LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN DEWASA SISTEM PERCERNAAN, ENDOKRIN, PERKEMIHAN DAN ENDOKRIN
LAPORAN
PENDAHULUAN
KEPERAWATAN
DEWASA SISTEM PERCERNAAN, ENDOKRIN, PERKEMIHAN DAN ENDOKRIN
PADA
PASEIN NY. M DENGAN OSTEOARTRHITIS
BAB
I
TINJAUAN
TEORI ASUHAN KEPERAWATAN OSTEOARTHRITIS
A.
Definisi Osteoarthritis
Osteoarthritis (OA) merupakan penyakit sendi degeneratif kronis yang
ditandai dengan kerusakan progresif kartilago artikular, perubahan pada tulang
subkondral, pembentukan osteofit, serta inflamasi ringan pada jaringan sekitar
sendi. Osteoarthritis merupakan bentuk artritis yang paling sering ditemukan
dan menjadi salah satu penyebab utama nyeri kronis serta disabilitas pada
populasi usia lanjut. Penyakit ini umumnya menyerang sendi penopang berat badan
seperti lutut, panggul, dan tulang belakang, namun dapat pula terjadi pada
sendi tangan dan kaki. Kerusakan sendi yang terjadi secara bertahap menyebabkan
penurunan fungsi sendi sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari pasien
(Smeltzer et al., 2018).
Menurut World Health Organization (WHO), osteoarthritis merupakan
gangguan muskuloskeletal kronis yang ditandai oleh kerusakan seluruh struktur
sendi, termasuk tulang rawan, ligamen, membran sinovial, dan tulang subkondral.
Kondisi ini dapat menyebabkan nyeri, kekakuan, pembengkakan, serta keterbatasan
gerak yang berdampak pada kualitas hidup individu. Seiring bertambahnya usia
harapan hidup dan meningkatnya angka obesitas, prevalensi osteoarthritis terus
meningkat di seluruh dunia (WHO, 2023).
B.
Etiologi
Etiologi osteoarthritis bersifat multifaktorial dan melibatkan
kombinasi faktor biologis, mekanis, serta genetik. Faktor usia merupakan faktor
risiko utama karena proses penuaan menyebabkan penurunan kemampuan regenerasi
kartilago sehingga lebih mudah mengalami kerusakan. Selain itu, perempuan
memiliki risiko lebih tinggi mengalami osteoarthritis dibandingkan laki-laki,
terutama setelah menopause akibat perubahan hormonal yang memengaruhi
metabolisme tulang dan sendi (Katz et al., 2021).
Faktor
lain yang berkontribusi terhadap terjadinya osteoarthritis adalah obesitas.
Berat badan yang berlebih meningkatkan tekanan mekanis pada sendi penopang
tubuh, terutama lutut dan panggul. Riwayat trauma atau cedera sendi, aktivitas
fisik berlebihan, pekerjaan yang membutuhkan gerakan berulang, faktor
keturunan, serta kelainan bentuk sendi juga diketahui meningkatkan risiko
terjadinya osteoarthritis. Penyakit metabolik seperti diabetes melitus dan
gangguan endokrin tertentu juga dapat mempercepat proses degenerasi sendi
(Smeltzer et al., 2018).
C.
Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis osteoarthritis berkembang secara perlahan dan
biasanya semakin memburuk seiring waktu. Gejala utama yang sering ditemukan
adalah nyeri sendi yang muncul saat beraktivitas dan berkurang saat istirahat.
Nyeri dapat dirasakan pada satu atau beberapa sendi dan sering kali menjadi
alasan utama pasien mencari pertolongan medis.
Selain nyeri, pasien osteoarthritis sering mengeluhkan kekakuan
sendi terutama pada pagi hari atau setelah lama tidak bergerak. Kekakuan
biasanya berlangsung kurang dari 30 menit dan berangsur membaik setelah
melakukan aktivitas ringan. Gejala lain yang dapat ditemukan meliputi
keterbatasan rentang gerak, pembengkakan ringan pada sendi, krepitasi saat
sendi digerakkan, kelemahan otot sekitar sendi, perubahan bentuk sendi, serta
gangguan mobilitas yang dapat menghambat aktivitas sehari-hari (WHO, 2023)
D.
Patofisiologi
Patofisiologi osteoarthritis diawali oleh adanya faktor risiko
seperti usia lanjut, obesitas, trauma sendi, dan faktor genetik yang
menyebabkan kerusakan kartilago artikular. Kartilago yang normal berfungsi
sebagai bantalan untuk mengurangi gesekan antar tulang pada saat sendi
bergerak. Ketika kartilago mengalami kerusakan, permukaan sendi menjadi kasar
sehingga meningkatkan gesekan dan tekanan pada tulang subkondral.
Kerusakan kartilago yang berkelanjutan akan memicu proses inflamasi
ringan yang menyebabkan pelepasan mediator inflamasi dan enzim perusak
jaringan. Akibatnya terjadi penipisan kartilago, pembentukan osteofit,
sklerosis tulang subkondral, serta penyempitan celah sendi. Perubahan-perubahan
tersebut menimbulkan nyeri, kekakuan, keterbatasan gerak, dan gangguan fungsi
sendi yang pada akhirnya menyebabkan penurunan kualitas hidup pasien (Katz et
al., 2021).
E.
Pathway Osteoarthritis
F.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang paling sering digunakan dalam diagnosis
osteoarthritis adalah radiografi atau foto rontgen. Gambaran radiologis yang
khas meliputi penyempitan celah sendi, pembentukan osteofit, sklerosis tulang
subkondral, dan deformitas sendi. Pemeriksaan ini menjadi standar utama dalam
menegakkan diagnosis osteoarthritis.
Selain radiografi, pemeriksaan MRI dapat digunakan untuk menilai
kerusakan kartilago, ligamen, meniskus, dan jaringan lunak lainnya secara lebih
rinci. Pemeriksaan laboratorium umumnya dilakukan untuk menyingkirkan penyakit
sendi inflamasi lainnya seperti rheumatoid arthritis. Pada osteoarthritis,
hasil pemeriksaan laboratorium biasanya ber
G. Penatalaksanaan Medis
ada dalam batas normal (Smeltzer et al., 2018).
Penatalaksanaan osteoarthritis bertujuan mengurangi nyeri,
mempertahankan fungsi sendi, meningkatkan mobilitas, dan mencegah kecacatan.
Terapi nonfarmakologis meliputi edukasi pasien, pengendalian berat badan, latihan
fisik teratur, fisioterapi, penggunaan alat bantu jalan, serta modifikasi
aktivitas sehari-hari.
Terapi farmakologis dapat diberikan berupa analgesik seperti
parasetamol, obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), analgesik topikal, dan
injeksi kortikosteroid intraartikular sesuai indikasi. Pada kasus yang berat
dan tidak responsif terhadap terapi konservatif, tindakan pembedahan seperti
artroplasti atau penggantian sendi dapat dilakukan untuk memperbaiki fungsi dan
kualitas hidup pasien (WHO, 2023)
BAB
II
TINJAUAN
TEORI
ASUHAN
KEPERAWATAN
A.
Pengkajian Keperawatan
Pengkajian keperawatan merupakan tahap pertama dalam proses
keperawatan yang dilakukan secara sistematis untuk mengumpulkan data biologis,
psikologis, sosial, spiritual, dan lingkungan pasien. Pada pasien
osteoarthritis, pengkajian difokuskan pada tingkat nyeri, keterbatasan gerak
sendi, kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari, serta dampak penyakit
terhadap kualitas hidup pasien. Data yang diperoleh menjadi dasar dalam
menentukan diagnosis keperawatan dan penyusunan intervensi yang tepat (Tim
Pokja SDKI DPP PPNI, 2017).
1.
Identitas Klien.
a.nama: ny m
b.usia: 50 tahun
c.jenis kelamin:Perempuan
Nomor rekam medis:0072356
Diangnosa medis:astoeartritis
Tanggal masuk rumah sakit:11-06-2026
Jam masuk:11:00
Tangal penkajian:11-06-2026
2.
Keluhan Utama
Pasie mengeluh nyeri lutut
sejak 3 bulan,tambah saat berjalan dan berdiri lama.
Pasien mengunakan tongkat
untuk membantu berjalan karena merasa dan tidak
Saat berjalan. Skala nyeri.
3.
Riwayat Penyakit Sekarang
Datang dari poli degan keluhan
nyeri pada lutut kiri recana
oprasi tangal 12-
o6-2026
4.Tanda taanda vital
·
Tekanan darah:120/80
·
Denyut nadi:60-100
·
Suhu :36
·
Frekuensi nafas:20
kali/permenit
·
Saturasi oksigen:90
·
Skala nyeri:7-10/10
·
Ekpresi wajahnya:meringis saat
bergerak
PEMERIKSAAN FISIK
1.
Kepala
Normosefal, simetris
Tidak ada benjolan atau nyeri tekan
Rambut tumbuh merata dan bersih
2.
Mata
Simetris
Konjungtiva tidak anemis
Sklera tidak ikterik
Pupil isokor, refleks cahaya (+/+)
3.
Telinga
Bentuk simetris
Tidak ada sekret
Pendengaran baik
4.
Hidung
Lubang hidung simetris
Tidak ada sekret
Tidak ada sumbatan
Penciuman baik
5.
Mulut dan Tenggorokan
Bibir lembap
Mukosa mulut lembap
Tidak ada sariawan
Gigi dan gusi bersih
Tonsil tidak membesar
6.
Leher
Simetris
Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening
Tidak ada pembesaran tiroid
Tidak ada kaku kuduk
7.
Dada/Paru
Bentuk dada simetris
Pergerakan dada kanan dan kiri sama
Bunyi napas vesikuler
Tidak ada sesak napas
8.
Jantung
Bunyi jantung S1 dan S2 normal
Irama teratur
Tidak ada murmur
9.
Abdomen
Datar/simetris
Bising usus normal (5–30 kali/menit)
Tidak ada nyeri tekan
Tidak ada pembesaran organ
10. Genitourinaria
BAK lancar
Tidak ada nyeri saat berkemih
Tidak ada kelainan yang tampak
11. Ekstremitas Atas Kekuatan otot 5/5
Tidak ada edema
Akral hangat
CRT < 2 detik
12. Ekstremitas Bawah
Kekuatan otot 5/5
Tidak ada edema
Akral hangat
CRT < 2 detik
Pergerakan normal
13. Kulit
Warna kulit merata
Turgor baik
Tidak ada lesi atau luka
Kulit bersih dan hangat
14. Neurologis
Compos mentis (GCS 15)
Orientasi baik
Refleks fisiologis normal
Tidak ada gangguan motorik maupun sensorik.
5. Data
subjektif/anamesa(DS)
Pasien mengeluh nyeri pada lutut kanan dengan
skala nyeri 7-10/ 10 Nyeri bertambah saat berjalan dan berkurang saat
istirahat. Pasien juga mengeluh lutut terasa kaku pada pagi hari. Maupun siang
hari.
6.Datasubjektif
(DO)
Pasien tampak berjalan dengan bantuan tongkat.
Gerakan berjalan lambat dan hati-hati. Pasien tampak meringis saat berjalan
serta saat perubahan posisi. Rentang gerak sendi lutut terbatas dan aktivitas
mobilisasi memerlukan alat bantu jalan.
ANALISA DATA/DIAGNOSIS
|
PROBLEM |
ETIOLOGI |
|
Nyeri kronis |
|
|
nyeri kronis berhubungan degan proses |
Agen pencederah fisiologi(proses gene |
|
Generative pada sendi |
Tif sendi ) |
INTERVENSI
|
NO |
Diagnosa
Keperawatan |
Tujuan
Keperawatan (SLKI) |
Intervensi
keperawatan (SIKI) |
|
1 |
Nyeri kronis berhubungan degan agen pencederah
fisiologis(proses degrneratif sendi) Ditandai dengan keluhan nyeri lutut
,skala nyeri 5 tampak meringis,keterbatas
mobolitas dan berjalan mengunakan tongkat. |
Setelah dilakukan tindakan keperawatan
3x24 jam maka, kriteteria hasil yang diharapkan: 1.keluhan nyeri menurun. 2.keluhan meringis menurun. 3.gelisa menurun. 4.kesulitan tidur menurun. 5.menarik diri menurun. 6.berfokus pada diri sendri menurun. 7.diaforesis menurun. 8.perasaan defresi tertekan( perasaan )takut mengalami cederah
berulang menurun. 9.anaroksia menurun. 10.perineum terasa tertekan menurun 11.ketegangan otot Menurun 12. mual menurun Frekuensi nadi 1.pola nafas menurun 2.tekanan darah menurun 3.proses berpikir menurun 4.fokus menurun. 5.fungsi berkemih menurun 6.prilaku menurun 7.nafsu makan menurun 8.pola tidur menurun |
MANJEMEN NYERI (I.08238) Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan Tindakan observasi 1.Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas,
intensitas nyeri. 2.Identifikasi skala nyeri dentifikasi respons nyeri nonverbal nyeri 3.Identifikasi pengetahuan dan keyaninan tentang nyeri 4.Monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan. 5.Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri Hentifikasi
pengaruh nyeri pada kualitas hidup. 6.Monitor efek samping penggunaan analgetic. Terapeutik 1.Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis.
TENS, hipnosis, supresur, terapi musik, biofeedback, terapi pijat,
aromaterapi, teknik imajinasi terbimbing. kompres hangat/dingin, terapi
bermain). 2.Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis, suhu
ruangan, pencahayaan, kebisingan). 3.Fasilitasi istirahat dan tidur Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan
strategi meredakan nyeri. Edukasi 1.Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri. 2.Jelaskan strategi meredakan nyeri. 3.Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri. 4.Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat. 5.Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri. Kolaborasi Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu |
|
2. |
Evaluasi (SOAP) |
|
|
|
|
DATA SUBJEKTIF (S) 1. pasien mengatakan nyeń pada lutut kiri lebih berkurang. Pasien mengatakan 2.pasien mengatakan nyeri masiterasa - saat berjalan Jauh. 3.pasien mengatakan lebih nyaman Setelan diberikan tindak
keperawanan 4 pasien mengatakan dapat mengerakan sendik lebih baik dibangdikan Sebelumnya. 5-skala nyeri menulun 6/10 menjadi 3/10 |
DATA OBJEKTIF (O) 1.pasien tampak lebih rileks. 2.Espresi meringis berkurang. 3. Rentang gerak CRom) sedih meningkat 4. pasien mampu berjalan dengan bantuon. Si tidak tampak tanda tres. TD: 120/80 mmHg M: gox/menit RR:90 S:36 Spo: 91 6.Kekuatan otot estrimetris bawah 4/5 7.Tindakan terdapat implamasi berat pada sendi |
ASSESMENT(A) 1. Assesment (A)/status masalah nyeri kronis berhubungan dengan
proses degeneratif 2.mobilisasi fisik meningkat. 3. Tujuan keperawatan teratasi
Sebagian. 4. masaran belum teratasi
sepenuhnya dan memerlukan intervensi lanjutan, |
5. IMPLEMENTASI
Implementasi merupakan tindakan yang
sudah direncanakan dalam rencana perawatan. Tindakan keperawatan mencangkup
tindakan mandiri (independen) dan tindakan kolaborasi (Tarwoto & Wartonah,
2015).
6. EVALUASI
Evaluasi merupakan tahap akhir dalam
proses keperawatan untuk dapat menentukan keberhasilan dalam asuhan keperawatan.
Evaluasi pada dasarnya adalah membandingkan status keadaan kesehatan dengan
tujuan atau kriteria hasil yang telah ditetapkan (Tarwoto & Wartonah,
2015).
DAFTAR PUSTAKA
Hunter, D. J., & Bierma-Zeinstra,
S. M. A. (2019). Osteoarthritis. The Lancet, 393(10182), 1745–1759.
https://doi.org/10.1016/S0140-6736(19)30417-9
Katz, J. N., Arant, K. R., &
Loeser, R. F. (2021). Diagnosis and treatment of hip and knee osteoarthritis: A
review. JAMA, 325(6), 568–578. https://doi.org/10.1001/jama.2020.22171
Potter, P. A., Perry, A. G.,
Stockert, P. A., & Hall, A. M. (2021). Fundamentals of nursing (10th ed.).
Elsevier.
Smeltzer, S. C., Bare, B. G., Hinkle,
J. L., & Cheever, K. H. (2020). Brunner & Suddarth's textbook of
medical-surgical nursing (15th ed.). Wolters Kluwer.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017).
Standar diagnosis keperawatan Indonesia: Definisi dan indikator diagnostik
(Edisi 1). DPP P)
Komentar
Posting Komentar