CONTOH LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN PENYAKIT FOMITING PROFUSE (DOC)
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN
KEPERAWATAN DENGAN PENYAKIT FOMITING PROFUSE
I.
DEFINISI
Vomiting profuse (muntah berlebihan) adalah suatu kondisi ketika seseorang mengalami muntah
secara berulang, terus-menerus, dan dalam jumlah yang banyak dalam waktu tertentu. Muntah merupakan proses refleks kompleks yang melibatkan koordinasi
antara sistem saraf pusat, sistem gastrointestinal, serta otot-otot pernapasan dan
abdomen yang menyebabkan isi lambung
terdorong keluar melalui mulut. Proses ini dikendalikan oleh pusat muntah yang berada di medula oblongata dan dapat dipicu oleh berbagai rangsangan, baik yang berasal dari saluran pencernaan maupun dari organ tubuh lainnya.
Pada kondisi normal, muntah dapat berfungsi
sebagai mekanisme pertahanan tubuh untuk mengeluarkan zat-zat yang dianggap berbahaya,
seperti makanan yang terkontaminasi, racun, atau mikroorganisme penyebab
infeksi. Namun, apabila muntah terjadi secara berlebihan (profuse), kondisi tersebut
tidak lagi bersifat protektif dan dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan yang serius. Frekuensi muntah yang tinggi menyebabkan tubuh
kehilangan sejumlah besar cairan, elektrolit, serta zat gizi yang penting untuk
mempertahankan fungsi fisiologis tubuh.
Vomiting profuse dapat
terjadi pada semua
kelompok usia, mulai
dari bayi, anak-anak, dewasa, hingga lansia. Pada
anak-anak, kondisi ini memerlukan
perhatian khusus karena cadangan cairan tubuh yang lebih sedikit dibandingkan orang
dewasa sehingga risiko mengalami
dehidrasi lebih tinggi. Kehilangan cairan yang berlangsung terus-menerus dapat menyebabkan
ketidakseimbangan elektrolit, seperti penurunan kadar
natrium, kalium, dan klorida dalam darah.
Selain itu, pasien juga dapat mengalami gangguan keseimbangan asam-basa, penurunan volume darah (hipovolemia), penurunan perfusi
jaringan, hingga syok apabila tidak segera mendapatkan penanganan yang adekuat.
Muntah berlebihan dapat disebabkan oleh berbagai kondisi medis, antara lain infeksi saluran cerna, gastritis, gastroenteritis akut, keracunan makanan, demam berdarah dengue (DBD), demam tifoid, obstruksi usus, gangguan metabolik, efek samping obat-obatan,
maupun gangguan pada sistem saraf pusat. Oleh karena itu, vomiting profuse bukan merupakan suatu penyakit spesifik,
melainkan suatu manifestasi klinis
yang dapat
muncul akibat berbagai penyakit yang mendasarinya.
Dari sudut pandang keperawatan, vomiting profuse merupakan
kondisi yang membutuhkan
pengkajian dan penanganan secara komprehensif karena dapat memengaruhi
kebutuhan dasar pasien, terutama kebutuhan cairan, nutrisi, kenyamanan, dan
aktivitas sehari-hari. Perawat memiliki peran penting dalam mengidentifikasi
penyebab muntah, memantau status hidrasi, mencegah terjadinya komplikasi akibat
kehilangan cairan, memberikan dukungan nutrisi, serta melakukan edukasi kepada
pasien dan keluarga mengenai upaya pencegahan dan penatalaksanaan muntah yang
tepat.
Dengan demikian, vomiting profuse dapat diartikan
sebagai keadaan muntah yang terjadi secara berulang dan berlebihan sehingga
mengakibatkan kehilangan cairan, elektrolit, dan nutrisi dalam jumlah yang
signifikan, yang apabila tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan berbagai
komplikasi serius seperti dehidrasi berat, hipovolemia, gangguan metabolik,
hingga syok. Oleh karena itu, penanganan yang cepat, tepat, dan komprehensif
sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya komplikasi serta mempercepat proses
pemulihan pasien.
II.
ETIOLOGI / FAKTOR RISIKO
A.
Etiologi
Vomiting
profuse (muntah berlebihan) dapat
disebabkan oleh berbagai kondisi yang berasal dari sistem pencernaan maupun
organ tubuh lainnya. Penyebab muntah terjadi akibat adanya rangsangan pada
pusat muntah di otak atau adanya iritasi pada saluran gastrointestinal yang
menyebabkan tubuh berusaha mengeluarkan isi lambung. Berikut beberapa etiologi
yang dapat menyebabkan vomiting profuse:
1.
Infeksi
Saluran Pencernaan
Infeksi
merupakan penyebab tersering muntah berlebihan, terutama pada anak-anak.
Mikroorganisme seperti virus, bakteri, maupun parasit dapat mengiritasi mukosa
lambung dan usus sehingga memicu mual dan muntah.
Contoh:
Gastroenteritis
akut
Keracunan
makana
Infeksi
rotavirus
Infeksi
Salmonella
Infeksi
Escherichia coli
2. Gangguan Lambung dan Usus
Peradangan
atau gangguan pada saluran cerna dapat menyebabkan peningkatan rangsangan
terhadap pusat muntah.
Contoh:
Gastritis
Ulkus
peptikum
Refluks
gastroesofageal (GERD)
Obstruksi
usus
Apendisitis
3. Penyakit Infeksi Sistemik
Beberapa
penyakit infeksi yang menyerang seluruh tubuh dapat menimbulkan gejala muntah
sebagai salah satu manifestasi klinisnya.
Contoh:
Demam
Berdarah Dengue (DBD)
Demam
tifoid
Sepsis
Malaria
4. Gangguan Sistem Saraf Pusat
Peningkatan
tekanan intrakranial atau gangguan neurologis dapat merangsang pusat muntah
yang berada di medula oblongata.
Contoh:
Cedera
kepala
Meningitis
Ensefalitis
Tumor
otak
Hidrosefalus
5. Gangguan Metabolik dan
Endokrin
Perubahan
metabolisme tubuh dan gangguan hormonal dapat memicu muntah berlebihan.
Contoh:
Ketoasidosis
diabetic
Hipoglikemia
Uremia
akibat gagal ginjal
Ketidakseimbangan
elektrolit
6. Efek Samping Obat dan
Tindakan Medis
Beberapa
obat dapat merangsang kemoreseptor di otak sehingga menyebabkan mual dan
muntah.
Contoh:
Kemoterapi
Antibiotik
tertentu
Analgesik
opioid
Obat
antiinflamasi nonsteroid (OAINS)
Anestesi
pascaoperasi
7. Faktor Psikologis
Kondisi
emosional tertentu juga dapat menimbulkan muntah melalui stimulasi sistem saraf
pusat.
Contoh:
Kecemasan
Ketakutan
Stres
berat
Gangguan
psikogenik
8. Keracunan dan Paparan Zat
Berbahaya
Masuknya
racun ke dalam tubuh dapat mengaktifkan pusat muntah sebagai mekanisme
pertahanan.
Contoh:
Keracunan
makanan
Keracunan
obat
Paparan
bahan kimia berbahaya
B. Faktor
Risiko
Faktor
risiko adalah kondisi yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami
vomiting profuse. Faktor-faktor tersebut antara lain:
1. Usia Anak dan Bayi
Anak-anak
lebih rentan mengalami muntah berlebihan karena sistem imun yang belum matang
dan cadangan cairan tubuh yang lebih sedikit dibandingkan orang dewasa.
Kehilangan cairan dalam jumlah kecil saja dapat menyebabkan dehidrasi dengan
cepat.
2. Riwayat Penyakit Saluran
Cerna
Pasien
yang memiliki riwayat gastritis, GERD, ulkus peptikum, atau penyakit pencernaan
lainnya memiliki risiko lebih tinggi mengalami muntah.
3. Konsumsi Makanan atau Minuman
yang Tidak Higienis
Makanan
yang terkontaminasi bakteri, virus, atau racun dapat menyebabkan infeksi
saluran cerna dan keracunan makanan yang berujung pada muntah berlebihan.
4. Daya Tahan Tubuh Rendah
Seseorang
dengan sistem imun yang lemah lebih mudah terserang infeksi yang dapat
menimbulkan mual dan muntah.
5. Riwayat Mabuk Perjalanan
(Motion Sickness)
Gangguan
keseimbangan pada sistem vestibular dapat memicu mual dan muntah saat bepergian
menggunakan kendaraan.
6. Penggunaan Obat-obatan
Tertentu
Beberapa
obat memiliki efek samping berupa mual dan muntah, terutama jika digunakan
dalam jangka panjang atau dosis tinggi.
7. Riwayat Penyakit Sistemik
Penderita
DBD, demam tifoid, diabetes melitus, penyakit ginjal, dan gangguan neurologis
memiliki risiko lebih besar mengalami muntah berlebihan.
8. Kebiasaan Makan yang Tidak
Teratur
Pola
makan yang buruk, terlambat makan, makan berlebihan, atau mengonsumsi makanan
yang terlalu pedas dan berlemak dapat meningkatkan risiko terjadinya iritasi
lambung dan muntah.
9. Stres dan Kecemasan
Kondisi
psikologis yang tidak stabil dapat memengaruhi fungsi sistem pencernaan dan
memicu mual serta muntah.
10. Lingkungan
dengan Risiko Tinggi Penularan Infeksi
Tinggal
di lingkungan yang padat, sanitasi yang kurang baik, dan kebersihan yang tidak
terjaga dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi saluran cerna yang
menyebabkan muntah berlebihan.
III.
MANIFESTASI
KLINIS
Manifestasi klinis pada vomiting
profuse (muntah berlebihan) dapat
bervariasi tergantung pada penyebab, frekuensi muntah, jumlah cairan yang
hilang, serta kondisi umum pasien. Gejala yang muncul tidak hanya berkaitan
dengan proses muntah itu sendiri, tetapi juga akibat kehilangan cairan,
elektrolit, dan nutrisi yang berlangsung secara terus-menerus. Semakin sering
muntah terjadi, semakin besar risiko pasien mengalami dehidrasi,
ketidakseimbangan elektrolit, hingga gangguan sirkulasi.
Pada tahap awal, pasien biasanya mengalami mual (nausea) yang ditandai dengan rasa tidak nyaman
pada lambung dan keinginan untuk muntah. Sebelum muntah terjadi, pasien sering
mengeluhkan pusing, rasa penuh pada perut, peningkatan produksi air liur, dan
berkeringat dingin. Setelah itu, isi lambung akan keluar melalui mulut secara
paksa akibat kontraksi otot abdomen dan diafragma.
Manifestasi klinis yang sering ditemukan pada pasien
dengan vomiting profuse meliputi:
1. Gejala Gastrointestinal
·
Mual yang berlangsung terus-menerus
·
Muntah berulang dengan frekuensi yang sering
·
Nyeri atau ketidaknyamanan pada daerah
epigastrium
·
Perut terasa penuh atau kembung
·
Nafsu makan menurun (anoreksia)
·
Sulit makan dan minum
·
Regurgitasi atau keluarnya kembali isi
lambung
·
Penurunan berat badan apabila muntah
berlangsung lama
2.
Tanda dan Gejala Dehidrasi
Akibat kehilangan cairan yang berlebihan,
pasien dapat menunjukkan tanda-tanda dehidrasi seperti:
·
Rasa haus yang meningkat
·
Bibir dan mukosa mulut kering
·
Lidah tampak kering
·
Turgor kulit menurun
·
Mata tampak cekung
·
Kulit terlihat kering
·
Produksi urin menurun (oliguria)
·
Warna urin lebih pekat
3.
Gangguan Sistem Kardiovaskular
Kehilangan cairan yang berlebihan dapat
menyebabkan penurunan volume sirkulasi darah sehingga muncul gejala berupa:
·
Takikardia (peningkatan frekuensi nadi)
·
Hipotensi atau tekanan darah menurun
·
Pengisian kapiler memanjang (>2 detik)
·
Ekstremitas terasa dingin
·
Pucat
·
Risiko syok hipovolemik pada kondisi berat
4.
Gangguan Sistem Saraf
Kehilangan cairan dan elektrolit dapat
memengaruhi fungsi neurologis sehingga pasien dapat mengalami:
·
Lemas
·
Mudah mengantuk
·
Pusing
·
Sakit kepala
·
Penurunan konsentrasi
·
Gelisah
·
Penurunan kesadaran pada kondisi berat
5.
Ketidakseimbangan Elektrolit
Muntah yang berlangsung lama dapat
menyebabkan kehilangan elektrolit penting seperti natrium, kalium, dan klorida
sehingga muncul gejala:
·
Kelemahan otot
·
Kram otot
·
Mudah Lelah
·
Gangguan irama jantung
·
Kesemutan
·
Penurunan refleks tubuh
6.
Manifestasi pada Anak
Pada pasien anak, gejala yang sering
ditemukan meliputi:
·
Anak tampak rewel atau mudah menangis
·
Aktivitas bermain menurun
·
Tampak lemah dan lesu
·
Tidak mau makan atau minum
·
Mata cekung
·
Ubun-ubun cekung pada bayi
·
Menangis tanpa air mata
·
Frekuensi buang air kecil menurun
Manifestasi Klinis yang Umum Ditemukan Saat
Pengkajian Keperawatan
Data Subjektif (DS):
·
Pasien mengatakan mual.
·
Pasien mengatakan sering muntah.
·
Pasien mengatakan tidak nafsu makan.
·
Pasien mengatakan merasa haus.
·
Pasien mengatakan tubuh terasa lemas.
Data Objektif (DO):
·
Muntah berulang.
·
Pasien tampak lemah.
·
Pasien tampak pucat.
·
Mukosa bibir kering.
·
Turgor kulit menurun.
·
Mata tampak cekung.
·
Frekuensi nadi meningkat.
·
Asupan makan dan minum menurun.
·
Produksi urin berkurang.
IV.
PATOFISIOLOGI
Patofisiologi vomiting profuse (muntah berlebihan) merupakan proses kompleks yang
melibatkan sistem saraf pusat, sistem pencernaan, sistem vestibular, serta
berbagai reseptor yang berfungsi menerima rangsangan pemicu muntah. Muntah
terjadi sebagai respons refleks tubuh yang dikendalikan oleh pusat
muntah (vomiting center) yang
terletak di medula oblongata. Pusat muntah menerima impuls dari berbagai
sumber, seperti saluran gastrointestinal, sistem vestibular, korteks serebri,
dan Chemoreceptor Trigger Zone (CTZ) yang berada di area postrema otak.
Proses muntah biasanya diawali oleh adanya rangsangan
atau iritasi pada mukosa lambung dan usus akibat infeksi, peradangan, keracunan
makanan, efek obat-obatan, atau penyakit tertentu. Rangsangan tersebut akan
diteruskan melalui saraf vagus dan saraf simpatis menuju pusat muntah di medula
oblongata. Selain itu, zat-zat kimia tertentu yang beredar dalam darah, seperti
toksin, produk metabolisme abnormal, atau obat-obatan, dapat merangsang CTZ
sehingga mengaktifkan pusat muntah.
Ketika pusat muntah teraktivasi, tubuh akan mengalami
serangkaian respons yang dimulai dengan fase mual (nausea). Pada fase ini terjadi
peningkatan produksi saliva, sensasi tidak nyaman pada lambung, berkeringat
dingin, dan penurunan nafsu makan. Selanjutnya memasuki fase retching
(muntah kering) yang
ditandai dengan kontraksi berulang otot pernapasan dan abdomen tanpa keluarnya
isi lambung. Setelah itu terjadi fase vomiting, yaitu pengeluaran isi
lambung secara paksa melalui mulut akibat kontraksi kuat otot diafragma dan
otot abdomen yang disertai relaksasi sfingter esofagus.
Apabila muntah berlangsung terus-menerus dan dalam
jumlah banyak (profuse), tubuh akan kehilangan cairan dan elektrolit secara
signifikan. Kehilangan cairan menyebabkan penurunan volume cairan intravaskular
sehingga terjadi hipovolemia. Selain itu, hilangnya
ion hidrogen (H⁺), klorida (Cl⁻), natrium (Na⁺), dan kalium (K⁺) dapat
menyebabkan gangguan keseimbangan asam-basa dan elektrolit, terutama alkalosis
metabolik hipokloremik dan hipokalemia.
Penurunan volume cairan intravaskular akan mengurangi
aliran darah ke jaringan tubuh sehingga perfusi jaringan menjadi tidak adekuat.
Sebagai mekanisme kompensasi, tubuh meningkatkan frekuensi denyut jantung
(takikardia) untuk mempertahankan curah jantung. Jika kehilangan cairan terus
berlanjut tanpa penanganan yang memadai, tekanan darah akan menurun, perfusi
organ vital terganggu, dan akhirnya dapat berkembang menjadi syok
hipovolemik.
Selain itu, muntah yang berkepanjangan juga menyebabkan
berkurangnya asupan nutrisi karena pasien mengalami mual, tidak nafsu makan,
dan kesulitan mempertahankan makanan atau minuman di dalam lambung. Kondisi ini
dapat mengakibatkan kelemahan fisik, penurunan berat badan, gangguan
keseimbangan metabolisme, serta memperlambat proses penyembuhan penyakit yang
mendasarinya.
Dengan demikian, proses patofisiologi vomiting profuse
dimulai dari adanya rangsangan terhadap pusat muntah yang menyebabkan muntah
berulang, kemudian berlanjut pada kehilangan cairan dan elektrolit, terjadinya
dehidrasi dan hipovolemia, gangguan keseimbangan asam-basa, penurunan perfusi
jaringan, hingga risiko terjadinya syok apabila tidak segera ditangani.
V.
PENATALAKSANAAN MEDIS
Penatalaksanaan medis pada pasien dengan vomiting
profuse (muntah berlebihan) bertujuan untuk mengatasi penyebab yang
mendasari, mencegah serta mengoreksi kehilangan cairan dan elektrolit,
mengurangi frekuensi muntah, serta mencegah terjadinya komplikasi seperti
dehidrasi, hipovolemia, gangguan keseimbangan asam-basa, dan syok.
Penatalaksanaan harus disesuaikan dengan tingkat keparahan muntah, kondisi
klinis pasien, usia, serta penyakit yang mendasarinya.
1.
Rehidrasi dan Terapi Cairan
Terapi cairan merupakan tindakan utama pada pasien yang
mengalami muntah berlebihan karena kehilangan cairan dapat terjadi dengan
cepat, terutama pada anak-anak.
Rehidrasi Oral
Dilakukan pada pasien dengan dehidrasi ringan hingga
sedang yang masih mampu minum.
Tujuan:
·
Mengganti
cairan yang hilang
·
Mencegah
dehidrasi lebih lanjut
·
Mempertahankan
keseimbangan elektrolit
Cairan yang dapat diberikan:
·
Oralit
(ORS)
·
Air putih
·
Cairan
elektrolit oral sesuai anjuran dokter
Rehidrasi Intravena
Dilakukan apabila pasien mengalami dehidrasi sedang
hingga berat atau tidak mampu mempertahankan asupan cairan oral akibat muntah
terus-menerus.
Cairan yang sering digunakan:
·
Ringer
Laktat (RL)
·
NaCl 0,9%
·
Dextrose
sesuai indikasi medis
Tujuan:
·
Mengembalikan
volume intravascular
·
Memperbaiki
perfusi jaringan
·
Mencegah
syok hipovolemik
2.
Pemberian Obat Antiemetik
Obat antiemetik diberikan untuk mengurangi mual dan
menghentikan muntah dengan cara menghambat rangsangan pada pusat muntah maupun
Chemoreceptor Trigger Zone (CTZ).
Obat yang sering digunakan antara lain:
·
Ondansetron
·
Metoclopramide
·
Domperidone
Tujuan:
·
Mengurangi
frekuensi muntah
·
Mengurangi
rasa mual
·
Membantu
pasien menerima asupan makanan dan minuman
3.
Koreksi Ketidakseimbangan
Elektrolit
Muntah yang berlangsung lama dapat menyebabkan
kehilangan natrium, kalium, dan klorida sehingga perlu dilakukan pemantauan
serta koreksi elektrolit.
Tindakan:
·
Pemeriksaan
elektrolit serum
·
Pemberian
kalium sesuai indikasi
·
Monitoring
keseimbangan cairan dan elektrolit
Tujuan:
·
Mencegah
komplikasi kardiovaskular
·
Menjaga
fungsi saraf dan otot
·
Mempertahankan
keseimbangan metabolisme tubuh
4.
Terapi Nutrisi
Pasien yang mengalami muntah berlebihan sering mengalami
penurunan nafsu makan dan risiko defisit nutrisi.
Tindakan:
·
Memberikan
makanan lunak dan mudah dicerna
·
Makan
dalam porsi kecil tetapi sering
·
Menghindari
makanan berlemak, pedas, dan berbau menyengat
·
Memberikan
nutrisi enteral atau parenteral bila diperlukan
Tujuan:
·
Memenuhi
kebutuhan energi
·
Mencegah
malnutrisi
·
Mempercepat
proses penyembuhan
5.
Pengobatan Penyebab Dasar
Penanganan muntah tidak hanya berfokus pada gejalanya
tetapi juga pada penyakit yang mendasarinya.
Contoh:
·
Antibiotik
pada infeksi bakteri sesuai indikasi medis
·
Terapi
demam berdarah sesuai protocol
·
Pengobatan
gastritis dengan antasida atau terapi lambung
·
Penanganan
tifoid sesuai program terapi dokter
·
Penanganan
gangguan metabolik sesuai penyebab
Tujuan:
·
Menghilangkan
faktor pencetus muntah
·
Mencegah
kekambuhan
·
Mempercepat
pemulihan pasien
6.
Pemeriksaan dan Monitoring
Monitoring dilakukan untuk mengevaluasi perkembangan
kondisi pasien dan mendeteksi komplikasi secara dini.
Meliputi:
·
Pemantauan
tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, respirasi)
·
Pemantauan
frekuensi dan karakteristik muntah
·
Pengukuran
intake dan output cairan
·
Pemantauan
berat badan
·
Pemeriksaan
laboratorium (elektrolit, hematokrit, hemoglobin, ureum, kreatinin)
Tujuan:
·
Menilai
status hidrasi pasien
·
Mengetahui
efektivitas terapi
·
Mencegah
komplikasi lebih lanjut
7.
Istirahat dan Perawatan
Supportif
Pasien dianjurkan untuk beristirahat guna mengurangi
kebutuhan metabolik tubuh dan mempercepat proses pemulihan.
Tindakan:
·
Tirah
baring sesuai kondisi pasien
·
Menjaga
kebersihan mulut setelah muntah
·
Menciptakan
lingkungan yang nyaman
·
Mengurangi
paparan bau yang dapat memicu mual
Tujuan:
·
Memberikan
kenyamanan
·
Mengurangi
rangsangan muntah
·
Mendukung
proses penyembuhan
VI.
PENATALAKSANAAN
KEPERAWATAN
Penatalaksanaan
keperawatan pada pasien dengan vomiting profuse (muntah berlebihan) berfokus
pada pemenuhan kebutuhan dasar pasien, pencegahan komplikasi akibat kehilangan
cairan dan elektrolit, pengurangan rasa mual, peningkatan status nutrisi, serta
pemberian edukasi kepada pasien dan keluarga. Perawat memiliki peran penting
dalam melakukan pengkajian secara berkelanjutan, memantau perkembangan kondisi
pasien, serta berkolaborasi dengan tim kesehatan lainnya untuk mencapai hasil
yang optimal.
1.
Pengkajian
Keperawatan
Pengkajian
dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab, tingkat keparahan, serta dampak
muntah terhadap kondisi pasien.
Aspek
yang perlu dikaji meliputi:
·
Frekuensi,
jumlah, warna, bau, dan karakteristik muntah.
·
Waktu
terjadinya muntah.
·
Faktor
yang memperberat dan mengurangi muntah.
·
Keluhan
mual yang dirasakan pasien.
·
Riwayat
penyakit sebelumnya.
·
Riwayat
konsumsi makanan dan minuman.
·
Riwayat
penggunaan obat-obatan.
·
Status
nutrisi pasien.
·
Status
hidrasi pasien.
·
Tanda-tanda
vital.
·
Tingkat
aktivitas dan toleransi aktivitas.
Tujuan:
·
Menentukan
tingkat keparahan kondisi pasien.
·
Menjadi
dasar dalam penyusunan rencana asuhan keperawatan.
2.
Pemantauan
Status Hidrasi
Muntah
yang berulang dapat menyebabkan kehilangan cairan yang cukup besar sehingga
pemantauan status hidrasi menjadi prioritas utama.
Tindakan
keperawatan:
·
Memantau
turgor kulit.
·
Mengobservasi
kelembapan mukosa mulut.
·
Mengkaji
rasa haus.
·
Memantau
jumlah dan warna urin.
·
Mengukur
intake dan output cairan.
·
Menimbang
berat badan secara berkala.
·
Mengobservasi
tanda-tanda dehidrasi.
Tujuan:
·
Mengetahui
keseimbangan cairan tubuh.
·
Mencegah
terjadinya hipovolemia dan syok.
3.
Pemantauan
Tanda-Tanda Vital
Perawat
perlu melakukan observasi tanda-tanda vital secara berkala untuk mendeteksi
adanya gangguan sirkulasi akibat kehilangan cairan.
Tindakan:
·
Mengukur
tekanan darah.
·
Mengukur
frekuensi nadi.
·
Mengukur
frekuensi pernapasan.
·
Mengukur
suhu tubuh.
Tujuan:
·
Mengetahui
kondisi hemodinamik pasien.
·
Mengidentifikasi
komplikasi secara dini.
4.
Manajemen
Mual dan Muntah
Tindakan
ini bertujuan untuk mengurangi ketidaknyamanan pasien dan mencegah muntah
berulang.
Tindakan
keperawatan:
·
Mengidentifikasi
faktor pemicu mual dan muntah.
·
Menghindarkan
pasien dari aroma yang menyengat.
·
Memberikan
posisi nyaman, seperti posisi semi Fowler.
·
Menjaga
ventilasi ruangan tetap baik.
·
Memberikan
perawatan mulut setelah muntah.
·
Menganjurkan
pasien beristirahat yang cukup.
·
Mengajarkan
teknik relaksasi dan napas dalam.
Tujuan:
·
Mengurangi
rasa mual.
·
Mengurangi
frekuensi muntah.
·
Meningkatkan
kenyamanan pasien.
5.
Manajemen
Nutrisi
Muntah
yang berkepanjangan dapat menyebabkan penurunan asupan nutrisi dan risiko
malnutrisi.
Tindakan
keperawatan:
·
Mengkaji
status nutrisi pasien.
·
Memantau
jumlah makanan yang dihabiskan.
·
Menganjurkan
makan dalam porsi kecil tetapi sering.
·
Memberikan
makanan yang mudah dicerna.
·
Menghindari
makanan pedas, berlemak, dan berbau tajam.
·
Menganjurkan
peningkatan asupan cairan sesuai toleransi.
Tujuan:
·
Memenuhi
kebutuhan nutrisi pasien.
·
Mencegah
defisit nutrisi.
·
Mempercepat
proses pemulihan.
6.
Pemantauan
Keseimbangan Cairan dan Elektrolit
Muntah
berlebihan dapat menyebabkan gangguan keseimbangan elektrolit yang berpotensi
menimbulkan komplikasi serius.
Tindakan:
·
Memonitor
hasil pemeriksaan laboratorium.
·
Mengobservasi
tanda-tanda hipokalemia dan hiponatremia.
·
Mencatat
intake dan output cairan secara akurat.
·
Melaporkan
perubahan kondisi kepada dokter.
Tujuan:
·
Mempertahankan
keseimbangan elektrolit.
·
Mencegah
komplikasi metabolik.
7.
Kolaborasi
Terapi Medis
Perawat
bekerja sama dengan dokter dan tenaga kesehatan lainnya dalam pelaksanaan
terapi.
Tindakan:
·
Kolaborasi
pemberian cairan intravena.
·
Kolaborasi
pemberian obat antiemetik sesuai program terapi.
·
Kolaborasi
pemeriksaan laboratorium.
·
Kolaborasi
dengan ahli gizi dalam pengaturan diet.
Tujuan:
·
Mendukung
keberhasilan terapi medis.
·
Mempercepat
proses penyembuhan pasien.
8.
Edukasi
Kesehatan
Edukasi
diberikan kepada pasien dan keluarga untuk meningkatkan pemahaman mengenai
kondisi yang dialami dan cara pencegahannya.
Materi
edukasi meliputi:
·
Pentingnya
menjaga kecukupan cairan.
·
Tanda
dan gejala dehidrasi yang perlu diwaspadai.
·
Pola
makan yang sesuai selama masa pemulihan.
·
Pentingnya
menjaga kebersihan makanan dan minuman.
·
Kepatuhan
terhadap pengobatan yang diberikan.
·
Kapan
harus segera mencari pertolongan medis.
Tujuan:
·
Meningkatkan
kemampuan pasien dan keluarga dalam perawatan mandiri.
·
Mencegah
kekambuhan dan komplikasi.
9.
Dukungan
Psikologis
Pasien
yang mengalami muntah terus-menerus sering merasa lemah, tidak nyaman, dan
cemas terhadap kondisi yang dialaminya.
Tindakan:
·
Memberikan
dukungan emosional.
·
Mendengarkan
keluhan pasien.
·
Memberikan
informasi yang jelas mengenai tindakan yang dilakukan.
·
Melibatkan
keluarga dalam proses perawatan.
Tujuan:
·
Mengurangi
kecemasan pasien.
·
Meningkatkan
kerja sama selama perawatan.
·
Meningkatkan
kenyamanan psikologis pasien.
VII.
ASUHAN KEPERAWATAN
BERDASARKAN TEORI
Asuhan
keperawatan pada pasien dengan Vomiting Profuse (Muntah Berlebihan) dilakukan
melalui proses keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosis keperawatan,
perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Fokus utama asuhan keperawatan adalah
mengatasi mual, mencegah kehilangan cairan lebih lanjut, mempertahankan status
hidrasi dan nutrisi, serta mencegah terjadinya komplikasi.
A.
PENGKAJIAN
Pengkajian
dilakukan secara menyeluruh untuk memperoleh data yang berhubungan dengan
kondisi pasien.
A. Identitas Pasien
·
Nama
·
Umur
·
Jenis
kelamin
·
Agama
·
Pendidikan
·
Pekerjaan
·
Alamat
·
Tanggal
masuk rumah sakit
·
Diagnosis
medis
B. Keluhan Utama
Pasien
biasanya datang dengan keluhan:
·
Mual
·
Muntah
berulang
·
Nafsu
makan menurun
·
Lemas
·
Tidak
mampu makan dan minum dengan baik
C. Riwayat Penyakit Sekarang
Kaji:
·
Awal
munculnya muntah
·
Frekuensi
muntah
·
Jumlah
muntah
·
Warna
dan isi muntah
·
Faktor
pencetus
·
Keluhan
penyerta (demam, diare, nyeri perut)
Contoh:
"Ibu
pasien mengatakan anak mengalami demam sejak Jumat malam, disertai mual dan
muntah berulang. Sejak Minggu sore setiap makan pasien selalu muntah dan hanya
mampu minum sedikit sehingga dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan
perawatan."
D. Riwayat Penyakit Dahulu
·
Riwayat
gastritis
·
Riwayat
gastroenteritis
·
Riwayat
alergi makanan
·
Riwayat
penyakit kronis
E. Riwayat Penyakit Keluarga
·
Penyakit
infeksi
·
Penyakit
metabolic
·
Penyakit
saluran cerna
F. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum
·
Tampak
lemah
·
Lesu
Aktivitas
menuru.
Tanda-Tanda Vital
·
Suhu
tubuh meningkat bila terdapat infeksi
·
Nadi
meningkat (takikardia)
·
Tekanan
darah dapat menurun
·
Frekuensi
napas meningkat
Kepala dan Leher
·
Mata
cekung
·
Mukosa
bibir kering
·
Lidah
kering
Abdomen
·
Mual
·
Nyeri
tekan epigastrium
·
Bising
usus meningkat atau normal
Eliminasi
·
Produksi
urin menurun
·
Warna
urin pekat
G. Pemeriksaan Penunjang
·
Hemoglobin
·
Hematokrit
·
Leukosit
·
Elektrolit
serum
·
Pemeriksaan
feses bila diperlukan
·
Pemeriksaan
sesuai indikasi penyakit dasar
B. ANALISIS DATA
|
DATA |
ETIOLOGI |
MASALAH |
|
DS: Pasien mengeluh mual, tidak nafsu makan. DO: Pasien muntah berulang,
tampak lemah dan pucat. |
Iritasi
Lambung |
Nausea |
|
DS: Pasien hanya minum sedikit. DO: Muntah berulang, mukosa kering,
turgor kulit menurun. |
Kehilangan cairan aktif akibat muntah |
Resiko
Hipovolemia |
C. DIAGNOSIS KEPERAWATAN
1. Nausea berhubungan dengan iritasi lambung ditandai dengan pasien
mengeluh mual, muntah berulang, nafsu makan menurun, pasien tampak lemah dan
pucat.
2. Risiko Hipovolemia
berhubungan dengan kehilangan cairan aktif akibat muntah.
D. INTERVENSI
KEPERAWATAN
Diagnosa 1: Nausea
Tujuan (SLKI)
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 × 24 jam,
tingkat mual menurun dengan kriteria hasil:
·
Keluhan
mual menurun
·
Frekuensi
muntah menurun
·
Nafsu
makan meningkat
·
Pasien
tampak lebih segar
·
Asupan
makanan meningkat
Intervensi (SIKI)
Observasi
·
Identifikasi
penyebab mual.
·
Monitor
frekuensi dan karakteristik muntah.
·
Monitor
asupan makanan.
Terapeutik
·
Berikan
posisi nyaman.
·
Berikan
lingkungan yang bersih dan bebas bau menyengat.
·
Lakukan
perawatan mulut setelah muntah.
Edukasi
·
Anjurkan
makan sedikit tetapi sering.
·
Anjurkan
menghindari makanan pemicu mual.
Kolaborasi
·
Kolaborasi
pemberian antiemetik sesuai program terapi.
Diagnosa 2: Risiko Hipovolemia
Tujuan (SLKI)
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 × 24 jam,
status cairan membaik dengan kriteria hasil:
·
Turgor
kulit membaik
·
Mukosa
mulut lembab
·
Produksi
urin adekuat
·
Tanda
vital dalam batas normal
·
Tidak
terdapat tanda dehidrasi
Intervensi (SIKI)
Observasi
·
Monitor
tanda-tanda vital.
·
Monitor
intake dan output cairan.
·
Monitor
tanda-tanda dehidrasi.
Terapeutik
·
Pertahankan
akses intravena.
·
Catat
keseimbangan cairan.
·
Anjurkan
peningkatan asupan cairan sesuai toleransi.
Edukasi
·
Edukasi
pentingnya memenuhi kebutuhan cairan.
·
Edukasi
tanda-tanda dehidrasi.
Kolaborasi
·
Kolaborasi
pemberian cairan intravena sesuai program terapi.
·
Kolaborasi
pemeriksaan elektrolit serum.
E. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Diagnosa Nausea
·
Mengidentifikasi
faktor pencetus mual.
·
Memonitor
frekuensi dan jumlah muntah.
·
Memberikan
posisi semi Fowler.
·
Menganjurkan
makan dalam porsi kecil tetapi sering.
·
Melakukan
perawatan mulut setelah muntah.
·
Berkolaborasi
pemberian obat antiemetik.
Diagnosa Risiko Hipovolemia
·
Mengobservasi
tanda-tanda dehidrasi.
·
Memonitor
tekanan darah, nadi, respirasi, dan suhu.
·
Mencatat
intake dan output cairan.
·
Menganjurkan
peningkatan asupan cairan sesuai toleransi.
·
Berkolaborasi
pemberian terapi cairan intravena.
F. EVALUASI
KEPERAWATAN
Diagnosa Nausea
S: Pasien
mengatakan mual berkurang.
O: Frekuensi
muntah menurun, pasien mulai menghabiskan makanan yang diberikan.
A: Masalah
teratasi sebagian.
P: Lanjutkan
intervensi manajemen mual.
Diagnosa Risiko Hipovolemia
S: Pasien
mengatakan rasa haus berkurang.
O: Mukosa
mulut lembab, turgor kulit membaik, produksi urin adekuat.
A: Masalah
teratasi.
P: Pertahankan
pemantauan status hidrasi dan keseimbangan cairan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Ball, J. W., Dains, J. E., Flynn, J. A.,
Solomon, B. S., & Stewart, R. W. (2023). Seidel's
Guide to Physical Examination (10th
ed.). St. Louis: Elsevier.
2. Herdman, T. H., & Kamitsuru, S. (2021). NANDA International Nursing
Diagnoses: Definitions and Classification 2021–2023. New York: Thieme
Medical Publishers.
3. Herdman, T. H., Kamitsuru, S., & Lopes, C.
T. (2024). NANDA
International Nursing Diagnoses: Definitions and Classification 2024–2026.
New York: Thieme Medical Publishers.
4. Hockenberry, M. J., & Wilson, D. (2023). Wong's Nursing Care of Infants and
Children (12th ed.). St.
Louis: Elsevier.
5. Hockenberry, M. J., Wilson, D., & Rodgers,
C. C. (2023). Wong's
Essentials of Pediatric Nursing (12th
ed.). St. Louis: Elsevier.
6. Huether, S. E., & McCance, K. L. (2023). Understanding Pathophysiology (8th ed.). St. Louis: Elsevier.
7. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
(2022). Pedoman Tata Laksana
Dehidrasi pada Anak. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
8. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
(2023). Pedoman Pelayanan
Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
9. Lewis, S. L., Bucher, L., Heitkemper, M. M.,
Harding, M. M., Kwong, J., & Roberts, D. (2023). Medical-Surgical Nursing:
Assessment and Management of Clinical Problems (12th ed.). St. Louis: Elsevier.
10. Potter, P. A., Perry, A. G., Stockert, P. A.,
& Hall, A. M. (2023). Fundamentals
of Nursing (11th ed.). St.
Louis: Elsevier.
11. Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan
Indonesia (SDKI): Definisi dan Indikator Diagnostik. Jakarta: Dewan
Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
12. Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan
Indonesia (SIKI). Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional
Indonesia.
13. Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan
Indonesia (SLKI). Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional
Indonesia.
14. World Health Organization. (2023). Pocket Book of Hospital Care for
Children: Guidelines for the Management of Common Childhood Illnesses.
Geneva: World Health Organization.
15. Centers for Disease Control and Prevention.
(2024). Managing Acute
Gastroenteritis Among Children: Oral Rehydration, Maintenance, and Nutritional
Therapy. Atlanta: CDC.
Komentar
Posting Komentar