ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN ANAK DENGAN DIARE

 

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN ANAK DENGAN DIARE

 

1.      Definisi

            Diare merupakan kondisi ketika pengidapnya melakukan buang air besar (BAB) lebih sering dari biasanya. Di samping itu, feses pengidap diare lebih encer dari biasanya. Meskipun bisa berlangsung singkat, namun bisa juga belangsung selama berhari-hari. Ada juga beberapa kasus yang bisa terjadi hingga berminggu-minggu. (Mantiri et al., 2022).

            Diare didefinisikan sebagai defekasi dengan berat feses >200 gram/hari. Akan tetapi, definisi tersebut kurang bernilai klinis karena pengukuran jumlah feses hanya dilakukan dalam penelitian. Definisi praktis yang sering dipakai adalah defekasi dengan feses encer/berair sebanyak ≥3 kali/hari. Diare akut adalah diare yang berlangsung ≤14 hari. Diare yang menetap sampai >14 hari disebut diare persisten, sedangkan bila menetap >30 hari dinamakan diare kronik (Eppy, 2023).

            Diare merupakan perubahan konsistensi tinja menjadi lebih lembek atau cair diikuti dengan frekuensi defekasi yang meningkat. Tinja yang keluar tersebut dapat atau tanpa disertai lendir dan darah (Almansyah & Nurhayati, 2025).

2.      Etiologi

            Penyebab diare akut dapat berupa infeksi ataupun noninfeksi. Pada beberapa kasus, keduanya sama-sama berperan. Penyebab noninfeksi dapat berupa obat-obatan, alergi makanan, penyakit primer gastrointestinal seperti, inflammatory bowel disease, atau berbagai penyakit sistemik seperti, tirotoksikosis dan sindrom karsinoid. Penyebab infeksi dapat berupa bakteri, virus, ataupun parasit (Mantiri et al., 2022).

Menurut (Anggraini & Kumala, 2022) etiologi diare antara lain :

a.       Faktor Infeksi

1)      Faktor enteral yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare pada anak, infeksi enteral ini meliputi :

a)      Infeksi bakteri, yaitu Aeromonas sp, Bacillus cereus, Clostridium perfringens, Escherichia coli, Salmonella, Shigella,

Staphylococcus aureus, dan Vibrio cholerae.

b)      Infeksi Virus, yaitu Astrovirus, Koronavirus, Adenovirus enterik dan Rotavirus.

c)      Infeksi Parasit, yaitu :

-          Cacing perut : Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Strongyloides stercoralis dan Ancylostoma duodenale

-          Jamur : Candida albicans

-          Protozoa : Entamoeba histolytica, Giardia lamblia, Balantidium coli dan Cryptosporidium

2)      Infeksi Parenteral

Infeksi di bagian tubuh lain di luar alat pencernaan, seperti Otitis Media Akut (OMA), tonsilo faringitis, bronko pneumonia, ensefalitis dan sebagainya, keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur di bawah 2 tahun

b.      Faktor Mal Absorbsi

1)      Mal absorbsi karbohidrat: Disakarida (Intoleransi laktosa, maltosa, sukrosa), Monosakarida (Intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa), pada bayi dan anak yang terpenting dan tersering adalah intoleransi laktosa.

2)      Mal absorbsi lemak

3)      Mal absorbsi protein

c.       Faktor pemberian antibiotik oral dengan dosis dan lama pemberian yang tidak adekuat, seperti pada kasus diare yang sering disebabkan oleh Clostridium Difficile Associated Diarrhea (CDAD).

3.      Manifestasi Klinis

Sebagian besar manifestasi klinis yang muncul pada kasus diare berkaitan erat dengan jenis pathogen yang menginfeksi dan seberapa besar tingkat infeksi tersebut. Manifestasi tambahan tergantung pada perkembangan komplikasi (seperti dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit) dan sifat patogen yang menginfeksi. Biasanya, penyerapan toksin sebelum terbentuk dikaitkan dengan onset mual dan muntah yang cepat dalam waktu 6 jam, dengan kemungkinan demam, kram perut setelah periode inkubasi 8-16 jam dikaitkan dengan produksi enterotoksin. Clostridium perfringens dan bacillus cereus memiliki gejala berupa kram andomial dan diare berair setelah periode inkubasi 16-48 jam dapat dikaitkan dengan norovirus, beberapa bakteri penghasil enterotoksin.

Bayi dan anak menjadi cengeng, gelisah, suhu tubuh biasanya meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada, kemudian timbul diare. Tinja cair dan mungkin disertai lendir dan atau darah. Warna tinja makin lama makin berubah menjadi kehijau-hijauan karena bercampur dengan empedu. Anus dan daerah sekitarnya menjadi lecet karena seringnya defekasi dan tinja makin lama makin asam sebagai akibat makin banyaknya asam laktat, yang berasal dari laktosa yang tidak dapat diabsorbsi usus selama diare. Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare dan dapat disebabkan oleh lambung yang turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit. Bila penderita telah banyak kehilangan cairan dan elektrolit, maka gejala dehidrasi mulai tampak. Gejala dehidrasi yaitu :

a.       Berat badan turun

b.      Turgor kulit berkurang

c.       Mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung

d.      Selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering

Berdasarkan banyaknya cairan yang hilang dapat dibagi menjadi dehidrasi ringan, sedang dan berat, sedangkan berdasarkan tonisitas plasma dapat dibagi menjadi dehidrasi hipotonik, isotonik dan hipertonik (Anggraini & Kumala, 2022)

4.      Patofisiologi

Diare merefleksikan peningkatan kandungan air dalam feses akibat gangguan absorpsi dan atau sekresi aktif air usus. Usus kecil berfungsi sebagai organ untuk mensekresi cairan dan enzim, serta mengabsorpsi nutriens. Gangguan kedua proses tersebut akibat infeksi akan menimbulkan diare berair (watery diarrhea) dengan volume yang besar, disertai kram perut, rasa kembung, banyak gas, dan penurunan berat badan. Demam jarang terjadi serta pada feses tidak dijumpai adanya darah samar maupun sel radang. Usus besar berfungsi sebagai organ penyimpanan. Diare akibat gangguan pada usus besar frekuensinya lebih sering, lebih teratur, dengan volume yang kecil, dan sering disertai pergerakan usus yang nyeri. Demam dan feses berdarah/mucoid juga sering terjadi. Eritrosit dan sel radang selalu ditemukan pada pemeriksaan feses (Eppy, 2023).


 

5.      Pathway

 




6.      Penatalaksanaan Medis

Menurut  (Wahida, 2023) penatalaksanaan medis diare antara lain :

a.    Antibiotik

Pemberian antibotik secara empiris jarang diindikasikan pada diare akut infeksi, karena 40% kasus diare infeksi sembuh kurang dari 3 hari tanpa pemberian antibiotik. Antibiotik diindikasikan pada pasien dengan gejala dan tanda diare infeksi, seperti demam, feses berdarah, leukosit pada feses, mengurangi ekskresi dan kontaminasi lingkungan, persisten atau penyelamatan jiwa pada diare infeksi, diare pada pelancong, dan pasien immunocompromised. Pemberian antibiotik dapat secara empiris, tetapi terapi antibiotik spesifik diberikan berdasarkan kultur dan resistensi kuman.

b.    Obat anti-diare

Kelompok Anti-sekresi Selektif Terobosan terbaru milenium ini adalah mulai tersedianya secara luas racecadotril yang bermanfaat sebagai penghambat enzim enkephalinase, sehingga enkephalin dapat bekerja normal kembali. Perbaikan fungsi akan menormalkan sekresi elektrolit, sehingga keseimbangan cairan dapat dikembalikan. Hidrasec sebagai generasi pertama jenis obat baru anti-diare dapat pula digunakan dan lebih aman pada anak.

1)      Kelompok Opiat

Dalam kelompok ini tergolong kodein fosfat, loperamid HCl, serta kombinasi difenoksilat dan atropin sulfat. Penggunaan kodein adalah 15-60 mg 3x sehari, loperamid 2-4 mg/3-4 kali sehari. Efek kelompok obat tersebut meliputi penghambatan propulsi, peningkatan absorbsi cairan, sehingga dapat memperbaiki konsistensi feses dan mengurangi frekuensi diare. Bila diberikan dengan benar cukup aman dan dapat mengurangi frekuensi defekasi sampai 80%. Obat ini tidak dianjurkan pada diare akut dengan gejala demam dan sindrom disentri.

2)      Kelompok Absorbent

Arang aktif, attapulgit aktif, bismut subsalisilat, pektin, kaolin, atau smektit diberikan atas dasar argumentasi bahwa zat ini dapat menyerap bahan infeksius atau toksin. Melalui efek tersebut, sel mukosa usus terhindar kontak langsung dengan zat-zat yang dapat merangsang sekresi elektrolit.

3)      Zat Hidrofilik

Ekstrak tumbuh-tumbuhan yang berasal dari Plantago oveta, Psyllium, Karaya (Strerculia), Ispraghulla, Coptidis, dan Catechu dapat membentuk koloid dengan cairan dalam lumen usus dan akan mengurangi frekuensi dan konsistensi feses, tetapi tidak dapat mengurangi kehilangan cairan dan elektrolit. Pemakaiannya adalah 5-10 mL/2 kali sehari dilarutkan dalam air atau diberikan dalam bentuk kapsul atau tablet.

4)      Probiotik

Kelompok probiotik terdiri dari Lactobacillus dan Bifi dobacteria atau Saccharomyces boulardii, bila meningkat jumlahnya di saluran cerna akan memiliki efek positif karena berkompetisi untuk nutrisi dan reseptor saluran cerna. Untuk mengurangi/ menghilangkan diare harus diberikan dalam jumlah adekuat.

7.      Penatalaksanaan Keperawatan

WHO mengemukakan lima strategi manajemen diare utama yang dikenal sebagai manajemen diare silang (rehidrasi, suplemen seng, diet, obat nyamuk, dan pendidikan orang tua/pengasuh).

a.       Rehidrasi yang adekuat

Oral Rehydration Therapy (ORT), sering dikenal dengan dalam memberikan cairan tanpa dehidrasi, memberikan larutan oralit dengan osmolalitas yang rendah, pada penderita diare yang tidak mengalami dehidrasi, berikan oralit dengan kecepatan hingga 10 ml/kg per buang air besar. Diare akut bisa dengan memberikan rehidrasi apabila dehidrasi ringan- sedang berdasarkan berat badannya, volume oralit yang disarankan adalah 75 ml/Kg BB

b.      Parenteral

Masalah diare pada dehidrasi berat, ataupun tanpa indikasi syok, memerlukan rehidrasi lebih lanjut dengan cairan parenteral. Ringer laktat (RL) dalam jumlah 30 ml/KgBB diberikan pada bayi usia 12 bulan dan dapat diulangi bila nadi tetap lemah. Jika nadi cukup, laktat Ringer ditingkatkan menjadi 70 ml/Kg BB dalam lima jam. Ringer laktat (RL) hingga 30 ml/KgBB bisa diberikan pada anak diatas satu tahun dengan dehidrasi berat, apabila nadi lemah atau tidak teraba, ulangi prosedur pertama, nadi kembali normal, dapat dipertahankan dengan pemberian Ringer laktat (RL) dengan kecepatan 70 ml/KgBB selama dua setengah jam.

c.       Suplement Zinc

Suplemen zinc untuk mempercepat penyembuhan diare, untuk mengurangi risiko keparahannya, dan meminimalkan serangan diare, kegunana mikronutrien atasi diare dampak diare akut berdasarkan struktur dan fungsi saluran cerna, serta fungsi imunologis, khususnya dalam proses perbaikan sel epitel saluran cerna. Zinc telah ditunjukkan dalam penelitian untuk mengurangi kuantitas dan frekuensi buang air besar (BAB), bahaya dehidrasi, pentingnya untuk proliferasi sel dan fungsi sistem kekebalan tubuh. Suplementasi Zinc selama 10-14 hari bisa mempersingkat lama dan parahnya diare

d.      Edukasi orang tua

Jika orang tua melihat tanda-tanda seperti demam, tinja disetai darah, asupan makanan sedikit, rasa haus yang berlebihan, peningkatan frekuensi dan keparahan diare, tidak ada perubahan selama 3 hari anak harus diperiksa ke puskesmas atau dokter, dan pelayanan kesehatan terdekat (Wahida, 2023).

8.      Asuhan Keperawatan Berdasarkan Teori

a.       Pengkajian

Pengkajian keperawatan Tahapan pertama yang harus kita lakukan dalam proses keperawatan yaitu pengkajian keperawatan. Pada proses pengkajian keperawatan, perawat harus memperoleh data yang akurat, rinci dan aktual terhadap kondisi pasien saat dikaji. Setelah didapatkan data-data dari pengkajian keperawatan, data-data tersebut akan dipakai untuk menentukan diagnosa dan intervensi. Pengkajian keperawatan adalah hal yang sangat penting kita lakukan guna menentukan tindakan apa saja yang kita lakukan untuk mencegah dan mengobati kondisi pasien (Khairunnisa, 2023)

Beberapa hal yang harus dikaji didalam proses pengkajian keperawatan, yaitu:

b.      Identitas pasien

c.       Riwayat keperawatan

1)      Awal serangan: pada awalnya gelisah, terjadi peningkatan suhu tubuh, anoreksia kemudian terjadilah diare.

2)      Keluhan utama: fases dari lembek menjadi cair, terjadi muntah, apabila muntah terus-menerus akan banyak kehilangan air dan elektrolit yang akan terjadi masalah gejala dehidrasi, penurunan berat badan.

d.      Riwayat kesehatan masa lalu, riwayat kesehataan saat ini.

e.       Riwayat psikososial keluarga

f.        Kebutuhan dasar

1)      Pola eliminasi: terjadi perubahan frekuensi BAB yaitu lebih dari 4x dalam sehari, dengan konsistensi feses cair.

2)      Pola nutrisi: terjadi mual lalu muntah, anoreksia, terjadilah penurunan berat badan.

3)      Pola istirahat dan tidur yang akan terganggu dikarenakan adanya distensi abdomen yang akan menyebabkan rasa tidak nyaman.

4)      Pola hygiene: bagaimana kebiasaan mandi setiap harinya.

5)      Aktivitas akan terganggu dikarenakan faktor diare yang menyebabkan kondisi lemah dan terdapat nyeri akibat distensi abdomen.

g.      Keadaan umum

Keadaan umum biasanya terlihat lemah, gelisah, composmentis sampai koma, peningkatan suhu tubuh, nadi terasa cepat dan lemah, peningkatan frekuensi pernafasan.

h.      Pemeriksaan sistemik

1)      Inspeksi: biasanya didapatkan hasil mata cekung, ubun-ubun besar atau cekung, selaput lender, kering pada mulut dan bibir, penurunan berat badan, terdapat kemerahan pada sekitar anus.

2)      Perkusi: biasanya didapatkan adanya distensi abdomen

3)      Palpasi: biasanya didapatkan turgor kulit yang tidak Kembali dengan cepat.

4)      Auskultasi: biasanya dihasilkan peningkatan peristaltik usus


 

i.        Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan tinja, darah lengkap dan duodenum intubation, yaitu pemeriksaan yang berguna untuk mengetahui penyebab secara kuantitatif dan kualitatif

9.      Diagnosa

Berdasarkan (Khairunnisa, 2023) diagnosa keperawatan pada kasus diare yaitu :

a.       Diare berhubungan dengan iritsasi gastrointestinal (D.0020) 

b.      Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis (D.0077)

c.       Hipovolemia berhubungan dengan kehilangan cairan aktif (D.0023)

3.      Intervensi

Berdasarkan (PPNI, 2017a, 2018, 2017b)

DIAGNOSA

SDKI

LUARAN

SLKI

INTERVENSI

SIKI

Diare berhubungan dengan iritsasi gastrointestinal (D.0020) 

 

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 Eliminasi Fekal (L.04033) Membaik,

Dengan kriteria hasil

·         Konsistensi feses membaik

·         Frekuensi defekasi membaik

Manajemen Diare (I.03011)

Observasi :

  1. Identifikasi penyebab diare (mis. inflamasi gastrointestinal, proses infeksi, malabsorpsi dll )
  2. Identifikasi riwayat pemberian makanan
  3. Monitor warna, volume dan konsistensi  tinja
  4. Monitor tanda dan gejala hipovolemia
  5. Monitor jumlah pengeluaran diare

Terapeutik :

  1. Berikan asupan cairan oral (mis. larutan garam gula, oralit)
  2. Berikan cairan intravena
  3. Ambil sampel feses untuk kultur

Edukasi :

  1. Anjurkan makanan porsi kecil tapi sering secara bertahap

Kolaborasi :

  1. Kolaborasi pemberian obat antimotilitas (mis. loperamide, defoneksilat)
  2. Kolaborasi pemberian obat pengeras feses

Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis (D.0077)

 

Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam diharapkan tingkat nyeri (L.08066) menurun

Kriteria Hasil:

·         Frekuensi nadi membaik

·         Pola nafas membaik

·         Keluhan nyeri menurun

·         Meringis menurun

·         Gelisah menuru

·         Kesulitan tidur menurun

Manajemen Nyeri

Observasi:

1.    Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri

2.    Identifikasi skala nyeri

3.    Identifikasi respons nyeri non verbal

4.    Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri

5.    Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri

6.    Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup

7.    Monitor efek samping penggunaan analgetik

Terapeutik:

8.    Berikan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi rasa nyeri

9.    Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri

10.        Fasilitasi istirahat dan tidur

11.        Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi meredakan nyeri

Edukasi

12.        Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri

13.        Jelaskan strategi meredakan nyeri

14.        Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri

Kolaborasi

15.        Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu

 

Hipovolemia berhubungan dengan kehilangan cairan aktif (D.0023)

 

Setelah dilakukan intervensi keperawatan 3 x 24 jam, maka keseimbangan cairan (L.03020) meningkat dengan kriteria hasil :

·         Asupan cairan meningkat

·         Output urin meningkat

·         Membrane mukosa lembab meningkat

·         Edema menurun

Manajemen cairan (I.03098)

Observasi

1.        Monitor status hidrasi (mis: frekuensi nadi, kekuatan nadi, akral, pengisian kapiler, kelembaban mukosa, turgor kulit, tekanan darah)

2.        Monitor berat badan harian

3.        Monitor berat badan sebelum dan sesudah dialisis

4.        Monitor hasil pemeriksaan laboratorium (mis: hematokrit, Na, K, Cl, berat jenis urin, BUN)

5.        Monitor status hemodinamik (mis: MAP, CVP, PAP, PCWP, jika tersedia)

Terapeutik

6.        Catat intake-output dan hitung balans cairan 24 jam

7.        Berikan asupan cairan, sesuai kebutuhan

8.        Berikan cairan intravena, jika perlu

Kolaborasi

9.    Kolaborasi pemberian diuretik, jika perlu

 

4.      Implementasi

Implementasi keperawatan adalah tahap pelaksanaan dalam proses asuhan keperawatan yang berupa serangkaian tindakan nyata, baik langsung maupun tidak langsung, yang dilakukan perawat untuk membantu klien mengatasi masalah kesehatan menuju kondisi yang lebih baik sesuai tujuan yang telah direncanakan. Kegiatan ini mencakup observasi, edukasi, tindakan terapeutik, dan kolaborasi, serta dilakukan berdasarkan diagnosis keperawatan dengan memperhatikan prioritas masalah, kebutuhan klien, dan faktor-faktor yang mempengaruhi status kesehatan. Implementasi menuntut keterampilan kognitif, interpersonal, dan psikomotor dari perawat agar intervensi yang diberikan efektif dan optimal (Ekaputri et al., 2024).

5.      Evaluasi

Evaluasi merupakan tahap akhir dalam proses keperawatan yang bertujuan menilai sejauh mana tujuan asuhan keperawatan telah tercapai. Proses ini dilakukan secara sistematis melalui pengumpulan dan analisis data, serta penarikan kesimpulan terhadap respons pasien terhadap intervensi yang diberikan. Evaluasi memerlukan keterampilan perawat dalam menghubungkan tindakan keperawatan dengan kriteria hasil, serta mempertimbangkan perubahan kebutuhan pasien secara berkelanjutan. Hasil evaluasi harus didokumentasikan secara akurat. Perumusan evaluasi ini meliputi 4 komponen yang dikenal dengan istilah SOAP :

1)      S (subjektif) : Data subjektif dari hasil keluhan klien, kecuali pada klien yang afasia

2)      O (Objektif) : Data objektif dari hasil observasi yang dilakukan oleh perawat.

3)      A (Analisis) : Masalah dan diagnosis keperawatan klien yang dianalisis atau dikaji dari data subjektif dan data objektif.

4)      P (Perencanaan) : Perencanaan kembali tentang pengembangan tindakan keperawatan, baik yang sekarang maupun yang akan datang dengan tujuan memperbaiki keadaan kesehatan klien (Ekaputri et al., 2024).


 

DAFTAR PUSTAKA

Almansyah, W. E., & Nurhayati, I. (2025). Laporan Kasus: Seorang Anak Laki-Laki Usia 6 Tahun Dengan Diare Cair Akut Disertai Dehidrasi Ringan-Sedang. Continuing Medical Education, 450–458.

Anggraini, D., & Kumala, O. (2022). Diare Pada Anak. Scientific Journal, 1(4), 311–319.

Ekaputri, M., Susanto, G., Paryono, Kusumaningtiyas, D. P. H., Aisyah, Farisi, M. F. Al, Naryati, Nur, S., & Kosim, M. Y. (2024). Proses Keperawatan : Konsep , Implementasi, Evaluasi (Vol. 01, pp. 1–7). Tahta Media Group.

Eppy. (2023). Diare Akut. January.

Khairunnisa, S. (2023). Asuhan Keperawatan Pada Tn. A Dengan Diare Di Ruang Baituizzah 2 Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang.

Mantiri, F., Sihombing, M., & Grad, W. P. J. K. (2022). Penyakit Diare. 6(1), 5–10.

PPNI. (2017a). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Dewan Pengurus Pusat PPNI.

PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.

PPNI, T. P. S. D. (2017b). Standar Luaran Keperawatan Indonesia. In Persatuan Perawat Nasional Indonesia.

Wahida. (2023). Asuhan Keperawatan Pada Anak Diare Di Ruang PICU RSUD Jombang.

 DOWNLOAD FILENYA

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOWNLOAD CONTOH SURAT LAMARAN DAPUR MBG

LAPORAN PENDAHULUAN DIARE

Download Undangan Tonjokan: Solusi Praktis dan Efisien untuk Pernikahan (Format MS. Word)