ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN DIAGNOSA MEDIS CKD

 


BAB I

TINJAUAN TEORI PENYAKIT

1.1   Definisi

Chronic Kidney Disease (CKD) atau Penyakit Ginjal Kronik adalah kondisi kerusakan ginjal yang berlangsung selama ≥3 bulan yang ditandai dengan abnormalitas struktur atau fungsi ginjal dengan atau tanpa penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG/GFR). CKD menyebabkan penurunan fungsi ginjal secara progresif dan irreversible sehingga ginjal tidak mampu mempertahankan keseimbangan cairan, elektrolit, dan metabolisme tubuh.

Menurut KDIGO (Kidney Disease Improving Global Outcomes), CKD adalah kelainan struktur atau fungsi ginjal yang berlangsung lebih dari 3 bulan dengan implikasi terhadap kesehatan.

Chronic Kidney Disease (CKD) atau Penyakit Ginjal Kronis (PGK) adalah suatu kondisi kerusakan ginjal yang bersifat progresif dan ireversibel, ditandai dengan penurunan fungsi ginjal berupa penurunan Glomerular Filtration Rate (GFR) kurang dari 60 mL/menit/1,73 m² yang berlangsung selama tiga bulan atau lebih, dengan atau tanpa disertai kerusakan struktural ginjal. Kerusakan ini dapat berupa kelainan struktural maupun fungsional ginjal yang dapat dibuktikan melalui kelainan patologis, kelainan komposisi darah atau urine, maupun kelainan pada pemeriksaan pencitraan.

Pada kondisi ini, ginjal kehilangan kemampuannya untuk mempertahankan homeostasis cairan, elektrolit, asam-basa, serta gagal menjalankan fungsi endokrin dan metabolik lainnya seperti produksi eritropoietin dan aktivasi vitamin D. Penyakit ini berkembang secara perlahan dalam jangka waktu bulan hingga tahun, dan apabila tidak ditangani akan berlanjut menjadi gagal ginjal terminal atau End Stage Renal Disease (ESRD) yang membutuhkan terapi pengganti ginjal berupa dialisis atau transplantasi ginjal.

1.2   Etiologi

Penyebab CKD sangat bervariasi dan umumnya merupakan akibat dari penyakit sistemik maupun penyakit primer pada ginjal yang berlangsung kronis. Beberapa penyebab utama CKD antara lain:

.   Diabetes Melitus (Nefropati Diabetik) — merupakan penyebab tersering CKD di seluruh dunia. Hiperglikemia kronis menyebabkan kerusakan mikrovaskular pada glomerulus.

.   Hipertensi (Nefrosklerosis Hipertensif) — tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol menyebabkan kerusakan pembuluh darah ginjal dan iskemia jaringan ginjal.

.   Glomerulonefritis kronis — inflamasi kronis pada glomerulus akibat proses autoimun atau infeksi yang menyebabkan kerusakan permanen pada nefron.

.   Pielonefritis kronis dan infeksi saluran kemih berulang — infeksi yang berulang dapat menyebabkan jaringan parut pada ginjal.

.   Obstruksi saluran kemih — misalnya batu saluran kemih, hipertrofi prostat, tumor, atau kelainan kongenital yang menyebabkan hidronefrosis dan kerusakan parenkim ginjal.

.   Penyakit ginjal polikistik (Polycystic Kidney Disease) — penyakit genetik yang menyebabkan terbentuknya kista multipel yang merusak jaringan ginjal normal.

.   Penyakit autoimun — seperti Systemic Lupus Erythematosus (SLE) yang menyebabkan nefritis lupus.

.   Nefropati toksik atau akibat obat-obatan — penggunaan jangka panjang obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), aminoglikosida, atau zat kontras radiologi.

.   Faktor risiko lain — usia lanjut, riwayat keluarga dengan penyakit ginjal, obesitas, merokok, dislipidemia, serta riwayat gagal ginjal akut sebelumnya.

1.3   Manifestasi Klinis

Pada tahap awal, CKD sering bersifat asimptomatik (silent disease) sehingga sering tidak terdiagnosis hingga fungsi ginjal sudah menurun secara signifikan. Manifestasi klinis biasanya muncul ketika GFR sudah turun di bawah 30 mL/menit/1,73 m² dan dapat melibatkan hampir seluruh sistem tubuh, antara lain:

a.      Sistem Kardiovaskular

.   Hipertensi akibat retensi natrium dan air serta aktivasi sistem renin-angiotensin-aldosteron.

.   Edema pada ekstremitas, wajah, dan periorbital.

.   Gagal jantung kongestif, kardiomegali, dan perikarditis uremik.

.   Aritmia akibat gangguan elektrolit (terutama hiperkalemia).

b.      Sistem Hematologi

.   Anemia normokromik normositer akibat penurunan produksi eritropoietin.

.   Mudah memar dan kecenderungan perdarahan akibat disfungsi trombosit.

c.       Sistem Gastrointestinal

.   Anoreksia, mual, dan muntah.

.   Foetor uremik (bau napas seperti amonia/urine).

.   Stomatitis, gastritis, hingga ulkus peptikum dan perdarahan saluran cerna.

.   Cegukan (hiccup) yang persisten.

d.      Sistem Integumen

.   Kulit kering, bersisik, dan pucat kekuningan (sallow appearance).

.   Pruritus (gatal) akibat penumpukan kristal urea pada kulit (uremic frost).

.   Ekimosis dan mudah terjadi luka yang lambat sembuh.

e.       Sistem Neurologis

.   Letargi, kelelahan, dan penurunan konsentrasi.

.   Restless leg syndrome dan kram otot.

.   Neuropati perifer (kesemutan, kelemahan otot).

.   Pada kondisi berat dapat terjadi ensefalopati uremik, disorientasi, hingga kejang dan koma.

 

f.        Sistem Muskuloskeletal

.   Osteodistrofi renal akibat gangguan metabolisme kalsium, fosfat, dan vitamin D.

.   Nyeri tulang, kelemahan otot, dan peningkatan risiko fraktur.

g.      Sistem Pernapasan

.   Pernapasan Kussmaul (napas cepat dan dalam) sebagai kompensasi asidosis metabolik.

.   Edema paru dan efusi pleura akibat kelebihan cairan.

h.      Sistem Reproduksi dan Endokrin

.   Penurunan libido, disfungsi ereksi pada pria.

.   Amenore dan infertilitas pada wanita.

i.        Gangguan Cairan, Elektrolit, dan Asam-Basa

.   Oliguria hingga anuria pada stadium akhir.

.   Hiperkalemia, hiponatremia atau hipernatremia, hipokalsemia, dan hiperfosfatemia.

.   Asidosis metabolik akibat ketidakmampuan ginjal mengekskresikan ion hidrogen.

1.4   Patofisiologi

Secara umum, patofisiologi CKD diawali dari adanya kerusakan pada sebagian nefron akibat berbagai etiologi (seperti diabetes melitus, hipertensi, glomerulonefritis, dan lain-lain). Nefron yang masih sehat akan mengalami hipertrofi dan hiperfiltrasi sebagai mekanisme kompensasi untuk mempertahankan fungsi ginjal secara keseluruhan. Namun, mekanisme kompensasi ini bersifat maladaptif dalam jangka panjang karena menyebabkan peningkatan tekanan intraglomerulus yang justru mempercepat terjadinya sklerosis glomerulus (glomerulosklerosis) pada nefron yang tersisa. Proses ini bersifat progresif dan akan terus berlanjut meskipun penyebab awal sudah tidak aktif lagi, sehingga jumlah nefron yang fungsional semakin berkurang dari waktu ke waktu.

Penurunan jumlah nefron fungsional menyebabkan penurunan Glomerular Filtration Rate (GFR) secara keseluruhan. Akibatnya, ginjal kehilangan kemampuannya untuk menjalankan empat fungsi utama, yaitu:

1.      Fungsi ekskresi — ginjal tidak mampu mengeluarkan sisa metabolisme nitrogen (ureum, kreatinin, dan asam urat) secara adekuat, sehingga terjadi penumpukan toksin uremik dalam darah (azotemia/uremia) yang menimbulkan efek toksik pada hampir seluruh sistem tubuh, terutama sistem gastrointestinal, integumen, dan neurologis.

2.      Fungsi regulasi cairan dan elektrolit — ginjal kehilangan kemampuan mengatur reabsorpsi natrium dan air, sehingga terjadi retensi cairan yang bermanifestasi sebagai edema, hipertensi, dan kongesti pada sistem kardiovaskular dan pernapasan. Selain itu, gangguan ekskresi kalium menyebabkan hiperkalemia yang berisiko menimbulkan aritmia jantung yang fatal.

3.      Fungsi regulasi asam-basa — ginjal kehilangan kemampuan mengekskresikan ion hidrogen dan meregenerasi bikarbonat, sehingga terjadi asidosis metabolik. Tubuh akan berkompensasi melalui peningkatan frekuensi dan kedalaman pernapasan (pernapasan Kussmaul).

4.      Fungsi endokrin dan metabolik — ginjal kehilangan kemampuan memproduksi hormon eritropoietin yang berperan dalam stimulasi produksi sel darah merah di sumsum tulang, sehingga terjadi anemia kronis. Selain itu, ginjal juga kehilangan kemampuan mengaktivasi vitamin D (1,25-dihidroksivitamin D), yang menyebabkan penurunan absorpsi kalsium di usus (hipokalsemia) dan retensi fosfat (hiperfosfatemia). Kondisi ini memicu terjadinya hiperparatiroidisme sekunder yang pada akhirnya menyebabkan osteodistrofi renal (gangguan mineralisasi tulang).

Akumulasi toksin uremik dan gangguan metabolik tersebut secara bersamaan menimbulkan manifestasi klinis multisistem yang khas pada penderita CKD, sebagaimana telah dijelaskan pada bagian manifestasi klinis. Apabila proses ini tidak dihentikan atau diperlambat melalui penatalaksanaan yang tepat, fungsi ginjal akan terus menurun hingga mencapai stadium gagal ginjal terminal (ESRD) yang membutuhkan terapi pengganti ginjal seumur hidup.

1.5   Pemeriksaan Penunjang

a.      Pemeriksaan Laboratorium Darah

.   Ureum dan kreatinin serum — meningkat sebagai indikator utama penurunan fungsi ginjal.

.   Estimasi Glomerular Filtration Rate (eGFR) — dihitung menggunakan formula CKD-EPI, MDRD, atau Cockcroft-Gault berdasarkan nilai kreatinin, usia, jenis kelamin, dan berat badan.

.   Elektrolit serum (natrium, kalium, klorida, kalsium, fosfat, magnesium) — untuk mendeteksi ketidakseimbangan elektrolit.

.   Darah lengkap — untuk menilai derajat anemia (hemoglobin dan hematokrit menurun).

.   Analisis Gas Darah (AGD) — untuk mengevaluasi status asam-basa (asidosis metabolik).

.   Profil lipid, gula darah, dan asam urat — untuk menilai faktor risiko penyerta.

.   Albumin serum — untuk menilai status nutrisi dan kehilangan protein.

.   Hormon paratiroid (PTH) — untuk menilai adanya hiperparatiroidisme sekunder.

b.      Pemeriksaan Urine

.   Urinalisis lengkap — untuk menilai adanya proteinuria, hematuria, dan sedimen urine abnormal (silinder, sel).

.   Rasio Albumin-Kreatinin Urine (ACR) atau Rasio Protein-Kreatinin Urine (PCR) — untuk mendeteksi dan mengukur derajat albuminuria/proteinuria.

.   Klirens kreatinin (urine 24 jam) — untuk menilai fungsi filtrasi ginjal.

c.       Pemeriksaan Pencitraan (Radiologi)

.   Ultrasonografi (USG) ginjal — untuk menilai ukuran, struktur ginjal (biasanya mengecil pada CKD lanjut), adanya kista, batu, atau obstruksi.

.   CT scan atau MRI abdomen — untuk evaluasi struktur ginjal yang lebih detail bila diperlukan.

.   Foto polos abdomen (BNO) — untuk mendeteksi batu saluran kemih.

d.      Pemeriksaan Penunjang Lainnya

.   Biopsi ginjal — untuk menentukan etiologi spesifik, terutama pada kasus glomerulonefritis.

.   Elektrokardiografi (EKG) — untuk mendeteksi efek hiperkalemia dan komplikasi kardiovaskular.

.   Foto rontgen tulang atau pemeriksaan densitas tulang — untuk evaluasi osteodistrofi renal.

1.6   Penatalaksanaan medis

a.       Penatalaksanaan Konservatif (Non-Dialisis)

Penatalaksanaan konservatif bertujuan untuk memperlambat progresivitas penurunan fungsi ginjal, mengontrol gejala, serta mencegah dan menangani komplikasi. Tindakan ini meliputi:

.   Pengaturan diet, meliputi pembatasan asupan protein (sesuai stadium dan kebutuhan individu), pembatasan natrium untuk mengontrol tekanan darah dan edema, pembatasan kalium dan fosfat pada stadium lanjut, serta pembatasan cairan sesuai dengan jumlah urine yang dihasilkan.

.   Kontrol tekanan darah, terutama menggunakan golongan ACE Inhibitor (ACEI) atau Angiotensin Receptor Blocker (ARB) yang juga memiliki efek nefroprotektif dengan mengurangi proteinuria.

.   Kontrol kadar gula darah pada pasien dengan diabetes melitus untuk mencegah progresivitas nefropati diabetik.

.   Pemberian agen perangsang eritropoiesis (Erythropoiesis Stimulating Agent/ESA) dan suplementasi zat besi untuk mengatasi anemia.

.   Pemberian pengikat fosfat (phosphate binder) dan suplementasi kalsium serta vitamin D aktif untuk mengatasi gangguan mineral dan tulang.

.   Pemberian natrium bikarbonat untuk mengoreksi asidosis metabolik.

.   Pemberian diuretik untuk mengatasi kelebihan volume cairan dan edema.

.   Manajemen kalium melalui diet rendah kalium dan/atau pemberian resin pengikat kalium pada kondisi hiperkalemia.

b.      Terapi Pengganti Ginjal (Renal Replacement Therapy)

Pada pasien dengan CKD stadium 5 (ESRD) atau pasien dengan komplikasi yang tidak dapat dikontrol secara konservatif, diperlukan terapi pengganti ginjal, meliputi:

.   Hemodialisis (HD) — proses penyaringan darah menggunakan mesin dialisis melalui akses vaskular (fistula arteriovenosa, graft, atau kateter), umumnya dilakukan 2–3 kali per minggu.

.   Dialisis peritoneal (Peritoneal Dialysis/PD) — proses penyaringan darah menggunakan membran peritoneum sebagai membran semipermeabel, dapat dilakukan secara mandiri di rumah.

.   Transplantasi ginjal — merupakan terapi definitif yang memberikan kualitas hidup terbaik, dengan ginjal donor yang berasal dari donor hidup maupun donor jenazah.

c.        Edukasi dan Modifikasi Gaya Hidup

.   Edukasi mengenai penyakit, kepatuhan terapi, dan kepatuhan diet.

.   Anjuran berhenti merokok dan menghindari konsumsi alkohol berlebihan.

.   Aktivitas fisik/olahraga sesuai dengan toleransi dan kondisi pasien.

.   Pengelolaan berat badan untuk mencegah obesitas.

.   Pemantauan rutin fungsi ginjal, tekanan darah, dan kadar elektrolit untuk mendeteksi progresivitas penyakit dan komplikasi sedini mungkin.

.    

 

 

BAB II

ASUHAN KEPERAWATAN CKD

2.1  Pengkajian

Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar dalam proses keperawatan yang bertujuan untuk mengumpulkan data subjektif dan objektif secara komprehensif, sehingga dapat ditentukan masalah keperawatan yang dialami pasien. Pada pasien dengan CKD, pengkajian meliputi:

A.    Identitas Pasien

Meliputi nama, usia, jenis kelamin, alamat, pendidikan, pekerjaan, agama, status perkawinan, tanggal masuk rumah sakit, nomor rekam medis, dan diagnosa medis.

B.     Riwayat Kesehatan

.   Keluhan utama: biasanya pasien mengeluh lemas, sesak napas, mual, muntah, penurunan jumlah urine, edema, atau gatal pada kulit.

.   Riwayat kesehatan sekarang: kronologis perjalanan penyakit sejak timbulnya gejala hingga pasien dirawat, termasuk faktor pencetus dan upaya yang telah dilakukan.

.   Riwayat kesehatan dahulu: riwayat penyakit diabetes melitus, hipertensi, batu saluran kemih, infeksi saluran kemih berulang, atau penyakit ginjal sebelumnya, serta riwayat penggunaan obat-obatan nefrotoksik.

.   Riwayat kesehatan keluarga: riwayat penyakit ginjal, diabetes melitus, atau hipertensi pada keluarga.

C.    Pemeriksaan Fisik (Pendekatan Per Sistem/B1–B6)

.   B1 (Breathing) — frekuensi dan kedalaman napas (pernapasan Kussmaul pada asidosis metabolik), adanya sesak napas, ronkhi/krepitasi akibat edema paru, penggunaan otot bantu napas.

.   B2 (Blood/Bleeding) — tekanan darah (umumnya meningkat), frekuensi dan irama nadi (waspada aritmia akibat hiperkalemia), edema perifer, distensi vena jugularis, capillary refill time, konjungtiva anemis, mudah memar.

.   B3 (Brain) — tingkat kesadaran, orientasi, adanya gangguan konsentrasi, letargi, kram otot, restless leg syndrome, atau tanda ensefalopati uremik pada kondisi berat.

.   B4 (Bladder) — jumlah, warna, dan karakteristik urine (oliguria/anuria), balance cairan, adanya nyeri saat berkemih, riwayat penggunaan akses dialisis (fistula AV, kateter double lumen).

.   B5 (Bowel) — nafsu makan, mual, muntah, foetor uremik, distensi abdomen, konsistensi dan frekuensi BAB, status nutrisi (berat badan, IMT, lingkar lengan atas).

.   B6 (Bone/Integumen) — kekuatan otot, rentang gerak, adanya nyeri tulang/sendi, kondisi kulit (kering, pruritus, turgor, warna kulit pucat kekuningan), edema, dan integritas kulit (luka, ekskoriasi akibat garukan).

D.    Pengkajian Pola Kebiasaan Sehari-hari

.   Pola nutrisi dan cairan: jenis dan jumlah makanan/minuman yang dikonsumsi, ada tidaknya pembatasan diet, perubahan berat badan, intake-output cairan.

.   Pola eliminasi: frekuensi dan karakteristik BAK dan BAB.

.   Pola aktivitas dan istirahat: tingkat kemandirian dalam aktivitas sehari-hari (ADL), keluhan kelelahan, kualitas tidur.

.   Pola psikososial: persepsi pasien terhadap kondisi sakit yang dialami, mekanisme koping, dukungan keluarga, serta dampak penyakit terhadap peran sosial dan pekerjaan.

E.     Pengkajian Data Penunjang

Meliputi hasil pemeriksaan laboratorium (ureum, kreatinin, eGFR, elektrolit, hemoglobin, AGD), hasil pemeriksaan radiologi (USG ginjal), serta terapi medis yang sedang dijalani pasien (obat-obatan, terapi dialisis, atau diet khusus).

2.2  Analisis Data

Berdasarkan hasil pengkajian dan dengan mengacu pada Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), beberapa diagnosis keperawatan yang dapat muncul pada pasien dengan CKD antara lain:

.   Hipervolemia (D.0022) berhubungan dengan gangguan mekanisme regulasi (penurunan fungsi ginjal).

.   Defisit Nutrisi (D.0019) berhubungan dengan ketidakmampuan mengabsorbsi nutrien akibat anoreksia, mual, dan muntah.

.   Intoleransi Aktivitas (D.0056) berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen akibat anemia.

.   Pola Napas Tidak Efektif (D.0005) berhubungan dengan kompensasi asidosis metabolik dan/atau kelebihan cairan pada paru.

.   Risiko Penurunan Curah Jantung (D.0011) dibuktikan dengan adanya hiperkalemia, hipervolemia, dan hipertensi.

.   Nyeri Kronis (D.0078) berhubungan dengan osteodistrofi renal dan/atau prosedur invasif (akses dialisis).

.   Gangguan Integritas Kulit/Jaringan (D.0129) berhubungan dengan akumulasi toksin uremik, pruritus, dan perubahan status cairan.

.   Ansietas (D.0080) berhubungan dengan perubahan status kesehatan, krisis situasional, dan ketidakpastian prognosis penyakit.

2.3  Rencana asuhan keperawatan

Rencana asuhan keperawatan disusun berdasarkan masing-masing diagnosis keperawatan yang telah diidentifikasi, mencakup definisi, penyebab, tanda dan gejala, luaran keperawatan (SLKI) beserta kriteria hasil, serta intervensi keperawatan (SIKI) yang terdiri dari tindakan observasi, terapeutik, edukasi, dan kolaborasi.

1.      Diagnosa Hipervolemia

Diagnosis Keperawatan

D.0022  Hipervolemia

Definisi

Peningkatan volume cairan intravaskular, interstisial, dan/atau intraseluler.

Penyebab (Etiologi)

    Gangguan mekanisme regulasi (penurunan fungsi ginjal dalam mengekskresikan natrium dan air)

    Kelebihan asupan cairan

    Kelebihan asupan natrium

    Gangguan aliran balik vena (gagal jantung)

Tanda dan Gejala

Tanda dan Gejala Mayor:

    Ortopnea, dispnea

    Edema anasarka dan/atau edema perifer

    Berat badan meningkat dalam waktu singkat

    Jugular Venous Pressure (JVP) meningkat

    Refleks hepatojugular positif

Tanda dan Gejala Minor:

    Distensi vena jugularis

    Suara napas tambahan (ronkhi/krekels)

    Hepatomegali

    Kadar Hb/Ht turun (hemodilusi)

    Oliguria

    Intake lebih banyak dari output (balance cairan positif)

    Kongesti paru pada foto toraks

Luaran Keperawatan (SLKI)

Keseimbangan Cairan (L.03020)

Kriteria Hasil (membaik):

    Asupan cairan membaik dan seimbang dengan haluaran

    Edema menurun hingga tidak ada

    Distensi vena jugularis menurun

    Tekanan darah dan frekuensi nadi dalam batas normal

    Berat badan menuju ideal/stabil sesuai target

    Tidak terdapat suara napas tambahan (ronkhi/krekels)

    Turgor kulit membaik

Intervensi Keperawatan (SIKI)

Manajemen Hipervolemia (I.03114)

Observasi:

    Periksa tanda dan gejala hipervolemia (mis. ortopnea, dispnea, edema, JVP meningkat, suara napas tambahan)

    Identifikasi penyebab hipervolemia

    Monitor status hemodinamik (tekanan darah, frekuensi nadi, MAP)

    Monitor intake dan output cairan setiap shift

    Monitor berat badan setiap hari pada waktu yang sama

    Monitor hasil pemeriksaan laboratorium (elektrolit, hematokrit, albumin)

Terapeutik:

    Timbang berat badan setiap hari pada waktu yang sama

    Batasi asupan cairan dan natrium sesuai program

    Tinggikan posisi kepala tempat tidur (semi-fowler/fowler) untuk mengurangi sesak

    Berikan posisi yang mendukung drainase ekstremitas yang edema

Edukasi:

    Anjurkan melaporkan jika haluaran urine kurang dari batas normal

    Anjurkan memperhatikan dan melaporkan perubahan berat badan yang mendadak

    Ajarkan cara membatasi cairan dan membaca label kandungan natrium pada makanan

Kolaborasi:

    Kolaborasi pemberian diuretik sesuai indikasi

    Kolaborasi penggantian kehilangan kalium akibat diuretik, bila perlu

    Kolaborasi penentuan jadwal hemodialisis sesuai kondisi pasien

 

2.      Diagnosa  defisit nutrisi

Diagnosis Keperawatan

D.0019  Defisit Nutrisi

Definisi

Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme.

Penyebab (Etiologi)

    Ketidakmampuan mengabsorbsi nutrien akibat uremia

    Peningkatan kebutuhan metabolisme

    Faktor psikologis (keengganan untuk makan akibat mual dan foetor uremik)

    Pembatasan diet protein yang ketat

Tanda dan Gejala

Tanda dan Gejala Mayor:

    Berat badan menurun minimal 10% di bawah rentang ideal

Tanda dan Gejala Minor:

    Cepat kenyang setelah makan

    Nafsu makan menurun, mual, dan muntah

    Membran mukosa pucat dan kering

    Sariawan/stomatitis

    Otot pengunyah dan menelan lemah

    Bising usus hiperaktif

    Kadar albumin serum turun

Luaran Keperawatan (SLKI)

Status Nutrisi (L.03030)

Kriteria Hasil (membaik):

    Porsi makanan yang dihabiskan meningkat

    Berat badan dan IMT membaik menuju rentang normal

    Nafsu makan meningkat

    Frekuensi mual dan muntah menurun

    Membran mukosa membaik (lembab)

    Kadar albumin serum dalam batas normal

Intervensi Keperawatan (SIKI)

Manajemen Nutrisi (I.03119)

Observasi:

    Identifikasi status nutrisi dan alergi/intoleransi makanan

    Identifikasi makanan yang disukai sesuai dengan pembatasan diet (rendah protein, rendah kalium, rendah fosfat)

    Monitor asupan makanan, berat badan, dan hasil pemeriksaan laboratorium (albumin, Hb)

    Monitor adanya mual dan muntah

Terapeutik:

    Sajikan makanan dalam porsi kecil tapi sering dan dalam keadaan hangat

    Lakukan oral hygiene sebelum makan untuk mengurangi rasa tidak nyaman akibat foetor uremik

    Berikan suplemen makanan sesuai program (mis. suplemen energi tinggi protein berkualitas)

    Hidangkan makanan yang menarik dan sesuai selera pasien dalam batas diet yang diperbolehkan

Edukasi:

    Anjurkan posisi duduk saat makan untuk mencegah aspirasi

    Ajarkan diet yang diprogramkan (rendah protein bernilai biologis tinggi, rendah natrium, rendah kalium dan fosfat)

Kolaborasi:

    Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien yang dibutuhkan

    Kolaborasi pemberian antiemetik sebelum makan, bila perlu

    Kolaborasi pemberian suplemen vitamin atau mineral sesuai indikasi

 

3.      Diagnosa intoleransi aktivitas

Diagnosis Keperawatan

D.0056  Intoleransi Aktivitas

Definisi

Ketidakcukupan energi untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

Penyebab (Etiologi)

    Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen akibat anemia kronis

    Kelemahan umum

    Tirah baring/imobilitas yang lama

Tanda dan Gejala

Tanda dan Gejala Mayor:

    Mengeluh lelah

    Frekuensi jantung meningkat lebih dari 20% dari kondisi istirahat setelah beraktivitas

Tanda dan Gejala Minor:

    Dispnea saat/setelah aktivitas

    Merasa tidak nyaman setelah beraktivitas

    Tekanan darah berubah lebih dari 20% dari kondisi istirahat

    Gambaran EKG menunjukkan aritmia saat/setelah aktivitas

    Sianosis

Luaran Keperawatan (SLKI)

Toleransi Aktivitas (L.05047)

Kriteria Hasil (membaik):

    Kemudahan dalam melakukan aktivitas sehari-hari meningkat

    Keluhan lelah menurun

    Dispnea saat dan setelah aktivitas menurun

    Frekuensi nadi dan tekanan darah dalam batas normal selama aktivitas

    Kekuatan tubuh bagian atas dan bawah meningkat

Intervensi Keperawatan (SIKI)

Manajemen Energi (I.05178)

Observasi:

    Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang menyebabkan kelelahan

    Monitor kelelahan fisik dan emosional

    Monitor pola dan jam tidur

    Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas

Terapeutik:

    Sediakan lingkungan yang nyaman dan rendah stimulus (mis. cahaya, suara)

    Lakukan latihan rentang gerak pasif dan/atau aktif sesuai toleransi

    Berikan aktivitas distraksi yang menenangkan

    Fasilitasi duduk di sisi tempat tidur jika tidak dapat berpindah atau berjalan

Edukasi:

    Anjurkan tirah baring dan melakukan aktivitas secara bertahap

    Anjurkan menghubungi perawat jika tanda dan gejala kelelahan tidak berkurang

    Ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan

Kolaborasi:

    Kolaborasi pemberian terapi transfusi darah/komponen darah sesuai indikasi untuk mengatasi anemia

    Kolaborasi pemberian agen perangsang eritropoiesis (ESA) sesuai program

 

4.      Pola nafas tidak efektif

Diagnosis Keperawatan

D.0005  Pola Napas Tidak Efektif

Definisi

Inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi adekuat.

Penyebab (Etiologi)

    Kompensasi tubuh terhadap asidosis metabolik (hiperventilasi/pernapasan Kussmaul)

    Penurunan ekspansi paru akibat edema paru/efusi pleura

    Kelemahan otot pernapasan

Tanda dan Gejala

Tanda dan Gejala Mayor:

    Penggunaan otot bantu napas

    Fase ekspirasi memanjang

    Pola napas abnormal (takipnea, hiperventilasi, Kussmaul)

Tanda dan Gejala Minor:

    Dispnea

    Ortopnea

    Pernapasan cuping hidung

    Tekanan ekspirasi dan inspirasi menurun

    Kapasitas vital menurun

Luaran Keperawatan (SLKI)

Pola Napas (L.01004)

Kriteria Hasil (membaik):

    Frekuensi dan kedalaman napas dalam batas normal

    Penggunaan otot bantu napas menurun

    Dispnea dan ortopnea menurun

    Hasil AGD membaik mendekati nilai normal

Intervensi Keperawatan (SIKI)

Manajemen Jalan Napas / Pemantauan Respirasi (I.01011/I.01014)

Observasi:

    Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas

    Monitor adanya produksi sputum dan suara napas tambahan

    Monitor saturasi oksigen dan hasil analisis gas darah

Terapeutik:

    Posisikan pasien semi-fowler atau fowler untuk memaksimalkan ekspansi paru

    Berikan oksigenasi sesuai kebutuhan

    Lakukan fisioterapi dada bila diindikasikan

Edukasi:

    Ajarkan teknik napas dalam dan batuk efektif

    Anjurkan untuk segera melaporkan jika sesak bertambah

Kolaborasi:

    Kolaborasi pemberian terapi koreksi asidosis metabolik (mis. natrium bikarbonat) sesuai program

    Kolaborasi penjadwalan dialisis untuk mengurangi kelebihan cairan paru bila diperlukan

 

5.      Diagnosa resiko penurunan curah jantung

Diagnosis Keperawatan

D.0011  Risiko Penurunan Curah Jantung

Definisi

Berisiko mengalami ketidakadekuatan jantung memompa darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.

Penyebab (Etiologi)

    Perubahan irama dan konduksi jantung akibat hiperkalemia

    Perubahan preload akibat hipervolemia

    Perubahan afterload akibat hipertensi

Tanda dan Gejala

Tanda dan Gejala Mayor:

    (Diagnosis risiko — tidak ada tanda/gejala mayor karena masalah belum terjadi, namun terdapat faktor risiko yang teridentifikasi)

Tanda dan Gejala Minor:

    Kadar kalium serum tinggi (> 5,5 mEq/L)

    Gambaran EKG menunjukkan perubahan gelombang T, perpanjangan QRS, atau aritmia

    Tekanan darah meningkat

    Edema dan distensi vena jugularis

Luaran Keperawatan (SLKI)

Curah Jantung (L.02008)

Kriteria Hasil (membaik):

    Tanda vital (tekanan darah, nadi) dalam batas normal

    Tidak terjadi aritmia/gambaran EKG dalam batas normal

    Kadar elektrolit (kalium) dalam batas normal

    Tidak terdapat tanda kongesti (edema, distensi vena jugularis)

Intervensi Keperawatan (SIKI)

Perawatan Jantung / Manajemen Aritmia (I.02075/I.02058)

Observasi:

    Monitor tekanan darah, frekuensi dan irama nadi/jantung secara berkala

    Monitor hasil EKG dan kadar elektrolit (terutama kalium) secara rutin

    Identifikasi tanda dan gejala penurunan curah jantung (kelelahan, edema, ortopnea)

Terapeutik:

    Posisikan pasien untuk mengurangi beban kerja jantung (semi-fowler)

    Berikan dukungan emosional dan spiritual untuk mengurangi stres yang dapat memperberat kerja jantung

    Siapkan peralatan resusitasi jika terjadi aritmia berat

Edukasi:

    Anjurkan pasien dan keluarga untuk membatasi asupan makanan tinggi kalium (buah pisang, jeruk, kentang, dan sebagainya)

    Anjurkan segera melapor bila terjadi keluhan jantung berdebar, nyeri dada, atau sesak

Kolaborasi:

    Kolaborasi pemberian terapi koreksi hiperkalemia (kalsium glukonat, insulin-glukosa, resin pengikat kalium, atau dialisis emergensi) sesuai program

    Kolaborasi pemeriksaan EKG dan elektrolit serial

 

6.      Nyeri kronis

Diagnosis Keperawatan

D.0078  Nyeri Kronis

Definisi

Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan dengan onset bertahap, intensitas ringan hingga berat, dan konstan, yang berlangsung lebih dari 3 bulan, terkait dengan kondisi muskuloskeletal kronis (osteodistrofi renal) dan/atau prosedur akses vaskular dialisis.

Penyebab (Etiologi)

    Osteodistrofi renal akibat gangguan metabolisme kalsium-fosfat

    Kondisi muskuloskeletal kronis (nyeri tulang dan sendi)

    Prosedur invasif berulang (penusukan akses dialisis)

Tanda dan Gejala

Tanda dan Gejala Mayor:

    Mengeluh nyeri yang berlangsung lebih dari 3 bulan

    Tampak meringis

Tanda dan Gejala Minor:

    Gelisah

    Tidak mampu menuntaskan aktivitas

    Pola tidur berubah

    Anoreksia

Luaran Keperawatan (SLKI)

Tingkat Nyeri (L.08066)

Kriteria Hasil (membaik):

    Keluhan nyeri menurun

    Ekspresi wajah meringis menurun

    Pasien mampu menggunakan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri

    Kualitas tidur membaik

Intervensi Keperawatan (SIKI)

Manajemen Nyeri (I.08238)

Observasi:

    Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan intensitas nyeri (skala nyeri)

    Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri

    Monitor efek samping penggunaan analgetik

Terapeutik:

    Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri (relaksasi napas dalam, distraksi, kompres hangat/dingin)

    Fasilitasi istirahat dan tidur

    Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri

Edukasi:

    Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri

    Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri secara mandiri

Kolaborasi:

    Kolaborasi pemberian analgetik sesuai indikasi

    Kolaborasi pemberian suplemen kalsium/vitamin D atau terapi lain untuk mengatasi osteodistrofi renal

 

7.      Gangguan integritas kulit

Diagnosis Keperawatan

D.0129  Gangguan Integritas Kulit/Jaringan

Definisi

Kerusakan kulit (dermis dan/atau epidermis) atau jaringan (membran mukosa, kornea, fasia, otot, tendon, tulang, kartilago, kapsul sendi, dan/atau ligamen).

Penyebab (Etiologi)

    Perubahan sirkulasi dan kelembapan kulit akibat uremia

    Penumpukan kristal urea pada kulit yang menyebabkan pruritus

    Penekanan pada area edema dalam waktu lama

Tanda dan Gejala

Tanda dan Gejala Mayor:

    Kerusakan jaringan dan/atau lapisan kulit

Tanda dan Gejala Minor:

    Kulit kering, bersisik, dan tampak pucat kekuningan

    Pruritus (gatal) yang menyebabkan lesi akibat garukan

    Turgor kulit menurun

    Kemerahan atau hematoma

Luaran Keperawatan (SLKI)

Integritas Kulit dan Jaringan (L.14125)

Kriteria Hasil (membaik):

    Elastisitas dan hidrasi kulit meningkat

    Tidak terdapat kerusakan jaringan/lapisan kulit baru

    Pruritus menurun

    Kemerahan dan lesi akibat garukan menurun

Intervensi Keperawatan (SIKI)

Perawatan Integritas Kulit (I.11353)

Observasi:

    Identifikasi penyebab gangguan integritas kulit (perubahan status cairan, penurunan mobilitas, faktor uremik)

    Monitor kondisi kulit pada area edema dan tonjolan tulang setiap shift

Terapeutik:

    Ubah posisi tiap 2 jam jika tirah baring untuk mencegah luka tekan

    Gunakan produk berbahan ringan/alami dan hipoalergenik pada kulit kering

    Anjurkan menggunakan pelembap (lotion) pada kulit kering untuk mengurangi pruritus

    Bersihkan perineal dengan air hangat, terutama selama periode diare

Edukasi:

    Anjurkan menggunakan tabir surya saat berada di luar ruangan

    Anjurkan mandi dan menggunakan sabun secukupnya untuk menghindari kulit semakin kering

    Anjurkan menghindari menggaruk area yang gatal dan menjaga kuku tetap pendek

Kolaborasi:

    Kolaborasi pemberian terapi topikal (krim/lotion antipruritus) sesuai indikasi

    Kolaborasi penjadwalan hemodialisis untuk mengurangi penumpukan toksin uremik penyebab pruritus

 

8.      Diagnosa Ansietas

Diagnosis Keperawatan

D.0080  Ansietas

Definisi

Kondisi emosi dan pengalaman subjektif individu terhadap objek yang tidak jelas dan spesifik akibat antisipasi bahaya yang memungkinkan individu melakukan tindakan untuk menghadapi ancaman.

Penyebab (Etiologi)

    Krisis situasional terkait diagnosis penyakit kronis

    Kebutuhan akan terapi pengganti ginjal jangka panjang (hemodialisis)

    Kurang terpapar informasi mengenai penyakit dan prognosis

    Ancaman terhadap konsep diri dan perubahan dalam fungsi peran

Tanda dan Gejala

Tanda dan Gejala Mayor:

    Merasa khawatir dengan akibat dari kondisi yang dihadapi

    Sulit berkonsentrasi

    Tampak gelisah dan tegang

Tanda dan Gejala Minor:

    Frekuensi napas dan nadi meningkat

    Tekanan darah meningkat

    Sulit tidur

    Sering bertanya tentang kondisi/prognosis penyakitnya

Luaran Keperawatan (SLKI)

Tingkat Ansietas (L.09093)

Kriteria Hasil (membaik):

    Verbalisasi kebingungan dan kekhawatiran menurun

    Perilaku gelisah dan tegang menurun

    Frekuensi napas, nadi, dan tekanan darah dalam batas normal

    Pola tidur membaik

    Pasien mampu menggunakan teknik untuk mengurangi ansietas

Intervensi Keperawatan (SIKI)

Reduksi Ansietas (I.09314)

Observasi:

    Identifikasi saat tingkat ansietas berubah (kondisi, waktu, stresor)

    Monitor tanda-tanda ansietas (verbal dan nonverbal)

Terapeutik:

    Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan

    Temani pasien untuk mengurangi kecemasan, jika memungkinkan

    Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan

Edukasi:

    Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin dialami (mis. proses hemodialisis)

    Informasikan secara faktual mengenai diagnosis, perjalanan penyakit, dan prognosis

    Latih teknik relaksasi (napas dalam, distraksi) untuk mengurangi ansietas

Kolaborasi:

    Kolaborasi pemberian obat ansiolitik, jika perlu

    Kolaborasi dengan tim psikolog/rohaniawan untuk dukungan psikososial dan spiritual

 

 

2.4  Implementasi

Implementasi merupakan tahap pelaksanaan dari rencana asuhan keperawatan yang telah disusun sebelumnya. Pada tahap ini, perawat melaksanakan intervensi sesuai dengan SIKI yang telah ditetapkan untuk setiap diagnosis keperawatan, dengan tetap memperhatikan kondisi dan respons pasien secara individual. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam implementasi asuhan keperawatan pada pasien CKD antara lain:

.   Pelaksanaan tindakan dilakukan sesuai dengan prioritas masalah keperawatan, yaitu masalah yang bersifat mengancam jiwa (misalnya risiko penurunan curah jantung akibat hiperkalemia dan pola napas tidak efektif) harus ditangani terlebih dahulu.

.   Setiap tindakan keperawatan yang dilakukan harus didokumentasikan secara lengkap, meliputi waktu pelaksanaan, jenis tindakan, dan respons pasien.

.   Pelaksanaan tindakan kolaboratif (misalnya pemberian obat, persiapan dan pendampingan selama hemodialisis) dilakukan sesuai dengan instruksi medis dan kewenangan perawat.

.   Edukasi kepada pasien dan keluarga dilakukan secara berkelanjutan untuk meningkatkan pemahaman dan kepatuhan terhadap terapi serta pembatasan diet dan cairan.

.   Perawat senantiasa memantau perkembangan kondisi pasien selama implementasi dilakukan, sehingga apabila terjadi perubahan kondisi yang signifikan dapat segera dilakukan modifikasi intervensi.


.    

2.5  Evaluasi keperawatan

Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan yang bertujuan untuk menilai keberhasilan asuhan keperawatan yang telah diberikan, dengan membandingkan hasil yang dicapai pasien dengan kriteria hasil (SLKI) yang telah ditetapkan pada tahap perencanaan. Evaluasi dilakukan secara berkesinambungan menggunakan pendekatan SOAP (Subjective, Objective, Assessment, Planning), yaitu:

.   Subjective (S): data yang diungkapkan secara verbal oleh pasien, misalnya keluhan lemas berkurang, sesak berkurang, atau nyeri berkurang.

.   Objective (O): data hasil pengukuran dan observasi perawat, misalnya tanda-tanda vital, hasil pemeriksaan laboratorium terbaru, berat badan, balance cairan, dan kondisi kulit.

.   Assessment (A): analisis terhadap pencapaian kriteria hasil yang telah ditetapkan, apakah masalah keperawatan teratasi, teratasi sebagian, atau belum teratasi.

.   Planning (P): rencana tindak lanjut, yaitu intervensi dilanjutkan, dimodifikasi, dihentikan, atau diganti sesuai dengan hasil evaluasi.

Apabila tujuan dan kriteria hasil belum tercapai secara optimal, maka perawat perlu melakukan pengkajian ulang untuk mengidentifikasi faktor penyebab dan melakukan revisi terhadap rencana asuhan keperawatan agar tujuan asuhan keperawatan dapat tercapai secara optimal. Mengingat Cyrosis Hepatis  merupakan penyakit kronis dan progresif, evaluasi jangka panjang juga perlu difokuskan pada upaya mempertahankan kualitas hidup pasien, mencegah progresivitas penyakit, serta mencegah dan menangani komplikasi yang mungkin timbul.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Black, J. M., & Hawks, J. H. (2014). Medical-Surgical Nursing: Clinical Management for Positive Outcomes (8th ed.). Singapore: Elsevier.

Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO) CKD Work Group. (2024). KDIGO 2024 Clinical Practice Guideline for the Evaluation and Management of Chronic Kidney Disease. Kidney International Supplements.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI): Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI): Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI): Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. (2018). Brunner & Suddarth's Textbook of Medical-Surgical Nursing (14th ed.). Philadelphia: Wolters Kluwer.



UNDUH FILENYA

Komentar