Klasifikasi Kejang Demam

 

Klasifikasi Kejang Demam

Kejang demam (febrile seizure) adalah kejang yang terjadi pada anak usia 6–60 bulan yang disertai demam (≥38°C) tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat, gangguan metabolik akut, atau riwayat kejang afebril sebelumnya (Leung & Hon, 2023). Berdasarkan karakteristik klinisnya, kejang demam diklasifikasikan menjadi kejang demam sederhana, kejang demam kompleks, dan status epileptikus febril.

1.      Kejang Demam Sederhana (Simple Febrile Seizure)

Kejang demam sederhana merupakan bentuk kejang demam yang paling sering ditemukan, yaitu sekitar 70–80% dari seluruh kasus kejang demam pada anak (Patel et al., 2022).

Karakteristik:

·         Kejang bersifat generalisata (melibatkan seluruh tubuh).

·         Berlangsung kurang dari 15 menit.

·         Tidak berulang dalam periode 24 jam.

·         Tidak ditemukan kelainan neurologis sebelum maupun sesudah kejang.

·         Kesadaran kembali normal setelah kejang berakhir.

·         Tidak meninggalkan defisit neurologis.

Gambaran Klinis:

Anak biasanya mengalami demam tinggi yang muncul secara tiba-tiba, kemudian terjadi kejang tonik-klonik umum. Setelah kejang berhenti, anak dapat tampak mengantuk sementara (postictal phase), tetapi akan kembali sadar sepenuhnya dalam waktu singkat.

Prognosis:

·         Prognosis sangat baik.

·         Tidak menyebabkan kerusakan otak.

·         Risiko berkembang menjadi epilepsi relatif rendah, sekitar 1–2% lebih tinggi dibandingkan populasi umum

2.      Kejang Demam Kompleks (Complex Febrile Seizure)

Menurut (Leung & Hon, 2023), Kejang demam kompleks merupakan kejang demam yang memiliki satu atau lebih karakteristik tertentu yang membedakannya dari kejang demam sederhana.

Karakteristik:

Memiliki salah satu atau lebih kriteria berikut:

·         Durasi kejang lebih dari 15 menit.

·         Kejang bersifat fokal atau parsial (hanya melibatkan satu sisi atau bagian tubuh tertentu).

·         Kejang berulang dalam 24 jam.

·         Dapat disertai gangguan neurologis sementara setelah kejang, seperti kelemahan satu sisi tubuh (Todd's paralysis).

Gambaran Klinis:

Anak dapat mengalami kejang berulang selama satu episode demam atau kejang berlangsung lama sehingga memerlukan intervensi medis. Pada beberapa kasus, kejang dapat dimulai dari satu ekstremitas sebelum menyebar ke seluruh tubuh.

Prognosis:

·         Risiko kekambuhan lebih tinggi dibandingkan kejang demam sederhana.

·         Risiko berkembang menjadi epilepsi sekitar 4–15%, tergantung faktor risiko yang menyertainya.

3.      Status Epileptikus Febril (Febrile Status Epilepticus)

Status epileptikus febril merupakan bentuk paling berat dari kejang demam.

Karakteristik:

·         Kejang berlangsung lebih dari 30 menit, atau

·         Serangkaian kejang tanpa pemulihan kesadaran penuh di antara episode kejang.

Beberapa pedoman terbaru juga menganggap kejang yang berlangsung ≥5 menit sebagai keadaan yang memerlukan penanganan segera karena berpotensi berkembang menjadi status epileptikus (Aaberg et al., 2021).

Gambaran Klinis:

·         Kejang berkepanjangan.

·         Penurunan kesadaran yang menetap.

·         Dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan sirkulasi bila tidak segera ditangani.

Prognosis:

·         Memerlukan penanganan emergensi.

·         Berisiko menimbulkan komplikasi neurologis jika berlangsung lama.

·         Memerlukan observasi dan evaluasi lebih lanjut untuk menyingkirkan penyebab lain.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOWNLOAD CONTOH SURAT LAMARAN DAPUR MBG

LAPORAN PENDAHULUAN DIARE

Download Undangan Tonjokan: Solusi Praktis dan Efisien untuk Pernikahan (Format MS. Word)