CONTOH LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN POSTPARTUM (MASA NIFAS)
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN
KEPERAWATAN PADA PASIEN POSTPARTUM (MASA NIFAS)
A.
DEFINISI
Postpartum
atau masa nifas adalah masa setelah persalinan dimulai sejak lahirnya plasenta
dan berakhir ketika organ-organ reproduksi kembali seperti keadaan sebelum
hamil. Masa postpartum berlangsung selama kurang lebih 6 minggu atau 42 hari.
Masa ini merupakan masa pemulihan dan adaptasi ibu setelah melahirkan baik
secara fisiologis maupun psikologis.
Menurut
Prawirohardjo (2020), masa nifas adalah periode setelah persalinan yang
diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan seperti sebelum hamil. Selama
masa ini terjadi perubahan fisik berupa involusi uterus, pengeluaran lokia,
perubahan hormonal, serta dimulainya proses laktasi.
Menurut
Manuaba (2021), postpartum merupakan periode penting karena pada masa ini dapat
terjadi berbagai komplikasi maternal seperti perdarahan postpartum, infeksi
nifas, tromboemboli, serta gangguan psikologis postpartum. Oleh sebab itu
pemantauan kondisi ibu postpartum sangat penting dilakukan terutama pada 24 jam
pertama setelah persalinan.
Menurut
Bobak, Lowdermilk, dan Jensen (2012), postpartum merupakan periode transisi
dimana ibu mengalami perubahan peran menjadi seorang ibu, beradaptasi terhadap
perubahan tubuh, dan mulai melakukan perawatan bayi baru lahir.
Menurut
Maryunani (2015), masa postpartum merupakan masa adaptasi biologis, emosional,
dan sosial yang membutuhkan dukungan dari keluarga dan tenaga kesehatan agar
proses pemulihan berlangsung optimal.
Berdasarkan
SDKI PPNI (2017), pasien postpartum dapat mengalami masalah keperawatan seperti
nyeri akut, risiko infeksi, risiko perdarahan, menyusui tidak efektif, gangguan
pola tidur, dan defisit pengetahuan.
B.
KLASIFIKASI
Menurut
Manuaba (2021), masa postpartum dibagi menjadi beberapa klasifikasi berdasarkan
proses pemulihan ibu yaitu:
1.
Puerperium Dini
Puerperium
dini merupakan masa dimana ibu sudah diperbolehkan duduk, berdiri, dan berjalan
setelah persalinan. Mobilisasi dini sangat penting untuk membantu mempercepat
pemulihan, memperbaiki sirkulasi darah, dan mencegah komplikasi tromboemboli.
2.
Puerperium Intermedial
Puerperium
intermedial adalah masa pemulihan menyeluruh alat reproduksi yang berlangsung
selama kurang lebih 6 minggu. Pada masa ini uterus mengalami involusi dan organ
reproduksi secara bertahap kembali seperti sebelum hamil.
3.
Remote Puerperium
Remote
puerperium merupakan masa pemulihan sempurna terutama bila selama kehamilan
atau persalinan terjadi komplikasi.
Berdasarkan
waktu postpartum dibagi menjadi:
- Immediate postpartum
- Early postpartum
- Late postpartum
C.
ETIOLOGI
Postpartum
atau masa nifas terjadi secara fisiologis setelah proses persalinan. Namun
terdapat beberapa faktor yang memengaruhi kondisi postpartum ibu baik secara
fisik maupun psikologis. Faktor-faktor tersebut dapat meningkatkan risiko
terjadinya masalah kesehatan selama masa nifas.
Menurut
Manuaba (2021), kondisi postpartum dipengaruhi oleh proses persalinan,
perubahan hormonal, kondisi fisik ibu, serta adanya komplikasi selama
persalinan.
1.
Persalinan Normal
Persalinan
normal menyebabkan perubahan fisiologis pada uterus dan jalan lahir. Setelah
persalinan ibu akan mengalami kontraksi uterus, pengeluaran lokia, dan nyeri
akibat peregangan jaringan selama proses melahirkan.
Pada
beberapa ibu dapat terjadi robekan perineum atau episiotomi yang menyebabkan
nyeri dan ketidaknyamanan postpartum.
2.
Sectio Caesarea
Sectio
caesarea merupakan tindakan pembedahan untuk mengeluarkan bayi melalui insisi
abdomen dan uterus. Tindakan ini menyebabkan luka operasi sehingga meningkatkan
risiko:
- Nyeri akut
- Infeksi
- Keterbatasan
mobilisasi
- Perdarahan
Ibu
post sectio caesarea membutuhkan perawatan lebih intensif dibandingkan
persalinan normal.
3.
Trauma Jalan Lahir
a.
Trauma jalan lahir dapat berupa:
- Robekan serviks
- Robekan vagina
- Robekan perineum
- Episiotomi
b.
Trauma tersebut menyebabkan:
- Nyeri
- Perdarahan
- Risiko infeksi
- Gangguan mobilitas
4.
Perubahan Hormonal
Setelah
plasenta lahir terjadi penurunan hormon estrogen dan progesteron secara
drastis. Penurunan hormon tersebut menyebabkan perubahan fisiologis dan
psikologis pada ibu postpartum.
Menurut
Varney (2017), perubahan hormonal postpartum memengaruhi kondisi emosional ibu
sehingga ibu lebih mudah mengalami:
- Mood swing
- Cemas
- Mudah menangis
- Postpartum blues
5.
Kelelahan Fisik
Proses
persalinan yang berlangsung lama menyebabkan ibu mengalami kelelahan fisik dan
emosional. Kelelahan dapat memengaruhi:
- Aktivitas ibu
- Produksi ASI
- Kemampuan merawat
bayi
- Kualitas tidur
6.
Kurangnya Dukungan Keluarga
Kurangnya
dukungan keluarga dapat menyebabkan ibu merasa:
- Cemas
- Takut
- Tidak percaya diri
- Stres dalam merawat
bayi
Dukungan
keluarga sangat penting dalam membantu proses adaptasi ibu selama masa
postpartum.
7.
Infeksi
Infeksi
postpartum dapat terjadi akibat:
- Luka persalinan
- Prosedur invasif
- Retensi sisa
plasenta
- Personal hygiene
yang kurang baik
Infeksi
postpartum dapat menyebabkan komplikasi serius bila tidak segera ditangani.
8.
Atonia Uteri
Atonia
uteri adalah kondisi dimana uterus tidak berkontraksi dengan baik setelah
persalinan. Kondisi ini merupakan penyebab utama perdarahan postpartum.
Faktor
risiko atonia uteri meliputi:
- Persalinan lama
- Kehamilan ganda
- Bayi besar
- Multiparitas
9.
Faktor Psikologis
Perubahan
peran menjadi seorang ibu dapat menyebabkan stres psikologis terutama pada ibu
primipara.
Sebagian
ibu mengalami:
- Ansietas
- Ketakutan merawat
bayi
- Perubahan suasana
hati
- Depresi postpartum
Menurut
Prawirohardjo (2020), kondisi psikologis ibu postpartum harus diperhatikan
karena dapat memengaruhi proses pemulihan dan keberhasilan menyusui.
D.
ANATOMI DAN FISIOLOGI
Anatomi
dan fisiologi postpartum membahas perubahan struktur dan fungsi organ tubuh ibu
setelah proses persalinan. Setelah bayi dan plasenta lahir, tubuh ibu mengalami
proses adaptasi untuk kembali ke kondisi sebelum hamil. Perubahan tersebut
terjadi pada sistem reproduksi maupun sistem tubuh lainnya.
Menurut
Cunningham et al. (2018), masa postpartum merupakan masa pemulihan fisiologis
yang melibatkan involusi organ reproduksi, perubahan hormonal, dan adaptasi
fungsi tubuh setelah kehamilan dan persalinan.
1.
Uterus
Uterus
merupakan organ reproduksi utama yang mengalami perubahan paling besar selama
masa postpartum. Setelah persalinan uterus mengalami involusi yaitu proses
pengecilan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Setelah bayi lahir berat
uterus sekitar 1.000gram dan secara bertahap menurun menjadi sekitar 60gram
dalam waktu 6 minggu postpartum.
Tinggi
fundus uteri menurun sekitar 1 cm setiap hari akibat kontraksi uterus.
Fungsi
kontraksi uterus yaitu:
- Menghentikan
perdarahan bekas implantasi plasenta
- Membantu proses
involusi uterus
- Mengeluarkan sisa
darah dan jaringan melalui lokia
Menurut
Prawirohardjo (2020), involusi uterus yang baik ditandai dengan uterus teraba
keras dan tinggi fundus uteri menurun secara bertahap.
2.
Serviks
Serviks
mengalami peregangan selama proses persalinan. Setelah persalinan serviks
menjadi lunak, edema, dan terbuka beberapa sentimeter.
Secara
bertahap serviks akan menutup kembali dalam beberapa minggu postpartum tetapi
bentuknya tidak kembali seperti sebelum melahirkan.
Pada
wanita yang pernah melahirkan, ostium uteri eksternum tampak lebih melebar
dibanding wanita nulipara.
3.
Vagina dan Perineum
Vagina
mengalami peregangan selama proses persalinan akibat jalan lahir dilalui bayi.
a. Setelah
persalinan:
- Dinding vagina
menjadi longgar
- Tonus otot menurun
- Mukosa vagina dapat
mengalami edema
b. Perineum dapat mengalami:
- Robekan spontan
- Episiotomi
- Edema
- Nyeri
Penyembuhan
luka perineum biasanya berlangsung dalam beberapa hari sampai minggu tergantung
kondisi pasien.
Menurut
Varney (2017), latihan otot dasar panggul dapat membantu mengembalikan tonus
otot perineum postpartum.
4.
Payudara
Payudara
mengalami perubahan fisiologis untuk proses laktasi.
Perubahan
yang terjadi:
- Pembesaran payudara
- Peningkatan
vaskularisasi
- Produksi ASI
meningkat
Produksi
ASI dipengaruhi oleh:
- Hormon prolaktin
- Hormon oksitosin
Hormon
prolaktin berfungsi merangsang produksi ASI sedangkan oksitosin membantu pengeluaran
ASI melalui refleks let down.
Pada
hari ke-2 sampai ke-3 postpartum biasanya ASI mulai keluar lebih banyak
sehingga payudara terasa penuh.
5.
Sistem Endokrin
Perubahan
hormon terjadi sangat cepat setelah plasenta lahir.
a. Perubahan
hormonal postpartum meliputi:
- Penurunan hormon
estrogen
- Penurunan hormon
progesteron
- Peningkatan hormon
prolaktin
- Peningkatan hormon
oksitosin
b.
Penurunan hormon estrogen
dan progesteron menyebabkan perubahan emosional pada ibu postpartum seperti:
- Mudah menangis
- Mood berubah
- Sensitif
Menurut
Lowdermilk (2013), perubahan hormonal postpartum memengaruhi kondisi fisik dan
psikologis ibu selama masa adaptasi.
6.
Sistem Kardiovaskular
Setelah
persalinan volume darah ibu menurun secara bertahap akibat:
- Kehilangan darah
saat persalinan
- Diuresis postpartum
Curah
jantung meningkat sementara setelah persalinan kemudian kembali normal dalam
beberapa minggu.
Perubahan
sistem kardiovaskular bertujuan untuk menyesuaikan tubuh terhadap berakhirnya
kehamilan.
7.
Sistem Perkemihan
Setelah
persalinan terjadi peningkatan produksi urin akibat pengeluaran cairan berlebih
selama kehamilan.
Kandung
kemih dapat mengalami:
- Penurunan tonus otot
- Retensi urin
sementara
- Kesulitan berkemih
Kandung
kemih yang penuh dapat menghambat kontraksi uterus sehingga meningkatkan risiko
perdarahan postpartum.
8.
Sistem Gastrointestinal
a.
Motilitas usus menurun sementara setelah persalinan akibat:
- Pengaruh hormon
- Kelelahan
- Kurangnya mobilisasi
b.Akibatnya
ibu postpartum sering mengalami:
- Konstipasi
- Perut kembung
- Nafsu makan menurun
Mobilisasi
dini dan asupan cairan cukup membantu memperlancar fungsi gastrointestinal.
9.
Sistem Muskuloskeletal
Otot
abdomen dan dasar panggul mengalami peregangan selama kehamilan dan persalinan.
Setelah
persalinan:
- Tonus otot menurun
- Dinding abdomen
tampak longgar
- Kadang terjadi nyeri
punggung
Latihan
ringan postpartum membantu mengembalikan kekuatan otot secara bertahap.
10.
Sistem Psikologis
Selain
perubahan fisik, ibu postpartum juga mengalami perubahan psikologis akibat
adaptasi terhadap peran baru sebagai ibu.
Fase
adaptasi psikologis postpartum meliputi:
a.
Taking In
Ibu
masih fokus pada dirinya sendiri dan membutuhkan istirahat.
b.
Taking Hold
Ibu
mulai belajar merawat bayi dan membutuhkan dukungan.
c.
Letting Go
Ibu
mulai menerima peran baru sebagai seorang ibu.
Menurut
Bobak, Lowdermilk, dan Jensen (2012), dukungan keluarga dan tenaga kesehatan
sangat penting dalam membantu adaptasi psikologis ibu postpartum.
E.
MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi
klinis postpartum merupakan tanda dan gejala yang muncul pada ibu setelah
proses persalinan akibat perubahan fisiologis maupun psikologis selama masa
nifas. Manifestasi klinis dapat berbeda pada setiap ibu tergantung kondisi
kesehatan, jenis persalinan, komplikasi yang terjadi, serta kemampuan adaptasi
tubuh ibu setelah melahirkan.
Menurut
Lowdermilk (2013), perubahan klinis pada masa postpartum terjadi akibat
involusi uterus, perubahan hormonal, proses laktasi, dan adaptasi ibu terhadap
peran baru sebagai seorang ibu.
1.
Nyeri Perut (After Pain)
Nyeri
perut postpartum terjadi akibat kontraksi uterus dalam proses involusi.
Kontraksi uterus bertujuan untuk:
- Mengurangi ukuran
uterus
- Menutup pembuluh
darah bekas implantasi plasenta
- Mencegah perdarahan
postpartum
Nyeri
biasanya:
- Terasa pada perut
bagian bawah
- Bersifat hilang
timbul
- Lebih sering terjadi
pada ibu multipara
- Bertambah saat
menyusui karena rangsangan hormon oksitosin
Menurut
Prawirohardjo (2020), kontraksi uterus postpartum merupakan proses fisiologis
normal namun dapat menyebabkan ketidaknyamanan pada ibu.
2.
Pengeluaran Lokia
Lokia
adalah cairan yang keluar dari jalan lahir setelah persalinan yang terdiri
dari:
- Darah
- Lendir
- Sisa jaringan
desidua
- Sel epitel
- Leukosit
Pengeluaran
lokia berlangsung selama kurang lebih 2–6 minggu postpartum.
Jenis
lokia meliputi:
a.
Lokia Rubra
- Berwarna merah
- Berisi darah segar
- Terjadi pada hari
1–3 postpartum
b.
Lokia Sanguinolenta
- Berwarna merah
kecoklatan
- Terjadi pada hari
3–7 postpartum
c.
Lokia Serosa
- Berwarna kekuningan
atau kecoklatan
- Terjadi pada minggu
kedua postpartum
d.
Lokia Alba
- Berwarna putih
kekuningan
- Terjadi setelah
minggu kedua sampai minggu keenam postpartum
Lokia
yang berbau busuk dapat menandakan adanya infeksi nifas.
3.
Kontraksi Uterus
Pada
postpartum uterus teraba keras akibat kontraksi yang baik.
Kontraksi
uterus berfungsi untuk:
- Mengurangi
perdarahan
- Mempercepat involusi
uterus
- Mengembalikan ukuran
uterus seperti sebelum hamil
Bila
uterus lembek atau tidak berkontraksi dengan baik maka dapat terjadi atonia
uteri yang meningkatkan risiko perdarahan postpartum.
4.
Perubahan Payudara
Payudara
mengalami perubahan akibat dimulainya proses laktasi.
Manifestasi
yang sering muncul:
- Payudara membesar
- Payudara terasa
penuh
- ASI mulai keluar
- Puting lebih
menonjol
- Kadang terjadi
bendungan ASI
Menurut
Maryunani (2015), produksi ASI dipengaruhi oleh hormon prolaktin dan
pengeluaran ASI dipengaruhi hormon oksitosin.
5.
Kelelahan
Kelelahan
merupakan manifestasi yang sering dialami ibu postpartum akibat:
- Proses persalinan
- Kurang tidur
- Kehilangan energi
- Adaptasi merawat
bayi
Pasien
biasanya tampak:
- Lemah
- Mengantuk
- Kurang bertenaga
- Sulit berkonsentrasi
Kelelahan
dapat memengaruhi kemampuan ibu dalam menyusui dan merawat bayi.
6.
Gangguan Tidur
Gangguan
tidur sering terjadi pada masa postpartum akibat:
- Nyeri
- Ketidaknyamanan
- Bayi sering menangis
- Frekuensi menyusui
meningkat
- Kecemasan ibu
Pasien
sering mengeluh:
- Sulit tidur
- Tidur tidak nyenyak
- Sering terbangun
malam hari
7.
Perubahan Emosional
Perubahan
emosional postpartum terjadi akibat perubahan hormonal dan proses adaptasi
psikologis.
Manifestasi
yang sering muncul:
- Mudah menangis
- Mood berubah-ubah
- Sensitif
- Cemas
- Takut merawat bayi
- Mudah tersinggung
Sebagian
ibu mengalami postpartum blues terutama pada minggu pertama setelah persalinan.
Menurut
Varney (2017), postpartum blues merupakan gangguan emosional ringan yang sering
terjadi akibat perubahan hormon dan kelelahan.
8.
Perubahan Tanda-Tanda Vital
Perubahan
fisiologis postpartum dapat memengaruhi tanda-tanda vital.
a.
Tekanan Darah
Biasanya
kembali normal setelah persalinan.
b.
Nadi
Sedikit
menurun pada beberapa hari pertama postpartum.
c.
Suhu Tubuh
Dapat
meningkat ringan dalam 24 jam pertama akibat proses persalinan dan laktasi.
d.
Respirasi
Biasanya
kembali normal setelah persalinan.
Perubahan
yang berlebihan harus diwaspadai sebagai tanda komplikasi postpartum.
9.
Perubahan Sistem Perkemihan
Manifestasi
yang sering muncul:
- Diuresis meningkat
- Sulit berkemih
- Retensi urin
sementara
Kandung
kemih penuh dapat menghambat kontraksi uterus sehingga perlu dilakukan
observasi eliminasi urin postpartum.
10.
Perubahan Sistem Gastrointestinal
Ibu
postpartum sering mengalami:
- Konstipasi
- Nafsu makan menurun
- Perut kembung
Kondisi
ini dipengaruhi oleh:
- Penurunan motilitas
usus
- Kurang aktivitas
- Nyeri perineum
- Kurangnya asupan
cairan
11.
Luka Perineum atau Luka Operasi
Pada
persalinan normal dapat ditemukan:
- Luka episiotomi
- Robekan perineum
Sedangkan
pada sectio caesarea ditemukan:
- Luka insisi abdomen
Pasien
biasanya mengeluh:
- Nyeri luka
- Sulit bergerak
- Tidak nyaman saat
duduk atau berjalan
Luka
harus diobservasi untuk mendeteksi tanda infeksi atau perdarahan.
12.
Adaptasi Peran Menjadi Ibu
Ibu
postpartum mulai belajar:
- Menyusui
- Menggendong bayi
- Merawat bayi
- Menyesuaikan diri
dengan peran baru
Sebagian
ibu memerlukan dukungan keluarga dan tenaga kesehatan agar mampu beradaptasi
dengan baik.
Menurut
Bobak, Lowdermilk, dan Jensen (2012), proses adaptasi peran menjadi ibu
merupakan bagian penting dalam masa postpartum.
F.
PATOFISIOLOGI
Setelah
bayi dan plasenta lahir terjadi penurunan hormon estrogen dan progesteron
secara drastis. Penurunan hormon tersebut merangsang peningkatan hormon
prolaktin yang berfungsi dalam produksi ASI.
Kontraksi
uterus terjadi untuk menutup pembuluh darah bekas implantasi plasenta sehingga
membantu menghentikan perdarahan dan mempercepat involusi uterus. Apabila
kontraksi uterus tidak adekuat maka dapat terjadi atonia uteri yang menyebabkan
perdarahan postpartum.
G.
PATHWAY
H.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.
Pemeriksaan Laboratorium
- Hemoglobin
- Hematokrit
- Leukosit
- Golongan darah
2.
Pemeriksaan Fisik
- Tanda-tanda vital
- Pemeriksaan uterus
- Pemeriksaan lokia
- Pemeriksaan luka
3.
Pemeriksaan Tambahan
- USG
- Kultur luka
- Pemeriksaan urin
I.
DIAGNOSIS
Diagnosis
Medis
- Postpartum normal
- Postpartum sectio
caesarea
- Postpartum dengan
komplikasi
Diagnosis
Keperawatan Berdasarkan SDKI
- Nyeri akut
- Risiko infeksi
- Menyusui tidak
efektif
- Risiko perdarahan
- Gangguan pola tidur
- Defisit pengetahuan
- Intoleransi
aktivitas
- Ansietas
J.
KOMPLIKASI
Komplikasi
postpartum merupakan masalah kesehatan yang dapat terjadi pada ibu selama masa
nifas akibat gangguan proses pemulihan setelah persalinan. Komplikasi dapat
terjadi secara ringan maupun berat dan memerlukan penanganan segera untuk
mencegah morbiditas dan mortalitas maternal.
Menurut
Prawirohardjo (2020), masa postpartum merupakan periode yang berisiko tinggi
terhadap terjadinya komplikasi maternal terutama dalam 24 jam pertama setelah
persalinan.
1.
Perdarahan Postpartum
Perdarahan
postpartum adalah perdarahan lebih dari 500 mL setelah persalinan normal atau
lebih dari 1000 mL setelah sectio caesarea.
Perdarahan
postpartum merupakan penyebab utama kematian ibu.
Penyebab
perdarahan postpartum meliputi:
- Atonia uteri
- Retensio plasenta
- Trauma jalan lahir
- Gangguan pembekuan
darah
Manifestasi
klinis:
- Perdarahan banyak
- Uterus lembek
- Tekanan darah
menurun
- Nadi cepat
- Kulit pucat
- Pasien lemas
Menurut
Saifuddin (2018), atonia uteri merupakan penyebab tersering perdarahan
postpartum karena uterus gagal berkontraksi dengan baik setelah plasenta lahir.
2.
Infeksi Nifas
Infeksi
nifas adalah infeksi yang terjadi pada alat reproduksi setelah persalinan.
Infeksi
dapat disebabkan oleh:
- Luka persalinan
- Retensi sisa
plasenta
- Kebersihan yang
kurang baik
- Tindakan invasif
Manifestasi
klinis:
- Demam
- Lokia berbau busuk
- Nyeri abdomen
- Uterus lunak
- Menggigil
- Lemas
Infeksi
nifas dapat berkembang menjadi sepsis bila tidak segera ditangani.
Menurut
Manuaba (2021), personal hygiene dan perawatan luka yang baik sangat penting
dalam mencegah infeksi postpartum.
3.
Bendungan ASI
Bendungan
ASI terjadi akibat pengeluaran ASI yang tidak lancar sehingga ASI menumpuk di
payudara.
Penyebab
bendungan ASI:
- Bayi jarang menyusu
- Teknik menyusui
salah
- Pengosongan payudara
tidak adekuat
Manifestasi
klinis:
- Payudara terasa
penuh
- Payudara keras
- Nyeri payudara
- Payudara terasa
panas
- Ibu merasa tidak
nyaman
Bendungan
ASI dapat mengganggu proses menyusui dan menyebabkan mastitis bila tidak
ditangani.
4.
Mastitis
Mastitis
adalah peradangan pada jaringan payudara yang biasanya disebabkan oleh infeksi
bakteri.
Bakteri
dapat masuk melalui:
- Puting lecet
- Bendungan ASI
- Kebersihan payudara
yang kurang baik
Manifestasi
klinis:
- Payudara merah
- Nyeri payudara
- Bengkak
- Demam
- Badan lemas
Menurut
Maryunani (2015), mastitis sering terjadi pada ibu menyusui terutama bila
teknik menyusui kurang tepat.
5.
Tromboflebitis
Tromboflebitis
adalah peradangan vena yang disertai pembentukan trombus.
Kondisi
ini dapat terjadi akibat:
- Immobilisasi
- Perubahan koagulasi
darah postpartum
- Trauma pembuluh
darah
Manifestasi
klinis:
- Nyeri pada tungkai
- Bengkak
- Kemerahan
- Tungkai terasa
hangat
- Demam
Mobilisasi
dini postpartum penting dilakukan untuk mencegah tromboflebitis.
6.
Postpartum Blues
Postpartum
blues merupakan gangguan emosional ringan yang sering terjadi pada minggu
pertama postpartum akibat perubahan hormonal dan kelelahan.
Manifestasi
klinis:
- Mudah menangis
- Sensitif
- Cemas
- Mood berubah-ubah
- Mudah tersinggung
Kondisi
ini biasanya bersifat sementara dan membaik dalam beberapa hari.
Menurut
Lowdermilk (2013), dukungan keluarga dan istirahat yang cukup membantu
mengurangi postpartum blues.
7.
Depresi Postpartum
Depresi
postpartum merupakan gangguan psikologis berat yang terjadi setelah persalinan
dan dapat memengaruhi kemampuan ibu dalam merawat bayi.
Faktor
risiko:
- Kurangnya dukungan
keluarga
- Riwayat depresi
- Stres
- Kelelahan berat
Manifestasi
klinis:
- Sedih berkepanjangan
- Tidak bersemangat
- Gangguan tidur
- Nafsu makan menurun
- Menarik diri
- Tidak tertarik
merawat bayi
Depresi
postpartum memerlukan penanganan medis dan psikologis agar tidak membahayakan
ibu maupun bayi.
Menurut
Varney (2017), deteksi dini gangguan psikologis postpartum sangat penting untuk
mencegah komplikasi yang lebih berat.
K.
PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan
Medis
- Pemberian
uterotonika
- Analgesik
- Antibiotik
- Terapi cairan
- Transfusi darah
Penatalaksanaan
Keperawatan
- Monitoring tanda vital
- Observasi kontraksi
uterus
- Observasi lokia
- Perawatan luka
- Edukasi menyusui
- Mobilisasi dini
- Dukungan psikologis
- Edukasi nutrisi
- Edukasi personal
hygiene
L.
ASUHAN KEPERAWATAN BERDASARKAN TEORI
1.
Pengkajian
Data
Subjektif
- Ibu mengeluh nyeri perut
- Nyeri luka jahitan
- ASI belum lancar
- Sulit tidur
- Lemas
Data
Objektif
- Terdapat lokia
- Tinggi fundus uteri
menurun
- Luka jahitan
- Payudara membesar
- Kontraksi uterus
baik
2.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
- Nyeri akut
berhubungan dengan trauma jaringan akibat persalinan.
- Risiko infeksi
berhubungan dengan luka persalinan.
- Menyusui tidak
efektif berhubungan dengan kurang pengetahuan mengenai teknik menyusui.
- Gangguan pola tidur
berhubungan dengan ketidaknyamanan postpartum.
- Defisit pengetahuan
berhubungan dengan kurang informasi mengenai perawatan nifas.
- Risiko perdarahan
berhubungan dengan atonia uteri.
- Intoleransi
aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik postpartum.
- Ansietas berhubungan
dengan perubahan peran menjadi ibu.
3. INTERVENSI
KEPERAWATAN
|
No |
Diagnosa
Keperawatan |
Luaran (SLKI) |
Intervensi
(SIKI) |
|
1. |
Nyeri akut |
Tingkat nyeri
menurun |
Observasi nyeri,
monitor TTV, relaksasi napas dalam |
|
2. |
Risiko infeksi |
Tidak terdapat
tanda infeksi |
Rawat luka
aseptik, observasi tanda infeksi |
|
3. |
Menyusui tidak
efektif |
Proses menyusui
membaik |
Edukasi teknik
menyusui |
|
4. |
Gangguan pola
tidur |
Pola tidur
membaik |
Anjurkan
istirahat cukup |
|
5. |
Defisit
pengetahuan |
Pengetahuan
meningkat |
Edukasi
perawatan nifas |
|
6. |
Risiko
perdarahan |
Tidak terjadi
perdarahan |
Monitor
kontraksi uterus |
|
7. |
Intoleransi
aktivitas |
Aktivitas
meningkat |
Mobilisasi
bertahap |
|
8. |
Ansietas |
Tingkat
kecemasan menurun |
Berikan dukungan
emosional |
4.
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
- Mengkaji tingkat
nyeri pasien
- Mengobservasi
kontraksi uterus
- Mengukur tanda-tanda
vital
- Mengobservasi jumlah
dan warna lokia
- Merawat luka
episiotomi atau luka operasi
- Mengajarkan teknik
menyusui
- Membantu mobilisasi
dini
- Memberikan edukasi
personal hygiene
- Memberikan dukungan
psikologis
- Mengajarkan nutrisi postpartum
4. EVALUASI
KEPERAWATAN
|
No |
Diagnosa
Keperawatan |
Evaluasi
SOAP |
|
1. |
Nyeri
akut berhubungan dengan trauma jaringan akibat persalinan |
S:
Pasien mengatakan nyeri berkurang. O:
Pasien tampak rileks dan tidak meringis. A:
Masalah teratasi sebagian. P:
Lanjutkan intervensi manajemen nyeri. |
|
2. |
Risiko
infeksi berhubungan dengan luka persalinan |
S:
Pasien mengatakan luka terasa lebih nyaman. O: Luka
tampak bersih dan kering. A:
Risiko infeksi belum terjadi. P:
Lanjutkan observasi tanda infeksi. |
|
3. |
Menyusui
tidak efektif berhubungan dengan kurang pengetahuan mengenai teknik menyusui |
S:
Pasien mengatakan mulai memahami teknik menyusui. O: Bayi
mampu menyusu dengan baik. A:
Masalah teratasi sebagian. P:
Lanjutkan edukasi menyusui. |
|
4. |
Gangguan
pola tidur berhubungan dengan ketidaknyamanan postpartum |
S:
Pasien mengatakan tidur lebih nyaman. O:
Pasien tampak lebih segar. A:
Masalah teratasi sebagian. P:
Anjurkan istirahat cukup. |
|
5. |
Defisit
pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi mengenai perawatan nifas |
S:
Pasien mengatakan memahami penjelasan. O:
Pasien mampu mengulangi penjelasan. A:
Masalah teratasi. P:
Pertahankan edukasi kesehatan. |
|
6. |
Risiko
perdarahan berhubungan dengan atonia uteri |
S:
Pasien mengatakan tidak ada perdarahan berlebihan. O:
Kontraksi uterus baik dan lokia normal. A:
Risiko perdarahan belum terjadi. P:
Lanjutkan observasi uterus dan lokia. |
|
7. |
Intoleransi
aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik postpartum |
S:
Pasien mengatakan badan lebih kuat.O: Pasien mampu melakukan aktivitas
ringan.A: Masalah teratasi sebagian.P: Tingkatkan aktivitas
bertahap. |
|
8. |
Ansietas
berhubungan dengan perubahan peran menjadi ibu |
S:
Pasien mengatakan lebih tenang. O:
Pasien tampak lebih percaya diri merawat bayi. A: Masalah
teratasi sebagian. P:
Berikan dukungan emosional. Masalah teratasi sebagian. |
DAFTAR
PUSTAKA
Bobak, I. M., Lowdermilk, D. L., & Jensen, M. D.
(2012). Buku ajar keperawatan maternitas (Edisi 4). Jakarta: EGC.
Cunningham, F. G., Leveno, K. J., Bloom, S. L., Hauth,
J. C., Rouse, D. J., & Spong, C. Y. (2018). Obstetri Williams (Edisi
23). Jakarta: EGC.
Lowdermilk, D. L. (2013). Maternity nursing
(10th ed.). Jakarta: Salemba Medika.
Manuaba, I. B. G. (2021). Ilmu kebidanan, penyakit
kandungan, dan KB untuk pendidikan bidan. Jakarta: EGC.
Maryunani, A. (2015). Asuhan ibu nifas dan asuhan
ibu menyusui. Jakarta: Trans Info Media.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2017). Standar
diagnosis keperawatan Indonesia: Definisi dan indikator diagnostik (1st
ed.). Jakarta: DPP PPNI.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2018). Standar
intervensi keperawatan Indonesia: Definisi dan tindakan keperawatan (1st
ed.). Jakarta: DPP PPNI.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2019). Standar
luaran keperawatan Indonesia: Definisi dan kriteria hasil keperawatan (1st
ed.). Jakarta: DPP PPNI.
Prawirohardjo, S. (2020). Ilmu kebidanan.
Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Saifuddin, A. B. (2018). Buku acuan nasional
pelayanan kesehatan maternal dan neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.
Varney, H. (2017). Buku ajar asuhan kebidanan.
Jakarta: EGC.
Komentar
Posting Komentar