidak ada pemendekan atau gerakan aktif dari otot, misalnya, menganjurkan klien untuk latihan kuadrisep. Gerakan volunter adalah kombinasi dari kontraksi isotonik dan isometrik. Meskipun kontraksi isometrik tidak menyebabkan otot memendek, namun pemakaian energi meningkat. Perawat harus mengenal adanya peningkatan energi (peningkatan kecepatan pernafasan, fluktuasi irama jantung, tekanan darah) karena latihan isometrik. Hal ini menjadi kontra indikasi pada klien yang sakit (infark miokard atau penyakit obstruksi paru kronik). Postur dan Gerakan Otot merefleksikan kepribadian dan suasana hati seseorang dan tergantung pada ukuran skeletal dan perkembangan otot skeletal. Koordinasi dan pengaturan dari kelompok otot tergantung dari tonus otot dan aktifitas dari otot yang berlawanan, sinergis, dan otot yang melawan gravitasi. Tonus otot adalah suatu keadaan tegangan otot yang seimbang.

Ketegangan dapat dipertahankan dengan adanya kontraksi dan relaksasi yang bergantian melalui kerja otot. Tonus otot mempertahankan posisi fungsional tubuh dan mendukung kembalinya aliran darah ke jantung.

Immobilisasi menyebabkan aktifitas dan tonus otot menjadi berkurang. Skeletal adalah rangka pendukung tubuh dan terdiri dari empat tipe tulang: panjang, pendek, pipih, dan ireguler (tidak beraturan). Sistem skeletal berfungsi dalam pergerakan, melindungi organ vital, membantu mengatur keseimbangan kalsium, berperan dalam pembentukan sel darah merah.

 

\


 

E.     Pathway

Text Box: Mobilisasi

 

Tidak mampu beraktifitas Tirah baring yang lama

 


Kehilangan daya otot


Penurunan otot

 

Perubahan sistem muskuluskeletal

Text Box: Hambatan mobilitas fisik


Gangguan fungsi paru paru


Penumpukan sekret

Sulit batuk


Text Box: Ketidakefektifan bersihan jalan nafas


Jaringan kulit yang tertekan

 

Perubahan sistem intragumen kulit

 


Sel kulit mati Dekubitus


Gastrointestinal

 

Gangguam katabolisme

 

Anoeksia


Nitrogen tidak efektif

 

Konstipasi

 
Kemunduran infekdefekasi


F.     Tanda dan gejala

1.      Kontraktur sendi

Disebabkan karena tidak digunakan atrofi dan pendekatan saraf otot.

2.      Perubahan eliminasi urine

Eliminasi urine pasien berubah karena adanya imobilisasi pada posisi tegak lurus, urine mengalir keluar dari pelvis ginjal lalu masuk ke dalam ureter dan kandung kemih akibat gaya gravitasi.

3.      Perubahan sistem integument

Dekubitus terjadi akibat iskemia dan anoreksia jaringan. Jaringan yang tertekan, darah membentuk dan kontriksi kuat pada pembuluh darah akibat tekanan persistem pada kulit dan struktur di bawah kulit sehingga respirasi selular terganggu dan sel menjadi mati.

4.      Perubahan metabolik

Ketika cidera atau stres terjadi, sistem endokrin memicu serangkaian respon yang bertujuan untuk mempertahankan tekanan darah dan memelihara hidup.

5.      Perubahan sistem muskulus skeletal

Keterbatasan mobilisasi mempengaruhi otot klien melalui kehilangan daya tahan, penurunan massa otot atrofi dan penurunan stabilitas.

6.      Perubahan pada sistem respiratori

Klien dengan pasca operasi dan imobilisasi beresiko tinggi mengalami komplikasi pada paru- paru.

 

G.    Pemeriksaan Penunjang

a.       Sinar –X tulang menggambarkan kepadatan tulang, tekstur, dan perubahan hubungan tulang.

b.      CT scan (Computed Tomography)

c.       MRI (Magnetik Resonance Imaging) adalah tehnik pencitraan khusus, noninvasive, yang menggunakan medan magnet, gelombang radio, dan computer untuk memperlihatkan abnormalitas.

d.      Pemeriksaan Laboratorium:


Hb ↓pada trauma, Ca↓ pada imobilisasi lama, Alkali Fospat ↑, kreatinin dan SGOT

↑ pada kerusakan otot

H.    Penatalaksanaan

1.      Membantu pasien duduk di tempat tidur

Tindakan ini merupakan salah satu cara mempertahankan kemampuan mobilitas pasien. Tujuan :

a.       Mempertahankan kenyamanan

b.      Mempertahankan toleransi terhadap aktifitas

c.       Mempertahankan kenyamanan

2.      Mengatur posisi pasien di tempat tidur

 

a.       Posisi fowler adalah posisi pasien setengah duduk/ duduk Tujuan :

1)       Mempertahankan kenyamanan

2)       Menfasilitasi fungsi pernafasan

b.      Posisi sim adalah pasien terbaring miring baik ke kanan atau ke kiri Tujuan :

1)       Melancarkan peredaran darah ke otak

2)       Memberikan kenyamanan

3)       Melakukan huknah

4)       Memberikan obat peranus (inposutoria)

5)       Melakukan pemeriksaan daerah anus

c.       Posisi trelendang adalah menempatkan pasien di tempat tidur dengan bagian kepala lebih rendah dari bagian kaki

Tujuan : untuk melancarkan peredaran darah

d.      Posisi genu pectorat adalah posisi nungging dengan kedua kaki ditekuk dan dada menempel pada bagian atas tempat tidur.

3.      Memindahkan pasien ke tempat tdiur/ ke kursi roda Tujuan :

 

a.       Melakukan otot skeletal untuk mencegah kontraktur

b.      Mempertahankan kenyamanan pasien


c.       Mempertahankan kontrol diri pasien

d.      Memindahkan pasien untuk pemeriksaan

4.        Membantu pasien berjalan Tujuan :

 

a.       Toleransi aktifitas

b.      Mencegah terjadinya kontraktur sendi

 

II.            Proses Keperawatan

 

A.    Pengkajian

1.      Pemeriksaan Fisik

a.       Mengkaji skelet tubuh

Adanya deformitas dan kesejajaran. Pertumbuhan tulang yang abnormal akibat tumor tulang.Pemendekan ekstremitas, amputasi dan bagian tubuh yang tidak dalam kesejajaran anatomis.Angulasi abnormal pada tulang panjang atau gerakan pada titik selain sendi biasanya menandakan adanya patah tulang.

b.      Mengkaji tulang belakang

1)      Skoliosis (deviasi kurvatura lateral tulang belakang)

2)      Kifosis (kenaikan kurvatura tulang belakang bagian dada)

3)      Lordosis (membebek, kurvatura tulang belakang bagian pinggang berlebihan)

c.       Mengkaji system persendian

Luas gerakan dievaluasi baik aktif maupun pasif, deformitas, stabilitas, dan adanya benjolan, adanya kekakuan sendi

d.      Mengkaji system otot

Kemampuan mengubah posisi, kekuatan otot dan koordinasi, dan ukuran masing-masing otot. Lingkar ekstremitas untuk mementau adanya edema atau atropfi, nyeri otot.

e.       Mengkaji cara berjalan

Adanya gerakan yang tidak teratur dianggap tidak normal. Bila salah satu ekstremitas lebihpendek dari yang lain. Berbagai kondisi neurologist yang


berhubungan dengan cara berjalan abnormal (mis.cara berjalan spastic hemiparesis - stroke, cara berjalan selangkah-selangkah – penyakit lower motor neuron, cara berjalan bergetar – penyakit Parkinson).

f.        Mengkaji kulit dan sirkulasi perifer

Palpasi kulit dapat menunjukkan adanya suhu yang lebih panas atau lebih dingin dari lainnya dan adanya edema. Sirkulasi perifer dievaluasi dengan mengkaji denyut perifer, warna, suhu dan waktu pengisian kapiler.

g.      Mengkaji fungsional klien

- Kategori tingkat kemampuan aktivitas Rentang gerak (range of motion-ROM)

 

Tipe gerakan

Derajat    rentang normal

Leher, spinal, servikal

 

Fleksi : menggerakkan dagu menempel ke dada

45

Ekstensi : mengembalikan kepala ke posisi tegak

45

Hiperekstensi : menekuk kepala ke belakang sejau mungkin

10

Fleksi lateral : memiringkan kepala sejau mungkin ke arah setiap bahu

40-45

Rotasi : memutar kepala sejau mungkin dalam gerakan sirkuler

180

Bahu

 

Fleksi : menaikkan lengan dari posisi di samping tubuh ke depan ke posisi di atas kepala

180

Ekstensi : mengembalikan lengan ke posisi semula

180

Abduksi : menaikkan lengan ke posisi samping di atas kepala dengan telapak tangan jauh dari kepala

180

Adduksi : menurunkan lengan ke samping dan menyilang tubu sejau mungkin

320

Rotasi dalam : dengan siku fleksi, memutar bahu dengan

90


menggerakkan lengan sampai ibu jari menghadap ke dalam dan ke belakang.

 

Rotasi luar : dengan siku fleksi, menggerakkan lengan sampai ibu jari ke atas dan samping kepala

90

Lengan bawa

 

Supinasi : memutar lengan bawa dan telapak tangan seingga telapak tangan menghadap ke atas

70-90

Pronasi : memutar lengan bawah sehingga telapak tangan menghadap ke bawah

70-90

Pergelangan tangan

 

Fleksi : menggerakkan telapak tangan ke sisi dalam lengan bawah

80-90

Ekstensi : menggerakkan jari-jari sehingga jari-jari, tangan, dan lengan bawa berada pada arah yg sama

80-90

Abduksi (fleksi radial) : menekuk pergelangan tangan miring (medial) ke ibu jari

Sampai 30

Adduksi (fleksi luar) : menekuk pergelangan tangan miring (medial) ke ibu jari

30-50

Jari-jari tangan

 

Fleksi : membuat pergelangan

90

Ekstensi : meluruskan jari tangan

90

Hiperkstensi : menggerakkan jari-jari tangan ke belakang sejau mungkin

30-60

Ibu jari

 

Fleksi : menggerakkan ibu jari menyilang permukaan telapak tangan

90

Ekstensi : menggerakkan ibu jari lurus menjau dari tangan

90

Pinggul

 


Fleksi : menggerakkan tungkai ke depan dan atas

90-120

Ekstensi : menggerakkan kembali ke samping tungkai yang lain

90-12 0

Lutut

 

Fleksi : menggerakkan tumit ke arah belakang paha

120-130

Ekstensi : mengembalikan tungkai ke lantai

120-130

Mata kaki

 

Dorsofleksi : menggerakkan sehingga jari-jari kaki menekuk ke atas

20-30

Plantarfleksi : menggerakkan kaki sehingga jari-jari kaki menekuk ke bawah

45-50

Skala ADL (Acthyfiti Dayli Living)

1                 : Pasien mampu berdiri

 

2                 : Pasien memerlukan bantuan/ peralatan minimal

 

3                    :Pasien memerlukan bantuan sedang/ dengan pengawasan

 

4                    : Pasien memerlukan bantuan khusus dan memerlukan alat

 

5                      : Tergantung secara total pada pemberian asuhan

 

Kekuatan Otot/ Tonus Otot

1                                : Otot sama sekali tidak bekerja

 

2     (10%)    : Tampak berkontraksi/ ada sakit gerakan tahanan sewaktu jatuh

 

3     (25%)    : Mampu menahan tegak tapi dengan sentuhan agak jauh

 

4     (50%)    : Dapat menggerakkan sendi dengan aktif untuk menahan berat

 

5     (75%)    : Dapat menggerakkan sendi dengan aktif untuk menahan berat dan melawan tekanan secara stimulan

 

 

 

 

 

B.     Diagnosa Keperawatan

 

1)      Intoleransi aktifitas berhubungan dengan penurunannya mobilitas atau body aligment yang jelek

2)      Hambatan mobiitas fisik berhubungan dengan intoleransi aktivitas ditandai dengan keterbatasan kemampuan melakukan keterampilan motorik kasar dan keterbatasan rentang gerak sendi

3)      Defisit perawatan diri : mandi berhubungan dengan gangguan neuromuskular ditandai dengan ketidakmampuan untuk meakukan pembersihan tubuh.

4)      Risiko kerusakan integritas kulit dengan faktor risiko tonjolan tulang ditandai dengan imobilisasi fisik.

 

 


 

C.    Intervensi

 

No

Diagnosa Keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi

1

Intoleransi aktifitas berhubungan dengan penurunannya mobilitas atau body aligment yang jelek

NOC: Konservasi Energi (Perawatan Diri: ADL)

Goal : Setelah dilakukan asuhan keperawatan pasien mampu toleransi terhadap aktifitas fisik.

Subjektif: Setelah dilakukan Asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam pasien akan meningkatkan toleransi terhadap aktifitas fisik dengan kriteria hasil :

1.      Klien mampu mengidentifikasi aktifitas dan situasi yang menimbulkan kecemasan yang berkonstribusi pada intoleransi aktifitas.

2.      Klien mampu berpartisipasi dalam aktifitas fisik tanpa disertai peningkatan TD, N, RR dan perubahan ECG

3.      Klien mengungkapkan secara verbal, pemahaman tentang

kebutuhan oksigen, pengobatan dan

Managemen Energi

1.      Tentukan penyebab keletihan: :nyeri, aktifitas, perawatan , pengobatan

2.      Kaji respon emosi, sosial dan spiritual terhadap aktifitas.

3.      Evaluasi motivasi dan keinginan klien untuk meningkatkan aktifitas.

4.      Monitor respon kardiorespirasi terhadap aktifitas : takikardi, disritmia, dispnea, diaforesis, pucat.

5.      Monitor asupan nutrisi untuk memastikan ke adekuatan sumber energi.

6.      Monitor respon terhadap pemberian oksigen : nadi, irama jantung, frekuensi Respirasi terhadap aktifitas perawatan diri.

7.       ​Letakkan benda-benda yang sering digunakan pada tempat yang mudah dijangkau

8.      Kelola energi pada klien dengan


 

 

 

atau alat yang dapat meningkatkan toleransi terhadap aktifitas.

4.      Klien mampu berpartisipasi dalam perawatan diri tanpa bantuan atau dengan bantuan minimal tanpa menunjukkan kelelahan

5.      Tanda vital dalam rentang normal.

pemenuhan kebutuhan makanan, cairan, kenyamanan / digendong untuk mencegah tangisan yang menurunkan energi.

9. Kaji pola istirahat klien dan adanya faktor yang menyebabkan kelelahan.

 

Terapi Aktivitas

1.      Bantu klien melakukan ambulasi yang dapat ditoleransi.

2.      Rencanakan jadwal antara aktifitas dan istirahat.

3.      Bantu dengan aktifitas fisik teratur : misal: ambulasi, berubah posisi, perawatan personal, sesuai kebutuhan.

4.      Minimalkan anxietas dan stress, dan berikan istirahat yang adekuat

5.      Kolaborasi dengan medis untuk pemberian terapi, sesuai indikasi

2

Hambatan         mobiitas                          fisik berhubungan  dengan  intoleransi

aktivitas         ditandai                      dengan

NOC: kemampuan berpindah keseimbangan

Terapi Latihan : Ambulasi

 

1.      Kaji keterbatasan gerak sendi


 

 

keterbatasan                                    kemampuan melakukan keterampilan motorik kasar dan keterbatasan rentang gerak sendi

 

Goal : Setelah dilakukan asuhan keperawatan           pasien                               mampu meningkatkan mobilitas fisik selama dalam perawatan.

Subjektif: Setelah dilakukan Asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam pasien akan meningkatkan mobilisasi terhadap aktifitas fisik dengan kriteria hasil :

1.      Menggunakan      posisi      duduk yang benar

2.      Mempertahankan kekuatan otot

3.      Mempertahankan                                  fleksibilitas sendi

4.      TTV dalam batas normal

2.      Kaji motivasi klien untuk mempertahankan pergerakan sendi

3.      Jelaskan alasan/rasional pemberian latihan kepada pasien/ keluarga

4.      Monitor lokasi ketidaknyamanan atau nyeri selama aktivitas

5.      Lindungi pasien dari cedera selama latihan

6.      Bantu klien ke posisi yang optimal untuk latihan rentang gerak

7.      Anjurkan klien untuk melakukan latihan range of motion secara aktif jika memungkinkan

8.      Anjurkan untuk melakukan range of motion pasif jika diindikasikan

 

9. Beri       reinforcement      positif             setiap kemajuan klien

 

D.    Implementasi

Implementasi dibuat sesuai dengan intervensi yang telah di buat.

E.     Evaluasi

Evaluasi dibuat sesuai dengan implementasi yang telah di tetapkan


 

 

Daftar Pustaka

 

Wedho, M. M. (2013). Buku Ajar Konsep Kebutuhan Dasar Manusia 1. Kupang : Gita Kasih .

Alimul H., A. Aziz. 2006. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia-Aplikasi Konsep

dan

Proses Keperawatan. Buku 1. Jakarta : Salemba Medika.

Alimul Aziz, 2006. Kebutuhan Dasar Manusia, Jilid 2. Jakarta : Salemba Medika. Budi A. K. et all. (2015). NANDA Internasional INC. Diagnosis Keperawatan :

Definisi & Klasifikasi 2015-2017, ED. 10. Jakarta : EGC

Moorhead, et all. (2016). Nursing Outcomes Classification (NOC). Singapore : Elsevier

Moorhead, et all. (2016). Nursing Interventions Classification (NIC). Singapore : Elsevier

Mubarak, Wahit & Chayatin. (2012). Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia Teori dan Aplikasi

dalam Praktik. Jakarta : EGC.

 

NANDA. 2006. Diagnosa Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2005-2006. Jakarta : Prima Medika

Potter & Perry. 2014. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses, dan Praktik,Ed.4. Vol.2. Jakarta : EGC.

T. Heather Herdman. 2011. NANDA Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2018-2020, Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.

 

 

 DOWNLOAD FILENYA DISINI

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOWNLOAD CONTOH SURAT LAMARAN DAPUR MBG

Download Undangan Tonjokan: Solusi Praktis dan Efisien untuk Pernikahan (Format MS. Word)

LAPORAN PENDAHULUAN DIARE