UNDUH LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN DIAGNOSA MEDIS PROLAPS UTERI (PORTUS UTERI) - FORMAT DOC

 

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN DIAGNOSA MEDIS PROLAPS UTERI (PORTUS UTERI)

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Definisi

            Prolaps uteri (portus uteri) adalah suatu kondisi di mana uterus turun atau keluar dari posisi normalnya di dalam rongga panggul ke arah vagina, bahkan sampai keluar dari introitus vagina. Kondisi ini terjadi akibat kelemahan atau kerusakan pada otot-otot dasar panggul, ligamen, dan jaringan ikat yang berfungsi sebagai penopang uterus (Prawirohardjo, 2014).

            Prolaps uteri merupakan bagian dari prolaps organ panggul (pelvic organ prolapse/POP) yang mencakup prolaps kandung kemih (sistokel), prolaps rektum (rektokel), dan enterokele. Kondisi ini paling sering terjadi pada wanita multiparitas dan wanita pascamenopause (Berek, 2012).

            Menurut Wiknjosastro (2010), prolaps uteri adalah suatu keadaan turunnya uterus melalui dasar panggul yang dapat dibagi menjadi beberapa tingkat berdasarkan berat ringannya penurunan uterus tersebut. Istilah prolaps uteri, descensus uteri, portio uteri, dan prosidensia uteri sering digunakan secara bergantian dalam literatur medis.

B.      Klasifikasi

Prolaps uteri diklasifikasikan berdasarkan derajat keparahan penurunan uterus. Berikut adalah klasifikasi menurut beberapa sistem:

1.      Klasifikasi Menurut Derajat (Baden-Walker)

•         Derajat I (Descensus): Serviks uteri turun sampai ke introitus vagina. Pasien biasanya belum merasakan keluhan yang berarti.

•         Derajat II (Prolaps Parsialis): Sebagian uterus sudah keluar dari vagina, serviks berada di introitus atau sedikit keluar.

•         Derajat III (Prosidensia/Prolaps Total): Uterus seluruhnya keluar dari vagina, disertai inversio vaginae. Merupakan derajat paling berat.

2.      Klasifikasi Sistem POP-Q (Pelvic Organ Prolapse Quantification)

Sistem POP-Q merupakan sistem standardisasi internasional yang lebih objektif dalam menilai prolaps organ panggul berdasarkan pengukuran anatomis menggunakan titik-titik acuan tertentu (Aa, Ba, C, D, Ap, Bp, gh, pb, tvl).

•         Stadium 0: Tidak ada prolaps, semua titik ukur berada lebih dari 3 cm di atas hymen.

•         Stadium I: Bagian paling distal prolaps berada >1 cm di atas hymen.

•         Stadium II: Bagian paling distal prolaps antara -1 cm hingga +1 cm dari hymen.

•         Stadium III: Bagian paling distal prolaps >1 cm di bawah hymen tetapi belum mencapai total vaginal length (TVL) - 2 cm.

•         Stadium IV: Prolaps total, bagian paling distal mencapai TVL - 2 cm atau lebih.

3.      Klasifikasi Berdasarkan Etiologi

•         Prolaps uteri primer: Tidak ada riwayat operasi panggul sebelumnya.

•         Prolaps uteri sekunder/rekuren: Terjadi setelah tindakan operatif sebelumnya.

C.    Etiologi

Prolaps uteri merupakan kondisi multifaktorial. Berbagai faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya prolaps uteri antara lain (Mochtar, 2013; Prawirohardjo, 2014):

a.       Faktor Obstetri

•         Persalinan pervaginam yang lama dan traumatik, terutama kala II memanjang

•         Multiparitas: setiap persalinan meningkatkan risiko prolaps

•         Makrosomia atau kepala janin besar yang merusak dasar panggul

•         Persalinan dengan ekstraksi forsep atau vakum yang tidak tepat

•         Laserasi perineum yang tidak direpair dengan baik

b.      Faktor Hormonal

•         Defisiensi estrogen pascamenopause menyebabkan atrofi jaringan penyangga

•         Kolagen yang menjadi komponen utama ligamen mengalami degradasi tanpa estrogen

•         Kelemahan jaringan ikat yang diperantarai hormonal

c.       Faktor Mekanik & Anatomis

•         Peningkatan tekanan intraabdomen kronik: batuk kronik, konstipasi, obesitas

•         Pekerjaan berat yang menuntut mengangkat beban

•         Kelemahan otot dasar panggul kongenital

•         Hipermobilitas sendi (kelainan kolagen genetik seperti sindrom Ehlers-Danlos)

d.      Faktor Demografis

•         Usia lanjut (>60 tahun): atrofi jaringan progresif

•         Ras Kaukasia dan Hispanik memiliki risiko lebih tinggi dibanding Afro-Amerika

•         Riwayat keluarga dengan prolaps organ panggul

e.       Faktor Iatrogenik

•         Histerektomi sebelumnya yang tidak disertai penutupan dasar panggul yang adekuat

•         Tindakan operasi panggul yang merusak struktur penyangga

D.    Manifestasi Klinis

Gejala klinis prolaps uteri bervariasi sesuai derajat keparahannya. Banyak kasus ringan bersifat asimtomatik (Berek, 2012; Wiknjosastro, 2010):

a)      Gejala Lokal

•         Rasa berat, penuh, atau tertekan di daerah pelvis dan vagina

•         Sensasi adanya massa atau benjolan yang menonjol dari vagina

•         Nyeri pinggang bawah atau sacrum yang memburuk saat berdiri lama

•         Rasa tidak nyaman yang berkurang saat berbaring

•         Ulserasi atau dekubitus pada mukosa serviks/vagina yang menonjol

b)      Gejala Saluran Kemih

•         Inkontinensia urin (stres inkontinensia): kebocoran urin saat batuk, bersin, olahraga

•         Frekuensi dan urgensi miksi yang meningkat

•         Hesitansi dan pancaran urin lemah

•         Retensi urin pada kasus berat (akibat angulasi uretra)

•         Infeksi saluran kemih berulang

c)      Gejala Saluran Cerna

•         Konstipasi kronik

•         Rasa tidak tuntas saat defekasi

•         Perlu melakukan maneuver digital (memasukkan jari) untuk membantu defekasi

•         Inkontinensia alvi pada kasus berat

 

d)      Gejala Seksual

•         Dispareunia (nyeri saat berhubungan seksual)

•         Penurunan kepuasan seksual

•         Disfungsi seksual karena rasa malu dan citra tubuh negatif

e)      Gejala Psikologis

•         Ansietas dan depresi akibat perubahan citra tubuh

•         Gangguan aktivitas sosial dan kualitas hidup

•         Rasa malu dan isolasi diri

E.     Patofisiologi

Uterus dalam keadaan normal dipertahankan pada posisinya oleh tiga sistem penyangga utama yang saling mendukung. Ketika sistem ini mengalami kelemahan atau kerusakan, terjadilah prolaps uteri (DeLancey, 2002, seperti dikutip dalam Hacker et al., 2016):

v  Level I: Suspensi Apikal

Ligamen uterosacral dan ligamen kardinal menyangga puncak vagina dan serviks. Kerusakan level ini menyebabkan prolaps apikal (descensus uteri).

v  Level II: Dukungan Lateral

Arcus tendineus fasciae pelvis dan paravaginal attachment menyangga dinding vagina bagian tengah. Kerusakan menyebabkan sistokel dan rektokel.

v  Level III: Dukungan Perineal

Perineal body dan membran perineal menyangga vagina bagian distal. Kerusakan mengakibatkan defek perineum.Patofisiologi prolaps uteri dapat dijelaskan melalui mekanisme berikut:

•         Trauma Obstetri: Persalinan pervaginam menyebabkan peregangan berlebihan otot levator ani, membran perineal, dan denervasi pudendal. Penelitian EMG menunjukkan terjadi disfungsi neuromuskular persisten pascapersalinan pada wanita dengan prolaps.

•         Perubahan Hormonal: Estrogen merangsang sintesis kolagen dan pemeliharaan elastisitas jaringan ikat. Defisiensi estrogen pascamenopause memicu degradasi kolagen (peningkatan matriks metalloproteinase) sehingga ligamen dan fascia kehilangan kekuatan.

•         Tekanan Intraabdomen Kronik: Peningkatan tekanan intraabdomen secara kronik (obesitas, konstipasi, batuk) memberikan beban mekanis berulang pada dasar panggul yang secara bertahap melemahkan struktur penyangga.

•         Progresi Prolaps: Sekali terjadi kelemahan, uterus akan mengikuti jalur gravitasi ke arah hiatus levator. Prolaps bersifat progresif karena semakin turunnya uterus memberikan traksi lebih lanjut pada jaringan penyangga yang tersisa, menciptakan siklus memperburuk diri sendiri (vicious cycle).

•         Komplikasi Sekunder: Prolaps yang sudah terjadi menyebabkan perubahan anatomi pada uretra, kandung kemih, dan rektum sehingga menimbulkan gejala saluran kemih dan gastrointestinal.

F.     Pemeriksaan Penunjang

v  Pemeriksaan Fisik

•         Inspeksi: Observasi perineum dalam posisi litotomi dan berdiri untuk menilai derajat prolaps

•         Valsalva maneuver: Meminta pasien mengejan untuk memvisualisasikan prolaps maksimal

•         Pemeriksaan bimanual: Evaluasi ukuran, konsistensi, dan mobilitas uterus

•         Evaluasi POP-Q: Pengukuran kuantitatif seluruh kompartemen pelvis\

v  Pemeriksaan Laboratorium

•         Urinalisis dan kultur urin: Mendeteksi infeksi saluran kemih

•         Darah lengkap (CBC): Evaluasi anemia

•         Kadar hormon estrogen/FSH: Konfirmasi status menopause

•         BUN dan kreatinin: Evaluasi fungsi ginjal bila ada retensi urin

v  Pemeriksaan Urodinamik

•         Sistometri: Evaluasi fungsi kandung kemih dan tekanan detrusor

•         Uroflowmetri: Mengukur laju aliran urin

•         Pressure-flow study: Diagnosis banding inkontinensia urin

•         Residual urin: Pengukuran sisa urin postmiksional

v  Pencitraan

•         Ultrasonografi (USG) transperineal/transvaginal: Evaluasi otot levator ani dan fascia

•         MRI panggul dinamik: Pencitraan gold standard untuk evaluasi komprehensif dasar panggul

•         Defekografi/proctografi: Evaluasi rektokel dan enterokele

•         IVP atau urografi: Bila dicurigai hidronefrosis

v  Pemeriksaan Tambahan

•         Pap smear: Skrining keganasan serviks

•         Kolposkopi: Evaluasi lesi serviks

•         Swab vagina: Kultur bila ada tanda infeksi

•         EKG dan foto thorax: Persiapan operasi

G.    Diagnosis

v  Kriteria Diagnosis

Diagnosis prolaps uteri ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang relevan (ACOG, 2019):

a. Anamnesis

•         Keluhan utama: rasa berat di panggul, benjolan di vagina, gangguan berkemih/defekasi

•         Riwayat obstetri: jumlah persalinan, cara persalinan, komplikasi

•         Riwayat menopause dan terapi hormonal

•         Penilaian kualitas hidup menggunakan kuesioner PFDI-20 atau PISQ

b. Pemeriksaan Fisik

•         Konfirmasi descensus uteri dengan pemeriksaan inspekulo dan bimanual

•         Dokumentasi derajat prolaps dengan sistem POP-Q

•         Evaluasi tonus sfingter anal dan bulbocavernosus reflex

v  Diagnosis Banding

•         Kista Bartholin atau kista vagina

•         Mioma uteri atau polip serviks yang prolaps

•         Inversio uteri

•         Sistokel atau rektokel tanpa prolaps uteri

•         Karsinoma serviks stadium lanjut

H.    Komplikasi

1. Komplikasi Saluran Kemih

•         Infeksi saluran kemih berulang: akibat stasis urin dan trauma mekanis

•         Hidronefrosis dan gagal ginjal kronik: akibat obstruksi ureter pada prolaps berat

•         Retensi urin akut: obstruksi uretra pada prosidensia

2. Komplikasi Lokal

•         Ulkus dekubitus pada mukosa serviks/vagina: akibat gesekan kronik

•         Infeksi dan sepsis lokal

•         Perdarahan dari ulserasi

•         Inkarserasi uteri: jepitan jaringan dalam ring pessary

3. Komplikasi Psikososial

•         Depresi dan ansietas

•         Disfungsi seksual dan gangguan hubungan interpersonal

•         Isolasi sosial dan penurunan kualitas hidup

4. Komplikasi Pascaoperasi

•         Rekurensi prolaps

•         Disfungsi kandung kemih de novo

•         Dispareunia

•         Erosi mesh (pada rekonstruksi dengan mesh sintetis)

I.       Penatalaksanaan

1. Penatalaksanaan Konservatif

a. Modifikasi Gaya Hidup

•         Penurunan berat badan pada pasien obesitas

•         Penatalaksanaan konstipasi dan batuk kronik

•         Modifikasi aktivitas fisik: hindari mengangkat beban berat

•         Edukasi teknik berkemih dan defekasi yang benar

 

b. Latihan Dasar Panggul (Kegel Exercise)

•         Efektif untuk prolaps derajat I dan II

•         Dilakukan 3 set × 15 repetisi per hari

•         Dapat dikombinasikan dengan biofeedback fisioterapi

•         Menguatkan otot pubococcygeus dan otot dasar panggul

c. Terapi Estrogen Topikal

•         Estrogen krim vaginal atau pessary estradiol

•         Memperbaiki atrofi vagina dan meningkatkan kualitas jaringan

•         Merupakan terapi ajuvan pra-operasi maupun untuk pengelolaan konservatif

d. Pessary

•         Alat mekanis yang dimasukkan ke vagina untuk menopang uterus

•         Indikasi: pasien yang tidak layak operasi, menolak operasi, selama kehamilan

•         Jenis: ring pessary, Gellhorn pessary, cube pessary, Shaatz pessary

•         Perlu kontrol berkala (setiap 3-6 bulan) dan perawatan rutin

2. Penatalaksanaan Operatif

a. Pada Pasien yang Masih Ingin Hamil

•         Manchester-Fothergill operation: amputasi serviks + plikasi ligamen kardinale

•         Kolpopeksi sacral (sacropexy): fiksasi vagina/uterus ke promontori sakrum

•         Uterine suspension procedures

b. Pada Pasien yang Sudah Tidak Ingin Hamil

•         Histerektomi vaginal: pilihan utama, diikuti perbaikan dasar panggul

•         Kolpokleisis (operasi Le Fort): obliterasi vagina pada pasien lansia yang tidak aktif seksual

•         Sacrohysteropexy: fiksasi uterus ke sakrum dengan mesh (preservasi uterus)

•         Operasi rekonstruksi multikompartemen: bila disertai sistokel/rektokel

3. Penatalaksanaan Farmakologis

•         Estrogen topikal: terapi adjuvan praoperasi

•         Analgesik: pengelolaan nyeri perioperatif

•         Antibiotik: profilaksis perioperatif dan terapi infeksi

•         Laksatif/pencahar: mencegah konstipasi pascaoperasi

J.      Pathway (Alur Patofisiologi)Pathway prolaps uteri menggambarkan alur dari faktor predisposisi hingga masalah keperawatan yang muncul:

Faktor Predisposisi

Etiologi

Patofisiologi

Tanda & Gejala

Masalah Keperawatan

Persalinan lama/traumatik Multiparitas Menopause Peningkatan TIA

Kelemahan otot dasar panggul & ligamen penopang uterus

Uterus turun ke dalam atau keluar vagina sesuai derajat

Rasa berat di panggul, benjolan keluar, nyeri, gangguan miksi/defekasi

Nyeri akut/kronis Gangguan eliminasi Ansietas Risiko infeksi Gangguan citra tubuh

Derajat I: Serviks turun ke vagina

Kelemahan jaringan ikat & fascia

Tekanan intraabdomen meningkat → descensus uteri progresif

Inkontinensia urin Retensio urin Konstipasi

Gangguan eliminasi urin/alvi

Derajat II: Serviks di introitus vagina

Kekurangan estrogen pasca menopause

Atrofi otot & ligamen → hilangnya dukungan struktural

Ulserasi serviks Perdarahan

Risiko infeksi Gangguan integritas kulit

Derajat III (Prosidensia): Uterus keluar seluruhnya

Faktor genetik & kongenital

Prolaps total → komplikasi saluran kemih & pencernaan

Dekubitus mukosa Gangguan seksual Depresi/ansietas

Gangguan citra tubuh Disfungsi seksual Ansietas

Keterangan: Pathway di atas menggambarkan hubungan antara faktor predisposisi, etiologi, mekanisme patofisiologi, manifestasi klinis, dan masalah keperawatan yang menjadi dasar penyusunan asuhan keperawatan.

 

BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN PROLAPS UTERI

A. Pengkajian Keperawatan

v  Identitas Pasien

•         Nama, umur (terutama relevan bila usia lanjut/menopause)

•         Jenis kelamin: wanita

•         Status pernikahan dan jumlah anak

•         Pekerjaan (aktivitas fisik berat)

•         Alamat dan tanggal masuk RS

B. Keluhan Utama

Pasien umumnya datang dengan keluhan utama berupa rasa berat dan penuh di daerah panggul, adanya massa yang terasa atau terlihat menonjol dari vagina, gangguan berkemih (sulit atau bocor), dan nyeri pinggang bawah.

C. Riwayat Kesehatan

1.      Riwayat Penyakit Sekarang

Kaji kapan keluhan pertama kali dirasakan, apakah ada pemicu (berdiri lama, batuk, angkat berat), derajat ketidaknyamanan, pengaruh terhadap aktivitas sehari-hari, dan sudah berapa lama keluhan berlangsung.

2.      Riwayat Penyakit Dahulu

•         Riwayat persalinan: jumlah, jenis persalinan, komplikasi

•         Riwayat operasi ginekologi

•         Riwayat ISK berulang

•         Riwayat diabetes, penyakit paru kronik, konstipasi kronik

3.      Riwayat Keluarga

Kaji adanya anggota keluarga yang pernah mengalami prolaps organ panggul sebagai indikator faktor genetik.

D. Riwayat Obstetri dan Ginekologi

•         GPAH (Gravida, Para, Abortus, Hidup): riwayat kehamilan dan persalinan

•         Status menstruasi: premenopause, perimenopause, postmenopause

•         Riwayat penggunaan kontrasepsi hormonal

•         Riwayat infeksi panggul atau kanker ginekologi

F. Pemeriksaan Fisik

1. Keadaan Umum dan Tanda Vital

•         Kesadaran, tingkat kecemasan

•         Tekanan darah, nadi, respirasi, suhu

•         Berat badan dan tinggi badan (hitung IMT)

2. Pemeriksaan Sistematis

•         Abdomen: inspeksi, palpasi, perkusi (distensi kandung kemih)

•         Genitalia: inspeksi vulva dan vagina, identifikasi derajat prolaps

•         Pemeriksaan bimanual: ukuran uterus, nyeri tekan adneksa

•         Pemeriksaan rektal: tonus sfingter, rektokel

•         Neurologis: refleks bulbocavernosus, sensasi perineum

E. Pengkajian Kebutuhan Dasar (Gordon's Functional Health Pattern)

•         Pola Persepsi Kesehatan

Kaji pemahaman pasien tentang kondisinya, kepatuhan terhadap anjuran medis, dan persepsi tentang kualitas hidupnya.

•         Pola Nutrisi-Metabolik

Kaji asupan cairan dan nutrisi, berat badan, dan adanya gangguan makan terkait rasa tidak nyaman.

•         Pola Eliminasi

Kaji frekuensi dan karakteristik berkemih, adanya inkontinensia urin (stres/urgensi), konstipasi, dan inkontinensia alvi.

•         Pola Aktivitas-Latihan

Kaji toleransi aktivitas, keterbatasan akibat keluhan, dan jenis pekerjaan.

•         Pola Tidur-Istirahat

Kaji gangguan tidur akibat nokturia atau nyeri.

•         Pola Kognitif-Persepsi

Kaji tingkat nyeri menggunakan skala NRS (0-10), pemahaman kondisi penyakit.

•         Pola Persepsi-Konsep Diri

Kaji citra tubuh, harga diri, dan dampak kondisi terhadap identitas pasien sebagai wanita.

•         Pola Peran-Hubungan

Kaji dampak kondisi terhadap peran dalam keluarga, pekerjaan, dan relasi sosial.

•         Pola Seksualitas-Reproduksi

Kaji adanya dispareunia, perubahan fungsi seksual, dan dampak terhadap hubungan dengan pasangan.

•         Pola Koping-Toleransi Stres

Kaji mekanisme koping, dukungan keluarga, dan kemampuan mengatasi masalah.

•         Pola Nilai-Keyakinan

Kaji keyakinan spiritual yang mempengaruhi pengambilan keputusan terkait terapi.

F. Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) Tim Pokja SDKI DPP PPNI (2017), diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada pasien prolaps uteri antara lain:

1.      Nyeri akut (D.0077) berhubungan dengan agen pencedera fisik (tekanan mekanis jaringan dan traksi ligamen) dibuktikan dengan pasien mengeluh nyeri, meringis, skala nyeri 4-7/10.

2.      Nyeri kronis (D.0078) berhubungan dengan kondisi muskuloskeletal kronik (kelemahan otot dasar panggul progresif) dibuktikan dengan keluhan nyeri panggul >3 bulan.

3.      Gangguan eliminasi urin (D.0040) berhubungan dengan gangguan sensasi berkemih (perubahan anatomi uretra akibat prolaps) dibuktikan dengan inkontinensia urin, frekuensi berkemih meningkat, atau retensi urin.

4.      Konstipasi (D.0049) berhubungan dengan kelemahan otot abdomen dan perubahan anatomi rektum akibat rektokel dibuktikan dengan frekuensi defekasi menurun dan defekasi keras.

5.      Ansietas (D.0080) berhubungan dengan ancaman terhadap konsep diri dan perubahan fungsi tubuh dibuktikan dengan ekspresi khawatir, gelisah, dan takut.

6.      Gangguan citra tubuh (D.0083) berhubungan dengan perubahan struktur dan fungsi tubuh dibuktikan dengan ungkapan negatif tentang tubuh, menghindari kontak sosial.

7.      Risiko infeksi (D.0142) dibuktikan dengan faktor risiko: kerusakan integritas kulit/mukosa (ulserasi), prosedur invasif, dan imunosupresi relatif.

8.      Disfungsi seksual (D.0069) berhubungan dengan perubahan fungsi/struktur tubuh dibuktikan dengan perubahan aktivitas seksual dan penurunan kepuasan seksual.

9.      Defisit pengetahuan (D.0111) berhubungan dengan kurang terpapar informasi tentang kondisi penyakit dan penatalaksanaannya.

G. Rencana Keperawatan

Rencana keperawatan disusun berdasarkan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dan SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) Tim Pokja PPNI (2018, 2019):


 

v  Diagnosa 1: Nyeri Akut (D.0077)

Data Subjektif/Objektif

Diagnosa Keperawatan

Tujuan & Kriteria Hasil (SLKI)

Intervensi (SIKI)

Rasional

DS: Pasien mengeluh nyeri panggul, terasa berat dan tertekan DO: Meringis, skala nyeri NRS 4-7, frekuensi nadi meningkat, gelisah

Nyeri akut b.d agen pencedera fisik (tekanan mekanis pada struktur pelvis)

Tingkat Nyeri (L.08066) membaik: • Skala nyeri turun ≤3/10 • Tidak meringis • Tidak gelisah • Nadi dalam rentang normal

Manajemen Nyeri (I.08238): 1. Identifikasi lokasi, karakteristik, intensitas nyeri 2. Monitor tanda-tanda vital 3. Ajarkan teknik non-farmakologi: napas dalam, kompres hangat 4. Anjurkan posisi nyaman (berbaring) 5. Kolaborasi analgesik sesuai program 6. Edukasi manajemen nyeri mandiri

1. Identifikasi nyeri akurat sebagai dasar intervensi 2. TD & nadi meningkat saat nyeri 3. Menurunkan intensitas nyeri tanpa obat 4. Posisi berbaring mengurangi tekanan gravitasi 5. Analgesik menurunkan transmisi impuls nyeri 6. Meningkatkan kemampuan koping

v  Diagnosa 2: Gangguan Eliminasi Urin (D.0040)

Data Subjektif/Objektif

Diagnosa Keperawatan

Tujuan & Kriteria Hasil (SLKI)

Intervensi (SIKI)

Rasional

DS: Mengeluh sering berkemih, bocor urin saat batuk/bersin, kadang susah berkemih DO: Frekuensi berkemih >8x/hari, residual urin meningkat

Gangguan eliminasi urin b.d gangguan sensasi berkemih akibat perubahan anatomi uretra

Eliminasi Urin (L.04034) membaik: • Frekuensi berkemih normal (4-8x/hari) • Tidak ada inkontinensia • Residu urin <100 ml • Tidak ada disuria

Manajemen Eliminasi Urin (I.04152): 1. Monitor eliminasi urin (frekuensi, warna, konsistensi) 2. Ukur residual urin bila diperlukan 3. Ajarkan tanda dan gejala ISK 4. Ajarkan latihan bladder training 5. Anjurkan minum cukup (1500-2000 ml/hari) 6. Kolaborasi urinalisis dan urodinamik

1. Data dasar fungsi berkemih 2. Menilai efektivitas pengosongan kandung kemih 3. Deteksi dini komplikasi 4. Meningkatkan kapasitas kandung kemih 5. Mencegah dehidrasi dan kristalisasi urin 6. Diagnosis lanjutan dan program terapi

v  Diagnosa 3: Ansietas (D.0080)

Data Subjektif/Objektif

Diagnosa Keperawatan

Tujuan & Kriteria Hasil (SLKI)

Intervensi (SIKI)

Rasional

DS: Pasien merasa khawatir, takut menghadapi operasi, tidak percaya diri DO: Tampak gelisah, kontak mata kurang, tangan berkeringat

Ansietas b.d ancaman terhadap konsep diri dan perubahan fungsi tubuh

Tingkat Ansietas (L.09093) menurun: • Tidak tampak gelisah • Verbalisasi kekhawatiran berkurang • Tanda vital dalam batas normal • Mampu menjelaskan kondisi penyakit

Reduksi Ansietas (I.09314): 1. Ciptakan lingkungan terapeutik 2. Dengarkan keluhan pasien dengan empati 3. Identifikasi sumber ansietas 4. Berikan informasi yang akurat tentang prosedur 5. Ajarkan teknik relaksasi 6. Libatkan keluarga sebagai sistem support 7. Rujuk ke konseling bila diperlukan

1. Rasa aman meningkatkan keterbukaan 2. Validasi perasaan mengurangi beban psikologis 3. Penanganan tepat sasaran 4. Informasi akurat mengurangi ketidakpastian 5. Relaksasi menekan aktivitas sistem saraf simpatik 6. Dukungan keluarga meningkatkan koping 7. Penanganan ansietas berat memerlukan profesional

 

v  Diagnosa 4: Gangguan Citra Tubuh (D.0083)

Data Subjektif/Objektif

Diagnosa Keperawatan

Tujuan & Kriteria Hasil (SLKI)

Intervensi (SIKI)

Rasional

DS: Merasa malu dengan kondisi tubuhnya, tidak mau diperiksa, mengatakan 'tidak normal' DO: Menghindari kontak mata, menarik diri, menolak kunjungan

Gangguan citra tubuh b.d perubahan struktur dan fungsi tubuh

Citra Tubuh (L.09067) membaik: • Verbalisasi perasaan negatif berkurang • Mau berpartisipasi dalam perawatan • Kontak sosial meningkat • Mampu menerima kondisi

Promosi Citra Tubuh (I.09305): 1. Diskusikan perubahan tubuh dan dampaknya 2. Identifikasi harapan citra tubuh pasien 3. Anjurkan mengungkapkan perasaan 4. Berikan umpan balik positif tentang perubahan perilaku 5. Fasilitasi kelompok dukungan 6. Kolaborasi dengan psikolog bila perlu

1. Membantu pasien menerima kondisi secara realistis 2. Harapan tidak realistis memperburuk body image 3. Ekspresi emosi mencegah penumpukan stres 4. Reinforcement positif meningkatkan harga diri 5. Pengalaman sesama meningkatkan koping 6. Gangguan citra tubuh berat perlu terapi lanjut

v  Diagnosa 5: Risiko Infeksi (D.0142)

Data Subjektif/Objektif

Diagnosa Keperawatan

Tujuan & Kriteria Hasil (SLKI)

Intervensi (SIKI)

Rasional

DS: Pasien mengeluh keputihan berbau, rasa panas di vagina

DO: Faktor risiko: ulserasi serviks, prosedur invasif, leukosit meningkat

Risiko infeksi b.d kerusakan integritas kulit/mukosa dan prosedur invasif

Tingkat Infeksi (L.14137) menurun: • Tidak ada demam • Leukosit dalam batas normal • Tidak ada tanda inflamasi lokal • Luka operasi bersih dan kering

Pencegahan Infeksi (I.14539): 1. Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik 2. Pertahankan teknik aseptik pada setiap prosedur 3. Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak pasien 4. Ajarkan perawatan kebersihan genitalia yang benar 5. Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi dan cairan 6. Kolaborasi pemberian antibiotik profilaksis

1. Deteksi dini mencegah perburukan 2. Mencegah kontaminasi patogen 3. Hand hygiene terbukti mengurangi HAIS 4. Hygiene yang baik mencegah kontaminasi lokal 5. Nutrisi adekuat mendukung imunitas 6. Antibiotik mengeliminasi atau mencegah pertumbuhan bakteri

 

v  Diagnosa 6: Defisit Pengetahuan (D.0111)

Data Subjektif/Objektif

Diagnosa Keperawatan

Tujuan & Kriteria Hasil (SLKI)

Intervensi (SIKI)

Rasional

DS: Pasien dan keluarga tidak tahu tentang penyakit, pengobatan, dan perawatan DO: Banyak bertanya, tampak kebingungan, salah konsepsi

Defisit pengetahuan b.d kurang terpapar informasi tentang kondisi dan penatalaksanaan

Tingkat Pengetahuan (L.12111) meningkat:

•         Mampu menjelaskan penyakit secara verbal

•         Mampu mendemonstrasikan kegel exercise

•         Mematuhi program terapi

•         Tidak ada perilaku yang

•         kontraproduktif

Edukasi Kesehatan (I.12383): 1.

Identifikasi kesiapan dan kemampuan belajar

Berikan media edukasi (leaflet/booklet) 3. Jelaskan definisi, penyebab, tanda-gejala prolaps uteri 4. Ajarkan kegel exercise step by step 5. Jelaskan pilihan terapi dan prosedur operasi 6. Anjurkan konsultasi rutin dan follow-up 7. Evaluasi pemahaman dengan redemonstrasi

1.      Edukasi efektif bila sasaran siap belajar

2.      Media visual meningkatkan retensi informasi

3.       Pemahaman dasar memotivasi kepatuhan

4.      Latihan kegel terbukti memperbaiki tonus dasar panggul

5.      Informed consent membutuhkan pemahaman pilihan 6

6.      Follow-up mencegah rekurensi dan komplikasi

7.      Evaluasi memastikan keberhasilan transfer ilmu

H. Implementasi Keperawatan

Implementasi keperawatan merupakan pelaksanaan rencana keperawatan yang telah disusun secara sistematis. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam implementasi (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018):

v  Prinsip Implementasi

•         Tindakan dilaksanakan berdasarkan evidence-based practice (EBP)

•         Memperhatikan keselamatan pasien (patient safety) dalam setiap tindakan

•         Mendokumentasikan setiap tindakan yang dilakukan beserta respons pasien

•         Melibatkan pasien dan keluarga sebagai mitra aktif dalam perawatan

•         Memperhatikan prinsip etik: beneficence, non-maleficence, autonomy, justice

v  Implementasi Mandiri Keperawatan

•         Pengkajian nyeri komprehensif menggunakan NRS/VAS/FLACC

•         Teknik posisi: membantu pasien mengambil posisi nyaman (dorsal recumbent untuk mengurangi prolaps)

•         Kompres hangat pada area nyeri dengan menggunakan protokol yang aman

•         Bladder training: mengajarkan timed voiding dan double voiding

•         Perineal care yang tepat untuk mencegah infeksi

•         Komunikasi terapeutik: active listening, refleksi, klarifikasi

v  Implementasi Kolaboratif

•         Pemberian analgesik: paracetamol 500-1000 mg PO sesuai resep

•         Pemberian estrogen topikal: sesuai instruksi dokter

•         Pemasangan pessary: asistensi prosedur

•         Persiapan operasi: puasa, pencukuran, enema, profilaksis antibiotik

•         Perawatan luka pascaoperasi sesuai standar prosedur operasional

I. Evaluasi Keperawatan

Evaluasi dilakukan menggunakan format SOAP (Subjektif, Objektif, Assessment, Planning) untuk menilai perkembangan pasien dan efektivitas intervensi keperawatan:

 

v  Evaluasi Nyeri

•         S: Pasien mengungkapkan skala nyeri menurun dari 6 menjadi 2-3

•         O: Pasien tidak meringis, tanda vital stabil, dapat beristirahat dengan nyaman

•         A: Masalah nyeri akut teratasi sebagian / teratasi

•         P: Pertahankan teknik manajemen nyeri non-farmakologi; lanjutkan monitoring

v  Evaluasi Eliminasi Urin

•         S: Pasien melaporkan frekuensi berkemih normal, tidak ada kebocoran

•         O: Frekuensi 5-7x/hari, residual urin <100 ml, tidak ada disuria

•         A: Masalah gangguan eliminasi urin teratasi

•         P: Lanjutkan bladder training dan monitoring berkala

v  Evaluasi Ansietas

•         S: Pasien mengatakan lebih tenang dan mengerti tentang kondisinya

•         O: Pasien tampak rileks, tidak gelisah, mau berinteraksi dengan tenaga kesehatan

•         A: Masalah ansietas teratasi sebagian

•         P: Lanjutkan dukungan psikologis dan libatkan keluarga

v  Evaluasi Pengetahuan

•         S: Pasien dan keluarga mampu menjelaskan penyakit dan cara perawatannya

•         O: Pasien dapat mendemonstrasikan kegel exercise dengan benar

•         A: Defisit pengetahuan teratasi

•         P: Berikan reinforcement dan jadwalkan edukasi lanjutan sebelum pulang

J. Discharge Planning (Perencanaan Pulang)

Discharge planning dilakukan sejak pasien masuk rumah sakit untuk mempersiapkan kepulangan yang aman dan efektif:

v  Edukasi Sebelum Pulang

•         Jelaskan tanda bahaya yang memerlukan kembali ke RS: demam >38°C, perdarahan aktif, nyeri berat

•         Ajarkan perawatan luka jika ada prosedur operatif

•         Ajarkan penggunaan dan perawatan pessary jika digunakan

•         Demonstrasi kegel exercise dan anjurkan dilakukan rutin

•         Edukasi modifikasi gaya hidup: hindari mengangkat berat, jaga berat badan

v  Medikasi Pulang

•         Jelaskan nama, dosis, waktu pemberian, dan efek samping setiap obat

•         Antibiotik: habiskan sesuai resep

•         Analgesik: minum sesuai kebutuhan dan anjuran

•         Estrogen topikal: cara penggunaan yang benar

v  Follow-Up

•         Jadwal kontrol: 1 minggu, 1 bulan, dan 3 bulan pascapulang

•         Kontrol ke dokter SpOG untuk evaluasi lanjutan

•         Anjurkan untuk tidak berhubungan seksual selama 6 minggu pascaoperasi

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). (2019). Pelvic organ prolapse. ACOG Practice Bulletin, 214. Obstetrics & Gynecology, 134(5), e126–e142. https://doi.org/10.1097/AOG.0000000000003519

Berek, J. S. (2012). Berek & Novak's gynecology (15th ed.). Lippincott Williams & Wilkins.

Bump, R. C., Mattiasson, A., Bø, K., Brubaker, L. P., DeLancey, J. O., Klarskov, P., Shull, B. L., & Smith, A. R. (1996). The standardization of terminology of female pelvic organ prolapse and pelvic floor dysfunction. American Journal of Obstetrics and Gynecology, 175(1), 10–17. https://doi.org/10.1016/S0002-9378(96)70243-0

DeLancey, J. O. (2002). Fascial and muscular abnormalities in women with urethral hypermobility and anterior vaginal wall prolapse. American Journal of Obstetrics and Gynecology, 187(1), 93–98. https://doi.org/10.1067/mob.2002.125733

Hacker, N. F., Gambone, J. C., & Hobel, C. J. (2016). Hacker & Moore's essentials of obstetrics and gynecology (6th ed.). Elsevier Saunders.

Mochtar, R. (2013). Sinopsis obstetri: Obstetri fisiologi dan obstetri patologi (Jilid 2, Ed. 3). EGC.

Nanda International. (2018). Nursing diagnoses: Definitions and classification 2018–2020 (11th ed.). Thieme.

Prawirohardjo, S. (2014). Ilmu kandungan (Ed. 3, Cetakan 4). PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar diagnosis keperawatan Indonesia: Definisi dan indikator diagnostik (Ed. 1). DPP PPNI.

Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar intervensi keperawatan Indonesia: Definisi dan tindakan keperawatan (Ed. 1). DPP PPNI.

Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2019). Standar luaran keperawatan Indonesia: Definisi dan kriteria hasil keperawatan (Ed. 1). DPP PPNI.

Wiknjosastro, H. (2010). Ilmu bedah kebidanan (Ed. 4, Cetakan 3). Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

 

Wu, J. M., Matthews, C. A., Conover, M. M., Pate, V., & Jonsson Funk, M. (2014). Lifetime risk of stress urinary incontinence or pelvic organ prolapse surgery. Obstetrics & Gynecology, 123(6), 1201–1206. https://doi.org/10.1097/AOG.0000000000000286

 

 

 UNDUH DISINI

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOWNLOAD CONTOH SURAT LAMARAN DAPUR MBG

Download Undangan Tonjokan: Solusi Praktis dan Efisien untuk Pernikahan (Format MS. Word)

LAPORAN PENDAHULUAN DIARE