LAPORAN PENDAHULUAN DENGAN DIANGNOSA MEDIS CA CERVIX + ANEMIA (MS. WORD)

 

LAPORAN PENDAHULUAN

DENGAN DIANGNOSA MEDIS CA CERVIX + ANEMIA

A.     DEFINISI

Kanker serviks adalah suatu proses keganasan yang terjadi pada leher rahim, sehingga jaringan di sekitarnya tidak dapat melaksanakan fungsi sebagaimana mestinya. Keadaan tersebut biasanya disertai dengan adanya perdarahan dan pengeluaran cairan vagina yang abnormal, penyakit ini dapat terjadi berulang-ulang. Kanker serviks dimulai dengan adanya suatu perubahan dari sel leher rahim normal menjadi sel abnormal yang kemudian membelah diri tanpa terkendali. Sel leher rahim yang abnormal ini dapat berkumpul menjadi tumor. Tumor yang terjadi dapat bersifat jinak ataupun ganas yang akan mengarah ke kanker dan dapat menyebar. (PNPK, 2017).

 

 

B.Klasifikasi

Klasifikasi stadium kanker serviks menurut FIGO (International Federation of Gynecologi) dalam (PNPK, 2017)

         

 

Stadium 0:

Karsinoma insitu, karsinoma intraepitel

Stadium I:  

:  Karsinoma masih terbatas pada daerah serviks (penyebaran ke korpus uteri diabaikan)

Stadium I A :

Invasi kanker ke stroma hanya dapat didiagnosis secara mikroskopik. Lesi yang dapat dilihat secara makroskopik walau dengan invasi yang superficial dikelompokkan pada stadium IB

 

Stadium I A1

Invasi  ke  stroma  dengan  kedalaman  tidak  lebih  3  mm  dan  lebar horizontal tidak lebih 7 mm.

Stadium I A2

Invasi ke stroma lebih dari 3 mm tapi kurang dari 5 mm dan perluasan horizontal tidak lebih 7 mm.

Stadium I B  

 

Lesi yang tampak terbatas pada serviks atau secara mikroskopik lesi lebih dari stadium I A2

Stadium I B1

Lesi yang tampak tidak lebih dari 4 cm dari dimensi terbesar.

 

 

Stadium II

Tumor telah menginvasi di luar uterus, tetapi belum mengenai dinding panggul atau sepertiga distal/ bawah vagina

Stadium II A

Tanpa invasi ke parametrium

Stadium III

Tumor telah meluas ke dinding panggul dan/ atau mengenai sepertiga bawah  vagina  dan/  atau  menyebabkan  hidronefrosis  atau  tidak berfungsinya ginjal

Stadium III A

 

 

 

 

Tumor  telah  meluas  ke  sepertiga  bagian  bawah  vagina  dan  tidak menginvasi ke parametrium tidak sampai dinding panggul

 

Stadium III B

Tumor  telah  meluas  ke  dinding  panggul  dan/  atau  menyebabkan hidronefrosis atau tidak berfungsinya ginjal

Stadium IV

Tumor telah meluas ke luar organ reproduksi

Stadium IV A

Tumor menginvasi ke mukosa kandung kemih atau rectum dan/ atau keluar rongga panggul minor

Stadium IV B

Metastasis   jauh   penyakit   mikroinvasif:   invasi   stroma   dengan kedalaman 3 mm atau kurang dari membrane basalis epitel tanpa invasi ke  rongga  pembuluh  darah/  limfe  atau  melekat  dengan  lesi  kanker serviks

 

C.Etiologi

Menurut (CCI, 2017),penyebab terjadinya kelainan pada sel - sel serviks tidak diketahui secara pasti, tetapi terdapat beberapa faktor resiko yang berpengaruh terhadap terjadinya kanker serviks yaitu:

 

1.      HPV (Human Papilloma Virus) HPV adalah virus penyebab kutil genetalis (kandiloma akuminata) yang ditularkan melalui hubungan seksual. varian yang sangat berbahaya adalah hpv tipe 16, 18, 45, dan 56.

2.       Merokok Tembakau merusak sistem kekebalan dan mempengaruhi kemampuan tubuh untuk melawan infeksi hpv pada serviks.

3.       Hubungan seksual pertama dilakukan pada usia dini.

4.        Berganti-ganti pasangan seksual.

5.       Suami/pasangan seksualnya melakukan hubungan seksual pertama Pada usia di bawah 18 tahun, berganti - berganti pasangan dan Pernah menikah dengan wanita yang menderita kanker serviks.

6.       Pemakaian DES (diethilstilbestrol) pada wanita hamil untuk Mencegah keguguran (banyak digunakan pada tahun 1940-1970).

7.       Gangguan sistem kekebalan

8.       Pemakaian pil KB.

9.       Infeksi herpes genitalis atau infeksi klamidia menahun.

10.    Golongan ekonomi lemah (karena tidak mampu melakukan pap Smear secara rutin).

 

D.Manifestasi kelinis

Kanker serviks pada stadium awal tidak menimbulkan gejala. Gejala akan muncul saat sel kanker serviks sudah menginvasi jaringan di sekitarnya. Berikut beberapa gejala yang mungkin muncul  (Widyasih, 2020)

1.            Perdarahan setelah senggama yang kemudian berlanjut menjadi perdarahan abnormal, terjadi secara spontan walaupun tidak melakukan hubungan seksual.

2.      Keputihan, makin lama makin berbau busuk

3.      Hilangnya nafsu makan dan berat badan yang terus menurun.

4.      Nyeri tulang panggul dan tulang belakang.

5.      Nyeri disekitar vagina

6.      Nyeri abdomen atau nyeri pada punggung bawah

7.       Nyeri pada anggota gerak (kaki).

8.       Terjadi pembengkakan pada area kaki

9.      Sakit waktu hubungan seks.

10.  Pada fase invasif dapat keluar cairan kekuning-kuningan, berbau dan bercampur dengan darah.

11.   Anemia (kurang darah) karena perdarahan yang sering timbul.

12.  Siklus menstruasi yang tidak teratur atau terjadi pendarahan diantara siklus haid.

13.  Sering pusing dan sinkope.

14.   Pada stadium lanjut, badan menjadi kurus kering karena kurang gizi, edema kaki, timbul iritasi kandung kencing dan poros usus besar bagian bawah (rectum), terbentuknya fistel vesikovaginal atau rectovaginal, atau timbul gejala-gejala akibat metastasis jauh

E.Patofisiolog

Menurut (CCI, 2017), Puncak insedensi karsinoma insitu adalah usia 20 hingga usia 30 tahun. Faktor resiko mayor untuk kanker serviks adalah infeksi Human Paipilloma Virus (HPV) yang ditularkan secara seksual. Faktor resiko lain perkembangan kanker serviks adalah aktivitas seksual pada usia muda, paritas tinggi, jumlah pasangan seksual yang meningkat, status sosial ekonomi yang rendah dan merokok.

     

 Karsinoma sel skuamosa biasanya muncul pada taut epitel skuamosa dan epitel kubus mukosa endoserviks (persambungan skuamokolumnar atau zona tranformasi). Pada zona transformasi serviks memperlihatkan tidak normalnya sel progresif yang berakhir sebagai karsinoma servikal invasif. Displasia servikal dan karsinoma in situ atau High-grade Squamous Intraepithelial Lesion (HSIL)

mendahului karsinoma invasif. Karsinoma serviks terjadi bila tumor menginvasi epitelium masuk ke dalam stroma serviks. Kanker servikal menyebar luas secara langsung kedalam jaringan para servikal. Pertumbuhan yang berlangsung mengakibatkan lesi yang dapat dilihat dan terlibat lebih progresif pada jaringan servikal. Karsinoma servikal invasif dapat menginvasi atau meluas ke dinding vagina, ligamentum kardinale dan rongga endometrium. Invasi ke kelenjar getah bening dan pembuluh darah mengakibatkan metastase ke bagian tubuh yang jauh (Suddarth, 2014).

 

F.Pemeriksaan Penunjang

          Menurut (Savitri, 2015), Preinvasive kanker serviks biasanya tanpa gejala dan sudah diderita selama ±10-15 tahun, pada tahap awal, kanker dapat terdeteksi selama prosedur skrining, namun sebagian besar perempuan memiliki kesadaran yang rendah untuk melakukan pemeriksaan baik melalui test paps smear maupun inspeksi visual dengan asam asetat (IVA).

1.      IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) Sesuai dengan namanya, IVA merupakan pemeriksaan leher rahim (serviks) dengan cara melihat langsung (dengan mata telanjang) leher rahim setelah memulas leher rahim 15 dengan larutan asetat 3-5%. Apabila setelah pulasan terjadi perubahan warna asam asetat yaitu tampak bercak putih, maka kemungkinan ada kelainan tahap prakanker serviks. Jika tidak ada perubahan warna, maka dapat dianggap tidak ada infeksi pada serviks. Proses skrining dengan IVA merupakan pemeriksaan yang paling disarankan oleh Departemen Kesehatan. Salah satu pertimbangannya karena biayanya yang sangat murah. Namun perlu diingat, pemeriksaan ini dilakukan hanya untuk deteksi dini. Jika terlihat tanda yang mencurigakan, maka metode deteksi lainnya yang lebih lanjut harus segera dilakukan. 

2.      Pap Smear Metode tes Pap Smear yang umum, yaitu dokter menggunakan pengerik atau sikat untuk mengambil sedikit sampel sel-sel serviks atau leher rahim. Kemudian, sel-sel tersebut akan dianalisis di laboratorium. Pemeriksaan Pap smear dilakukan ketika wanita tidak sedang masa menstruasi. Waktu yang terbaik untuk skrining adalah antara 10 dan 20 hari setelah hari pertama masa menstruasi. Selama kira- kira dua hari sebelum pemeriksaan, seorang wanita sebaiknya menghindari douching atau penggunaan pembersih vagina, karena bahan-bahan ini dapat menghilangkan atau menyembunyikan sel-sel abnormal.

3.      Thin Prep Metode thin prep akan memeriksa seluruh bagian serviks atau leher Rahim.

4.      Kolposkopi Prosedur kolposkopi akan dilakukan dengan menggunakan alat yang dilengkapi lensa pembesar untuk mengamati bagian yang terinfeksi. Jika ada yang tidak normal, biopsy (pengambilan sejumlah kecil 16 jaringan dari tubuh) dilakukan untuk mengetahui apakah kanker sudah menyebar.

5.      Tes darah : untuk memeriksa kondisi hati, ginjal, dan sumsum tulang.

6.      Pemeriksaan organ panggul : rahim, vagina, rectum, dan kandung kemih akan diperiksa apakah terdapat kanker

7.      CT scan: pemindaian kondisi tubuh bagian dalam dengan computer untuk mendapatkan gambar tiga dimensi. Berguna untuk melihat kanker yang tumbuh dan apakah kanker sudah menyebar ke bagian tubuh yang lain.

8.      X-ray dada: untuk melihat apakah kanker sudah menyebar ke paru-paru.

9.      MRI scan: pemindaian memakai medan magnet yang kuat dan gelombang radio menghasilkan gambar dari dalam tubuh. Berguna untuk melihat apakah kanker sudah menyebar dan seberapa jauh penyebaranya.

10.  PET scan: jika digabungkan dengan CT scan, dapat melihat penyebaran kanker dan juga memeriksa respons seseorang terhadap pengobatan yang dilakukan.

 

G.Diagnosa keperawatan

Analisa data

Analisa data

Etologi

Masalah keperawatan

 DS: Pasien mengeluh lemas, cepat lelah, pusing saat beraktivitas.

 

  DO: Konjungtiva pucat, Hb menurun, akral dingin, CRT > 2 detik, tampak lemas.

Perfusi Jaringan Perifer Tidak Efektif

Penurunan suplai oksigen ke jaringan perifer akibat anemia sekunder perdarahan pada kanker serviks

Perfusi Jaringan Perifer Tidak Efektif

DS: Pasien mengeluh nyeri pada perut bagian bawah/panggul, skala nyeri 5–6/10, badan sering timbul nyeri.

DO: Tampak meringis, gelisah, memegang area yang nyeri, aktivitas terganggu.

Agen pencedera biologis (proses keganasan/pertumbuhan tumor serviks)

Nyeri Kronis

 

Diagnosa keperawatan

                                                          

Rencana keperawatan

 

Perfusi Jaringan Perifer Tidak Efektif berhubungan dengan penurunan kadar hemoglobin (anemia) D.0009

Tujuan kereteria hasil

Inrerfensi keperawatan

 

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 × 24 jam, perfusi jaringan perifer membaik dengan kriteria hasil: . Akral hangat . CRT ≤ 2 detik . Tidak pucat . Tidak pusing . Tanda-tanda vital dalam batas normal

Monitor tanda-tanda vital. 2. Kaji warna kulit, suhu kulit, dan CRT.

3. Monitor kadar Hb dan hematokrit.

4. Anjurkan istirahat yang cukup.

5. Kolaborasi pemberian terapi oksigen bila diperlukan.

 6. Kolaborasi pemberian transfusi darah atau terapi zat besi sesuai program medis.

Nyeri Kronis berhubungan dengan agen pencedera biologis (proses keganasan serviks) D.0078

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 × 24 jam, tingkat nyeri menurun dengan kriteria hasil: . Skala nyeri menurun (0–3) . Pasien tampak rileks .Ekspresi wajah tidak tegang .Tidak menunjukkan tanda-tanda nyeri dapat beristirahat dengan nyaman

1. Kaji lokasi, intensitas, durasi, dan karakteristik nyeri.

2. Monitor skala nyeri secara berkala.

3. Berikan posisi nyaman.

4. Ajarkan teknik relaksasi dan napas dalam.

5. Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman.

6. Kolaborasi pemberian analgesik sesuai program terapi.

 

no

Hari/tanggal

jam

implementasi

Evaluasi sertai jam

paraf

1

Kamis 28-o5-2026

11.20

1.Memeriksa sirkulasi perifer (nadi, kapiler refill/CRT, warna kulit, suhu ekstremitas).

2.Mengidentifikasi faktor risiko gangguan sirkulasi.

Menganjurkan pasien menghindari kompres hangat/dingin ekstrem atau pa kaian ketat.

4. Menganjurkan pasien menghindari kompres hangat/dingin ekstrem atau pakaian ketat.

S: Pasien mengatakan rasa kesemutan/kebas pada kaki mulai berkurang.

O: CRT < 3 detik, akral teraba hangat, nadi teraba kuat.

A: Masalah teratasi sebagian.

P: Lanjutkan intervensi (monitor sirkulasi perifer berkala).

 

2

Kamis 28-05-2026

12.40

1.Mengidentifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan intensitas nyeri.

2. Mengidentifikasi skala nyeri (PQRST).

3. Mengajarkan teknik non-farmakologis (misal: teknik napas dalam atau distraksi) untuk meredakan nyeri.

4. Memfasilitasi istirahat dan tidur yang cukup.

5. Berkolaborasi dalam pemberian analgetik sesuai indikasi medis

S: Pasien melaporkan nyeri berkurang, skala nyeri turun dari 6 menjadi 3 (skala 1-10).

O: Pasien tampak lebih rileks, ekspresi wajah tidak lagi menyeringai kesakitan.

A: Masalah belum teratasi (nyeri kronis memerlukan waktu penanganan yang panjang).

P: Lanjutkan intervensi (jadwal pemberian analgetik dan latihan teknik relaksasi mandiri).

 

 

H.Komlikasi

1.Pervusi Jaringan perifer

2.nyeri keronis

Komplikasi yang mungkin terjadi selama tindakan operasi bedah kanker serviks (CCI, 2017)

1.      Kerusakan pembuluh darah utama akibat tindakan operasi yang menyebabkan perdarahan masif. Kondisi ini bisa mengancam keselamatan jiwa pasien. 

2.      Kerusakan pada kandung kemih, rektum, ureter (saluran dari ginjal ke kandung kemih), dan saraf. Pasien mungkin harus menjalani tindakan operasi lagi bila diperlukan.

 

Potensi efek samping yang merugikan pasca operasi.

1.      Sulit untuk buang air kecil

2.      Edema (retensi cairan yang menyebabkan pembengkakan pada daerah yang terkena dampaknya) pada tungkai bagian bawah, mati rasa ringan di bagian paha 

3.      Getah bening terakumulasi di dalam rongga panggul sehingga menyebabkan limfosel (massa kistik berukuran besar yang berisi cairan limfatik) dan infeksi 

4.      Perdarahan atau hematosel (pengumpulan darah) di vagina, infeksi luka

5.       Tidak bisa hamil

 

H.Penatalaksanaan

Menejemen pervusi jaringan perifer

. Pemeriksaan Tanda-Tanda Vital (TTV)

a.              Pemberian oksigen sesuai indikasi untuk meningkatkan oksigenasi jaringan yang mengalami gangguan perfusi.

b.      Pemeriksaan tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, respirasi).

  1. Untuk mengetahui kondisi sirkulasi dan hemodinamik pasien.

 Pemeriksaan Nadi Perifer

  • Meraba nadi pada tangan dan kaki.
  • Menilai kekuatan, irama, dan frekuensi nadi.
  • Nadi yang lemah dapat menunjukkan gangguan aliran darah.

Capillary Refill Time (CRT)

          Menekan ujung jari hingga pucat lalu melepaskannya.

          Normal: warna kembali dalam ≤ 2 detik.

           CRT yang memanjang menunjukkan perfusi yang kurang baik.

Pemeriksaan Warna dan Suhu Kulit

  • Mengamati apakah kulit pucat, kebiruan (sianosis), atau dingin.
  • Menunjukkan adanya gangguan sirkulasi darah.
  • .

Pemeriksaan Laboratorium

  • Hemoglobin (Hb), hematokrit, dan profil lipid.
  • Membantu mengetahui kondisi darah dan faktor risiko gangguan pembuluh darah.

 

Menejemen nyeri keronis

 Skala Nyeri:   0 = tidak nyeri   1–3 = nyeri ringan   4–6 = nyeri sedang   7–10 = nyeri berat

Pemeriksaan Tanda-Tanda Vital

  • Pemeriksaan tekanan dara pasien 110/66 mmhg
  • Nadi. 78
  • Respirasi. 10
  • Suhu tubuh.36,5

Pemeriksaan Fisik

  • Palpasi area abdomen dan panggul.
  • Menilai adanya nyeri tekan, massa, atau pembengkakan.
  • Menilai keterbatasan aktivitas akibat nyeri.
  •  Menilai lokasi dan karakteristik nyeri.
  • Nyeri biasanya di panggul, perut bawah, atau punggung bawah.

Pemeriksaan ginekologi

  • Pemeriksaan spekulum untuk melihat kondisi serviks.
  • Pemeriksaan bimanual untuk menilai ukuran dan penyebaran tumor.

 

 


 

I.PATWAY

                                  [ FAKTOR RISIKO ]

  (Infeksi HPV, Higiene Buruk, Hubungan Seksual <16 Tahun, Merokok)

                            

                            

               [ Terjadi Lesi Pada Serviks ]

                            

                            

            [ Karsinoma Invasif Ca Serviks ]

                                     

▼───────────────────────┴───────────────────────┐

Infiltrasi Tumor ke Jaringan Lokal              Pertumbuhan Tumor & Massa Kanker

                                                                                                     

                                                                                                   

Kerusakan Pembuluh Darah Serviks                Penekanan pada Sel Saraf & Jaringan Sekitar

                                                                                                    

                                                                                                    

Perdarahan Spontan / Kontak (Metroragia)         Pelepasan Mediator Kimia (Prostaglandin)

                                                                                                     

                                                                                                     

Anemia (Penurunan Kadar Hemoglobin)              Impuls Nyeri Kronis ke Korteks Serebri

                                                                                                      

                                                                                                     

Penurunan Kapasitas Angkut Oksigen               [DIAGNOSA: NYERI KRONIS]

       

       

[DIAGNOSA: PERFUSI PERIFER TIDAK EFEKTIF]

 

  

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Adhisty, K. (2018). Seminar Nasional Keperawatan “Tren Perawatan Paliatif sebagai Peluang Praktik Keperawatan Mandiri.” Seminar Nasional Keperawatan, 4(1), 128–134.

 Agustina, A., Musta’in, M., & Maksum. (2020). Indonesian Journal of Nursing Research (IJNR) Pengelolaan Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Perifer Pada Pasien Post ORIF Hari Ke-3. 3(2).

Amanupunnyo, N. A., Shaluhiyah, Z., & Margawati, A. (2018). Analisis Faktor Penyebab Anemia pada Ibu Hamil di Puskesmas Kairatu Seram Barat. Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu https://doi.org/10.30604/jika.v3i2.134

 Kesehatan, 3(2), 173–181. Ambarwati, W. N., & Wardani, E. K. (2015). Respons dan koping pasien penderita kanker servik terhadap efek kemoterapi. Jurnal Ners, 10(1), 48–60.

Basith, A., Agustina, R., & Diani, N. (2017). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Anemia Pada Remaja Putri. Dunia Keperawatan, 5(1), 1. https://doi.org/10.20527/dk.v5i1.3634 CCI. (2017). Cancer-Cervical-Cancer-Indonesian.

Detty, Makahaghi, Y., & Tinungki, Y. (2018). Faktor-Faktor Risiko Yang Berhubungan Dengan Chronik Kidney Disease (CKD) Penderita Yang Dirawat Di Rumah Sakit Daerah Liunkendage Tahuna. Jurnal Ilmiah Sesebanua, 2, 100–114.

Dhenok Citra Panyuluh, Priyadi Nugraha P, E. R. (2018). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Penyebab Anemia Pada Santriwati Pondok Pesantren Darul Ulum Kabupaten Kendal. Jurnal Kesehatan Masyarakat (eJournal), 6(2), 156–162.

    DOWNLOAD FILENYA

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOWNLOAD CONTOH SURAT LAMARAN DAPUR MBG

LAPORAN PENDAHULUAN DIARE

Download Undangan Tonjokan: Solusi Praktis dan Efisien untuk Pernikahan (Format MS. Word)