UNDUH LAPORAN PENDAHULUAN PASIEN DENGAN DIABETES MELITUS TIPE 2
LAPORAN
PENDAHULUAN
PASIEN DENGAN
DIABETES MELITUS TIPE 2
BAB I
TINJAUN TEORI (PENYAKIT)
A.
Definisi
Penyakit/Kondisi
1. Diabetes
Diabetes Melitus (DM) Tipe 2 merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai
oleh peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia) akibat gangguan kerja
insulin (resistensi insulin) dan disertai penurunan kemampuan sel beta pankreas
dalam memproduksi insulin yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Pada
kondisi ini, insulin masih diproduksi oleh pankreas, tetapi sel-sel tubuh tidak
dapat menggunakannya secara efektif sehingga glukosa tidak dapat masuk ke dalam
sel dan menumpuk di dalam aliran darah (American Diabetes Association [ADA],
2025).
DM Tipe 2 merupakan bentuk diabetes
yang paling banyak ditemukan, mencakup sekitar 90–95% dari seluruh kasus
diabetes. Penyakit ini umumnya berkembang secara bertahap dan sering kali tidak
menunjukkan gejala yang jelas pada tahap awal. Faktor risiko yang berperan
antara lain obesitas, kurang aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, riwayat
keluarga diabetes, usia lanjut, hipertensi, dan dislipidemia. Seiring berjalannya
waktu, hiperglikemia yang tidak terkontrol dapat menyebabkan berbagai
komplikasi, baik mikrovaskular maupun makrovaskular, seperti nefropati
diabetik, retinopati diabetik, neuropati diabetik, penyakit jantung koroner,
stroke, dan penyakit pembuluh darah perifer (Davies et al., 2022).
Menurut International Diabetes
Federation (IDF), DM Tipe 2 terjadi ketika tubuh tidak mampu menggunakan
insulin secara efektif (insulin resistance) dan secara progresif mengalami
penurunan sekresi insulin. Akibatnya, kadar glukosa darah meningkat secara
kronis sehingga mengganggu fungsi berbagai organ tubuh, terutama mata, ginjal,
saraf, jantung, dan pembuluh darah (IDF, 2024).
B.
Etiologi
(Penyebab)
1. Diabetes
Melitus (DM) Tipe 2 merupakan penyakit multifaktorial yang terjadi akibat
interaksi antara faktor genetik, lingkungan, dan gaya hidup. Penyebab utama DM
Tipe 2 adalah resistensi insulin, yaitu kondisi ketika sel-sel tubuh,
terutama pada otot, hati, dan jaringan lemak, tidak mampu merespons insulin
secara optimal. Untuk mengatasi keadaan tersebut, pankreas meningkatkan
produksi insulin. Namun, seiring waktu, sel beta pankreas mengalami penurunan
fungsi sehingga tidak mampu mempertahankan produksi insulin yang cukup, yang
akhirnya menyebabkan hiperglikemia kronis (American Diabetes Association [ADA],
2025).
Salah satu faktor risiko terpenting
adalah obesitas, terutama obesitas sentral atau penumpukan
lemak di area abdomen. Jaringan adiposa yang berlebihan menghasilkan berbagai
sitokin proinflamasi seperti tumor necrosis factor-alpha (TNF-α) dan
interleukin-6 (IL-6) yang dapat mengganggu sensitivitas insulin. Selain itu, kurangnya
aktivitas fisik turut meningkatkan risiko terjadinya resistensi
insulin karena berkurangnya penggunaan glukosa oleh otot rangka (Magliano et al.,
2021).
Faktor genetik dan riwayat keluarga juga
berperan penting dalam perkembangan DM Tipe 2. Individu yang memiliki orang tua
atau saudara kandung dengan diabetes memiliki risiko lebih tinggi mengalami
penyakit ini dibandingkan populasi umum. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa
beberapa variasi gen dapat memengaruhi fungsi sel beta pankreas dan
sensitivitas insulin sehingga meningkatkan kerentanan seseorang terhadap DM
Tipe 2 (Chen et al., 2023).
Selain itu, usia yang semakin
bertambah menjadi faktor risiko karena terjadi penurunan fungsi sel beta
pankreas dan sensitivitas insulin secara fisiologis. Risiko DM Tipe 2 juga
meningkat pada individu dengan hipertensi, dislipidemia, sindrom metabolik,
riwayat diabetes gestasional, sindrom ovarium polikistik (PCOS), kebiasaan
merokok, serta pola makan tinggi kalori dan rendah serat. Faktor-faktor
tersebut berkontribusi terhadap gangguan metabolisme glukosa yang pada akhirnya
menyebabkan terjadinya diabetes (IDF, 2024).
C.
Manifestasi
Klinis (Tanda dan Gejala)
Manifestasi klinis DM Tipe 2 umumnya berkembang secara perlahan dan sering
kali tidak disadari oleh penderita selama bertahun-tahun. Gejala muncul akibat
peningkatan kadar glukosa darah yang berlangsung kronis sehingga mengganggu
fungsi metabolisme tubuh. Keluhan klasik yang sering ditemukan dikenal sebagai trias
diabetes, yaitu poliuria, polidipsia, dan polifagia (American Diabetes
Association [ADA], 2025).
Poliuria merupakan kondisi meningkatnya frekuensi dan volume urin
akibat tingginya kadar glukosa darah yang melebihi ambang reabsorpsi ginjal.
Glukosa yang keluar melalui urin menarik air secara osmotik sehingga produksi
urin meningkat. Kehilangan cairan yang berlebihan menyebabkan penderita
mengalami polidipsia atau rasa haus yang berlebihan sebagai mekanisme
kompensasi tubuh untuk menggantikan cairan yang hilang. Sementara itu, polifagia
atau peningkatan nafsu makan terjadi karena glukosa tidak dapat digunakan
secara efektif oleh sel sebagai sumber energi sehingga tubuh mengalami keadaan
kekurangan energi meskipun kadar glukosa darah tinggi (Petersmann et al.,
2019).
Selain trias diabetes, penderita DM Tipe 2 sering mengeluhkan mudah
lelah, lemah, penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, penglihatan
kabur, kesemutan atau baal pada ekstremitas, serta luka yang sulit sembuh.
Hiperglikemia kronis dapat mengganggu fungsi saraf perifer sehingga menimbulkan
neuropati diabetik yang ditandai dengan rasa kebas, kesemutan, atau sensasi
terbakar pada kaki dan tangan. Kadar glukosa yang tinggi juga meningkatkan
risiko infeksi berulang, terutama infeksi saluran kemih, infeksi kulit, dan
infeksi jamur (IDF, 2024).
D.
Patofisiologi
dan Web of Caution (WOC)
Diabetes Melitus (DM) Tipe 2 terjadi akibat
kombinasi antara resistensi insulin dan gangguan fungsi
sel beta pankreas. Pada tahap awal, sel-sel tubuh seperti otot, hati,
dan jaringan adiposa mengalami penurunan sensitivitas terhadap insulin sehingga
glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel secara optimal. Kondisi ini menyebabkan
kadar glukosa dalam darah meningkat (hiperglikemia). Sebagai respons terhadap
peningkatan kadar glukosa darah, pankreas berusaha mengompensasi dengan
meningkatkan produksi insulin (hiperinsulinemia) agar kadar glukosa tetap
terkendali (American Diabetes Association [ADA], 2025).
Seiring berjalannya waktu, sel beta
pankreas mengalami kelelahan akibat bekerja terus-menerus untuk menghasilkan
insulin dalam jumlah besar. Akibatnya, kemampuan pankreas dalam mensekresikan
insulin menurun sehingga jumlah insulin yang tersedia tidak lagi mampu
mengatasi resistensi insulin yang terjadi. Penurunan sekresi insulin yang
disertai resistensi insulin menyebabkan hiperglikemia kronis yang menjadi ciri
khas DM Tipe 2 (DeFronzo et al., 2021).
Hiperglikemia yang berlangsung lama
mengakibatkan peningkatan diuresis osmotik karena glukosa yang berlebih akan
diekskresikan melalui urin. Kondisi ini menyebabkan poliuria yang diikuti
kehilangan cairan dan elektrolit sehingga muncul polidipsia. Di sisi lain,
meskipun kadar glukosa darah tinggi, sel tubuh mengalami kekurangan energi
karena glukosa tidak dapat dimanfaatkan secara efektif. Keadaan tersebut memicu
peningkatan rasa lapar atau polifagia. Apabila tidak terkontrol, hiperglikemia
kronis dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah, saraf, ginjal, retina, dan
jantung melalui proses stres oksidatif, inflamasi kronis, serta pembentukan
advanced glycation end products (AGEs) (IDF, 2024).
Komplikasi jangka panjang DM Tipe 2
dibedakan menjadi komplikasi mikrovaskular dan makrovaskular. Komplikasi
mikrovaskular meliputi retinopati diabetik, nefropati diabetik, dan neuropati
diabetik. Sementara itu, komplikasi makrovaskular meliputi penyakit jantung
koroner, penyakit arteri perifer, dan stroke. Selain itu, hiperglikemia juga
meningkatkan risiko infeksi karena menurunnya fungsi sistem imun tubuh (Davies
et al., 2022).
E.
Pemeriksaan
penunjang (Lab/Radiologi)
Pemeriksaan
penunjang pada pasien dengan Urosepsis + Uncontrolled Diabetes Mellitus Tipe 2
+ Hipokalemia + Chronic Kidney Disease (CKD) Stadium 3 bertujuan untuk
menegakkan diagnosis, mengidentifikasi sumber infeksi, menilai derajat
keparahan penyakit, mengevaluasi fungsi organ, serta memantau respons terapi.
Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pemeriksaan laboratorium, mikrobiologi, dan
radiologi.
1. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan darah lengkap dilakukan
untuk menilai adanya infeksi, inflamasi, dan gangguan hematologi. Pada pasien
urosepsis umumnya ditemukan leukositosis (>10.000/µL) sebagai respons
terhadap infeksi bakteri. Peningkatan jumlah neutrofil sering ditemukan pada
infeksi akut. Pada kondisi sepsis berat dapat terjadi trombositopenia akibat
aktivasi sistem koagulasi dan konsumsi trombosit yang berlebihan. Selain itu,
kadar hemoglobin dapat menurun akibat anemia penyakit kronis atau gangguan
fungsi ginjal (Evans et al., 2021).
2. Pemeriksaan Gula Darah Sewaktu (GDS)
Pemeriksaan GDS digunakan untuk
mengetahui kadar glukosa darah saat pemeriksaan dilakukan tanpa memperhatikan
waktu makan terakhir. Pada pasien diabetes melitus tipe 2 yang tidak terkontrol
biasanya ditemukan kadar gula darah sewaktu ≥200 mg/dL. Pemeriksaan ini penting
untuk menilai tingkat hiperglikemia yang dapat memperberat proses infeksi dan
sepsis (American Diabetes Association [ADA], 2025).
3.
Pemeriksaan Gula Darah Puasa
(GDP)
GDP dilakukan setelah pasien berpuasa selama 8–12 jam.
Nilai GDP ≥126 mg/dL menunjukkan diabetes melitus. Pemeriksaan ini membantu
mengevaluasi kontrol glikemik dan efektivitas terapi yang diberikan (ADA,
2025).
4.
Pemeriksaan Hemoglobin A1c
(HbA1c)
HbA1c menggambarkan rata-rata kadar glukosa darah
selama dua hingga tiga bulan terakhir. Nilai HbA1c ≥6,5% mendukung diagnosis
diabetes melitus, sedangkan nilai yang tinggi menunjukkan kontrol glikemik yang
buruk. Pada pasien dengan diabetes tidak terkontrol, HbA1c sering ditemukan
>7% bahkan >9% (ADA, 2025).
5.
Pemeriksaan Elektrolit Serum
Pemeriksaan elektrolit meliputi kadar natrium (Na⁺),
kalium (K⁺), klorida (Cl⁻), dan kalsium (Ca²⁺). Pada kasus ini, pemeriksaan
kalium sangat penting karena pasien mengalami hipokalemia. Kadar kalium <3,5
mEq/L menunjukkan hipokalemia yang dapat menyebabkan kelemahan otot, gangguan
kontraksi jantung, dan aritmia. Gangguan natrium dan elektrolit lainnya juga
dapat terjadi akibat sepsis, diuresis osmotik, dan gangguan fungsi ginjal
(Palmer & Clegg, 2018).
Pemeriksaan fungsi ginjal meliputi ureum, kreatinin
serum, dan estimasi laju filtrasi glomerulus (eGFR). Pada pasien CKD stadium 3
biasanya ditemukan peningkatan ureum dan kreatinin serta penurunan eGFR menjadi
30–59 mL/menit/1,73 m². Pemeriksaan ini penting untuk menentukan derajat
kerusakan ginjal dan menyesuaikan terapi yang akan diberikan (KDIGO, 2024).
7.
Pemeriksaan Urinalisis
Lengkap
Urinalisis dilakukan untuk mendeteksi adanya infeksi
saluran kemih dan kelainan pada sistem perkemihan. Pada pasien urosepsis dapat
ditemukan leukosituria, piuria, bakteriuria, nitrit positif, dan hematuria.
Pada pasien diabetes melitus sering ditemukan glukosuria akibat hiperglikemia.
Proteinuria juga dapat ditemukan pada pasien yang mengalami nefropati diabetik
atau CKD (Flores-Mireles et al., 2015).
8.
Kultur Urin dan Uji Sensitivitas Antibiotik
Kultur urin merupakan pemeriksaan baku emas (gold standard)
untuk mengidentifikasi bakteri penyebab infeksi saluran kemih. Hasil kultur
urin ≥10⁵ CFU/mL menunjukkan adanya infeksi yang signifikan. Uji sensitivitas
antibiotik dilakukan untuk menentukan antibiotik yang paling efektif terhadap
bakteri penyebab infeksi (Flores-Mireles et al., 2015).
9.
Kultur Darah (Blood Culture)
Kultur darah dilakukan untuk mengidentifikasi bakteri yang
telah masuk ke dalam aliran darah. Pemeriksaan ini sangat penting pada pasien
urosepsis karena dapat membantu menentukan jenis mikroorganisme penyebab sepsis
serta terapi antibiotik yang sesuai. Kultur darah sebaiknya dilakukan sebelum
pemberian antibiotik (Evans et al., 2021).
10.
Pemeriksaan C-Reactive Protein (CRP)
CRP merupakan protein fase akut yang diproduksi hati sebagai
respons terhadap inflamasi. Pada pasien urosepsis, kadar CRP biasanya meningkat
secara signifikan dan dapat digunakan sebagai indikator aktivitas inflamasi
serta pemantauan keberhasilan terapi (Evans et al., 2021).
11. Pemeriksaan
Prokalsitonin (PCT)
Prokalsitonin merupakan biomarker
yang lebih spesifik untuk infeksi bakteri sistemik. Kadar prokalsitonin yang
meningkat menunjukkan adanya infeksi bakteri berat atau sepsis. Pemeriksaan ini
juga dapat digunakan untuk memantau respons terhadap terapi antibiotik (Evans
et al., 2021).
Pemeriksaan koagulasi meliputi Prothrombin Time (PT),
Activated Partial Thromboplastin Time (aPTT), dan International Normalized
Ratio (INR). Pada sepsis berat dapat terjadi gangguan koagulasi hingga
Disseminated Intravascular Coagulation (DIC), sehingga pemeriksaan ini penting
untuk mendeteksi komplikasi tersebut (Evans et al., 2021).
Foto toraks dilakukan untuk menilai adanya komplikasi
paru, edema paru, atau menyingkirkan sumber infeksi lain seperti pneumonia yang
dapat memperberat kondisi sepsis. Pemeriksaan ini juga membantu mengevaluasi
kondisi kardiopulmoner pasien.
14.
Elektrokardiografi (EKG)
Pemeriksaan EKG penting dilakukan pada pasien dengan
hipokalemia. Hipokalemia dapat menyebabkan perubahan gambaran listrik jantung
berupa gelombang T yang mendatar, depresi segmen ST, gelombang U yang menonjol,
hingga aritmia yang berpotensi mengancam jiwa (Palmer & Clegg, 2018).
F.
Pentalaksanaan
Medis (Terapi/Obat/Diet)
Penatalaksanaan
Diabetes Melitus (DM) Tipe 2 bertujuan untuk mengendalikan kadar glukosa darah,
mencegah komplikasi akut maupun kronis, memperbaiki kualitas hidup pasien,
serta mengurangi angka morbiditas dan mortalitas. Penatalaksanaan dilakukan
melalui modifikasi gaya hidup, terapi nutrisi, aktivitas fisik, terapi
farmakologis, serta pemantauan glukosa darah secara berkala (American Diabetes
Association [ADA], 2025).
1. Terapi
Farmakologis
a. Obat
Antidiabetes Oral
1) Metformin
(Biguanid)
Metformin merupakan terapi lini
pertama pada sebagian besar pasien DM Tipe 2 karena efektif menurunkan kadar
glukosa darah, relatif aman, dan tidak menyebabkan peningkatan berat badan.
Mekanisme kerja:
·
Menurunkan produksi glukosa di hati.
·
Meningkatkan sensitivitas insulin.
·
Meningkatkan penggunaan glukosa oleh jaringan perifer.
Dosis:
·
Awal: 500 mg 1–2 kali sehari.
·
Maksimal: 2.000–2.550 mg/hari.
2) Ulfonilurea
Contoh:
·
Glimepiride
·
Glibenklamid
·
Gliclazide
Mekanisme kerja: Merangsang
sekresi insulin oleh pankreas.
3) DPP-4
Inhibitor
Contoh:
·
Sitagliptin
·
Linagliptin
·
Vildagliptin
Mekanisme kerja: Meningkatkan
kadar hormon incretin sehingga meningkatkan sekresi insulin.
4) SGLT-2
Inhibitor
Contoh:
·
Empagliflozin
·
Dapagliflozin
·
Canagliflozin
Mekanisme kerja: Meningkatkan
ekskresi glukosa melalui urin.
5) GLP-1
Receptor Agonist
Contoh:
·
Liraglutide
·
Semaglutide
·
Dulaglutide
Mekanisme kerja:
·
Meningkatkan sekresi insulin.
·
Menurunkan nafsu makan.
·
Memperlambat pengosongan lambung.
b. Terapi
Insulin
Insulin diberikan apabila:
·
Target glukosa darah tidak tercapai dengan obat oral.
·
HbA1c sangat tinggi (>10%).
·
Glukosa darah >300 mg/dL.
·
Terjadi ketoasidosis diabetik.
·
Infeksi berat atau sepsis.
·
Pasien menjalani operasi besar.
·
Kehamilan.
Jenis insulin yang dapat digunakan:
1.
Insulin kerja cepat (Rapid Acting)
-
Lispro
-
Aspart
-
Glulisine
2.
Insulin kerja pendek (Short Acting)
-
Regular insulin
3.
Insulin kerja menengah (Intermediate Acting)
-
NPH
4.
Insulin kerja panjang (Long Acting)
-
Glargine
-
Detemir
-
Degludec
2. Terapi Nonfarmakologis
a. Terapi
Nutrisi Medis (Diet)
Terapi nutrisi merupakan komponen
utama dalam pengelolaan DM Tipe 2. Pola makan yang dianjurkan adalah makanan
dengan gizi seimbang yang mengandung karbohidrat kompleks, protein, lemak
sehat, vitamin, mineral, dan serat dalam jumlah yang sesuai kebutuhan individu.
Pasien dianjurkan untuk membatasi konsumsi gula sederhana, minuman manis,
makanan tinggi lemak jenuh, serta makanan olahan yang tinggi natrium.
Prinsip pengaturan makan pada pasien
DM meliputi:
1) Jumlah
kalori disesuaikan dengan usia, jenis kelamin, berat badan, dan aktivitas
fisik.
2) Karbohidrat
sekitar 45–65% dari total kebutuhan energi.
3) Protein
sekitar 10–20% dari total kebutuhan energi.
4) Lemak
sekitar 20–25% dari total kebutuhan energi.
5) Memperbanyak
konsumsi sayur, buah, dan makanan tinggi serat.
6) Membatasi
asupan gula tambahan dan minuman berpemanis.
7) Mengatur
jadwal makan secara teratur.
b. Aktivitas
Fisik
Aktivitas fisik secara teratur dapat
meningkatkan sensitivitas insulin dan membantu mengontrol kadar glukosa darah.
Pasien dianjurkan melakukan aktivitas aerobik intensitas sedang seperti
berjalan kaki, bersepeda, atau berenang minimal 150 menit per minggu,
yang dibagi menjadi 3–5 hari latihan (ADA, 2025).
c. Edukasi
dan Perubahan Gaya Hidup
Edukasi diberikan mengenai:
·
Pengelolaan penyakit diabetes.
·
Pemantauan kadar glukosa darah.
·
Kepatuhan terhadap terapi.
·
Perawatan kaki diabetik.
·
Pencegahan komplikasi.
·
Pengendalian berat badan.
·
Penghentian merokok dan pembatasan konsumsi alkohol.
BAB II
TINJAUAN TEORI ASUHAN KEPERAWATAN
A.
Pengkajian
Keperawatan (Fisik dan Pola Fungsi)
1. Identitas
Pasien
Pengkajian diawali dengan identitas
pasien yang meliputi nama, usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, agama,
alamat, tanggal masuk rumah sakit, serta diagnosis medis
2. Status
Kesehatan Saat Ini
Keluhan utama: Keluhan utama pada
pasien Diabetes Melitus (DM) Tipe 2 umumnya berkaitan dengan peningkatan
kadar glukosa darah yang berlangsung dalam waktu lama. Keluhan yang paling
sering ditemukan adalah poliuria (sering buang air kecil), polidipsia
(sering merasa haus), dan polifagia (sering merasa lapar). Ketiga gejala tersebut
muncul akibat gangguan metabolisme glukosa yang menyebabkan tubuh tidak mampu
menggunakan glukosa secara efektif sebagai sumber energi (American Diabetes
Association [ADA], 2025).
Pasien juga dapat mengeluhkan tubuh
terasa lemah, cepat lelah, penurunan berat badan, penglihatan kabur, serta
kesemutan atau baal pada tangan dan kaki. Keluhan mudah lelah terjadi karena
sel tubuh tidak memperoleh energi yang cukup akibat gangguan kerja insulin.
Penglihatan kabur dapat disebabkan oleh perubahan kadar glukosa yang
memengaruhi lensa mata. Sementara itu, kesemutan atau baal pada ekstremitas
sering dikaitkan dengan neuropati diabetik akibat kerusakan saraf perifer yang
terjadi secara bertahap (DeFronzo et al., 2021).
3. Riwayat
Penyakit Saat Ini:
Beberapa
kondisi yang sering ditemukan pada pasien DM Tipe 2 adalah obesitas,
terutama obesitas sentral (penumpukan lemak di daerah perut), hipertensi,
dislipidemia (peningkatan kolesterol dan trigliserida), serta sindrom
metabolik. Kondisi-kondisi tersebut berhubungan erat dengan resistensi
insulin yang merupakan mekanisme utama terjadinya DM Tipe 2 (DeFronzo et al.,
2021).
Selain
itu, riwayat prediabetes, seperti gangguan glukosa puasa
(impaired fasting glucose) atau gangguan toleransi glukosa (impaired glucose
tolerance), sering ditemukan sebelum pasien didiagnosis DM Tipe 2. Pada wanita,
riwayat diabetes gestasional dan sindrom ovarium
polikistik (PCOS) juga diketahui meningkatkan risiko terjadinya DM
Tipe 2 di kemudian hari (ADA, 2025).
4. Riwayat
Kesehatan Terdahulu:
Pada
pengkajian riwayat kesehatan terdahulu, perawat perlu menanyakan apakah pasien
pernah memiliki penyakit atau kondisi yang dapat meningkatkan risiko terjadinya
Diabetes Melitus (DM) Tipe 2. Riwayat penyakit tersebut
penting karena DM Tipe 2 sering berkembang secara bertahap dan berkaitan dengan
gangguan metabolik yang telah berlangsung lama.
Beberapa
riwayat penyakit yang perlu dikaji meliputi obesitas atau overweight,
terutama obesitas sentral, karena penumpukan lemak tubuh berhubungan erat dengan
resistensi insulin. Selain itu, hipertensi dan dislipidemia
(peningkatan kadar kolesterol dan trigliserida) sering ditemukan sebelum
seseorang didiagnosis DM Tipe 2. Ketiga kondisi ini merupakan komponen sindrom
metabolik yang berperan dalam perkembangan diabetes (American Diabetes
Association, 2025).
Pada
pasien perempuan, perlu dikaji riwayat diabetes gestasional
dan sindrom ovarium polikistik (PCOS) karena kedua kondisi
tersebut terbukti meningkatkan risiko DM Tipe 2 di kemudian hari. Riwayat prediabetes,
baik berupa gangguan glukosa puasa maupun gangguan toleransi glukosa, juga
perlu ditanyakan karena merupakan tahap awal sebelum berkembang menjadi
diabetes (DeFronzo et al., 2021).
Selain
itu, perawat perlu mengidentifikasi riwayat penyakit kardiovaskular,
seperti penyakit jantung koroner dan stroke, serta penyakit hati
berlemak non-alkoholik (Non-Alcoholic Fatty Liver Disease/NAFLD) yang
sering berkaitan dengan resistensi insulin dan gangguan metabolisme glukosa.
5. Pemeriksaan
Fisik: dilakukan secara sistematis melalui inspeksi, palpasi, perkusi, dan
auskultasi
-
Pada inspeksi
Pemeriksaan fisik pada pasien DM Tipe
2 dilakukan secara sistematis menggunakan metode inspeksi, palpasi, perkusi,
dan auskultasi. Temuan yang diperoleh bergantung pada lamanya penyakit, tingkat
kontrol glukosa darah, serta adanya komplikasi yang menyertai.
1. Keadaan
Umum
·
Pasien tampak lemah atau mudah lelah.
·
Kesadaran umumnya compos mentis, namun dapat menurun pada
hiperglikemia berat.
·
Berat badan dapat berlebih (obesitas) atau menurun akibat
hiperglikemia yang tidak terkontrol.
·
Tanda-tanda vital:
-
Tekanan darah dapat meningkat (hipertensi).
-
Nadi dapat normal atau meningkat.
-
Suhu tubuh normal atau meningkat bila terjadi infeksi.
-
Frekuensi napas umumnya normal.
2. Kepala dan
Leher
Inspeksi
·
Mukosa bibir dan mulut tampak kering akibat dehidrasi.
·
Mata dapat tampak kurang bercahaya.
·
Penglihatan kabur.
Palpasi
·
Turgor kulit dapat menurun bila terjadi kekurangan cairan.
3. Sistem
Integumen (Kulit)
Inspeksi
·
Kulit kering dan kasar.
·
Luka yang sulit sembuh.
·
Ulkus diabetik pada kaki (bila terdapat komplikasi).
·
Infeksi kulit berulang.
·
Pruritus (gatal).
Palpasi
·
Kulit terasa kering.
·
Pengisian kapiler (capillary refill time) dapat memanjang
jika terjadi gangguan perfusi perifer.
4. Sistem
Kardiovaskular
Inspeksi: Warna kulit pucat pada beberapa pasien dengan komplikasi
vaskular.
Palpasi: Nadi perifer dapat melemah pada ekstremitas bawah.
Akral dapat terasa dingin bila terdapat gangguan sirkulasi perifer.
Auskultasi:
-
Bunyi jantung S1 dan S2 terdengar normal.
-
Dapat ditemukan kelainan bunyi jantung bila terdapat penyakit
kardiovaskular penyerta.
5. Sistem
Respirasi
Inspeksi: Pola napas umumnya normal.
Palpasi: Pengembangan dada simetris.
Perkusi: Sonor pada kedua lapang paru.
Auskultasi:
-
Suara napas vesikuler.
-
Ronki dapat ditemukan bila terdapat infeksi paru.
6. Sistem
Gastrointestinal
Inspeksi: Nafsu makan meningkat (polifagia).
Auskultasi: Bising usus normal (5–35 kali/menit).
Palpasi: Umumnya tidak terdapat nyeri tekan abdomen.
Perkusi: Timpani pada abdomen.
7. Sistem
Perkemihan
Inspeksi
-
Frekuensi berkemih meningkat (poliuria).
-
Nokturia (sering berkemih pada malam hari).
-
Data Pendukung
-
Urine dapat mengandung glukosa (glukosuria).
-
Risiko infeksi saluran kemih meningkat.
8. Sistem
Neurologis
Inspeksi:
-
Pasien mengeluh kesemutan atau kebas pada kaki dan tangan.
-
Pemeriksaan Sensorik
-
Penurunan sensasi nyeri, sentuhan, suhu, atau getaran pada
ekstremitas bawah.
Refleks
-
Refleks tendon dalam dapat menurun pada neuropati diabetik.
9. Sistem
Muskuloskeletal
Inspeksi
-
Kelemahan otot.
-
Penurunan toleransi aktivitas.
Palpasi
-
Kekuatan otot dapat menurun pada pasien dengan kontrol
glukosa yang buruk.
10. Pemeriksaan
Ekstremitas
Inspeksi:
-
Luka kaki diabetik.
-
Kulit kaki kering dan pecah-pecah.
-
Perubahan warna kulit.
-
Rambut pada tungkai berkurang akibat gangguan vaskular.
Palpasi:
-
Akral dingin.
-
Nadi dorsalis pedis dan tibialis posterior dapat melemah.
-
Pengisian kapiler memanjang (>3 detik).
B. Diagnosis Keperawatan (SDKI)
1.
Ketidakstabilan
Glukosa Darah (D.0027)
Gejala dan Tanda Mayor
Subjektif
Hipoglikemia
1. Mengantuk
2. Pusing
Hiperglikemia
1. Lelah atau lesu
Objektif
Hipoglikemia
1. Gangguan koordinasi
2. Kadar glukosa dalam darah/urin
rendah
Gejala dan Tanda Minor
Subjektif
Hipoglikemia
1. Palpitasi
2. Mengeluh lapar
Objektif
Hipoglikemia
1. Gemetar
2. Kesadaran menurun
3. Perilaku aneh
4. Sulit bicara
5. Berkeringat
2. Gangguan
Eliminasi Urin (D.0040)
Gejala dan Tanda Mayor
Subjektif
1. Desakan berkemih (Urgensi)
2. Urin menetes (dribbling)
3. Sering buang air kecil
4. Nokturia
5. Mengompol
6. Enuresis
Objektif
1. Distensi kandung kemih
2. Berkemih tidak tuntas (hesitancy)
3. Volume residu urin meningkat
Gejala dan Tanda Minor
Subjektif (tidak tersedia
Gejala dan Tanda Minor
Subjektif (tidak tersedia
3. Intoleransi
Aktivitas (D.0056)
Gejala dan Tanda Mayor
Subjektif
1. Mengeluh lelah
Objektif
1. Frekuensi jantung meningka >20%
dari kondisi istirahat
Gejala dan Tanda Minor
Subjektif
1. Dispnea saat/setelah aktivitas
2. Merasa tidak nyaman setelah
beraktivitas
3. Merasa lemah
Objektif
1. Tekanan darah berubah >20% dari
kondisi istirahat
2. Gambaran EKG menunjukkan aritmia
saat/setelah aktivitas
3. Gambaran EKG menunjukkan iskemia
4. Sianosis
4. Risiko
Infeksi (D.0143)
1. Penyakit
kronis (mis. diabetes melitus)
2. Malnutrisi
3. Ketidakadekuatan
pertahanan tubuh sekunder:
-
Penurunan hemoglobin
-
Imununosupresi
-
Leukopenia
-
Supresi respon inflamasi
-
Vaksinasi tidak adekuat
5. Defisit
Pengetahuan
Gejala dan Tanda Mayor
Subjektif
(tidak tersedia)
Objektif
1. Berat badan menurun minimal 10% di
bawah rentang ideal
Gejala dan Tanda Minor
Subjektif
1. Cepat kenyang setelah makan
2. Kram/nyeri abdomen
3. Nafsu makan menurun
Objektif
1. Bising usus hiperaktif
2. Otot pengunyah lemah
3. Otot menelan lemah
4.Membran mukosa pucat
5. Sariawan
6. Serum albumin turun
7. Rambut rontok berlebihan
C. Perencanaan/Intervensi
|
No. |
Diagnosa Keperawatan |
Tujuan Keperawatan (SLKI) |
Intervensi Keperawatan (SIKI) |
|
1. |
Ketidakstabilan glukosa darah b.d
Hiperglikemia |
Setelah dilakukan Tindakan
keperawatan 3x24 jam, maka kriteria hasil yang diharapkan: -
Lelah atau lesu menurun -
Kadar glukosa dalam darah membaik -
Pusing menurun |
Manajemen Hiperglikemia (I.03115) Observasi: -
Monitor kadar glukosa darah, jika perlu Monitor tanda dan
gejala hiperglikemia (mis. poliuria, polidipsia, polifagia, kelemahan,
malaise, pandangan kabur, sakit kepala) -
Monitor intake dan output cairan -
Monitor keton urin, kadar analisa gas darah, elektrolit,
tekanan darah ortostatik dan frekuensi nadi Terapeutik: -
Berikan asupan cairan oral -
Konsultasi dengan medis jika tanda dan gejala hiperglikemia
tetap ada atau memburuk Edukasi: -
Anjurkan menghindari olahraga saat kadar glukosa darah
lebih dari 250 mg/dL -
Anjurkan monitor kadar glukosa darah secara mandiri -
Ajarkan pengelolaan diabetes (mis, penggunaan insulin, obat
oral, monitor asupan cairan penggantian karbohidrat, dan bantuan profesional
kesehatan) Kolaborasi: -
Kolaborasi pemberian insulin, jika perlu -
Kolaborasi pemberian cairan IV, jika perlu Kolaborasi pemberian kalium, jika
perlu. |
|
2 |
Gangguan Eliminasi Urin b.d Iritasi
Kandung Kemih |
Setelah dilakukan Tindakan
keperawatan 3x24 jam, maka kriteria hasil yang diharapkan: -
Distensi kandung
kemih -
Berkemih tidak tuntas |
Manajemen Eliminasi Urine (I.04152) Observasi: -
Identifikasi tanda dan gejala retensi atau inkontinensia
urine -
Identifikasi faktor yang menyebabkan retensi atau
inkontinensia urine Monitor eliminasi urine (mis. frekuensi, konsistensi,
aroma, volume, dan warna) Terapeutik: -
Catat waktu-waktu dan haluaran berkemih -
Batasi asupan cairan, jika perlu Edukasi: -
Ajarkan tanda dan gejala infeksi saluran kemih -
Ajarkan mengukur asupan cairan dan haluaran urine -
Ajarkan mengambil spesimen urine midstream -
Ajarkan mengenali tanda berkemih dan waktu yang tepat untuk
berkemih Kolaborasi: -
Kolaborasi pemberian obat supositoria uretra, jika perlu |
|
3 |
Intoleransi Aktivitas b.d Kelemahan
|
Setelah dilakukan Tindakan
keperawatan 3x24 jam, maka kriteria hasil yang diharapkan: -
Ke;uhan lelah menurun -
Kekuatan otot meningkat. -
Tingkat energi meningkat. |
Manajemen Energi (I. 05178) Observasi: -
Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan
kelelahan -
Monitor kelelahan fisik dan emosional -
Monitor pola dan jam tidur -
Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan
aktivitas Terapeutik: -
Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus (mis. cahaya,
suara, kunjungan) -
Lakukan latihan rentang gerak pasif dan/atau aktif -
Berikan aktivitas distraksi yang menenangkan -
Fasilitasi duduk di sisi tempat tidur, jika tidak dapat
berpindah atau berjalan Edukasi: -
Anjurkan tirah baring -
Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap -
Anjurkan menghubungi perawat jika tanda dan gejala
kelelahan tidak berkurang -
Ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan Kolaborasi: -
Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan
asupan makanan |
|
4 |
Risiko Infeksi b.d Penyakit kronis
(mis. Diabetes melitus) |
Setelah dilakukan Tindakan
keperawatan 3x24 jam, maka kriteria hasil yang diharapkan: -
Demam menurun -
Nyeri menurun -
Kadar sel darah putih membaik |
Pencegahan Infeksi (14539) Observasi: -
Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik Terapeutik: -
Batasi jumlah pengunjung -
Berikan perawatan kulit pada area edema -
Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan
lingkungan pasien -
Pertahankan teknik aseptik pada pasien berisiko tinggi Edukasi: -
Jelaskan tanda dan gejala infeksi -
Ajarkan cara mencuci tangan dengan benar -
Ajarkan etika batuk -
Ajarkan cara memeriksa kondisi luka atau luka operasi -
Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi -
Anjurkan meningkatkan asupan cairan Kolaborasi: -
Kolaborasi pemberian imunisasi, jika perlu |
|
5 |
Defisit Pengetahuan b.d
ketidakmampuan mengabsorpsi Nutrien |
Setelah dilakukan Tindakan
keperawatan 3x24 jam, maka kriteria hasil yang diharapkan: -
Perilaku sesuai anjuran meningkat -
Perilaku sesuai dengan pengetahuan meningkat -
Pertanyaan tentang masalah yang dihadapi menurun -
Persepsi yang keliru terhadap masalah |
Edukasi Kesehatan (I.12383) Observasi: -
Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi -
Identifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan dan
menurunkan motivasi perilaku hidup -
bersih dan sehat Terapeutik: -
Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan -
Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan -
Berikan kesempatan untuk bertanya Edukasi: -
Jekaskan faktor risiko yang dapat mempengaruhi kesehatan -
Ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat -
Ajarkan strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan
perilaku hidup bersih dan sehat |
D. Implementasi Keperawatan
|
No. |
Diagnosa Keperawatan |
Implementasi |
|
1 |
Ketidakstabilan glukosa darah b.d
Hiperglikemia |
Manajemen Hiperglikemia (I.03115) Observasi: -
Monitor kadar glukosa darah, jika perlu Monitor tanda dan
gejala hiperglikemia (mis. poliuria, polidipsia, polifagia, kelemahan,
malaise, pandangan kabur, sakit kepala) -
Monitor intake dan output cairan -
Monitor keton urin, kadar analisa gas darah, elektrolit,
tekanan darah ortostatik dan frekuensi nadi Terapeutik: -
Berikan asupan cairan oral -
Konsultasi dengan medis jika tanda dan gejala hiperglikemia
tetap ada atau memburuk Edukasi: -
Anjurkan menghindari olahraga saat kadar glukosa darah
lebih dari 250 mg/dL -
Anjurkan monitor kadar glukosa darah secara mandiri -
Ajarkan pengelolaan diabetes (mis, penggunaan insulin, obat
oral, monitor asupan cairan penggantian karbohidrat, dan bantuan profesional
kesehatan) Kolaborasi: -
Kolaborasi pemberian insulin, jika perlu -
Kolaborasi pemberian cairan IV, jika perlu -
Kolaborasi pemberian kalium, jika perlu. |
|
2 |
Gangguan Eliminasi Urin b.d Iritasi
Kandung Kemih |
Manajemen Eliminasi Urine (I.04152) Observasi: -
Identifikasi tanda dan gejala retensi atau inkontinensia
urine -
Identifikasi faktor yang menyebabkan retensi atau
inkontinensia urine Monitor eliminasi urine (mis. frekuensi, konsistensi,
aroma, volume, dan warna) Terapeutik: -
Catat waktu-waktu dan haluaran berkemih -
Batasi asupan cairan, jika perlu Edukasi: -
Ajarkan tanda dan gejala infeksi saluran kemih -
Ajarkan mengukur asupan cairan dan haluaran urine -
Ajarkan mengambil spesimen urine midstream -
Ajarkan mengenali tanda berkemih dan waktu yang tepat untuk
berkemih Kolaborasi: -
Kolaborasi pemberian obat supositoria uretra, jika perlu |
|
3 |
Intoleransi Aktivitas b.d Kelemahan |
Manajemen Energi (I. 05178) Observasi: -
Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan
kelelahan -
Monitor kelelahan fisik dan emosional -
Monitor pola dan jam tidur -
Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas Terapeutik: -
Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus (mis.
cahaya, suara, kunjungan) -
Lakukan latihan rentang gerak pasif dan/atau aktif -
Berikan aktivitas distraksi yang menenangkan -
Fasilitasi duduk di sisi tempat tidur, jika tidak dapat berpindah
atau berjalan Edukasi: -
Anjurkan tirah baring -
Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap -
Anjurkan menghubungi perawat jika tanda dan gejala
kelelahan tidak berkurang -
Ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi tentang
cara meningkatkan asupan makanan |
|
4 |
Risiko Infeksi b.d Penyakit kronis
(mis. Diabetes melitus) |
Pencegahan Infeksi (14539) Observasi: -
Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik Terapeutik: -
Batasi jumlah pengunjung -
Berikan perawatan kulit pada area edema -
Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan
lingkungan pasien -
Pertahankan teknik aseptik pada pasien berisiko tinggi Edukasi: -
Jelaskan tanda dan gejala infeksi -
Ajarkan cara mencuci tangan dengan benar -
Ajarkan etika batuk -
Ajarkan cara memeriksa kondisi luka atau luka operasi -
Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi -
Anjurkan meningkatkan asupan cairan Kolaborasi: -
Kolaborasi pemberian imunisasi, jika perlu |
|
5 |
Defisit Pengetahuan b.d
ketidakmampuan mengabsorpsi Nutrien |
Edukasi
Kesehatan (I.12383) Observasi: -
Mengidentifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi -
Mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan dan
menurunkan motivasi perilaku hidup bersih dan sehat Terapeutik: -
Menyediakan materi dan media pendidikan kesehatan -
Menjadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan -
Memberikan kesempatan untuk bertanya Edukasi: -
Menjelaskan faktor risiko yang dapat mempengaruhi kesehatan -
Mengajarkan perilaku hidup bersih dan sehat -
Mengajarkan strategi yang dapat digunakan untuk
meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat |
E. Evaluasi
Evaluasi merupakan suatu proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari
tindakan keperawatan pada pasien. Evaluasi dilakukan terus-menerus terhadap
respon pasien pada tindakan keperawatan yang telah dilakukan. Evaluasi proses
atau promoti dilakukan setiap selesai tindakan. Evaluasi dapat dilakukan
menggunakan SOAP sebagai pola pikirnya.
S: Respon subjektif pasien terhadap tindakan keperawatan yang telah
dilaksanakan.
O: Respon objektif pasien terhadap tindakan keperawatan yang telah
dilaksanakan.
A: Analisa ulang data subjektif dan objektif untuk menyimpulkan apakah
masalah teratasi, masalah teratasi sebagian, masalah tidak teratasi atau muncul
masalah baru.
P: Perencanaan atau tindak lanjut berdasarkan hasil analisa pada respon
pasien
DAFTAR PUSTAKA
American Diabetes
Association. (2025). Standards of care in diabetes—2025. Diabetes
Care, 48(Supplement_1), S1–S350. https://doi.org/10.2337/dc25-SINT
International
Diabetes Federation. (2024). IDF diabetes atlas (11th ed.).
International Diabetes Federation. https://diabetesatlas.org
Powers, M. A.,
Bardsley, J., Cypress, M., Funnell, M. M., Harms, D., Hess-Fischl, A., Hooks,
B., Isaacs, D., Mandel, E. D., Maryniuk, M. D., Norton, A., Rinker, J.,
Siminerio, L., Uelmen, S., & Vivian, E. (2020). Diabetes self-management
education and support in adults with type 2 diabetes: A consensus report of the
American Diabetes Association, the Association of Diabetes Care & Education
Specialists, the Academy of Nutrition and Dietetics, the American Academy of
Family Physicians, the American Academy of PAs, the American Association of
Nurse Practitioners, and the American Pharmacists Association. The Diabetes
Educator, 46(4), 350–369. https://doi.org/10.1177/0145721720930959
Davies, M. J.,
Aroda, V. R., Collins, B. S., Gabbay, R. A., Green, J., Maruthur, N. M., Rosas,
S. E., Del Prato, S., Mathieu, C., Mingrone, G., Rossing, P., Tsapas, A., Buse,
J. B., & Kennedy, L. (2022). Management of hyperglycemia in type 2
diabetes, 2022: A consensus report by the American Diabetes Association (ADA)
and the European Association for the Study of Diabetes (EASD). Diabetes
Care, 45(11), 2753–2786. https://doi.org/10.2337/dci22-0034
PERKENI. (2021). Pedoman
pengelolaan dan pencegahan diabetes melitus tipe 2 dewasa di Indonesia 2021.
Pengurus Besar Perkumpulan Endokrinologi Indonesia.
Komentar
Posting Komentar