DOWNLOAD LAPORAN PENDAHULUAN DENGAN DIANGNOSA MEDIS DIABETES MELITUS GESTIASONAL (DMG)
LAPORAN
PENDAHULUAN
DENGAN
DIANGNOSA MEDIS DIABETES MELITUS GESTIASONAL (DMG)
BAB
I PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Diabetes Melitus Gestasional (DMG)
adalah suatu gangguan toleransi karbohidrat yang terjadi atau diketahui pertama
kali pada saat kehamilan sedang berlangsung (PERKENI, 2002). Keadaan ini biasa
terjadi pada saat 24 minggu usia kehamilan dan kadar glukosa darah akan kembali
normal setelah melahirkan (Depkes RI, 2008).
Diabetes Gestasional merupakan suatu penyakit
yang menempati nomer 9 dalam kasus kematian ibu hamil di dunia. Menurut WHO
(World Health Organisation) 1 dari 7 kelahiran bayi diduga menderita penyakit
diabetes gestasional. Wanita dengan penyakit diabetes akan sulit untuk hamil
dan kemungkinan akan mengalami kehamilan yang berisiko. Hal itu disampaikan
Lily Sriwahyuni Sulistyowati, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan.
Perubahan hormonal dan metabolisme selama
kehamilan menyebabkan kehamilan tersebut bersifat diabetogenik, yang mana DMG
cenderung menjadi lebih berat selama kehamilan dan dapat mempermudah terjadinya
berbagai komplikasi. Menurut David., et al (2010), bahwa ibu-ibu DMG kira-kira
1,7% dapat menyebabkan morilitas perinatal, 4,3 % melahirkan anak secara
operasi, 7,3 % melahirkan anak yang berat badan lahirnya lebih dari 4,5 kg dan
23,5 % bisa menimbulkan kasus distosia bahu pada proses persalinan.
Berdasarkan penelitian Osgood., et al.,(2011),
DMG menjadi masalah kesehatan masyarakat sebab penyakit ini berdampak langsung
pada kesehatan ibu dan janin. Dampak yang ditimbulkan oleh ibu penderita DMG
adalah ibu beresiko tinggi terjadi penambahan berat badan berlebih, terjadinya
preeklamsia, eklamsia, bedah sesar, dan komplikasi kardiovaskuler hingga
kematian ibu. Setelah persalinan terjadi, maka penderita beresiko berlanjut
terkena diabetes tipe 2 atau terjadi DMG yang berulang pada masa yang akan
datang.
1.2 Tujuan
Penulisan
1. Mahasiswa mampu memahami dan
menjelaskan konsep dasar penyakit Diabetes Gestasional, yang terdiri dari:
definisi, factor penyebab dan resiko, tanda gejala, hasil pemeriksaan
penunjang, pengobatan secara farmakologi dan non farmakologi
2. Mahasiswa mampu dan menjelaskan asuhan
keperawatan pada klien yang mengalami penyakit Diabetes Gestasional dengan
pendekatan proses keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnose, intervensi,
implementasi, dan evaluasi.
1.3.
Tujuan Umum
Memberikan gambaran umum tentang penyakit Diabetes Gestasional pada ibu
hamil dan menjelaskan konsep
asuhan keperawatan pada klien yang mengalami Diabetes Gestasional.
BAB
II
KONSEP DASAR DIABETES MELITUS GESTASIONAL
2.1 Definisi
Diabetes
melitus gestasional adalah gangguan dari glukosa yang dipicu oleh kehamilan,
dan hilang setelah melahirkan. Diabetes melitus gestasional merupakan gangguan
kronik yang ditandai dengan hiperglikemia yang disertai abnormalitas utama pada
metabolisme karbohidrat, lemak dan protein. Intoleransi karbohidrat ini terjadi
atau diketahu pertama kali saat kehamilan berlangsung (morgan dan Hamilton,
2009). WHO (2013) mendefinisikan diabetes melitus gestasional sebagai derajat
apapun intoleransi glukosa dengan onset atau pengakuan pertama selama
kehamilan.Kehamilan sendiri merupakan stres bagi metabolisme karbohidrat ibu.
Pada kehamilan terjadi peningkatan produksi hormonhormon antagonis insulin,
antara lain: progesteron, estrogen, human placenta lactogen, dan kortisol.
Peningkatan hormon-hormon tersebut menyebabkan terjadinya resistensi insulin
dan peningkatan kadar glukosa Dan Diabetes melitus gestasional (DMG) adalah
suatu kondisi intoleransi karbohidrat, baik berupa toleransi glukosa yang
terganggu maupun diabetes melitus, yang muncul atau baru diketahui untuk
pertama kalinya saat seseorang sedang hamil. Diabetes melitus yang berkaitan
dengan kehamilan atau yang disebut Diabetes Melitus Gestasional (DMG),
merupakan keadaan kehamilan yang masih tergolong normal namun disertai dengan
peningkatan resistensi insulin—di mana tubuh ibu hamil tidak lagi mampu
mempertahankan kadar gula darah dalam batas normal atau euglikemia. Pada
kelompok ini, kondisi diabetes atau gangguan toleransi glukosa tersebut hanya
bersifat sementara dan muncul khusus selama masa kehamilan; gangguan ini
biasanya terdeteksi pada trimester kedua atau ketiga masa kehamilan (Rahayu
& Rodiani, 2016).
Di Indonesia, angka kejadian DMG secara umum
berkisar antara 1,9% hingga 3,6% dari seluruh kehamilan. Angka kejadian ini
sangat erat kaitannya dengan faktor ras dan etnis (Oroh, 2015).
Berdasarkan data dari tahun 2007 yang dirilis
oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, tercatat hampir 24 juta
penduduk Amerika Serikat menderita diabetes, atau sekitar 10% dari total
populasi mereka. Diperkirakan jumlah ini akan terus bertambah, sehingga saat
ini hampir 60 juta warga Amerika Serikat juga sudah mengalami tahap
pra-diabetes, menurut kriteria yang ditetapkan oleh Asosiasi Diabetes Amerika
(ADA, 2010). Angka kejadian DMG ternyata lebih tinggi pada kelompok wanita
kulit berwarna, seperti ras Negro, Hispanik, penduduk asli Amerika, maupun ras
Asia, jika dibandingkan dengan angka kejadian pada wanita berkulit putih (Oroh,
Arlia, & dkk., 2013).
Data yang dicatat oleh Organisasi Kesehatan
Dunia (WHO) menunjukkan bahwa jumlah penderita diabetes di seluruh dunia saat
ini sudah mencapai lebih dari 230 juta jiwa. Angka ini diprediksi akan terus
meningkat hingga menyentuh angka 350 juta jiwa pada tahun 2020 (Setiawan,
2014).
Di
Indonesia sendiri, berdasarkan kriteria diagnostik dari O’Sullivan-Mahan,
diketahui angka prevalensi Diabetes Melitus pada masa kehamilan berada di
kisaran 1,9% hingga 3,6% dari seluruh kehamilan yang terjadi. Khusus pada ibu
hamil yang memiliki riwayat keluarga dengan diabetes melitus, persentase
kejadiannya meningkat menjadi 5,1% (Setiawan, 2014).
2.2 Klasifikasi
Orang
sering berpikir hanya ada satu jenis penyakit diabetes. Dengan demikian, mereka
mengira bahwa asal ada satu obat tertentu yang bisa menurunkan gula, cukup
mengonsumsi obat itu dan menganjurkan kepada semua orang. Padahal, glukosa
dalam darah sesungguhnya dapat naik melalui beberapa cara. Maka, Anda harus
lebih dulu mengenal macam – macam penyakit diabetes. Menurut Tandra (2009),
terdapat empat tipe diabetes melitus, yaitu diabetes tipe 1, diabetes tipe 2,
diabetes gestasional dan diabetes sekunder yang semuanya akan dijelaskan di
bawah ini :
a. Diabetes
Tipe 1 Diabetes tipe 1 adalah diabetes dimana pankreas sebagai pabrik insulin
tidak dapat atau kurang mampu membuat insulin, akibatnya insulin tubuh kurang
atau tidak ada sama sekali, gula menjadi menumpuk dalam peredaran darah karena
tidak dapat diangkut ke dalam sel. Penyakit ini biasanya timbul pada usia anak
atau remaja, dapat pada pria maupun wanita, biasanya gejala timbul mendadak dan
bisa berat sampai koma apabila tidak segera ditolong dengan suntikan insulin.
Dari semua penderita diabetes, 5 – 10 persen adalah tipe 1. Di Indonesia,
statistik mengenai diabetes tipe 1 belum ada, diperkirakan hanya sekitar 2 – 3
persen, mungkin karena sebagian tidak terdiagnosa atau tidak diketahui, lalu si
anak sudah terkena komplikasi dan terlanjur meninggal (Tandra, 2009).
b. Diabetes
Tipe 2 Diabetes tipe 2 atau diabetes melirus tidak tergantung insulin
disebabkan karena kegagalan relatif sel beta dan resistensi insulin. Resistensi
insulin adalah turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa
oleh jaringan perifer dan untuk menghambat produksi glukosa oleh hati. Sel beta
tidak mampu mengimbangi resistensi insulin ini sepenuhnya, artinya terjadi
defisiensi insulin, kemampuan ini terlihat dari berkurangnya sekresi insulin
pada rangsangan glukosa maupun pada rangsangan glukosa bersama bahan perangsang
sekresi insulin lain, berarti sel beta pankreas mengalami desentisiasi terhadap
glukosa (Ryadi, 2011).
c. Diabetes
Pada Kehamilan / Diabetes Gestasional Diabetes yang terjadi pada saat hami
disebut diabetes tipe gestasi atau gestational diabetes. Keadaan ini terjadi
karena pembentukan beberapa 11 hormon pada wanita hamil yang menyebabkan
resistensi insulin (Tandra, 2009).
d. d.
Diabetes Sekunder Ada pula diabetes yang tidak termasuk kelompok di atas, yaitu
diabetes yang terjadi sekunder atau akibat dari penyakit lain, yang mengganggu
produksi insulin, atau mempengaruhi kerjanya insulin. Contohnya adalah
peradangan pankreas (pankreatitis), gangguan kelenjar adrenal atau hipofisis,
penggunaan hormon kortikosteroid, pemakaian beberapa obat anti hipertensi atau
anti kolesterol, malnutrisi atau infeksi.
2.3
Etiologi
Penyebab
dari terjadinya diabetese melitus gestasional (DMG) atau diabetes kehamilan
pada ibu hamil belum diketahui secara pasti, diabetes melitus gestasional dapat
terjadi karena kurangnya jumlahnya insulin yang diproduksi oleh tubuh yang
diperlukan untuk membawa glukosa melewati membran sel (Mitayani,2009) serta ada
beberapa faktor – faktor resiko yang mendukung terjadinya diabetes melitus
gestasional adalah usia kehamilan diatas 35 tahun, obesitas, riwayat keluarga
dengan DM, memiliki riwayat dibetes gestasional sebelumnya, melahirkan bayi
makrosomia (>4000gram), diet dan pola makan yang tidak teratur.
2.4
Manifestasi Klinis
Secara
umum, tanda dan gejala Diabetes Melitus Gestasional (DMG) sering kali tidak
khas, ringan, atau bahkan tidak terasa sama sekali, sehingga sulit dibedakan
dengan keluhan fisik biasa saat kehamilan normal. Banyak kasus baru terdeteksi
setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium rutin. Namun, gejala yang mungkin
muncul meliputi:
1. Gejala Umum
1. Poliuria: Sering buang air kecil dan
jumlahnya banyak, terjadi karena kadar gula darah tinggi sehingga ginjal
berusaha membuang kelebihan glukosa lewat urin.
2. Polidipsia:
Rasa haus yang berlebihan dan terus-menerus, akibat banyaknya cairan yang
terbuang lewat urin sehingga tubuh mengalami dehidrasi.
3. Polifagia:
Nafsu makan sangat besar dan cepat merasa lapar, meskipun sudah makan cukup
banyak. Hal ini terjadi karena glukosa tidak bisa masuk ke dalam sel tubuh
untuk dijadikan energi.
4. Berat
badan menurun: Berat badan justru turun drastis meskipun makan banyak, karena
tubuh memecah cadangan lemak dan otot sebagai sumber energi pengganti.
5. Cepat
lelah dan lemah: Tubuh terasa lesu, tidak bertenaga, dan mudah mengantuk karena
sel-sel tubuh kekurangan energi.
6. Pandangan
kabur: Penglihatan menjadi buram atau kabur, disebabkan perubahan kadar cairan
di dalam lensa mata akibat kadar gula darah yang naik-turun.
7. Luka
sulit sembuh: Jika ada luka kecil di kulit, penyembuhannya berjalan lambat dan berisiko
tinggi terinfeksi.
8. Sering
merasa pusing: Akibat ketidakseimbangan kadar gula darah atau dehidrasi.
2. Gejala Khusus pada Ibu Hamil
1. Risiko infeksi berulang:
-
Infeksi saluran kemih: Sering kencing terasa perih, nyeri, atau panas.
-
Infeksi jamur vagina: Keluhan gatal hebat di area kewanitaan, kemerahan,
bengkak, dan keluar cairan berwarna putih kekuningan serta berbau kurang sedap.
Hal ini disebabkan sisa gula yang terbuang lewat cairan tubuh menjadi media
subur bagi pertumbuhan jamur dan bakteri.
-
Infeksi kulit atau gusi yang mudah muncul dan berulang.
2. Terasa
gatal-gatal: Kulit terasa gatal terutama di area lipatan, akibat kadar gula
tinggi dan pertumbuhan jamur.
3. Bengkak
pada kaki atau wajah: Bisa muncul bersamaan atau sebagai tanda dini terjadinya
preeklamsia yang sering menyertai ibu hamil dengan DMG.
4. Kelebihan
cairan tubuh: Perut terasa lebih besar dari ukuran usia kehamilan normal akibat
jumlah air ketuban yang berlebih (hidramnion).
3. Tanda Melalui Pemeriksaan
1. Glikosuria: Ditemukannya kadar gula di
dalam urin saat diperiksa laboratorium.
2. Hiperglikemia:
Kadar gula darah puasa > 95 mg/dL, gula darah 1 jam setelah minum larutan
gula > 180 mg/dL, atau 2 jam setelahnya > 155 mg/dL.
4. Dampak Terhadap Janin yang Dapat Dirasakan
Ibu
1. Gerakan janin sangat aktif atau sangat
berkurang: Bisa menjadi tanda bahwa janin merespons kadar gula darah ibu yang
tidak stabil.
2. Perut
terasa sangat besar: Ukuran perut melebihi ukuran standar usia kehamilan karena
janin tumbuh terlalu besar (makrosomia > 4 kg) atau air ketuban berlebih.
2.5
Patofisiologi
Proses
terjadinya diabetes melitus gestasional pada ibu hamil dipengaruhi oleh
beberapa faktor yang didukung oleh hormon-hormon yang aktif dan tinggi selama
masa kehamilan. Pada kehamilan terjadi peningkatan produksi hormon-hormon
antagonis insulin, antara lain: progesteron, estrogen, human placenta lactogen,
dan kortisol. Peningkatan hormon-hormon tersebut menyebabkan terjadinya
resistensi insulin dan peningkatan kadar glukosa darah. Metabolisme karbohidrat
selama
kehamilan
karena insulin jumlah sangat besar atau banyak masih dibutuhkan sesuai dengan
perkembangan kehamilan. Adanya hormon HPL dan progesteron dapat menyebabkan
jarngan pada ibu menjdi resisten pada insulin sehingga mengahsilkan enzim yang
disebut insulinase yang dihasilkan oleh placenta dan mempercepat terjadinya
insulin. Bila pankreas tidak dapat memproduksi insulin secara adekuat, maka
akan timbul suatu kondisi yang disebut hiperglikemia hal ini yng dapat
menyebabkan kondisi kompensasi seperti meningkatkan rasa haus (polidipsi),
mengekskresikan cairan dan mudah lapar (polifagia) (Mitayani,2009.
selain
itu, adanya dukungan oleh faktor-faktor resiko yang menyebabkan terjadinya
diabetes melitus gestasional. Selama awal kehamilan, toleransi glukosa normal
atau sedikit meningkat dan sensitivitas perifer (otot) terhadap insulin serta
produksi glukosa basal hepatik normal akibat peningkatan hormon estrogen dan
progesteron maternal pada awal kehamilan yang meningkatkan hiperplasia sel β
pankreas, sehingga meningkatkan pelepasan insulin. Hal ini menjelaskan
peningkatan cepat insulin di awal kehamilan sebagai respons terhadap resistensi
insulin. Pada trimester kedua dan ketiga, peningkatan hubungan fetomaternal
akan mengurangi sensitivitas insulin maternal sehingga akan menstimulasi
sel-sel ibu untuk menggunakan energi selain glukosa seperti asam lemak bebas,
glukosa maternal selanjutnya akan ditransfer ke janin. Dalam kondisi normal
kadar glukosa darah fetus 10-20% lebih rendah daripada ibu, sehingga transpor
glukosa dari plasenta ke darah janin dapat terjadi melalui proses difusi
sederhana ataupun terfasilitasi. Selama kehamilan, resistensi insulin tubuh
meningkat tiga kali lipat dibandingkan keadaan tidak hamil. Pada kehamilan,
penurunan sensitivitas insulin ditandai dengan defek post-reseptor yang
menurunkan kemampuan insulin untuk memobilisasi SLC2A4 (GLUT 4) dari dalam sel
ke permukaan sel. Hal ini mungkin disebabkan oleh peningkatan hormon yang
berkaitan dengan kehamilan. Meskipun kehamilan dikaitkan dengan peningkatan
massa sel β dan peningkatan kadar insulin, beberapa wanita tidak dapat
meningkatkan produksi insulinnya relatif terhadap peningkatan resistensi
insulin, sehingga menjadi hiperglikemik dan menderita DMG (Kurniawan,2016).
2.6
Pemeriksaan Penunjang
a.
Pemeriksaan Laboratorium 1. One-step 75 gram TTGO. Strategi One-Step Tes
toleransi glukosa oral dengan 75 gram glukosa. Pengukuran glukosa plasma
dilakukan saat pasien dalam keadaan puasa, 1 jam, dan 2 jam setelah tes
toleransi glukosa. Tes dilakukan pada usia kehamilan 24-28 minggu pada wanita
hamil yang sebelumnya belum pernah terdiagnosis diabetes melitus. Tes toleransi
glukosa oral harus dilakukan pada pagi hari setelah puasa semalaman setidaknya
selama 8 jam. One-step strategy digunakan untuk mengantisipasi meningkatnya
insidens DMG (dari 5-6% menuju 15-20%) karena hanya diperlukan satu hasil
abnormal untuk diagnosis. Kekurangan strategi ini adalah kemungkinan over
diagnosis sehingga meningkatkan biaya medikasi.
2.
Two-step approach menggunakan 50 gram glukosa (tanpa puasa) diikuti dengan tes
toleransi glukosa oral (TTGO) menggunakan 100 gram glukosa jika skrining
awalmemberikan hasil positif. Two-steps strategy lebih umum digunakan di Amerika
Serikat. Hal ini karena kurangnya percobaan klinis yang mendukung keefektifan
dan keuntungan one-step strategy dan potensi konsekuensi negatif akibat risiko
over sensitif berupa peningkatan intervensi ataupun biaya medis selama
kehamilan. Two-steps strategy juga mudah karena hanya diberi pembebanan 50 gram
glukosa tanpa harus puasa pada tahap awal skrining. a. Step 1: Lakukan tes
pembebanan glukosa 50 gram (tanpa puasa), kadar glukosa plasma diukur 1 jam
setelah pembebanan glukosa, dilakukan pada wanita dengan usia kehamilan 24-28
minggu yang belum pernah terdiagnosis diabetes melitus. Jika kadar glukosa
plasma 1 jam setelah pembebanan glukosa >140 mg/dL* (7,8 mmol/L),
dilanjutkan dengan tes toleransi glukosa oral dengan 100 gram glukosa. b. Step
2: Tes toleransi glukosa oral dengan 100 gram glukosa dilakukan pada pasien
dalam keadaan puasa. (Kurniawan, 2016)
2.7 Diagnosis
Diabetes Melitus Gestasional (DMG) adalah
kondisi di mana kadar gula darah menjadi tinggi atau tidak terkontrol, yang
baru pertama kali terdeteksi atau diketahui saat seorang wanita sedang hamil.
Sebelum hamil, kondisi gula darah ibu dianggap normal dan tidak memiliki
riwayat diabetes sebelumnya.
ini
bisa terjadi meskipun ibu hamil sehat-sehat saja, dan bisa diatasi dengan
pengaturan pola makan saja atau mungkin memerlukan bantuan obat/insulin,
tergantung tingkat keparahannya.
Selama kehamilan, plasenta (ari-ari bayi)
memproduksi berbagai hormon yang berfungsi menjaga kehamilan. Namun,
hormon-hormon ini memiliki efek samping: membuat tubuh ibu menjadi kurang
sensitif terhadap kerja hormon insulin. Kondisi ini disebut resistensi insulin.
Biasanya, insulin berfungsi menurunkan gula
darah dengan cara memasukkan gula ke dalam sel tubuh untuk dijadikan energi.
Karena efek hormon kehamilan, kerja insulin jadi terhambat, sehingga gula
menumpuk di dalam darah dan kadarnya menjadi naik
Kriteria Diagnosis DMG
Untuk mengetahui apakah ibu hamil terkena DMG
atau tidak, dokter akan melakukan pemeriksaan khusus bernama Tes Toleransi
Glukosa Oral (TTGO) dengan beban 75 gram. Tes ini biasanya dilakukan di usia
kehamilan 24–28 minggu.
Cara kerjanya: Ibu akan diminta minum larutan
gula sebanyak 75 gram, lalu darahnya diambil di beberapa waktu berbeda untuk
diukur kadar gulanya.
Diagnosis DMG dipastikan jika salah satu atau
lebih dari nilai berikut tercapai atau dilampaui:
1. Glukosa Darah Puasa ≥ 92 mg/dL
- Penjelasan: Diukur saat perut kosong
(biasanya puasa 8–10 jam). Jika hasilnya sama atau lebih tinggi dari 92, itu
sudah menjadi tanda adanya gangguan gula darah.
2. Glukosa Darah 1 Jam Setelah Minum
Gula ≥ 180 mg/dL
- Penjelasan: Satu jam setelah meminum
larutan gula, kadar gula darah seharusnya sudah mulai turun atau tidak terlalu
tinggi. Jika hasilnya 180 atau lebih, artinya tubuh kesulitan memproses gula
tersebut dengan cepat.
3. Glukosa Darah 2 Jam Setelah Minum
Gula ≥ 153 mg/dL
- Penjelasan: Dua jam setelah minum
larutan gula, kadar gula seharusnya sudah turun mendekati normal. Jika masih
153 atau lebih tinggi, berarti kemampuan tubuh mengolah gula terganggu.
2.8 Komplikasi
Diabetes
melitus gestasional dapat menimbulkan berbagai komplikasi baik bagi ibu maupun
janin, yang risikonya akan semakin meningkat jika kadar gula darah tidak
terkontrol sepanjang kehamilan. Namun, sebagian besar komplikasi ini sangat
dapat dicegah atau diminimalisir jika kondisi gula darah ibu terjaga stabil dan
dipantau serta ditangani dengan tepat oleh tenaga kesehatan. Berikut adalah
rincian lengkap komplikasi yang mungkin terjadi:
A. Komplikasi pada Ibu Hamil
1. Preeklamsia dan Hipertensi dalam
Kehamilan
Ibu
dengan DMG memiliki risiko 2–4 kali lebih besar mengalami tekanan darah tinggi
(≥140/90 mmHg) disertai pembengkakan dan protein dalam urin. Kondisi ini
merusak pembuluh darah, mengganggu aliran darah ke plasenta, dan berisiko
menyebabkan kejang (eklamsia), kerusakan ginjal, hingga gangguan fungsi organ
tubuh lain.
2. Hidramnion
(Kelebihan Air Ketuban)
Kadar
gula darah yang tinggi menembus ke dalam cairan ketuban, membuat fetus sering
buang air kecil di dalam rahim sehingga jumlah cairan berlebih (lebih dari 20
cm). Akibatnya, rahim menjadi terlalu meregang, menimbulkan nyeri perut,
meningkatkan risiko ketuban pecah dini, persalinan prematur, hingga kesulitan
rahim berkontraksi setelah melahirkan yang menyebabkan perdarahan.
3. Infeksi
Berulang dan Berat
Kadar
glukosa yang tinggi dalam darah dan urin menjadi media yang sangat baik bagi
pertumbuhan bakteri dan jamur. Ibu rentan terkena:
-
Infeksi Saluran Kemih: Sering kencing, nyeri, panas, yang bisa menyebar hingga
ke ginjal.
-
Infeksi Jamur Vagina: Gatal hebat, keputihan, dan bau tidak sedap yang sulit
sembuh.
-
Infeksi kulit, gusi, atau luka yang lama kering.
4. Ketoasidosis
/ Ketonuria
Terjadi
ketika tubuh kekurangan insulin sehingga lemak dipecah sebagai sumber energi,
menghasilkan zat sisa berbahaya bernama keton. Kondisi ini menyebabkan mual,
muntah, napas bau buah, kesadaran menurun, dan risiko kematian janin mendadak.
5. Komplikasi
Saat Persalinan
-
Persalinan Sesar: Risiko meningkat 2–3 kali lipat akibat ukuran bayi yang
terlalu besar atau panggul ibu yang tidak cukup luas.
-
Distosia / Persalinan Lama: Kesulitan melahirkan karena ukuran janin besar.
-
Perdarahan: Rahim yang terlalu teregang (karena bayi besar atau air ketuban
banyak) menjadi lemas dan sulit berkontraksi setelah lahir.
6. Risiko
Jangka Panjang Pasca Salin
Sekitar
35–60% ibu yang mengalami DMG akan menderita Diabetes Melitus Tipe 2 dalam
kurun waktu 5 hingga 10 tahun ke depan jika tidak menjaga pola hidup. Selain
itu, risiko terkena penyakit jantung dan pembuluh darah juga meningkat.
Kehamilan berikutnya juga memiliki kemungkinan besar mengalami kondisi serupa
kembali.
B.
Komplikasi pada Janin dan Bayi Baru Lahir
1. Makrosomia (Bayi Berbadan Besar)
Merupakan
komplikasi paling sering terjadi (25–40% kasus). Gula darah ibu yang tinggi
masuk ke janin, memicu pankreas janin memproduksi insulin berlebih. Insulin ini
berfungsi sebagai hormon pembentuk lemak, sehingga bayi lahir dengan berat
lebih dari 4.000–4.500 gram. Risiko: tersangkut bahu saat lahir, patah tulang,
cedera saraf, hingga sesar.
2. Kelainan
Bawaan / Cacat Lahir
Risiko
muncul 2–5 kali lipat lebih tinggi, terutama jika kadar gula darah tidak
terkontrol pada trimester pertama (saat organ tubuh janin terbentuk). Kelainan
yang sering terjadi berupa kelainan jantung, sistem saraf (spina bifida),
tulang belakang, dan saluran kemih.
3. Kelahiran
Prematur
Sering
terjadi akibat komplikasi seperti hidramnion, preeklamsia, atau kondisi janin
yang memburuk, sehingga persalinan harus dilakukan sebelum usia kehamilan 37
minggu. Bayi prematur berisiko tinggi mengalami gangguan pernapasan, gangguan
pencernaan, dan gangguan suhu tubuh.
4. Hipoglikemia
(Gula Darah Rendah pada Bayi)
Saat
masih dalam kandungan, bayi terbiasa dengan kadar gula tinggi dan memproduksi
insulin tinggi. Begitu lahir, suplai gula dari ibu terputus, tetapi kadar
insulin bayi masih tinggi, sehingga gula darah bayi turun drastis (<40
mg/dL) dalam 1–2 jam pertama kehidupan. Jika tidak cepat ditangani, bisa
menyebabkan kejang hingga kerusakan otak permanen.
5. Sindrom
Distres Pernapasan (Paru Belum Matang)
Kadar
insulin yang tinggi pada janin menghambat pembentukan zat surfaktan, zat yang
berfungsi agar paru-paru bisa mengembang. Akibatnya, bayi lahir sulit bernapas,
tampak biru, dan membutuhkan alat bantu napas.
6. Gangguan
Metabolisme & Darah
-
Hiperbilirubinemia: Kadar zat warna empedu tinggi → bayi kuning.
-
Hipokalsemia: Kadar kalsium rendah → kejang otot.
-
Polisitemia: Darah terlalu kental karena sel darah merah berlebih → aliran
darah terganggu.
7. Kematian
Janin Dalam Kandungan
Risiko
meningkat 2–3 kali lipat, sering terjadi mendadak pada usia kehamilan tua
akibat asam keton, gangguan aliran darah plasenta, atau gula darah yang sangat
tinggi dan tidak terkontrol.
8. Dampak
Jangka Panjang Anak
Anak
yang lahir dari ibu penderita DMG memiliki risiko lebih besar mengalami
obesitas, diabetes melitus tipe 2, gangguan tekanan darah, dan kelainan
metabolisme lainnya saat mereka beranjak remaja hingga dewasa.
2.9 Penatalaksanaan
Penanganan
DMG memerlukan kolaborasi tim yang terdiri dari ahli kebidanan dan kandungan,
dokter ahli diabetes, ahli gizi, perawat, edukator, dan ahli anak. Apabila
tidak mungkin, dapat dibentuk tim medis yang lebih kecil. Penatalaksanaan
penderita DMG antara lain:
1. Terapi
diet dan Pengelolaan Gaya Hidup Terapi ini merupakan strategi utama untuk
mencapai kontrol glikemik. Diet harus mampu menyokong pertambahan berat badan
ibu sesuai masa kehamilan, membantu mencapai normoglikemia tanpa menyebabkan lipolisis
(ketonuria). Latihan dan olah raga juga menjadi terapi tambahan untuk mencapai
target kontrol glikemik. Aktivitas fisik intensitas sedang 150 menit/minggu.
Terapi nutrisi medis Kebutuhan kalori = 35 kkal/kg x BBI BBI = (TB – 100) – 10%
(TB – 100). IMT > 30 kg/m2 à
25 kkal/kg Karbohidrat 30-35% dari kalori total.
2. Kontrol
glikemik. Target glukosa pasien DMG dengan menggunakan sampel darah kapiler
adalah: 17 a. Preprandial (setelah puasa).
3. Terapi
insulin. Terapi insulin dipertimbangkan apabila target glukosa plasma tidak
tercapai setelah pemantauan DMG selama 1 - 2 minggu.1
4. Obat
hipoglikemik oral. Obat hipoglikemik oral seperti glyburide dan metformin
merupakan alternatif pengganti insulin pada pengobatan DMG (Kurniawan,2016).
2.10
Pathway / Alur Perjalanan Penyakit
┌──────────────┐
│
FAKTOR RISIKO
│
• Usia > 35 tahun
│
• Obesitas
│
• Riwayat DM keluarga
│
• Riwayat DMG sebelumnya
└─────────────────┘
│
▼
┌────────────────┐
│
PENINGKATAN HORMON
│
KEHAMILAN
│
(HPL, Estrogen,
│
Progesteron, Kortisol)
──────────────┘
│
▼
┌────────────────┐
│
RESISTENSI INSULIN
│
(Sel tidak peka terhadap
│
insulin)
└───────────────┘
│
▼
┌───────────────────┐
│
INSULIN TIDAK MAMPU
│
MEMASUKKAN GLUKOSA
│
KE DALAM SEL
└───────────────────┘
│
▼
┌────────────────┐
│
HIPERGLIKEMIA
│
(Peningkatan gula darah)
└──────┬─────────┘
│ │
▼
▼
┌─────────────┐
┌─────────────┐
│
GLIKOSURIA │------ GLUKOSA │
│ │ MENEMBUS
│ PLASENTA
└──────┬──────┘
└──────┬──────┘
│ │
▼ ▼
┌─────────────┐
┌─────────────┐
│
POLIURIA JANIN
│ │ HIPERGLIKEMIA│
└──────┬──────┘
└──────┬──────┘
│ │
▼
▼
┌─────────────┐
┌─────────────┐
│
POLIDIPSIA │ │ MAKROSOMIA │
│ │ (Bayi besar)│
└──────┬──────┘
└──────┬──────┘
│ │
└───────┬───────┘
▼
┌───────────────┐
│
KOMPLIKASI
│
Ibu : Preeklamsia, SC, DM 2
│
Janin : Makrosomia,
│
Hipoglikemia, Prematuritas
└─────────────┘
│
▼
┌────────────────────────┐
│
PENATALAKSANAAN
│
• Diet
│
• Aktivitas fisik
│
• Monitoring gula darah
│
• Insulin bila diperlukan
└─────────────────────────────┘
ASUHAN
KEPERAWATAN
IDENTITAS
PASIEN
Nama
: Ny. S
Umur
:25 Tahun
Jenis
Kelamin : Perempuan
Agama
: Islam
Pendidikan
: SMA
Pekerjaan
: Ibu Rumah Tangga
Status
Perkawinan : Menikah
Alamat
:JLN Nnotoyudno GG VIII
Tanggal
Masuk :
Tanggal
Pengkajian : 28-mei 2026
No.
RM :
Diagnosa
Medis : Diabetes Melitus Gestasional (DMG)
III.
PENGKAJIAN
A.
Keluhan Utama
Pasien
mengatakan sering haus, sering buang air kecil, mudah lelah, dan hasil
pemeriksaan gula darah meningkat selama kehamilan.
B.
Riwayat Penyakit Sekarang: Diabetes
Mellitus. Penyakit gula darah tinggi.
C.
Riwayat Penyakit Dahulu
Tidak
ada riwayat DM sebelum hamil.
Tidak
ada riwayat hipertensi.
Tidak
ada riwayat penyakit jantung.
Tidak
ada riwayat operasi.
D.
Riwayat Penyakit Keluarga
Pasien
mengatakan ibu kandung menderita Diabetes Melitus.
E.
Riwayat Obstetri
G2
P1 A0
HPHT
:
HPL
:
Usia
Kehamilan :23minggu
IV.
PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan
Umum
Baik,
compos mentis
Tanda-Tanda
Vital
TD
: 130/80 mmHg
Nadi
: 88 x/menit
RR
: 20 x/menit
Suhu
: 36,7°C
Pemeriksaan
Head to Toe
Kepala
:Bentuk simetris
Rambut
bersih
Mata
:Konjungtiva merah muda
Sklera
tidak ikterik
Hidung
:Tidak ada sekret
Mulut
:Mukosa bibir agak kering
Leher
:Tidak ada pembesaran kelenjar
Dada
:Bunyi napas vesikuler
Abdomen
:Abdomen membesar sesuai usia kehamilan
DJJ
terdengar normal
Ekstremitas:Tidak
ada edema
CRT
< 2 detik
ANALISA
DATA
|
NO |
DATA |
ETIOLOGI |
MASALAH
KEPERAWATAN |
|
1. |
DS: Pasien mengatakan sering haus,
sering lapar, sering BAK. DO: Gula darah 162 mg/dL. |
Resistensi insulin akibat peningkatan hormon kehamilan |
Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah |
|
2. |
DS: Pasien mengatakan belum memahami
penyakit dan diet yang dianjurkan. DO: Pasien sering
bertanya tentang hasil pemeriksaan |
Kurang terpapar informasi |
Defisit Pengetahuan |
|
3. |
DS: Pasien mengeluh badan pegal-pegal
dan nyeri seluruh tubuh. DO: Ekspresi meringis, skala nyeri
5/10. |
Perubahan fisiologis kehamilan dan peningkatan beban tubuh |
Nyeri Akut |
Diagnosa Keperawatan dan Intervensi
Keperawatan
|
NO |
DIAGONSA KEPERAWATAN |
TUJUAN DAN KARETIAL HASIL |
INTERVENSI KEPERAWATAN |
|
1. |
Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah berhubungan dengan
resistensi insulin |
Setelah 3x24 jam kadar gula darah terkontrol. Kriteria hasil: gula
darah menurun, tidak ada poliuria, polidipsia berkurang, kondisi ibu dan
janin stabil. |
Monitor :gula darah, pantau tanda hiperglikemia, anjurkan diet DM,
anjurkan aktivitas fisik ringan, kolaborasi terapi insulin/obat sesuai
program medis |
|
2. |
Defisit Pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi |
Setelah 3X24 Jam edukasi pasien mampu menjelaskan penyakit, diet,
dan pengobatan DMG. |
Monitor: Kaji tingkat pengetahuan, jelaskan DMG, ajarkan diet dan
kontrol gula darah, berikan kesempatan bertanya, libatkan keluarga |
|
3. |
Nyeri Akut berhubungan dengan perubahan fisiologis kehamilan |
Setelah 1x24 jam nyeri berkurang. Kriteria hasil: skala nyeri ≤3,
pasien tampak rileks dan dapat beristirahat. |
Monitor: Kaji nyeri, atur posisi nyaman, ajarkan relaksasi napas
dalam, kompres hangat bila perlu, kolaborasi terapi sesuai instruksi medis |
IMPELEMENTASI
DAN EVALUASI
|
NO |
Hari
tangal |
jam |
impelementasi |
evaluasi |
paraf |
|
1. |
kamis 28-05-2026 |
21.00 |
Mengkaji
kadar gula darah pasien dan memantau tanda-tanda hiperglikemia. |
S:Pasien
mengatakan masih sering haus. O:Gula
darah 162 mg/dL. A:
Masalah belum teratasi. P:Lanjutkan pemantauan gula darah. |
|
|
2. |
Sabtu-29-05-2026 |
14:00 |
Memberikan
edukasi tentang diet Diabetes Melitus Gestasional dan makanan yang perlu
dihindari. |
S:mengatakan
mulai memahami makanan yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi. O: Pasien mampu
mengulang kembali penjelasan yang diberikan. A: Masalah teratasi sebagian. P: Lanjutkan edukasi dan evaluasi kepatuhan
diet.05-2026 |
|
|
3. |
Minggu
31-05-2026 |
07:00 |
Memantau
kondisi janin dengan menghitung gerakan janin dan memeriksa DJJ. |
S:
Pasien mengatakan gerakan janin masih aktif. O: DJJ dalam batas normal (120–160 x/menit).
A: Kondisi janin baik. P: Lanjutkan pemantauan kondisi janin
secara berkala. |
|
|
4 |
Minggu
31-05-2026 |
14:00 |
Menganjurkan
aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki 15–20 menit setelah makan sesuai
toleransi |
S:
Pasien bersedia mengikuti anjuran aktivitas ringan. O: Pasien tampak kooperatif. A: Masalah teratasi
sebagian. P: Motivasi pasien melakukan aktivitas
secara rutin. |
|
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
dan Saran
Diabetes
Melitus Gestasional (DMG) merupakan kondisi terjadinya peningkatan kadar
glukosa darah yang muncul atau pertama kali terdiagnosis selama masa kehamilan.
Kondisi ini terjadi akibat adanya perubahan hormon plasenta yang bersifat
diabetogenik, sehingga menyebabkan terjadinya resistensi insulin di mana
sel-sel tubuh ibu tidak peka terhadap kerja insulin, yang mengakibatkan kadar
gula menumpuk di dalam aliran darah.
Melalui penerapan asuhan keperawatan yang
terstruktur meliputi pemantauan ketat kadar gula darah, pengaturan pola makan
dan nutrisi yang sesuai, edukasi kesehatan mengenai penyakit dan tanda bahaya,
anjuran aktivitas fisik ringan, serta pemberian dukungan psikologis untuk
mengurangi kecemasan, diharapkan kadar gula darah pasien dapat terkontrol dan
stabil. Dengan pengelolaan yang tepat, risiko komplikasi dapat diminimalisir,
sehingga kondisi kesehatan ibu dan perkembangan janin tetap optimal, aman, dan
terjaga baik hingga proses persalinan nanti.
Daftar
pustaka
1. Depkes
RI. (2020). Pedoman Pelayanan Antenatal Terpadu. Jakarta: Direktorat Jenderal
Bina Kesehatan Masyarakat.
2. Manuaba,
I.B.G. (2018). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB untuk Pendidikan
Bidan. Jakarta: EGC.
3. Marimbi,
H. (2021). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Maternitas. Yogyakarta: Mitra Cendikia.
4. Nursalam.
(2020). Proses Keperawatan: Pendekatan Praktis. Jakarta: Salemba Medika.
5. Prawirohardjo,
S. (2019). Ilmu Kebidanan (Edisi 4). Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
6. PPIP
(Perkumpulan Perawat Indonesia). (2022). Standar Diagnosis Keperawatan
Indonesia. Jakarta: Dewan Pengurus Pusat PPIP.
7. Varney,
H., Kimbrough, J., & Jordan, K. (2019). Varney’s Midwifery (6th Edition).
Jones & Bartlett Learning.
8. Wiknjosastro,
G. H. (2020). Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
Komentar
Posting Komentar