LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN GAWAT DARURAT DENGAN DIAGNOSA MEDIS HEMATHORAX
LAPORAN
PENDAHULUAN PADA PASIEN GAWAT DARURAT
DENGAN
DIAGNOSA MEDIS HEMATHORAX
BAB
1
PENDAHULUAN
A.
Definisi
Hemotoraks
adalah kumpulan darah di rongga pleura yang biasanya disebabkan oleh cedera
traumatis. Hemotoraks secara konsisten didefinisikan sebagai kumpulan darah di
rongga pleura atau hematokrit cairan pleura lebih dari 50%. Penyebab hemothorax
yang spontan dan iatrogenik atau vaskular juga dapat terjadi. Perdarahan yang
menyebabkan hemotoraks dapat berasal dari dinding dada, pembuluh darah
interkostal, arteri mamaria interna, pembuluh darah besar, mediastinum,
miokardium, parenkim paru, diafragma, atau perut (Choi, Villarreal, et al.,
2021).
Hemothorax
adalah bentuk efusi pleura yang berbeda dengan berbagai etiologi, paling sering
disebabkan oleh trauma. Baik trauma tumpul maupun tembus toraks berhubungan
dengan hemotoraks (Zeiler et al., 2020). Menurut (Brogna et al., 2021)
Hemotoraks didefinisikan sebagai kumpulan darah dengan derajat koagulasi
berbeda di rongga pleura dengan tampilan berlapis yang juga dikenal sebagai
“tanda hematocrit.
Hemotorax
akut merupakan gejala sisa dari trauma dada, pecahnya aneurisma aorta, atau
diseksi aorta. Penyebab lain hemotoraks disebabkan oleh proses iatrogenik,
vaskular, neoplastik, koagulopati, atau infeksi. Hemotoraks mengacu pada
kumpulan darah di dalam rongga pleura. Diperkirakan 300.000 kasus hemotoraks
terjadi setiap tahunnya di Amerika Serikat. Dari jumlah tersebut, sebagian
besar disebabkan oleh trauma, dan hanya 1,7% yang disebabkan oleh penyebab lain
(Neff & Bradby, 2023).
B.
Etiologi
Penyebab paling umum dari hemothorax adalah trauma
dada.Dapat juga terjadi pada pasien yang memiliki:
1.
Sebuah cacat pembekuan darah
2.
Trauma tumpul dada
3.
Kematian jaringan paru-paru (paru-paru infark
)
4.
Kanker paru-paru atau pleura
5.
Menusuk dada ( ketika senjata seperti
pisau atau memotong peluru paruparu )
6.
Penempatan dari kateter vena sentral
7.
Operasi jantung
8.
Tuberkulosis (Von Garrel et al., 2018)
C.
Klasifikasi
Pada orang dewasa secara teoritis hematothoraks dibagi dalam 3 golongan, yaitu:
a)
Hematothoraks ringan
Ø
Jumlaj darah kurang dari 400 cc
Ø
Tampak sebagian bayangan
kurang dari 15% pada foto thoraks
Ø
Perkusi pekak sampai iga IX
b) Hematothoraks sedang
Ø Jumlah darah 500 cc sampai 2000
cc
Ø 15% - 35% tertutup
bayangan pada foto thoraks
Ø Perkusi pekak sampai iga VI
c)
Hematothoraks berat
Ø
Jumlah darah lebih dari 2000 cc
Ø
35% tertutup bayangan pada foto thoraks
Ø
Perkusi pekak sampai iga IV
D.
Manifestasi Klinis
Hemathoraks
tidak menimbulkan nyeri selain dari luka yang berdarah di dinding dada. Luka di
pleura viseralis umumnya juga tidak menimbulkan nyeri. Kadang-kadang anemia dan
syok hipovalemik merupakan keluhan dan gejala yang pertama muncul. Secara
klinis pasien menunjukan distress pernapasan berat, agitasi, sianosis takipnea
berat, takikardia dan peningkatan awal tekanan darah, di ikuti dengan hipotensi sesuai dengan penurunan
curah jantung.
Respon tubuh dengan adanya hemothoraks di manifestasikan dalam 2 area
mayor:
a. Respon Hemodinamik
Respon hemodinamik sangat tergantung pada
jumlah perdarahan yang terjadi. Tanda-tanda shock seperti takikardi, takipnea,
dan nadi yang lemah dapat mucul pada pasien yang kehilangan 30% atau lebih
volume darah.
b. Respon respiratori
Akumulasi darah pada pleura dapat
mengganggu pergerakan napas. Pada kasus trauma, dapat terjadi gangguan
ventilasi dan oksigenasi khususnya jika terdapat injuri pada dinding dada.
Akumulasi darah dalam jumlah yang besar dapat menimbulkan dyspnea. (Mancini,2011)
E.
Patofisiologi
Kerusakan anatomi yang terjadi akibat
trauma dapat ringan sampai berat tergantung besar kecilnya gaya penyebab
terjadinya trauma. Kerusakan anatomi yang ringan berupa jejas pada dinding
toraks, fraktur kosta simpel. Sedangkan kerusakan anatomi yang lebih berat
berupa fraktur kosta multiple dengan komplikasi, pneumotoraks, hematotoraks dan
kontusio paru. Trauma yang lebih berat menyebabkan perobekan pembuluh darah
besar dan trauma langsung pada jantung.
Hematothoraks adalah adanya darah pada rongga
pleura yang disebabkan oleh trauma pada dinding thoraks, diafragma, paru — paru atau mediastinum.
Terbanyak karena trauma tumpul dan 37 hingga 58 persen bersamaan dengan
pneumothoraks atau hemopneumothoraks. Hematothoraks dikatakan masif bila drainage
darah mencapai 1000 mililiter atau 100 mililiter
per-jam dan lebih dari 4 jam pada kasus akut. Segera dilakukan
thoracotomy emergensi karena sangat berisiko mengancam nyawa bahkan kematian.
Akibat kerusakan anatomi dinding toraks
dan organ didalamnya dapat menganggu fungsi fisiologi dari sistem pernafasan
dan sistem kardiovaskuler. Gangguan sistem pernafasan dan kardiovaskuler dapat
ringan sampai berat tergantung kerusakan anatominya. Gangguan faal pernafasan
dapat berupa gangguan fungsi ventilasi, difusi gas, perfusi dan gangguan mekanik/alat
pernafasan. Salah satu penyebab kematian
pada trauma toraks
adalah gangguan faal jantung
dan pembuluh darah.
F.
Pathway
Trauma tajam
atau tumpul
![]()
Thoraks
![]()
Cedera
jaringan lunak, cedera/hilangnya kontinuitas struktur

G.
Pemeriksaan Penunjang
1.
Foto rontgen:
menyatakan akumulasi udara/cairan pada area pleura. Pada kasus trauma tumpul
dapat terlihat pada foto toraks, seperti fraktur kosta atau pneumotoraks.
2.
GDA : Variabel tergantung dari derajat fungsi paru yang dipengaruhi, gangguan mekanik pernapasam dan kemampuan
mengkompensasi. PaCo2 kadang-kadang meningkat. PaO2 mungkin
normal atau menurun, saturasi oksigen biasanya menurun.
3.
Thorasentesis : meyatakan darah/cairan serosanguinosa (hemothorax)
4.
Hb : mungkin menurun,
menunjukan kehilangan darah
5.
Radiografi dada: menunjukkan adanya cairan pada area yang seharusnya
dipenuhi udara, sudut kostofrenik (costophrenic angle) tumpul.
6.
USG: membantu
mengidentifikasi adanya akumulasi cairan dalam jumlah
kecil.
H.
Komplikasi
Ø Kegagalan pernapasan
Ø Kematian
Ø Fibrosis atau parut dari membrane pleura
Ø Syok
Ø Kehilangan darah.
I.
Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan adalah
untuk menstabilkan pasien, menghentikan pendarahan, dan menghilangkan darah dan
udara dalam rongga pleura. Penanganan pada hemothoraks adalah:
a) Resusitasi Cairan
Terapi
awala hgemothoraks adalah dengan penggantian volume darah yang dilakukan
bersamaan dengan dekompresi rongga pleura. Dimulai dengan infus cairan
kristaloid secara cepat dengan jarum besar dan kemudian pemberian darah dengan
golongan spesifik secepatny. Darah dari rongga pleura dapat di kumpulkan dalam
penampungan yang cocok untuk autotranfusi. Bersamaan dengan pemberian infus
dipasang pula chest tube (WSD)
b) Pemasangan Chest Tube
Pemasangan
chest tube (WSD) ukuran besar agar darah pada toraks dapat cepat keluar sehingga tidak membeku di dalam pleura.
Hemotoraks akut yang cukup banyak sehingga terlihat pada foto toraks sebaiknya
di terapi dengan chest tube caliber besar. Chest tube tersebut akan
mengeluarkan darah dari ringga
pleura, mengurangi resiko terbentuknya bekuan darah dalam rongga pleura, dan
dapat dipakai dalam memonitor kehilangan darah selanjutnya.
WSD
adalah suatu system drainase yang menggunakan air. Fungsi WSD sendiri adalah
untuk mempertahankan tekanan negatif intrapleural. Macam WSD antara lain:
v WSD Aktif
Contunous suction, gelembung berasal dari udara system
v WSD Pasif
Gelembung udara berasal dari cavum toraks pasien.
c)
Thoracotomy
Tindakan dilakukan bila dalam keadaa:
a. Jika
pada awal hematoraks sudah keluar 1500 ml, kemungkinan besar penderita tersebut
membutuhkan torakotomi segera.
b. Pada
beberapa penderita paada awalnya darah yang keluar < 1500 ml, tetapi
perdarahan tetap berlangsung terus.
c.
Bila didapatkan kehilangan darah terus
menerus sebanyak 200cc/jam dalam waktu 2-4 jam.
d. Luka
tembus toraks di daerah anterior, medial dari garis putting susu atau luka di
daerah posterior, medial dari scapula harus di pertimbangkan kemungkinan
diperlukannya torakotomi karena kemungkinan melukai pembuluh darah besar,
struktur hilus atau jantung yang potensial menjadi tamponade jantung.
Tranfusi
darah di perlukan selama ada indikasi untuk torakotomi. Selama penderita dilakukan resusitasi, volume darah awal yang di keluarkan dengan chest tube dan kehilangan darah
selanjutnya harus ditambahkan ke dalam cairan pengganti yang akan di berikan.
Warna darah (arteri/vena) bukan merupakan indicator yang baik untuk di pakai
sebagai dasar dilakukannya torakotomi.
Torakotomi
sayatan dapat di lakukan di samping, di bawah lengan (aksilaris torakotomi); di
bagian depan, melalui dada (rata-rata sternotomy); miring di belakang ke
samping (posterolateral toraktomi); atau dibawah payudara (anterolateral
torakotomi). Dalam beberapa kasus, dikter dapat membuat sayatan antara tulang
rusuk (interkostal di sebut pendekatan) untuk meminimalkan memotong tulang,
saraf, dan otot. Sayatan dapat berkisar dari hanya di bawah 12,7 cm hingga 25
cm.
BAB
II
ASUHAN
KEPERAWATAN
A. Konsep
Asuhan Keperawatan
1.
Pengkajian
Identitas pasien :Nama,umur, jenis kelamin,alamat,agama, tanggal pengkajian,
jam, nomor RM
2.
Identitas Penanggung jawab
3.
Pengkajian Primer
|
Komponen |
Penilaian |
Kemungkinan Intervensi |
|
A.
Airway atau saluran
pernapasan |
1. Dengarkan suara 2. Terbuka/tersumbat? 3.
Cari serpihan
benda-benda,darah, muntah, dan benda asing. |
1. Buka saluran pernapasan menggunakan chin-lift atau manuνer
modifield jaw-thrust. 2. Bersihkan saluranpernapasan, sedot, dan bersihkan dari benda-benda asing 3.
Berikan saluran
pernapasan buatan: saluran pernapasan orofaring atau nasofaring, intubasi
trakea, atau saluran pernapasan lewat proses bedah. |
|
B.
Breathing atau pernapasan |
1.
Amati respirasi
spontan,chest excursion, laju dan kedalaman respirasi, serta usaha untuk bernapas. 2.
Auskultasi suara
pernapasan |
1.
Berikan oksigen
dengan laju tinggi melalui non-rebreather
mask. 2.
Ganti udara
dengan menggunakan tekanan positif (bag-νalνe-mask). 3. Bantu dengan menggunakan intubasi trakea atau penempatan
saluran napas lewat proses bedah. |
|
C.
Circulation Atau sirkulasi |
1.
Cari pendarahan yang tampak jelas. 2.
Periksa kulit untuk warna,kulit,kelembapan dan
capillary refill 3. Raba denyut nadi sentral dan
distal |
1.
Lakukan
penekanan/letakkan luka di posisi yang lebih Tinggi. 2.
Masukkan dua atau lebih kateter
large-bore intravenauis. 3.
Berikan bolus dari kristaloid atau
darah. 4.
Lakukan tranfusi darah. 5.
Gunakan splint untuk mengontrol pendarahan. 6.
Fasilitasi
intervensi bedah untuk kondisi pendarahan internal atau
eksternal yang parah. 7.
Sediakan resuscitation cardiopulmonary adνanced 8.
cardiac life support bila diperlukan. |
|
D. Disability atau
ketidakmam puan |
1.
Periksa ondisi neurologis menggunakanAVPU mnemonic. 2. Periksa pupil, simetris atau tidak, dan reaksi terhadap
cahaya. |
1. Jangan sampai pasien mengalami hipotensif atau hipoksi. 2. Jaga dengan hati-hati kondisi tulang belakan. 3.
Pertimbangkan
pemberian manitol, tindakan untuk memperbai
laju pembuluh vena dari
otak, pembedahan,atau hiperventilasi singkat. |
|
E.
Exposure and enνironment(pemaparan dan
lingkungan |
Ø
Periksa seluruh
tubuh |
Ø Lepas semua
baju. Ø Berikan penghangat tubuh. |
Pemeriksaan Fisik
a) Kepala
Inspeksi : Distribusi rambut baik, bentuk
kepala simetris
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan
b) Mata
Inspeksi : Anemis,
skelera an ikterik,
bentuk simetris. Palpasi :
Tidak ada nyeri tekan
c) Mulut
Inspeksi : Bentuk simetris,
sianosis, tidak ada
sariawan di dalam mulut.
d) Leher
Inspeksi : Bentuk simetris,
tidak ada pembengkakan kelenjar tiroid, tidak
dicurigai fraktur
cervikal.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, tidak ada pembekakan
e) Thoraks
Inspeksi
: Bentuk tidak simetris, terdapat
jejas dan bengkak,
pergerakan
dinding dada
tidak simetris, terdapat otot bantu pernapasan.
Palpasi : Terdapat nyeri tekn dan ada pembengkakan
Auskultasi : Bunyi
napas ronchi, suara ngorok, frekuensi napas 30x/menit Perkusi : Snoring
f) Abdomen
Inspeksi : Bentuk simetris, tidak ada jejas
Palpasi : ada nyeri tekan
pada supra pubik
Auskultasi : Bising
usus normal 12x/menit
Perkusi: Tympani
g) Genetalia
Inspeksi : Bersih,
tidak ada kelainan,
terpasang kateter spool blase
h)
Ekstremitas
v
Atas :
Inspeksi : Simetris, tidak ada pembengkakan dan terpasang ada jejas ditangan kanan, terpasang infus
ditangan kiri, fleksi dan ekstensi (-) Palpasi : Tidak ada nyeri tekan
v
Bawah :
Inspeksi : Simetris,
tidak ada pembengkakan
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan
B.
Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan bersihan
jalan napas b.d beda asing dalam jalan napas, secret yang berlebih, gumpalan
darah yang menghalangi pernapasan (D. 0001)
2. Pola napas
tidak efektif b.d hambatan upaya napas (D. 0005)
3. Gangguan pertukaran gas b.d ketidakseimbangan ventilasi-perfusi (D. 0003)
4. Nyeri
Akut b.d Agen Pencedera Fisik (prosedur operasi
(D.0077)
5. Intoleransi
Aktivitas (Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen (D.0056)
C. Intervensi
Keperawatan
Standar Intervensi
Keperawatan Indonesia: Defenisi dan Tindakan Keperawatan Edisi 1, 2018).
|
No |
Diagnosa Keperawatan |
Tujuan dan Kriteria Hasil |
Intervensi |
|
1 |
Bersihan jalan napas tidak efektif b.d beda asing dalam
jalan napas, secret yang berlebih, gumpalan darahyangmenghalangi pernapasan |
Bersihan jalan napas
(L.01001) Tujuan : Setelah dilakukan intervensikeperawatan
selama waktu tertentu diharapkan Kriteria Hasil : 1. Pasien melaporkan produksi sputum menurun 2. Frekuensi napas sedang 3. Pola napas membaik |
Penghisapan Jalan Napas (I.01020) Tindakan: Observasi : Ø
Identifikasi kebutuhan dilakukan penghisapan Ø
Auskultasi suara napas sebelum dan
setelah dilakukan penghisapan Ø
Monitor status oksigenasi
(SaO2 dan SvO2), status neurologis (status mental, tekanan intrakranial,
tekanan perfusi serebral) dan status hemodinamik (MAP dan irama jantung)
sebelum, dan setelah tindakan Ø
Monitor dan catat warna, jumlah dan konsistensi sekret. Terapeutik Ø Gunakan teknik aseptik
(mis. Gunakan sarung tangan, kacamata atau
masker, jika perlu) Ø Gunakan
prosedural steril dan disposibel Ø Gunakan teknik penghisapan tertutup, sesuai indikasi Ø Pilih
ukuran kateter suction yang menutupi tidak lebih
dari setengah diameterETT Lakukan penghisapan
mulut, nasofaring, trakea dan atau ETT Ø Berikan
oksigenasi dengan konsentrasi tinggi 100% paling sedikit
30 detik sebelum dan setelah tindakan Ø Lakukan penghisapan lebih dari 15 detil Ø Lakukan
penghisapan ETT dengan tekanan rendah(80-120 mmHg) Ø Lakukan
penghisapan hanya di sepanjang ETT untuk meminimalkan invasif Ø Hentikan
penghisapan dan berikan terapi oksigen jika mengalami kondisi-kondisi seperti bradikardi, penurunan saturasi. Edukasi Ø Anjurkan melakukan teknik napas dalam, sebelum melakukan penghisapandinasotracheal Ø Anjurkan
bernapas dalam dan pelan selama insersi kateter suction |
|
2. |
Pola napas tidak fektif b.d hambatan upaya napas (D.0005) |
Pola napas(L.01004) Setelah dilakukan tindakan keperawatan
dalam jangka waktu 1 x 24 jam diharapkan pola napas
pasien kembali efektif dengan kriteria hasil : 1.
Dyspnea dari 1 (meningkat) menjadi 3 (sedang) 2.
Frekuensi napas Dari 1(memburuk)menjadi 3 (sedang) 3.
Kedalaman napas dari 1(memburuk) menjadi 3 (sedang) |
Pemantauan Respirasi (I.01014) Observasi Ø Monitor frekuensi, irama,
kedalaman, dan upaya napas Ø Monitor pola napas (seperti bradipnea,takipnea,hiperventilasi, Kussmaul, Cheyne-Stokes, Biot, ataksik Ø Monitor kemampuan batuk efektif Ø Monitor adanya produksi sputum Ø Monitor adanya sumbatan jalan
napas Ø Palpasi kesimetrisan ekspansi paru Ø Auskultasi bunyi napas Ø Monitor saturasi oksigen Ø Monitor nilai AGD Ø Monitor hasil x-ray toraks Terapeutik Ø Atur interval waktu
pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien Ø Dokumentasikan hasil
pemantauan Edukasi Ø Jelaskan tujuan dan
prosedur pemantauan Ø Informasikan hasil pemantauan, jika
perlu |
|
3. |
Gangguan
pertukaran Gas b.d
ketidakseimbangan ventilasi-perfusi |
Pertukaran
Gas(L. 01003) Tujuan
: setelah dilakukan intervensi keperawatan selamawaktu tertentu diharapkan
pertukaran gas meningkat Kriteria Hasil : 1.
Pasien melaporkan keluhan sesak nafas berkurang 2.
Tidak terdengar bunyi nafas tambahan 3.
Tanda-tanda vital dalam batas normal |
Dukungan
ventilasi (I.01002) Tindakan
: Observasi Ø
Identifikasi adanya
kelelahan otot bantu napas Ø
Identifikasi efek
perubahan posisi terhadap status pernapasan Ø
Monitor status respirasi dan oksigenasi (mis. Frekuensi dan kedalaman
napas,penggunaan otot bantu napas, bunyi napas tambahan, saturasi oksigen) Terapeutik Ø
Pertahankan kepatenan jalan napas Ø
Berikan posisi semi fowler
atau fowler Ø Fasilitasi
mengubah posisi senyaman mungkin Ø Berikan
oksigenasi sesuai kebutuhan (mis. Nasal kanul, masker wajah, masker
rebreathing atau non rebreathing Ø Gunakan
bag-νalνe mask, jika perlu Edukasi Ø Ajarkan
melakukan teknik relaksasi napas dalam Ø Ajarkan mengubah
posisi secara mandiri Ø Ajarkan teknik batuk efektif Kolaborasi Ø Kolaborasi
pemberian bronkhodilator, jika perlu |
D. Implementasi
Implementasi
keperawatan adalah serangkaian kegiatan dilakukan untuk membantu klien dari
masalah status kesehatan yang baik, yang menggambarkan kriteria hasil yang
diharapkan untuk kesuksesan implementasi dalam pelaksanaannya harus sesuai
dengan rencana keperawatan.
E. Evaluasi
Tahap penilaian
evaluasi adalah tahap akhir dari rangkaian proses keperawatan yang berguna
apakah tujuan dari tindakan keperawatan yang telah dilakukan tercapai atau perlu
pendekatan lain.
DOWNLOAD FILE DOKUMENNYA DISINI
Komentar
Posting Komentar