DOWNLOAD LAPORAN PENDAHULUAN KEBUTUHAN DASAR MANUSIA (GANGGUAN KEBUTUHAN OKSIGENASI)
LAPORAN PENDAHULUAN KEBUTUHAN DASAR MANUSIA
(GANGGUAN KEBUTUHAN OKSIGENASI)
PADA KASUS ACUTE RESPIRATORY DISTRESS SYNDROME (ARDS)
BAB 1
LAPORAN PENDAHULUAN
A.
Konsep
Kebutuhan Oksigenasi
1.
Definisi
Oksigenasi merupakan proses
penambahan oksigen (O2) ke dalam sistem tubuh baik itu bersifat
kimia atau fisika. Oksigen ditambahkan kedalam tubuh secara alami dengan cara
bernapas. Pernapasan atau respirasi merupakan proses pertukaran gas antara
individu dengan lingkungan yang dilakukan dengan cara menghirup udara untuk
mendapatkan oksigen dari lingkungan dan kemudian udara dihembuskan untuk
mengeluarkan karbon dioksida ke lingkungan
(Agustina, D., 2022).
Oksigen
memegang peranan penting dalam semua proses tubuh secara fungsional. Tidak
adanya oksigen akan menyebabkan tubuh secara fungsional mengalami kemunduran
atau bahkan dapat menimbulkan kematian. Oleh karena itu, kebutuhan oksigen
merupakan kebutuhan yang paling utama dan sangat vital bagi tubuh. Pemenuhan
kebutuhan oksigen ini tidak terlepas dari kondisi sistem pernapasan secara
fungsional. Bila ada gangguan pada salah satu organ sistem respirasi, maka
kebutuhan oksigen akan mengalami gangguan. Sering kali individu tidak menyadari
terhadap pentingnya oksigen. Proses pernapasan dianggap sebagai sesuatu yang
biasa-biasa saja. Banyak kondisi yang menyebabkan seseorang mengalami gangguan
dalam pemenuhan kebutuhan oksigen, seperti adanya sumbatan pada saluran
pernapasan. Pada kondisi ini, individu merasakan pentingnya oksigen (Aprilia,
2021).
Oksigenasi adalah pemenuhan akan
kebutuhan oksigen (O2).
Kebutuhan fisiologis oksigenasi merupakan kebutuhan dasar manusia yang
digunakan untuk kelangsungan metabolisme sel tubuh, untuk mempertahankan
hidupnya, dan untuk aktivitas berbagai organ atau sel. Apabila lebih dari 4
menit orang tidak mendapatkan oksigen maka akan berakibat pada kerusakan otak
yang tidak dapat diperbaiki dan biasanya pasien akan meninggal. Kebutuhan
oksigenasi merupakan kebutuhan dasar manusia yang di gunakan untuk kelangsungan
metabolisme sel tubuh mempertahankan hidup dan aktivitas berbagai organ atau
sel. Dalam keadaan biasa manusia membutuhkan sekitar 300 cc oksigen setiap hari
(24 jam) atau sekitar 0,5 cc tiap menit. Respirasi berperan dalam mempertahakan
kelangsungan metabolisme sel. Sehingga di perlukan fungsi respirasi yang
adekuat. Respirasi juga berarti gabungan aktifitas mekanisme yang berperan
dalam proses suplai O2
ke seluruh tubuh dan pembuangan CO2
(hasil pembakaran sel). Terapi oksigen merupakan salah satu terapi pernafasan
dalam mempertahankan oksigenasi (Hutabarat,
et.all 2022).
2. Etiologi
Menurut Haswita
(2017) keadekuatan sirkulasi ventilasi, perfusi dan transport gas-gas
pernapasan ke jaringan di pengaruhi oleh lima faktor diantara lain:
a.
Faktor fisiologi
1)
Menurunnya
kapasitas pengingatan O2 seperti pada anemia.
2)
Menurunnya
konsentrasi O2 yang diinspirasi seperti pada obstruksi saluran napas
bagian atas.
3)
Hipovolemia
sehingga tekanan darah menurun mengakibatkan transpor O2 terganggu.
4)
Meningkatnya metabolisme seperti adanya infeksi, demam, ibu hamil, luka,
dan lain- lain.
5)
Kondisi yang memengaruhi pergerakan dinding dada seperti pada kehamilan,
obesitas, muskulus skeleton yang abnormal, penyakit kronik seperti TB paru.
b. Faktor perkembangan
1) Bayi prematur: yang disebabkan kurangnya
pembentukkan surfaktan.
2) Bayi dan toddler: adanya resiko infeksi saluran
pernapasan akut.
3) Anak usia sekolah dan remaja: resiko infeksi saluran
pernapasan dan merokok.
4) Dewasa muda dan pertengahan: diet yang tidak sehat,
kurang aktivitas, stress yang mengakibatkan penyakit jantung dan paru-paru
5) Dewasa tua: adanya proses penuaan yang mengakibatkan
kemungkinan arteriosklerosis, elastisitas menurun, ekspansi paru menurun.
c. Faktor perilaku
1) Nutrisi: misalnya pada obesitas mengakibatkan
penurunan ekspansi paru, gizi yang buruk
2) Exercise: akan meningkatkan kebutuhan oksigen.
3) Merokok: nikotin menyebabkan vasokontriksi pembuluh
darah perifer dan koroner.
4) Substance abuse (alkohol dan obat- obatan):
menyebabkan intake nutrisi menurun mengakibatkan penurunan hemoglobin, alkohol,
menyebabkan depresi pusat pernapasan.
5) Kecemasan: menyebabkan metabolisme meningkat.
d. Faktor lingkungan
1) Tempat kerja (polusi).
2) Suhu lingkungan.
3) Ketinggian tempat dari permukaan laut.
4) Tipe kekurangan oksigen dalam tubuh
3. Patofisiologi
Proses pertukaran gas dipengaruhi
oleh ventilasi, difusi dan trasportasi. Proses ventilasi (proses penghantaran
jumlah oksigen yang masuk dan keluar dari dan ke paru-paru), apabila pada
proses ini terdapat obstruksi maka oksigen tidak dapat tersalur dengan baik dan
sumbatan tersebut akan direspon jalan nafas sebagai benda asing yang
menimbulkan pengeluaran mukus. Proses difusi (penyaluran oksigen dari alveoli
ke jaringan) yang terganggu akan menyebabkan ketidakefektifan pertukaran gas.
Selain kerusakan pada proses ventilasi, difusi, maka kerusakan pada
transportasi seperti perubahan volume sekuncup, afterload, preload,
dan kontraktilitas miokard juga dapat mempengaruhi pertukaran gas
Patway
Terlampir
4. Manifestasi
Klinis
Adanya penurunan tekanan inspirasi/
ekspirasi menjadi tanda gangguan oksigenasi. Penurunan ventilasi permenit,
penggunaaan otot nafas tambahan untuk bernafas, pernafasan nafas faring (nafas
cuping hidung), dispnea, ortopnea, penyimpangan dada, nafas pendek, nafas
dengan mulut, ekspirasi memanjang, peningkatan diameter
anterior-posterior, frekuensi nafas kurang, penurunan kapasitas vital menjadi
tanda dan gejala adanya pola nafas yang tidak efektif sehingga menjadi gangguan
oksigenasi
Beberapa tanda dan gejala kerusakan
pertukaran gas yaitu:
a. Perubahan
jumlah pernapasan.
b. Batuk
disertai dahak.
c. Penggunaan
otot tambahan pernapasan.
d. Dispnea.
e. Penurunan
haluaran urin.
f.
Penurunan ekspansi paru
g. Takipnea
5. Pemeriksaan
Penunjang
Pemeriksaan
diagnostik yang dapat dilakukan untuk mengetahui adanya gangguan
oksigenasi yaitu:
a. Pemeriksaan
fungsi paru
Untuk mengetahui
kemampuan paru dalam melakukan pertukaran gas secara efisien.
b. Pemeriksaan
gas darah arteri
Untuk memberikan
informasi tentang difusi gas melalui membrane kapiler alveolar dan keadekuatan
oksigenasi.
c. Oksimetri
Untuk mengukur saturasi
oksigen kapiler
d. Pemeriksaan
sinar X dada
Untuk pemeriksaan adanya
cairan, massa, fraktur, dan proses-proses abnormal.
e. Bronkoskopi
Untuk memperoleh sampel biopsy
dan cairan atau sampel sputum/benda asing yang menghambat jalan nafas.
f.
Endoskopi
Untuk melihat lokasi
kerusakan dan adanya lesi.
g. Fluoroskopi
Untuk mengetahui
mekanisme radiopulmonal, misal: kerja jantung dan kontraksi paru.
h. CT
scan
Untuk mengintifikasi
adanya massa abnormal.
6.
Komplikasi
a. Hipoksia
Merupakan kondisi tidak
tercukupinya pemenuhan kebutuhan oksigen dalam tubuh akibat
defisiensi oksigen.
b. Perubahan
Pola Nafas
1) Takipnea,
merupakan pernafasan dengan frekuensi lebih dari 24x/ menit karena paru-paru
terjadi emboli.
2) Bradipnea,
merupakan pola nafas yang lambat abnormal, ± 10x/ menit.
3) Hiperventilasi,
merupakan cara tubuh mengompensasi metabolisme yang terlalu tinggi dengan
pernafasan lebih cepat dan dalam sehingga terjadi jumlah peningkatan O2
dalam paru-paru.
4) Kussmaul,
merupakan pola pernafasan cepat dan dangkal.
5) Hipoventilasi
merupakan upaya tubuh untuk mengeluarkan CO2 dengan cukup, serta
tidak cukupnya jumlah udara yang memasuki alveoli dalam penggunaan O2.
6) Dispnea,
merupakan sesak dan berat saat pernafasan.
7) Ortopnea,
merupakan kesulitan bernafas kecuali dalam posisi duduk atau berdiri.
8) Stridor
merupakan pernafasan bising yang terjadi karena penyempitan pada saluran nafas
c. Obstruksi
Jalan Nafas
Merupakan suatu kondisi
pada individu dengan pernafasan yang mengalami ancaman, terkait dengan
ketidakmampuan batuk secara efektif. Hal ini dapat disebabkan oleh sekret yang
kental atau berlebihan akibat infeksi, imobilisasi, serta batuk tidak efektif
karena penyakit persarafan.
d. Pertukaran
Gas
Merupakan kondisi pada
individu yang mengalami penurunan gas baik O2 maupun CO2
antara alveoli paru-paru dan sistem vaskular.
7. Penatalaksanaan
a. Bersihan
Jalan Nafas Tidak Efektif
1) Latihan
batuk efektif
2) Suctioning
3) Jalan
nafas buatan
b. Pola
Nafas Tidak Efektif
1) Atur
posisi pasien ( semi fowler )
2) Pemberian
oksigen
3) Teknik
bernafas dan relaksasi
c. Gangguan
Pertukaran Gas
1) Atur
posisi pasien ( posisi fowler )
2) Pemberian
oksigen
3) Suctioning.
B.
Definisi
ACUTE respiratory distress syndrome (ARDS)
Faktor – faktor yang menyebabkan
timbulnya ACUTE respiratory distress
syndrome (ARDS) merupakan
suatu bentukan dari gagal napas akut yang ditandai dengan: hipoksemia,
penurunan fungsi paru-paru, dispnea, edema paru-paru bilateral tanpa gagal
jantung, dan infiltrate yang menyebar. Selain itu, ARDS dikenal juga dengan
nama ‘noncardiogenic pulmonary edema’, ‘shock pulmonary’, dan lain -lain. Acute
respiratory distress syndrome (ARDS) adalah salah satu penyakit paru akut yang
memerlukan perawatan di IntensiveCare Unit (ICU) dan mempunyai angka kematian
yang tinggi yaitu mencapai 60%. Penyebab spesifik ARDS masih belum pasti,banyak
faktor penyebab yang dapat berperan padagangguan ini menyebabkan ARDS tidak
disebut paru dan menyebabkan fibrosis. ARDS terjadi sebagai akibat cedera atau
trauma pada membran alveolar kapiler yang mengakibatkan kebocoran cairan
kedalamruang interstisiel alveolar dan perubahan dalam jaring-jaringkapiler,
terdapat ketidak seimbangan ventilasi dan perfusi yang jelas akibat
akibatkerusakan pertukaran gas dan pengalihan ekstansif darah dalam paru- paru.
ARDS menyebabkan penurunan dalam pembentukan surfaktan, yang mengarah pada
kolapsalveolar. Komplians paru menjadi sangat menurun atau paru-paru
menjadikakuakibatnya adalah penuruna karakteristik dalam kapasitas residual
fungsional, hipoksia beratdan hipokapnia. Oleh karena itu, penanganan
ARDSsangat memerlukan tindakan khusus dari perawat untuk mencegah memburuknya
kondisi kesehatan klien. Hal tersebut dikarenakan klien yangmengalami ARDS
dalam kondisi gawat yang dapat mengancam jiwa klien.
1. ETIOLOGI
ARDS memiliki banyak faktor risiko. Selain infeksi
paru atau aspirasi, sumber ekstra paru termasuk sepsis, trauma, transfusi
masif, overdosis obat, emboli lemak, menghirup asap beracun, dan pankreatitis
dapat berkontribusi terhadap ARDS (Diamond et al., 2022). Penyakit
dan/atau cedera ekstra-toraks ini memicu kaskade inflamasi yang berpuncak pada
cedera paru.
Faktor
penting penyebab ARDS antara lain :
a. Usia lanjut
b. Jenis kelamin wanita
c. Merokok
d. Penggunaan alkohol
e. Operasi vaskular aorta
f.
Operasi
kardiovaskular
g. Cedera otak traumatis
h. Pankreatitis
i.
Memar paru
j.
Infeksi pneumonia
k. Obat-obatan (radiasi, agen kemoterapi, amiodaron)
l.
Syock (disebabkan banyak
faktor ).
m. Trauma
(memar pada paru-paru, fraktur multiple, cidera kepala).
n. Cidera
sistem syaraf yang serius.
2. Patofisiologi
Menurut (Lemone
& Burke, 2017) Patologi yang mendasari ARDS adalah cedera paru -paru akut
akibat dari respons inflamasi sistemik yang tidak diatur terhadap cedera akut
atau peradangan. Respons seluler inflamasi dan mediator biokimia merusak
membran alveolar -kapiler. Kerusakan ini berkembang pesat, seringkali dalam 90
menit dari respons inflamasi sistemik dan dalam waktu 24 jam. Membran kapiler
yang rusak memungkinkan sel -sel plasma dan darah keluar ke ruang interstitial.
Peningkatan tekanan interstitial dan kerusakan pada membran alveolar
memungkinkan cairan untuk memasuki alveoli. Di dalam alveolus, cairan
mencairkan dan menonaktifkan surfaktan. Sel-sel penghasil surfaktan rusak oleh
proses inflamasi, yang menyebabkan defisit surfaktan, peningkatan tegangan
permukaan alveolar dan keruntuhan alve olar dengan atelektasis. Paru -paru
menjadi kurang patuh dan pertukaran gas terganggu. Saat sindrom berkembang,
membran hialin terbentuk, lebih lanjut mengurangi pertukaran gas dan kepatuhan.
Akhirnya, perubahan fibrotik terjadi di paru -paru. Septa-alveolar menebal dan
luas permukaan alveolar untuk pertukaran gas berkurang. Hipoksemia menjadi
refraktori atau resisten terhadap perbaikan dengan oksigen tambahan dan PaCO2
naik karena difusi terganggu. Seiring perkembangan ARDS, hipoksia jaringan
menjadi signifikan dan asidosis metabolik berkembang. Sepsis dan disfungsi
sistem multi-organ dari ginjal, hati, saluran pencernaan, SSP dan sistem
kardiovaskular adalah penyebab utama kematian dalam ARDS.
3. Manifestasi klinis
Manifestasi awal ARDS biasanya berkembang 24 hingga 48
jam setelah kerusakan awal. Berikut manifestasi klinis ARDS (Lemone &
Burke, 2017):
a. Dispnea, takipnea, dan kecemasan adalah manifestasi
awal
b. Gangguan pernapasan progresif berkembang, dengan
meningkatnya laju pernapasan retraksi interkostal dan penggunaan otot aksesori
pernapasan
c. Adanya sianosis yang mungkin tidak membaik dengan
pemberian oksigen
d. Suara napas awalnya jelas, tetapi Crackles dan Rhonchi
dapat berkembang
e. Ketika kegagalan pernapasan berlangsung, perubahan
status mental seperti agitasi, kebingungan dan kelesuan terjadi
f.
ABG pada awalnya
menunjukkan hipoksemia dengan PAO2 kurang dari 60 mmHg dan alkalosis pernapasan
karena takipnea
g. Perubahan x-ray dada mungkin tidak terbukti selama 24
jam setelah timbulnya ARDS. Infiltrat difus pada awalnya terlihat, berkembang
menjadi pola 'putih'. CT scan thoraks memberikan ilustrasi yang lebih baik
tentang pola konsolidasi alveolar dan atelektasis di ARDS.
4. Penatalaksanaan
Menurut (Diamond et
al., 2022; Fernando et al., 2021; Saguil & Fargo, 2020) Strategi
perawatan utama adalah perawatan suportif dan berfokus pada: mengurangi fraksi
shunt, meningkatkan pengiriman oksigen, mengurangi konsumsi oksigen, dan
menghindari cedera lebih lanjut. Pasien diberi ventilasi mekanis, dijaga dari
kelebihan cairan dengan diuretik, dan diberi dukungan nutrisi sampai perbaikan.
Ventilasi Mekanis
Meskipun kasus ARDS ringan dapat merespons ventilasi noninvasif, sebagian besar
pasien memerlukan sedasi, intubasi, dan ventilasi sementara cedera yang
mendasarinya dirawat. Setiap mode ventilator dapat digunakan, dan ada beberapa
pedoman untuk menginformasikan terapi. Laju pernapasan, waktu ekspirasi, PEEP,
dan FiO2 dapat diatur menurut protokol dari National Heart, Lung,
and Blood Institute. Pengaturan harus disesuaikan untuk mempertahankan saturasi
oksigen 88% sampai 95%, pH arteri 7,30 sampai 7,45, dan tekanan dataran tinggi
tidak lebih dari 30 cm H2O untuk menghindari barotrauma. Memulai dengan volume
tidal rendah 6 mL per kg berat badan yang diperkirakan lebih unggul daripada
memulai dengan volume tidal 10 hingga 15 mL per kg. Pedoman merekomendasikan
memulai ventilasi dengan volume tidal rendah. Namun, volume rendah dikaitkan
dengan tekanan parsial karbon dioksida arteri yang lebih tinggi (PaCO2).
Posisi prone
Insiden cedera paru akibat ventilator dapat dikurangi dengan menempatkan pasien
pada posisi tengkurap. Ventilasi mekanis dalam posisi terlentang dapat
mengakibatkan atelektasis dan derekruitmen sebagian besar bagian paru yang
bergantung. Posisi tengkurap mendistribusikan kembali kekuatan mekanis melalui
paru-paru yang terluka, menghasilkan inflasi paru yang lebih homogen dan perekrutan
alveoli di daerah paru-paru yang bergantung. Pada pasien dengan ARDS dan PaO2
/ FiO2 < 150 mm Hg, bukti berkualitas tinggi menunjukkan bahwa
posisi tengkurap mengurangi risiko kematian tanpa peningkatan komplikasi
serius.
1.
Konsep Asuhan Keperawatan
a.
Pengkajian
Menurut Wijaya danPutri
(2014) pengkajian yang digunakan pada pasien
dengan ARDS yaitu :
a) Identitas klien : Meliputi
nama, Usia, Jenis Kelamin,
ras, dll
b) Informasi dan diagnosa medik
penting
c) Data riwayat kesehatan pernah menderita penyakit
asma sebelumnya, menderita kelelahan yang amat sangat dengan sianosis
pada ujung jari.
b.
Riwayat kesehatan sekarang
-
Biasanya klien sesak nafas, batuk-batuk, lesu tidak bergairah, pucat tidak ada nafsu makan, sakit pada dada dan pada jalan
napas.
-
Sesak setelah
melakukan aktivitas
-
Sesak napas karena
perubahan udara dan debu
-
Batuk dan susah tidur karena nyeri
dada.
c.
Riwayat kesehatan keluarga
-
Riwayat keluarga
yang memiliki ARDS
-
Riwayat keluarga
yang menderita penyakit
alergi seperti rinitis
alergi, sinustis, dermatitis, dan lain-lain.
d.
Ativitas/ istirahat
e.
Keletihan, kelelahan, malaise
f.
Ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas
sehari-hari karena sulitan bernapas
g.
Ketidakmampuan untuk tidur perlu tidur dalam posisi duduk
tinggi.
h.
Dispnea pada saat istirahat, aktivitas dan hiburan.
i.
Sirkulasi: Pembengkakan pada ekstremitas bawah
j.
Integritas ego terdiri dari peningkatan faktor
resiko dan perubahan
pola hidup
k.
Makanan dan cairan: mual /muntah, nafsu makan menurun, ketidakmampuan untuk makan
l.
Pernafasan
m.
Napas pendek, dada rasa tertekan dan ketidakmampuan untuk
bernapas
n.
Batuk dengan
produksi sputum berwarna
keputihan
o.
Pernapasan biasanya
cepat, fase ekspirasi
biasanya memanjang
p.
Penggunaan otot bantu pernapasan
q.
Bunyi napas mengi sepanjang
area paru pada ekspirasi dan kemungkinan
selama inspirasi berlanjut sampai penurunan/ tidak adanya bunyi napas
2.
Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang dapat muncul
pada pasien ARDS menurut SDKI (2017)
dan Donsu, Induniasih, dan
Purwanti (2015) yaitu :
1.
Gangguan pertukaran gas
2.
Pola
nafas tidak efektif
3.
Bersihan jalan nafas tidak efektif
4.
Intoleransi
aktivitas
5.
Ansietas
3.
Intervensi Keperawatan
Rencanaan keperawatan merupakan rencana
tindakan yang akan diberikan
kepada klien sesuai dengan kebutuhan berdasarkan diagnosa keperawatan yang muncul. Rencana
keperawatan berdasarkan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI, 2018) dan Standar
Luaran:
|
No |
Diagnosa |
Tujuan
dan kriteria hasil |
Intervensi |
|
1. 2. 3. |
Gangguan pertukaran gas Bersihan jalan napas tidak efektif Pola nafas tidak efektif |
Setelah diberikan tindakan keperawatan diharapkan pernapasan klien membaik, dengan
criteria hasil: 1.
Tingkat kesadaran klien meningkat 2. Bunyi napas
tambahan menurun 3. Gelisah menurun 4. Napas cuping
hidung menurun Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan klien
jalan napas klien
tetap paten dengan
kriteria hasil : 1. Produksi sputum
menurun 2. Wheezing menurun 3. Gelisah menurun 4. Frekuensi napas
membaik 5. Pola napas
membaik Setelah dilakukan tindakan keperawatan pola napas
klien kembali normal,
dengan criteria hasil: 1.
Ventilasi semenit meningkat 2.
Tekanan ekspirasi dan inspirasi meningkat 3.
Penggunaan otot bantu napas
menurun 4.
Frekuensi napas membaik |
9Intervensi: Pemantauan respirasi Observasi 1. Monitor frekuensi, irama, kedalaman dan upaya napas 2. Monitor pola
napas Monitor kemampanan batuk efektif 3. Monitor adanya produksi sputum 4. Monitor adanya sumbatan jalan napas 5. Palpasi kesimetrisan ekspansi paru 6. Auskultasi bunyi napas 7. Monitor saturasi oksigen Terapeutik 8. Atur interval pemantauan respirasi sesuai
kondisi klien 9. dokumentasikan hasil
pantauan Edukasi 10. Jelaskan tujuan prosedur pemantauan 11. Informasikan hasil 12. pemantauan Intervensi: Manajement jalan nafas Observasi 1.
Monitor bunyi napas tambahan 2. Monitor bunyi
napas tambahan 3. Monitor sptum
Terapeutik 4. Berikan minum
hangat 5.
Lakukan fisioterapi dada Edukasi 6.
Ajarkan teknik batuk efektif Kolaborasi 7. Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran, mukolitik Intervensi: Manajement jalan nafas Observasi 1. Monitor
pola nafas Terapeutik 2. Posisikan semifowler atau fowler 3. Berikan oksigen
jika perlu Edukasi 4. Ajarkan teknik
batuk efektif |
DAFTAR PUSTAKA
Agustina, D., Pramudianto, A., & Novitasari, D.
(2022).PPOK dengan masalah gangguan oksigenasi. JKM: Jurnal Keperawatan
Merdeka, 2(1), 30-35.
Aprilia, Syerina. Asuhan Keperawatan Gangguan
Kebutuhan Oksigenasi Pada Prasekolah Anak A Dengan Penyakit Ispa Keluarga Bapak
R Di Kelurahan Tanjung Aman Kecamatan Kotabumi Selatan Kabupaten Lampung Utara
Tahun 2021. Diss. Poltekkes Tanjungkarang, 2021.
Pranciska, Sella. Asuhan Keperawatan Gawat
Darurat Pasien Dengan Gangguan Oksigenasi Padakasus Cidera Kepala Sedang
Terhadap Tn. Gdiruang Igd Rsud Jend Ahmad Yani Metro Tanggal 02 April 2021.
Diss. Poltekkes Tanjungkarang, 2021.
Hutabarat, Naomi Isabella, et al. "KEPERAWATAN
DASAR: TEORI DAN PRAKTEK." Penerbit Tahta Media (2022).
Brunner &Suddarth. (2002). Keperawatan Medikal
Bedah. EGC. Jakarta
Mubarak, Wahit
Iqbal & Cahyani, Nurul. 2007. Kebutuhan Dasar. Jakarta : EGC
Nanda
International (20013). Diagnosis Keperawatan: definisi & Klasifikasi.
Jakarta:EGC
Potter &
Perry. 2005. Fundamental Keperawatan. Jakarta:EGC
Tarwonto
dan Wartonah.2006. Kebutuhan Dasar Manusia dan
Asuhan Keperaweatan. Jakarta: Salemba Medika.
Diamond,
M., Peniston, H. L., Sanghavi, D., & Mahapatra, S. (2022). Acute
Respiratory Distress Syndrome. National Library of Medicine. Retrieved from:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK436002/
Widyawati,
Novia, and Binarti Dwi Wahyuningsih. Penerapan Latihan Batuk Efektif Pada
Pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronik Dengan Masalah Bersihan Jalan Nafas
Tidak Efektif Di Rsu Anwar Medika Sidoarjo. Diss. Perpustakaan Universitas Bina
Sehat, 2023.
http://www.docstoc.com/docs/151842217/LAPORAN-PENDAHULUAN-OKSIGEN-NOVA diakses
tanggal 19 Agustus 2023
Komentar
Posting Komentar