UNDUH LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN KISTA OVARIUM
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA
PASIEN DENGAN KISTA OVARIUM
1. Definisi
Kista
ovarium adalah pertumbuhan jaringan abnormal berbentuk kantung yang berisi air
pada sekitar ovarium. Kista ovarium memiliki beragam etiologi mulai dari fisiologis
(follicular/luteal cyst) hingga keganasan ovarium dan lebih banyak terjadi pada
wanita dalam usia reproduktif (Suryoadji et al., 2022).
Kista
ovarium merupakan salah satu bentuk tumor ovarium yang dapat bersifat
neoplastik maupun
non-neoplastik, dengan karakteristik yang sangat bervariasi mulai dari ukuran
kecil hingga besar, konsistensi lunak atau padat, serta bersifat jinak maupun
ganas (Syifa & Nasution, 2025).
Kista
ovarium adalah benjolan yang membesar, seperti balon yang berisi cairan yang
tumbuh di indung telur. Kista tersebut disebut juga kista fungsional karena
terbentuk selama siklus menstruasi normal atau setelah telur dilepaskan sewaktu
ovulasi. Kista
ovarium yang
bersifat ganas disebut juga kanker ovarium (Widyarni, 2020).
2. Klasifikasi
Terdapat dua
klasifikasi kista ovarium dan masing-masing memiliki patofisiologinya
tersendiri :
a. Kista
ovarium fungsional
1) Kista
Folikuler
2) Kista
folikuler berawal dari folikel yang gagal pecah saat terjadinya ovulasi
terutama pada fase folikuler. Jika terjadi kelebihan FSH atau kekurangan LH
pada fase puncak LH, ovum dapat tidak dilepas saat proses ovulasi. Kista Lutein
Pada kista korpus luteum, terjadi kegagalan degradasi pada korpus luteum. Kista
lutein memiliki 2 jenis, kista granulosa dan kista teka.
3) Kista
Granulosa
Kista granulosa merupakan perbesaran non-
neoplastik dari ovarium disebabkan oleh luteinisasi dinding sel granulosa pasca
ovulasi. Setelah ovulasi terjadi, akan terbentuk korpus hemorarhikum akibat
terbentuknya vaskularisasi baru dan terkumpulnya darah di tengah. Adanya
resorpsi darah di ruangan ini menyebabkan terbentuknya kista korpus luteum.
Sebaliknya, hingga saat ini belum ditemukan mekanisme terbentuknya kista teka
secara pasti. Umumnya kista teka ditemukan bersamaan dengan PCOS, mola
hidatidosa, dan korio karsinoma.
b. Kista
Neoplasma
Kista neoplasma merupakan akibat adanya
pertumbuhan yang abnormal pada daerah ovarium. Pertumbuhan ini dapat bersifat
ganas ataupun jinak. Beberapa jenis kista jinak diantaranya adalah kostadenoma
serosum, kista dermoid, dan kista musinosum (Suryoadji et al., 2022).
3. Etiologi
Penyebab
terjadinya kista ovarium yaitu terjadinya gangguan pembentukan hormon pada
hipotalamus, hipofisis atau ovarium itu sendiri. Kista ovarium timbul dari
folikel yang tidak berfungsi selama siklus menstruasi. Faktor resiko terjadinya
kista ovarium yaitu riwayat kista ovarium sebelumnya, siklus menstruasi yang
tidak teratur, meningkatnya distribusi lemak tubuh bagian atas, menstruasi
dini, tingkat kesuburan, hipotiroid atau hormon yang tidak seimbang (Puspita et al., 2021).
Faktor Risiko
terjadinya kista ovarium :
a. Pasien
dengan terapi gonadotropin atau penggunaan agen-agen stimulan lain seperti
dalam pengobatan infertilitas dapat menyebabkan sindroma hiperstimulasi.
b. Penggunaan
tamoxifen
c. Kehamilan
d. Hipotiroid
e. Merokok
f.
Ligase tuba
(Suryoadji et al., 2022).
4. Manifestasi
Klinis
Gejala atau
keluhan, dapat tumbuh secara tersembunyi dan tidak terdeteksi selama beberapa
tahun. Nyeri umumnya tidak terjadi, namun jika kista membesar, dapat
menimbulkan ketidaknyamanan, nyeri perut, mual, muntah, dan pembesaran abdomen.
Gejala lain biasanya muncul ketika kista sudah cukup besar dan mulai menekan
organ tubuh lainnya, seperti saluran kemih, usus, saraf, atau pembuluh darah
besar di rongga panggul, yang mengarah pada keluhan seperti kesulitan buang air
kecil dan besar, gangguan pencernaan, serta kesemutan atau pembengkakan pada
kaki. Pada sebagian besar kasus, kista ovarium bersifat jinak dan asimptomatik,
sehingga tidak memerlukan penanganan lebih lanjut. Namun, pada beberapa kasus,
kista ovarium dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti torsi, ruptur, atau
perdarahan yang memerlukan penanganan medis lebih lanjut (Syifa & Nasution, 2025).
5. Patofisiologi
Penyebab
yang pasti dari kista ovarium sampai saat ini belum dapat diketahui, namun
diduga beberapa faktor resiko dari seseorang dapat merangsang dari pertumbuhan
yang abnormal dari ovarium (misalnya; Menapause yang lambat/lebih dari 40
tahun, kehamilan pertama setelah usia lebih dari 30 tahun, perineum yang terus
menerus terpapar talk, dan konsumsi zat-zat carsinogen dalam jangka waktu yang
lama), pertumbuhan yang abnormal ini akan menyebabkan ovarium akan terus
berhiperplasi dan membesar hingga akhirnya akan menekan organ-organ lain dalam
abdomen. Penekanan pada saluran cerna, perkemihan, dan penekanan dinding
diafragma. Selain itu kista akan membentuk tangkai dimana dalam kondisi
tertentu akan terjadi torsi/putaran tangkai. Pada torsi yang mendadak akan
terjadi tarikan pada ligamentum infundibulopelvikum terhadap peritoneum
parietal (hal ini yang menyebabkan nyeri mendadak/akut), selain itu kista akan
nekrosis kemudian terjadi perdarahan dalam kista dan terjadilah nekrosis
haemorogik pada kista. Jika kista tidak mampu untuk bertahan, kista akan pecah
sehingga menyebabkan perdarahan intra abdomen dan akan timbul peradangan
sekunder yan disertai komplikasi-komplikasi yang lain.
Pada
torsi yang terjadi secara perlahan, kista akan melekat pada omentum dan akan
membuat sirkulasi baru. Setelah itu kista akan terlepas dari uterus dan akan
menjadi tumor parasit didalam rongga abdomen yang akan berimplantasi pada
daerah-daerah yang dilaluinya sehingga akan menimbulkan kelainan pada daerah
tersebut (Baya, 2021).
6. Pemeriksaan
Penunjang
Pemeriksaan
penunjang yang biasa dilakukan untuk membantu menegakan diagnosa kista ovarium
:
a. Laparaskopi
: Untuk mengetahui apakah sebuah tumor berasal dari ovarium atau tidak dan
untuk menentukan sifat-sifat tumor tersebut.
b. USG
: Untuk mengetahui letak dan batas kista, apakah berasal dari uterus, ovarium,
atau kandung kencing, apakah tumor kistik atau solid dan dapat membedakan
cairan yang bebas dalam perut dan yang tidak.
c. Foto
Rontgen : Untuk menentukan adanya hidrothorax, pada kista dermoid kadang-kadang
dapat dilihat adanya gigi dalam kista. Untuk melihat hasil IVP dan pemasukan
bubur barium dalam colon yang telah disebutkan di atas.
d. Parasentesis
: Fungsi pada asites untuk menentukan sebab asites.
e. Histopatologi
: Untuk menentukan sifat dari kista tersebut, apakah termasuk tumor jinak atau
ganas.
f.
Pemeriksaan Laboratorium
: biasanya darah untuk mengetahui hemoglobin, leukosit, hematokrit, trombosit,
gula darah sewaktu (GDS), waktu perdarahan, waktu pembekuan, serum glutamik
pirivic transaminase (SGOT), seru glutamik oksaloacetik transamine (SGPT),
alkali fospat, protein total, albumin globulin, urine untuk mengetahui berat
jenis, ada tidaknya sel epitel, hemoglobin, warna urine, kejernihan, eritrosit,
leukosit, dan PP test untuk mengetahui kehamilan
g. Foto
thorax untuk mengetahui ada tidaknya metastase (Baya, 2021).
7. Diagnosis
Kejadian
kista pada ovarium umumnya ditemukan secara tidak sengaja saat pasien sedang
melakukan pemeriksaan rutin atau pemeriksaan ginekologi lainnya. Hal ini
disebabkan oleh kista ovarium yang dapat bersifat asimtomatis terutama saat
ukurannya kecil. Kista ovarium dengan ukuran besar umumnya dapat menyebabkan
gejala seperti terjadi perasaan begah, mudah kenyang, keinginan untuk berkemih,
dan rasa nyeri pada perut. Pada Kista ovarium yang sudah berubah menjadi ganas,
gejalanya dapat lebih beragam akibat kemungkinan terjadinya metastasis, baik di
daerah sekitar abdomen bahkan dapat mencapai payudara. Gejala yang dapat
ditemukan pada kista ovarium ganas berupa malaise, penurunan berat badan, nyeri
pada daerah yang terdampak (nyeri abdomen atau nyeri dada), dan kesulitan untuk
bernapas.
Dikarenakan
kista ovarium yang jinak umumnya bersifat asimtomatis, maka diperlukan
pendekatan klinis yang baik mengenai keluhan yang dimiliki pasien. Pemahaman
mengenai onset, durasi, pemicu, dan karakteristik perlu didalami dengan baik
untuk dapat menentukan derajat keparahan dari kista ovarium. Selain anamnesis
berdasarkan keluhan dan temuan fisik, riwayat keluarga dan faktor risiko juga
penting untuk ditanyakan. Riwayat keluarga dengan keluhan serupa atau riwayat
ditemukannya kista ovarium perlu ditelusuri. Riwayat menstruasi, ada atau
tidaknya rasa nyeri saat haid, peningkatan volume darah haid, serta pemendekan
siklus haid juga perlu ditanyakan pada kasus suspek kista ovarium. Riwayat
obstetri juga perlu dieksplorasi mengingat adanya hubungan kehamilan dengan
kista ovarium. Riwayat operasi serta penggunaan kontrasepsi juga perlu untuk
ditanyakan.
Apabila
ditemukan kecurigaan adanya kista ovarium atau ada temuan massa, perlu
dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik. Dalam hal ini, pemeriksaan fisik yang
dapat dilakukan adalah TTV, pemeriksaan abdomen, dan pemeriksaan dalam. Jika
kista sudah membesar, dapat dirasakan adanya masa atau benjolan pada
pemeriksaan abdomen. Deskripsi masa yang perlu diberikan adalah lokasi, ukuran,
batas, kepadatan, mobilitas, dan ada atau tidaknya nyeri. Pada pemeriksaan
dalam dilakukan pemeriksaan inspeksi, inspekulo, VT atau RT untuk menentukan
massa pada adneksa (Suryoadji et al., 2022).
8. Komplikasi
Perdarahan ke
dalam ovarium, biasanya terjadi sedikit-sedikit, menyebabkan pembesaran kista,
dan akan menimbulkan gejala klinik yang minimal. Jika perdarahan terjadi
mendadak dan banyak, maka akan terjadi distensi cepat dari kista dan
menimbulkan nyeri perut yang mendadak. Terjadinya torsi, pada kista yang
bertangkai dengan diameter 5 cm atau lebih biasanya akan terjadi torsi (putaran
tangkai). Kondisi yang mempermudah torsi adalah kehamilan, karena uterus yang
membesar akan mengubah letak kista, dan karena sesudah persalinan dapat terjadi
perubahan mendadak dalam rongga perut. Pada pemeriksaan, vena lebih mudah
tertekan, terjadi bendungan darah dalam kista, terjadi pembesaran kista akibat
perdarahan di dalamnya. Jika putaran terus terjadi, akan terjadi nekrosis hemoragik
dalam kista. Robekan dinding kista, jika tidak dilakukan tindakan akan terjadi
robekan dinding kista dengan perdarahan intra abdominal atau peradangan
sekunder. Infeksi pada kista, terjadi jika dekat kista ada sumber kuman
patogen. Seperti appendisitis, divertikulitis atau salpingitis acut. Kista
dermoid cenderung mengalami perasadangan disusul dengan pernanahan. Perubahan
Keganasan, dapat terjadi pada beberapa kista jinak, seperti Kistadenoma Ovarii
Serosum, Kistadenoma Ovarii Musinosum Dan Kista Dermoid. Adanya asites
(Sindrome Meigs) dalam hal ini mencurigakan adanya anak sebar (metastase)
memperkuat diagnosa keganasan setelah dilakukan pemeriksaan mikroskopik (Baya, 2021).
9. Penatalaksanaan
Kista ovarium
memiliki beragam tatalaksana, mulai dari observasi ketat sampai dengan
melakukan pembedaan untuk mengangkat kista seperti dengan laparoskopi atau
laparotomi. Penentuan terapi didasarkan pada ukuran kista, tingkat keganasan,
dan gejala yang ditimbulkan.
a. Metode
observasi dapat dilakukan pada kista yang ditemukan pada perempuan prepubertas
dan wanita yang berada dalam masa reproduksi ataupun pada kista yang
asimptomatik. Pada kelompok tersebut kebanyakan kista ovarium yang diderita
merupakan kista fungsional yang akan terregresi spontan dalam waktu 6 bulan.
Sebaliknya, wanita postmenopause memiliki risiko yang lebih tinggi untuk
berkembang menjadi keganasan. Prevalensi kista ganas lebih tinggi daripada
kista jinak pada wanita postmenopause. Akan tetapi, terdapat kriteria seorang
wanita postmenopause dengan kista ovarium simpel yang hanya memerlukan
observasi ketat saja seperti:
1) Kista
unilokular berdinding tipis yang didapatkan dari hasil USG
2) Kista
dengan diameter <5 cm
3) Tidak
ada pembesaran kista pada periode observasi
4) Kadar
CA125 serum yang normal. Kista yang berdiameter sampai dengan 10 cm masih dapat
dilakukan observasi, jika lebih besar maka dapat dipertimbangkan untuk
pembedahan.
b. Pembedahan
Pembedahan dapat dilakukan apabila kista
berukuran cukup besar sehingga menimbulkan gejala ataupun pada kecurigaan
keganasan.
1) Cystectomy,
hanya dilakukan pengangkatan kista tanpa mengangkat seluruh ovarium. Dengan
metode ini fertilitas tetap dapat dipertahankan. Metode ini umumnya dilakukan
untuk lesi yang berukuran kecil dan pasien masih dalam usia reproduktif dan
masih ingin untuk hamil.
2) Oophorectomy,
yaitu metode dengan mengangkat seluruh ovarium karena pada kista yang berukuran
lebih besar lebih rendah untuk terjadi ruptur pada saat dilakukan enukleasi.
Selain itu pada kista yang lebih besar juga akan semakin sulit untuk dilakukan
rekonstruksi anatomi ovarium serta adanya risiko keganasan yang lebih tinggi.
Pada wanita postmenopause, oophorectomy lebih dianjurkan karena risiko
keganasan kelompok tersebut lebih tinggi dan juga keuntungannya lebih besar
dibandingkan dengan risikonya.
3) Laparascopy
Pada kista yang berukuran kecil dan jinak
dapat dilakukan cystectomy dan oophorectomy secara laparoskopik
4) Laparatomi
Jika kista sudah berukuran besar dapat
diangkat secara laparotomi.
c. Terapi
dengan menggunakan pil KB oral kombinasi. Meski demikian, belum ditemukan studi
yang cukup kuat untuk mendukung efektivitas terapi menggunakan pil KB oral
kombinasi ini. (Suryoadji et al., 2022).
10. Pathway
11. Asuhan
Keperawatan Berdarkan Teori
a. Pengkajian
Pengkajian merupakan pengumpulan data yang
sengaja dilakukan secara sistemik untuk menentukan keadaan kesehatan klien
sekarang dan masa lalu, dan untuk mengevaluasi pola koping klien sekarang dan
masa lalu. Pengkajian adalah dasar pengidentifikasian kebutuhan, respon dan
masalah individu.
1) Aktivitas/istirahat
Gejala : Sensitivitas meningkat, kelelahan
berat
Tanda : Lemah dan lesu
2) Sirkulasi
Gejala : Pusing
Tanda : Penurunan tekanan darah
3) Eliminasi
Gejala : Mengalami kencing yang banyak
4) Integritas
ego
Gejala : mengalami stres yang berat
emosional maupun fisik
5) Makanan
dan cairan
Gejala : Nafsu makan menurun
Tanda : Klien tampak kurus
6) Nyeri
dan Kenyamanan
Gejala : Nyeri abdomen bawah
7) Keamanan
Gejala : Reaksi tranfusi, riwayat hepatic,
defisiensi imun
Tanda : Munculnya proses infeksi, dan
demam
8) Seksualitas
Gejala : Penurunan libido dan sterilisasi
Pemeriksaan
diagnostic
1) Laparaskopi
Untuk menentukan apakah sebuah tumor
berasal dari ovarium atau tidak dan untuk menentukan sifat-sifat tumor tersebut
2) EKG
Penemuan akan sesuatu yang tidak normal,
membutuhkan prioritas perhatian untuk memberikan ansietas
3) USG
Untuk mengetahui letak dan batas kista,
apakah berasal dari uterus, ovarium, atau kandung kemih, apakah tumor kistik
atau solid dan dapat membedakan cairan yang bebas dalam perut atau tidak.
4) Foto
Rontgen
Untuk menentukan hidrothorak, pada kista
dermoid kadang- kadang dapat dilihat adanya gigi dalam kista
5) Hispatologi
Untuk menentukan sifat dari kista
tersebut, apakah termasuk tumor ganas atau jinak
b. Diagnosa
Dignosa keperawatan yang muncul pada
pasien kista ovarium :
Pre operasi
1. Nyeri
Akut b.d agen pencedera fisiologis
2. Ansietas
b.d kurang terpapar informasi
Post
operasi
1. Nyeri
Akut b.d agen pencedera fisik
2. Konstipasi
b.d Penurunan
motilitas gastrointestinal
3. Risiko
infeksi d.d Ketidakadekuatan pertahanan
tubuh primer
c. Intervensi
Berdasarkan
(PPNI, 2017a, 2018, 2017b)
perencanaan keperawatan sebagai berikut :
|
DIAGNOSA SDKI |
LUARAN SLKI |
INTERVENSI SIKI |
|
Nyeri Akut b.d agen pencedera fisiologis (D.0077) |
Setelah dilakukan Intervensi keperawatan selama 3 x
24 jam maka Tingkat Nyeri (L.08066)
Menurun dengan kriteria hasil: 1.
Keluhan
nyeri menurun 2.
Meringis
menurun 3.
Gelisah
menurun 4.
Sikap
protektif menurun |
Manajemen Nyeri (I.08238) Observasi 1. Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi,
frekuensi, kualitas, intensitas nyeri 2. Identifikasi skala nyeri 3. Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan
nyeri 4. Monitor efek samping penggunaan analgetik Terapeutik 5. Berikan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi rasa
nyeri 6. Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri Edukasi 7. Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri 8. Jelaskan strategi meredakan nyeri 9. Ajarkan teknik non farmakologis untuk mengurangi rasa nyeri Kolaborasi 10. Kolaborasi pemberian analgetik jika diperlukan |
|
Ansietas b.d kurang terpapar informasi (D.0080) |
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24
jam, maka Tingkat Ansietas (L.09093) menurun dengan kriteria hasil: 1.
Perilaku
gelisah menurun 2.
Perilaku
tegang menurun |
Reduksi Ansietas (I.09314) Observasi 1.
Identifikasi
saat tingkat ansietas berubah (mis: kondisi, waktu, stresor) 2.
Monitor
tanda-tanda ansietas (verbal dan nonverbal) Terapeutik 3.
Ciptakan
suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan 4.
Temani
pasien untuk mengurangi kecemasan, jika memungkinkan Edukasi 5.
Jelaskan
prosedur, termasuk sensasi yang mungkin dialami 6.
Informasikan
secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis 7.
Anjurkan
keluarga untuk tetap Bersama pasien, jika perlu 8.
Latih
kegiatan pengalihan untuk mengurangi ketegangan 9.
Latih
Teknik relaksasi Kolaborasi 10. Kolaborasi pemberian obat antiansietas |
|
Konstipasi b.d Penurunan motilitas gastrointestinal
(D.0149) |
Setelah
dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam, maka Eliminasi Fekal (L.04033) Membaik dengan
kriteria hasil: 1. Keluhan defekasi lama dan sulit menurun 2. Mengejan saat defekasi menurun 3. Distensi abdomen menurun 4. Frekuensi defekasi membaik 5. Peristaltik usus membaik |
Manajemen Eliminasi Fekal (I.04151) Observasi 1.
Identifikasi
masalah usus dan penggunaan obat pencahar 2.
Identifikasi
pengobatan yang berefek pada kondisi gastrointestinal 3.
Monitor
buang air besar (mis: warna, frekuensi, konsistensi, volume) 4.
Monitor
tanda dan gejala diare, konstipasi, atau impaksi Terapeutik 5.
Berikan air
hangat setelah makan 6.
Jadwalkan
waktu defekasi Bersama pasien 7.
Sediakan
makanan tinggi serat Edukasi 8.
Jelaskan
jenis makanan yang membantu meningkatkan keteraturan peristaltik usus 9.
Anjurkan
mencatat warna, frekuensi, konsistensi, volume feses 10. Anjurkan meningkatkan aktivitas fisik, sesuai
toleransi 11. Anjurkan pengurangan asupan makanan yang
meningkatkan pembentukan gas 12. Anjurkan mengkonsumsi makanan yang mengandung tinggi
serat 13. Anjurkan meningkatkan asupan cairan, jika tidak ada
kontraindikasi Kolaborasi 14. Kolaborasi pemberian obat supositoria anal, jika
perlu |
|
Risiko infeksi d.d Ketidakadekuatan pertahanan tubuh
primer (D.0142) |
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24
jam, maka Tingkat Infeksi (L.14137)
Menurun dengan kriteria hasil: 1.
Kebersihan
area sekitar luka meningkat 2.
Kemerahan
menurun 3.
Nyeri
menurun |
Perawatan Luka (L.14564) Observasi 1.
Monitor
karakteristik luka (mis: drainase, warna, ukuran , bau) 2.
Monitor
tanda-tanda infeksi Terapeutik 3.
Lepaskan
balutan dan plester secara perlahan 4.
Bersihkan
dengan cairan NaCl atau pembersih nontoksik, sesuai kebutuhan 5.
Bersihkan
jaringan nekrotik 6.
Berikan
salep yang sesuai ke kulit/lesi, jika perlu 7.
Pasang
balutan sesuai jenis luka 8.
Pertahankan
Teknik steril saat melakukan perawatan luka 9.
Ganti
balutan sesuai jumlah eksudat dan drainase 10. Berikan diet dengan kalori 30 – 35 kkal/kgBB/hari
dan protein 1,25 – 1,5 g/kgBB/hari 11. Berikan suplemen vitamin dan mineral (mis: vitamin
A, vitamin C, Zinc, asam amino), sesuai indikasi Edukasi 12. Jelaskan tanda dan gejala infeksi 13. Anjurkan mengkonsumsi makanan tinggi kalori dan
protein Kolaborasi 14. Kolaborasi prosedur debridement (mis: enzimatik,
biologis, mekanis, autolitik), jika perlu Kolaborasi pemberian antibiotik, jika perlu |
d. Implementasi
Implementasi keperawatan
adalah tahap pelaksanaan dalam proses asuhan keperawatan yang berupa serangkaian
tindakan nyata, baik langsung maupun tidak langsung, yang dilakukan perawat
untuk membantu klien mengatasi masalah kesehatan menuju kondisi yang lebih baik
sesuai tujuan yang telah direncanakan. Kegiatan ini mencakup observasi,
edukasi, tindakan terapeutik, dan kolaborasi, serta dilakukan berdasarkan
diagnosis keperawatan dengan memperhatikan prioritas masalah, kebutuhan klien,
dan faktor-faktor yang mempengaruhi status kesehatan. Implementasi menuntut
keterampilan kognitif, interpersonal, dan psikomotor dari perawat agar
intervensi yang diberikan efektif dan optimal (Ekaputri et al., 2024).
e. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap
akhir dalam proses keperawatan yang bertujuan menilai sejauh mana tujuan asuhan
keperawatan telah tercapai. Proses ini dilakukan secara sistematis melalui
pengumpulan dan analisis data, serta penarikan kesimpulan terhadap respons
pasien terhadap intervensi yang diberikan. Evaluasi memerlukan keterampilan
perawat dalam menghubungkan tindakan keperawatan dengan kriteria hasil, serta
mempertimbangkan perubahan kebutuhan pasien secara berkelanjutan. Hasil
evaluasi harus didokumentasikan secara akurat Perumusan evaluasi ini meliputi 4
komponen yang dikenal dengan istilah SOAP :
1) S
(subjektif) : Data subjektif dari hasil keluhan klien, kecuali pada klien yang
afasia
2) O
(Objektif) : Data objektif dari hasil observasi yang dilakukan oleh perawat.
3) A
(Analisis) : Masalah dan diagnosis keperawatan klien yang dianalisis atau
dikaji dari data subjektif dan data objektif.
4) P
(Perencanaan) : Perencanaan kembali tentang pengembangan tindakan keperawatan,
baik yang sekarang maupun yang akan datang dengan tujuan memperbaiki keadaan
kesehatan klien
(Ekaputri et al., 2024).
DAFTAR
PUSTAKA
Baya,
E. (2021). Asuhan Keperawatan Pada Ny. H Dengan Pre Dan Post Laparatomi
Indikasi Kista Ovariun Di Ruang Kamboja Rumah Sakit Umum Daerah Tarakan.
Ekaputri,
M., Susanto, G., Paryono, Kusumaningtiyas, D. P. H., Aisyah, Farisi, M. F. Al,
Naryati, Nur, S., & Kosim, M. Y. (2024). Proses Keperawatan : Konsep ,
Implementasi, Evaluasi (Vol. 01, pp. 1–7). Tahta Media Group.
PPNI.
(2017a). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Dewan Pengurus Pusat PPNI.
PPNI.
(2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Dewan Pengurus Pusat
Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
PPNI,
T. P. S. D. (2017b). Standar Luaran Keperawatan Indonesia. In Persatuan Perawat
Nasional Indonesia.
Puspita,
A., Munir, M. A., & Faris, A. (2021). Case report : treatment of ovarian
cysts with total hysterectomy and bilateral salfingooferectomy. Jurnal
Medical Profession (MedPro), 3(2), 149–153.
Suryoadji,
K. A., Ridwan, A. S., Fauzi, A., Kusuma, F., Kedoteran, S., Kedokteran, F.,
Indonesia, U., Ginekologi, O., Kedokteran, F., & Indonesia, U. (2022). Diagnosis
Dan Tatalaksana Pada Kista Ovarium : A Literature Review. Jurnal Khazanah,
14(1), 38–48.
Syifa,
M., & Nasution, A. (2025). Neoplasma Ovarium Kistik. Medical Laboratory
Journal, 3(2).
Widyarni,
A. (2020). Faktor Resiko Kejadian Kista Ovarium Di Poliklinik Kandungan dan
Kebidanan Rumah Sakit Islam Banjarmasin. Jurnal Kebidanan Dan Keperawatan,
11(1), 28–36. https://doi.org/10.33859/dksm.v11i1.569
Komentar
Posting Komentar