DOWNLOAD CONTOH LAPORAN PENDAHULUAN PASIEN DENGAN DIANGNOSA MEDIS CYROSIS HEPATIS
LAPORAN PENDAHULUAN PASIEN
DENGAN DIANGNOSA MEDIS
CYROSIS HEPATIS
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Definisi
Sirosis
hepatis adalah stadium akhir dari
berbagai penyakit hati kronis yang ditandai dengan penggantian jaringan
hati normal oleh jaringan fibrosis (pembentukan jaringan parut) dan nodul
regeneratif, sehingga mengakibatkan distorsi arsitektur hati yang bersifat
difus dan permanen.
Secara
histopatologis, sirosis hepatis didefinisikan sebagai kondisi di mana terjadi
fibrosis hati difus disertai pembentukan nodul yang mengandung hepatosit
berproliferasi yang dikelilingi oleh jaringan fibrosa. Proses ini menyebabkan
gangguan pada sirkulasi portal dan fungsi hati secara keseluruhan.
Sirosis hepatis merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di
seluruh dunia, dengan prevalensi global diperkirakan mencapai 4,5–9,5% dari
populasi orang dewasa, menjadikannya masalah kesehatan masyarakat yang
signifikan
1.2
Etiologi
Sirosis hepatis dapat
disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain:
a. Penyakit Hati Alkoholik
Konsumsi alkohol kronik merupakan penyebab tersering
sirosis di negara-negara Barat. Konsumsi alkohol >40 g/hari pada pria dan
>20 g/hari pada wanita selama lebih dari 10–20 tahun dapat menyebabkan
sirosis alkoholik. Alkohol menyebabkan steatosis hepatis, hepatitis alkoholik,
dan akhirnya fibrosis progresif.
b. Infeksi Virus Hepatitis
•
Hepatitis B kronik (HBV):
-
Infeksi HBV kronik dapat menyebabkan sirosis pada 20–30% kasus.
Replikasi virus yang berkelanjutan memicu inflamasi hepatik kronis yang
berujung pada fibrosis.
•
Hepatitis C kronik (HCV):
-
Infeksi HCV kronik merupakan penyebab utama sirosis di banyak negara.
Sekitar 20–30% pasien dengan hepatitis C kronik akan berkembang menjadi sirosis
dalam 20–30 tahun.
c. Penyakit Hati Non-Alkoholik
(NAFLD/NASH)
Non-alcoholic
steatohepatitis (NASH) adalah penyebab sirosis yang semakin meningkat,
berkaitan dengan obesitas, diabetes mellitus tipe 2, dislipidemia, dan sindrom
metabolik. Sekitar 10–29% pasien NASH dapat berkembang menjadi sirosis.
d. Penyakit Hati Autoimun dan
Kolestatik
. Sirosis bilier primer (PBC)
. Kolangitis sklerosis primer
(PSC)
. Hepatitis autoimun
e. Penyakit Metabolik dan
Genetik
. Hemokromatosis herediter —
penumpukan besi berlebihan di hati
. Penyakit Wilson — akumulasi
tembaga patologis
. Defisiensi alfa-1
antitripsin
f.
Penyebab Lainnya
. Gagal jantung kongestif
kronik (sirosis kardiak)
. Hepatotoksisitas
obat-obatan (misalnya metotreksate, amiodaron)
. Kriptogenik (tidak
diketahui penyebabnya)
1.3
Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis sirosis
hepatis dibagi menjadi dua stadium berdasarkan ada tidaknya komplikasi:
a. Sirosis Kompensata (Stadium
Awal)
Pada stadium ini, fungsi hati masih dapat dipertahankan
dan pasien sering tidak menunjukkan gejala yang signifikan:
. Kelelahan (fatigue) dan
kelemahan umum
. Anoreksia dan penurunan
berat badan
. Mual dan nyeri tumpul di
kuadran kanan atas abdomen
. Hepatomegali dan/atau
splenomegali
. Spider angioma, palmar
eritema, leukonychia
b. Sirosis Dekompensata
(Stadium Lanjut)
Ditandai
dengan munculnya komplikasi mayor akibat hipertensi portal dan kegagalan fungsi
hati:
. Asites: akumulasi cairan di
rongga peritoneal, ditandai dengan distensi abdomen
. Ikterus: menguningnya
sklera dan kulit akibat hiperbilirubinemia
. Ensefalopati hepatik:
gangguan fungsi kognitif, asteriksis (flapping tremor), konfusi hingga koma
. Perdarahan varises
esofagus: hematemesis dan/atau melena
. Sindrom hepatorenal:
disfungsi ginjal progresif
. Koagulopati: perdarahan
spontan, ekimosis, petekie
. Ginekomastia dan atrofi
testis pada pria; amenore pada wanita
. Caput medusae: dilatasi
vena kolateral di dinding abdomen
1.4
Patofisiologi
a. Aktivasi Sel Stellata
Hepatik
Proses patofisiologi sirosis hepatis
diawali dengan cedera hepatosit berulang akibat berbagai etiologi. Cedera ini
memicu respons inflamasi yang mengaktifkan sel stellata hepatik (hepatic
stellate cells/HSC). Dalam kondisi normal, HSC bersifat quiescent dan berperan
dalam penyimpanan vitamin A.
Ketika teraktivasi oleh sitokin
proinflamasi (TGF-β, PDGF, TNF-α) yang dilepaskan oleh sel Kupffer, hepatosit
yang cedera, dan sel endotel, HSC bertransformasi menjadi miofibroblas yang
aktif memproduksi kolagen tipe I dan III dalam jumlah berlebihan.
b. Fibrosis Progresif
Deposisi kolagen yang berlebihan di ruang Disse
(perisinusoidal) menyebabkan kapillarisasi sinusoid hati, sehingga mengganggu
pertukaran nutrien antara darah portal dan hepatosit. Fibrosis ini bersifat
progresif dan pada akhirnya membentuk septa fibrosa yang mengelilingi
nodul-nodul hepatosit regeneratif.
c. Hipertensi Portal
Distorsi arsitektur vaskular hati akibat fibrosis dan
pembentukan nodul menyebabkan peningkatan resistensi aliran darah portal, yang
berujung pada hipertensi portal (tekanan vena porta >12 mmHg). Hipertensi
portal memicu pembentukan pembuluh darah kolateral portosistemik (varises
esofagus, varises lambung, kaput medusae), splenomegali kongestif, dan asites.
d. Mekanisme Pembentukan
Asites
Asites terbentuk melalui mekanisme multifaktorial: (1)
hipertensi portal meningkatkan tekanan hidrostatik di kapiler usus; (2)
hipoalbuminemia akibat gagal sintesis hati menurunkan tekanan onkotik plasma;
(3) vasodilatasi splanknik memicu aktivasi sistem renin-angiotensin-aldosteron
(RAAS) sehingga terjadi retensi natrium dan air; (4) peningkatan permeabilitas
kapiler sinusoid memfasilitasi transudasi cairan ke rongga peritoneum.
e. Ensefalopati Hepatik
Ensefalopati hepatik terjadi akibat akumulasi toksin yang
normalnya dimetabolisme oleh hati, terutama amonia (NH3) yang dihasilkan dari
metabolisme protein usus. Amonia yang tidak terdetoksifikasi di hati memasuki
sirkulasi sistemik dan melintasi sawar darah otak (blood-brain barrier),
menyebabkan disfungsi neurotransmisi melalui peningkatan GABA-ergik dan deplesi
glutamat.
1.5
Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
•
Tes Fungsi Hati:
. Peningkatan AST, ALT
(AST:ALT > 2:1 pada sirosis alkoholik)
. Peningkatan bilirubin total
dan direk
. Penurunan albumin serum
(<3,5 g/dL)
. Pemanjangan waktu
protrombin (PT) dan peningkatan INR
. Peningkatan alkaline
phosphatase (ALP) dan gamma-GT
•
Darah Lengkap:
. Trombositopenia
(<100.000/µL) — indikator hipertensi portal
. Leukopenia akibat
hipersplenisme
. Anemia (normositik,
makrositik, atau hemolitik)
•
Penanda Fibrosis dan Fungsi Hati:
. Skor FIB-4 [(usia × AST) /
(trombosit × √ALT)]
. Alfa-fetoprotein (AFP) —
skrining karsinoma hepatoselular
. Marker etiologi: HBsAg,
anti-HCV, ANA, ASMA, kadar besi/tembaga serum
b. Pencitraan (Imaging)
•
Ultrasonografi (USG) abdomen: Modalitas lini pertama.
Menunjukkan ekostruktur hati heterogen, permukaan nodular, hepatomegali/atrofi,
splenomegali, asites, dan dilatasi vena porta (>13 mm)
•
CT Scan Abdomen dengan kontras: Menilai morfologi hati
secara detail, mendeteksi nodul karsinoma hepatoselular, dan mengevaluasi
vaskularisasi portal
•
MRI Hati: Gold standard untuk karakterisasi lesi fokal hati dan
penilaian derajat fibrosis (MR elastografi)
•
Transient Elastografi (FibroScan®): Metode non-invasif untuk
mengukur kekakuan hati (liver stiffness) sebagai indikator derajat fibrosis
(F0–F4 berdasarkan klasifikasi METAVIR)
c. Endoskopi
Esofagogastroduodenoskopi
(EGD) dilakukan untuk mendeteksi dan menggradasi varises esofagus dan lambung,
gastropati hipertensi portal, serta menilai risiko perdarahan. Pemeriksaan ini
direkomendasikan pada semua pasien yang baru terdiagnosis sirosis.
d. Biopsi Hati
Biopsi
hati merupakan baku emas (gold standard) untuk diagnosis dan penentuan stadium
sirosis, terutama ketika etiologi tidak dapat ditentukan secara non-invasif.
Prosedur ini juga memberikan informasi tentang derajat aktivitas nekroinflamasi
dan derajat fibrosis berdasarkan sistem skoring histologis (METAVIR, Ishak,
Knodell).
1.6
Penatalaksanaan Medis
a. Terapi Etiologis
. Sirosis alkoholik: abstinsi
alkohol total; rehabilitasi adiksi
. Hepatitis B kronik:
antivirus (entekavir, tenofovir) untuk supresi replikasi HBV
. Hepatitis C kronik:
antivirus direct-acting (DAA) seperti sofosbuvir/velpatasvir atau glekeprevir/pibrentasvir
— SVR12 mencapai >95%
. NASH: modifikasi gaya hidup
(penurunan berat badan ≥7–10%), kontrol glikemi dan dislipidemia
. PBC: asam ursodeoksikolat
(UDCA) 13–15 mg/kgBB/hari
b. Penatalaksanaan Asites
. Diet rendah natrium (<2
g/hari atau <88 mmol/hari)
. Diuretik: spironolakton
100–400 mg/hari sebagai lini pertama; dapat dikombinasi dengan furosemid 40–160
mg/hari dengan rasio 100:40
. Parasentesis terapeutik
untuk asites refrakter, disertai albumin intravena (8 g/liter cairan yang
dikeluarkan) untuk pencegahan disfungsi sirkulasi
. TIPS (Transjugular
Intrahepatic Portosystemic Shunt) pada asites refrakter yang tidak responsif
terhadap farmakoterapi
c. Penatalaksanaan Varises
Esofagus
. Profilaksis primer:
beta-bloker non-selektif (propranolol 20–80 mg 2x/hari atau karvedilol
6,25–12,5 mg/hari) pada varises grade II–III
. Perdarahan akut: terapi
endoskopi (ligasi varises/EVL) + vasokonstriktor splanknik (terlipressin 1–2 mg
tiap 4 jam, atau somatostatin/oktreotid)
. Profilaksis sekunder:
kombinasi EVL periodik + beta-bloker non-selektif
e. Penatalaksanaan
Ensefalopati Hepatik
. Identifikasi dan koreksi
faktor presipitasi (infeksi, perdarahan, konstipasi, gangguan elektrolit, obat
psikoaktif)
. Laktulosa oral/rektal 30–45
mL 2–4 kali/hari; target 2–3 BAB lunak/hari
. Rifaksimin 550 mg 2x/hari
untuk profilaksis sekunder
. Diet protein 1,2–1,5
g/kgBB/hari; prioritaskan protein nabati dan suplementasi BCAA
f.
Transplantasi Hati
Transplantasi
hati (liver transplantation) merupakan satu-satunya terapi definitif yang
bersifat kuratif untuk sirosis stadium akhir. Indikasi berdasarkan skor MELD
(Model for End-Stage Liver Disease) ≥15, atau adanya komplikasi yang tidak
terkontrol seperti asites refrakter, ensefalopati rekuren, karsinoma
hepatoselular stadium awal (kriteria Milano), dan peritonitis bakterial
spontan.
BAB
II
TINJAUAN
TEORI ASUHAN KEPERAWATAN
·
Pengkajian Keperawatan
A. Identitas
Nama,umur,jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan,
alamat.
B. Riwayat Kesehatan
1. Keluhan Utama:
. Perut membesar (asites)
. Mudah lelah
. Nafsu makan menurun
. Nyeri perut kanan atas
.
Kulit dan mata kuning (ikterus)
2. Riwayat Penyakit
. Riwayat hepatitis B/C
. Konsumsi alkohol jangka
panjang
. Riwayat penyakit hati
sebelumnya
C. Pengkajian Fisik:
. Inspeksi: Sklera ikterik,
kulit jaundice (kuning), adanya asites (perut membuncit), spider nevi pada
dada/wajah, eritema palmaris (telapak tangan merah), edema tungkai, dan
pelebaran vena abdomen (caput medusae).
. Palpasi: Hepatomegali
(tahap awal) atau hati teraba mengecil dan keras (tahap lanjut), splenomegali,
serta nyeri tekan kuadran kanan atas.
. Perkusi: Shifting dullness
positif pada area abdomen (menandakan cairan asites).
.
Auskultasi: Bising usus dapat menurun atau normal.
D. Pola Fungsi (Gordon):
. Nutrisi/Metabolisme:
Anoreksia, mual, muntah, perut terasa penuh, dan penurunan berat badan secara
drastis
. Eliminasi: Urin berwarna
gelap seperti teh pekat (bilirubinuria) dan feses berwarna pucat (akolis) atau
hitam melena jika terjadi perdarahan varises esofagus.
. Aktivitas/Istirahat:
Kelemahan otot, cepat lelah, dan intoleransi aktivitas akibat anemia atau
penumpukan toksin.
.
Kognitif/Persepsi: Bingung, disorientasi, hingga penurunan kesadaran
(gejala ensefalopati hepatikum akibat akumulasi amonia).
·
Diagnosa keparawatan ( SDKI )
·
Hipervolemia (D.0022) berhubungan dengan gangguan mekanisme
regulasi (penurunan tekanan osmotik koloid/hipoalbuminemia dan retensi
natrium-air).
·
Data Subjektif (DS)
·
Mayor
·
Tidak tersedia data subjektif mayor.
·
Minor
·
Sesak napas.
·
Merasa lemah.
·
Sulit tidur (ortopnea atau akibat sesak).
·
Data Objektif (DO)
·
Mayor
·
Edema (anasarka atau edema perifer).
·
Distensi vena jugularis (JVP meningkat).
·
Berat badan meningkat dalam waktu singkat.
·
Minor
·
Tekanan darah meningkat.
·
Tekanan nadi meningkat.
·
Bunyi napas tambahan (crackles/rales).
·
Oliguria.
·
Hepatomegali.
·
Refleks hepatojugular positif.
·
Kongesti paru pada foto toraks.
·
Asites.
o 2.Defisit Nutrisi
(D.0019) berhubungan dengan ketidakmampuan mengabsorbsi nutrien sekunder akibat
disfungsi hati dan anoreksia.
·
Data Subjektif (DS)
·
Mayor
·
Pasien mengeluh nafsu makan
menurun.
·
Pasien merasa cepat kenyang.
·
Minor
·
Pasien mengeluh lemah.
·
Pasien mengeluh sariawan.
·
Pasien mengeluh nyeri menelan.
·
Pasien mengeluh mual.
·
Data Objektif (DO)
·
Mayor
·
Berat badan menurun minimal 10%
dari rentang ideal.
·
Indeks Massa Tubuh (IMT) <
18,5 kg/m².
·
Minor
·
Bising usus hiperaktif.
·
Otot pengunyah lemah.
·
Otot menelan lemah.
·
Membran mukosa pucat.
·
Sariawan.
·
Serum albumin menurun.
·
Rambut rontok berlebihan.
·
Diare
·
·
Risiko Perdarahan (D.0012) ditandai dengan gangguan faktor
koagulasi (penurunan produksi protrombin oleh hati) atau adanya varises
esofagus.
·
Data subjektif:
·
(Tidak tersedia)
·
Data Objektif:
·
(Tidak tersedia)
·
Intervensi ( SLKI DAN SIKI )
|
Diagnosa ( SDKI ) |
Tujuan keperawatan ( SLKI
) |
Intervensi keperawata
(SIKI) |
|
Hipervolemia |
Keseimbangan Cairan (L.03020) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 × 24 jam,
diharapkan kriteria hasil: 1.
Edema menurun. 2.
Distensi vena jugularis
menurun. 3.
Asites menurun. 4.
Berat badan membaik. 5.
Tekanan darah membaik. 6.
Frekuensi napas membaik. 7.
Bunyi napas tambahan menurun.
8.
Intake dan output cairan
seimbang. |
Manajemen
Hipervolemia (I.03114) Observasi
Terapeutik
Edukasi
Kolaborasi
|
|
Defisit Nutrisi(D.0019)) |
Status Nutrisi
(L.03030) Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 3 × 24 jam, dengan kriteria hasil yang
diharapkan: 1.
Porsi makan yang dihabiskan
meningkat. 2.
Nafsu makan meningkat. 3.
Berat badan membaik. 4.
IMT membaik. 5.
Frekuensi mual menurun. 6.
Kekuatan otot meningkat. 7.
Nilai albumin membaik. |
Manajemen
Nutrisi (I.03119) Observasi
Terapeutik
Edukasi
Kolaborasi
|
|
Resiko perdarahan D.0012 |
Tingkat Perdarahan (L.02017) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 × 24 jam, kriteria
hasil yang diharapkan:
|
Pencegahan
Perdarahan (I.02067) Observasi
Terapeutik
Edukasi
Kolaborasi
|
·
Implementasi
·
Implementasi keperawatan
merupakan pelaksanaan dari rencana tindakan yang telah disusun untuk membantu
mengatasi masalah kesehatan pasien sirosis hepatis. Tindakan yang dilakukan
harus sesuai dengan kondisi pasien dan berdasarkan Standar Intervensi
Keperawatan Indonesia (SIKI).
·
Melakukan Penimbangan Berat
Badan Pasien Setiap Pagi Sebelum Makan
·
Penimbangan berat badan
dilakukan secara rutin setiap pagi sebelum pasien makan dan dengan pakaian yang
sama. Tindakan ini bertujuan untuk memantau perubahan status cairan tubuh serta
mengetahui adanya peningkatan berat badan yang dapat mengindikasikan penumpukan
cairan (edema atau asites). Hasil penimbangan dicatat dan dibandingkan dengan
hari sebelumnya untuk mengevaluasi efektivitas terapi yang diberikan.
·
Mengukur Lingkar Perut
(Lingkar Abdomen) Setiap Hari pada Titik yang Sama untuk Memantau Perkembangan
Asites
·
Pengukuran lingkar abdomen
dilakukan setiap hari pada posisi dan titik pengukuran yang sama, biasanya
sejajar dengan umbilikus (pusar). Tindakan ini bertujuan untuk memantau jumlah
cairan asites yang menumpuk di rongga peritoneum. Peningkatan ukuran lingkar
perut dapat menunjukkan bertambahnya cairan asites, sedangkan penurunan ukuran
menunjukkan respons yang baik terhadap terapi diuretik atau tindakan medis
lainnya.
·
Memberikan Posisi
Semi-Fowler untuk Mengurangi Sesak Akibat Desakan Cairan Asites ke Diafragma
·
Pasien diposisikan Semi-Fowler
dengan elevasi kepala tempat tidur sekitar 30–45 derajat. Posisi ini membantu
mengurangi tekanan cairan asites terhadap diafragma sehingga ekspansi paru
menjadi lebih optimal. Dengan demikian, pasien dapat bernapas lebih nyaman,
mengurangi sesak napas, serta meningkatkan oksigenasi jaringan.
·
Memfasilitasi Diet Rendah
Garam dan Memantau Kepatuhan Pasien
·
Perawat bekerja sama dengan ahli
gizi dalam memberikan diet rendah natrium (garam) sesuai program terapi. Pasien
diberikan edukasi mengenai pentingnya membatasi konsumsi makanan tinggi garam
seperti makanan instan, makanan kaleng, dan makanan yang diawetkan. Kepatuhan
pasien terhadap diet dipantau untuk membantu mengurangi retensi cairan dan
mencegah perburukan asites.
·
Mengobservasi Tanda-Tanda
Vital Secara Berkala untuk Deteksi Dini Syok Akibat Perdarahan Gastrointestinal
·
Pemantauan tanda-tanda vital
meliputi tekanan darah, frekuensi nadi, frekuensi pernapasan, suhu tubuh, dan
saturasi oksigen. Observasi dilakukan secara berkala untuk mendeteksi adanya
komplikasi seperti perdarahan varises esofagus yang dapat menyebabkan syok
hipovolemik. Tanda-tanda seperti penurunan tekanan darah, peningkatan denyut
nadi, kulit pucat, dan penurunan kesadaran harus segera dilaporkan kepada tim
medis untuk mendapatkan penanganan cepat.
·
Evaluasi Keperawatan
·
S (Subjektif)
·
Pasien mengatakan perut masih terasa begah akibat adanya penumpukan
cairan di rongga abdomen, namun keluhan sesak napas sudah berkurang
dibandingkan sebelumnya. Pasien juga menyatakan rasa mual mulai berkurang dan
nafsu makan sedikit meningkat sehingga mampu menghabiskan sekitar setengah
porsi makanan yang disediakan. Data subjektif ini menunjukkan adanya perbaikan
kondisi pasien meskipun keluhan belum sepenuhnya hilang.
·
(Objektif)
·
Hasil pemeriksaan menunjukkan asites masih tampak pada abdomen pasien.
Edema pada tungkai bawah masih ditemukan dengan derajat pitting edema (+1).
Lingkar perut mengalami penurunan sebesar 1 cm dibandingkan pengukuran hari
sebelumnya yang mengindikasikan berkurangnya retensi cairan. Balance cairan
tercatat -200 cc dalam 24 jam yang menunjukkan pengeluaran cairan lebih besar
daripada pemasukan cairan. Tanda-tanda vital dalam batas stabil, yaitu tekanan
darah 120/80 mmHg, frekuensi nadi 84 kali/menit, dan frekuensi pernapasan 20
kali/menit.
·
A (Assessment)
·
Masalah keperawatan Hipervolemia dan Defisit Nutrisi teratasi sebagian.
Hal ini ditunjukkan oleh adanya penurunan lingkar perut, berkurangnya sesak
napas, keseimbangan cairan yang mulai membaik, serta peningkatan kemampuan
pasien dalam mengonsumsi makanan. Namun, asites dan edema masih ditemukan
sehingga diperlukan intervensi lanjutan untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
·
P (Planning)
·
Intervensi keperawatan dilanjutkan dengan:
·
Memantau balance cairan setiap 24 jam untuk mengevaluasi retensi atau
pengeluaran cairan tubuh.
·
Membatasi asupan natrium sesuai program diet untuk mencegah penumpukan
cairan lebih lanjut.
·
Mengukur dan memantau lingkar abdomen setiap hari pada titik yang sama
untuk menilai perkembangan asites.
·
Memantau berat badan harian sebagai indikator perubahan status cairan.
·
Mempertahankan pemberian terapi diuretik sesuai instruksi medis dan
mengobservasi efek samping yang mungkin terjadi.
·
Memantau status nutrisi pasien, nafsu makan, serta jumlah makanan yang
dihabiskan.
·
Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya
kepatuhan terhadap diet rendah garam dan pengobatan yang diberikan.
DAFTAR PUSTAKA
Asrani, S. K., Devarbhavi,
H., Eaton, J., & Kamath, P. S. (2019). Burden of liver diseases in the
world. Journal of Hepatology, 70(1), 151–171.
https://doi.org/10.1016/j.jhep.2018.09.014
de Franchis, R., Bosch, J.,
Garcia-Tsao, G., Reiberger, T., Ripoll, C., & Baveno VII Faculty. (2022).
Baveno VII – Renewing consensus in portal hypertension. Journal of
Hepatology, 76(4), 959–974. https://doi.org/10.1016/j.jhep.2021.12.022
European Association for
the Study of the Liver (EASL). (2018). EASL Clinical Practice Guidelines for
the management of patients with decompensated cirrhosis. Journal of
Hepatology, 69(2), 406–460. https://doi.org/10.1016/j.jhep.2018.03.024
Friedman, S. L. (2008).
Mechanisms of hepatic fibrogenesis. Gastroenterology, 134(6), 1655–1669.
https://doi.org/10.1053/j.gastro.2008.03.003
Ginès, P., Krag, A.,
Abraldes, J. G., Solà, E., Fabrellas, N., & Kamath, P. S. (2021). Liver
cirrhosis. The Lancet, 398(10308), 1359–1376.
https://doi.org/10.1016/S0140-6736(21)01374-X
Hernandez-Gea, V., &
Friedman, S. L. (2011). Pathogenesis of liver fibrosis. Annual Review of
Pathology: Mechanisms of Disease, 6, 425–456.
https://doi.org/10.1146/annurev-pathol-011110-130246
Lim, J. K., Flamm, S. L.,
Singh, S., Falck-Ytter, Y. T., & AGA Institute Clinical Guidelines
Committee. (2017). American Gastroenterological Association Institute guideline
on the role of elastography in the evaluation of liver fibrosis. Gastroenterology,
152(6), 1536–1543. https://doi.org/10.1053/j.gastro.2017.03.017
Nusrat, S., Khan, M. S.,
Fazili, J., & Madhoun, M. F. (2014). Cirrhosis and its complications:
Evidence based treatment. World Journal of Gastroenterology, 20(18),
5442–5460. https://doi.org/10.3748/wjg.v20.i18.5442
Runyon, B. A., & AASLD
Practice Guidelines Committee. (2013). Management of adult patients with
ascites due to cirrhosis: Update 2012. Hepatology, 57(4), 1651–1653.
https://doi.org/10.1002/hep.26359
Vilstrup, H., Amodio, P.,
Bajaj, J., Cordoba, J., Ferenci, P., Mullen, K. D., Weissenborn, K., &
Wong, P. (2014). Hepatic encephalopathy in chronic liver disease: 2014 practice
guideline by the American Association for the Study of Liver Diseases and the
European Association for the Study of the Liver. Hepatology, 60(2),
715–735. https://doi.org/10.1002/hep.27210
Komentar
Posting Komentar