CONTOH LAPORAN PENDAHULUAN DENGAN DIAGNOSA MEDIS ADENOMIOSIS FORMAT MS WORD

 LAPORAN PENDAHULUAN DENGAN DIAGNOSA MEDIS ADENOMIOSIS

A.    Definisi

Adenomiosis merupakan suatu kondisi ginekologi jinak yang ditandai dengan adanya jaringan endometrium, baik kelenjar maupun stroma endometrium, yang tumbuh di dalam lapisan miometrium uterus. Invasi jaringan endometrium tersebut menyebabkan hipertrofi dan hiperplasia miometrium sehingga uterus mengalami pembesaran. Adenomiosis sering ditemukan pada wanita usia reproduksi dan dapat menimbulkan gejala berupa dismenore, menoragia, nyeri panggul kronis, serta gangguan kualitas hidup. Menurut Chapron et al. (2020), adenomiosis merupakan salah satu penyebab utama nyeri pelvis dan perdarahan uterus abnormal pada wanita usia reproduktif.

B.     Klasifikasi

Adenomiosis dapat diklasifikasikan berdasarkan distribusi lesi, kedalaman infiltrasi ke miometrium, serta gambaran anatomi dan pencitraan. Klasifikasi ini penting untuk menentukan tingkat keparahan penyakit, pilihan terapi, dan prognosis pasien.

1.      Berdasarkan Distribusi Lesi pada Miometrium

a.       Adenomiosis Difus (Diffuse Adenomyosis)

Adenomiosis difus merupakan bentuk yang paling sering ditemukan. Pada tipe ini, jaringan endometrium tersebar secara luas ke seluruh lapisan miometrium sehingga menyebabkan pembesaran uterus secara menyeluruh. Pasien umumnya mengalami dismenore berat, menoragia, dan nyeri panggul kronis akibat keterlibatan miometrium yang luas (Vannuccini & Petraglia, 2019).

b.      Adenomiosis Fokal (Focal Adenomyosis/Adenomioma)

Adenomiosis fokal ditandai dengan adanya lesi yang terlokalisasi pada satu area tertentu dalam miometrium. Lesi ini dapat membentuk massa yang disebut adenomioma dan sering menyerupai mioma uteri pada pemeriksaan pencitraan. Gejala yang muncul bergantung pada ukuran dan lokasi lesi (Chapron et al., 2020).

c.       Adenomiosis Campuran (Mixed Adenomyosis)

Tipe campuran merupakan kombinasi antara adenomiosis difus dan fokal. Pada kondisi ini ditemukan penyebaran lesi yang luas disertai adanya adenomioma pada bagian tertentu dari uterus. Bentuk ini sering dikaitkan dengan gejala yang lebih berat dibandingkan tipe lainnya (Vannuccini & Petraglia, 2019).

2.      Berdasarkan Kedalaman Infiltrasi Miometrium

a.       Adenomiosis Superfisial

Jaringan endometrium hanya menginvasi lapisan miometrium bagian dalam dekat endometrium. Gejala biasanya lebih ringan dan sering ditemukan secara insidental pada pemeriksaan pencitraan.

b.      Adenomiosis Intermediat

Invasi jaringan endometrium mencapai bagian tengah miometrium sehingga menyebabkan gejala yang lebih nyata berupa nyeri menstruasi dan perdarahan menstruasi berlebihan.

c.       Adenomiosis Dalam (Deep Adenomyosis)

Invasi jaringan endometrium mencapai miometrium bagian luar bahkan mendekati lapisan serosa uterus. Tipe ini sering berhubungan dengan pembesaran uterus yang signifikan, nyeri panggul kronis, dan gangguan fertilitas (Chapron et al., 2020).

3.      Berdasarkan Lokasi Anatomi Lesi

a.       Adenomiosis Anterior

Lesi dominan terdapat pada dinding anterior uterus.

b.      Adenomiosis Posterior

Lesi dominan berada pada dinding posterior uterus. Tipe ini paling sering ditemukan dan sering berhubungan dengan endometriosis.

c.       Adenomiosis Fundal

Lesi terutama terletak pada fundus uteri.

d.      Adenomiosis Lateral

Lesi berada pada salah satu sisi lateral uterus.

e.       Adenomiosis Asimetris

Terjadi penebalan miometrium yang tidak merata sehingga ukuran uterus tampak tidak simetris (Van den Bosch et al., 2022).

4.      Berdasarkan Gambaran Pencitraan (MRI dan USG)

a.       Internal Adenomyosis

Lesi berasal dari invaginasi lapisan basal endometrium menuju miometrium dan terutama melibatkan junctional zone.

b.      External Adenomyosis

Lesi berasal dari infiltrasi jaringan endometriosis dari luar uterus menuju miometrium bagian luar.

c.       Diffuse Adenomyosis

Ditandai keterlibatan luas seluruh miometrium tanpa batas yang jelas.

d.      Focal Adenomyosis

Ditandai adanya lesi lokal berbentuk nodul atau adenomioma

5.      Klasifikasi Kishi (Berdasarkan Patogenesis)

Menurut Kishi et al., adenomiosis dibagi menjadi empat tipe:

a.       Tipe I (Intrinsic Adenomyosis)

Berasal dari invaginasi langsung endometrium basal ke dalam miometrium. Lesi terutama berada di sekitar junctional zone.

b.      Tipe II (Extrinsic Adenomyosis)

Berasal dari infiltrasi lesi endometriosis pelvis ke arah miometrium bagian luar.

c.       Tipe III (Intramural Adenomyosis)

Lesi berkembang di dalam miometrium tanpa hubungan yang jelas dengan endometrium maupun serosa.

d.      Tipe IV (Indeterminate Adenomyosis)

Merupakan tipe yang tidak dapat dimasukkan ke dalam kategori lain karena karakteristiknya yang bervariasi

6.      Klasifikasi Berdasarkan Histopatologi

a.       Adenomiosis Ringan

Invasi jaringan endometrium hanya sedikit dan terbatas pada lapisan miometrium dalam.

b.      Adenomiosis Sedang

Jumlah lesi lebih banyak dengan infiltrasi yang mencapai miometrium tengah.

c.       Adenomiosis Berat

Invasi luas hingga miometrium luar disertai hipertrofi otot uterus yang signifikan dan gejala klinis berat

C.     Etiologi

            Hingga saat ini, penyebab pasti adenomiosis belum diketahui secara pasti. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa adenomiosis merupakan penyakit multifaktorial yang melibatkan interaksi antara faktor hormonal, genetik, imunologis, inflamasi, dan trauma pada uterus. Kondisi ini ditandai oleh adanya jaringan endometrium yang tumbuh dan menginvasi lapisan miometrium sehingga menyebabkan perubahan struktur dan fungsi uterus (Bulun et al., 2023).

            Beberapa teori telah dikemukakan untuk menjelaskan terjadinya adenomiosis. Teori yang paling banyak diterima adalah teori invaginasi endometrium, yang menyatakan bahwa lapisan basal endometrium masuk ke dalam miometrium melalui daerah perbatasan antara endometrium dan miometrium (endometrial-myometrial junction atau junctional zone). Kerusakan berulang pada daerah tersebut akibat kontraksi uterus yang berlebihan, menstruasi, persalinan, atau tindakan pembedahan dapat memicu proses invasi jaringan endometrium ke dalam miometrium (Chapron et al., 2020).

            Selain teori invaginasi, terdapat teori metaplasia sel punca (stem cell theory) yang menjelaskan bahwa sel-sel punca embrional atau sel progenitor yang berada di miometrium dapat mengalami diferensiasi menjadi jaringan endometrium. Teori ini digunakan untuk menjelaskan kasus adenomiosis yang ditemukan pada wanita muda tanpa riwayat kehamilan maupun tindakan operasi uterus sebelumnya (Vannuccini & Petraglia, 2019).

            Teori lain adalah teori cedera dan perbaikan jaringan (Tissue Injury and Repair/TIAR) yang menyatakan bahwa kontraksi uterus yang berlebihan menyebabkan mikrotrauma pada junctional zone. Cedera tersebut akan merangsang proses inflamasi dan pelepasan estrogen lokal yang selanjutnya memperkuat invasi jaringan endometrium ke dalam miometrium. Proses ini berlangsung terus-menerus sehingga menyebabkan perkembangan lesi adenomiosis (Leyendecker et al., 2015).

Faktor hormonal juga memiliki peran penting dalam perkembangan adenomiosis. Estrogen diketahui meningkatkan proliferasi jaringan endometrium dan merangsang pertumbuhan lesi adenomiosis. Oleh karena itu, penyakit ini lebih sering ditemukan pada wanita usia reproduktif dan gejalanya cenderung membaik setelah menopause ketika kadar estrogen menurun (Bulun et al., 2023).

Selain faktor hormonal, beberapa faktor risiko telah diidentifikasi berhubungan dengan kejadian adenomiosis. Faktor-faktor tersebut meliputi:

1.      Usia

Adenomiosis paling sering ditemukan pada wanita berusia 35–50 tahun. Risiko meningkat seiring bertambahnya usia reproduktif karena paparan estrogen yang berlangsung lebih lama (Chapron et al., 2020).

2.      Multiparitas

Wanita yang pernah melahirkan lebih dari satu kali memiliki risiko lebih tinggi mengalami adenomiosis. Kehamilan dan persalinan dapat menyebabkan perubahan struktur miometrium dan junctional zone yang mempermudah invasi jaringan endometrium (Vannuccini & Petraglia, 2019).

3.      Riwayat Operasi atau Trauma Uterus

Tindakan medis seperti sectio caesarea, kuretase, miomektomi, histeroskopi, dan operasi uterus lainnya dapat menyebabkan kerusakan pada batas endometrium-miometrium sehingga meningkatkan risiko terjadinya adenomiosis (Chapron et al., 2020).

4.      Paparan Estrogen yang Tinggi

Kondisi yang meningkatkan kadar estrogen, seperti menarke dini, menopause terlambat, obesitas, dan terapi hormon estrogen jangka panjang, dapat meningkatkan risiko perkembangan adenomiosis karena estrogen berperan dalam pertumbuhan jaringan endometrium ektopik (Bulun et al., 2023).

5.      Faktor Genetik

Beberapa penelitian menunjukkan adanya perubahan ekspresi gen tertentu pada jaringan adenomiosis yang menunjukkan kemungkinan keterlibatan faktor genetik dalam patogenesis penyakit ini. Riwayat keluarga dengan penyakit ginekologi tertentu juga diduga meningkatkan risiko adenomiosis (Bulun et al., 2023).

6.      Faktor Inflamasi dan Imunologi

Peningkatan sitokin proinflamasi, faktor pertumbuhan, dan gangguan respons imun lokal pada uterus dapat memfasilitasi invasi jaringan endometrium ke dalam miometrium serta mempertahankan proses inflamasi kronis yang menjadi karakteristik adenomiosis (Vannuccini & Petraglia, 2019).

7.      Endometriosis

Adenomiosis sering ditemukan bersamaan dengan endometriosis. Kedua penyakit ini memiliki mekanisme patogenesis yang serupa, yaitu ketergantungan terhadap estrogen dan keterlibatan proses inflamasi kronis pada sistem reproduksi wanita (Chapron et al., 2020).

8.      Obesitas

Obesitas dapat meningkatkan produksi estrogen melalui konversi androgen menjadi estrogen di jaringan adiposa. Kondisi ini menyebabkan stimulasi pertumbuhan jaringan endometrium yang lebih besar sehingga meningkatkan risiko adenomiosis (Bulun et al., 2023).

9.      Menarke Dini dan Menopause Terlambat

Paparan estrogen dalam waktu yang lebih lama akibat menstruasi yang dimulai lebih awal atau menopause yang terjadi lebih lambat dapat meningkatkan kemungkinan berkembangnya adenomiosis (Vannuccini & Petraglia, 2019).

D.    Manifestasi klinis

Manifestasi Klinis adenomiosis sangat bervariasi, mulai dari tanpa gejala (asimtomatik) hingga gejala berat yang dapat mengganggu kualitas hidup penderita. Tingkat keparahan gejala dipengaruhi oleh luas lesi, kedalaman infiltrasi jaringan endometrium ke dalam miometrium, serta respons inflamasi yang terjadi pada uterus. Beberapa wanita tidak menunjukkan keluhan yang bermakna, sementara sebagian lainnya mengalami nyeri hebat dan perdarahan menstruasi abnormal yang memerlukan penanganan medis (Bulun et al., 2023).

Gejala yang paling sering ditemukan pada pasien adenomiosis adalah dismenore progresif, yaitu nyeri haid yang semakin berat dari waktu ke waktu. Nyeri biasanya dirasakan pada perut bagian bawah atau daerah panggul dan dapat menjalar ke punggung bawah maupun paha. Nyeri terjadi akibat peningkatan kontraksi uterus, inflamasi kronis, dan pelepasan prostaglandin yang berlebihan pada jaringan adenomiosis (Vannuccini & Petraglia, 2019).

Selain nyeri haid, banyak pasien mengalami perdarahan menstruasi abnormal, terutama berupa menoragia (perdarahan menstruasi berlebihan dengan durasi dan volume yang meningkat) serta menometroragia, yaitu perdarahan yang terjadi di antara siklus menstruasi. Perdarahan yang berlebihan tersebut dapat berlangsung dalam jangka waktu lama dan menjadi salah satu alasan utama pasien mencari pertolongan medis (Chapron et al., 2020).

Pasien juga sering mengeluhkan nyeri panggul kronis, yaitu nyeri yang berlangsung lebih dari enam bulan dan tidak selalu berkaitan dengan siklus menstruasi. Nyeri ini dapat bersifat tumpul, menetap, atau hilang timbul akibat proses inflamasi kronis pada miometrium (Bulun et al., 2023).

Keluhan lain yang cukup sering ditemukan adalah dispareunia, yaitu nyeri saat atau setelah melakukan hubungan seksual. Gejala ini terjadi akibat peningkatan sensitivitas jaringan pelvis dan adanya inflamasi yang melibatkan struktur reproduksi di sekitar uterus (Younes & Tulandi, 2017).

Pada beberapa pasien, adenomiosis dapat menyebabkan gangguan reproduksi, seperti infertilitas, kesulitan implantasi embrio, keguguran berulang, atau penurunan keberhasilan program fertilisasi in vitro (IVF). Mekanisme yang mendasari kondisi ini berkaitan dengan perubahan struktur dan kontraktilitas uterus yang mengganggu proses implantasi dan perkembangan embrio (Chapron et al., 2020).

Perdarahan menstruasi yang berlebihan dalam jangka panjang dapat menyebabkan anemia defisiensi besi. Kondisi ini ditandai dengan gejala mudah lelah, lemah, pucat, pusing, berdebar-debar, sesak saat aktivitas, penurunan konsentrasi, dan intoleransi aktivitas. Anemia merupakan komplikasi yang cukup sering ditemukan pada pasien dengan adenomiosis yang mengalami menoragia kronis (Bulun et al., 2023).

Pada pemeriksaan fisik, uterus biasanya ditemukan dalam keadaan membesar secara difus, berbentuk globuler (bulat), dan terasa lebih lunak dibandingkan uterus normal saat dilakukan pemeriksaan bimanual. Beberapa pasien juga menunjukkan nyeri tekan pada daerah pelvis atau uterus saat pemeriksaan ginekologis (Vannuccini & Petraglia, 2019).

Secara umum, manifestasi klinis adenomiosis dapat dirangkum sebagai berikut:

Gejala Subjektif

1)      Dismenore progresif (nyeri haid semakin berat).

2)      Nyeri panggul kronis.

3)      Menoragia (perdarahan menstruasi berlebihan).

4)      Menometroragia (perdarahan di luar siklus menstruasi).

5)      Dispareunia (nyeri saat hubungan seksual).

6)      Rasa tertekan atau penuh pada panggul.

7)      Nyeri punggung bawah saat menstruasi.

8)      Kelemahan dan mudah lelah.

9)      Pusing akibat anemia.

10)  Gangguan kesuburan atau infertilitas.

Tanda Objektif

1)      Uterus membesar (uterine enlargement).

2)      Uterus berbentuk globuler.

3)      Nyeri tekan pada pelvis atau uterus.

4)      Konjungtiva pucat akibat anemia.

5)      Kadar hemoglobin menurun.

6)      Kulit dan mukosa tampak pucat.

7)      Takikardia pada anemia berat.

8)      Hasil USG menunjukkan heterogenitas miometrium, kista miometrium kecil, dan penebalan dinding uterus.

E.     Patofisiologi

Adenomiosis merupakan kondisi ketika jaringan endometrium yang seharusnya berada pada lapisan dalam rahim (endometrium) ditemukan di dalam lapisan otot rahim (miometrium). Keadaan ini diduga terjadi akibat masuknya lapisan basal endometrium ke dalam miometrium melalui batas antara endometrium dan miometrium yang mengalami kerusakan. Kerusakan tersebut dapat dipengaruhi oleh proses persalinan, tindakan pembedahan pada uterus, maupun kontraksi uterus yang terjadi berulang kali (Chapron et al., 2020).

Jaringan endometrium yang berada di dalam miometrium tetap mengalami perubahan sesuai siklus menstruasi. Saat terjadi peningkatan hormon estrogen dan progesteron, jaringan tersebut mengalami proliferasi. Selanjutnya, pada fase menstruasi jaringan akan mengalami peluruhan dan perdarahan sebagaimana endometrium normal. Namun, karena letaknya berada di dalam miometrium, darah yang dihasilkan tidak dapat keluar secara normal sehingga menimbulkan perdarahan di dalam jaringan otot rahim (Bulun et al., 2023).

Perdarahan yang terjadi berulang akan memicu reaksi inflamasi kronis pada miometrium. Proses inflamasi ini menyebabkan peningkatan produksi prostaglandin, sitokin, dan mediator inflamasi lainnya yang berperan dalam timbulnya nyeri. Akibatnya, pasien sering mengalami dismenore yang semakin berat dari waktu ke waktu serta nyeri panggul kronis (Vannuccini & Petraglia, 2019).

Selain itu, adanya jaringan endometrium ektopik dan proses inflamasi yang berlangsung terus-menerus menyebabkan serabut otot miometrium mengalami hipertrofi dan hiperplasia. Perubahan tersebut mengakibatkan uterus membesar, berbentuk lebih bulat (globular), dan terasa lebih lunak saat dilakukan pemeriksaan ginekologi. Pembesaran uterus merupakan salah satu karakteristik yang sering ditemukan pada pasien adenomiosis (Chapron et al., 2020).

Perubahan struktur miometrium juga menyebabkan kontraksi uterus menjadi lebih kuat dan tidak teratur. Kondisi ini berkontribusi terhadap munculnya nyeri haid yang hebat. Di samping itu, peningkatan vaskularisasi dan gangguan mekanisme hemostasis pada uterus dapat menyebabkan perdarahan menstruasi yang lebih banyak dan berlangsung lebih lama dibandingkan keadaan normal (Bulun et al., 2023).

Perdarahan menstruasi yang berlebihan dan berlangsung dalam waktu lama dapat menyebabkan penurunan kadar hemoglobin sehingga terjadi anemia defisiensi besi. Pasien dengan anemia biasanya mengeluhkan lemah, mudah lelah, pusing, berdebar, serta penurunan toleransi terhadap aktivitas fisik. Apabila tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat menurunkan kualitas hidup pasien secara signifikan (Vannuccini & Petraglia, 2019).

F.      Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang pada adenomiosis bertujuan untuk menegakkan diagnosis, menentukan luas lesi, menyingkirkan kemungkinan penyakit lain seperti mioma uteri dan endometriosis, serta menilai komplikasi yang mungkin terjadi. Diagnosis adenomiosis ditegakkan berdasarkan kombinasi anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan pencitraan, dan pemeriksaan histopatologi (Chapron et al., 2020).

1)      Ultrasonografi Transvaginal (USG TV)

Ultrasonografi transvaginal merupakan pemeriksaan pencitraan yang paling sering digunakan sebagai modalitas awal karena mudah dilakukan, tidak invasif, biaya relatif terjangkau, dan memiliki akurasi yang cukup baik dalam mendeteksi adenomiosis.

Beberapa gambaran khas adenomiosis pada USG transvaginal meliputi:

·         Pembesaran uterus tanpa adanya massa yang jelas.

·         Miometrium tampak heterogen.

·         Penebalan dinding uterus yang tidak simetris.

·         Adanya kista-kista kecil pada miometrium.

·         Bayangan garis atau striasi hiperekoik pada miometrium.

·         Batas antara endometrium dan miometrium tampak tidak teratur.

·         Uterus berbentuk globular (membulat).

USG transvaginal sering menjadi pilihan pertama karena sensitivitasnya mencapai sekitar 72–82% dan spesifisitas sekitar 81–85% dalam mendeteksi adenomiosis (Van den Bosch et al., 2022).

2)      Magnetic Resonance Imaging (MRI)

MRI merupakan pemeriksaan pencitraan dengan akurasi tinggi yang sering digunakan apabila hasil USG belum memberikan gambaran yang jelas atau diperlukan evaluasi lebih lanjut sebelum tindakan operatif.

Temuan khas MRI pada adenomiosis meliputi:

·         Penebalan junctional zone lebih dari 12 mm.

·         Pembesaran uterus.

·         Area miometrium yang tampak heterogen.

·         Lesi fokal atau adenomioma.

·         Kista kecil dalam miometrium.

MRI memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang lebih tinggi dibandingkan USG serta mampu membedakan adenomiosis dengan mioma uteri secara lebih akurat (Chapron et al., 2020).

3)      Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk menilai dampak klinis akibat perdarahan menstruasi yang berlebihan dan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain.

a)      Darah Lengkap (Complete Blood Count)

Pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai adanya anemia akibat perdarahan kronis.

Temuan yang dapat dijumpai antara lain:

·         Hemoglobin (Hb) menurun.

·         Hematokrit menurun.

·         Eritrosit menurun.

·         MCV dan MCH dapat menurun pada anemia defisiensi besi.

b)      Pemeriksaan Status Besi

·         Dilakukan apabila dicurigai anemia defisiensi besi.

·         Hasil yang dapat ditemukan:

·         Ferritin serum menurun.

·         Serum iron menurun.

·         Total Iron Binding Capacity (TIBC) meningkat.

c)      Pemeriksaan Ginekologi (Pemeriksaan Bimanual)

Pemeriksaan fisik ginekologi dapat memberikan gambaran awal mengenai kondisi uterus.

Temuan yang sering dijumpai:

·         Uterus membesar.

·         Uterus berbentuk globular.

·         Konsistensi uterus lebih lunak.

·         Nyeri tekan pada daerah pelvis.

Meskipun tidak dapat memastikan diagnosis, pemeriksaan ini membantu mengarahkan kecurigaan klinis terhadap adenomiosis (Vannuccini & Petraglia, 2019).

4)      Histopatologi

Pemeriksaan histopatologi merupakan standar emas (gold standard) dalam menegakkan diagnosis adenomiosis. Pemeriksaan dilakukan terhadap jaringan uterus yang diperoleh setelah histerektomi atau tindakan pembedahan lainnya.

Diagnosis ditegakkan apabila ditemukan:

·         Kelenjar endometrium dan stroma endometrium di dalam miometrium.

·         Hipertrofi dan hiperplasia serabut otot polos di sekitar lesi.

G.    Diagnosa

Pada pasien adenomiosis pre operasi (misalnya akan menjalani histerektomi atau adenomiomektomi), diagnosis keperawatan yang sering muncul dan menjadi prioritas adalah:

1)      Nyeri Akut

Berhubungan dengan: agen pencedera fisiologis (inflamasi miometrium dan peningkatan kontraksi uterus).

DS:

·         Mengeluh nyeri perut bawah.

·         Mengeluh nyeri haid hebat.

·         Mengeluh nyeri panggul.

DO:

·         Tampak meringis.

·         Gelisah.

·         Skala nyeri meningkat.

·         Tampak memegang area yang nyeri.

2)      Intoleransi Aktivitas

Berhubungan dengan: kelemahan fisik akibat anemia sekunder perdarahan menstruasi berlebihan.

DS:

·         Mudah lelah.

·         Cepat lemas saat beraktivitas.

DO:

·         Hb menurun.

·         Konjungtiva pucat.

·         Aktivitas tampak terbatas

3)      Ansietas

Berhubungan dengan: kurang terpapar informasi tentang prosedur operasi dan kondisi penyakit.

DS:

·         Mengatakan takut menjalani operasi.

·         Mengungkapkan kekhawatiran terhadap hasil operasi.

DO:

·         Tampak tegang.

·         Sulit tidur.

·         Frekuensi nadi meningkat.

·         Wajah tampak cemas.

4)      Defisit Pengetahuan

Berhubungan dengan: kurang terpapar informasi mengenai penyakit dan tindakan operasi.

DS:

·         Bertanya tentang prosedur operasi.

·         Bertanya tentang perawatan setelah operasi.

DO:

·         Menunjukkan pemahaman yang kurang tentang penyakit dan tindakan yang akan dilakukan.

5)      Risiko Perdarahan

Berhubungan dengan: kelainan struktur uterus dan tindakan pembedahan yang akan dilakukan.

Faktor risiko:  Tindakan pembedahan

H.    Komplikasi

Adenomiosis dapat menyebabkan berbagai komplikasi yang berdampak pada kesehatan fisik, psikologis, dan kualitas hidup pasien. Salah satu komplikasi yang paling sering terjadi adalah anemia defisiensi besi akibat perdarahan menstruasi berlebihan (menorrhagia) yang berlangsung kronis. Kehilangan darah dalam jumlah besar secara terus-menerus dapat menyebabkan penurunan kadar hemoglobin sehingga pasien mengalami kelemahan, mudah lelah, pusing, dan penurunan toleransi aktivitas (Chapron et al., 2020).

Selain itu, adenomiosis dapat menyebabkan nyeri panggul kronis dan dismenore berat yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, hubungan sosial, serta produktivitas kerja. Nyeri yang berlangsung lama juga berpotensi meningkatkan risiko gangguan psikologis seperti kecemasan dan depresi akibat penurunan kualitas hidup yang signifikan (Vannuccini & Petraglia, 2019).

            Komplikasi lain yang penting adalah gangguan fertilitas (infertilitas). Adenomiosis dapat mengubah struktur dan fungsi miometrium serta lingkungan endometrium sehingga mengganggu implantasi embrio dan meningkatkan risiko kegagalan kehamilan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa wanita dengan adenomiosis memiliki angka keberhasilan fertilisasi in vitro (IVF) yang lebih rendah dibandingkan wanita tanpa adenomiosis (Younes & Tulandi, 2017).

            Pada wanita yang berhasil hamil, adenomiosis juga dikaitkan dengan peningkatan risiko komplikasi obstetri, seperti abortus spontan, persalinan prematur, ketuban pecah dini, preeklamsia, perdarahan postpartum, dan restriksi pertumbuhan janin. Hal ini diduga berkaitan dengan perubahan struktur uterus dan gangguan proses implantasi plasenta (Harada et al., 2016).

            Pada kasus yang berat dan tidak responsif terhadap terapi konservatif, pasien dapat memerlukan tindakan histerektomi sebagai terapi definitif. Tindakan ini menghilangkan kemampuan reproduksi wanita dan dapat menimbulkan dampak psikologis maupun sosial yang perlu diperhatikan dalam asuhan kesehatan secara menyeluruh (Chapron et al., 2020).

I.        Penatalaksanaan

Penatalaksanaan adenomiosis bertujuan untuk mengurangi gejala, mengendalikan perdarahan uterus abnormal, meredakan nyeri, mempertahankan fertilitas bila diinginkan, serta meningkatkan kualitas hidup pasien. Pemilihan terapi disesuaikan dengan usia, tingkat keparahan gejala, keinginan memiliki keturunan, dan kondisi klinis pasien.

1)      Terapi Medikamentosa

Terapi farmakologis umumnya menjadi pilihan pertama pada pasien dengan gejala ringan hingga sedang. Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) seperti ibuprofen dan asam mefenamat digunakan untuk mengurangi dismenore dan nyeri panggul dengan menghambat produksi prostaglandin. Selain itu, terapi hormonal dapat diberikan untuk menekan pertumbuhan jaringan endometrium ektopik dan mengurangi perdarahan menstruasi. Pilihan terapi hormonal meliputi kontrasepsi oral kombinasi, progestin oral, injeksi depot medroksiprogesteron asetat, dan levonorgestrel-releasing intrauterine system (LNG-IUS) yang terbukti efektif mengurangi nyeri dan volume perdarahan menstruasi (Vannuccini & Petraglia, 2019).

2)      Terapi Konservatif dan Minimal Invasif

Pada pasien yang masih ingin mempertahankan fertilitas, tindakan konservatif dapat dipertimbangkan. Salah satunya adalah adenomyomectomy, yaitu pengangkatan jaringan adenomiosis dengan mempertahankan uterus. Selain itu, beberapa prosedur minimal invasif seperti uterine artery embolization (UAE) dan high-intensity focused ultrasound (HIFU) dapat digunakan untuk mengurangi gejala dengan menurunkan suplai darah ke jaringan adenomiosis atau menghancurkan jaringan abnormal tanpa operasi besar (Chapron et al., 2020).

3)      Terapi Operatif

Pada kasus adenomiosis berat, gejala yang menetap meskipun telah diberikan terapi konservatif, atau pada pasien yang tidak lagi menginginkan kehamilan, histerektomi merupakan terapi definitif yang paling efektif. Tindakan ini menghilangkan sumber penyakit dan memberikan perbaikan gejala yang signifikan. Namun, keputusan untuk melakukan histerektomi harus mempertimbangkan usia, kondisi psikologis, dan keinginan reproduksi pasien (Harada et al., 2016).

4)      Penatalaksanaan Suportif

Pasien dengan perdarahan menstruasi berlebihan yang menyebabkan anemia memerlukan terapi tambahan berupa suplemen zat besi atau transfusi darah pada kondisi tertentu. Edukasi mengenai penyakit, dukungan psikologis, serta pemantauan berkala juga penting untuk meningkatkan kepatuhan terhadap terapi dan kualitas hidup pasien (Vannuccini & Petraglia, 2019).

J.       Pathway

FAKTOR RISIKO

Usia 35–50 tahun

Multiparitas

Riwayat operasi uterus

(seksio sesarea, kuretase, miomektomi)

Peningkatan kadar estrogen

Riwayat trauma pada dinding uterus

Invaginasi jaringan endometrium

ke dalam lapisan miometrium

Pertumbuhan kelenjar dan stroma endometrium

di dalam miometrium

Hipertrofi dan hiperplasia miometrium

Pembesaran uterus dan inflamasi lokal

┌─────────────┼─────────────┐

                                      

Peningkatan       Kontraksi        Perdarahan

Prostaglandin     uterus              menstruasi

berlebihan                                  berlebihan

 


                             

Nyeri panggul   Dismenore     Menorrhagia

kronis          berat                    

                                                      Kehilangan darah

└──────┬──────┘      

                                                   Penurunan Hb

                                                  (Anemia)

    NYERI                                          

                     

Nyeri Akut

                                                                          Kelemahan fisik

                                                                    dan penurunan

                                                                                      suplai oksigen

                                                                   

Intoleransi Aktivitas

 

Gangguan struktur dan fungsi uterus

Gangguan implantasi embrio

dan perubahan kontraktilitas uterus

Infertilitas / Gangguan Fertilitas

Perasaan khawatir, takut,

dan stres terhadap kondisi reproduksi

Diagnosa SDKI:

Ansietas (D.0080)

 

Kurang terpapar informasi

tentang penyakit dan tindakan operasi

Diagnosa SDKI:

Defisit Pengetahuan (D.0111)

 

Rencana tindakan pembedahan

(Histerektomi/Laparotomi)

Risiko terjadinya perdarahan

selama tindakan operasi

Diagnosa SDKI:

Risiko Perdarahan (D.0012)

 

 

 

 

 

K.    Asuhan Keperawatan Berdasarkan Teori

1.      Pengkajian Ginekologi

1)      Identitas Pasien

Pengkajian diawali dengan identitas pasien yang meliputi nama, usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, agama, alamat, tanggal masuk rumah sakit, serta diagnosis medis

2)      Status Kesehatan saat ini

Keluhan Utama:

Pasien biasanya datang dengan keluhan:

·         Nyeri haid yang berat (dismenore)

·         Perdarahan menstruasi berlebihan (menorrhagia)

·         Nyeri panggul kronis

·         Perut bagian bawah terasa penuh atau membesar

·         Cepat lelah akibat perdarahan yang banyak

3)      Riwayat Penyakit Sekarang

Keluhan dirasakan sejak beberapa bulan atau tahun terakhir. Nyeri biasanya muncul sebelum dan selama menstruasi, dirasakan di perut bagian bawah dan dapat menjalar ke pinggang. Menstruasi berlangsung lebih lama dari biasanya dan jumlah darah yang keluar lebih banyak. Pasien dapat mengeluh lemas, pusing, dan mudah lelah akibat kehilangan darah yang berlebihan.

4)      Riwayat Kesehatan dahulu

Riwayat kesehatan dahulu meliputi adanya penyakit ginekologi sebelumnya, seperti endometriosis, mioma uteri, kista ovarium, atau riwayat infertilitas. Perawat juga perlu mengkaji riwayat tindakan pada uterus, seperti seksio sesarea, kuretase, miomektomi, atau operasi ginekologi lainnya yang dapat menjadi faktor risiko terjadinya adenomiosis. Riwayat penggunaan kontrasepsi hormonal dan penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes melitus, maupun anemia juga perlu dikaji.

5)      Riwayat Penyakit Keluarga

Riwayat kesehatan keluarga perlu ditelusuri untuk mengetahui adanya anggota keluarga yang memiliki penyakit ginekologi, seperti mioma uteri, endometriosis, atau kanker sistem reproduksi. Meskipun adenomiosis tidak termasuk penyakit genetik, informasi ini tetap penting untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kondisi kesehatan keluarga.

6)      Riwayat Menstruasi

Pengkajian menstruasi meliputi usia menarche, siklus menstruasi, lama menstruasi, jumlah darah menstruasi, adanya dismenore, keteraturan siklus, dan hari pertama haid terakhir (HPHT). Pada adenomiosis umumnya ditemukan menstruasi yang lebih lama, lebih banyak, dan lebih nyeri dibandingkan kondisi normal.

7)      Riwayat Obstetri

Riwayat obstetri mencakup gravida, para, abortus (GPA), jumlah anak hidup, riwayat persalinan normal atau seksio sesarea, serta adanya komplikasi selama kehamilan dan persalinan. Adenomiosis lebih sering ditemukan pada wanita yang pernah melahirkan lebih dari satu kali.

6)      Riwayat Ginekologi

Riwayat ginekologi meliputi adanya keputihan, perdarahan abnormal di luar menstruasi, nyeri saat berhubungan seksual (dispareunia), infertilitas, penggunaan alat kontrasepsi, serta riwayat penyakit ginekologi lainnya. Data ini penting untuk membantu menegakkan diagnosis dan menentukan masalah keperawatan yang muncul.

7)      Pola Fungsi Kesehatan

a.       Pola Persepsi dan Manajemen Kesehatan

Mengkaji pemahaman pasien mengenai penyakit yang diderita, kebiasaan berobat, kepatuhan terhadap pengobatan, dan upaya yang dilakukan untuk mengatasi keluhan.

b.      Pola Nutrisi dan Metabolik

Mengkaji nafsu makan, jenis makanan yang dikonsumsi, frekuensi makan, perubahan berat badan, serta tanda-tanda anemia seperti konjungtiva pucat.

c.       Pola Eliminasi

Mengkaji frekuensi dan karakteristik buang air kecil serta buang air besar, termasuk adanya keluhan saat eliminasi.

d.      Pola Aktivitas dan Latihan

Mengkaji kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari, tingkat kelelahan, serta pengaruh nyeri terhadap aktivitas.

e.       Pola Istirahat dan Tidur

Mengkaji lama tidur, kualitas tidur, dan gangguan tidur yang disebabkan oleh nyeri.

f.        Pola Kognitif dan Persepsi

Mengkaji tingkat kesadaran, kemampuan komunikasi, serta persepsi pasien terhadap nyeri yang dialami.

g.      Pola Persepsi Diri dan Konsep Diri

Mengkaji perasaan pasien terhadap kondisi penyakitnya, terutama bila terdapat gangguan fertilitas atau rencana pembedahan.

h.      Pola Peran dan Hubungan

Mengkaji hubungan pasien dengan pasangan, keluarga, dan lingkungan sosial.

i.        Pola Seksualitas dan Reproduksi

Mengkaji gangguan fungsi seksual, dispareunia, keinginan memiliki keturunan, dan masalah reproduksi lainnya.

j.        Pola Koping dan Toleransi Stres

Mengkaji respons emosional pasien terhadap penyakit, kecemasan, dan kemampuan mengatasi stres.

k.      Pola Nilai dan Keyakinan

Mengkaji nilai, budaya, dan keyakinan yang memengaruhi proses pengobatan.

l.        Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik pada pasien dengan adenomiosis dilakukan secara sistematis menggunakan metode inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi.

Pemeriksaan diawali dengan menilai keadaan umum pasien, tingkat kesadaran, dan tanda-tanda vital. Keadaan umum dapat bervariasi dari baik hingga lemah tergantung derajat nyeri dan jumlah perdarahan yang dialami. Tingkat kesadaran umumnya compos mentis. Tanda-tanda vital yang dinilai meliputi tekanan darah, frekuensi nadi, frekuensi napas, dan suhu tubuh. Pada pasien dengan perdarahan menstruasi berlebihan dapat ditemukan takikardia dan penurunan tekanan darah akibat anemia atau kehilangan darah yang berlangsung lama (Berek, 2020).

            Pemeriksaan kepala dan leher dilakukan untuk menilai adanya tanda-tanda anemia maupun gangguan sistemik lainnya. Pada pemeriksaan mata perlu diperhatikan warna konjungtiva, karena pasien dengan menorrhagia kronis dapat menunjukkan konjungtiva yang pucat. Pemeriksaan mulut dilakukan untuk menilai kelembapan mukosa dan warna mukosa oral. Pada leher dilakukan inspeksi dan palpasi terhadap kelenjar tiroid dan kelenjar getah bening untuk mengidentifikasi adanya kelainan yang menyertai (Berek, 2020).

            Pemeriksaan sistem respirasi meliputi inspeksi bentuk dan pergerakan dinding dada, palpasi ekspansi paru, perkusi lapang paru, serta auskultasi suara napas. Umumnya tidak ditemukan kelainan spesifik pada sistem pernapasan akibat adenomiosis, kecuali jika terdapat gangguan lain yang menyertai. Pemeriksaan sistem kardiovaskular dilakukan dengan menilai frekuensi dan irama nadi, bunyi jantung, serta perfusi perifer. Pada pasien yang mengalami anemia dapat ditemukan peningkatan frekuensi nadi sebagai mekanisme kompensasi tubuh terhadap penurunan kapasitas pengangkutan oksigen (Vannuccini & Petraglia, 2019).

            Pemeriksaan abdomen merupakan bagian penting dalam pengkajian pasien adenomiosis. Inspeksi dilakukan untuk melihat bentuk abdomen dan adanya pembesaran. Auskultasi dilakukan untuk menilai bising usus. Perkusi dilakukan untuk menentukan adanya perubahan densitas jaringan, sedangkan palpasi bertujuan mengidentifikasi nyeri tekan, massa, atau pembesaran organ. Pada adenomiosis dapat ditemukan nyeri tekan di daerah suprapubik serta pembesaran uterus yang menyebabkan sensasi penuh pada perut bagian bawah (Chapron et al., 2020).

            Pemeriksaan sistem reproduksi dilakukan melalui inspeksi genitalia eksterna, pemeriksaan spekulum, dan pemeriksaan bimanual. Pada inspeksi dapat ditemukan perdarahan pervaginam sesuai kondisi pasien. Pemeriksaan spekulum bertujuan mengevaluasi vagina dan serviks serta menyingkirkan penyebab lain dari perdarahan abnormal. Pemeriksaan bimanual merupakan pemeriksaan penting karena pada adenomiosis sering ditemukan uterus yang membesar secara difus, berbentuk globuler, lunak, dan nyeri saat digerakkan atau dipalpasi. Pemeriksaan ini juga membantu menilai adanya massa pelvis atau kelainan ginekologi lain yang menyertai (Berek, 2020).

            Pemeriksaan sistem muskuloskeletal dilakukan dengan menilai kekuatan otot, rentang gerak, dan kemampuan aktivitas pasien. Pada pasien dengan anemia akibat menorrhagia dapat ditemukan kelemahan dan penurunan toleransi aktivitas. Pemeriksaan integumen meliputi penilaian warna kulit, turgor, kelembapan, dan adanya lesi. Kulit dan membran mukosa dapat tampak pucat pada pasien yang mengalami anemia kronis. Pemeriksaan ekstremitas dilakukan untuk menilai kekuatan otot, adanya edema, suhu akral, dan capillary refill time (CRT) sebagai indikator perfusi perifer (Potter et al., 2021).

2.      Diagnosa Keperawatan (SDKI)

1)      Nyeri Akut (D.0077)

Berhubungan dengan: agen pencedera fisiologis (inflamasi)

DS:

·         Mengeluh nyeri perut bawah.

·         Mengeluh nyeri haid hebat.

·         Mengeluh nyeri panggul.

DO:

·         Tampak meringis.

·         Gelisah.

·         Skala nyeri meningkat.

·         Tampak memegang area yang nyeri.

2)      Intoleransi Aktivitas (D.0056)

Berhubungan dengan: kelemahan fisik akibat anemia sekunder perdarahan menstruasi berlebihan.

DS:

·         Mudah lelah.

·         Cepat lemas saat beraktivitas.

DO:

·         Hb menurun.

·         Konjungtiva pucat.

·         Aktivitas tampak terbatas

3)      Ansietas (D.0080)

Berhubungan dengan: kurang terpapar informasi tentang prosedur operasi dan kondisi penyakit.

DS:

·         Mengatakan takut menjalani operasi.

·         Mengungkapkan kekhawatiran terhadap hasil operasi.

DO:

·         Tampak tegang.

·         Sulit tidur.

·         Frekuensi nadi meningkat.

·         Wajah tampak cemas.

4)      Defisit Pengetahuan (D.0111)

Berhubungan dengan: kurang terpapar informasi mengenai penyakit dan tindakan operasi.

DS:

·         Bertanya tentang prosedur operasi.

·         Bertanya tentang perawatan setelah operasi.

DO:

·         Menunjukkan pemahaman yang kurang tentang penyakit dan tindakan yang akan dilakukan.

5)      Risiko Perdarahan (D.0012)

Berhubungan dengan: kelainan struktur uterus dan tindakan pembedahan yang akan dilakukan.

Faktor risiko:  Tindakan pembedahan

 

 

 

 

 

3.      Perencanaan/Intervensi

NO

Diagnosa Keperawatan

Tujuan Keperawatan (SLKI)

Intervensi Keperawatan (SIKI)

1

Nyeri Akut b.d agen pencedera fisiologis (inflamasi)

Setelah dilakukan Tindakan Keperawatan 3x24 jam maka, kriteria hasil yang diharapkan:

·         Keluhan nyeri menurun

·         Meringis menurun

·         Gelisah menurun

·         Nyeri perut bawah menurun

·         Nyeri panggul menurun

Manajemen Nyeri (I.08238)

Observasi:

·         Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri

·         Identifikasi skala nyeri

·         Identifikasi respons nyeri non verbal

·         identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri

·         Identifikasi pengetahuan dan keyaninan tentang nyeri

·         Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri

·         Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup

·         Monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan

·         Monitor efek samping penggunaan analgetic

Terapeutik:

·         Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis. TENS, hipnosis, akupresur, terapi musik, biofeedback, terapi pijat, aromaterapi, teknik imajinasi terbimbing. kompres hangat/dingin, terapi bermain)

·         Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis, suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan)

·         Fasilitasi istirahat dan tidur Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi meredakan nyeri

Edukasi

·         Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri

·         Jelaskan strategi meredakan nyeri

·         Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri

·         Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat

·         Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri

Kolaborasi

·         Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu

2

Intoleransi Aktivitas b.d kelemahan fisik

Setelah dilakukan Tindakan Keperawatan 3x24 jam maka, kriteria hasil yang diharapkan:

·         Keluhan Lelah menurun

·         Aktivitas sehari-hari meningkat

·         Konjungtiva pucat

·         Aktivitas tampak terbatas

·         Frekuensi nadi membaik

·          

Observasi:

·         Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan

·         Monitor kelelahan fisik dan emosional

·         Monitor pola dan jam tidur

·         Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas

 

Terapeutik:

 

·         Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus (mis, cahaya, suara, kunjungan)

·         Lakukan latihan rentang gerak pasif dan/atau aktif

·         Berikan aktivitas distraksi yang menenangkan

·         Fasilitasi duduk di sisi tempat tidur, jika tidak dapat berpindah atau berjalan

Edukasi:

·         Anjurkan tirah baring

·         Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap

·         Anjurkan menghubungi perawat jika tanda dan gejala kelelahan tidak berkurang

·         Ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan

Kolaborasi:

 

·         Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan.

3

Ansietas b.d kurang terpapar informasi

Setelah dilakukan Tindakan Keperawatan 3x24 jam maka, kriteria hasil yang diharapkan:

·         Verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun

·         Perilaku gelisah menurun

·         Perilaku tegang menurun

Terapi Relaksasi (I.09326)

Observasi

 

·         Identifikasi penurunan tingkat energi, ketidakmampuan berkonsentrasi, atau gejala lain yang mengganggu kemampuan kognitif

·         Identifikasi teknik relaksasi yang pernah efektif digunakan

·         Identifikasi kesediaan, kemampuan, dan penggunaan teknik sebelumnya

·         Periksa ketegangan otot, frekuensi nadi, tekanan darah, dan suhu sebelum dan sesudah

Latihan

·         Monitor respons terhadap terapi relaksasi

Terapeutik:

·         Ciptakan lingkungan tenang dan tanpa gangguan dengan pencahayaan dan suhu ruang nyaman, jika memungkinkan

·         Berikan informasi tertulis tentang persiapan dan prosedur teknik relaksasi

·         Gunakan pakaian longgar

·         Gunakan nada suara lembut dengan irama lambat dan berirama

·         Gunakan relaksasi sebagai strategi penunjang dengan analgetik atau tindakan medis lain, jika sesuai

Edukasi:

 

·         Jelaskan tujuan, manfaat, batasan, dan jenis relaksasi yang tersedia (mis. musik, meditasi napas dalam, relaksasi otot progresif)

·         Jelaskan secara rinci intervensi relaksasi yang dipilih

·         Anjurkan mengambil posisi nyaman

·         Anjurkan rileks dan merasakan sensasi relaksasi

·         Anjurkan sering mengulangi atau melatih teknik yang dipilih

·         Demonstrasikan dan latih teknik relaksasi (mis, napas dalam, peregangan, atau imajinasi terbimbing

4

Defisit Pengetahuan b.d kurang terpapar informasi

Setelah dilakukan Tindakan Keperawatan 3x24 jam maka, kriteria hasil yang diharapkan:

·         Pertanyaan tentang masalah yang dihadapi menurun

·         Persepsi yang keliru terhadap masalah menurun

Edukasi Kesehatan (I.12383)

Observasi:

 

·         Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi

·         Identifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan dan menurunkan motivasi perilaku hidup bersih dan sehat

Terapeutik

 

·         Sediakan materi dan media pendidikan Kesehatan

·         Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan

·         Berikan kesempatan untuk bertanya

 

Edukasi:

·         Jekaskan faktor risiko yang dapat mempengaruhi Kesehatan

·         Ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat

·         Ajarkan strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat

5

Risiko Perdarahan Faktor risiko:  Tindakan pembedahan

 

Setelah dilakukan Tindakan Keperawatan 3x24 jam maka, kriteria hasil yang diharapkan:

·         Hemoglobin membaik

·         Perdarahan pasca operasi menurun

·         Perdarahan vagina menurun

Pencegahan Perdarahan (I.02067)

·         Monitor tanda dan gejala perdarahan

·         Monitor nilai hematokrit/hemoglobin sebelum dan setelah kehilangan darah Monitor tanda-tanda vital ortostatik

·         Monitor koagulasi (mis, prothrombin time (PT), partial thromboplastin time (PTT), fibrinoge degradasi fibrin dan/atau platelet)

Teapeutik:

·         Pertahankan bed rest selama perdarahan Batasi tindakan invasif, jika perlu

·         Gunakan kasur pencegah dekubitus

·         Hindari pengukuran suhu rektal

Edukasi

·         Jelaskan tanda dan gejala perdarahan

·         Anjurkan menggunakan kaus kaki saat ambulasi

·         Anjurkan meningkatkan asupan cairan untuk menghindari konstipasi

·         Anjurkan menghindari aspirin atau antikoagulan

·         Anjurkan meningkatkan asupan makanan dan vitamin K

·         Anjurkan segera melapor jika terjadi perdarahan

Kolaborasi:

·         Kolaborasi pemberian obat pengontrol perdarahan, jika perlu Kolaborasi pemberian produk darah, jika perlu

 

·         Kolaborasi pemberian pelunak tinja, jika perlu

 

4.      Implementasi

NO

Diagnosa Keperawatan

Tujuan Keperawatan (SLKI)

Intervensi Keperawatan (SIKI)

1

Nyeri Akut b.d agen pencedera fisiologis (inflamasi)

Setelah dilakukan Tindakan Keperawatan 3x24 jam maka, kriteria hasil yang diharapkan:

·         Keluhan nyeri menurun

·         Meringis menurun

·         Gelisah menurun

·         Nyeri perut bawah menurun

·         Nyeri panggul menurun

Manajemen Nyeri (I.08238)

Observasi:

·         Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri

·         Identifikasi skala nyeri

·         Identifikasi respons nyeri non verbal

·         identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri

·         Identifikasi pengetahuan dan keyaninan tentang nyeri

·         Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri

·         Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup

·         Monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan

·         Monitor efek samping penggunaan analgetic

Terapeutik:

·         Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis. TENS, hipnosis, akupresur, terapi musik, biofeedback, terapi pijat, aromaterapi, teknik imajinasi terbimbing. kompres hangat/dingin, terapi bermain)

·         Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis, suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan)

·         Fasilitasi istirahat dan tidur Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi meredakan nyeri

Edukasi

·         Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri

·         Jelaskan strategi meredakan nyeri

·         Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri

·         Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat

·         Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri

Kolaborasi

·         Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu

2

Intoleransi Aktivitas b.d kelemahan fisik

Setelah dilakukan Tindakan Keperawatan 3x24 jam maka, kriteria hasil yang diharapkan:

·         Keluhan Lelah menurun

·         Aktivitas sehari-hari meningkat

·         Konjungtiva pucat

·         Aktivitas tampak terbatas

·         Frekuensi nadi membaik

·          

Observasi:

·         Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan

·         Monitor kelelahan fisik dan emosional

·         Monitor pola dan jam tidur

·         Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas

 

Terapeutik:

 

·         Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus (mis, cahaya, suara, kunjungan)

·         Lakukan latihan rentang gerak pasif dan/atau aktif

·         Berikan aktivitas distraksi yang menenangkan

·         Fasilitasi duduk di sisi tempat tidur, jika tidak dapat berpindah atau berjalan

Edukasi:

·         Anjurkan tirah baring

·         Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap

·         Anjurkan menghubungi perawat jika tanda dan gejala kelelahan tidak berkurang

·         Ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan

Kolaborasi:

 

·         Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan.

3

Ansietas b.d kurang terpapar informasi

Setelah dilakukan Tindakan Keperawatan 3x24 jam maka, kriteria hasil yang diharapkan:

·         Verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun

·         Perilaku gelisah menurun

·         Perilaku tegang menurun

Terapi Relaksasi (I.09326)

Observasi

 

·         Identifikasi penurunan tingkat energi, ketidakmampuan berkonsentrasi, atau gejala lain yang mengganggu kemampuan kognitif

·         Identifikasi teknik relaksasi yang pernah efektif digunakan

·         Identifikasi kesediaan, kemampuan, dan penggunaan teknik sebelumnya

·         Periksa ketegangan otot, frekuensi nadi, tekanan darah, dan suhu sebelum dan sesudah

Latihan

·         Monitor respons terhadap terapi relaksasi

Terapeutik:

·         Ciptakan lingkungan tenang dan tanpa gangguan dengan pencahayaan dan suhu ruang nyaman, jika memungkinkan

·         Berikan informasi tertulis tentang persiapan dan prosedur teknik relaksasi

·         Gunakan pakaian longgar

·         Gunakan nada suara lembut dengan irama lambat dan berirama

·         Gunakan relaksasi sebagai strategi penunjang dengan analgetik atau tindakan medis lain, jika sesuai

Edukasi:

 

·         Jelaskan tujuan, manfaat, batasan, dan jenis relaksasi yang tersedia (mis. musik, meditasi napas dalam, relaksasi otot progresif)

·         Jelaskan secara rinci intervensi relaksasi yang dipilih

·         Anjurkan mengambil posisi nyaman

·         Anjurkan rileks dan merasakan sensasi relaksasi

·         Anjurkan sering mengulangi atau melatih teknik yang dipilih

·         Demonstrasikan dan latih teknik relaksasi (mis, napas dalam, peregangan, atau imajinasi terbimbing

4

Defisit Pengetahuan b.d kurang terpapar informasi

Setelah dilakukan Tindakan Keperawatan 3x24 jam maka, kriteria hasil yang diharapkan:

·         Pertanyaan tentang masalah yang dihadapi menurun

·         Persepsi yang keliru terhadap masalah menurun

Edukasi Kesehatan (I.12383)

Observasi:

 

·         Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi

·         Identifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan dan menurunkan motivasi perilaku hidup bersih dan sehat

Terapeutik

 

·         Sediakan materi dan media pendidikan Kesehatan

·         Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan

·         Berikan kesempatan untuk bertanya

 

Edukasi:

·         Jekaskan faktor risiko yang dapat mempengaruhi Kesehatan

·         Ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat

·         Ajarkan strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat

5

Risiko Perdarahan Faktor risiko:  Tindakan pembedahan

 

Setelah dilakukan Tindakan Keperawatan 3x24 jam maka, kriteria hasil yang diharapkan:

·         Hemoglobin membaik

·         Perdarahan pasca operasi menurun

·         Perdarahan vagina menurun

Pencegahan Perdarahan (I.02067)

·         Monitor tanda dan gejala perdarahan

·         Monitor nilai hematokrit/hemoglobin sebelum dan setelah kehilangan darah Monitor tanda-tanda vital ortostatik

·         Monitor koagulasi (mis, prothrombin time (PT), partial thromboplastin time (PTT), fibrinoge degradasi fibrin dan/atau platelet)

Teapeutik:

·         Pertahankan bed rest selama perdarahan Batasi tindakan invasif, jika perlu

·         Gunakan kasur pencegah dekubitus

·         Hindari pengukuran suhu rektal

Edukasi

·         Jelaskan tanda dan gejala perdarahan

·         Anjurkan menggunakan kaus kaki saat ambulasi

·         Anjurkan meningkatkan asupan cairan untuk menghindari konstipasi

·         Anjurkan menghindari aspirin atau antikoagulan

·         Anjurkan meningkatkan asupan makanan dan vitamin K

·         Anjurkan segera melapor jika terjadi perdarahan

Kolaborasi:

·         Kolaborasi pemberian obat pengontrol perdarahan, jika perlu Kolaborasi pemberian produk darah, jika perlu

 

·         Kolaborasi pemberian pelunak tinja, jika perlu

5.      Evaluasi

Evaluasi merupakan suatu proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan pada pasien. Evaluasi dilakukan terus-menerus terhadap respon pasien pada tindakan keperawatan yang telah dilakukan. Evaluasi proses atau promoti dilakukan setiap selesai tindakan. Evaluasi dapat dilakukan menggunakan SOAP sebagai pola pikirnya.

S: Respon subjektif pasien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan.

O: Respon objektif pasien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan.

A: Analisa ulang data subjektif dan objektif untuk menyimpulkan apakah masalah teratasi, masalah teratasi sebagian, masalah tidak teratasi atau muncul masalah baru.

P: Perencanaan atau tindak lanjut berdasarkan hasil analisa pada respon pasien

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Abbott, J. A. (2017). Adenomyosis and abnormal uterine bleeding (AUB-A)—Pathogenesis, diagnosis, and management. Best Practice & Research Clinical Obstetrics & Gynaecology, 40, 68–81. https://doi.org/10.1016/j.bpobgyn.2016.09.006

Benagiano, G., Habiba, M., & Brosens, I. (2012). The pathophysiology of uterine adenomyosis: An update. Fertility and Sterility, 98(3), 572–579. https://doi.org/10.1016/j.fertnstert.2012.06.044

Bulun, S. E., Yilmaz, B. D., Sison, C., Miyazaki, K., Bernardi, L., Liu, S., Kohlmeier, A., Yin, P., Milad, M., & Wei, J. (2023). Endometriosis and adenomyosis: Shared pathophysiology and clinical management. Fertility and Sterility, 119(5), 746–765. https://doi.org/10.1016/j.fertnstert.2023.02.018

Chapron, C., Vannuccini, S., Santulli, P., Abrão, M. S., Carmona, F., Fraser, I. S., & Petraglia, F. (2020). Diagnosing adenomyosis: An integrated clinical and imaging approach. Human Reproduction Update, 26(3), 392–411. https://doi.org/10.1093/humupd/dmz049

Naftalin, J., Hoo, W., Pateman, K., Mavrelos, D., Holland, T., & Jurkovic, D. (2012). How common is adenomyosis? A prospective study of prevalence using transvaginal ultrasound in a gynecology clinic. Human Reproduction, 27(12), 3432–3439. https://doi.org/10.1093/humrep/des332

Potter, P. A., Perry, A. G., Stockert, P. A., Hall, A. M., & Ostendorf, W. R. (2021). Fundamentals of nursing (10th ed.). Elsevier.

Vannuccini, S., & Petraglia, F. (2019). Recent advances in understanding and managing adenomyosis. F1000Research, 8, Article 283. https://doi.org/10.12688/f1000research.17242.1


DOWNLOAD LAPORAN PENDAHULUAN DENGAN DIAGNOSA MEDIS ADENOMIOSIS

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOWNLOAD CONTOH SURAT LAMARAN DAPUR MBG

LAPORAN PENDAHULUAN DIARE

Download Undangan Tonjokan: Solusi Praktis dan Efisien untuk Pernikahan (Format MS. Word)