LAPORAN PENDAHULUAN PASIEN DENGAN DIAGNOSA MEDIS ADENOMYOSIS
LAPORAN PENDAHULUAN
PASIEN DENGAN DIAGNOSA MEDIS ADENOMYOSIS
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Definisi
Adenomiosis merupakan salah satu penyakit ginekologi
jinak yang ditandai dengan adanya jaringan endometrium (kelenjar dan stroma
endometrium) yang tumbuh di dalam lapisan otot rahim (miometrium). Kondisi ini
menyebabkan perubahan struktur dan fungsi rahim sehingga menimbulkan berbagai
keluhan, seperti nyeri haid yang berat (dismenore), perdarahan menstruasi yang
berlebihan (menoragia), nyeri panggul kronis, serta gangguan kesuburan.
Penyakit ini umumnya ditemukan pada wanita usia reproduktif, terutama usia
35–50 tahun, dan lebih sering terjadi pada wanita yang pernah melahirkan.
Adenomiosis menjadi salah satu masalah kesehatan
reproduksi yang penting karena dapat menurunkan kualitas hidup wanita.
Perdarahan menstruasi yang berlebihan dapat menyebabkan anemia, sedangkan nyeri
yang berulang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, pekerjaan, serta kondisi
psikologis pasien. Selain itu, adenomiosis juga dapat memengaruhi fungsi
reproduksi sehingga meningkatkan risiko infertilitas pada sebagian penderita.
Penyebab adenomiosis belum diketahui secara pasti, namun
beberapa faktor diduga berperan dalam terjadinya penyakit ini, antara lain
pengaruh hormon estrogen, riwayat persalinan, riwayat operasi pada rahim,
proses inflamasi, serta faktor genetik. Seiring perkembangan penyakit, jaringan
endometrium yang berada di dalam miometrium akan mengalami perubahan mengikuti
siklus menstruasi sehingga memicu perdarahan di dalam otot rahim, inflamasi
kronis, dan pembesaran uterus.
Penatalaksanaan adenomiosis dapat dilakukan secara
konservatif maupun operatif, tergantung pada usia pasien, tingkat keparahan
gejala, dan keinginan untuk mempertahankan fungsi reproduksi. Terapi
konservatif meliputi pemberian obat analgesik dan terapi hormonal, sedangkan
terapi operatif seperti adenomiomektomi atau histerektomi dilakukan pada kasus
dengan gejala berat atau yang tidak membaik dengan pengobatan.
Dalam praktik
keperawatan, pasien dengan adenomiosis memerlukan asuhan keperawatan yang
komprehensif melalui proses pengkajian, penetapan diagnosis keperawatan,
perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Perawat berperan penting dalam
mengurangi nyeri, mencegah komplikasi, memberikan edukasi kesehatan, memenuhi
kebutuhan dasar pasien, serta mendukung proses pemulihan fisik dan psikologis.
Oleh karena itu, pemahaman mengenai konsep dasar adenomiosis dan asuhan
keperawatan yang tepat sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan
dan kualitas hidup pasien.
Adenomiosis
adalah penyakit ginekologi jinak yang ditandai dengan adanya jaringan
endometrium, yaitu kelenjar dan stroma endometrium, yang tumbuh dan menyusup ke
dalam lapisan otot rahim (miometrium). Jaringan endometrium tersebut tetap
mengalami perubahan sesuai siklus menstruasi sehingga menyebabkan perdarahan di
dalam miometrium, reaksi inflamasi, dan pembesaran rahim.
Adenomiosis
merupakan salah satu penyebab tersering nyeri haid (dismenore) dan perdarahan
menstruasi yang berlebihan (menoragia) pada wanita usia reproduktif. Penyakit
ini paling banyak ditemukan pada wanita berusia 35–50 tahun dan lebih sering
terjadi pada wanita yang pernah melahirkan.
Kondisi
ini dapat memengaruhi kualitas hidup pasien karena menyebabkan nyeri kronis,
anemia akibat perdarahan berlebihan, gangguan aktivitas sehari-hari, bahkan
gangguan kesuburan. Oleh karena itu, penanganan yang tepat sangat diperlukan
untuk mengurangi gejala dan mencegah komplikasi.
1.2
Klasifikasi
1. Klasifikasi Berdasarkan
Pola Penyebaran (Histopatologi & Usg) Ini Adalah Klasifikasi Klinis Yang
Paling Sering Anda Temui Pada Hasil Pemeriksaan Usg Rahim
·
Adenomiosis
Difus (Diffuse Adenomyosis): Jaringan Endometrium Ektopik Tersebar Luas Dan
Merata Di Hampir Seluruh Dinding Otot Rahim (Miometrium). Kondisi Ini
Menyebabkan Rahim Membesar Secara Merata (Globular Uterus) Dan Biasanya Memicu
Perdarahan (Aub) Yang Sangat Masif Karena Area Permukaan Rahim Yang Luruh
Sangat Luas
·
Adenomiosis
Fokal (Focal Adenomyosis): Lesi Atau Jaringan Abnormal Hanya Menumpuk Di Satu
Area Atau Lokasi Tertentu Di Dinding Rahim. Gejala Perdarahannya Bisa
Bervariasi Tergantung Seberapa Dekat Letaknya Dengan Lapisan Rongga Rahim
·
Adenomioma
(Adenomyoma): Bentuk Khusus Dari Adenomiosis Fokal Yang Strukturnya Memadat
Membentuk Massa Atau Nodul Tersendiri Di Dalam Otot Polos Rahim. Di Layar Usg,
Tampilannya Sering Kali Mirip Dengan Tumor Jinak Rahim (Mioma Uteri/Fibroid)
Sehingga Membutuhkan Ketelitian Dokter Untuk Membedakannya. B . Klasifikasi
Kedalaman Infiltrasi (Kedalaman Lesi) Keparahan Aub Dan Nyeri Haid Berkorelasi
Erat Dengan Seberapa Dalam Jaringan Luar Tersebut Menyusup Ke Otot Rahim
·
Ringan
/ Kedalaman Dangkal (Zona Persimpangan): Invasi Jaringan Baru Menyentuh Atau
Merusak Junctional Zone (Jz)—Yaitu Batas Tipis Antara Lapisan Dalam Rahim
(Endometrium) Dan Otot Rahim.
·
Sedang
/ Tingkat Intermediate: Jaringan Telah Menyusup Hingga Ke Bagian Tengah Dinding
Miometrium.
·
Berat
/ Tingkat Profunda: Jaringan Endometrium Telah Menembus Lebih Dari 80%
Ketebalan Dinding Rahim Atau Bahkan Mencapai Lapisan Terluar Rahim (Serosa).
Hal Ini Mengganggu Kontraktilitas Rahim Secara Total Sehingga Memicu Pendarahan
Hebat Yang Sulit Berhenti.
2.
Klasifikasi
Tanda Usg Berdasarkan Konsensus Musa (Morphological Uterus Sonographic
Assessment) Dokter Kandungan
Mendiagnosis Jenis Adenomiosis Melalui Alat Usg Transvaginal Dengan Membaginya
Menjadi Dua Kelompok Tanda:
.
Tanda
Langsung (Direct Features): Menunjukkan Adanya Kantung Darah Nyata Di Otot
Rahim, Seperti Kista Miometrium, Pulau Hiperekogenik (Bercak Terang), Dan Garis
Subendometrium.
.
Tanda
Tidak Langsung (Indirect Features): Efek Sekunder Akibat Pembengkakan Otot
Rahim, Seperti Penebalan Dinding Rahim Yang Tidak Simetris (Satu Sisi Lebih
Tebal), Rahim Berbentuk Bulat Membesar, Dan Adanya Bayangan Berbentuk Kipas
(Fan-Shaped Shadowing).
3.
Posisi
Adenomiosis Dalam Klasifikasi Aub (Sistem Palm-Coein)
Di Dunia Medis, Klasifikasi
Palm-Coein Buatan International Federation Of Gynecology And Obstetrics
Memetakan Seluruh Penyebab Pendarahan Abnormal. Adenomiosis Ditempatkan Dalam
Kelompok Struktural (Palm):
. P - Polyp (Polip Rahim)
. A - Adenomyosis
(Adenomiosis) → Penyebab Nomor Dua Terbesar Dalam Kelainan Struktur Rahim Yang
Memicu Aub.
. L - Leiomyoma (Mioma
Uteri)\
.
M
- Malignancy (Kanker Atau Hiperplasia
1.3
Etiologi
Meskipun histologinya telah dijelaskan dengan baik,
etiologi adenomiosis belum diketahui secara pasti. Para peneliti telah
mengemukakan beberapa teori. Teori yang paling umum diterima adalah bahwa
adenomiosis disebabkan oleh gangguan batas antara lapisan terdalam endometrium
(endometrium basalis) dan miometrium di bawahnya. Proses ini menyebabkan siklus
proliferasi endometrium yang tidak tepat ke dalam miometrium dengan
angiogenesis pembuluh darah kecil selanjutnya serta hipertrofi dan hiperplasia
otot polos miometrium di sekitarnya. Data yang menunjukkan prevalensi
adenomiosis yang lebih tinggi setelah dilatasi dan kuretase serta operasi
caesar mendukung teori in.
Teori
kedua mengusulkan mekanisme embriologis di mana sel induk Mullerian pluripoten
mengalami diferensiasi yang tidak tepat sehingga menyebabkan jaringan
endometrium ektopik. Teori ini didukung oleh bukti yang menunjukkan perubahan
ekspresi penanda genetik tertentu, di samping laporan kasus jaringan
endometrium yang ditemukan pada wanita dengan sindrom Rokitansky-Kuster-Hauser
(agenesis Mullerian).
Teori
lain yang kurang diterima mengusulkan perubahan jalur drainase limfatik dan
perpindahan sel induk sumsum tulang untuk menjelaskan keberadaan jaringan
endometrium ektopik .Meskipun histologinya telah dijelaskan dengan baik, etiologi
adenomiosis belum diketahui secara pasti. Para peneliti telah mengemukakan
beberapa teori. Teori yang paling umum diterima adalah bahwa adenomiosis
disebabkan oleh gangguan batas antara lapisan terdalam endometrium (endometrium
basalis) dan miometrium di bawahnya. Proses ini menyebabkan siklus proliferasi
endometrium yang tidak tepat ke dalam miometrium dengan angiogenesis pembuluh
darah kecil selanjutnya serta
1.4
Manifestasi Klinis
Manifestasi
klinis pada pasien dengan adenomiosis yang diindikasikan untuk tindakan
adenomiomektomi secara teoretis dibagi menjadi dua fase: Fase Pre-Operasi
(gejala penyakit yang mendasari keputusan bedah) dan Fase Pasca-Operasi (efek
klinis langsung dari tindakan pembedahan).
1.
Manifestasi
Klinis Pre-Operasi (Indikasi Bedah)
Keluhan dan tanda klinis di bawah
ini muncul akibat invasi jaringan endometrium ke dalam lapisan otot rahim
(miometrium) yang memicu reaksi peradangan kronis:
v Dismenore Sekunder
Progresif (Nyeri Haid Berat):
. Karakteristik: Nyeri
kram ekstrem di perut bagian bawah menjelang dan selama menstruasi. Sifatnya
memburuk dari waktu ke waktu (progresif) dan refrakter (tidak mempan) terhadap
obat analgetik biasa.
.
Dampak
Keperawatan: Memunculkan masalah Nyeri Akut.
v Perdarahan Uterus
Abnormal (PUA) / Menoragia:
.
Karakteristik:
Volume darah menstruasi yang sangat banyak (menggunakan pembalut berlebih)
disertai keluarnya gumpalan darah, atau durasi menstruasi memanjang (>7
hari). Hal ini dipicu oleh kegagalan otot rahim berkontraksi secara optimal.
.
Dampak
Keperawatan: Pasien tampak pucat, konjungtiva anemis, lemas, dan hasil Hb
menurun (<11 g/dL). Memunculkan masalah Risiko Perdarahan dan Perfusi
Perifer Tidak Efektif (Anemia).
v Pembesaran Rahim
(Globular Uterus):
.
Karakteristik:
Pada pemeriksaan fisik (palpasi perut bawah atau pemeriksaan bimanual), rahim
teraba membesar, bulat, lunak, dan nyeri tekan.
.
Dampak
Keperawatan: Pembesaran rahim menekan organ sekitar (kandung kemih/rektum)
sehingga bermanifestasi menjadi keluhan sering buang air kecil atau konstipasi.
Memunculkan masalah Gangguan Eliminasi Urin.
v Dispareunia dan Nyeri
Panggul Kronis:
.
Karakteristik:
Rasa nyeri yang konstan di panggul selama minimal 6 minggu dan rasa sakit yang
dalam saat berhubungan seksual.
.
Dampak
Keperawatan: Memunculkan masalah Disfungsi Seksual atau Nyeri Kronis.
v Infertilitas atau
Riwayat Keguguran Berulang:
.
Karakteristik:
Pasien usia subur mengeluhkan kesulitan hamil atau sering keguguran spontan
akibat distorsi rongga rahim.
.
Dampak
Keperawatan: Memunculkan masalah Ansietas atau Defisit Pengetahuan.
2. Manifestasi Klinis
Pasca-Operasi (Adenomiomektomi)
Setelah tindakan pembedahan
rekonstruksi rahim dilakukan, manifestasi klinis yang muncul merupakan dampak
dari luka operasi insisi abdomen dan uterus:
.
Nyeri
Akut Pasca-Bedah: Nyeri tajam di area insisi perut (laparatomi) atau area
panggul bawah akibat terputusnya kontinuitas jaringan kulit dan otot uterus
setelah efek anestesi habis.
.
Luka
Insisi dan Drainase: Terdapat luka operasi yang tertutup kasa (atau terpasang
drain). Manifestasi yang dipantau adalah tanda-tanda infeksi lokal seperti
kemerahan (rubor), panas (calor), bengkak (tumor), atau keluarnya cairan pus.
o
Dampak
Keperawatan: Memunculkan masalah Risiko Infeksi.
.
Pelepasan
Lokhea / Perdarahan Pervaginam Minimal: Pasca-operasi, normal jika keluar
sedikit darah atau flek dari vagina selama beberapa hari sebagai proses
pembersihan sisa jaringan di rongga rahim.
.
Penurunan
Peristaltik Usus: Efek dari obat anestesi saat operasi menyebabkan manifestasi
klinis berupa perut kembung, mual, dan pasien belum bisa kentut.
o
Dampak
Keperawatan: Memunculkan masalah Disfungsi Motilitas Gastrointestinal.
.
Kelemahan
Fisik (Intoleransi Aktivitas): Pasien mengalami keterbatasan gerak di tempat
tidur akibat nyeri luka operasi
1.5
Patofisiologi
Berdasarkan
sistem klasifikasi FIGO (PALM-COEIN), adenomiosis masuk dalam kategori
struktural penyebab AUB-A (Adenomyosis). Perdarahan menstruasi yang
hebat (menoragia/AUB) terjadi melalui tiga mekanisme patofisiologi utama:
1.
Gangguan
Kontraktilitas Miometrium
.
Mekanisme: Jaringan endometrium
ektopik (kelenjar dan stroma) menginvasi lapisan otot rahim (miometrium).
Invasi ini memicu reaksi peradangan kronis dan hipertrofi/hiperplasia
(pembengkakan) otot polos di sekitarnya.
.
Dampak: Akibat arsitektur otot
rahim yang rusak dan kaku, miometrium kehilangan kemampuan mekanisnya untuk
berkontraksi secara sinkron dan adekuat saat menstruasi. Kontraksi yang lemah
ini gagal menjepit pembuluh darah (arteri spiralisis) yang meluruh, sehingga
darah keluar terus-menerus dalam volume besar.
2.
Peningkatan Luas Permukaan Endometrium dan Hiperestrogenisme
.
Mekanisme: Keberadaan jaringan
adenomiosis (adenomioma) membuat volume rahim membesar secara keseluruhan
(globular uterus). Kondisi ini diperparah oleh produksi estrogen lokal yang
tinggi di dalam lesi.
.
Dampak: Pembesaran rahim
otomatis memperluas area permukaan lapisan dalam rahim (endometrium eutopik)
yang meluruh setiap bulan. Luas permukaan yang bertambah besar berbanding lurus
dengan jumlah volume darah haid yang keluar.
3.
Proses Angiogenesis Abnormal dan Kerapuhan Vaskular
.
Mekanisme: Jaringan adenomiosis
merangsang pelepasan faktor pertumbuhan pembuluh darah (seperti Vascular
Endothelial Growth Factor / VEGF) akibat hipoksia jaringan jaringan lokal.
.
Dampak: Terbentuk banyak
pembuluh darah baru (angiogenesis) di sekitar rahim yang strukturnya rapuh,
berdilatasi (melebar), dan mudah pecah saat terjadi peluruhan dinding rahim,
memicu perdarahan yang profus (banyak
1.6
Pemeriksaan Penunjang
1.
Pemeriksaan
Pencitraan (Gold Standard Diagnostik)
Pemeriksaan ini bertujuan untuk
memetakan lokasi, batas, dan ukuran jaringan adenomiosis (fokal/difus) di dalam
otot rahim guna merencanakan teknik sayatan operasi adenomiomektomi.
.
Ultrasonografi
(USG) Transvaginal / Transabdominal:
o
Kriteria
Teoretis: Merupakan modalitas lini pertama. Secara teori ginekologi, gambaran
khas adenomiosis meliputi rahim membesar berbentuk bulat (globular), ketebalan
dinding miometrium tidak simetris (asimetris), adanya kista-kista kecil anekoik
(ruang berisi cairan darah) di dalam otot rahim, serta gambaran shading
(bayangan) seperti garis-garis hujan (rain-shower appearance).
o
Kaitan
dengan Operasi: USG membantu membedakan apakah batas lesi berupa adenomioma
fokal (lebih mudah diangkat) atau adenomiosis difus (memerlukan teknik operasi
khusus).
.
Magnetic
Resonance Imaging (MRI) Pelvis:
o
Kriteria
Teoretis: Merupakan alat diagnostik paling akurat (sensitivitas dan
spesifisitas tinggi). Tanda diagnostik utamanya adalah penebalan Junction Zone
(JZ) ≥ 12 mm. JZ adalah zona transisi antara endometrium dan miometrium. Jika
ketebalannya ≥ 12 mm, diagnosis adenomiosis tegak secara teori.
o
Kaitan
dengan Operasi: MRI memberikan peta anatomi 3 dimensi yang sangat krusial bagi
dokter bedah untuk mengetahui seberapa dekat jarak lesi dengan rongga
endometrium agar saat dilakukan adenomiomektomi, rongga rahim tidak robek atau
rusak secara tidak sengaja.
2. Pemeriksaan Laboratorium
(Evaluasi Dampak AUB & Kesiapan Bedah)
Pemeriksaan
darah dilakukan untuk memantau manifestasi klinis AUB (perdarahan hebat) dan
memastikan kondisi fisik pasien aman untuk menjalani anestesi serta pembedahan
mayor.
·
Darah
Lengkap (Darah Rutin / Complete Blood Count):
o
Parameter
Utama: Hemoglobin (Hb) dan Hematokrit (Ht).
o
Rasional
Teoretis: Pasien dengan AUB kronis sering kali datang dengan manifestasi anemia
defisiensi besi berat. Jika kadar Hb < 10 g/dL, secara teori diperlukan
transfusi darah perioperatif (Pre atau Intra-operasi) sebelum adenomiomektomi
dilakukan guna mencegah syok hipovolemik.
o
Parameter
Tambahan: Trombosit dan Leukosit untuk memastikan tidak ada gangguan pembekuan
darah atau infeksi aktif.
·
Fungsi
Koagulasi (PT, APTT, INR):
o
Rasional
Teoretis: Memastikan mekanisme pembekuan darah pasien berjalan normal. Hal ini
sangat vital karena rahim yang mengalami adenomiosis memiliki risiko perdarahan
masif (hemorrhage) selama proses penyayatan otot (adenomiomektomi).
·
Pemeriksaan
Tumor Marker Tumor Antigen 125 (CA-125):
o
Rasional
Teoretis: Kadar CA-125 dalam darah sering kali meningkat secara signifikan (di
atas nilai normal > 35 U/mL) pada pasien adenomiosis akibat proses
peradangan kronis jaringan endometrium ektopik.
o
Fungsi
Klinis: Nilai ini digunakan sebagai data dasar (baseline). Pasca-operasi
adenomiomektomi yang sukses, kadar CA-125 teorinya akan turun drastis kembali
ke angka normal. Jika di kemudian hari angka ini melonjak lagi, itu menjadi
tanda klinis terjadinya kekambuhan (recurrence).
3.
Pemeriksaan
Invasif / Histopatologi (Konfirmasi Akhir)
v Histeroskopi Diagnostik:
o
Rasional
Teoretis: Teropong kecil dimasukkan ke dalam rongga rahim melalui vagina untuk
melihat kondisi dinding dalam rahim (endometrium). Pemeriksaan ini
menyingkirkan adanya penyebab AUB lain (seperti polip endometrium atau mioma
submukosa/AUB-L).
v Pemeriksaan Patologi
Anatomi (Biopsi Jaringan / PA):
o
Rasional
Teoretis: Merupakan diagnosis pasti (definitive diagnosis). Potongan jaringan
otot rahim yang telah diangkat melalui operasi adenomiomektomi wajib dikirim ke
laboratorium PA.
o
Hasil
Teoretis: Diagnosis 100% tegak apabila di bawah mikroskop Ditemukan Adanya
Kelenjar Dan Stroma Endometrium Yang Tertanam Di Dalam Stroma Otot Polos
Miometrium Disertai Hiperplasia Otot Di Sekitarnya, Serta Menyingkirkan
Kemungkinan Keganasan (Kanker Rahim).
1.7
Diagnosis
v
Anamnesis
1.
Keluhan
utama:
.
Nyeri
haid (dismenore) yang semakin berat, perdarahan menstruasi berlebihan
(menoragia), nyeri panggul kronis.
.
Riwayat
menstruasi: lama menstruasi, jumlah perdarahan, siklus menstruasi.
.
Riwayat
nyeri saat menstruasi atau hubungan seksual (dispareunia).
.
Riwayat
kehamilan dan persalinan.
.
Riwayat
operasi ginekologi sebelumnya.
.
Riwayat
penggunaan kontrasepsi hormonal.
.
Riwayat
penyakit ginekologi lain seperti endometriosis atau mioma uteri.
2.
Pemeriksaan
Fisik
·
Nyeri
tekan pada daerah suprapubik atau panggul.
·
Uterus
membesar secara difus.
·
Uterus
teraba lunak dan nyeri saat palpasi.
·
Perdarahan
menstruasi berlebihan.
·
Tanda-tanda
anemia akibat perdarahan kronis, seperti:
o
Konjungtiva
pucat.
o
Kulit
pucat.
o
Takikardia.
o
Kelemahan
umum.
3.
Pemeriksaan
Penunjang
·
Pemeriksaan
laboratorium:
o
Hemoglobin
(Hb) menurun bila terjadi anemia.
o
Hematokrit
menurun.
·
Ultrasonografi
(USG) transvaginal:
o
Pembesaran
uterus difus.
o
Penebalan
miometrium.
o
Heterogenitas
miometrium.
·
Magnetic
Resonance Imaging (MRI):
o
Penebalan
zona junctional >12 mm.
o
Membantu
menegakkan diagnosis bila hasil USG belum jelas.
·
Pemeriksaan
histopatologi:
o
Ditemukan
jaringan endometrium di dalam miometrium.
o
Merupakan
standar emas diagnosis adenomiosis dan biasanya diperoleh setelah histerektomi.
4.
Diagnosis
Medis
Adenomiosis, yaitu kondisi
ditemukannya jaringan endometrium yang tumbuh di dalam lapisan miometrium
uterus yang ditandai dengan dismenore progresif, menoragia, dan pembesaran
uterus.
1.8
Komplikasi
A.
Resolusi
Klinis AUB dan Respon Hemodinamik (Fase Pemulihan Vaskular)
·
Mekanisme
Teoretis: Setelah area adenomioma yang mengalami hipervaskularisasi dieksis
(dipotong), stimulus utama pelepasan faktor pertumbuhan pembuluh darah (seperti
VEGF) akan hilang. Penjahitan rekonstruksi miometrium (misalnya dengan teknik
Double Flap) merapatkan kembali serat-serat otot polos yang sehat.
·
Dampak
Klinis Post-Op: Hal ini mengembalikan fungsi mekanis rahim untuk melakukan
vasokontriksi (penjepitan pembuluh darah alami). Secara teori, manifestasi
perdarahan hebat (AUB) akan segera berhenti dan siklus menstruasi berikutnya
akan kembali normal (eumenore).
·
Analisis
Keperawatan: Pada pemantauan post-op, nilai Hemoglobin (Hb) dan Hematokrit
pasien secara bertahap harus menunjukkan grafik stabil/meningkat, menandakan
masalah Risiko Perdarahan berhasil diatasi.
B.
Transisi
Karakteristik Nyeri (Dari Nyeri Kronis ke Nyeri Akut)
·
Mekanisme
Teoretis: Sebelum operasi, pasien mengalami nyeri panggul kronis dan dismenore
akibat tekanan kompartemen darah mikroskopis di dalam otot rahim.
Pasca-operasi, keluhan nyeri ini berubah sifatnya. Jaringan endometrium ektopik
pembentuk prostaglandin telah dibuang. Namun, muncul trauma baru akibat sayatan
bedah makroskopis pada dinding perut (laparatomi) dan sayatan pada otot rahim.
·
Dampak
Klinis Post-Op: Pasien tidak lagi merasakan nyeri tumpul panggul yang konstan,
melainkan nyeri akut pasca-bedah yang bersifat tajam, terlokalisir di area luka
insisi, dan dipicu oleh pergerakan fisik (mobilisasi). Analisis Keperawatan:
Skor nyeri Visual Analogue Scale (VAS) diproyeksikan menurun secara drastis
dalam jangka panjang (dari skala 8-10 saat haid menjadi skala ringan setelah
pemulihan luka luka bedah).
C.
Pemulihan
Fisiologis Sistem Gastrointestinal dan Eliminasi
·
Mekanisme
Teoretis: Penggunaan obat anestesi (umum/regional) selama operasi
adenomiomektomi menekan kerja saraf parasimpatis, menyebabkan penurunan
motilitas lambung dan usus sementara (ileus pasca-bedah). Di sisi lain,
pengecilan volume rahim pasca-eksisi langsung mengurangi tekanan mekanis pada
kandung kemih yang berada di depan rahim.
·
Dampak
Klinis Post-Op: Pasien akan mengalami manifestasi klinis kembung atau mual pada
24 jam pertama. Setelah peristaltik usus kembali normal (ditandai dengan pasien
flatus/kentut), fungsi eliminasi alvi memulih. Keluhan sering berkemih (urinary
frequency) akibat penekanan massa rahim sebelum operasi juga akan mereda secara
teori.
D.
Teori
Risiko Rekurrensi (Kekambuhan Gejala AUB)
·
Mekanisme
Teoretis: Berbeda dengan mioma uteri yang memiliki batas pembungkus yang jelas
(kapsul), jaringan adenomiosis tumbuh menyusup ke sela-sela otot rahim sehat
tanpa batas tepi tegas (cleavage plane). Pembersihan jaringan secara total 100%
sangat sulit dicapai tanpa mengangkat seluruh rahim.
·
Dampak
Klinis Post-Op: Teori ginekologi menyatakan adanya risiko sel-sel mikroskopis
adenomiosis yang tertinggal kembali membelah diri. Gejala nyeri haid dan
perdarahan hebat (AUB) dilaporkan dapat kambuh kembali dalam jangka waktu
beberapa tahun pasca-operasi.
·
Analisis
Medis/Keperawatan: Untuk menekan angka kekambuhan pasca-operasi, teori medis
menganjurkan pemberian terapi hormonal supresif pasca-bedah (seperti GnRH
agonist atau pemasangan IUD Levonorgestrel/Mirena)
E.
Rekonstruksi
Dinding Rahim dan Masa Depan Fertilitas
·
Mekanisme
Teoretis: Area otot rahim yang disayat dan dijahit kembali akan mengalami
proses penyembuhan jaringan (tissue healing) yang meninggalkan jaringan parut
(scar). Jaringan parut ini memiliki elastisitas yang jauh lebih rendah daripada
otot rahim normal yang elastis.
·
Dampak
Klinis Post-Op: Jika pasien merencanakan kehamilan pasca-adenomiomektomi, rahim
berisiko tidak kuat menahan regangan janin yang membesar. Secara teori,
terdapat komplikasi kritis berupa ruptur uteri spontan (rahim robek) yang
rentan terjadi pada trimester kedua akhir atau trimester ketiga.
·
Analisis
Edukasi: Pasien pasca-operasi wajib diedukasi untuk menunda kehamilan minimal
6–12 bulan guna memberi waktu pemulihan serat miometrium, serta diwajibkan menjalani
persalinan melalui metode Seksio Sesarea (operasi caesar) terpilih guna
menghindari kontraksi persalinan normal yang berisiko merobek rahim
1.9
Penatalaksanaan
1. Manajemen Nyeri Akut Pasca-Bedah:
·
Pemberian
analgetik tingkat tinggi secara intravena, seperti golongan opioid (Morphine
atau Tramadol) atau NSAID poten (Ketorolac atau Dexketoprofen). Dapat
dikombinasikan dengan sistem Patient-Controlled Analgesia (PCA).
2. Pemantauan Hemodinamik & Perdarahan
Pervaginam:
·
Observasi
ketat tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan) setiap 1–2 jam
pada fase awal.
·
Pemantauan
volume perdarahan pada pembalut untuk memastikan tidak terjadi perdarahan
pasca-bedah sekunder akibat kegagalan jahitan miometrium.
3. Pemulihan Fungsi Gastrointestinal & Eliminasi:
·
Memantau
kembalinya bising usus dan flatus (kentut) pasien sebagai indikator pulihnya
motilitas usus dari efek obat anestesi. Setelah pasien kentut, diet dapat
ditingkatkan secara bertahap (cair, bubur, hingga nasi).
·
Pemantauan
volume urine melalui kateter menetap (Foley catheter) selama 24 jam pertama
untuk menilai perfusi ginjal dan memastikan tidak ada cedera pada saluran
kandung kemih selama operasi.
4. Mobilisasi Dini (Early Mobilization):
·
Menganjurkan
pasien miring kanan-miring kiri dalam 6–12 jam pertama, diikuti duduk di tepi
tempat tidur, dan berjalan ringan pada hari ke-2 pasca-operasi. Mobilisasi dini
sangat vital untuk mencegah komplikasi Deep Vein Thrombosis (DVT) dan
merangsang peristaltik usus.
5. Penatalaksanaan Hormonal Jangka Panjang
(Pencegahan Residif):
·
Pemberian
terapi hormonal rumatan setelah luka operasi sembuh, seperti pemasangan
Levonorgestrel-releasing Intrauterine System (LNG-IUS / Mirena) atau konsumsi
progestin (Dienogest). Langkah ini diambil karena sel mikroskopis adenomiosis
rentan tumbuh kembali jika terpapar hormon estrogen alami tubuh
1.10
Phatway
✨
ADENOMIOSIS ✨
│
┌─────────────────────────┼─────────────────────────┐
▼ ▼
▼
[Jaringan endometrium [Hipertrofi &
hiperplasia [Reaksi peradangan
ektopik ikut luruh otot miometrium sekitar lokal & peningkatan
saat menstruasi] jaringan ektopik]
prostaglandin]
│ │ │
▼
▼ ▼
[Darah terperangkap & [Uterus membesar (Bulky) [Kontraksi miometrium
membentuk pulau darah] & otot gagal berkontraksi menjadi tidak teratur
│ secara adekuat] dan sangat kuat]
│ │ │
▼ ▼ ▼
[Pembengkakan lokal] [Kompresi pembuluh darah [Iskemia jaringan &
│ & permukaan
endometrium perangsangan saraf
│ makin luas] nyeri]
│ │ │
▼
▼ ▼
(Nyeri Panggul
(Perdarahan Menstruasi (Nyeri
Haid Berat /
Kronis) Hebat / Menoragia) Dismenore)
BAB II
ASUHAN
KEPERAWATAN BERDASARKAN TEORI
2.1 Pengkajian
A. Identitas
Pasien
Pengkajian identitas pasien meliputi
nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan,
alamat, tanggal masuk rumah sakit, tanggal operasi, dan diagnosis medis. Data
identitas digunakan untuk mengenali karakteristik pasien serta faktor-faktor
yang dapat memengaruhi kondisi kesehatan dan proses penyembuhan.
B. Keluhan
Utama
Keluhan utama merupakan alasan utama
pasien mencari pertolongan kesehatan. Pada pasien adenomiosis, keluhan yang
sering ditemukan adalah nyeri haid berat (dismenore), perdarahan menstruasi
berlebihan (menoragia), nyeri panggul kronis, serta rasa penuh pada perut
bagian bawah. Setelah operasi, keluhan yang umum muncul berupa nyeri pada luka
operasi, keterbatasan mobilisasi, mual, muntah, dan rasa lemas akibat efek
pembedahan maupun anestesi.
C. Riwayat
Penyakit Sekarang
Riwayat penyakit sekarang menjelaskan
perjalanan penyakit yang dialami pasien mulai dari munculnya gejala hingga
dilakukan pengkajian. Pada adenomiosis, pasien biasanya mengeluhkan nyeri haid
yang semakin berat, perdarahan menstruasi yang berlebihan, serta nyeri panggul
yang berlangsung dalam waktu lama. Setelah menjalani operasi, pengkajian
difokuskan pada kondisi luka operasi, tingkat nyeri, kemampuan bergerak, pola
eliminasi, dan adanya komplikasi seperti perdarahan atau infeksi.
D. Riwayat
Penyakit Dahulu
Riwayat penyakit dahulu meliputi
penyakit yang pernah dialami pasien, baik yang berhubungan dengan sistem
reproduksi maupun penyakit sistemik lainnya. Pengkajian mencakup riwayat
operasi sebelumnya, hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, gangguan
pembekuan darah, alergi obat atau makanan, serta riwayat rawat inap sebelumnya.
Data ini penting untuk menentukan faktor risiko yang dapat memengaruhi proses
penyembuhan.
E. Riwayat
Penyakit Keluarga
Riwayat penyakit keluarga bertujuan
mengetahui adanya penyakit keturunan atau penyakit yang sering terjadi dalam
keluarga. Pengkajian meliputi riwayat kanker serviks, kanker payudara, mioma
uteri, adenomiosis, endometriosis, hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit
kronis lainnya yang dapat menjadi faktor risiko bagi pasien.
F. Riwayat
Menstruasi
Pengkajian riwayat menstruasi
dilakukan untuk mengetahui fungsi reproduksi pasien. Data yang dikumpulkan
meliputi usia menarche, siklus menstruasi, lama menstruasi, jumlah perdarahan,
hari pertama haid terakhir (HPHT), keteraturan siklus, serta keluhan yang
menyertai seperti nyeri haid, perdarahan berlebihan, atau perdarahan di luar
siklus menstruasi.
G. Riwayat
Obstetri
Riwayat obstetri meliputi jumlah
kehamilan (gravida), jumlah persalinan (para), jumlah abortus, jumlah anak
hidup, jenis persalinan yang pernah dijalani, serta komplikasi selama kehamilan
dan persalinan. Pengkajian ini memberikan gambaran mengenai kondisi kesehatan
reproduksi pasien secara menyeluruh.
H. Riwayat
Penggunaan Kontrasepsi
Pengkajian kontrasepsi meliputi jenis
alat kontrasepsi yang digunakan, lama penggunaan, efek samping yang dirasakan,
serta alasan penghentian atau pergantian metode kontrasepsi. Informasi ini
penting karena beberapa metode kontrasepsi dapat memengaruhi kondisi sistem
reproduksi wanita.
I.
Riwayat Seksual
Pengkajian riwayat seksual meliputi
aktivitas seksual, frekuensi hubungan seksual, adanya nyeri saat berhubungan
seksual (dispareunia), riwayat infeksi menular seksual, serta gangguan fungsi
seksual lainnya. Pengkajian dilakukan dengan menjaga privasi dan kenyamanan
pasien.
J. Pola
Aktivitas Sehari-hari
1. Pola
Nutrisi dan Cairan
o
Perawat mengkaji jenis makanan yang dikonsumsi, frekuensi
makan, nafsu makan, jumlah asupan cairan, serta adanya keluhan seperti mual,
muntah, atau penurunan nafsu makan. Pada pasien post operasi sering ditemukan
penurunan nafsu makan akibat efek anestesi dan nyeri.
o
Pola Eliminasi
o
Pengkajian meliputi frekuensi buang air kecil dan buang air
besar, warna urin, konsistensi feses, serta adanya keluhan seperti retensi urin
atau konstipasi yang dapat terjadi setelah pembedahan.
2. Pola Aktivitas
dan Latihan
Perawat mengkaji kemampuan pasien
dalam melakukan aktivitas sehari-hari, tingkat kemandirian, serta hambatan yang
dialami selama bergerak. Pada pasien post operasi biasanya terdapat
keterbatasan mobilisasi akibat nyeri luka operasi.
3. Pola
Istirahat dan Tidur
Pengkajian meliputi lama tidur,
kualitas tidur, dan faktor yang mengganggu tidur. Nyeri pascaoperasi sering
menyebabkan gangguan pola tidur.
4. Personal
Hygiene
Perawat menilai kemampuan pasien
dalam menjaga kebersihan diri, seperti mandi, menyikat gigi, dan mengganti
pakaian. Pasien post operasi sering memerlukan bantuan dalam memenuhi kebutuhan
perawatan diri.
5. Data
Psikososial dan Spiritual
.
Interaksi dengan Lingkungan
.
Menilai hubungan pasien dengan keluarga, teman, dan
lingkungan sosialnya.
.
Komunikasi
.
Menilai kemampuan pasien dalam berkomunikasi dan menyampaikan
kebutuhan atau keluhan.
6. Pola
Koping terhadap Stres
Menilai cara pasien menghadapi
masalah dan stres yang dialami akibat penyakit maupun tindakan operasi.
7. Persepsi
terhadap Penyakit
Mengidentifikasi pemahaman pasien
mengenai penyakit dan tindakan operasi yang telah dijalani.
8. Harapan
Setelah Sakit
Menggali harapan pasien terhadap
proses pengobatan dan pemulihan kesehatannya.
9. Pola
Seksual Selama Sakit
Menilai adanya perubahan fungsi
seksual atau gangguan hubungan seksual akibat penyakit maupun pascaoperasi.
10. Spiritual
Mengkaji pelaksanaan ibadah,
keyakinan, dan kebutuhan spiritual pasien yang dapat membantu proses adaptasi
dan penyembuhan.
K. Pemeriksaan
Fisik
v Keadaan
Umum
.
Meliputi tingkat kesadaran, keadaan umum pasien, tinggi
badan, berat badan, dan status gizi.
.
Tanda-Tanda Vital
.
Meliputi tekanan darah, frekuensi nadi, frekuensi pernapasan,
dan suhu tubuh untuk mengetahui kondisi fisiologis pasien.
v Pemeriksaan
Kepala hingga Kaki (Head to Toe)
Dilakukan untuk mengetahui adanya
kelainan pada setiap sistem tubuh, meliputi kepala, mata, hidung, mulut, leher,
dada, jantung, paru-paru, abdomen, ekstremitas, dan sistem integumen.
v Pemeriksaan
Abdomen
Meliputi inspeksi, auskultasi, palpasi,
dan perkusi untuk menilai adanya nyeri tekan, distensi abdomen, massa, atau
gangguan fungsi saluran pencernaan.
v Pemeriksaan
Luka Operasi
Meliputi kondisi balutan, kebersihan luka, adanya kemerahan,
edema, perdarahan, eksudat, nyeri, serta tanda-tanda infeksi.
2.2
Analisa Data
|
NO |
Tanda
/gejala |
Etiologi |
Masalah
Keperawatan |
|
1 |
Data Subjektif (DS) Mayor ·
Mengeluh nyeri. Minor ·
Tidak ada data subjektif minor. Data Objektif (DO) Mayor ·
Tampak meringis. ·
Bersikap protektif (misalnya waspada, posisi menghindari
nyeri). ·
Gelisah. ·
Frekuensi nadi meningkat. Minor ·
Tekanan darah meningkat. ·
Pola napas berubah. ·
Nafsu makan berubah. ·
Proses berpikir terganggu. ·
Menarik diri. ·
Berfokus pada diri sendiri. ·
Diaforesis. |
Agen
pencedera fisik (insisi pembedahan |
Nyeri
Akut D.0077 |
|
2 |
Data Subjektif (DS) Tidak ada, karena diagnosis risiko tidak
memiliki tanda dan gejala. Data Objektif (DO) Tidak ada, karena diagnosis risiko tidak
memiliki tanda dan gejala. Faktor Risiko ·
Penyakit kronis. ·
Prosedur invasif (infus, kateter, operasi). ·
Penurunan daya tahan tubuh. ·
Malnutrisi. ·
Kerusakan integritas kulit atau jaringan. ·
Imunosupresi. |
Prosedur
invasif |
Risiko
Infeksi D.0142 |
|
3 |
Data Subjektif (DS) Mayor ·
Mengeluh sulit menggerakkan ekstremitas. Minor ·
Nyeri saat bergerak. ·
Enggan melakukan pergerakan. ·
Merasa lemah. Data Objektif (DO) Mayor ·
Kekuatan otot menurun. ·
Rentang gerak (ROM) menurun. Minor ·
Gerakan terbatas. ·
Fisik lemah. ·
Koordinasi gerakan menurun. ·
Aktivitas dibantu orang lain. |
Nyeri
pascaoperasi |
Gangguan
Mobilitas Fisik D.0054 |
2.3
Perencanaan Keperawatan ,SIKI & IMPLEMENTASI
|
No |
Diagnosa
Keperawatan |
Tujuan
Keperawatan SLKI |
Intervensi
SIKI |
Implementasi |
|
1. |
Nyeri Akut berhubungan dengan agen pencedera fisik (insisi pembedahan) |
Tingkat
Nyeri (L.08066) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam,
diharapkan Kriteria
hasil: ·
Keluhan nyeri menurun. ·
Meringis menurun. ·
Gelisah menurun. ·
Frekuensi nadi membaik. ·
Pola tidur membaik. ·
Kemampuan beraktivitas meningkat. |
Manajemen
Nyeri (I.08238) Observasi ·
Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi,
kualitas, dan intensitas nyeri. ·
Monitor tanda-tanda vital. ·
Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri.
Terapeutik ·
Berikan posisi nyaman. ·
Ciptakan lingkungan yang tenang. ·
Berikan teknik nonfarmakologis (relaksasi, distraksi). Edukasi ·
Ajarkan teknik manajemen nyeri. ·
Anjurkan istirahat cukup. Kolaborasi ·
Kolaborasi pemberian analgetik sesuai program medis. |
.
Mengkaji skala nyeri menggunakan skala numerik, .
memantau tanda vital, .
membantu pasien mendapatkan posisi nyaman, .
mengajarkan teknik napas dalam, .
memberikan edukasi tentang cara mengurangi nyeri, .
berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesik |
|
2. |
Risiko
Infeksi berhubungan dengan prosedur invasif (luka operasi |
Tingkat Infeksi (L.14137) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam, diharapkan
kriteria hasil: ·
Tidak terdapat tanda infeksi. ·
Kemerahan menurun. ·
Nyeri menurun. ·
Demam tidak ada. ·
Leukosit dalam batas normal. |
Pencegahan
Infeksi (I.14539) Observasi ·
Monitor tanda dan gejala infeksi. ·
Monitor suhu tubuh. ·
Monitor hasil laboratorium. Terapeutik ·
Pertahankan teknik aseptik. ·
Batasi pengunjung bila perlu. ·
Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien. Edukasi ·
Ajarkan cuci tangan yang benar. ·
Anjurkan menjaga kebersihan diri. Kolaborasi ·
Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi. |
Memantau
suhu tubuh dan kondisi luka operasi setiap hari, melakukan perawatan luka
dengan teknik steril, mengajarkan pasien menjaga kebersihan tangan dan luka,
serta berkolaborasi dalam pemberian antibiotik sesuai instruksi dokter. |
|
3. |
Data
Subjektif (DS) Mayor ·
Mengeluh sulit menggerakkan ekstremitas. Minor ·
Nyeri saat bergerak. ·
Enggan melakukan pergerakan ·
Merasa lemah. Data
Objektif (DO) Mayor ·
Kekuatan otot menurun. ·
Rentang gerak (ROM) menurun. Minor ·
Gerakan terbatas. ·
Fisik lemah. ·
Koordinasi gerakan menurun. ·
Aktivitas dibantu orang lain. |
Mobilitas
Fisik (L.05042) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam, diharapkan
kriteria hasil: ·
Pergerakan ekstremitas meningkat. ·
Kekuatan otot meningkat. ·
Rentang gerak meningkat. ·
Nyeri saat bergerak menurun. ·
Kemandirian aktivitas meningkat. |
Dukungan
Mobilisasi (I.05173) Observasi ·
Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya. ·
Monitor kondisi umum selama mobilisasi. ·
Monitor kemampuan berpindah dan berjalan. Terapeutik ·
Fasilitasi mobilisasi sesuai kemampuan. ·
Bantu melakukan ROM aktif maupun pasif. ·
Berikan alat bantu bila diperlukan. Edukasi ·
Anjurkan mobilisasi bertahap. ·
Ajarkan latihan rentang gerak. Kolaborasi ·
Kolaborasi dengan fisioterapis bila diperlukan. |
.
Mengkaji kemampuan bergerak pasien .
membantu pasien duduk dan berjalan secara bertahap, .
memberikan latihan gerak ringan .
memotivasi mobilisasi dini, .
serta berkolaborasi dengan fisioterapis sesuai kebutuhan. |
2.4
Evaluasi Soap
v Subjective
(S)
Subjective merupakan data subjektif
yang diperoleh dari hasil wawancara atau keluhan yang disampaikan langsung oleh
pasien maupun keluarga. Data ini menggambarkan perasaan, pengalaman, dan
persepsi pasien terhadap kondisi kesehatannya setelah mendapatkan tindakan
keperawatan.
Contoh data subjektif meliputi
keluhan nyeri yang berkurang, rasa nyaman meningkat, tidak ada keluhan demam,
nafsu makan membaik, atau pasien merasa lebih mampu melakukan aktivitas
v Objective
(O)
Objective merupakan data objektif
yang diperoleh melalui hasil observasi, pemeriksaan fisik, pengukuran
tanda-tanda vital, dan pemeriksaan penunjang. Data ini digunakan untuk
mendukung data subjektif dan memberikan gambaran nyata mengenai kondisi pasien.
Contoh data objektif meliputi keadaan
umum pasien, tingkat kesadaran, tekanan darah, nadi, suhu, frekuensi pernapasan,
kondisi luka operasi, hasil pemeriksaan laboratorium, kemampuan mobilisasi,
serta respon pasien terhadap tindakan yang diberikan.
v Assessment
(A)
Assessment merupakan penilaian atau
analisis perawat terhadap perkembangan kondisi pasien berdasarkan data
subjektif dan objektif yang telah dikumpulkan. Pada tahap ini perawat
menentukan apakah masalah keperawatan telah teratasi, teratasi sebagian, atau
belum teratasi.
Hasil assessment menjadi dasar dalam
pengambilan keputusan untuk melanjutkan, mengubah, atau menghentikan intervensi
keperawatan yang telah direncanakan.
v Plan
(P)
Plan merupakan rencana tindak lanjut
yang akan dilakukan berdasarkan hasil assessment. Apabila tujuan keperawatan
belum tercapai, maka intervensi dapat dilanjutkan atau dimodifikasi sesuai
kebutuhan pasien. Sebaliknya, apabila tujuan telah tercapai, perawat dapat
menghentikan intervensi tertentu dan memberikan edukasi kepada pasien serta
keluarga mengenai perawatan lanjutan di rumah
DAFTAR PUSTAKA
Berek, J. S. (2020). Berek & Novak's Gynecology (16th
ed.). Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.
Cunningham, F. G., et al. (2022). Williams Gynecology (5th
ed.). New York: McGraw-Hill Education.
Hinkle, J. L., & Cheever, K. H. (2022). Brunner &
Suddarth's Textbook of Medical-Surgical Nursing (15th ed.). Philadelphia:
Wolters Kluwer.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Pedoman
Pelayanan Obstetri dan Ginekologi di Rumah Sakit. Jakarta: Kementerian
Kesehatan RI.
Manuaba, I. B. G., Manuaba, I. A. C., & Manuaba, I. B. G.
F. (2019). Pengantar Kuliah Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: EGC.
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI):
Definisi dan Indikator Diagnostik. Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Persatuan
Perawat Nasional Indonesia.
PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia
(SIKI): Definisi dan Tindakan Keperawatan. Jakarta: Dewan Pengurus Pusat
Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI):
Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan. Jakarta: Dewan Pengurus Pusat
Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
Prawirohardjo, S. (2020). Ilmu Kandungan (Edisi ke-4).
Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Wijaya, A. S., & Putri, Y. M. (2019). Keperawatan Medikal
Bedah. Yogyakarta: Nuha Medika.
DOWNLOAD FILE LAPORAN PENDAHULUAN
Komentar
Posting Komentar