LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN ANC DENGAN DIAGNOSA MEDIS KPD

 

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN ANC (ANTE NATAL CARE) DENGAN DIAGNOSA MEDIS KPD
(KETUBAN PECAH DINI)

 

 


I.     DEFINISI

Antenatal Care (ANC)

Merupakan pelayanan kesehatan komprehensif bagi ibu hamil guna memantau perkembangan kehamilan, deteksi dini komplikasi, serta persiapan fisik dan psikologis persalinan. Berdasarkan model terbaru WHO, direkomendasikan minimal 8 kali kunjungan (revisi Focused Antenatal Care) untuk meningkatkan efektivitas deteksi risiko maternal dan perinatal (Duko et al., 2023).

Ketuban Pecah Dini (KPD)

Dikenal sebagai Premature Rupture of Membranes (PROM), yaitu pecahnya selaput ketuban sebelum awitan persalinan tanpa memandang usia gestasi. Jika terjadi sebelum usia kehamilan 37 minggu, kondisi ini disebut Preterm Premature Rupture of Membranes (PPROM) yang berisiko tinggi terhadap morbiditas serta mortalitas perinatal (Mwaniki et al., 2022).

Korelasi Klinis

Dalam asuhan antenatal, KPD dikategorikan sebagai komplikasi obstetri kritis yang memerlukan intervensi segera. Identifikasi faktor risiko selama kunjungan ANC sangat esensial, mengingat KPD berkontribusi pada 30–40% persalinan prematur di dunia dan berdampak signifikan terhadap angka kematian neonatal (Mwaniki et al., 2022).

II.     ETIOLOGI

Etiologi KPD bersifat multifaktorial, melibatkan interaksi antara faktor infeksi, struktural, biokimiawi, dan mekanik pada membran amniokorion. Penjelasan rinci mengenai faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:

1.      Infeksi dan Inflamasi: Merupakan penyebab paling dominan, terutama pada kasus PPROM. Mikroorganisme patogen (seperti GBS dan Ureaplasma) menghasilkan protease dan fosfolipase yang mendegradasi kolagen membran. Proses ini memicu pelepasan sitokin proinflamasi (IL-1β, IL-6, TNF-α) dan matrix metalloproteinase (MMP-8 dan MMP-9) yang secara sinergis melemahkan struktur membran hingga terjadi ruptur spontan (Medina & Hill, 2023).

2.      Defisiensi Struktural dan Biokimiawi: Penurunan kekuatan membran dipengaruhi oleh gangguan sintesis kolagen akibat defisiensi mikronutrien (vitamin C, zinc, tembaga), percepatan apoptosis sel amnion melalui jalur Fas/FasL, serta ketidakseimbangan rasio MMP terhadap tissue inhibitor of metalloproteinase (TIMP) yang memicu degradasi matriks ekstraseluler secara berlebihan (Medina & Hill, 2023).

3.      Faktor Mekanik: Peningkatan tekanan intrauterin pada kondisi polihidramnion, kehamilan ganda, atau inkompetensi serviks menimbulkan tegangan mekanik (mechanical stress). Beban berlebih ini menginduksi ekspresi MMP lokal pada titik terlemah membran, sehingga memicu degradasi fokal yang menyebabkan pecahnya ketuban (Medina & Hill, 2023).

III.     FAKTOR RISIKO

Identifikasi faktor risiko selama kunjungan ANC merupakan langkah strategis dalam pencegahan komplikasi. Faktor risiko KPD meliputi aspek maternal, obstetrik, serta sosio-demografis yang saling berinteraksi (Agrawal & Agrawal, 2022):

1.      Faktor Maternal:

a.       Riwayat KPD: Faktor risiko terkuat dengan angka rekurensi 13,5–32% akibat persistensi defek struktural membran.

b.      Infeksi Genitourinaria: Infeksi saluran kemih (ISK) dan bacterial vaginosis memicu ascending infection yang melemahkan membran.

c.       Status Nutrisi dan Gaya Hidup: Defisiensi vitamin C, zinc, dan tembaga menurunkan kualitas kolagen. Kebiasaan merokok meningkatkan aktivitas MMP dan menghambat sintesis kolagen (Agrawal & Agrawal, 2022).

2.      Faktor Obstetrik: Meliputi kondisi yang meningkatkan tekanan intrauterin seperti polihidramnion dan kehamilan multipel (distensi rahim), inkompetensi serviks (prolaps membran), perdarahan antepartum (aktivasi trombin), serta trauma iatrogenik akibat prosedur invasif seperti amniosentesis (Agrawal & Agrawal, 2022).

3.      Faktor Sosio-Demografis dan Lingkungan: Status ekonomi rendah (akses nutrisi dan kesehatan buruk), usia maternal ekstrem (<18 atau >35 tahun), dan kepatuhan ANC yang rendah berkontribusi signifikan terhadap keterlambatan deteksi risiko yang dapat dimodifikasi (Agrawal & Agrawal, 2022).

Implikasi Klinis pada ANC

Tenaga keperawatan harus melakukan skrining komprehensif meliputi anamnesis riwayat obstetri, pemeriksaan kultur vagina/urin, penilaian status nutrisi, dan edukasi gaya hidup sehat untuk meminimalkan risiko KPD.

IV.     TANDA GEJALA

Mengenali manifestasi klinis KPD secara akurat sangat penting untuk mencegah komplikasi maternal dan neonatal. Gejala bervariasi dari keluarnya cairan secara masif hingga rembesan halus yang intermiten (Hackney et al., 2022).

1.      Manifestasi Klinis Utama:

a.       Keluarnya Cairan Pervaginam: Gejala kardinal berupa cairan encer, berwarna jernih hingga kekuningan (kehijauan jika ada mekonium), dan berbau khas manis. Volume bervariasi dan cenderung meningkat saat terjadi pergerakan janin atau perubahan posisi.

b.      Perubahan Fisik Uterus: Penurunan Tinggi Fundus Uteri (TFU) yang tidak proporsional dengan usia kehamilan akibat berkurangnya volume amnion. Selain itu, bagian tubuh janin akan teraba lebih jelas dan keras saat palpasi Leopold karena hilangnya bantalan cairan (Hackney et al., 2022).

2.      Manifestasi Klinis Sekunder:

a.       Tanda Infeksi (Korioamnionitis): Meliputi demam maternal (≥38°C), takikardia pada ibu (> 100 x/menit) dan janin (> 160 x/menit), nyeri tekan uterus, serta cairan berbau busuk.

b.      Komplikasi Akut: Munculnya kontraksi uterus ireguler sebagai respons pelepasan prostaglandin. Pada kasus berat, dapat terjadi prolaps tali pusat yang ditandai dengan deselerasi jantung janin mendadak pada CTG (Hackney et al., 2022).

3.      Diferensiasi Klinis: KPD harus dibedakan dari inkontinensia urin (bau khas urin), sekret vagina normal (lebih kental dan asam), serta bloody show (didominasi lendir darah). Konfirmasi dilakukan melalui uji pH (cairan amnion bersifat basa, pH > 7,1) dan uji pakis (ferning test) (Hackney et al., 2022).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


V.     POHON MASALAH


VI.     PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Pemeriksaan penunjang berperan krusial dalam mengonfirmasi diagnosis, terutama pada kasus rembesan minimal, serta menentukan strategi penatalaksanaan (ACOG, 2022).

1.      Pemeriksaan Diagnostik Konfirmasi:

a.       Uji Nitrazine (pH): Memanfaatkan perbedaan pH; cairan amnion bersifat basa (pH 7,1–7,3) sehingga kertas lakmus berubah menjadi biru. Akurasi dapat terganggu oleh darah, semen, atau infeksi vagina.

b.      Uji Pakis (Ferning Test): Pengamatan kristalisasi NaCl dan protein cairan amnion di bawah mikroskop yang membentuk pola daun pakis. Memiliki spesifisitas tinggi (95–98%).

c.       Pemeriksaan AmniSure® (PAMG-1): Biomarker dengan akurasi tertinggi (98–100%) untuk mendeteksi protein desidua. Sangat efektif untuk kasus meragukan karena tidak dipengaruhi kontaminasi urin atau darah (ACOG, 2022).

2.      Pemeriksaan Ultrasonografi (USG):

a.       Evaluasi Cairan: Menilai Amniotic Fluid Index (AFI) dan Single Deepest Pocket (SDP). Nilai AFI < 5 cm mengonfirmasi oligohidramnion berat.

b.      Kesejahteraan Janin: Penilaian Biophysical Profile (BPP) dan profil biofisik modifikasi untuk menentukan urgensi terminasi kehamilan serta estimasi berat janin (ACOG, 2022).

3.      Pemeriksaan Laboratorium:

a.       Darah Lengkap: Leukosit > 15.000/mm³ dan neutrofilia menandakan infeksi aktif atau korioamnionitis.

b.      Penanda Inflamasi: Pemeriksaan C-Reactive Protein (CRP) dan Prokalsitonin (PCT) sebagai biomarker sepsis yang spesifik, serta kultur swab vagina untuk panduan terapi antibiotik.

4.      Kardiotokografi (CTG/NST): Pemeriksaan wajib untuk memantau janin secara real-time. Tanda bahaya yang harus diwaspadai meliputi takikardia janin (> 160 dpm) sebagai indikator korioamnionitis, serta deselerasi variabel yang menandakan kompresi tali pusat akibat hilangnya cairan amnion (ACOG, 2022).

VII.     PENATALAKSANAAN MEDIS

Prinsip utama penatalaksanaan KPD adalah menyeimbangkan antara pencapaian maturitas janin dan pencegahan infeksi yang mengancam jiwa. Keputusan klinis sangat bergantung pada usia gestasi dan kondisi klinis ibu serta janin (ACOG, 2022).

1.      KPD pada Kehamilan Aterm (≥ 37 Minggu) dan Late Preterm (34–36 Minggu):

Direkomendasikan penatalaksanaan aktif berupa induksi persalinan segera untuk meminimalkan risiko korioamnionitis. Langkah-langkah meliputi penilaian Bishop Score, pemberian oksitosin atau misoprostol untuk pematangan serviks, serta profilaksis antibiotik Group B Streptococcus (GBS) (ACOG, 2022).

2.      PPROM pada Kehamilan 24–33 Minggu:

a.       Menggunakan pendekatan ekspektatif (konservatif) untuk memperpanjang usia kehamilan. Intervensi wajib meliputi:

b.      Kortikosteroid Antenatal: Pemberian Betametason atau Deksametason untuk menurunkan risiko Respiratory Distress Syndrome (RDS) dan perdarahan intraventrikular.

c.       Antibiotik Profilaksis: Pemberian Ampisilin dan Amoksisilin (hindari Amoksisilin-Klavulanat karena risiko NEC) untuk memperpanjang periode laten.

d.      Neuroproteksi: Penggunaan Magnesium Sulfat (MgSO4) pada usia < 32 minggu untuk menurunkan risiko cerebral palsy.

e.       Tokolitik: Hanya digunakan jangka pendek (48 jam) untuk memfasilitasi pemberian kortikosteroid atau transfer pasien (ACOG, 2022).

3.      PPROM pada Kehamilan < 24 Minggu (Periviable):

Penatalaksanaan bersifat individual melalui shared decision-making. Pilihan meliputi tatalaksana ekspektatif dengan pemantauan ketat atau terminasi kehamilan mengingat prognosis yang buruk (ACOG, 2022).

4.      Penanganan Komplikasi Spesifik:

a.       Korioamnionitis: Indikasi terminasi kehamilan segera tanpa memandang usia gestasi disertai antibiotik spektrum luas (Ampisilin-Sulbaktam atau Gentamisin).

b.      Prolaps Tali Pusat: Kegawatdaruratan yang memerlukan posisi knee-chest dan tindakan Sectio Caesarea (SC) segera (ACOG, 2022).

VIII.     KOMPLIKASI

Komplikasi KPD memiliki spektrum luas yang dipengaruhi oleh usia gestasi, durasi periode laten, dan ada tidaknya infeksi. Pengenalan dini potensi risiko ini sangat krusial dalam pengambilan keputusan klinis (Menon et al., 2022).

1.      Komplikasi Maternal:

a.       Korioamnionitis: Merupakan infeksi intra-amniotik yang risikonya meningkat drastis seiring bertambahnya durasi pecah ketuban ($>24$ jam risiko mencapai 40–60%). Jika tidak tertangani, kondisi ini memicu sepsis dan syok septik.

b.      Masalah Pascapersalinan: Risiko endometritis yang ditandai nyeri uterus dan lokhia purulenta, serta risiko solusio plasenta akibat dekompresi uterus mendadak yang memicu perdarahan masif (Menon et al., 2022).

c.       Persalinan Iatrogenik: Peningkatan angka persalinan prematur akibat tindakan induksi untuk mencegah infeksi sistemik.

2.      Komplikasi Janin dan Neonatal:

a.       Prematuritas dan Sepsis: Risiko utama berupa Respiratory Distress Syndrome (RDS) akibat imaturitas paru dan sepsis neonatal early-onset melalui aspirasi cairan yang terinfeksi.

b.      Dampak Oligohidramnion Berat: Pada PPROM dini ($<25$ minggu), kekurangan cairan amnion menyebabkan hipoplasia paru permanen dan deformitas muskuloskeletal (Potter's facies, kontraktur sendi, dan clubfoot) akibat kompresi mekanik.

c.       Masalah Tali Pusat: Hilangnya bantalan cairan meningkatkan risiko kompresi dan prolaps tali pusat yang menyebabkan asfiksia hingga kematian janin (Menon et al., 2022).

Semakin muda usia gestasi saat KPD terjadi, semakin berat tingkat keparahannya, mulai dari hipoplasia paru pada usia $<24$ minggu hingga risiko korioamnionitis dan prolaps tali pusat pada kehamilan aterm (Menon et al., 2022).

IX.     PENGKAJIAN KEPERAWATAN

Pengkajian keperawatan pada KPD merupakan proses sistematis untuk mengidentifikasi masalah aktual dan potensial menggunakan pendekatan pola kesehatan fungsional (Lowe et al., 2022).

1.      Pengkajian Primer (ABCDE):

Dilakukan dalam 2–5 menit pertama untuk mendeteksi kegawatan. Fokus pada patensi jalan napas, frekuensi napas (>24 x/mnt), sirkulasi (nadi >100 x/mnt, TD <90/60 mmHg), tingkat kesadaran, serta paparan suhu tubuh (≥ 38°C sebagai tanda infeksi).

2.      Anamnesis Komprehensif:

a.       PQRST Cairan: Menilai onset, warna (jernih/mekonium), bau (khas manis/busuk), volume, dan durasi pecahnya ketuban.

b.      Riwayat Obstetri: Fokus pada riwayat KPD sebelumnya (risiko rekurensi hingga 32%), persalinan prematur, inkompetensi serviks, serta komplikasi kehamilan saat ini seperti polihidramnion atau kehamilan ganda (Lowe et al., 2022).

3.      Pengkajian Fisik dan Diagnostik:

a.       Abdomen (Leopold): Penurunan TFU yang tidak sesuai usia gestasi menandakan oligohidramnion. Bagian janin akan teraba lebih jelas, dan perlu dikaji adanya nyeri tekan uterus (uterine tenderness) sebagai tanda khas korioamnionitis.

b.      Pemeriksaan Genitalia: Menggunakan spekulum steril untuk melihat pooling cairan di forniks posterior. Hindari pemeriksaan dalam (VT) guna mencegah infeksi asendens.

c.       Denyut Jantung Janin (DJJ): Pemantauan ketat melalui CTG/Doppler untuk mendeteksi takikardia janin (>160 dpm) atau deselerasi variabel akibat kompresi tali pusat (Lowe et al., 2022).

4.      Pengkajian Psikososial dan Fungsional:

Mencakup penilaian tingkat ansietas menggunakan instrumen tervalidasi, mekanisme koping keluarga, serta status nutrisi (asupan vitamin C dan zinc). Penting juga mengkaji pola eliminasi untuk membedakan rembesan ketuban dengan inkontinensia urin (Lowe et al., 2022).

X.     DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.      (D.0003) Gangguan Pertukaran Gas b.d. perubahan kapasitas pembawa oksigen darah janin d.d. ibu melaporkan gerakan janin terasa berkurang atau tidak seaktif biasanya, hasil Kardiotokografi (CTG) yang abnormal seperti adanya deselerasi variabel yang berulang, takikardia janin (>160 dpm), atau profil biofisik (BPP) yang rendah, serta hasil USG yang menunjukkan Amniotic Fluid Index (AFI) < 5 cm.

2.      (D.0142) Risiko Infeksi d.d. faktor risiko ketuban pecah sebelum waktunya (KPD)

3.      (D.0136) Risiko Cedera Janin d.d. faktor risiko paparan terhadap infeksi bakteri (korioamnionitis) dan malpresentasi janin.


XI.     INTERVENSI KEPERAWATAN

Masalah Keperawatan

Tujuan Keperawatan

Intervensi Keperawatan

(D.0003) Gangguan Pertukaran

L.01003 Pertukaran Gas

Setelah melakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam maka diharapkan pertukaran gas meningkat dengan kriteria hasil:

1.       PCO2 membaik.

2.       PO2 membaik.

3.       pH arteri membaik.

4.       Dispnea menurun

5.       Takikardia (Janin/Maternal) menurun.

Pemantauan Respirasi (I.01014)

Observasi

1.       Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas.

Rasional: Menilai kecukupan ventilasi maternal yang secara langsung mempengaruhi saturasi oksigen yang dialirkan ke janin melalui plasenta.

2.       Auskultasi bunyi napas.

Rasional: Mendeteksi adanya hambatan mekanik atau akumulasi cairan di paru yang dapat memperburuk hipoksia sistemik.

3.       Monitor saturasi oksigen.

Rasional: Memberikan gambaran non-invasif mengenai keadekuatan oksigenasi darah sebelum dilakukan pengambilan sampel darah arteri.

4.       Monitor nilai analisa gas darah.

Rasional: Indikator objektif paling akurat (PCO2, PO2, pH) untuk menilai derajat gangguan pertukaran gas dan efektivitas terapi oksigen.

Terapeutik

5.       Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien.

Rasional: Pasien KPD dengan kompresi tali pusat membutuhkan pemantauan lebih ketat untuk mencegah gawat janin yang progresif.

6.       Dokumentasikan hasil pemantauan.

Rasional: Menyediakan data kronologis untuk evaluasi perkembangan kondisi dan sebagai landasan pengambilan keputusan medis (terminasi atau konservatif).

 Edukasi

7.       Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan.

Rasional: Menurunkan ansietas maternal; ibu yang tenang memiliki pola napas yang lebih teratur, yang menguntungkan oksigenasi janin.

8.       Informasikan hasil pemantauan, jika perlu.

Rasional: Melibatkan ibu dalam asuhan keperawatan dan memberikan kepastian mengenai status kesejahteraan janinnya.

 (D.0142) Risiko Infeksi

L.14137 Tingkat Infeksi

Setelah melakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam maka diharapkan tingkat infeksi menurun dengan kriteria hasil:

1.       Demam menurun

2.       Kadar sel darah putih membaik

3.       Nyeri menurun

4.       Kemerahan menurun

5.       Bengkak menurun.

Pencegahan Infeksi (I.14539)

Observasi

1.       Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik.

Rasional: Deteksi dini suhu $\ge 38^{\circ}C$, takikardia, atau cairan amnion berbau sangat krusial untuk mencegah sepsis maternal.

Terapeutik

2.       Batasi jumlah pengunjung.

Rasional: Mengurangi paparan mikroorganisme patogen dari lingkungan luar ke area perawatan ibu.

3.       Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungan pasien.

Rasional: Mencegah infeksi nosokomial dan transmisi silang bakteri melalui tangan tenaga kesehatan atau keluarga.

4.       Pertahankan teknik aseptik pada pasien berisiko tinggi.

Rasional: Mengingat barier ketuban sudah hilang, penggunaan alat steril (seperti spekulum) sangat vital untuk mencegah masuknya bakteri ke rongga amnion.

Edukasi

5.       Jelaskan tanda dan gejala infeksi.

Rasional: Meningkatkan kewaspadaan pasien agar segera melapor jika merasa menggigil atau ketuban berubah warna/bau.

6.       Ajarkan cara mencuci tangan dengan benar.

Rasional: Memberdayakan pasien dan keluarga dalam menjaga higienitas personal selama masa tirah baring.

7.       Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi.

Rasional: Nutrisi yang adekuat (terutama protein dan vitamin C) mendukung fungsi sistem imun untuk melawan kolonisasi bakteri.

8.       Anjurkan meningkatkan asupan cairan.

Rasional: Membantu hidrasi seluler dan mempertahankan sirkulasi yang baik untuk distribusi sel imun.

 (D.0136) Risiko Cedera Janin

L.14136 Tingkat Cedera

Setelah melakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam maka diharapkan tingkat cedera menurun dengan kriteria hasil:

1.       Kejadian cedera menurun

Pemantauan denyut jantung janin (I.02056)

Observasi

1.       Identifikasi status obstetrik (gestasi, paritas, dan kondisi ketuban).

Rasional: Menentukan tingkat maturitas janin dan risiko komplikasi yang mungkin timbul berdasarkan usia kehamilan saat terjadi KPD.

2.       Periksa denyut jantung janin (DJJ) selama 1 menit.

Rasional: Mendeteksi secara dini tanda-tanda gawat janin (takikardia atau bradikardia) yang disebabkan oleh hipoksia atau kompresi tali pusat.

3.       Monitor tanda vital ibu.

Rasional: Kondisi hemodinamik ibu (seperti demam atau hipotensi) sangat mempengaruhi perfusi oksigen dan nutrisi ke janin melalui plasenta.

4.       Identifikasi adanya penggunaan obat, diet, dan merokok.

Rasional: Merokok dan nutrisi buruk meningkatkan stres oksidatif pada membran, yang dapat memperburuk kondisi janin dan integritas sisa selaput ketuban.

Terapeutik

5.       Atur posisi pasien (miring kiri).

Rasional: Meningkatkan aliran darah balik vena cava inferior sehingga mengoptimalkan sirkulasi uteroplasenta dan mencegah kompresi tali pusat.

6.       Lakukan manuver Leopold untuk menentukan posisi janin.

Rasional: Mengidentifikasi adanya malpresentasi (seperti sungsang atau lintang) yang sering terjadi pada kondisi oligohidramnion dan berisiko menyebabkan cedera saat persalinan.

Edukasi

7.       Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan.

Rasional: Mengurangi kecemasan ibu agar lebih kooperatif dalam prosedur pemantauan kesejahteraan janin yang rutin.

8.       Informasikan hasil pemantauan.

Rasional: Memberikan rasa aman kepada ibu mengenai status janinnya dan melibatkan ibu dalam deteksi dini jika terjadi penurunan gerakan janin.


XII.     EVALUASI KEPERAWATAN

Evaluasi keperawatan pada kasus KPD bersifat dinamis dan berkelanjutan untuk menilai pencapaian kriteria hasil yang telah ditetapkan. Proses ini menggunakan format SOAP (Subjective, Objective, Analysis, Planning) dengan merujuk pada Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) (Lowe et al., 2022).

A.    Evaluasi Per Diagnosis Keperawatan (Format SOAP)

1.      Risiko Infeksi:

a.       Kriteria Hasil: Suhu tubuh normal (36,2–37,5°C), leukosit dan CRP dalam batas normal, cairan amnion jernih/tidak berbau, serta DJJ stabil (110–160 dpm).

b.      Analisis: Teratasi jika indikator infeksi negatif. Jika terdapat suhu ≥ 38°C atau nyeri tekan uterus, segera lakukan kolaborasi medis (Lowe et al., 2022).

2.      Gangguan Pertukaran Gas Janin & Risiko Cedera:

a.       Kriteria Hasil: NST reaktif, variabilitas DJJ baik (6–25 dpm), gerakan janin aktif ≥10 kali/2 jam), dan tidak terjadi prolaps tali pusat.

b.      Analisis: Jika ditemukan deselerasi variabel atau gerakan janin menurun, lakukan reposisi miring kiri dan lapor DPJP untuk evaluasi terminasi kehamilan (Lowe et al., 2022).

3.      Ansietas Maternal & Nyeri Akut:

a.       Kriteria Hasil: Ekspresi wajah rileks, nadi < 100 x/menit, skor nyeri ≤ 3/10, dan ibu mampu mendemonstrasikan teknik relaksasi napas dalam.

b.      Analisis: Teratasi jika ibu kooperatif dan mampu beristirahat dengan nyaman tanpa agitasi (Lowe et al., 2022).

4.      Defisit Pengetahuan:

a.       Kriteria Hasil: Ibu mampu menjelaskan kembali kondisi KPD, menyebutkan tanda bahaya secara benar (≥80\%), dan patuh terhadap protokol tirah baring.

b.      Analisis: Berikan penguatan positif (reinforcement) dan leaflet edukasi jika pemahaman sudah adekuat (Lowe et al., 2022).

B.     Evaluasi Kolaboratif dan Eskalasi

Perawat wajib melakukan eskalasi segera apabila ditemukan kondisi kritis seperti suhu tubuh ≥ 38°C, gawat janin (takikardia/bradikardia), prolaps tali pusat, atau perdarahan masif yang mengindikasikan solusio plasenta.

C.     Indikator Keberhasilan Akhir

Asuhan keperawatan dinyatakan berhasil jika ibu tidak mengalami sepsis, bayi lahir dengan skor Apgar ≥7, ansietas terkontrol, serta keluarga mampu melakukan pemantauan mandiri pasca-rawat (Lowe et al., 2022).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

XIII.     REFERENSI

American College of Obstetricians and Gynecologists. (2022). Prelabor rupture of membranes: ACOG Practice Bulletin No. 217 (Reaffirmed 2022). Obstetrics & Gynecology, 139(3), e13–e32. https://doi.org/10.1097/AOG.0000000000004700

Agrawal, V., & Agrawal, S. (2022). Risk factors and outcomes of premature rupture of membranes in a tertiary care hospital: A prospective observational study. Journal of Obstetrics and Gynaecology Research, 48(4), 832–840. https://doi.org/10.1111/jog.15164

Duko, B., Woldemichael, B., & Degefa, N. (2023). Antenatal care utilization and its associated factors among pregnant women in Ethiopia: A systematic review and meta-analysis. PLOS ONE, 18(3), e0282834. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0282834

Hackney, D. N., Padula, A. M., & Rao, R. (2022). Clinical presentation and diagnosis of premature rupture of membranes. Obstetrics & Gynecology Clinics of North America, 49(3), 401–416. https://doi.org/10.1016/j.ogc.2022.02.002

Lowe, N. K., Corwin, E. J., & Pauls, R. N. (2022). Nursing assessment and management of women with premature rupture of membranes. Journal of Obstetric, Gynecologic & Neonatal Nursing, 51(4), 389–402. https://doi.org/10.1016/j.jogn.2022.04.003

Medina, T. M., & Hill, D. A. (2023). Preterm premature rupture of membranes: Diagnosis and management. American Family Physician, 107(6), 561–568. https://www.aafp.org/pubs/afp/issues/2023/0600/premature-rupture-membranes.html

Menon, R., Richardson, L. S., & Lappas, M. (2022). Fetal membrane architecture, aging and inflammation in pregnancy and parturition. Placenta, 123, 45–57. https://doi.org/10.1016/j.placenta.2022.03.117

Mwaniki, M. K., Kinuthia, J., Moodley, J., & Temmerman, M. (2022). Premature rupture of membranes: Definitions, pathophysiology, and management. International Journal of Gynecology & Obstetrics, 159(Suppl. 1), 7–14. https://doi.org/10.1002/ijgo.14386

 

 

 

 

 

 

 DOWNLOAD FILE NYA DISINI

 


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOWNLOAD CONTOH SURAT LAMARAN DAPUR MBG

LAPORAN PENDAHULUAN DIARE

Download Undangan Tonjokan: Solusi Praktis dan Efisien untuk Pernikahan (Format MS. Word)