CONTOH LAPORAN PENDAHULUAN DENGAN DIAGNOSA MEDIS ADENOMIOSIS FORMAT MS WORD
LAPORAN PENDAHULUAN DENGAN DIAGNOSA MEDIS ADENOMIOSIS
A.
Definisi
Adenomiosis
merupakan suatu kondisi ginekologi jinak yang ditandai dengan adanya jaringan
endometrium, baik kelenjar maupun stroma endometrium, yang tumbuh di dalam
lapisan miometrium uterus. Invasi jaringan endometrium tersebut menyebabkan
hipertrofi dan hiperplasia miometrium sehingga uterus mengalami pembesaran.
Adenomiosis sering ditemukan pada wanita usia reproduksi dan dapat menimbulkan
gejala berupa dismenore, menoragia, nyeri panggul kronis, serta gangguan
kualitas hidup. Menurut Chapron et al. (2020), adenomiosis merupakan salah satu
penyebab utama nyeri pelvis dan perdarahan uterus abnormal pada wanita usia
reproduktif.
B.
Klasifikasi
Adenomiosis
dapat diklasifikasikan berdasarkan distribusi lesi, kedalaman infiltrasi ke
miometrium, serta gambaran anatomi dan pencitraan. Klasifikasi ini penting
untuk menentukan tingkat keparahan penyakit, pilihan terapi, dan prognosis
pasien.
1. Berdasarkan
Distribusi Lesi pada Miometrium
a.
Adenomiosis Difus (Diffuse
Adenomyosis)
Adenomiosis difus merupakan bentuk yang
paling sering ditemukan. Pada tipe ini, jaringan endometrium tersebar secara
luas ke seluruh lapisan miometrium sehingga menyebabkan pembesaran uterus
secara menyeluruh. Pasien umumnya mengalami dismenore berat, menoragia, dan
nyeri panggul kronis akibat keterlibatan miometrium yang luas (Vannuccini &
Petraglia, 2019).
b. Adenomiosis
Fokal (Focal Adenomyosis/Adenomioma)
Adenomiosis fokal ditandai dengan
adanya lesi yang terlokalisasi pada satu area tertentu dalam miometrium. Lesi
ini dapat membentuk massa yang disebut adenomioma dan sering menyerupai mioma
uteri pada pemeriksaan pencitraan. Gejala yang muncul bergantung pada ukuran
dan lokasi lesi (Chapron et al., 2020).
c. Adenomiosis
Campuran (Mixed Adenomyosis)
Tipe campuran merupakan kombinasi
antara adenomiosis difus dan fokal. Pada kondisi ini ditemukan penyebaran lesi
yang luas disertai adanya adenomioma pada bagian tertentu dari uterus. Bentuk
ini sering dikaitkan dengan gejala yang lebih berat dibandingkan tipe lainnya
(Vannuccini & Petraglia, 2019).
2. Berdasarkan
Kedalaman Infiltrasi Miometrium
a.
Adenomiosis Superfisial
Jaringan endometrium hanya menginvasi
lapisan miometrium bagian dalam dekat endometrium. Gejala biasanya lebih ringan
dan sering ditemukan secara insidental pada pemeriksaan pencitraan.
b.
Adenomiosis Intermediat
Invasi jaringan endometrium mencapai
bagian tengah miometrium sehingga menyebabkan gejala yang lebih nyata berupa
nyeri menstruasi dan perdarahan menstruasi berlebihan.
c.
Adenomiosis Dalam (Deep
Adenomyosis)
Invasi jaringan endometrium mencapai
miometrium bagian luar bahkan mendekati lapisan serosa uterus. Tipe ini sering
berhubungan dengan pembesaran uterus yang signifikan, nyeri panggul kronis, dan
gangguan fertilitas (Chapron et al., 2020).
3. Berdasarkan
Lokasi Anatomi Lesi
a. Adenomiosis
Anterior
Lesi dominan terdapat pada dinding
anterior uterus.
Lesi dominan berada pada dinding posterior uterus. Tipe
ini paling sering ditemukan dan sering berhubungan dengan endometriosis.
Lesi terutama terletak pada fundus uteri.
Lesi berada pada salah satu sisi lateral uterus.
Terjadi penebalan miometrium yang tidak merata sehingga
ukuran uterus tampak tidak simetris (Van den Bosch et al., 2022).
4.
Berdasarkan Gambaran
Pencitraan (MRI dan USG)
a.
Internal Adenomyosis
Lesi berasal dari invaginasi lapisan basal endometrium
menuju miometrium dan terutama melibatkan junctional zone.
Lesi berasal dari infiltrasi jaringan endometriosis
dari luar uterus menuju miometrium bagian luar.
Ditandai keterlibatan luas seluruh miometrium tanpa
batas yang jelas.
Ditandai adanya lesi lokal berbentuk nodul atau
adenomioma
5.
Klasifikasi Kishi (Berdasarkan
Patogenesis)
Menurut Kishi et al., adenomiosis
dibagi menjadi empat tipe:
a.
Tipe I (Intrinsic
Adenomyosis)
b.
Tipe II (Extrinsic
Adenomyosis)
Berasal dari infiltrasi lesi
endometriosis pelvis ke arah miometrium bagian luar.
c.
Tipe III (Intramural
Adenomyosis)
Lesi
berkembang di dalam miometrium tanpa hubungan yang jelas dengan endometrium
maupun serosa.
d.
Tipe IV (Indeterminate
Adenomyosis)
Merupakan tipe yang tidak dapat dimasukkan ke dalam
kategori lain karena karakteristiknya yang bervariasi
6.
Klasifikasi Berdasarkan
Histopatologi
Invasi
jaringan endometrium hanya sedikit dan terbatas pada lapisan miometrium dalam.
Jumlah lesi lebih banyak dengan infiltrasi yang
mencapai miometrium tengah.
Invasi luas hingga miometrium luar disertai hipertrofi
otot uterus yang signifikan dan gejala klinis berat
C.
Etiologi
Wanita yang pernah melahirkan lebih dari satu kali
memiliki risiko lebih tinggi mengalami adenomiosis. Kehamilan dan persalinan
dapat menyebabkan perubahan struktur miometrium dan junctional zone yang
mempermudah invasi jaringan endometrium (Vannuccini & Petraglia, 2019).
3.
Riwayat Operasi atau Trauma
Uterus
4.
Paparan Estrogen yang Tinggi
Kondisi yang meningkatkan kadar estrogen, seperti
menarke dini, menopause terlambat, obesitas, dan terapi hormon estrogen jangka
panjang, dapat meningkatkan risiko perkembangan adenomiosis karena estrogen
berperan dalam pertumbuhan jaringan endometrium ektopik (Bulun et al., 2023).
Beberapa penelitian menunjukkan adanya perubahan
ekspresi gen tertentu pada jaringan adenomiosis yang menunjukkan kemungkinan
keterlibatan faktor genetik dalam patogenesis penyakit ini. Riwayat keluarga
dengan penyakit ginekologi tertentu juga diduga meningkatkan risiko adenomiosis
(Bulun et al., 2023).
6.
Faktor Inflamasi dan
Imunologi
Adenomiosis sering ditemukan bersamaan dengan
endometriosis. Kedua penyakit ini memiliki mekanisme patogenesis yang serupa,
yaitu ketergantungan terhadap estrogen dan keterlibatan proses inflamasi kronis
pada sistem reproduksi wanita (Chapron et al., 2020).
Obesitas dapat meningkatkan produksi estrogen melalui
konversi androgen menjadi estrogen di jaringan adiposa. Kondisi ini menyebabkan
stimulasi pertumbuhan jaringan endometrium yang lebih besar sehingga
meningkatkan risiko adenomiosis (Bulun et al., 2023).
9.
Menarke Dini dan Menopause
Terlambat
Paparan estrogen dalam waktu yang lebih lama akibat
menstruasi yang dimulai lebih awal atau menopause yang terjadi lebih lambat
dapat meningkatkan kemungkinan berkembangnya adenomiosis (Vannuccini &
Petraglia, 2019).
D.
Manifestasi klinis
Manifestasi Klinis adenomiosis sangat bervariasi, mulai dari tanpa gejala
(asimtomatik) hingga gejala berat yang dapat mengganggu kualitas hidup
penderita. Tingkat keparahan gejala dipengaruhi oleh luas lesi, kedalaman
infiltrasi jaringan endometrium ke dalam miometrium, serta respons inflamasi
yang terjadi pada uterus. Beberapa wanita tidak menunjukkan keluhan yang
bermakna, sementara sebagian lainnya mengalami nyeri hebat dan perdarahan
menstruasi abnormal yang memerlukan penanganan medis (Bulun et al., 2023).
Gejala yang paling sering ditemukan pada pasien adenomiosis adalah dismenore
progresif, yaitu nyeri haid yang semakin berat dari waktu ke waktu. Nyeri
biasanya dirasakan pada perut bagian bawah atau daerah panggul dan dapat
menjalar ke punggung bawah maupun paha. Nyeri terjadi akibat peningkatan
kontraksi uterus, inflamasi kronis, dan pelepasan prostaglandin yang berlebihan
pada jaringan adenomiosis (Vannuccini & Petraglia, 2019).
Selain nyeri haid, banyak pasien mengalami perdarahan menstruasi
abnormal, terutama berupa menoragia (perdarahan menstruasi
berlebihan dengan durasi dan volume yang meningkat) serta menometroragia,
yaitu perdarahan yang terjadi di antara siklus menstruasi. Perdarahan yang
berlebihan tersebut dapat berlangsung dalam jangka waktu lama dan menjadi salah
satu alasan utama pasien mencari pertolongan medis (Chapron et al., 2020).
Pasien juga sering mengeluhkan nyeri panggul kronis,
yaitu nyeri yang berlangsung lebih dari enam bulan dan tidak selalu berkaitan
dengan siklus menstruasi. Nyeri ini dapat bersifat tumpul, menetap, atau hilang
timbul akibat proses inflamasi kronis pada miometrium (Bulun et al., 2023).
Keluhan lain yang cukup sering ditemukan adalah dispareunia,
yaitu nyeri saat atau setelah melakukan hubungan seksual. Gejala ini terjadi
akibat peningkatan sensitivitas jaringan pelvis dan adanya inflamasi yang
melibatkan struktur reproduksi di sekitar uterus (Younes & Tulandi, 2017).
Pada beberapa pasien, adenomiosis dapat menyebabkan gangguan
reproduksi, seperti infertilitas, kesulitan implantasi embrio, keguguran
berulang, atau penurunan keberhasilan program fertilisasi in vitro (IVF).
Mekanisme yang mendasari kondisi ini berkaitan dengan perubahan struktur dan
kontraktilitas uterus yang mengganggu proses implantasi dan perkembangan embrio
(Chapron et al., 2020).
Perdarahan menstruasi yang berlebihan dalam jangka
panjang dapat menyebabkan anemia defisiensi besi. Kondisi ini ditandai
dengan gejala mudah lelah, lemah, pucat, pusing, berdebar-debar, sesak saat
aktivitas, penurunan konsentrasi, dan intoleransi aktivitas. Anemia merupakan
komplikasi yang cukup sering ditemukan pada pasien dengan adenomiosis yang
mengalami menoragia kronis (Bulun et al., 2023).
Pada pemeriksaan fisik, uterus biasanya ditemukan dalam keadaan membesar
secara difus, berbentuk globuler (bulat), dan terasa lebih lunak
dibandingkan uterus normal saat dilakukan pemeriksaan bimanual. Beberapa pasien
juga menunjukkan nyeri tekan pada daerah pelvis atau uterus saat pemeriksaan
ginekologis (Vannuccini & Petraglia, 2019).
Secara umum, manifestasi klinis adenomiosis dapat dirangkum sebagai
berikut:
Gejala Subjektif
1)
Dismenore progresif (nyeri
haid semakin berat).
2)
Nyeri panggul kronis.
3)
Menoragia (perdarahan
menstruasi berlebihan).
4)
Menometroragia (perdarahan di
luar siklus menstruasi).
5)
Dispareunia (nyeri saat
hubungan seksual).
6)
Rasa tertekan atau penuh pada
panggul.
7)
Nyeri punggung bawah saat
menstruasi.
8)
Kelemahan dan mudah lelah.
9)
Pusing akibat anemia.
10) Gangguan kesuburan atau infertilitas.
Tanda Objektif
1)
Uterus membesar (uterine
enlargement).
2)
Uterus berbentuk globuler.
3)
Nyeri tekan pada pelvis atau
uterus.
4)
Konjungtiva pucat akibat
anemia.
5)
Kadar hemoglobin menurun.
6)
Kulit dan mukosa tampak
pucat.
7)
Takikardia pada anemia berat.
8)
Hasil USG menunjukkan
heterogenitas miometrium, kista miometrium kecil, dan penebalan dinding uterus.
E.
Patofisiologi
Adenomiosis
merupakan kondisi ketika jaringan endometrium yang seharusnya berada pada
lapisan dalam rahim (endometrium) ditemukan di dalam lapisan otot rahim
(miometrium). Keadaan ini diduga terjadi akibat masuknya lapisan basal
endometrium ke dalam miometrium melalui batas antara endometrium dan miometrium
yang mengalami kerusakan. Kerusakan tersebut dapat dipengaruhi oleh proses
persalinan, tindakan pembedahan pada uterus, maupun kontraksi uterus yang
terjadi berulang kali (Chapron et al., 2020).
Jaringan endometrium
yang berada di dalam miometrium tetap mengalami perubahan sesuai siklus
menstruasi. Saat terjadi peningkatan hormon estrogen dan progesteron, jaringan
tersebut mengalami proliferasi. Selanjutnya, pada fase menstruasi jaringan akan
mengalami peluruhan dan perdarahan sebagaimana endometrium normal. Namun,
karena letaknya berada di dalam miometrium, darah yang dihasilkan tidak dapat
keluar secara normal sehingga menimbulkan perdarahan di dalam jaringan otot
rahim (Bulun et al., 2023).
Perdarahan yang terjadi berulang akan memicu reaksi
inflamasi kronis pada miometrium. Proses inflamasi ini menyebabkan peningkatan
produksi prostaglandin, sitokin, dan mediator inflamasi lainnya yang berperan
dalam timbulnya nyeri. Akibatnya, pasien sering mengalami dismenore yang
semakin berat dari waktu ke waktu serta nyeri panggul kronis (Vannuccini &
Petraglia, 2019).
Selain itu, adanya jaringan endometrium ektopik dan
proses inflamasi yang berlangsung terus-menerus menyebabkan serabut otot
miometrium mengalami hipertrofi dan hiperplasia. Perubahan tersebut
mengakibatkan uterus membesar, berbentuk lebih bulat (globular), dan terasa
lebih lunak saat dilakukan pemeriksaan ginekologi. Pembesaran uterus merupakan
salah satu karakteristik yang sering ditemukan pada pasien adenomiosis (Chapron
et al., 2020).
Perubahan struktur miometrium juga menyebabkan
kontraksi uterus menjadi lebih kuat dan tidak teratur. Kondisi ini
berkontribusi terhadap munculnya nyeri haid yang hebat. Di samping itu,
peningkatan vaskularisasi dan gangguan mekanisme hemostasis pada uterus dapat
menyebabkan perdarahan menstruasi yang lebih banyak dan berlangsung lebih lama
dibandingkan keadaan normal (Bulun et al., 2023).
Perdarahan menstruasi yang berlebihan dan berlangsung
dalam waktu lama dapat menyebabkan penurunan kadar hemoglobin sehingga terjadi
anemia defisiensi besi. Pasien dengan anemia biasanya mengeluhkan lemah, mudah
lelah, pusing, berdebar, serta penurunan toleransi terhadap aktivitas fisik.
Apabila tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat menurunkan kualitas
hidup pasien secara signifikan (Vannuccini & Petraglia, 2019).
F.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang pada adenomiosis bertujuan untuk menegakkan
diagnosis, menentukan luas lesi, menyingkirkan kemungkinan penyakit lain seperti
mioma uteri dan endometriosis, serta menilai komplikasi yang mungkin terjadi.
Diagnosis adenomiosis ditegakkan berdasarkan kombinasi anamnesis, pemeriksaan
fisik, pemeriksaan pencitraan, dan pemeriksaan histopatologi (Chapron et al.,
2020).
1)
Ultrasonografi Transvaginal
(USG TV)
Ultrasonografi
transvaginal merupakan pemeriksaan pencitraan yang paling sering digunakan
sebagai modalitas awal karena mudah dilakukan, tidak invasif, biaya relatif
terjangkau, dan memiliki akurasi yang cukup baik dalam mendeteksi adenomiosis.
Beberapa
gambaran khas adenomiosis pada USG transvaginal meliputi:
·
Pembesaran uterus tanpa
adanya massa yang jelas.
·
Miometrium tampak heterogen.
·
Penebalan dinding uterus yang
tidak simetris.
·
Adanya kista-kista kecil pada
miometrium.
·
Bayangan garis atau striasi
hiperekoik pada miometrium.
·
Batas antara endometrium dan
miometrium tampak tidak teratur.
·
Uterus berbentuk globular
(membulat).
USG
transvaginal sering menjadi pilihan pertama karena sensitivitasnya mencapai
sekitar 72–82% dan spesifisitas sekitar 81–85% dalam mendeteksi adenomiosis
(Van den Bosch et al., 2022).
2)
Magnetic Resonance Imaging
(MRI)
MRI
merupakan pemeriksaan pencitraan dengan akurasi tinggi yang sering digunakan
apabila hasil USG belum memberikan gambaran yang jelas atau diperlukan evaluasi
lebih lanjut sebelum tindakan operatif.
Temuan khas
MRI pada adenomiosis meliputi:
·
Penebalan junctional zone
lebih dari 12 mm.
·
Pembesaran uterus.
·
Area miometrium yang tampak
heterogen.
·
Lesi fokal atau adenomioma.
·
Kista kecil dalam miometrium.
MRI
memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang lebih tinggi dibandingkan USG serta
mampu membedakan adenomiosis dengan mioma uteri secara lebih akurat (Chapron et
al., 2020).
3)
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan
laboratorium dilakukan untuk menilai dampak klinis akibat perdarahan menstruasi
yang berlebihan dan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain.
a)
Darah Lengkap (Complete Blood
Count)
Pemeriksaan
ini bertujuan untuk menilai adanya anemia akibat perdarahan kronis.
Temuan yang
dapat dijumpai antara lain:
·
Hemoglobin (Hb) menurun.
·
Hematokrit menurun.
·
Eritrosit menurun.
·
MCV dan MCH dapat menurun
pada anemia defisiensi besi.
b)
Pemeriksaan Status Besi
·
Dilakukan apabila dicurigai
anemia defisiensi besi.
·
Hasil yang dapat ditemukan:
·
Ferritin serum menurun.
·
Serum iron menurun.
·
Total Iron Binding Capacity
(TIBC) meningkat.
c)
Pemeriksaan Ginekologi
(Pemeriksaan Bimanual)
Pemeriksaan fisik ginekologi dapat memberikan gambaran
awal mengenai kondisi uterus.
Temuan yang sering dijumpai:
·
Uterus membesar.
·
Uterus berbentuk globular.
·
Konsistensi uterus lebih
lunak.
·
Nyeri tekan pada daerah
pelvis.
Meskipun
tidak dapat memastikan diagnosis, pemeriksaan ini membantu mengarahkan
kecurigaan klinis terhadap adenomiosis (Vannuccini & Petraglia, 2019).
4)
Histopatologi
Pemeriksaan histopatologi merupakan
standar emas (gold standard) dalam menegakkan diagnosis adenomiosis.
Pemeriksaan dilakukan terhadap jaringan uterus yang diperoleh setelah
histerektomi atau tindakan pembedahan lainnya.
Diagnosis ditegakkan apabila
ditemukan:
·
Kelenjar endometrium dan
stroma endometrium di dalam miometrium.
·
Hipertrofi dan hiperplasia
serabut otot polos di sekitar lesi.
G.
Diagnosa
Pada pasien adenomiosis pre operasi (misalnya akan
menjalani histerektomi atau adenomiomektomi), diagnosis keperawatan yang sering
muncul dan menjadi prioritas adalah:
1)
Nyeri Akut
Berhubungan
dengan: agen pencedera fisiologis (inflamasi miometrium dan peningkatan
kontraksi uterus).
DS:
·
Mengeluh nyeri perut bawah.
·
Mengeluh nyeri haid hebat.
·
Mengeluh nyeri panggul.
DO:
·
Tampak meringis.
·
Gelisah.
·
Skala nyeri meningkat.
·
Tampak memegang area yang
nyeri.
2)
Intoleransi Aktivitas
Berhubungan
dengan: kelemahan fisik akibat anemia sekunder perdarahan menstruasi
berlebihan.
DS:
·
Mudah lelah.
·
Cepat lemas saat
beraktivitas.
DO:
·
Hb menurun.
·
Konjungtiva pucat.
·
Aktivitas tampak terbatas
3)
Ansietas
Berhubungan
dengan: kurang terpapar informasi tentang prosedur operasi dan kondisi penyakit.
DS:
·
Mengatakan takut menjalani
operasi.
·
Mengungkapkan kekhawatiran
terhadap hasil operasi.
DO:
·
Tampak tegang.
·
Sulit tidur.
·
Frekuensi nadi meningkat.
·
Wajah tampak cemas.
4)
Defisit Pengetahuan
Berhubungan
dengan: kurang terpapar informasi mengenai penyakit dan tindakan operasi.
DS:
·
Bertanya tentang prosedur
operasi.
·
Bertanya tentang perawatan
setelah operasi.
DO:
·
Menunjukkan pemahaman yang
kurang tentang penyakit dan tindakan yang akan dilakukan.
5)
Risiko Perdarahan
Berhubungan
dengan: kelainan struktur uterus dan tindakan pembedahan yang akan dilakukan.
Faktor risiko: Tindakan pembedahan
H.
Komplikasi
Adenomiosis
dapat menyebabkan berbagai komplikasi yang berdampak pada kesehatan fisik,
psikologis, dan kualitas hidup pasien. Salah satu komplikasi yang paling sering
terjadi adalah anemia defisiensi besi akibat perdarahan
menstruasi berlebihan (menorrhagia) yang berlangsung kronis. Kehilangan darah
dalam jumlah besar secara terus-menerus dapat menyebabkan penurunan kadar
hemoglobin sehingga pasien mengalami kelemahan, mudah lelah, pusing, dan
penurunan toleransi aktivitas (Chapron et al., 2020).
Selain
itu, adenomiosis dapat menyebabkan nyeri panggul kronis dan
dismenore berat yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, hubungan sosial,
serta produktivitas kerja. Nyeri yang berlangsung lama juga berpotensi
meningkatkan risiko gangguan psikologis seperti kecemasan dan depresi akibat
penurunan kualitas hidup yang signifikan (Vannuccini & Petraglia, 2019).
Komplikasi
lain yang penting adalah gangguan fertilitas (infertilitas). Adenomiosis
dapat mengubah struktur dan fungsi miometrium serta lingkungan endometrium
sehingga mengganggu implantasi embrio dan meningkatkan risiko kegagalan
kehamilan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa wanita dengan adenomiosis
memiliki angka keberhasilan fertilisasi in vitro (IVF) yang lebih rendah
dibandingkan wanita tanpa adenomiosis (Younes & Tulandi, 2017).
Pada
wanita yang berhasil hamil, adenomiosis juga dikaitkan dengan peningkatan
risiko komplikasi obstetri, seperti abortus spontan, persalinan
prematur, ketuban pecah dini, preeklamsia, perdarahan postpartum, dan restriksi
pertumbuhan janin. Hal ini diduga berkaitan dengan perubahan struktur uterus
dan gangguan proses implantasi plasenta (Harada et al., 2016).
Pada
kasus yang berat dan tidak responsif terhadap terapi konservatif, pasien dapat
memerlukan tindakan histerektomi sebagai terapi definitif. Tindakan ini
menghilangkan kemampuan reproduksi wanita dan dapat menimbulkan dampak
psikologis maupun sosial yang perlu diperhatikan dalam asuhan kesehatan secara
menyeluruh (Chapron et al., 2020).
I.
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan adenomiosis bertujuan untuk mengurangi
gejala, mengendalikan perdarahan uterus abnormal, meredakan nyeri,
mempertahankan fertilitas bila diinginkan, serta meningkatkan kualitas hidup
pasien. Pemilihan terapi disesuaikan dengan usia, tingkat keparahan gejala,
keinginan memiliki keturunan, dan kondisi klinis pasien.
1)
Terapi Medikamentosa
Terapi
farmakologis umumnya menjadi pilihan pertama pada pasien dengan gejala ringan
hingga sedang. Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) seperti ibuprofen
dan asam mefenamat digunakan untuk mengurangi dismenore dan nyeri panggul
dengan menghambat produksi prostaglandin. Selain itu, terapi hormonal dapat
diberikan untuk menekan pertumbuhan jaringan endometrium ektopik dan mengurangi
perdarahan menstruasi. Pilihan terapi hormonal meliputi kontrasepsi oral
kombinasi, progestin oral, injeksi depot medroksiprogesteron asetat, dan levonorgestrel-releasing
intrauterine system (LNG-IUS) yang terbukti efektif mengurangi nyeri dan
volume perdarahan menstruasi (Vannuccini & Petraglia, 2019).
2)
Terapi Konservatif dan
Minimal Invasif
Pada pasien
yang masih ingin mempertahankan fertilitas, tindakan konservatif dapat
dipertimbangkan. Salah satunya adalah adenomyomectomy, yaitu
pengangkatan jaringan adenomiosis dengan mempertahankan uterus. Selain itu,
beberapa prosedur minimal invasif seperti uterine artery embolization (UAE)
dan high-intensity focused ultrasound (HIFU) dapat digunakan untuk
mengurangi gejala dengan menurunkan suplai darah ke jaringan adenomiosis atau
menghancurkan jaringan abnormal tanpa operasi besar (Chapron et al., 2020).
3)
Terapi Operatif
Pada kasus
adenomiosis berat, gejala yang menetap meskipun telah diberikan terapi
konservatif, atau pada pasien yang tidak lagi menginginkan kehamilan, histerektomi
merupakan terapi definitif yang paling efektif. Tindakan ini menghilangkan
sumber penyakit dan memberikan perbaikan gejala yang signifikan. Namun,
keputusan untuk melakukan histerektomi harus mempertimbangkan usia, kondisi
psikologis, dan keinginan reproduksi pasien (Harada et al., 2016).
4)
Penatalaksanaan Suportif
Pasien dengan perdarahan
menstruasi berlebihan yang menyebabkan anemia memerlukan terapi tambahan berupa
suplemen zat besi atau transfusi darah pada kondisi tertentu. Edukasi
mengenai penyakit, dukungan psikologis, serta pemantauan berkala juga penting
untuk meningkatkan kepatuhan terhadap terapi dan kualitas hidup pasien
(Vannuccini & Petraglia, 2019).
J.
Pathway
FAKTOR RISIKO
Usia 35–50 tahun
Multiparitas
Riwayat operasi uterus
(seksio sesarea, kuretase,
miomektomi)
Peningkatan kadar estrogen
Riwayat trauma pada dinding
uterus
↓
Invaginasi jaringan
endometrium
ke dalam lapisan miometrium
↓
Pertumbuhan kelenjar dan
stroma endometrium
di dalam miometrium
↓
Hipertrofi dan hiperplasia
miometrium
↓
Pembesaran uterus dan
inflamasi lokal
↓
┌─────────────┼─────────────┐
↓
↓ ↓
Peningkatan Kontraksi Perdarahan
Prostaglandin uterus menstruasi
berlebihan berlebihan
![]()
![]()
![]()
Nyeri panggul Dismenore
Menorrhagia
kronis berat ↓
![]()
Kehilangan darah
└──────┬──────┘ ↓
Penurunan Hb
(Anemia)
NYERI
↓
|
Nyeri Akut |
Kelemahan fisik
dan penurunan
suplai oksigen
|
Intoleransi Aktivitas |
↓
Gangguan struktur dan fungsi
uterus
↓
Gangguan implantasi embrio
dan perubahan kontraktilitas
uterus
↓
Infertilitas / Gangguan Fertilitas
↓
Perasaan khawatir, takut,
dan stres terhadap kondisi
reproduksi
↓
Diagnosa SDKI:
Ansietas (D.0080)
↓
Kurang terpapar informasi
tentang penyakit dan tindakan
operasi
↓
Diagnosa SDKI:
Defisit Pengetahuan (D.0111)
↓
Rencana tindakan pembedahan
(Histerektomi/Laparotomi)
↓
Risiko terjadinya perdarahan
selama tindakan operasi
↓
Diagnosa SDKI:
Risiko Perdarahan (D.0012)
K.
Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Teori
1.
Pengkajian Ginekologi
1)
Identitas Pasien
Pengkajian
diawali dengan identitas pasien yang meliputi nama, usia, jenis kelamin,
pendidikan, pekerjaan, agama, alamat, tanggal masuk rumah sakit, serta
diagnosis medis
2)
Status Kesehatan saat ini
Keluhan
Utama:
Pasien
biasanya datang dengan keluhan:
·
Nyeri haid yang berat
(dismenore)
·
Perdarahan menstruasi
berlebihan (menorrhagia)
·
Nyeri panggul kronis
·
Perut bagian bawah terasa
penuh atau membesar
·
Cepat lelah akibat perdarahan
yang banyak
3)
Riwayat Penyakit Sekarang
Keluhan
dirasakan sejak beberapa bulan atau tahun terakhir. Nyeri biasanya muncul
sebelum dan selama menstruasi, dirasakan di perut bagian bawah dan dapat
menjalar ke pinggang. Menstruasi berlangsung lebih lama dari biasanya dan
jumlah darah yang keluar lebih banyak. Pasien dapat mengeluh lemas, pusing, dan
mudah lelah akibat kehilangan darah yang berlebihan.
4)
Riwayat Kesehatan dahulu
Riwayat
kesehatan dahulu meliputi adanya penyakit ginekologi sebelumnya, seperti
endometriosis, mioma uteri, kista ovarium, atau riwayat infertilitas. Perawat
juga perlu mengkaji riwayat tindakan pada uterus, seperti seksio sesarea,
kuretase, miomektomi, atau operasi ginekologi lainnya yang dapat menjadi faktor
risiko terjadinya adenomiosis. Riwayat penggunaan kontrasepsi hormonal dan penyakit
kronis seperti hipertensi, diabetes melitus, maupun anemia juga perlu dikaji.
5)
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat
kesehatan keluarga perlu ditelusuri untuk mengetahui adanya anggota keluarga
yang memiliki penyakit ginekologi, seperti mioma uteri, endometriosis, atau
kanker sistem reproduksi. Meskipun adenomiosis tidak termasuk penyakit genetik,
informasi ini tetap penting untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai
kondisi kesehatan keluarga.
6)
Riwayat Menstruasi
Pengkajian
menstruasi meliputi usia menarche, siklus menstruasi, lama menstruasi, jumlah
darah menstruasi, adanya dismenore, keteraturan siklus, dan hari pertama haid
terakhir (HPHT). Pada adenomiosis umumnya ditemukan menstruasi yang lebih lama,
lebih banyak, dan lebih nyeri dibandingkan kondisi normal.
7)
Riwayat Obstetri
Riwayat
obstetri mencakup gravida, para, abortus (GPA), jumlah anak hidup, riwayat
persalinan normal atau seksio sesarea, serta adanya komplikasi selama kehamilan
dan persalinan. Adenomiosis lebih sering ditemukan pada wanita yang pernah
melahirkan lebih dari satu kali.
6)
Riwayat Ginekologi
Riwayat
ginekologi meliputi adanya keputihan, perdarahan abnormal di luar menstruasi,
nyeri saat berhubungan seksual (dispareunia), infertilitas, penggunaan alat
kontrasepsi, serta riwayat penyakit ginekologi lainnya. Data ini penting untuk
membantu menegakkan diagnosis dan menentukan masalah keperawatan yang muncul.
7)
Pola Fungsi Kesehatan
a.
Pola Persepsi dan Manajemen
Kesehatan
Mengkaji
pemahaman pasien mengenai penyakit yang diderita, kebiasaan berobat, kepatuhan
terhadap pengobatan, dan upaya yang dilakukan untuk mengatasi keluhan.
b.
Pola Nutrisi dan Metabolik
Mengkaji nafsu makan, jenis makanan
yang dikonsumsi, frekuensi makan, perubahan berat badan, serta tanda-tanda
anemia seperti konjungtiva pucat.
c.
Pola Eliminasi
Mengkaji frekuensi dan karakteristik
buang air kecil serta buang air besar, termasuk adanya keluhan saat eliminasi.
d.
Pola Aktivitas dan Latihan
Mengkaji kemampuan melakukan
aktivitas sehari-hari, tingkat kelelahan, serta pengaruh nyeri terhadap
aktivitas.
e.
Pola Istirahat dan Tidur
Mengkaji lama tidur, kualitas tidur,
dan gangguan tidur yang disebabkan oleh nyeri.
f.
Pola Kognitif dan Persepsi
Mengkaji tingkat kesadaran, kemampuan
komunikasi, serta persepsi pasien terhadap nyeri yang dialami.
g.
Pola Persepsi Diri dan Konsep Diri
Mengkaji perasaan pasien terhadap
kondisi penyakitnya, terutama bila terdapat gangguan fertilitas atau rencana
pembedahan.
h.
Pola Peran dan Hubungan
Mengkaji hubungan pasien dengan
pasangan, keluarga, dan lingkungan sosial.
i.
Pola Seksualitas dan Reproduksi
Mengkaji gangguan fungsi seksual,
dispareunia, keinginan memiliki keturunan, dan masalah reproduksi lainnya.
j.
Pola Koping dan Toleransi Stres
Mengkaji respons emosional pasien
terhadap penyakit, kecemasan, dan kemampuan mengatasi stres.
k.
Pola Nilai dan Keyakinan
Mengkaji nilai, budaya, dan keyakinan
yang memengaruhi proses pengobatan.
l.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik pada pasien dengan
adenomiosis dilakukan secara sistematis menggunakan metode inspeksi, palpasi,
perkusi, dan auskultasi.
Pemeriksaan diawali dengan menilai
keadaan umum pasien, tingkat kesadaran, dan tanda-tanda vital. Keadaan umum
dapat bervariasi dari baik hingga lemah tergantung derajat nyeri dan jumlah
perdarahan yang dialami. Tingkat kesadaran umumnya compos mentis. Tanda-tanda
vital yang dinilai meliputi tekanan darah, frekuensi nadi, frekuensi napas, dan
suhu tubuh. Pada pasien dengan perdarahan menstruasi berlebihan dapat ditemukan
takikardia dan penurunan tekanan darah akibat anemia atau kehilangan darah yang
berlangsung lama (Berek, 2020).
Pemeriksaan
kepala dan leher dilakukan untuk menilai adanya tanda-tanda anemia maupun
gangguan sistemik lainnya. Pada pemeriksaan mata perlu diperhatikan warna
konjungtiva, karena pasien dengan menorrhagia kronis dapat menunjukkan
konjungtiva yang pucat. Pemeriksaan mulut dilakukan untuk menilai kelembapan
mukosa dan warna mukosa oral. Pada leher dilakukan inspeksi dan palpasi
terhadap kelenjar tiroid dan kelenjar getah bening untuk mengidentifikasi
adanya kelainan yang menyertai (Berek, 2020).
Pemeriksaan
sistem respirasi meliputi inspeksi bentuk dan pergerakan dinding dada, palpasi
ekspansi paru, perkusi lapang paru, serta auskultasi suara napas. Umumnya tidak
ditemukan kelainan spesifik pada sistem pernapasan akibat adenomiosis, kecuali
jika terdapat gangguan lain yang menyertai. Pemeriksaan sistem kardiovaskular
dilakukan dengan menilai frekuensi dan irama nadi, bunyi jantung, serta perfusi
perifer. Pada pasien yang mengalami anemia dapat ditemukan peningkatan
frekuensi nadi sebagai mekanisme kompensasi tubuh terhadap penurunan kapasitas
pengangkutan oksigen (Vannuccini & Petraglia, 2019).
Pemeriksaan
abdomen merupakan bagian penting dalam pengkajian pasien adenomiosis. Inspeksi
dilakukan untuk melihat bentuk abdomen dan adanya pembesaran. Auskultasi
dilakukan untuk menilai bising usus. Perkusi dilakukan untuk menentukan adanya
perubahan densitas jaringan, sedangkan palpasi bertujuan mengidentifikasi nyeri
tekan, massa, atau pembesaran organ. Pada adenomiosis dapat ditemukan nyeri
tekan di daerah suprapubik serta pembesaran uterus yang menyebabkan sensasi
penuh pada perut bagian bawah (Chapron et al., 2020).
Pemeriksaan
sistem reproduksi dilakukan melalui inspeksi genitalia eksterna, pemeriksaan
spekulum, dan pemeriksaan bimanual. Pada inspeksi dapat ditemukan perdarahan
pervaginam sesuai kondisi pasien. Pemeriksaan spekulum bertujuan mengevaluasi
vagina dan serviks serta menyingkirkan penyebab lain dari perdarahan abnormal.
Pemeriksaan bimanual merupakan pemeriksaan penting karena pada adenomiosis
sering ditemukan uterus yang membesar secara difus, berbentuk globuler, lunak,
dan nyeri saat digerakkan atau dipalpasi. Pemeriksaan ini juga membantu menilai
adanya massa pelvis atau kelainan ginekologi lain yang menyertai (Berek, 2020).
Pemeriksaan
sistem muskuloskeletal dilakukan dengan menilai kekuatan otot, rentang gerak,
dan kemampuan aktivitas pasien. Pada pasien dengan anemia akibat menorrhagia
dapat ditemukan kelemahan dan penurunan toleransi aktivitas. Pemeriksaan
integumen meliputi penilaian warna kulit, turgor, kelembapan, dan adanya lesi.
Kulit dan membran mukosa dapat tampak pucat pada pasien yang mengalami anemia
kronis. Pemeriksaan ekstremitas dilakukan untuk menilai kekuatan otot, adanya
edema, suhu akral, dan capillary refill time (CRT) sebagai indikator perfusi
perifer (Potter et al., 2021).
2.
Diagnosa Keperawatan (SDKI)
1)
Nyeri Akut (D.0077)
Berhubungan
dengan: agen pencedera fisiologis (inflamasi)
DS:
·
Mengeluh nyeri perut bawah.
·
Mengeluh nyeri haid hebat.
·
Mengeluh nyeri panggul.
DO:
·
Tampak meringis.
·
Gelisah.
·
Skala nyeri meningkat.
·
Tampak memegang area yang
nyeri.
2)
Intoleransi Aktivitas
(D.0056)
Berhubungan
dengan: kelemahan fisik akibat anemia sekunder perdarahan menstruasi
berlebihan.
DS:
·
Mudah lelah.
·
Cepat lemas saat
beraktivitas.
DO:
·
Hb menurun.
·
Konjungtiva pucat.
·
Aktivitas tampak terbatas
3)
Ansietas (D.0080)
Berhubungan
dengan: kurang terpapar informasi tentang prosedur operasi dan kondisi
penyakit.
DS:
·
Mengatakan takut menjalani
operasi.
·
Mengungkapkan kekhawatiran
terhadap hasil operasi.
DO:
·
Tampak tegang.
·
Sulit tidur.
·
Frekuensi nadi meningkat.
·
Wajah tampak cemas.
4)
Defisit Pengetahuan (D.0111)
Berhubungan
dengan: kurang terpapar informasi mengenai penyakit dan tindakan operasi.
DS:
·
Bertanya tentang prosedur
operasi.
·
Bertanya tentang perawatan
setelah operasi.
DO:
·
Menunjukkan pemahaman yang
kurang tentang penyakit dan tindakan yang akan dilakukan.
5)
Risiko Perdarahan (D.0012)
Berhubungan
dengan: kelainan struktur uterus dan tindakan pembedahan yang akan dilakukan.
Faktor
risiko: Tindakan pembedahan
3.
Perencanaan/Intervensi
|
NO |
Diagnosa
Keperawatan |
Tujuan
Keperawatan (SLKI) |
Intervensi
Keperawatan (SIKI) |
|
1 |
Nyeri
Akut b.d agen pencedera fisiologis (inflamasi) |
Setelah
dilakukan Tindakan Keperawatan 3x24 jam maka, kriteria hasil yang diharapkan: ·
Keluhan nyeri menurun ·
Meringis menurun ·
Gelisah menurun ·
Nyeri perut bawah menurun ·
Nyeri panggul menurun |
Manajemen
Nyeri (I.08238) Observasi: ·
Identifikasi lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri ·
Identifikasi skala nyeri ·
Identifikasi respons nyeri
non verbal ·
identifikasi faktor yang
memperberat dan memperingan nyeri ·
Identifikasi pengetahuan
dan keyaninan tentang nyeri ·
Identifikasi pengaruh
budaya terhadap respon nyeri ·
Identifikasi pengaruh nyeri
pada kualitas hidup ·
Monitor keberhasilan terapi
komplementer yang sudah diberikan ·
Monitor efek samping
penggunaan analgetic Terapeutik: ·
Berikan teknik
nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis. TENS, hipnosis, akupresur,
terapi musik, biofeedback, terapi pijat, aromaterapi, teknik imajinasi
terbimbing. kompres hangat/dingin, terapi bermain) ·
Kontrol lingkungan yang
memperberat rasa nyeri (mis, suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan) ·
Fasilitasi istirahat dan
tidur Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi meredakan
nyeri Edukasi ·
Jelaskan penyebab, periode,
dan pemicu nyeri ·
Jelaskan strategi meredakan
nyeri ·
Anjurkan memonitor nyeri
secara mandiri ·
Anjurkan menggunakan
analgetik secara tepat ·
Ajarkan teknik
nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri Kolaborasi ·
Kolaborasi pemberian
analgetik, jika perlu |
|
2 |
Intoleransi
Aktivitas b.d kelemahan fisik |
Setelah
dilakukan Tindakan Keperawatan 3x24 jam maka, kriteria hasil yang diharapkan: ·
Keluhan Lelah menurun ·
Aktivitas sehari-hari
meningkat ·
Konjungtiva pucat ·
Aktivitas tampak terbatas ·
Frekuensi nadi membaik ·
|
Observasi: ·
Identifikasi gangguan
fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan ·
Monitor kelelahan fisik dan
emosional ·
Monitor pola dan jam tidur ·
Monitor lokasi dan
ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas Terapeutik: ·
Sediakan lingkungan nyaman
dan rendah stimulus (mis, cahaya, suara, kunjungan) ·
Lakukan latihan rentang
gerak pasif dan/atau aktif ·
Berikan aktivitas distraksi
yang menenangkan ·
Fasilitasi duduk di sisi
tempat tidur, jika tidak dapat berpindah atau berjalan Edukasi: ·
Anjurkan tirah baring ·
Anjurkan melakukan
aktivitas secara bertahap ·
Anjurkan menghubungi
perawat jika tanda dan gejala kelelahan tidak berkurang ·
Ajarkan strategi koping
untuk mengurangi kelelahan Kolaborasi: ·
Kolaborasi dengan ahli gizi
tentang cara meningkatkan asupan makanan. |
|
3 |
Ansietas
b.d kurang terpapar informasi |
Setelah
dilakukan Tindakan Keperawatan 3x24 jam maka, kriteria hasil yang diharapkan: ·
Verbalisasi khawatir akibat
kondisi yang dihadapi menurun ·
Perilaku gelisah menurun ·
Perilaku tegang menurun |
Terapi Relaksasi
(I.09326) Observasi ·
Identifikasi penurunan
tingkat energi, ketidakmampuan berkonsentrasi, atau gejala lain yang
mengganggu kemampuan kognitif ·
Identifikasi teknik
relaksasi yang pernah efektif digunakan ·
Identifikasi kesediaan, kemampuan,
dan penggunaan teknik sebelumnya ·
Periksa ketegangan otot,
frekuensi nadi, tekanan darah, dan suhu sebelum dan sesudah Latihan ·
Monitor respons terhadap
terapi relaksasi Terapeutik: ·
Ciptakan lingkungan tenang
dan tanpa gangguan dengan pencahayaan dan suhu ruang nyaman, jika
memungkinkan ·
Berikan informasi tertulis
tentang persiapan dan prosedur teknik relaksasi ·
Gunakan pakaian longgar ·
Gunakan nada suara lembut
dengan irama lambat dan berirama ·
Gunakan relaksasi sebagai
strategi penunjang dengan analgetik atau tindakan medis lain, jika sesuai Edukasi: ·
Jelaskan tujuan, manfaat,
batasan, dan jenis relaksasi yang tersedia (mis. musik, meditasi napas dalam,
relaksasi otot progresif) ·
Jelaskan secara rinci
intervensi relaksasi yang dipilih ·
Anjurkan mengambil posisi
nyaman ·
Anjurkan rileks dan
merasakan sensasi relaksasi ·
Anjurkan sering mengulangi
atau melatih teknik yang dipilih ·
Demonstrasikan dan latih
teknik relaksasi (mis, napas dalam, peregangan, atau imajinasi terbimbing |
|
4 |
Defisit
Pengetahuan b.d kurang terpapar informasi |
Setelah
dilakukan Tindakan Keperawatan 3x24 jam maka, kriteria hasil yang diharapkan: ·
Pertanyaan tentang masalah
yang dihadapi menurun ·
Persepsi yang keliru
terhadap masalah menurun |
Edukasi Kesehatan
(I.12383) Observasi: ·
Identifikasi kesiapan dan
kemampuan menerima informasi ·
Identifikasi faktor-faktor
yang dapat meningkatkan dan menurunkan motivasi perilaku hidup bersih dan
sehat Terapeutik ·
Sediakan materi dan media
pendidikan Kesehatan ·
Jadwalkan pendidikan
kesehatan sesuai kesepakatan ·
Berikan kesempatan untuk
bertanya Edukasi: ·
Jekaskan faktor risiko yang
dapat mempengaruhi Kesehatan ·
Ajarkan perilaku hidup
bersih dan sehat ·
Ajarkan strategi yang dapat
digunakan untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat |
|
5 |
Risiko
Perdarahan Faktor risiko: Tindakan
pembedahan |
Setelah
dilakukan Tindakan Keperawatan 3x24 jam maka, kriteria hasil yang diharapkan: ·
Hemoglobin membaik ·
Perdarahan pasca operasi
menurun ·
Perdarahan vagina menurun |
Pencegahan
Perdarahan (I.02067) ·
Monitor tanda dan gejala
perdarahan ·
Monitor nilai
hematokrit/hemoglobin sebelum dan setelah kehilangan darah Monitor
tanda-tanda vital ortostatik ·
Monitor koagulasi (mis, prothrombin
time (PT), partial thromboplastin time (PTT), fibrinoge degradasi fibrin
dan/atau platelet) Teapeutik: ·
Pertahankan bed rest selama
perdarahan Batasi tindakan invasif, jika perlu ·
Gunakan kasur pencegah
dekubitus ·
Hindari pengukuran suhu
rektal Edukasi ·
Jelaskan tanda dan gejala
perdarahan ·
Anjurkan menggunakan kaus
kaki saat ambulasi ·
Anjurkan meningkatkan
asupan cairan untuk menghindari konstipasi ·
Anjurkan menghindari
aspirin atau antikoagulan ·
Anjurkan meningkatkan
asupan makanan dan vitamin K ·
Anjurkan segera melapor
jika terjadi perdarahan Kolaborasi: ·
Kolaborasi pemberian obat
pengontrol perdarahan, jika perlu Kolaborasi pemberian produk darah, jika
perlu ·
Kolaborasi pemberian
pelunak tinja, jika perlu |
4.
Implementasi
|
NO |
Diagnosa Keperawatan |
Tujuan
Keperawatan (SLKI) |
Intervensi
Keperawatan (SIKI) |
|
1 |
Nyeri
Akut b.d agen pencedera fisiologis (inflamasi) |
Setelah
dilakukan Tindakan Keperawatan 3x24 jam maka, kriteria hasil yang diharapkan: ·
Keluhan nyeri menurun ·
Meringis menurun ·
Gelisah menurun ·
Nyeri perut bawah menurun ·
Nyeri panggul menurun |
Manajemen
Nyeri (I.08238) Observasi: ·
Identifikasi lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri ·
Identifikasi skala nyeri ·
Identifikasi respons nyeri
non verbal ·
identifikasi faktor yang
memperberat dan memperingan nyeri ·
Identifikasi pengetahuan
dan keyaninan tentang nyeri ·
Identifikasi pengaruh
budaya terhadap respon nyeri ·
Identifikasi pengaruh nyeri
pada kualitas hidup ·
Monitor keberhasilan terapi
komplementer yang sudah diberikan ·
Monitor efek samping
penggunaan analgetic Terapeutik: ·
Berikan teknik
nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis. TENS, hipnosis, akupresur,
terapi musik, biofeedback, terapi pijat, aromaterapi, teknik imajinasi
terbimbing. kompres hangat/dingin, terapi bermain) ·
Kontrol lingkungan yang
memperberat rasa nyeri (mis, suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan) ·
Fasilitasi istirahat dan
tidur Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi meredakan
nyeri Edukasi ·
Jelaskan penyebab, periode,
dan pemicu nyeri ·
Jelaskan strategi meredakan
nyeri ·
Anjurkan memonitor nyeri
secara mandiri ·
Anjurkan menggunakan
analgetik secara tepat ·
Ajarkan teknik
nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri Kolaborasi ·
Kolaborasi pemberian
analgetik, jika perlu |
|
2 |
Intoleransi
Aktivitas b.d kelemahan fisik |
Setelah
dilakukan Tindakan Keperawatan 3x24 jam maka, kriteria hasil yang diharapkan: ·
Keluhan Lelah menurun ·
Aktivitas sehari-hari
meningkat ·
Konjungtiva pucat ·
Aktivitas tampak terbatas ·
Frekuensi nadi membaik ·
|
Observasi: ·
Identifikasi gangguan
fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan ·
Monitor kelelahan fisik dan
emosional ·
Monitor pola dan jam tidur ·
Monitor lokasi dan
ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas Terapeutik: ·
Sediakan lingkungan nyaman
dan rendah stimulus (mis, cahaya, suara, kunjungan) ·
Lakukan latihan rentang
gerak pasif dan/atau aktif ·
Berikan aktivitas distraksi
yang menenangkan ·
Fasilitasi duduk di sisi
tempat tidur, jika tidak dapat berpindah atau berjalan Edukasi: ·
Anjurkan tirah baring ·
Anjurkan melakukan
aktivitas secara bertahap ·
Anjurkan menghubungi
perawat jika tanda dan gejala kelelahan tidak berkurang ·
Ajarkan strategi koping
untuk mengurangi kelelahan Kolaborasi: ·
Kolaborasi dengan ahli gizi
tentang cara meningkatkan asupan makanan. |
|
3 |
Ansietas
b.d kurang terpapar informasi |
Setelah
dilakukan Tindakan Keperawatan 3x24 jam maka, kriteria hasil yang diharapkan: ·
Verbalisasi khawatir akibat
kondisi yang dihadapi menurun ·
Perilaku gelisah menurun ·
Perilaku tegang menurun |
Terapi
Relaksasi (I.09326) Observasi ·
Identifikasi penurunan
tingkat energi, ketidakmampuan berkonsentrasi, atau gejala lain yang
mengganggu kemampuan kognitif ·
Identifikasi teknik
relaksasi yang pernah efektif digunakan ·
Identifikasi kesediaan, kemampuan,
dan penggunaan teknik sebelumnya ·
Periksa ketegangan otot,
frekuensi nadi, tekanan darah, dan suhu sebelum dan sesudah Latihan ·
Monitor respons terhadap
terapi relaksasi Terapeutik: ·
Ciptakan lingkungan tenang
dan tanpa gangguan dengan pencahayaan dan suhu ruang nyaman, jika
memungkinkan ·
Berikan informasi tertulis
tentang persiapan dan prosedur teknik relaksasi ·
Gunakan pakaian longgar ·
Gunakan nada suara lembut
dengan irama lambat dan berirama ·
Gunakan relaksasi sebagai
strategi penunjang dengan analgetik atau tindakan medis lain, jika sesuai Edukasi: ·
Jelaskan tujuan, manfaat,
batasan, dan jenis relaksasi yang tersedia (mis. musik, meditasi napas dalam,
relaksasi otot progresif) ·
Jelaskan secara rinci
intervensi relaksasi yang dipilih ·
Anjurkan mengambil posisi
nyaman ·
Anjurkan rileks dan
merasakan sensasi relaksasi ·
Anjurkan sering mengulangi
atau melatih teknik yang dipilih ·
Demonstrasikan dan latih
teknik relaksasi (mis, napas dalam, peregangan, atau imajinasi terbimbing |
|
4 |
Defisit Pengetahuan
b.d kurang terpapar informasi |
Setelah
dilakukan Tindakan Keperawatan 3x24 jam maka, kriteria hasil yang diharapkan: ·
Pertanyaan tentang masalah
yang dihadapi menurun ·
Persepsi yang keliru
terhadap masalah menurun |
Edukasi
Kesehatan (I.12383) Observasi: ·
Identifikasi kesiapan dan
kemampuan menerima informasi ·
Identifikasi faktor-faktor
yang dapat meningkatkan dan menurunkan motivasi perilaku hidup bersih dan
sehat Terapeutik ·
Sediakan materi dan media
pendidikan Kesehatan ·
Jadwalkan pendidikan
kesehatan sesuai kesepakatan ·
Berikan kesempatan untuk
bertanya Edukasi: ·
Jekaskan faktor risiko yang
dapat mempengaruhi Kesehatan ·
Ajarkan perilaku hidup
bersih dan sehat ·
Ajarkan strategi yang dapat
digunakan untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat |
|
5 |
Risiko
Perdarahan Faktor risiko: Tindakan
pembedahan |
Setelah
dilakukan Tindakan Keperawatan 3x24 jam maka, kriteria hasil yang diharapkan: ·
Hemoglobin membaik ·
Perdarahan pasca operasi
menurun ·
Perdarahan vagina menurun |
Pencegahan
Perdarahan (I.02067) ·
Monitor tanda dan gejala
perdarahan ·
Monitor nilai
hematokrit/hemoglobin sebelum dan setelah kehilangan darah Monitor
tanda-tanda vital ortostatik ·
Monitor koagulasi (mis,
prothrombin time (PT), partial thromboplastin time (PTT), fibrinoge degradasi
fibrin dan/atau platelet) Teapeutik: ·
Pertahankan bed rest selama
perdarahan Batasi tindakan invasif, jika perlu ·
Gunakan kasur pencegah
dekubitus ·
Hindari pengukuran suhu
rektal Edukasi ·
Jelaskan tanda dan gejala
perdarahan ·
Anjurkan menggunakan kaus
kaki saat ambulasi ·
Anjurkan meningkatkan
asupan cairan untuk menghindari konstipasi ·
Anjurkan menghindari
aspirin atau antikoagulan ·
Anjurkan meningkatkan
asupan makanan dan vitamin K ·
Anjurkan segera melapor
jika terjadi perdarahan Kolaborasi: ·
Kolaborasi pemberian obat
pengontrol perdarahan, jika perlu Kolaborasi pemberian produk darah, jika
perlu ·
Kolaborasi pemberian
pelunak tinja, jika perlu |
5.
Evaluasi
Evaluasi merupakan suatu proses yang
berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan pada pasien.
Evaluasi dilakukan terus-menerus terhadap respon pasien pada tindakan
keperawatan yang telah dilakukan. Evaluasi proses atau promoti dilakukan setiap
selesai tindakan. Evaluasi dapat dilakukan menggunakan SOAP sebagai pola pikirnya.
S: Respon subjektif pasien terhadap
tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan.
O: Respon objektif pasien terhadap
tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan.
A: Analisa ulang data subjektif dan
objektif untuk menyimpulkan apakah masalah teratasi, masalah teratasi sebagian,
masalah tidak teratasi atau muncul masalah baru.
P: Perencanaan atau tindak lanjut
berdasarkan hasil analisa pada respon pasien
DAFTAR PUSTAKA
Abbott, J. A. (2017).
Adenomyosis and abnormal uterine bleeding (AUB-A)—Pathogenesis, diagnosis, and
management. Best Practice & Research Clinical Obstetrics &
Gynaecology, 40, 68–81. https://doi.org/10.1016/j.bpobgyn.2016.09.006
Benagiano, G., Habiba, M.,
& Brosens, I. (2012). The pathophysiology of uterine adenomyosis: An
update. Fertility and Sterility, 98(3), 572–579. https://doi.org/10.1016/j.fertnstert.2012.06.044
Bulun, S. E., Yilmaz, B. D.,
Sison, C., Miyazaki, K., Bernardi, L., Liu, S., Kohlmeier, A., Yin, P., Milad,
M., & Wei, J. (2023). Endometriosis and adenomyosis: Shared pathophysiology
and clinical management. Fertility and Sterility, 119(5), 746–765. https://doi.org/10.1016/j.fertnstert.2023.02.018
Chapron, C., Vannuccini, S.,
Santulli, P., Abrão, M. S., Carmona, F., Fraser, I. S., & Petraglia, F.
(2020). Diagnosing adenomyosis: An integrated clinical and imaging approach. Human
Reproduction Update, 26(3), 392–411. https://doi.org/10.1093/humupd/dmz049
Naftalin, J., Hoo, W.,
Pateman, K., Mavrelos, D., Holland, T., & Jurkovic, D. (2012). How common
is adenomyosis? A prospective study of prevalence using transvaginal ultrasound
in a gynecology clinic. Human Reproduction, 27(12), 3432–3439. https://doi.org/10.1093/humrep/des332
Potter, P. A., Perry, A. G.,
Stockert, P. A., Hall, A. M., & Ostendorf, W. R. (2021). Fundamentals of
nursing (10th ed.). Elsevier.
Vannuccini, S., &
Petraglia, F. (2019). Recent advances in understanding and managing adenomyosis.
F1000Research, 8, Article 283. https://doi.org/10.12688/f1000research.17242.1
DOWNLOAD LAPORAN PENDAHULUAN DENGAN DIAGNOSA MEDIS ADENOMIOSIS
Komentar
Posting Komentar