UNDUH LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN DIAGNOSA MEDIS CA COLON

 

“LAPORAN PENDAHULUAN
DAN ASUHAN KEPERAWATAN
DENGAN DIAGNOSA MEDIS CA COLON”

 

 


I.     DEFINISI

Kanker kolon (CA Colon) merupakan keganasan epitelial saluran cerna yang berasal dari sel kelenjar mukosa usus besar, meliputi kolon asendens, transversum, desendens, dan sigmoid. Berdasarkan aspek histopatologis, sekitar 95% kasus berbentuk adenokarsinoma yang menginvasi melewati lamina muscularis mucosae hingga lapisan submukosa (Damayanti et al., 2022).

Sebagai salah satu keganasan pencernaan paling umum di dunia, WHO melaporkan terdapat lebih dari 1,9 juta kasus baru dan 904.000 kematian akibat kanker kolorektal (CRC) pada tahun 2022. Manifestasi klinisnya terlokalisasi di kolon sekitar 70% kasus, sedangkan sisanya berada di rektum (Damayanti et al., 2022). Dalam konteks Instalasi Gawat Darurat (IGD), CA Colon dikategorikan sebagai kondisi kegawatdaruratan apabila pasien datang dengan komplikasi berupa obstruksi, perforasi, atau perdarahan masif (Damayanti et al., 2022).

II.     ETIOLOGI

Etiologi kanker kolorektal (CRC) bersifat multifaktorial dan heterogen, melibatkan interaksi genetik, epigenetik, lingkungan, mikrobioma usus, serta pola hidup. Kasus herediter hanya mencakup sekitar 5% kasus, sedangkan sisanya bersifat sporadis akibat akumulasi mutasi somatik yang dipengaruhi faktor risiko termodifikasi (Katsaounou et al., 2022). Karsinogenesis CRC dipicu oleh akumulasi mutasi pada driver genes, dengan lima gen pengemudi utama meliputi APC, KRAS, TP53, SMAD4, dan FBXW7 (Yin et al., 2022).

1.      Mutasi Gen APC: Memiliki frekuensi tertinggi (77% sampel) dan bertindak sebagai initiating event awal pada jalur adenoma-karsinoma (Yin et al., 2022).

2.      Mutasi Gen KRAS: Ditemukan pada 64% pasien CRC di Indonesia dalam bentuk mutasi nonsense, missense, frameshift, splice-site, dan silent mutation (Marbun et al., 2022). Mutasi ini berkorelasi dengan histologi vili pada adenoma serta perubahan komposisi mikrobiota usus (Yin et al., 2022).

Secara epidemiologi, faktor risiko utama bersifat dapat dimodifikasi (modifiable) dengan periode laten 5 hingga 15 tahun (Giovannucci, 2022). Mayoritas faktor ini bekerja melalui induksi peradangan kronis, stres oksidatif, disbiosis mikrobiota, atau gangguan metabolik, bukan sebagai direct mutagens (Giovannucci, 2022). Secara umum, etiologi CA Colon diklasifikasikan menjadi dua kategori (WHO, 2026):

a.       Faktor tidak dapat dimodifikasi: Usia, riwayat keluarga, sindrom herediter, riwayat polip adenoma, dan Inflammatory Bowel Disease (IBD).

b.      Faktor dapat dimodifikasi: Pola diet, obesitas, inaktivitas fisik, konsumsi alkohol, dan penggunaan tembakau.

III.     FAKTOR RISIKO

Faktor risiko kanker kolorektal (CRC) diklasifikasikan menjadi faktor yang tidak dapat dimodifikasi (non-modifiable) dan dapat dimodifikasi (modifiable). Identifikasi faktor risiko ini di IGD krusial karena pasien berisiko tinggi berpotensi mengalami komplikasi akut seperti obstruksi, perforasi, atau perdarahan masif (Katsaounou et al., 2022).

1.      Faktor yang Tidak Dapat Dimodifikasi

a.       Usia: Lebih dari 90% kasus menyerang individu berusia $\ge$ 50 tahun dengan median usia diagnosis 66–68 tahun, meskipun tren early-onset CRC (< 50 tahun) kini meningkat (Katsaounou et al., 2022; WHO, 2026).

b.      Riwayat Keluarga dan Sindrom Herediter: Riwayat keluarga derajat pertama meningkatkan risiko 2–4 kali lipat. Sekitar 5–10% kasus bersifat herediter, seperti Lynch syndrome (mutasi gen MLH1, MSH2, MSH6, PMS2) dan Familial Adenomatous Polyposis (mutasi gen APC) (Katsaounou et al., 2022; WHO, 2026).

c.       Riwayat Polip Adenoma atau CRC: Meningkatkan risiko 1,5–3 kali lipat, terutama pada polip besar, berjumlah banyak, atau memiliki gambaran high-grade dysplasia (Katsaounou et al., 2022).

d.      Penyakit Radang Usus (IBD): Ulcerative colitis atau Crohn's disease selama > 8–10 tahun meningkatkan risiko 2–4 kali lipat, khususnya pada pancolitis dan penyerta primary sclerosing cholangitis (Katsaounou et al., 2022).

2.      Faktor yang Dapat Dimodifikasi

  1. Pola Diet: Konsumsi tinggi daging merah dan olahan meningkatkan risiko akibat pembentukan senyawa N-nitroso dan heterocyclic amines (Katsaounou et al., 2022). Sebaliknya, konsumsi serat, kalsium, dan vitamin D bersifat protektif (Giovannucci, 2022).
  2. Obesitas dan Inaktivitas Fisik: Obesitas (IMT $\ge$ 30 kg/m²) meningkatkan risiko 30–50% via jalur hiperinsulinemia, insulin-like growth factor 1 (IGF-1), dan adipokin pro-inflamasi (Giovannucci, 2022). Aktivitas fisik minimal 150 menit/minggu menurunkan risiko 20–25% (WHO, 2026).
  3. Konsumsi Alkohol: Konsumsi $\ge$ 3 gelas per hari meningkatkan risiko 1,5 kali karena metabolisme etanol menjadi asetaldehida yang genotoksik (Katsaounou et al., 2022).
  4. Merokok: Merokok $\ge$ 20 tahun meningkatkan risiko 1,5–2 kali lipat melalui paparan polycyclic aromatic hydrocarbons dan nitrosamin yang memicu mutasi gen APC dan KRAS (Giovannucci, 2022).
  5. Diabetes Melitus Tipe 2: Meningkatkan risiko 1,2–1,5 kali lipat akibat hiperinsulinemia dan peningkatan IGF-1 yang memicu proliferasi epitel kolon (Katsaounou et al., 2022).

IV.     TANDA GEJALA

Manifestasi klinis kanker kolon bervariasi berdasarkan lokasi anatomis tumor, ukuran lesi, dan adanya komplikasi kegawatdaruratan (Fevereiro et al., 2022). Pengkajian di IGD difokuskan pada pemisahan gejala kronis progresif dari tanda kegawatdaruratan akut (Steele et al., 2023).

1.  Manifestasi Berdasarkan Lokasi Tumor

a.       Kolon Kanan (Sekum, Asendens, Fleksura Hepatika): Bermanifestasi sebagai massa teraba, nyeri abdomen samar, anemia mikrositik hipokromik, kelemahan, malaise, dan melena. Diare jarang terjadi karena penyerapan air tetap berlangsung (Fevereiro et al., 2022; Steele et al., 2023).

b.      Kolon Kiri (Desendens, Sigmoid): Menunjukkan perubahan kebiasaan BAB, nyeri kram abdomen, konstipasi, diare, tinja seperti pensil, hematoskezia, dan tenesmus. Risiko obstruksi tinggi akibat lumen sempit dan feses padat (Fevereiro et al., 2022; Steele et al., 2023). Sekitar 77% kasus early-onset CRC (< 50 tahun) terlokalisasi di area kiri (Skalitzky et al., 2023).

2.  Gejala Umum Klinis

a.       Perubahan Kebiasaan BAB: Terjadi pada 54% pasien berupa konstipasi-diare bergantian atau tenesmus $\ge$ 3 bulan (Skalitzky et al., 2023).

b.      Perdarahan Saluran Cerna Bawah: Hematoskezia ditemukan pada 45% kasus, bersifat insidious, dan bermanifestasi sebagai anemia kronis (Koo et al., 2022; Steele et al., 2023).

c.       Nyeri Abdomen: Menjadi keluhan utama IGD pada 40–63% kasus (Skalitzky et al., 2023; Koo et al., 2022), serta mendasari 27,5% konsultasi IGD terkait CRC di Brasil (Simanke et al., 2022).

d.      Anemia dan Gejala Sistemik: Anemia defisiensi besi ditemukan pada 43% pasien, disertai kelemahan, anoreksia, dan penurunan berat badan drastis (Fritz et al., 2023; Koo et al., 2022).

3.  Manifestasi Kegawatdaruratan IGD (Oncologic Emergencies)

Sekitar 15% pasien datang dengan kondisi kedaruratan bedah yang mengancam nyawa (Steele et al., 2023), meliputi:

  1. Obstruksi Kolon (LBO): Mencakup 80% kasus kedaruratan. Gejalanya berupa distensi abdomen progresif, nyeri kram hebat, mual-muntah fekal, dan konstipasi total. Jika ileocecal valve kompeten, terjadi obstruksi closed-loop yang meningkatkan risiko perforasi sekum (Fevereiro et al., 2022; Steele et al., 2023).
  2. Perforasi Kolon: Terjadi pada 3–10% kasus akibat invasi langsung atau ruptur diastatik sekunder. Berdasarkan hukum Laplace, sekum rentan ruptur jika diameter > 12 cm. Gejalanya meliputi nyeri abdomen mendadak, defans muskular, nyeri lepas, demam, takikardia, hingga sepsis (Fevereiro et al., 2022; Steele et al., 2023).
  3. Perdarahan Masif: Jarang terjadi namun memiliki mortalitas hingga 40% akibat erosi pembuluh darah besar. Gejalanya berupa hematoskezia volume besar disertai syok hipovolemik (Steele et al., 2023).
  4. Abses Intra-abdominal: Dampak perforasi terkandung, ditandai dengan nyeri abdomen terlokalisasi, demam, leukositosis, dan massa lunak teraba (Steele et al., 2023).

4.  Faktor Pemburuk Prognosis Kedaruratan

Pasien masuk via IGD secara independen memiliki prognosis buruk yang dikaitkan dengan (Golder et al., 2022):

  1. Stadium tumor lebih lanjut (OR 2,05)
  2. Invasi limfovaskular lebih banyak (OR 1,76)
  3. Invasi perineural lebih ekstensif (OR 1,89)
  4. Status American Society of Anesthesiologists (ASA) lebih buruk (OR 1,83)

 

                                                                                                                

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


V.     POHON MASALAH


VI.     PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Pemeriksaan penunjang pasien CA Colon di IGD ditujukan untuk menegakkan diagnosis, menilai komplikasi akut, menentukan staging, serta mengevaluasi fungsi organ dan metastasis.

1.      Pemeriksaan Laboratorium Dasar (ED Initial Workup)

a.       Darah Rutin / Complete Blood Count (CBC): Mendeteksi penurunan Hb, Ht, dan MCV akibat perdarahan kronis pada tumor kolon kanan (McKechnie et al., 2023; Watson et al., 2024). Penurunan Hb dan MCV disertai trombositosis reaktif simultan meningkatkan risiko diagnosis CRC dalam dua tahun (Virdee et al., 2022). Leukositosis digunakan untuk mengidentifikasi inflamasi, infeksi, atau perforasi/abses.

b.      Fungsi Hati (LFT): Menilai fungsi organ dan mendeteksi metastasis hati. Peningkatan ALP dan GGT mengarah pada metastasis hati, namun memerlukan konfirmasi pencitraan (Liu et al., 2022).

c.       Fungsi Ginjal dan Elektrolit: Mengidentifikasi dehidrasi atau Acute Kidney Injury (AKI) akibat obstruksi, perdarahan, atau sepsis, serta memprioritaskan koreksi elektrolit (hipokalemia, hiponatremia).

d.      Koagulasi Darah (PT/APTT/INR): Menilai risiko perdarahan sebelum tindakan invasif atau mendeteksi koagulopati akibat metastasis hati luas.

e.       Penanda Tumor Serum (Tumor Markers): Carcinoembryonic Antigen (CEA) memiliki sensitivitas 49% dan spesifisitas 53% untuk diagnosis CRC, serta sensitivitas 59% dan spesifisitas 89% untuk deteksi rekurensi (Breekveldt et al., 2024; van der Stok et al., 2024). CEA dan CA 19-9 tidak direkomendasikan sebagai alat diagnostik tunggal di IGD karena efikasinya rendah (van der Stok et al., 2024).

f.        Laktat dan Analisis Gas Darah (AGD): Mengevaluasi status perfusi jaringan, asidosis metabolik, dan diagnosis syok (laktat > 2 mmol/L).

2.      Pemeriksaan Non-Invasif untuk Diagnosis Dini/Skrining

a.       FIT (Fecal Immunochemical Test): Memiliki sensitivitas 79% dan spesifisitas 94% untuk menyingkirkan CRC pada risiko rendah. Penggunaannya di IGD pada pasien bergejala alarm tidak direkomendasikan karena > 95% tidak tepat (inappropriate) dan memicu ketidakefisienan konsul (Dias et al., 2021).

3.      Pemeriksaan Radiologi

a.       Foto Polos Abdomen (Tiga Posisi): Lini pertama untuk mendeteksi distensi kolon proksimal, haustra menonjol, atau pneumoperitoneum, dengan sensitivitas rendah (50–60%) untuk tumor primer.

b.      Computed Tomography (CT) Scan: Pemeriksaan utama di IGD menggunakan Multidetector CT (MDCT) kontras yang memiliki sensitivitas 98,10%, spesifisitas 81,80%, PPV 96,20%, dan NPV 90,00% dalam membedakan lesi kolorektal ganas dan jinak (Gafoor & Krishna, 2023). CT scan mampu mengevaluasi massa primer, komplikasi (obstruksi, perforasi, abses), serta lokasi metastasis (Gafoor & Krishna, 2023; Liu et al., 2022).

c.       CT Colonography (CTC), USG Abdomen, & MRI: CTC memiliki sensitivitas 88,7% dan spesifisitas 75% untuk lesi $\ge$ 6 mm, namun jarang digunakan di IGD (Kok, 2023). USG efektif untuk deteksi cepat metastasis hati dan asites, sedangkan MRI diutamakan untuk staging lokal kanker rektum dan karakterisasi metastasis hati.

4.      Pemeriksaan Endoskopi

a.       Kolonoskopi: Standar emas diagnosis dengan sensitivitas 92,5–95% dan spesifisitas 73,2% (Kok, 2023). Memungkinkan visualisasi langsung, identifikasi lesi sinkron (5–10% kasus), tindakan terapeutik, dan biopsi dengan risiko perforasi 0,1–0,3% (Shkurti et al., 2022).

b.      Rektosigmoidoskopi Fleksibel: Evaluasi terbatas pada rektum dan sigmoid tanpa persiapan usus penuh di IGD, namun berisiko melewatkan lesi proksimal.

5.      Pemeriksaan Histopatologi, Staging Lanjutan, dan Emerging Tests

a.       Biopsi: Penegakan diagnosis definitif histopatologi (paling sering adenokarsinoma) dari 4–6 sampel jaringan (Shkurti et al., 2022), yang umumnya ditunda di IGD hingga kondisi stabil.

b.      Staging & Emerging Tests: Staging jauh memakai CT toraks-abdomen-pelvis, sedangkan PET-CT untuk metastasis okult dengan peningkatan CEA. Pemeriksaan circulating tumor DNA (ctDNA) memiliki spesifisitas tinggi (0,95) untuk deteksi rekurensi pasca-reseksi (van der Stok et al., 2024), sementara liquid biopsy masih dikembangkan.

VII.     PENATALAKSANAAN MEDIS

Penatalaksanaan pasien CA Colon di IGD berfokus pada penilaian cepat tanda kegawatan dan stabilisasi awal. Sekitar 20% pasien datang dengan kegawatdaruratan onkologis berupa obstruksi, perforasi, atau perdarahan masif (Pavlidis et al., 2024). Pendekatan terpadu multidisiplin sangat krusial dengan mengikuti prinsip ABC (Airway, Breathing, Circulation), resusitasi cairan, koreksi elektrolit, dan dekompresi darurat (Sullivan et al., 2023; Pavlidis et al., 2024).

1.      Prinsip Umum Stabilisasi Awal Pasien CA Colon di IGD

a.       Airway & Breathing: Memastikan kepatenan jalan napas. Berikan oksigenasi tambahan jika terjadi sepsis berat atau syok septik. Pemasangan Nasogastric Tube (NGT) dilakukan pada distensi abdomen berat untuk dekompresi lambung dan mencegah aspirasi, sedangkan intubasi segera disiapkan jika kondisi sangat destabil (Sullivan et al., 2023).

b.      Circulation (Hemodinamik): Pasang dua jalur vena perifer besar ($\ge$ 16G atau 18G), atau gunakan akses vena sentral (CVC)/intraoseus jika jalur perifer sulit (Sullivan et al., 2023). Berikan bolus kristaloid isotonis 20–30 mL/kgBB pada pasien hipotensi/syok dan hindari fluid overload (Sullivan et al., 2023). Pada perdarahan masif, berikan transfusi Packed Red Cells (PRC) sesuai protokol transfusi masif dengan rasio PRC:FFP:Trombosit = 1:1:1 jika ada koagulopati (Pavlidis et al., 2024). Transfusi PRC diindikasikan pada anemia berat dengan Hb < 7 g/dL, atau < 8 g/dL pada pasien penyakit jantung (Steele et al., 2023).

c.       Laboratorium Awal & NGT: Sampel darah diambil untuk CBC, LFT, fungsi ginjal, elektrolit, koagulasi, laktat (> 2 mmol/L memprediksi poor outcome), dan AGD. NGT diindikasikan untuk dekompresi mual-muntah hebat pada obstruksi, meskipun tidak meredakan distensi kolon secara langsung karena posisi anatomi di atas ligamentum Treitz (Pavlidis et al., 2024).

2.      Penatalaksanaan Kegawatdaruratan Spesifik

a.       Obstruksi Kolon Akut: Mencakup 85% kasus darurat bedah CRC (Sullivan et al., 2023).

1)      Kolon Kanan (Intraperitoneal): Pilihan utama adalah operasi reseksi satu tahap (right hemicolectomy dengan anastomosis ileokolik primer) karena vaskularisasi yang baik (Pavlidis et al., 2024). Pemasangan Self-Expanding Metallic Stent (SEMS) jarang dilakukan karena risiko perforasi diastatik sekum yang tinggi (Pavlidis et al., 2024).

2)      Kolon Kiri (Desendens dan Sigmoid): Merupakan kasus paling sering. Jika pasien stabil tanpa perforasi, SEMS sebagai bridge to surgery menjadi pilihan utama (Pavlidis et al., 2024). Jika pasien tidak stabil, mengalami peritonitis, atau syok septik, dilakukan operasi darurat dengan Hartmann’s procedure atau damage control surgery (Pavlidis et al., 2024; Schwartzberg et al., 2022). Obstruksi total dengan diameter sekum $\ge$ 12 cm memerlukan dekompresi segera karena risiko tinggi perforasi diastatik (Iversen et al., 2024). Kombinasi stent (bridge to surgery) dan kemoterapi neoadjuvan (FOLFOX/CAPOX) dapat meningkatkan luaran onkologis (Katsaounou et al., 2022; Pavlidis et al., 2024).

b.      Perforasi Kolon: Memiliki tingkat mortalitas tinggi sebesar 10–27% (Pavlidis et al., 2024).

1)      Perforasi Bebas dengan Peritonitis Difus: Laparotomi eksplorasi darurat, irigasi peritoneal masif, dan reseksi segmental. Anastomosis primer dihindari; Hartmann's procedure atau damage control surgery dipilih berdasarkan stabilitas pasien (Pavlidis et al., 2024; Schwartzberg et al., 2022).

2)      Perforasi Terkandung dengan Abses Terlokalisasi: Pasien stabil ditatalaksana dengan drainase abses perkutan panduan CT scan dan antibiotik IV spektrum luas, sedangkan reseksi elektif ditunda 4–6 minggu (Pavlidis et al., 2024; Steele et al., 2023).

c.       Perdarahan Masif: Terjadi pada 5–10% kasus (Steele et al., 2023). Jika hemodinamik tidak stabil, lakukan resusitasi agresif dan laparotomi darurat dengan reseksi segmental (Steele et al., 2023). Jika hemodinamik stabil, hemostasis dilakukan melalui kolonoskopi terapeutik (injeksi epinefrin, hemoclip, koagulasi plasma argon) atau melalui angiografi mesenterika dengan embolisasi superselektif (Steele et al., 2023; Yang et al., 2022). Pemasangan covered stent dapat dipertimbangkan pada tumor rektum unresectable (Ami et al., 2022).

3.      Penatalaksanaan Peritonitis dan Sepsis

Tata laksana sepsis akibat perforasi/abses mengikuti Hour-1 Bundle dari Surviving Sepsis Campaign:

a.       Menit ke-0: Pengukuran kadar laktat darah awal (ulang dalam 2–4 jam jika laktat > 2 mmol/L).

b.      Sebelum Antibiotik: Pengambilan minimal 2 set kultur darah (vena perifer dan CVC).

c.       Dalam 1 Jam Pertama: Pemberian antibiotik spektrum luas IV seperti kelompok karbapenem (Meropenem 1 g/8 jam, Imipenem-Silastatin 500 mg/6 jam), Piperacillin-Tazobactam 4,5 g/8 jam, atau kombinasi Sefepime dan Metronidazol, disesuaikan fungsi ginjal (Pavlidis et al., 2024; Sullivan et al., 2023).

d.      Simultan: Resusitasi cairan kristaloid isotonik 30 mL/kgBB jika hipotensi atau laktat $\ge$ 4 mmol/L.

e.       Segera jika Resusitasi Gagal: Inisiasi vasopresor lini pertama (Norepinefrin) titrasi dengan target MAP $\ge$ 65 mmHg (Pavlidis et al., 2024).

f.        Source Control: Tindakan laparotomi atau drainase perkutan wajib dilakukan dalam 6–12 jam setelah diagnosis (Sullivan et al., 2023).

VIII.     KOMPLIKASI

Komplikasi kanker kolorektal (CRC) dibedakan menjadi komplikasi akut yang mengancam jiwa di IGD dan komplikasi jangka panjang atau pascaoperasi. Fokus utama di area gawat darurat ditujukan pada penanganan kondisi akut berisiko tinggi (Karakullukcu, 2025).

1.      Obstruksi Kolon (Large Bowel Obstruction / LBO)

a.       Epidemiologi & Lokasi: Merupakan komplikasi akut tersering di IGD, mencakup 60–80% kasus kegawatdaruratan CRC dan bermanifestasi pada 8,3–29% populasi pasien (Karakullukcu, 2025; Sullivan et al., 2024). Kolon sigmoid paling rentan tersumbat karena kaliber sempit dan feses padat (Fevereiro et al., 2022).

b.      Patofisiologi & Dampak: Katup ileosekal yang kompeten memicu obstruksi closed-loop yang menaikkan tekanan sekum secara drastis hingga berisiko perforasi. Katup inkompeten mengalirkan tekanan ke ileum, namun tetap berisiko memicu iskemia dan translokasi bakteri (Fevereiro et al., 2022). Obstruksi berdampak pada gangguan elektrolit, perforasi, obstruksi usus halus sekunder, perdarahan, dan iskemia kolon (Schwartzberg et al., 2022). Operasi darurat akibat LBO meningkatkan risiko morbiditas 1,8 kali lipat dan mortalitas 30 hari hingga 4,6 kali lipat dibanding tindakan elektif (Karakullukcu, 2025).

2.      Perforasi Kolon

a.       Mekanisme & Klasifikasi: Terjadi pada 3–10% pasien CA Colon dan menyumbang 14–21% dari seluruh kasus perforasi kolon (Sullivan et al., 2024; Fevereiro et al., 2022). Mekanismenya berupa invasi tumor langsung atau diastatic rupture akibat obstruksi, di mana sekum paling rentan ruptur berdasarkan hukum Laplace jika diameter > 12 cm (Fevereiro et al., 2022; Iversen et al., 2024). Perforasi dibedakan menjadi perforasi bebas (memicu peritonitis generalisata) dan perforasi terkandung yang membentuk abses atau phlegmon (Fevereiro et al., 2022; Sullivan et al., 2024). Komplikasi ini dapat memicu necrotizing soft tissue infection (NSTI) yang memerlukan debridemen ekstensif (Cragle et al., 2022).

b.      Prognosis: Pasien menunjukkan recurrence-free survival (RFS) yang buruk, komplikasi pascaoperasi tinggi, serta masa rawat ICU lebih lama dibanding pasien obstruksi (Yang et al., 2022). Peritonitis difus dan keterlibatan kelenjar getah bening positif menjadi faktor independen pemburuk RFS (Yang et al., 2022).

3.      Perdarahan Masif (Massive Lower GI Bleed) Terjadi pada 5–10% kasus kedaruratan akibat erosi tumor ke pembuluh darah besar (seperti arteri hemoroidalis interna atau varises ektopik) maupun invasi organ (Karakullukcu, 2025; Sullivan et al., 2024). Kematian akibat perdarahan masif dari varises ektopik yang diinduksi adenokarsinoma kolon dapat mencapai 40% (Anon., 2022). Prioritas IGD meliputi resusitasi cairan IV, transfusi komponen darah (PRC, FFP, trombosit), dan koreksi koagulopati. Kontrol perdarahan dilakukan via endoskopi darurat, pemasangan covered stent (bridge to surgery), embolisasi, hingga bedah reseksi darurat (Ami et al., 2022; Yang et al., 2022).

4.      Abses Intra-abdominal dan Peritonitis Sepsis Abses bermanifestasi pada 10–30% pasien dengan lesi kolon kiri akibat perforasi terkandung (Sullivan et al., 2024). Sepsis dipicu oleh translokasi bakteri melalui dinding usus yang iskemik/nekrotik, di mana bakteri seperti Fusobacterium nucleatum dan Peptostreptococcus stomatis memperburuk respons inflamasi (Stănescu et al., 2022). Penanganan abses terlokalisasi dilakukan melalui drainase perkutan panduan CT/USG dan reseksi elektif tertunda, namun laparotomi darurat mutlak diperlukan jika abses pecah (Sullivan et al., 2024).

5.      Komplikasi Pascaoperasi yang Relevan di IGD Dievaluasi berdasarkan sistem Clavien-Dindo (Grade I–II minor; Grade III–V mayor/mengancam jiwa). Kasus komplikasi mayor terjadi pada 12,6% operasi darurat dan 10,3% operasi elektif (Karakullukcu, 2025). Komplikasi yang sering ditemukan meliputi:

a.       Kebocoran Anastomosis (Anastomotic Leak): Insiden 3–20%, ditandai demam, nyeri abdomen difus, distensi, peritonitis, dan sepsis dengan onset tersering pada hari ke-5 hingga ke-7 pascaoperasi (Andras et al., 2024; Karakullukcu, 2025).

b.      Ileus / Obstruksi Usus Halus: Insiden 5–10%, ditandai mual, muntah, distensi, konstipasi, dan penurunan bising usus (Andras et al., 2024; Karakullukcu, 2025).

c.       Infeksi Luka Operasi (SSI): Insiden 10–20%, ditandai eritema, nyeri, cairan purulen, dan demam pada minggu pertama (Andras et al., 2024; Sullivan et al., 2024).

d.      Perdarahan Pascaoperasi: Insiden 1–5%, bermanifestasi sebagai hipotensi, takikardia, penurunan Hb, hematoskezia, atau hemoperitoneum (Andras et al., 2024; Yang et al., 2022).

e.       Komplikasi Tromboemboli Vena: Insiden 1–3%, ditandai pembengkakan tungkai unilateral, nyeri, hingga sesak napas akut akibat emboli paru (Andras et al., 2024; Stănescu et al., 2022).

IX.     PENGKAJIAN KEPERAWATAN

Pengkajian keperawatan pada pasien CA Colon di IGD harus terstruktur, cepat, dan akurat untuk mengidentifikasi ancaman jiwa serta menentukan prioritas intervensi. Pendekatan yang digunakan adalah pengkajian primer (Primary Survey: ABCDE) yang dilanjutkan dengan pengkajian sekunder (Secondary Survey: SAMPLE, riwayat spesifik, dan pemeriksaan fisik terfokus). Tujuan utamanya adalah membedakan antara pasien dengan kondisi kronis yang stabil versus kegawatdaruratan onkologis seperti obstruksi, perforasi, perdarahan masif, atau sepsis (Steele et al., 2023; Pavlidis et al., 2024).

A.    Pengkajian Primer (Primary Survey) – ABCDE

Pengkajian primer dilakukan dalam hitungan menit pertama saat pasien tiba di IGD, berfokus pada identifikasi dan tata laksana kondisi yang mengancam nyawa.

Komponen

Penilaian Utama

Temuan Kritis pada CA Colon

Intervensi Keperawatan Segera

A (Airway)

Patensi jalan napas, adanya sumbatan, suara napas tambahan (stridor, snoring).

Umumnya paten. Pada obstruksi berat, distensi abdomen ekstrem memicu elevasi diafragma yang menurunkan ekspansi paru. Pada syok septik/hipovolemik lanjut, penurunan kesadaran dapat mengancam patensi jalan napas (Steele et al., 2023).

Posisikan pasien (head-tilt chin-lift atau jaw-thrust jika ada trauma). Pasang $O_2$ via nasal kanul atau masker. Siapkan alat suction. Jika GCS kurang dari 8 atau refleks protektif jalan napas hilang, siapkan intubasi endotrakeal segera.

B (Breathing)

Frekuensi napas, saturasi $O_2$, pola napas, penggunaan otot bantu napas, auskultasi suara paru.

Takipnea (frekuensi napas lebih dari 24 kali/menit) akibat sepsis, asidosis metabolik (laktat), atau Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) ditandai hipoksemia ($SpO_2$ kurang dari 90%). Pada perforasi dengan peritonitis, napas cenderung dangkal akibat nyeri abdomen (Pavlidis et al., 2024).

Berikan oksigenasi untuk mencapai target $SpO_2$ sama dengan atau lebih dari 94% (atau 88–92% pada pasien PPOK). Siapkan bag-valve mask atau ventilasi mekanik jika terjadi gagal napas. Pantau hasil Analisis Gas Darah (AGD).

C (Circulation)

Denyut jantung (nadi), tekanan darah, perfusi perifer (CRT, warna kulit), perdarahan aktif.

Syok Hipovolemik: Takikardia, hipotensi, CRT lebih dari 3 detik, akral dingin basah, nadi lemah.

Syok Septik: Takikardia, hipotensi refrakter, demam/hipotermia, kulit hangat kemerahan (fase awal).

Perdarahan Masif: Hematoskezia volume besar, penurunan Hb drastis secara mendadak (Steele et al., 2023).

Pasang 2 jalur vena perifer besar (ukuran 16G atau 18G). Mulai resusitasi cairan kristaloid (20–30 mL/kgBB). Ambil sampel darah untuk laboratorium dan kultur darah. Siapkan transfusi PRC jika Hb kurang dari 7 g/dL atau ada perdarahan aktif dengan instabilitas.

D (Disability)

Tingkat kesadaran (GCS), refleks pupil, tanda fokal neurologis, kadar gula darah acak, skala nyeri.

Penurunan kesadaran (GCS kurang dari 15) akibat syok berat atau sepsis-associated encephalopathy. Nyeri abdomen hebat (Numeric Rating Scale/NRS 7–10) umum ditemukan pada kasus obstruksi total atau perforasi kolon (Fevereiro et al., 2022).

Evaluasi tingkat kesadaran (GCS) dan status pupil setiap 15–30 menit. Berikan analgesik opioid intravena (misalnya Fentanyl atau Morfin) sesuai instruksi medis dengan pengawasan ketat terhadap tekanan darah. Lakukan pemeriksaan gula darah acak.

D (Decompression / Distensi)*

Pemeriksaan fisik abdomen terfokus (Inspeksi, Auskultasi, Perkusi,Palpasi).

Inspeksi: Distensi abdomen berat, ketegangan dinding perut.

Auskultasi: Bising usus high-pitched/tinkling (obstruksi awal) atau menghilang (peritonitis/ileus paralitik).

Perkusi: Hipertimpani.

Palpasi: Nyeri tekan, defans muskuler (perut papan), nyeri lepas (peritonitis) (Pavlidis et al., 2024).

Ukur dan pantau lingkar abdomen secara berkala (setiap 4–6 jam). Pasang NGT jika terdapat mual muntah hebat atau distensi berat (ukur dan catat output cairan). Puasakan pasien (NPO/Nil Per Os). Siapkan pasien untuk pemeriksaan radiologi darurat.

E (Exposure)

Pemeriksaan head-to-toe sekilas, integritas kulit, suhu tubuh, pencegahan hipotermia.

Demam tinggi atau hipotermia (tanda sepsis). Turgor kulit menurun dan mukosa kering (dehidrasi berat). Ekimosis/purpura (tanda koagulopati). Pada perforasi rektal/kolon bawah, dapat ditemukan selulitis atau necrotizing soft tissue infection pada dinding abdomen/perineum (Cragle et al., 2022).

Ukur suhu tubuh secara akurat (aksiler atau rektal). Selimuti pasien dengan blanket warmer untuk mencegah hipotermia, terutama saat dilakukan resusitasi cairan masif atau transfusi darah. Lakukan inspeksi menyeluruh pada area kulit.

B.     Pengkajian Sekunder (Secondary Survey)

Setelah status hemodinamik pasien stabil dan kondisi mengancam nyawa teratasi, lakukan pengkajian sekunder secara komprehensif.

1.      Riwayat Kesehatan (SAMPLE + Riwayat Spesifik)

·         S (Symptoms): Keluhan utama saat masuk IGD, seperti nyeri abdomen, konstipasi kronis atau diare, perdarahan per rektum (hematoskezia/melena), mual-muntah hebat, demam, dan penurunan berat badan secara drastis.

·         A (Allergies): Riwayat alergi terhadap obat-obatan (terutama antibiotik, opioid, atau obat anestesi) dan riwayat alergi cairan kontras radiologi.

·         M (Medications): Obat-obatan yang dikonsumsi rutin, khususnya antikoagulan atau antiplatelet (meningkatkan risiko perdarahan masif), obat hipertensi, diabetes, atau regimen kemoterapi yang sedang berjalan.

·         P (Past Medical History):

a.       Riwayat Kanker: Apakah sudah terdiagnosis CA Colon sebelumnya? Jika ya, catat stadium, jenis operasi terdahulu, riwayat kemoterapi/radioterapi, serta status penyakit saat ini (remisi, progresif, atau metastatik).

b.      Riwayat Komorbid: Polip kolorektal, Inflammatory Bowel Disease (IBD seperti Ulcerative Colitis atau Crohn's disease), sindrom herediter (Lynch syndrome, FAP), diabetes melitus, penyakit jantung, gagal ginjal, atau penyakit hati.

c.       Riwayat Prosedur: Tanggal terakhir pelaksanaan kolonoskopi, operasi abdomen, atau pembuatan stoma.

·         L (Last Meal): Kapan waktu terakhir pasien makan atau minum (sangat penting untuk estimasi waktu aman induksi anestesi jika pasien memerlukan operasi cito). Pada pasien obstruksi, catat jika ada keluhan cepat kenyang atau intoleransi makanan.

·         E (Events Leading to Presentation): Kronologi kejadian sebelum ke IGD—berapa lama gejala akut berlangsung, apakah keluhan bersifat progresif, dan intervensi medis apa saja yang sudah didapatkan sebelumnya.

2.      Riwayat Spesifik Terkait CA Colon

a.       Perubahan Kebiasaan Defekasi: Onset konstipasi, diare, atau fase diare-konstipasi yang silih berganti, adanya tenesmus (sensasi BAB tidak tuntas), serta perubahan bentuk feses (mengecil seperti pensil).

b.      Karakteristik Perdarahan: Warna darah yang keluar (merah segar menunjukkan lesi distal/kiri; merah tua atau hitam/melena menunjukkan lesi proksimal/kanan), apakah darah bercampur dengan feses atau hanya membungkus feses, serta perkiraan volume perdarahan.

c.       Karakteristik Nyeri Abdomen: Lokasi spesifik (kuadran kanan bawah pada tumor sekum/kolon asendens; kuadran kiri bawah pada tumor kolon desendens/sigmoid; atau difus pada peritonitis), sifat nyeri (kolik/kram, tajam, atau menetap), serta arah radiasi/penjalaran nyeri.

d.      Gejala Sistemik & Faktor Risiko: Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas (dalam kg dan rentang bulan), kelelahan kronis, anoreksia, demam, atau keringat malam. Tanyakan faktor risiko secara sistematis meliputi usia, riwayat kanker kolorektal dalam keluarga, pola diet (tinggi daging merah/olahan, rendah serat), riwayat merokok, konsumsi alkohol, dan obesitas (Giovannucci, 2022).

3.      Pemeriksaan Fisik Terfokus

a.       Sistem Pencernaan (Abdomen):

1)      Inspeksi: Amati adanya distensi (simetris atau asimetris—obstruksi sigmoid sering memicu distensi dominan di kuadran kiri bawah), massa tumor yang terlihat menonjol, jaringan parut operasi lama, stoma, atau tanda peradangan kulit (selulitis/abses). Amati postur pasien; pada peritonitis, pasien cenderung berbaring kaku dengan lutut fleksi untuk meminimalkan nyeri.

2)      Auskultasi: Lakukan auskultasi minimal selama 2 menit penuh di seluruh kuadran. Pastikan apakah bising usus meningkat dengan nada tinggi/metallic sound (tanda obstruksi mekanik awal) atau justru menurun hingga menghilang (tanda peritonitis difus, ileus paralitik, atau iskemia usus stadium lanjut).

3)      Perkusi: Hipertimpani secara difus mengindikasikan adanya akumulasi gas akibat obstruksi. Pekak (redup) dapat terdengar di area massa tumor atau abses intra-abdomen. Lakukan evaluasi shifting dullness untuk mendeteksi adanya asites (kecurigaan metastasis peritoneal).

4)      Palpasi: Lakukan palpasi superfisial dengan hati-hati untuk mengidentifikasi area nyeri tekan lokal atau difus. Raba adanya massa tumor (terutama pada kolon kanan, teraba padat, berbenjol-benjol, mobilitas terbatas). Evaluasi adanya nyeri lepas (rebound tenderness) dan defans muskuler sebagai tanda definitif peritonitis sekunder akibat perforasi usus.

b.      Pemeriksaan Colok Dubur (Digital Rectal Examination / DRE):

1)      Indikasi: Wajib dilakukan pada semua pasien suspek CA Colon di IGD, terutama dengan keluhan perdarahan per rektum atau perubahan pola BAB.

2)      Evaluasi: Nilai adanya massa rektum (dapat teraba pada 40–50% kasus kanker rektum), tonus sfingter ani, nyeri tekan, serta karakteristik feses pada sarung tangan (warna melena, darah segar, atau lendir).

c.       Sistem Kardiovaskular dan Pernapasan:

1)      Kardiovaskular: Ukur tekanan darah postural (ortostatik) jika kondisi pasien memungkinkan. Auskultasi bunyi jantung untuk menilai adanya tanda-tanda gagal jantung (murmur atau gallop) dan periksa distensi vena jugularis (JVP) guna memandu volume resusitasi cairan agar tidak terjadi fluid overload.

2)      Pernapasan: Auskultasi suara paru. Temuan ronkhi dapat mengindikasikan edema paru akibat kelebihan cairan atau pneumonia sekunder, sedangkan penurunan suara napas pada basal paru dapat mengarah pada efusi pleura akibat metastasis atau abses subdiafragma.

d.      Sistem Integumen dan Ekstremitas:

1)      Kulit & Mukosa: Amati adanya kepucatan yang signifikan (tanda anemia defisiensi besi kronis), ikterus pada sklera atau kulit (tanda metastasis hati luas), turgor kulit menurun, dan mukosa bibir kering (tanda dehidrasi).

2)      Ekstremitas: Periksa adanya edema perifer (akibat hipoalbuminemia malnutrisi energi-protein). Lakukan skrining tanda-tanda Deep Vein Thrombosis (DVT) seperti bengkak unilateral, kemerahan, dan nyeri tekan pada betis, mengingat pasien keganasan memiliki risiko tinggi mengalami hiperkoagulasi dan tromboemboli vena (Katsaounou et al., 2022).

3)      Kelenjar Getah Bening (KGB): Palpasi area supraklavikula (mencari nodus Virchow sebagai indikasi metastasis jauh), aksila, dan inguinal.

e.       Pengkajian Laboratorium dan Pencitraan Terprioritas

Pastikan sampel laboratorium kritis (darah lengkap, elektrolit, fungsi ginjal, laktat, dan koagulasi) terkirim dan hasilnya didapatkan dalam waktu 30–60 menit. Koordinasikan pelaksanaan foto polos abdomen 3 posisi (skrining awal obstruksi/perforasi) dan fasilitasi persiapan pasien untuk MDCT Scan abdomen-pelvis dengan kontras selaku baku emas penegakan kegawatdaruratan kolorektal di IGD.

f.        Pengkajian Psikososial dan Kebutuhan Dukungan

Krisis kegawatdaruratan onkologis memicu distres psikologis, kecemasan, dan ketakutan ekstrem pada pasien dan keluarga. Perawat IGD harus mengkaji aspek berikut secara terapeutik (Wolff et al., 2022):

1)      Tingkat Pemahaman: Apakah pasien dan keluarga sudah mengetahui diagnosis kankernya sebelum masuk IGD? Jika belum, koordinasikan dengan tim medis agar penyampaian diagnosis baru atau kondisi buruk dilakukan secara bertahap, empati, dan jujur di ruangan yang tenang.

2)      Sistem Pendukung (Support System): Identifikasi anggota keluarga inti yang mendampingi dan menilai kesiapan psikologis serta finansial mereka dalam mendampingi pasien menghadapi tindakan bedah darurat, perawatan intensif (ICU), atau risiko pembuatan stoma baru (kolostomi).

3)      Status Emosional: Amati adanya tanda ansietas berat, serangan panik, depresi, atau ketakutan akan kematian.

4)      Kebutuhan Spiritual: Fasilitasi kebutuhan bimbingan rohani atau doa bersama rohaniawan jika diinginkan oleh pasien atau keluarga selama fase kritis di IGD.

X.     DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.      (D.0077) Nyeri Akut b.d. agen pencedera fisiologis (mis. iskemia mukosa usus, distensi dinding usus akibat obstruksi lumen kolon oleh massa tumor, inflamasi peritoneum akibat perforasi usus) d.d. pasien mengeluh nyeri abdomen kram yang hebat dengan skala NRS lebih dari 4/10, tampak meringis kesakitan, bersikap protektif (mis. memeluk lutut atau memegangi area abdomen yang tegang), gelisah, frekuensi nadi meningkat (takikardia), dan tekanan darah meningkat.

2.      (D.0015) Risiko Perfusi Perifer Tidak Efektif d.d.penurunan konsentrasi hemoglobin dan penurunan volume cairan intravaskular (akibat perdarahan saluran cerna masif atau erosi pembuluh darah submukosa kolon oleh vaskularisasi tumor yang rapuh)

3.      (D.0039) Risiko Syok d.d.kekurangan volume cairan intravaskular (akibat hematoskezia masif) atau sepsis (akibat peritonitis generalisata pasca-perforasi dinding usus dan translokasi bakteri sistemik).


XI.     INTERVENSI KEPERAWATAN

Masalah Keperawatan

Tujuan Keperawatan

Intervensi Keperawatan

 (D.0077) Nyeri Akut b.d. agen pencedera fisiologis (mis. iskemia mukosa usus, distensi dinding usus akibat obstruksi lumen kolon oleh massa tumor, inflamasi peritoneum akibat perforasi usus) d.d. pasien mengeluh nyeri abdomen kram yang hebat dengan skala NRS lebih dari 4/10, tampak meringis kesakitan, bersikap protektif (mis. memeluk lutut atau memegangi area abdomen yang tegang), gelisah, frekuensi nadi meningkat (takikardia), dan tekanan darah meningkat..

Tingkat Nyeri (L.08066)

Setelah melakukan tindakan keperawatan selama 2-6 jam maka diharapkan tingkat nyeri menurun dengan kriteria hasil:

1.       Keluhan nyeri menurun

2.       Meringis menurun

3.       Sikap protektif menurun

4.       Gelisah menurun

5.       Frekuensi nadi membaik (menurun menuju rentang normal 60–100 kali/menit)

Manajemen Nyeri (I.08238)

Observasi

1.       Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri.

Rasional: Menentukan sumber nyeri, apakah karena obstruksi (kram/kolik) atau perforasi (nyeri tajam/menetap).

2.       Identifikasi skala nyeri.

Rasional: Menyediakan data dasar objektif (skala NRS) untuk menilai efektivitas terapi.

3.       Identifikasi respons nyeri non-verbal.

Rasional: Menilai derajat keparahan nyeri pada pasien yang mengalami penurunan kesadaran atau gelisah berat.

4.       Monitor efek samping penggunaan analgetik.

Rasional: Mengantisipasi efek depresi pernapasan atau hipotensi akibat analgesik kuat (mis. opioid).

Terapeutik

5.       Berikan teknik non-farmakologis untuk mengurangi nyeri (fokus: teknik napas dalam).

Rasional: Menurunkan ketegangan otot abdomen dan kecemasan secara cepat tanpa menutupi gejala klinis bedah.

6.       Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis. kebisingan, pencahayaan).

Rasional: Mengurangi stimulasi sensorik eksternal yang dapat memperburuk persepsi nyeri pasien.

7.       Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi meredakan nyeri.

Rasional: Menghindari intervensi yang membahayakan (mis. kompres hangat/pijat pada suspek perforasi/peritonitis karena berisiko memperparah inflamasi).

 Edukasi

8.       Jelaskan penyebab dan pemicu nyeri secara singkat.

Rasional: Menurunkan ansietas pasien dengan memberikan pemahaman bahwa nyerinya bersumber dari kondisi medisnya.

9.       Jelaskan strategi meredakan nyeri.

Rasional: Memastikan pasien kooperatif saat diajarkan teknik relaksasi napas dalam di sela-sela serangan nyeri.

Kolaborasi

10.    Kolaborasi pemberian analgetik (mis. opioid atau non-opioid sesuai instruksi medis).

Rasional: Penatalaksanaan definitif untuk memutus kaskade nyeri hebat pada kegawatdaruratan onkologi abdomen sebelum tindakan bedah

(D.0015) Risiko Perfusi Perifer Tidak Efektif d.d.penurunan konsentrasi hemoglobin dan penurunan volume cairan intravaskular (akibat perdarahan saluran cerna masif atau erosi pembuluh darah submukosa kolon oleh vaskularisasi tumor yang rapuh)

Perfusi Perifer (L.02011)

Perfusi Perifer Meningkat dalam waktu 2–6 jam, dengan kriteria hasil:

1.       Kekuatan nadi perifer meningkat

2.       Warna kulit pucat menurun

3.       Pengisian kapiler (CRT) membaik (menjadi < 3 detik)

4.       Akral membaik (teraba hangat dan kering)

5.       Turgor kulit membaik

Pencegahan Syok (I.02068)

Observasi

1.       Monitor status kardiopulmonal (frekuensi dan kekuatan nadi, TD, MAP).

Rasional: Penurunan nadi perifer, TD, dan MAP yang drastis menandakan penurunan aliran darah ke jaringan distal.

2.       Monitor status cairan (turgor kulit, CRT).

Rasional: Menilai kecukupan volume intravaskular yang secara langsung memengaruhi keadekuatan perfusi ke ujung-ujung ekstremitas.

Terapeutik

3.       Berikan oksigen untuk mempertahankan saturasi oksigen $> 94\%$.

Rasional: Memaksimalkan kandungan oksigen yang diikat oleh hemoglobin yang tersisa untuk dialirkan ke jaringan perifer.

4.       Pasang jalur IV (minimal ukuran besar 16G atau 18G).

Rasional: Akses utama dan cepat untuk resusitasi cairan atau komponen darah guna memperbaiki volume dan perfusi.

Edukasi

5.       Anjurkan melapor jika menemukan/merasakan tanda ekstremitas semakin dingin atau lemas.

Rasional: Melibatkan pasien untuk mendeteksi dini tanda perburukan vasokonstriksi perifer selama observasi di IGD.

Kolaborasi

6.       Kolaborasi pemberian cairan IV (kristaloid).

Rasional: Mengisi volume intravaskular dengan cepat guna mendorong aliran darah ke pembuluh darah distal.

7.       Kolaborasi pemberian transfusi darah (mis. PRC), jika ada indikasi perdarahan/anemia.

Rasional: Meningkatkan kapasitas angkut oksigen ke jaringan perifer yang mengalami hipoksia akibat perdarahan tumor

(D.0039) Risiko Syok d.d.kekurangan volume cairan intravaskular (akibat hematoskezia masif) atau sepsis (akibat peritonitis generalisata pasca-perforasi dinding usus dan translokasi bakteri sistemik).

Tingkat Syok (L.03032)

Tingkat Syok Menurun dalam waktu 2–6 jam, dengan kriteria hasil:

1.        Tekanan darah sistolik membaik (menuju rentang ≥ 90 mmHg)

2.       Tekanan darah diastolik membaik (menuju rentang ≥ 60 mmHg)

3.       Tekanan arteri rata-rata (MAP) membaik (mencapai target ≥ 65 mmHg)

4.       Output urine meningkat (mencapai target ≥ 0,5 mL/kgBB/jam)

5.       Tingkat kesadaran meningkat (GCS membaik/composmentis)

6.       Frekuensi napas membaik (menuju rentang normal 12–20 kali/menit)

Pemantauan Cairan (I.03121)

Observasi

1.       Monitor tekanan darah (Sistolik, Diastolik, dan MAP).

Rasional: Indikator utama untuk menilai status syok sirkulasi dan kecukupan perfusi organ vital.

2.       Monitor frekuensi napas.

Rasional: Menilai adanya kompensasi paru (takipnea) akibat asidosis metabolik yang sering terjadi pada kondisi syok.

3.       Monitor jumlah dan warna urine.

Rasional: Urine merupakan indikator emas (gold standard) untuk menilai perfusi organ ginjal (end-organ perfusion) selama resusitasi.

4.       Monitor hasil pemeriksaan serum (fokus: Hematokrit, Kalium, Natrium, BUN).

Rasional: Mendeteksi hemokonsentrasi akibat perdarahan tumor, gangguan elektrolit, atau tanda awal gagal ginjal akut prerenal.

5.       Monitor intake dan output cairan.

Rasional: Menghitung fluid balance secara ketat per jam untuk menentukan kecukupan atau kelebihan cairan resusitasi.

6.       Identifikasi tanda-tanda hipovolemia (mis. TD menurun, tekanan nadi menyempit, volume urine menurun).

Rasional: Memastikan apakah syok didominasi oleh etiologi hipovolemik (perdarahan CA Colon) untuk panduan resusitasi cairan cepat.

7.       Identifikasi faktor risiko ketidakseimbangan cairan (fokus: trauma/perdarahan, obstruksi intestinal).

Rasional: Mengaitkan manifestasi syok secara langsung dengan patofisiologi CA Colon (perdarahan masif atau obstruksi lumen usus).

Terapeutik

8.       Atur interval waktu pemantauan sesuai dengan kondisi pasien (mis. setiap 15–30 menit pada kondisi tidak stabil).

Rasional: Menjamin deteksi dini perburukan kondisi klinis pasien sebelum syok masuk ke fase ireversibel.

9.       Dokumentasikan hasil pemantauan pada lembar observasi IGD.

Rasional: Menyediakan data tren hemodinamik yang akurat untuk kolaborasi tindakan medik selanjutnya (seperti operasi cito).

Edukasi

10.    Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan secara singkat kepada keluarga/pasien.

Rasional: Menurunkan kecemasan dan mendapatkan kerja sama yang kooperatif selama prosedur pemantauan ketat di IGD.


XII.     EVALUASI KEPERAWATAN

Evaluasi keperawatan di IGD merupakan proses sistematik untuk menilai respons pasien terhadap intervensi gawat darurat yang telah diberikan, baik intervensi medis maupun keperawatan. Proses ini esensial untuk menentukan apakah tujuan yang telah ditetapkan tercapai, tercapai sebagian, atau tidak tercapai.

Pada pasien CA Colon dengan kegawatdaruratan onkologis, evaluasi dilakukan secara dinamis dan berkelanjutan karena kondisi klinis pasien dapat memburuk dengan cepat dalam hitungan menit hingga jam akibat risiko sumbatan total, robekan dinding usus, perdarahan masif, atau infeksi sistemik (Steele et al., 2023; Pavlidis et al., 2024).

Evaluasi di IGD tidak berfokus pada luaran klinis jangka panjang seperti kesembuhan atau kekambuhan kanker, melainkan pada stabilisasi fase akut, pencegahan komplikasi yang mengancam nyawa, serta penilaian kesiapan pasien untuk ditransfer ke ruang rawat inap bedah, Intensive Care Unit (ICU), atau Kamar Operasi (OK) (Sullivan et al., 2023).

A.     Prinsip Evaluasi Keperawatan di IGD

1.      Evaluasi Berkelanjutan (Continuous Evaluation): Evaluasi tidak hanya dilakukan di akhir dinas (shift) atau setelah tindakan selesai, melainkan setiap kali ada data klinis baru yang tersedia seperti perubahan tanda-tanda vital, hasil laboratorium cito, atau hasil pencitraan.

2.      Parameter Objektif Terukur: Evaluasi wajib menggunakan alat ukur atau parameter klinis yang valid dan objektif, seperti skala nyeri Numeric Rating Scale (NRS), Glasgow Coma Scale (GCS), Mean Arterial Pressure (MAP), jumlah produksi urine per jam, serta ukuran lingkar abdomen.

3.      Dokumentasi Akurat dan Real-Time: Setiap perkembangan atau respons pasien harus langsung dicatat dalam rekam medis dengan menyertakan keterangan waktu (jam dan menit) yang spesifik untuk menjaga kontinuitas perawatan.

4.      Kolaboratif: Evaluasi dilakukan secara multidisiplin bersama tim medis IGD, dokter spesialis bedah/onkologi, dan perawat intensif untuk menentukan langkah definitif pasien selanjutnya.

B.     Evaluasi Keseluruhan (Outcome Global / Kriteria Transfer)

Sebelum pasien dialihkan perawatannya dari IGD ke unit perawatan definitif seperti Kamar Operasi, ICU, atau Ruang Rawat Inap Bedah, perawat IGD harus melakukan evaluasi global untuk memastikan aspek keselamatan pasien terpenuhi (Steele et al., 2023; Sullivan et al., 2023):

1.      Stabilitas Hemodinamik: Nilai MAP menetap di angka sama dengan atau lebih dari 65 mmHg dengan penggunaan dosis obat vasopresor yang sudah stabil (tidak memerlukan titrasi agresif), serta tidak lagi membutuhkan guyuran cairan resusitasi dalam volume besar.

2.      Status Pernapasan: Oksigenasi adekuat dengan nilai $SpO_2$ sama dengan atau lebih dari 92% menggunakan alat bantu napas minimal seperti nasal kanul 2–4 LPM, atau parameter ventilator mekanik sudah terseting stabil pada pasien dengan intubasi.

3.      Status Neurologis: Penilaian GCS sama dengan atau lebih dari 13, serta dipastikan tidak ada penurunan status kesadaran lebih dari 2 poin dalam waktu 1 jam terakhir pengamatan.

4.      Pencitraan & Diagnosis: Hasil pemeriksaan diagnostik kritis seperti MDCT Scan abdomen-pelvis atau foto polos abdomen 3 posisi sudah diinterpretasikan secara resmi oleh dokter spesialis, dan rencana terapi definitif seperti laparotomi darurat atau pemasangan colonic stent sudah diputuskan.

5.      Akses Vaskular: Terpasang minimal 1 jalur intravena perifer yang paten dan berfungsi baik menggunakan kateter ukuran besar (ukuran 16G atau 18G), atau idealnya memiliki 2 jalur intravena yang aman.

6.      Terapi Antibiotik: Dosis pertama antibiotik spektrum luas wajib sudah masuk dan didokumentasikan dalam kurun waktu 1 jam pertama sejak indikasi sepsis tegak (sepsis bundle compliance).

7.      Aspek Legal Penunjang: Seluruh berkas administrasi dan lembar informed consent terkait tindakan pembedahan, pelaksanaan endoskopi, maupun pemberian transfusi darah sudah ditandatangani dan lengkap secara hukum.

8.      Konfirmasi Ruangan: Unit tujuan (Kamar Operasi, ICU, atau Bangsal Bedah) sudah dihubungi, laporan timbang terima pasien (SBAR) sudah diselesaikan, dan tempat tidur siap menerima pasien.


DOWNLOAD DOKUMENNYA DISINI

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOWNLOAD CONTOH SURAT LAMARAN DAPUR MBG

Download Undangan Tonjokan: Solusi Praktis dan Efisien untuk Pernikahan (Format MS. Word)

LAPORAN PENDAHULUAN DIARE